Rowling has, I'm just having some fun

Chapter 8

[Draco]

Lorong di rumah sakit ini terlihat sangat senyap terutama di malam hari. Sudah dua hari dan keadaan tetap seperti ini. Tak ada tanda-tanda bahwa aku akan secepatnya meninggalkan tempat ini. Sudah dua hari aku berada disini dengan keadaan Astoria yang tak kunjung sadar. Kerusakan fungsi hati dan ginjal. Dua hal itu yang menjadi diagnosa para Healer disini. Mereka sudah mengusahakan perawatan terbaik untuk Astoria namun kabar baik masih belum dapat didengar. Keluarga Greengrass tak henti hentinya berdatangan begitu juga dengan Theo, Blaise dan Pansy. Mereka mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Astoria dan aku hanya menjawab bahwa ia keracunan. Saat mendengar hal itu hanya raut wajah Pansy yang tak berubah seketika menjadi panik karena ia tahu apa sebenarnya yang terjadi.

Sudah dua hari ini pula aku menelantarakan perusahaanku begitu juga dengan Kementerian dan tentunya Hermione. Hermione. Selain keadaan Astoria, keberadaan wanita itulah yang juga menjadi penghuni di pikiranku. Ingin sekali aku menemuinya, namun rasanya seperti mustahil. Bukan karena aku tak dapat menemuinya terlebih karena aku tak mau sedikitpun melewatkan hal yang akan terjadi pada Astoria. Bila Healer mengatakan keadaannya begitu parah, aku harus bersiap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku sudah jahat dengan menelantarkan dan mengkhianatinya, tapi aku tak cukup punya keberanian untuk meninggalkannya dalam keadaan seperti ini.

Setelah menghabiskan makan malam yang dibawakan oleh salah satu pegawaiku, aku kembali duduk tenang di sisi bangsalnya. Kuambil tangannya untuk kugenggam. Begitu dingin sampai aku berpikir mungkin ia tengah berjuang untuk meninggalkan dunia ini. Bila hal itu terjadi padanya, Demi Merlin dan demi apapun yang sanggup aku janjikan di muka bumi ini aku tak sanggup menghadapi kenyataan itu.

"As."

"Sadarlah," bisikku padanya dan mengecup punggung tangganya.

000

Sinar matahari menerobos masuk ke dalam kelopak mataku saat itulah aku sadar bahwa hari sudah kembali berganti. Punggungku terasa mau patah melihat bagaimana cara aku tidur semalaman ini. Terlihat bodoh memang bila melihat ada sebuah sofa nyaman di sudut ruangan ini dan aku lebih memilih duduk di samping bangsalnya. Kepalaku masih berada nyaman di tepi bangsal ini saat sesuatu menyentuh rambutku. Sontak aku bangkit dan melihat secara perlahan Astoria mulai membuka kedua matanya. Untuk pertama kalinya perasaan lega menguasai diriku. "Kau sadar," ujarku pelan sambil terus menatapnya.

Ia terlihat akan mengangguk namun tatapannya seakan masih kosong. "Ini rumah sakit?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Kau tak sadarkan diri selama hampir tiga hari."

Tangannya bergerak untuk menggapai diriku dan aku langsung menyambutnya. Dia meletakkan tangannya di pipiku dan mulai mengelusnya. Air mata terlihat berlinang di sudut matanya dan perlahan jatuh. "Maafkan aku, Drake."

Tiga kata itu membuatku merasa semakin bersalah padanya. Aku menggeleng. "Jangan berkata seperti itu, semua ini salahku."

Dia masih mengelus pipiku dengan tangaku yang masih menggenggam tangannya. "Akan kupanggilkan Healer."

Ia mengangguk. "Katakan pada mereka aku lapar."

Dia tersenyum. Senyum Astoria sudah kembali.

Tak lama kemudian para Healer berdatangan. Mereka mulai mengeluarkan tongkat sihirnya dan memeriksa secara perlahan namun tetap teliti pada As. "Aku sudah baik-baik saja," ujar Astoria pada salah satu Healer.

"Koma hanya gejala biasa dari overdosisku, bila kalian sudah menguras habis lambungku pada hari pertama suamiku membawaku kesini berarti semua toksin sudah hilang dan kalian hanya perlu fokus pada fungsi hati dan ginjalku saja sekarang. Singkirkan tongkatmu dan berhenti merapalkan mantra pada lambungku, Healer Carter," ucap Astoria pada salah satu dari tim Healer yang memeriksanya.

