Disclaimer—
SMT: Persona 3(FES) © 2008, Atlus

Summary: Kisah yang terputus akan dijalin kembali. Sekali lagi mereka akan menarik pelatuk mereka masing-masing, menuju akhir.


Persona 3: Forgotten Memories

—Chapter 7—

Retaking your Swords and Shots


-Dark Hour-

'BANG!'

Terdengar suara pistol bertipe nanbu 2 itu diikuti dengan erangan keras makhluk berwarna hitam yang lenyap kedalam udara berat menara itu. Detektif kecil itu kemudian mengisi ulang peluru pistol kesayangannya begitu makhluk barusan menghilang. Lalu terdengar suara langkah cepat—dalam jumlah banyak mendekat menuju detektif itu.

"Kau tidak apa-apa, Naoto-san?"

Begitulah kata anak berambut biru itu begitu ia mencapai tempat detektif itu berdiri sekarang.

"Aku tidak apa-apa Minato-senpai, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku." Jawab detektif itu kalem. Minato hanya tersenyum pendek saja mendengar jawaban singkat detektif itu, yang menurutnya bergengsi tinggi sehingga tidak suka apabila diremehkan, atau merasa dikhawatirkan.

Minato menoleh ke kanan, lalu ke kiri, mengobservasi keadaan sekitar di jalanan itu. Tampak sejauh mata memandang hanyalah jalanan saja, yang dibatasi dengan tembok yang beraneka ragam. Ada yang tembok besi polos, ada juga yang terbuat dari rumput berbentuk persegi panjang, walau sebagian besar adalah tembok besi polos.

"Daripada mengkhawatirkan keadaan yang lain, sebaiknya kita mencari cara agar bisa berkumpul dengan yang lain." kata detektif itu memandang ke Minato. Membuat pandangan anak berambut biru itu beralih padanya.

"Kau benar.." kata Minato disertai anggukan kecil. "Aku sendiri cukup ragu-ragu apakah kita bisa keluar dari labirin ini…"


- Flashback-

-Some hours ago inside Tartarus-

Souji, Naoto, Minato, dll. Kembali memasuki menara itu, Tartarus. Tujuan mereka—tak lain adalah untuk berlatih setelah 2 tahun lamanya. Sayang entah kenapa setiap kali mereka memasuki menara itu, mereka selalu disambut dengan hal yang aneh-aneh. Tampak kali ini—seorang bocah berambut pendek dengan warna rambut dan mata yang sama dengan pemuda yang dulu dikalahkan Souji. Bocah itu mengenakan baju bergaris-garis putih hitam horizontal, seperti tahanan penjara. Hal pertama yang dilihat seluruh anggota S.E.E.S. Souji, dan Naoto adalah sebuah senyum. Senyum puas yang tidak dapat dimengerti oleh ke semua orang di situ kecuali—

"Pharos…."

Suara itu berasal dari Minato setelah melihat senyum bocah itu. Bocah yang dipanggil dengan nama Pharos itu hanya memejamkan matanya yang berwarna biru cobalt sejenak, kemudian membukanya lagi

"Aku senang kau masih mengingatku…"

Katanya dengan senyum malaikat di wajahnya. Anggota S.E.E.S. yang lain segera melihat ke arah pemuda berambut biru itu. "Kau mengenalnya, dude?" tanya Junpei.

Menjawabnya, Minato hanya menganggukkan kepalanya pelan. Katanya "Dia sama dengan Ryoji Mochizuki. Itulah bentuk aslinya saat dia masih berada didalamku." Junpei hanya ber-ooh saja mendengar jawaban dari sahabatnya itu.

"Ada urusan apa kau kemari?" tanya Mitsuru sinis.

Bocah itu—Pharos kemudian menoleh ke arah wanita berambut merah itu sejenak. Kemudian mengalihkan pandangannya ke Souji, sebuah pandangan tajam. "Jadi kau yang mengalahkan 'dia' ya?" tanyanya langsung ke arah anak berambut abu-abu itu. Souji membalasnya dengan pandangan yang tegang. 'Apa maunya?' hal itu yang pertama muncul di benak Souji ketika melihat pandangan itu.

