The Connect of Two World.
By LalaNurrafa GemasangkalaOke.
Chapter 8: The Black Memories.
Warning: OOC gila, ngaco beut, Typo, dan buanyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakk kkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk kkkkkkkkkkkkkkkk *ah, kepanjangan* lagi.
Pair: Senantiasa, RikuOC. Eh? Mungkin akan ada pair lain, deh. -,-a
Song disclaimer: Matt Monro-Unchained Melody.
Don't like, don't read.
~~oo00oo~~
"Menderitalah kalian dalam kesedihan, wahai manusia yang rapuh… Illusion sad magic…"
"KYAAA!" Suzuna menjerit. Ia jatuh terduduk. Wajahnya sangat pucat.
"Suzuna…" desis Sena. Ingin hati menolongnya, tapi kesadarannya mulai menghilang.
"Ke… kenapa… kenapa kau bisa melakukan ini?" tanya Machi. Ia masih berusaha untuk bangkit.
"Bagaimana, ya… sulit menjelaskan padamu, bocah sihir." Kata Rachel dingin. Tatapan yang tidak bisa diartikan. Ia makin menguatkan sihirnya.
"Machi… memang sihir apa ini?" tanya Riku. Sama seperti Sena, kesadarannya mulai menghilang.
"Ini sihir ilusi tertinggi. Membuat kita kembali terbayang masa lalu kelam…" desis Machi. Wajahnya makin pucat. Peluh mulai membasahinya.
"Lalu… apa yang bisa ditimbulkan sihir ini?" tanya Kotaro. Kesadarannya pun sudah hampir menghilang.
"Entahlah, pastinya tidak bagus…" kata Machi.
"Hiks… nggak… tou-san gak boleh pergi…" isak Hitomi. Matanya menerawang.
"Takayama…" desis Unsui. Sekarang ia hanya mampu melihat.
"Hehe. Mulai bekerja, ya…" kata Rachel sambil memasang seringai kecil.
"Ke… kenapa…" Machi masih tetap berusaha bangkit, namun kesadarannya sudah habis.
~~oo00oo~~
PLAK! SRAAK!
Suara tamparan terdengar amat keras. Gadis kecil berambut hitam panjang sepunggung itu bangkit. Sudut bibirnya mulai mengeluarkan darah. Tapi ia menganggapnya seolah itu tidak ada.
"Kau ini hanya bisa merepotkanku saja! Kau ini anak yang tidak berguna!" hardik seorang lelaki tua dengan kasar. Sosok bermata merah darah itu hanya menatap sosok didepannya dengan kesal, tapi ia tetap dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Lalu apalagi maumu? Aku sudah sekolah, belajar dengan baik. Kau mau menuntut apa lagi padaku?" tantang Machi alias Spica.
Suara tamparan kembali terdengar. Machi hanya diam menerima tamparan keras itu. Ia tak bisa melawan ayah angkatnya itu. Ya, selama ini ayah angkatnya lah yang selalu mendidiknya dengan keras.
"Kau mau membangkang?! Harusnya kau berterima kasih aku masih mau berbaik hati mendidikmu!" kata sang ayah dengan kasar, lalu berbalik pergi.
Machi bangkit dan membersihkan bajunya yang penuh debu. Seluruh luka ditubuhnya tak ia pedulikan.
"Spica, kau kenapa? Kok mulutmu berdarah?" tanya sosok cantik bertanya dengan lembut.
"Nggak apa-apa kok, bu." Kata Machi sambil mengusap darah yang mengalir dari mulutnya.
"Ayahmu kenapa lagi? Kok dia terus-terusan memperlakukanmu kasar, sih?" tanya sosok cantik itu sambil mengusap rambut Machi.
Machi tersenyum pada sosok cantik itu. Selama ini hanya ibunya yang terus membelanya. Ia sangat menyayangi ibunya.
Namun spell itu tak membiarkannya tersenyum sedikitpun. Kenangan kembali berganti.
"Ibu… jangan pergi…" rengek seorang anak kecil dengan mata crimson-nya.
"Sudah! Jangan menangis! Kalau kau menangis, tak akan membuat ibumu hidup lagi!" kata sang ayah dengan kasar.
"Cerewet! Kau bukan siapa-siapaku! Kau tidak perlu repot-repot mengatur kehidupanku! Kau juga kan yang membuat ibuku begini? Dasar pak tua sialan!" hardik Machi dengan kasar. Mungkin dibenaknya marah lebih baik.
Kenangan kembali berganti saat penyerangan. Rachel yang menyuruhnya pergi menyelamatkan diri bersama Rie. Mengingat hal itu saja sudah terlalu pedih untuk diingat.