Aku hanya memandangnya dan tersenyum. Astoria merupakan salah satu lulusan sekolah Healer terbaik di Inggris. Setelah ia menikah denganku ia berhenti dari pekerjaannya. Jadi, tak asing lagi bila ia mengoceh tentang medis kepada mereka.

"Jadi, apakah sekarang aku bisa mendapatkan makananku?" tanyanya lagi kepada para Healer itu dan mereka semua mengangguk.

Saat mereka semua telah keluar dari ruangan ini, aku kembali duduk di sampingnya. Ia menatapku dengan mata indahnya. Dia kembali tersenyum. Salah satu hal yang kusyukuri darinya. "Drake," suaranya memecah keheningan.

Aku memalingkan pandangan untuk melihatnya. "Masalah perceraian kita."

Aku menggeleng cepat untuk memotongnya. "Jangan ucapkan hal itu, kita tak akan membicarakan hal itu sekarang."

Kali ini ia yang menggeleng. "Kita akan tetap membicarakannya cepat atau lambat, bukan? Jadi kenapa tidak sekarang?"

"Kesehatanmu adalah prioritas utama kita saat ini. Jadi, kita tak akan membicarakan hal itu sekarang."

Ia hanya diam. "Aku akan keluar dan menanyakan makananmu."

As tersenyum lalu mengangguk sementara aku keluar dari ruangan itu.

000

Kabar sadarnya As membuat semua keluarganya kembali berdatangan ke rumah sakit ini. Aku tak tahu bahwa Astoria pandai bersandiwara karena ia mengatakan hal yang mirip dengan apa yang aku katakan pada kedua orang tuanya dan keluarganya yang lain. 'Aku keracunan dan Draco sedang tak berada di rumah' itulah jawabannya atas keadaan koma yang ia alami. Semua orang percaya kecuali Daphne, kakaknya. Aku tahu bahwa Daphne tahu apa yang terjadi di antara aku dan adiknya, namun ia lebih memilih untuk tak mencampurinya dan aku sangat berterima kasih akan hal itu padanya.

Aku baru saja kembali dari nurse station untuk membicarakan kepulangan Astoria saat mendapati Theo, Pansy, dan Blaise sudah memenuhi ruangan itu. "Aku kira kau turun untuk membelikan kami minuman," ujar Blaise berseloroh padaku.

Aku memukul lengan atasnya . "Bahkan aku tak tahu kalian datang bergerombol seperti ini," ujarku yang disambut dengan gelak tawa dari mereka.

Aku melihat seikat bunga mawar besar sudah berada di dalam vas dan terlihat cantik di atas nakas samping bangsal Astoria. Tak lupa sekotak cokelat berada di sampingnya. "Apakah cokelat baik untuk kesehatanmu?" tanyaku pada As yang mulai membuka bungkus dari kotak itu.

Ia mengangguk. "Kau yakin?" tanyaku memastikan.

"Aku seorang Healer, meskipun sudah lama tak memegang seorangpun pasien aku tetap seorang Healer. Jadi, tenanglah."

Komentar As padaku membuat teman-temanku tersenyum. Terasa seperti masa lalu.

Setelah puas berbincang dengan As, mereka semua memutuskan untuk pulang dan membiarkannya beristirahat. Namun, aku tahu bahwa mereka bertiga ingin berbicara padaku untuk menanyakan kabar perkembangan dari hubungan kami. Saat telah berada di luar ruangan itu, Pansy langsung merapalkan mantra pengedap suara dan kami berempat berada di dalamnya. "Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Pansy padaku tanpa berbasa-basi.

Pansy Parkinson akan menjadi Pansy Parkinson sampai kapanpun juga.

"Ia sempat menanyakan hal itu padaku kemarin."

Mereka semua terdiam sampai Theo membuka suaranya. "Lalu apa yang kau katakan?"

"Aku tak akan menyinggung hal itu paling tidak sampai ia benar-benar pulih."

Pansy tertawa sarkastik akan jawabanku. "Aku kira kau tak lagi punya perasaan dan akan tetap mengajukan perceraian dengan kondisinya yang seperti ini."

"Pans," Theo dan Blaise menyahut secara bersamaan untuk menghentikan ocehan darinya.

Dia memelototi kedua sahabat kami ini. "Kenapa? Apakah aku salah? Aku hanya berujar."

"Kau tak perlu mengatakan hal itu pada Draco," ucap Blaise.