Bocah itu kembali tersenyum, kemudian mengganti target pandangannya kepada Minato. "Aku ada urusan denganmu—bukan dengan kalian semua…" katanya seraya jarinya yang kecil terangkat menunjuk ke arah Minato dan anggota S.E.E.S. lainnya.

"Urusan dengan kami?" bentak Junpei sedikit gemetar.

Menyadari rasa tegang dan takut di perkataan sahabatnya itu, Minato mengangkat tangannya ke depan Junpei, mengisaratkannya untuk tenang. "Tidak perlu tegang begitu Junpei…" katanya singkat.

"Te, tegang? Aku tidak tegang kok!"bentak Junpei. Minato dan yang lainnya tetap diam, mata mereka semua terfokus kepada satu bocah di hadapan mereka. Walau tidak ada seorang pun yang mengatakannya, semua di menara itu dapat merasakannya. Sebuah aura yang kuat meyelimuti menara itu, aura yang tenang… sekaligus menekan dibalik senyumannya yang ramah. Seakan-akan jika lengah sedikit saja, berakhirlah mereka semua.

"2 tahun yang lalu kau tidak mempunyai aura seperti ini, Pharos. Bahkan pada 'malam itu' walau kurasakan ketakutan dalam diriku, tetapi malam ini terasa berbeda. Kali ini terasa…. Ganjil."

Pharos hanya tersenyum mendengarnya, bocah itu kemudian menjawab dengan anggukan kecil. "Malam itu yang kau rasakan adalah murni auraku. Hanya saja kali ini aku hadir disini… sebagai bagian dari nyx." Katanya. Semuanya yang di menara itu terkejut mendengarnya.

"Heh, jadi… nyx akan segera datang sekarang?" tanya Akihiko.

Pharos kembali tersenyum mendengarnya, bocah itu kemudian menoleh ke arah Akihiko, membuat pria itu bersiap dalam posisi. "Tidak, seperti yang Ryoji Mochizuki—aku lakukan dulu. Aku ingin kalian selamat, sayang sekali ingatan kalian telah kembali dan pasti kalian akan melawan nyx apapun caranya 'kan?" Kesemua anggota S.E.E.S. disitu mengangguk sebagai jawaban.

Melihat anggukan mereka semua, Pharos hanya tertawa kecil. "Kalau begitu, coba serang aku…" tepat setelah Pharos mengakhiri pembicaraannya, matanya membulat seperti sedia kala. Membuat aura yang di menara itu terasa lebih berat dan menekan.

Junpei, yang paling tidak sabaran di antara anggota S.E.E.S. tidak mungkin akan berpikir lama-lama mendengar kata 'serang aku…' barusan. Sekejap saja bocah bertopi itu mengambil evoker di sakunya, mengarahkannya ke pelipisnya, kemudian…

"TRISMEGISTUS!"

Bersamaan dengan teriakannya barusan, bocah itu, Junpei menekan pelatuk evokernya. Memanggil persona yang dimilikinya hanya…

Persona yang keluar bukanlah Trismegistus seperti yang diharapkannya, melainkan Persona lain berwarna hitam dengan semacam 'sayap' yang tersambung dengan tangan dan kakinya. Persona itu kemudian membentuk semacam bor, atau lebih tepatnya pyramid. Kemudian menyerang lurus ke arah Pharos.

'CLASH!'

Sekerjap cahaya tampak membutakan mata mereka semua yang ada disitu…

'BRUKK!'

Junpei terpental… kaget, begitu juga semuanya yang disitu, turut kaget pula melihat cahaya itu.

Anak bertopi biru itu mengerang kesakitan pelan, lalu perlahan ia mencoba untuk bangun dari tempatnya itu. Pharos tersenyum simpul melihatnya, bocah itu memejamkan mata dan memiringkan kepalanya kecil, seakan-akan mengejek Junpei bahwa serangannya itu tidak ada gunanya. Jangankan luka, goresan saja tidak.

"Mu, mustahil… Bagaimana bisa…?"