Oh my love, my darling
I've hungred for your touch
A long lonely time
Time goes to be slowly
and time can do so much
~~oo00oo~~
"Kaa-san, Tou-san dimana? Hito-chan mau ketemu tou-san…" kata anak kecil berambut coklat sebahu dan mata blue torquisenya.
"Tou-san lagi pergi, sayang. Tunggu sebentar, ya." Kata ibunya sambil mengelus rambut si anak.
"Kenapa sih Tou-san selalu aja pergi. Hito-chan jadi gak pernah ketemu, deh." Kata anak kecil itu dengan polos.
Memang, Takayama Hitomi. Sejak kecil, ia belum pernah sekalipun bertemu dengan ayahnya. Hanya melihat senyum sekilasnya pun tak pernah. Dipikiran anak kecil polos sepertinya memang ayahnya sedang tidak ada saat itu.
Tapi saat ia beranjak besar, ia mulai mengerti. Ayahnya tak akan pernah kembali ke rumahnya. Ayahnya sudah mengkhianati ibunya dan dirinya sendiri. Membiarkan Hitomi tumbuh tanpa belas kasih seorang ayah.
'Hiks… tou-san jahat…' isak Hitomi.
Are you still mine?
I need your love
I need your love
God speed your love to me
~~oo00oo~~
Sosok anak kecil berambut spike coklat dan mata caramel menangis tersedu-sedu. Teman-temannya sedang menertawakannya.
"Payah, baru dibegitukan saja sudah nangis!"
"Sena cengeng… Sena cengeng…"
Sena hanya tertunduk diam. Dia selalu saja diledeki temannya karena fisiknya yang lemah. Dan jika ia digencet sedikit saja pasti menangis. Di dalam hatinya ia juga tak ingin seperti ini terus.
"Sena wo ijime naide!" teriak seorang anak perempuan berambut auburn sebahu.
"Jangan ganggu Sena! Pergi sana! Dasar anak-anak nakal!"
"Sena payah! Mau-maunya dilindungi cewek!" ejek seorang anak berkacamata.
"Pergi kataku!" ancam anak perempuan itu sambil menjitak mereka dengan penggaris.
"Kabuuur!"
"Sena, kamu gak apa-apa?" tanya sosok gadis kecil itu dan membantu Sena berdiri.
"Gak apa-apa, kok. Mamori-neechan." Kata Sena dengan senyum yang dipaksakan.
"Kakimu berdarah. Kuantar kau pulang, ya." Kata Mamori dan menggendong Sena dan mengantarnya pulang.
Sena sejujurnya tak mau bergantung pada Mamori. Ia hanya bisa berlindung dibalik punggung seorang Anezaki Mamori.
Kenangan kembali berganti. Kenangan saat ia dibilang Eyeshield 21 palsu. Saat ia jatuh dilapangan, dikalahkan oleh lawannya, berusaha kabur dari kenyataan.
'Tidak… aku bukan Eyeshield 21 palsu… aku tidak lemah seperti itu…' lirih Sena lemah.
~~oo00oo~~
Monta kecil sedang menonton acara tentang pemain baseball kesukaannya. Masaru Honjo.
"Aku ignin jadi seperti dia, MAX! Aku akan jadi catcher no. 1 di dunia!" tekad Monta.
Namun spell buruk itu tak membiarkannya melihat semangat yang dimilikinya itu. Tidak akan pernah. Terlihat saat ia tak diterima di klub baseball. Bahkan namanya di tim cadangan pun tak ada. Pupus sudah harapannya.
Kenangan kembali berganti saat ia harus menghadapi banyak reciver terkuat. Saat ia diremehkan karena beda kemampuan dan tinggi badan.
'Sialan…'
~~oo00oo~~
Kita bersama kick team akan maju ke Christmas bowl! Kita tunjukan kekuatan kick team!
Mungkin itu hanya sebuah ucapan kosong bagi Kotaro Sasaki. Semua itu pupus begitu saja.
Selama bertahun-tahun, ia berlatih bersama seluruh senior di kick team Bando. Hinaan dan cemohan sudah biasa ia terima.
Tapi ia juga tak bisa menerima pengkhianatan.
"Sudah kuduga ada yang aneh! Orang-orang aneh itu juga datang ke rumahku. Katanya hanya pemain berbakat yang diundang masuk ke Akademi Teikoku!"
Sosok berambut merah didepannya hanya menatapnya tak percaya.
"Lalu untuk apa aku dan para senior berjuang keras kalau hasilnya begini?! Kalian semua… gak smart!"