Pansy mengedikkan bahunya. "Sejak kapan pertemanan kita berubah menjadi sangat formal. Kau mengenalku lebih dari separuh hidupmu, Blaise."

Blaise hanya menutup mulut Pansy dengan tangan besarnya yang membuat Pansy meronta tak karuan. "Blaise! Tanganmu penuh kuman dan itu akan merusak perawatan wajahku."

"Aku mulai merasa berasalah dan menyesal menghabiskan hampir separuh hidupku bersahabat dengan wanita sepertimu," ujar Blaise yang kusambut tawa bersama Theo.

"Tapi, Drake," suara Theo membuat kami terdiam.

"Pikirkan kembali apa yang kau lakukan nanti, aku tak mengharapkan kejadian ini terulang lagi. Tidak pada As ataupun pada Miss Granger."

Aku hanya diam mendengar ucapannya. Saat Theo menepuk pundakku, aku mengangguk padanya. Kutatap jam yang melingkari pergelangan tanganku dan sadar bahwa ada sesuatu yang harus kukerjakan di Kementerian. "Pans."

Ia menatapku. "Bisakah kau menjaga As beberapa jam ke depan? Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan."

Pansy menganguk. Setelah Theo dan Blaise kembali ke kantor mereka aku menggunakan jaringan Floo untuk pergi ke Kementerian.

000

"Apakah tak ada penyelidik lain sampai aku yang harus menyelesaikan semua ini?" tanyaku pada Loise dengan aku yang berusaha menurunkan suara.

Loise mengangguk kemudian menggeleng secepatnya. "Mereka menunggu instruksi darimu, Sir."

Kuperhatikan perkamen-perkamen yang berada di hadapanku sambil mencerna kasus yang ada. "Kau sudah menanyakan hal ini pada divis Auror?"

"Mereka menyerahkan ini pada divisi kita terlebih dahulu."

Kuhela napas sejenak lalu kembali mempelajari kasus ini. "Aku akan ke divisi Auror sebentar lagi."

"Baik, Sir."

Tepat disaat Loise keluar dari kantorku, sosok yang kurindukan selama ini terlihat berjalan cepat menuju entah kemana. Sontak aku bangkit dan mengejarnya. "Miss Granger," panggilku saat ia berjalan beriringan dengan Nicholas.

Langkahnya terhenti dan ia berbalik untuk menatapku. "Malfoy," jawabnya dengan raut wajah terkejut kemudian secercah senyuman menghias wajahnya.

Aku berjalan ke arahnya dan kami berdiri berhadapan. Rasanya aku ingin menariknya ke dalam pelukanku dan melumat habis bibirnya lalu menenggelamkan diriku padanya. "Lama tidak berjumpa," kata-kata itu keluar dari mulutnya.

Aku tahu ia berusaha untuk setenang dan bertingkah senormal mungkin karena Nicholas sedang berada bersamanya. "Apakah perjalanan dinasmu kemarin berjalan dengan lancar?" tanyaku.

Bloody hell! Kenapa aku harus berbasa-basi seperti ini dan tak langsung saja membawanya ke ruanganku atau ruangannya dan menyelesaikan semua kerinduanku. "Sangat baik. Mister Malfoy, aku harus mendatangi rapat darurat, tapi ada yang harus kukatakan padamu. Datang ke ruanganku satu jam lagi. Kau bisa?" tanyanya dengan pandangan yang tak lepas dariku.

"Tentu, Maam."

Dengan dua kata itu ia berbalik badan dan kembali berjalan dengan tergesa-gesa menuju pertemuannya.

Satu jam telah berlalu. Pertemuan singkatku dengan divisi Auror telah terselesaikan dan kini saatnya aku harus menemui wanitaku. Nicholas sudah tampak berada di mejanya. Ada beberapa perkamen yang tengah ia kerjakan sampai ia menyadari keberadaanku. "Tuan Malfoy," ujarnya.

"Miss Granger ada di dalam?"

"Dia sudah menunggumu."

Tanpa harus mengetuk lagi aku membuka pintu dan mendapati Hermione tengah berdiri menghadap jendela dengan menyandarkan separuh tubuhnya di meja kerjanya. "Miss Granger," sapaku.

Ia berbalik dan menghadapku. Cangkir yang ia pegang langsung diletakkannya kemudian ia berlari kepadaku. Ia berlari dan langsung mengalungkan lengannya di leherku dan memelukku dengan cepat. "Oh God, I miss you," ujarnya saat membenamkan wajahnya di leherku.