Kata Junpei tidak percaya, bukan karena ia dipentalkan dengan mudah… tapi karena…

"Bagaimana bisa yang muncul bukanlah Trismegistus dan adalah Hermes?" teriak bocah bertopi itu masih sedikit shock dengan kemunculan persona yang tidak diharapkannya barusan. Pharos masih saja terdiam dengan senyum khasnya diwajahnya. Sementara yang lain…

"Kelihatannya ingatan kami belum sepenuhnya pulih ya… Pharos?" tanya Minato.

Pharos tertawa kecil mendengarnya entah bagian mananya yang lucu, mungkin sisi sintingnya menyuruhnya tertawa atau apalah tidak penting, ia memang selalu aneh.

"Tepat sekali Minato… dan seperti 'Ryoji' yang dulu dia kalahkan, aku yang menjadi kunci dari ingatan kalian pula…"

Kalimat tersebut tidaklah terlalu panjang… tidak sampai 20 kata, dan bukan dengan nada yang mengejek maupun menantang… tapi lebih dari cukup untuk membuat semua anggota S.E.E.S. mengambil senjata dan evoker mereka masing-masing.

"Haruskah kami membunuhmu seperti yang Souji lakukan dulu?" tanya Mitsuru.

Pharos terdiam sejenak, masih sama dengan reaksinya dari tadi. Diam, dan lebih sering menjawab apabila Minato yang bertanya. Walau sebelumnya bocah berkulit pucat itu hampir selalu bersikap begitu, tampaknya kali ini ia cukup malas untuk menunggu Minato yang bertanya.

"Tidak, tidak, ayolah apakah aku terlihat kekar dan kuat? Tentunya aku akan kalah diserang oleh kalian semua…" jawabnya dengan nada yang terdengar, atau lebih tepatnya dibuatnya lemah. Sayangnya caranya menjawab itu tidak membawa anggota S.E.E.S. itu lebih tenang, malahan lebih kesal.

"Jadi apa yang harus kami lakukan untuk mengambil kembali ingatan kami?" bentak pria itu yakni Akihiko.

Pharos hanya memberi sebuah senyum sebagai jawaban. Sebuah senyum yang selalu dipasang di wajahnya yang pucat itu. Tak lama, kemudian ia menjawab pertanyaan Akihiko itu…

"Jangan terburu-buru begitu… lagipula nyx tidak akan datang secepat itu, aku—yang bertugas menyambutnya menjamin hal itu. Persona kalian merupakan cermin, dari kalian sendiri… Adanya perubahan suatu persona terjadi karena berkembangannya hati kalian. Sekarang yang ingin kutanyakan, adalah… ingatkah kalian akan penyebab dari perkembangan hati kalian pada masa lampau?"

Para anggota S.E.E.S. terdiam sejenak. Masing-masing dari mereka mencoba mengingat kebelakang, alasan mereka bertambah kuat dulu. Hanya sayangnya, tidak ada satupun dari mereka yang dapat mengingatnya. Benci mengakuinya, tapi semua terpaksa menggeleng-gelengkan kepala menyerah.

"Kelihatannya tidak satupun dari kalian dapat mengingatnya ya…"

Pharos kemudian menjentikkan jarinya, menghasilkan bulatan kegelapan yang pekat. Kegelapan itu kemudian menelan mereka semua tidak terkecuali setiap anggota S.E.E.S. dan juga Souji dan Naoto.

"UUUWAAAAAAAAAAAA….."

-End of Flashback-


-?-

-Dark Hour-

Kembali ke cerita, tempat ini benar-benar… sulit dijelaskan. Semuanya, tak terkecuali, setiap anggota S.E.E.S. dan Souji, dkk. masing-masing terpisah di dalam sebuah… labirin atau semacamnya. Tempat itu cukup unik, setiap dari mereka berada di tempat yang sama—Tartarus, tetapi pemandangan yang mereka lihat sama sekali berbeda satu sama lain. Beberapa di antara mereka terpisah dan berjalan seorang diri saja, beberapa juga ada yang secara sengaja atau kebetulan bersama-sama.

Kondisi mereka saat ini di 'mata' Pharos adalah…..