Ia pun berlari menjauh. Tak peduli hujan deras mengguyur seluruh tubuhnya. Ia membenci semua pengkhianat Bando itu.
'Sial… kalian semua gak smart…"
Lonely river's slow
To the sea to the sea
To the open arms of the sea, yeah.
~~oo00oo~~
Sosok berambut spike perak itu melihat pertandingan amefuto dengan kagum. Bukan, ia tertarik dengan salah satu pemainnya—Eyeshield 21.
"Deimon, ya. Kalau begitu, aku akan menantangnya." Tekad Riku.
Tak lama setelah itu, ia bertemu dengan Sena—sahabat lamanya. Ia tak menyangka ternyata Eyeshield 21 yang hebat itu adalah sahabatnya yang sudah ia anggap adik sendiri.
Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa ia sudah kalah dari sahabatnya sendiri. Saat ia dirobohkan oleh sahabatnya sendiri.
Kenangan kembali berputar. Saat timnya dijatuhkan oleh Hakushuu di semifinal trunamen Kantou. Janji untuk kembali bertarung dengan Sena dan timnya harus dihapuskan.
'Mungkin sudah terlambat untuk menyesali semua ini.'
~~oo00oo~~
Mizumachi Kengo terlahir dengan tubuh tinggi –atau tepatnya jangkung. Ia selalu membuat lawannya kehilangan percaya diri dengan tinggi badannya. Tapi itu semua terhapus setelah ia dikalahkan oleh line Deimon yang jauh lebih pendek darinya.
Impian para senior ditimnya terpaksa dihapus karena kebodohannya.
'Aku… memang payah…'
~~oo00oo~~
Unsui hanya menatap adiknya dari kejauhan dan hanya bisa menghela nafas.
Dunia memang kejam, itu yang dirasakan Unsui seorang. Kemampuannya dan adik kembarnya memang bisa dikatakan terlampau jauh.
Agon—adiknya disebut sebagai jenius dari 100 tahun*. Sedangkan dirinya? Ia hanya sebatas mantan Quarterback Shinryuuji dan Quarterbac Enma. Tak lebih.
Ia selalu berpikir 'Kenapa selalu Agon? Kenapa bukan aku saja?'.
Sekali lagi, dunia memang kejam.
Lonely rivers sigh "wait for me"
Wait for me
I'll be coming home
Wait for me
~~oo00oo~~
"Hei, Rachel. Mau sampai kapan kau biarkan mereka begini?" tanya sosok berambut hitam dan bermata white sapphire sambil melihat keseluruh anggota Enma yang masih mengalami mimpi buruknya.
"Entahlah." Kata Rachel dan tersenyum sinis.
"Sampai mereka mati, mungkin (1)"
TBC.
*Author gak peduli sama julukannya Agon. Author paling benci ma tokoh yang namanya Agon dan berambut dread. -,-a
(1) UNDINE-NEE! MAAF SAYA NYEPLAAAK!
~~oo00oo~~
Halo readers! Salam swadaya! *plak*
HOGYEAHAHAHAHAHA! Akhirnya para readers… setelah berbulan-bulan saya menghiatuskan fic ini… AKHIRNYA SAYA UPDATE JUGAAA!
Tadinya saya mau sekalian ngetik TLC… tapi dokumen saya yang satu dipake buat tugas print sekolah… dan saya gak boleh sembarangan bikin doku lagi. Ini saya make lappie emak!
Oke, stop curcolnya.
*liat fic atas bawah* Kok jadi gini? Meleset jauh dari bayangan.
Eemm… saya rada kagok mau buat pengalaman buruk Rie. Jadi anggap aja Rie lagi gak ngikut disini ._.V
Kali ini saya gak pake lagu jaman 80-an. Mungkin JAMAN 30-AN! AJIGILE! Abisnya saya keburu jatuh cinta ma lagu di lappie mak saya ini ._.V
Makasih berat buat yang udah repi chap 7. Rannada Youichi, Miiyuki Kyoko, VEnomouSakuRa dan Miku Kaitani. Sudah dibales lewat PM! Khusus buat Miku Kaitani dibales lewat pos ghaib. Kekekekeke.
Juga… makasih berat buat arumru. Kuroi –ru. Meskipun gak review chappie 7, dia yang memberiku ide dan saya mau ngutuk dia karena gara-gara cerita seremnya saya hampir men-discontinuedkan fic ini -,-a *tusuk-tusuk boneka voodoo pake jarum pentul*
Oke, keep review my lovely readers! Salam Comate! *digampar anggota CJR*