"Aku juga merindukanmu."

Dia melepaskanku dan menatapku lekat-lekat. "Aku sangat merindukanmu," ujarnya dan aku langsung merunduk untuk melumat bibirnya.

Sudah lama sekali aku merindukan bibir lembut yang hanya Hermione Granger yang punya. Setelah ciuman untuk meluapkan rindu itu usai ia memelukku. Kami berpelukan untuk waktu yang lama. "Kau tidak pegal berdiri selama ini dengan sepatu setinggi itu," godaku melihat sepatu berhak tinggi bewarna hitam yang tengah ia gunakan.

"Shhh, jangan mengacaukan suasana," ujarnya dan aku tertawa.

Dia kemudian melepaskanku. "Ayo duduk, aku mulai pegal."

Ia kembali duduk di kursi besarnya sementara aku duduk bersandar di meja. "Pasti ada yang sangat penting sampai kau berlari mengejarku seperti di lorong tadi," ujarnya sambil memainkan jariku yang sedari tadi digenggamnya.

"Kau."

Ia mengerutkan dahinya. "Kau masalah pentingku."

"Aku?"

Aku mengangguk. "Kenapa? Kau mau memutuskan hubungan kita?"

"Hermione."

Dia tertawa. "Aku bercanda."

Aku tak tertawa dengan candaannya dan seketika raut wajahnya berubah panik menatapku. "Atau kau benar-benar ingin memutuskan hubungan denganku."

Kuhela napas panjang lalu menangkup wajahnya. "Aku tak akan memutuskan hubungan denganmu. Aku kesini untuk menjelaskan alasan mengapa aku menghilang beberapa hari kebelakang."

Dia tersenyum tipis lalu menggeleng. "Aku sudah tahu. Istrimu berada di rumah sakit sekarang. Apakah itu yang ingin kau sampaikan?"

"Bagaimana kau tahu?"

"Kau tak membaca Daily Prophet? Berita itu tengah hangat sekarang," jawabnya.

"Hermione."

Dia mengangkat tangannya untuk memberi tanda padaku. "Bila kau ingin bertanya apakah aku baik-baik saja, aku akan berbohong bila mengatakan bahwa aku baik-baik , aku akan berusaha untuk baik-baik saja."

Ia semakin menggenggam erat tanganku dan membawanya ke dadanya. Aku dapat merasakan detak jantungnya sekarang. "Selesaikan masalahmu dengan Astoria," ujarnya.

"Pikirkan kembali pengajuan ceraimu."

Kali ini aku membelalak menatapnya. Apa yang dia pikirkan sebenarnya saat ini? Apakah ia yang sebenarnya ia berpisah denganku. "Apa yang kau katakan?"

"Aku hanya mengatakan pikirkan kembali pengajuan ceraimu. Tujuh tahun pernikahanmu bukanlah waktu yang sebentar."

"Dan sepuluh tahun perasaanku padamu juga bukan waktu yang sebentar," bantahku.

Dia berusaha untuk tersenyum. "Aku mencintaimu."

Hermione mengangguk. "Aku tahu."

"Pulanglah setelah pekerjaamu selesai, Astoria membutuhkanmu saat ini."

"Kau tak membutuhkanku?"

Dia teratawa. "Kau bodoh atau idiot? Tentu aku membutuhkanmu, tapi keberadaanmu sekarang sudah cukup mengobati kerinduanku. Jadi, pulanglah pada istrimu."

Aku hanya menatapnya dalam diam. "Aku akan kembali padamu. Kau mau menungguku?"

Sampai aku keluar dari kantornya dia tak menjawabku.

000

Hari-hari berlalu dan keadan Astoria perlahan membaik. Ibunya datang hampir setiap hari ke Manor dan itu membantu kesembuhannya. Kegiatan kami berlangsung seperti biasanya. Dia tak pernah menyebut sekalipun tentang perceraian begitupula denganku sampai hari ini.

Aku kembali dari Kementerian setelah seharian penuh menangani kasus. Hidupku terasa seperti diaduk-aduk dengan semua keadaan ini. Kepergian Hermione untuk konferensi di beberapa negara membuatku semakin sulit bertemu dengannya. Hanya pesan singkat dari telepon selular Muggle-nya saja yang menjadi perantara komunikasi kami. Hari ini saat aku baru saja kembali, Astoria tengah duduk bersandar di ranjang dengan buku di pangkuannya. "Hey," sapanya saat aku memasuki kamar itu.