Minato dan Naoto

Akihiko dan Ken

Mitsuru dan Yukari

Junpei

Koromaru

Fuuka

Aigis

Dan Souji…

Entah aneh atau unik mereka ada yang bersama-sama ada yang terpencar, tetapi semuanya mau tidak mau hanya bisa berjalan saja menuju tempat yang tidak pasti.


-Akihiko dan Ken-

"POLYDEUCES!"

Makhluk berambut panjang berwarna serba putih itu menyapu setiap shadow yang berani mengganggu jalannya. Begitu juga dengan anak berambut coklat itu sibuk menusuk setiap shadow yang berani menyerang mereka—Ia, Ken dan Akihiko.

"Mereka tidak ada habisnya Akihiko-san!" kata anak berambut coklat itu.

Pria berambut abu-abu itu tidak memberikan banyak jawaban, hanya sebuah kata 'ya' yang diiring anggukan ringan. Pria itu lebih terfokus kepada shadow-shadow yang ada dihadapannya. Tangannya mengambil kuda-kuda tinju khasnya, tapi tidak berani ia langsung menyerang mereka. Karena selain ia harus bertarung sambil bertahan, ia secara tidak langsung harus menjaga rekannya yang masih SMP itu. Cukup menyebalkan—dan juga menolong.

"Ken! Kemampuan apa yang saat ini masih diingat personamu?"

"E, eh… kurasa hanya zionga dan diarama…"

"Sial! Ken bersiaplah pada aba-abaku! Aku dan polydeuces akan mencoba membuka jalan, back up aku!"

Ken hanya mengangguk cepat mendengarnya.

"…..YAK! Sekarang!"

'BANG!'


-Mitsuru dan Yukari-

"GRA…GRAAWW.."

Dari tadi hanyalah suara erangan lemah itulah yang terdengar. Dihadapan kedua wanita itu, semua makhluk-makhluk penghuni Tartarus itu tidaklah berdaya melawannya. Tidaklah heran, di masa-masa lalu kedua perempuan inilah yang memiliki daya serang paling luas dan paling mematikan dibandingkan yang lainnya, hanya saja boros sp.

"Huff… akhirnya…"

gadis berambut coklat itu menghela nafas lega tak lama setelah erangan kesakitan shadow barusan. Gadis itu kemudian, dengan lemas menjatuhkan diri kelantai mengambil posisi duduk yang cukup nyaman baginya, dan cukup nyaman untuk dipandang pula (maksudnya duduk bersujud, jangan mikir enak dipandang yang tidak-tidak ya…. Para kaum adam!)

Wanita berambut merah itu juga menyandarkan badannya di dinding. Menarik nafas pelan, serta mengelap keringatnya dengan sapu tangan yang dibawanya. Ia lalu menaruh pedangnya didinding, membiarkannya tersandar di sana. Kedua indranya, mata dan telinga, mencoba mendeteksi keadaan di sekelilingnya dengan persona yang dimilikinya, mencari adanya shadow yang mendekat ke tempat itu. Hasilnya? Nihil untungnya.

"Kau lelah, Takeba?"

Gadis itu berpikir sebentar, memikirkan jawaban yang paling enak didengar dalam posisi itu, sebenarnya ia ingin menggelengkan kepalanya supaya tidak membuat seniornya itu khawatir secara berlebihan, tetapi akhirnya ia pun mengangguk pelan.

"Kalau kau, Mitsuru-senpai?" menjawabnya, wanita berambut merah itupun turut mengangguk pelan.

"Cih, sudah 2 tahun tidak bertarung seperti ini, tubuhku tidak lagi terbiasa dengan suasana yang memacu adrenalin…"

Yukari sedikit sweatdrop mendengarnya "Adrenalin? Kau terdengar seperti Akihiko…" Mitsuru pura-pura tidak dengar karena malu dengan kesalahan omongannya.

"Sudahlah, jadi? Sekarang apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita jalan ke depan untuk keluar dari sini?"

"Entahlah, senpai. Tidak bisakah kita istirahat lebih lama? Aku tidak setangguh kamu tahu…"

"Ah, aku juga tidaklah setangguh itu.."

"….."

"….."