Baru saja ia akan bangkit aku langsung menghampiri dan melarangnya untuk turun. Dia tersenyum melihat aksiku. "Mungkin seharusnya aku overdosis sejak dulu saja, bila kau akan berubah seperti ini."

Aku hanya menatapnya tanpa mengeluarkan kata apapun. "Kau mau kupanggilkan peri rumah untuk membuatkanmu teh?" tanya.

Kali ini aku menggeleng. "Kau sudah minum teh sore ini dengan Hermione Granger?" tanyanya lagi tanpa ada nada benci atau marah sekalipun.

Kembali aku menggeleng. "Dia berada di luar negeri belakangan ini."

"Pantas saja kau sangat murung dan uring-uringan."

Kalimatnya membuatku mengalihkan tatapan darinya. Tangan As mengambil tanganku dan menggenggamnya. "Kau benar-benar mencintainya?" suara As terdengar sangat lembut saat mengatakannya.

"Drake."

"Kenapa kau bertanya seperti ini?" tanyaku bingung.

Senyum tipis masih menghias wajahnya. "Jawab saja."

"Aku tak mau lagi menyakitimu dengan perkataanku, As."

"Aku tahu kau berengsek, tapi aku juga tahu bahwa kau tak pernah sanggup dan berniat untuk menyakitiku."

Kami diam tanpa suara dengan As yang masih memengang tanganku. "Drake."

"Ayo bercerai," ucapannya langsung saja membuatku menatapnya tak percaya.

Aku tak pernah berekspektasi dia akan mengatakan hal ini. Aku mengira dia akan membuat keadaan ini sebagai momen agar kami dapat kembali bersama, namun aku tak dapat menebak apa yang ada di pikiran wanita.

"Apa yang kau katakan As?"

"Ayo kita bercerai, tapi bukan kau yang menggugat melainkan aku. Biarkan aku yang membuat alasan perceraiannya."

"Astoria."

Dia masih tersenyum. Aku tak tahu dia masih bisa tersenyum dengan percakapan seperti ini. "Aku tak mau sakit terlalu lama dan aku tak punya hak untuk menghalangi perasaanmu pada Hermione. Setelah aku benar-benar pulih, aku akan segera memasukan berkas perceraian kita ke pengadilan. Bagaimana?"

Aku membatu. Apa yang aku harus katakan saat ini? Seharusnya aku merasa bahagia dengan keputusannya? Tapi semua ini membuatku semakin dilingkupi rasa bersalah. Aku lebih memilih dia menangis, berteriak, dan memakiku sampai puas daripada seperti ini. Bagaimana bisa ia mengucapkan hal ini dan senyuman yang masih terpasang di wajahnya. "Astoria."

"Kau harus hidup bahagia dan aku juga akan hidup lebih bahagia darimu," kata-kata Astoria membuatku menariknya ke dalam pelukanku.

"Terima kasih," bisikku.

000

[Hermione]

"Kau tak langsung kembali ke London, Miss Granger?" tanya Nicholas saat kami berjalan di lorong hotel menuju kamar kami.

"Aku akan ke Sofia lalu kembali ke London keesokan harinya."

"Kau mau aku temani?"

Aku menatapnya tak percaya dengan sebelah alisku yang terangkat dan Nicholas menyambutnya dengan tertawa. "Kau ingin bertemu dengan Viktor Krum. Aku lupa. Maafkan aku Miss Granger."

Tawanya menular padaku dan sebelum aku memasuki kamarku, aku berheti sejenak. "Kau bisa libur besok. Masuklah saat aku masuk, kau pasti lelah dengan konferensi ini."

"Kau serius?"

"Atau kau tak mau mengambil kesempatan ini?"

Dia langsung menggeleng. "Tentu aku mau. Terima kasih, Miss Granger."

Dan hanya anggukanku yang menjawabnya.

Sebelum kembali ke London, Nicholas menyiapkan Portkey untukku. Dan aku sekarang berada di sini. Di Sofia, Bulgaria. Langkahku langsung menuju apartemen Viktor namun saat aku telah berada di depan pintunya tak ada jawaban dari dalam. Kuperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tanganku dan aku baru sadar bahwa ada perbedaan waktu disini. Aku langsung keluar dari apartemen ini dan menuju training center-nya.

Seperti layaknya stadion Quidditch lainnya aku disambut dengan bentangan rumput hijau dan tiang-tiang gawang yang menjulang. Aku terkejut saat seorang pria dengan jubah hitam suteranya yang kuyakin sebagai manager tim ini memanggilku. "Miss Hermione Granger?"