Entah kenapa suasana hening menjadi terbawa ke tempat itu, keduanya diam seribu bahasa kehabisan topik untuk dibahas. Yah, para anggota S.E.E.S. pun jika melihat hal ini tidak akan merasa heran kok. Hubungan dua wanita ini selalu naik turun dari dulu. Terutama Yukari yang selalu memandang Mitsuru dengan belati di matanya 2 tahun yang lalu, walau sebenarnya mereka banyak kesamaannya.

"…Takeba, berdiri, Ambil busurmu, kita kedatangan tamu yang cukup besar…"

"Baik…"

Perlahan-lahan makhluk yang terdeteksi melaluli mata penthesilea itu semakin dekat dan semakin jelas. Makhluk itu, walau belum terlihat jelas, tampak seperti seorang samurai yang mengenakan armor, shadow jenis 'musha' yang terlihat lebih besar dan lebih ganas dibandingkan shadow jenis 'musha' yang lainnya. Perlahan-lahan shadow itu mendekat menuju kedua wanita itu…


-Junpei-

"HOOOOMEE—RRUUUUUUNNNNN!"

'SLASH!'

Tanpa sempat mengatakan apa-apa, shadow berbentuk jam pasir itu terpental oleh tebasan—koreksi pukulan Junpei menuju dinding labirin itu, dan menghilang. Bocah bertopi itu tanpa banyak bicara langsung melakukan pose kemenangannya, mengangkat jari telunjuknya ke langit dengan percaya diri dan tak tahu malu.

"…."

'SIIIIINGG….'

Bocah bertopi itu hanya terdiam sesaat, tak bergerak sama sekali dan masih dengan pose 'memalukannya' itu. Sesaat kemudian ia pun menjatuhkan dirinya ke lantai, berbaring karena lelah.

"Haaaah, bergaya seperti ini tidak keren kalau tidak ada yang melihat…" gerutu bocah itu.

Bocah itu, Junpei menoleh kesana-kemari mencari-cari sesuatu yaitu teman-temannya, tapi tidak satupun yang terlihat, bahkan Pharos pun tidak.

"Sialan pharos itu, apa-apaan maksudnya memindahkan kita kesini? Bahkan aku tak melihat yang lain… Ah, kelihatannya dia memang bagian dari nyx, seharusnya kubunuh tadi…" omel bocah itu lagi.

'SREK, SREK, SREK…'

Terdengar suara aneh itu dari arah belakang Junpei, bocah itu menoleh ke arahnya dan dilihatnya sebuah shadow yang baru pertama kali dilihatnya. Shadow itu berbentuk cukup unik, badannya hanya terdiri dari tangan yang banyak sekali, dan hampir kesemua tangannya membawa pedang, 3-4 tangan untuk merambat, dan satu tangannya yang paling depan memegang sebuah topeng. Dirasakan dari auranya, Junpei saja bisa menyadari bahwa shadow itu kelihatannya lebih kuat dari yang lain.

"Heh, kelihatannya memang pharos itu berniat untuk membunuh kita ya…"

Bocah itu segera bangkit berdiri, memegang katananya di tangan kanan, sedang tangan kirinya mengambil evoker yang terletak di celananya. Bersamaan dengannya shadow itupun kian mendekat, topengnya yang berwajah orang tertawa dingin membuat perasaan bocah itu kurang enak.

"Ayo maju! Satu atau seribupun akan kuhabisi kalian!" teriak Junpei untuk membuang perasaan tidak enaknya.

Shadow itu mengeluarkan suara yang tidak enak didengar, kelihatannya tertawa. Entah ia tertawa mendengar omongan Junpei barusan, atau shadow itu memang agak sinting, yah shadow seharusnya memang tidak mengerti omongan manusia sih, anggap saja yang kedua.

"GRAWAAWAWRAWWAW…."

Seiringnya dengan berhentinya tawa dari shadow itu, keduanya pun segera maju secepat mungkin untuk menyerang musuhnya.

"HEEEAAAAA!"

'CLASH! FLASH!'


-Aigis-

Berbeda dengan keadaan yang lainnya, robot berambut pirang ini jauh lebih beruntung. Nyaris tidak ada satupun shadow yang menyerangnya, entah kenapa. Robot itu menoleh kekanan dan kekiri mengawasi keadaan sekitarnya dan didapatinya nihil.