"Yaa."

"Kau datang untuk bertemu Viktor."

Aku hanya mengangguk. "Dia berada di ruang ganti di sudut lorong ini," ujarnya sambil memberiku arahan dengan tangannya.

"Terima kasih."

Aku tepat berdiri di depan pintu ruangan ini dan seseorang berdiri di belakangku. "Kejutan sekali, kau mengunjungi Viktor?" tanya salah satu rekan timnya yang baru saja akan masuk ke ruangan ini.

"Viktor, lihat siapa yang datang."

Tawa Viktor yang sedari tadi tengah bercengkrama dengan teman setimnnya menghilang saat melihatku. "Hey," sapaku.

"Hermione."

Dia bangkit dan menghampiriku. "Apa yang kau lakukan?"

"Kau sudah selesai latihan?" tanyaku.

Ia mengangguk. "Ayo kita makan malam," ujarku sementara ia masih menatapku bingung.

"Okay," jawabnya.

Aku mendengar suara riuh rendah dari para temannya dan Viktor hanya menaik-naikkan alisnya sambil berjalan ke kamar mandi ruangan ini. Setengah jam kemudian ia telah bersih dan semua keringat yang tadi membasahi tubuhnya telah menghilang dan kini ia telah mengenakan mantelnya. Makan malam kami berjalan lancar atau seperti itulah yang aku pikirkan. Setelah itu kami kembali ke apartemennya.

"Jadi sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" tanya Viktor yang memberikanku segelas wine.

Aku duduk di tepi ranjangnya dengan dia yang berdiri tepat di hadapanku. "Aku minta maaf."

Viktor langsung berlutut di hadapanku dan menggenggam tanganku. Tangannya yang lain memegang pipiku dan mengelusnya sambil sesekali menghapus air mata yang mengalir disana. "Hermione, aku juga minta maaf karena terbawa amarah."

Aku menggeleng. "Aku salah karena datang tiba-tiba seperti itu dan aku tahu kau tak pernah menyukai saat aku mengganggu pekerjaamu."

Aku tak sanggup menjawabnya. Bukan hal ini yang aku harapkan saat datang kemari, tapi Viktor akan menjadi Viktor selamanya. Dia akan selalu berusaha mengerti apapun keadaan yang tengah kuhadapi.

"Aku minta maaf," ucapku lirih kembali padanya.

Kuambil tasku dan mengeluarkan kotak hitam yang diberikan olehnya padaku dan memberikannya kembali padanya. "Hermione," ujarnya.

"Aku tak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang, simpan dan pikirkan semuanya dengan baik-baik. Aku akan selalu menunggumu."

"Viktor, aku tak bisa."

Ia menatapku tanpa mengeluarkan sepatah katapun. "Kita tak bisa melanjutkan hubungan ini."

"Kenapa? Kau panik karena aku akan melamarmu, karena kau belum mau menikah, atau karena masalah kau tak ingin memiliki anak?"

Aku masih diam dan tak tahu harus menjawab apa. "Aku tak pantas kau tunggu, Viktor."

"Aku mencintaimu dan sampai kapanpun aku akan tetap menunggumu."

Kugelengkan kepalaku untuk menghentikannya. "Aku tak pantas untukmu, kau berhak untuk mendapatkan wanita yang juga mencintaimu."

Kalimatku kali ini benar-benar membuatnya terdiam. "Aku tidur dengan pria lain," tambahku.

Viktor membeku di tempatnya dan perlahan ia melepaskan genggamannya dariku. Dia bangkit dan berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan ini. Aku melihat ia menuangkan scotch ke dalam gelasnya dan langsung menenggaknya. "Sejak kapan?" tanyanya tanpa sudi menatapku.

Belum sempat aku menjawabnya ia berteiak padaku. "Sejak kapan?"

"Lama."

Tetiba saja dia membanting gelasnya dan menatap liar kepadaku. "Apakah ini karena hubungan jarak jauh kita?"

"Aku baru saja berencana untuk pindah liga di Inggris agar dapat bersamamu dan hal ini yang kudapatkan? Kau datang kesini dan mengajakku makan malam hanya untuk mengatakan hal ini. Aku tak tahu bahwa hatimu sedingin ini."

"Viktor."

Dia berjalan ke arahku dan memegang kedua pundakku. "Katakan kalau kau bercanda, bahwa kau hanya tak siap menikah denganku. Kau tak perlu mengarang cerita bahwa kau tidur dengan pria lain."

"Aku tak mengarang, aku benar-benar berkhianat padamu

"Aku serius."

Dia mengambil botol scotch itu dan langsung menenggaknya. "Jika kau pria mungkin sekarang kau sudah mati kuhajar, Hermione."

"Viktor."

"Pergilah. Kau tak berencana untuk bermalam di rumahku, bukan?"

Aku bangkit dari tepi ranjangnya dan berjalan perlahan kepadanya. Aku berjinjit dan memeluknya. Ia tak bergerak. Tak ada lagi tangan yang menyambutku saat aku memeluknya. Dia hanya berdiri tak bergerak. "Aku minta maaf."

000

Tak ada kabar dari Viktor secara langsung namun kabar perpisahan kami menyebar begitu cepatnya. Terima kasih kepada The Witch Weekly atas sikap cepat tanggapnya untuk mengendus berita.

"Kau yakin tak akan datang ke The Burrow malam ini?" tanya Ginny dari seberang sana.

Aku berdiri sambil merapihkan perkamen di atas mejaku dengan iPhone yang kuapit di antara pundak dan telingaku. "Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan."

Aku mendengar Ginny mendengus. "Kantor atau Draco?"

"Keduanya," jawabku cepat.

Jeda beberapa saat sampai Ginny kembali membuka suaranya. "Kau baik-baik saja dengan pemberitaan kandasnya hubunganmu dengan Viktor?"

Tawaku membalas pertanyaannya. "Aku baik-baik saja. Berita itu benar lalu apa yang kupusingkan?"

"Tetapi, isinya terlalu dilebih-lebihkan," tandas Ginny.

"Namanya juga tabloid gossip, semua pasti akan dilebihkan agar menarik perhatian para pembaca."

"Yasudahlah, jaga dirimu."

"Terima kasih. Salam untuk little James dan Harry dan seluruh keluargamu."

"Baiklah."

Dengan satu kata itu ia menutup panggilan ini. Aku memeriksa jam dan bergegas meninggalkan kantor. Setelah pertemuanku dengan Kingsley aku langsung ber-Apparate menuju kediaman Muggle milik Draco. Tak ada janji yang kubuat dengannya dan aku memang sengaja ingin datang tanpa memberitahunya. Seperti berjudi aku menyerahkan peruntunganku pada takdir. Bila takdir tengah memihakku, Draco akan berada di rumah Muggle-nya. Bila tidak, mungkin ia tengah bersama Astoria di Manor-nya. Karena hidup memang semudah itu ternyata.

Akue mengetuk pintunya beberapa kali dan ia muncul dengan raut terkejut lalu berubah menjadi senyuman. "Le Pin," ujarku sambil mengangkat botol wine yang kubawa.

Dia masih menatapku tak percaya dengan senyuman khas di wajahnya. "Kau terkejut?" tanyaku.

"Sangat," dan ia menarikku lalu mendaratkan bibir lembutnya di bibirku.

"Aku merindukanmu," ujarnya dan aku hanya tertawa.

Ia langsung menarikku masuk dan dengan sigap meletakkan botol wine yang sedari tadi kupegang ke atas salah satu counter di rumah ini. Bibirnya tak lepas dari diriku barang sedetikpun dan aku sangat membawaku sampai ke kamarnya. "Kau tahu aku sangat merindukanmu, Granger?" tanyanya disela kegiatannya di lekukan leherku.

"Eehm," hanya itu jawabanku.

"Kau pergi kemana saja?" ia kembali bertanya saat tangannya mulai melepaskan satu per satu kancing blouse-ku.

Aku menangkup wajahnya untuk sesaat menatapnya. "No talking, please."

"Yes, Maam."

Setelah selesai menghabisi blouse-ku, tangan Draco menelusup kebalik rokku dan lenguhan-lenguhanku tak dapat lagi terbendung. Bibirnya menjelajahi setiap lekuk tubuhku dan semua itu membuatku semakin gila. Perlahan ia mendorongku ke tempat tidur. Aku kira ia akan mengakhiri godaannya dan menyelesaikan penderitaanku, tapi aku salah. Ia semakin menggodaku. Ciumannya perlahan turun dari leher menuju bagian bawah tubuhku dan aku tak sanggup lagi menahannya. "Draco, please."

"No talking, please."

"Draco!"

Dia tertawa. "Sekarang?" tanyanya berbisik padaku.

"Sekarang!"

Dan ia memasuki dengan satu gerakan. Merlin! Aku merindukan ini.

"I miss you," ujar Draco sesaat setelah kami mencapai puncaknya.

"I miss you too."

Draco masih membenamkan wajahnya di lekukan leherku sementara tanganku masih mengelus rambutnya sambil memandang langit-langit kamarnya. Aku tersenyum sendiri mengetahui bahwa ini adalah saat terakhir aku bisa memandangnya.

"Draco," ucapku masih terus membelai rambutnya.

"Eehm."

"Kau mengantuk."

"Masih terlalu awal untuk tidur, love."

Kembali senyumku mengembang mendengarnya. Kugerakan tubuhku untuk membuat ia bangkit. Aku bangkit lalu mencari kemeja Draco yang tadi tercecer di lantai dan mengenakannya. "Kau mau kemana?" tanyanya

Aku hanya menaikkan alisku dan mengambil wine yang tadi kubawa serta gelasnya lalu kembali ke ranjang. Aku duduk menyila sambil menuangkan isi wine itu ke gelas dan memberikannya pada Draco. "Le Pin," ucapnya saat kami sama-sama duduk bersila di ranjang itu.

Aku mengangguk "Wine pertama yang kau bawa saat kau muncul tiba-tiba di depan rumahku malam itu."

Ia menyeringai kemudian menggoyangkan gelasnya dan menyesap isinya perlahan. "Kau sudah membaca surat berita gosip yang beredar?" tanyaku.

"Tentang kau dan Krum?"

Aku mengangguk. "Rasanya aku ingin mengoleksinya."

Tawaku pecah saat mendengarnya. "Hermione."

"Yaa."

"Aku dan Astoria akan benar-benar berpisah. Ia akan mengajukan permohonan cerai minggu depan," ujar Draco tenang padaku.

Aku tak sanggup berkata-kata. Bukan berita ini yang aku harapkan, seharusnya bukan hal ini yang ingin aku dengar. "Kau tak senang?" tanya Draco dengan perubahan raut wajahku.

"Apakah Astoria sudah sehat?"

Kali ini ia yang mengangguk sementara aku tak tahu harus bagaimana menanggapi berita ini. Aku berpikir bahwa keadaan Astoria akan mengubah segalanya. "Kau kenapa?" tanya Draco lagi padaku.

Aku mengedik. "Hanya dingin," ujarku yang langsung bangkit dan menutup jendela kamar Draco. Aku berbalik menatap Draco setelah terpaan angin malam menetralisir pikiranku.

"Berdansalah denganku."

Dia mengerutkan dahinya dan menyeringai padaku. "Kau kenapa sebenarnya?"

Aku menghampirinya dan menariknya tangannya. "Selama kita bersama, kita tak pernah berdansa sekalipun. Jadi, ayo berdansa denganku."

Dia kembali menyeringai dan mengambil celananya. Setelah aku memutarkan lagu kami berdansa. Tangannya berada nyaman di pinggangku sementara tanganku melingkar nyaman di lehernya dengan kepalaku yang menyandar nyaman di dadanya. Kami bergerak mengikuti irama musik yang kuputar. "Aku mencintaimu," bisiknya.

"Aku tahu."

Dan aku semakin membenamkan kepalaku di dadanya.

Saat pagi hari tiba, Draco masih tertidur di ranjangnya sementara aku telah membuatkannya sarapan. Pancake sederhana dan teh sudah tersedia di kitchen island dapurnya. Baru saja aku akan membangunkannya, ia sudah turun dan telah lengkap dengan setelannya. "Pagi," ujarnya padaku setelah mengecup lembut bibirku.

Ia mengambil tempat di sampingku dan mulai menyesap tehnya dengan satu tangan lain membuka halaman demi halaman Daily Prophet. Aku tak sanggup memakan sarapanku dan hanya menyesap teh yang kubuat. Ketika aku melihat Draco telah menghabiskan sarapannya akupun membuka suara.

"Draco."

"Yaa," jawabnya lalu melipat surat kabarnya.

"Aku ingin berpisah darimu."

000

to be continued

A/N: How's this chap? I hope you like it. Untuk chapter 7 saya tak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya kata-kata yang menggunakan titik lalu diapit oleh tanda petik menghilang secara otomatis dan untuk typo yang bertebaran dimana-mana saya juga minta. Thanks again. Don't forget to leave your review. I'm craving for that haha.