'Aku khawatir keadaan yang lain…' batin Aigis.

Masih begitu tenangnya, robot itu berjalan saja tanpa arah yang pasti… yak tanpa arah yang pasti, bahkan ketika jalannya bercabang 3 saja ia segera membelok ke kanan tanpa ragu-ragu, atau lebih tepatnya tanpa pikir panjang. Masih mengherankan, kenapa hanya robot ini yang masih segitu beruntungnya tidak bertemu seorangpun dan seekorpun shadow.

"Arrrf! Arrf!"

Begitulah terdengar suara itu, tak jauh dari belakang Aigis. Spontan saja robot itu membalikkan badannya dan berjalan ke asal suara itu. Jelas saja, orang macam Junpei saja tahu bahwa di tartarus tentunya tidak mungkin ada anjing, kecuali…

"Koromaru?"

"Wooof!"

Dengan cepatnya anjing bertipe alpha-breed itu meloncat ke arah Aigis begitu anjing itu melihatnya dari kejauhan. Melihatnya, tentu saja Aigis segera menyambutnya dengan air mata berli…?—maaf koreksi, dengan kedua tangan terbuka, menangkap anjing itu. Menghasilkan anjing putih itu menjilat mukanya dua-tiga kali, tapi tidak dilanjutkannya karena tidak berasa apa-apa, maklum… Aigis memang bukan manusia.

"Aku senang melihatmu koromaru-san, apa kau melihat yang lain?" tanya robot itu dengan senyum terhias di wajahnya.

"Arrf! (artinya tidak)" gonggong anjing itu singkat.

"Begitu ya… sayang sekali." Balas Aigis lesu.

Robot itu menurunkan anjing itu setelahnya, masih bingung dengan keadaan sekelilingnya, robot itu memutuskan berhenti sejenak untuk berpikir bagaimana selanjutnya. Tetapi belum sempat robot itu berpikir terlalu lama, ia segera dikejutkan dengan langkah kaki yang terdengar mendekatinya.

'TAP, TAP, TAP, TAP, TAP, TAP, TAP'

Kedua makhluk itu menoleh ke asal suara itu. Aigis hanya mencoba memajamkan matanya saja, mencoba mengetahui siapa yang datang.

"Arrf! Arrf!"

Anjing itu segera berlari ke asal suara itu, baginya bau yang kian mendekat itu tidaklah asing dan tepatlah hidungnya itu, asal dari baud an suara itu adalah Fuuka—dengan segerombolan shadow tipe 'minotaur' di belakangnya sedang mengejarnya. Berapa jumlahnya tidaklah penting bagi kedua makhluk itu, mereka segera berlari sekuat tenaga menyelamatkan rekan mereka yang tidak bisa bertarung, dan yang terlebih penting—terlihat menyedihkan.

"Aigis! Koromaru! Tooo—looong akuu…"


-Souji-

Yang meliputi area berbentuk lapangan kecil itu hanyalah aura, sebuah aura yang kuat yang terus-menerus dipancarkan dari bocah berkulit pucat itu, Pharos. Sudah hampir 5 menit Souji hanya terdiam tak bergerak melihatnya. Terkadang diusapnya keringat dingin yang muncul akibat rasa tegangnya terhadap bocah itu. Sedangkan bocah itupun sama, ia tidak bergerak pula dari tadi. Hanyalah senyum, sebuah senyum dingin dari wajahnya yang dari tadi tampak. Selain senyum itu, tidak ada hal lain yang patut diperhatikan.

"Apa mau sebenarnya?" tanya Souji.

Senyum pharos itu melebar mendengarnya, kelihatannya selama 5 menit ini ia hanya menunggu hingga Souji menanyakan hal itu. Perlahan-lahan, dibuka mulutnya yang kecil itu. Katanya,

"Bukan apa-apa… aku hanya tertarik saja, padamu."

"Tertarik?"

"Benar, tertarik…"

Souji memegang erat katana yang dipegangnya daritadi. Ia masih cukup… bingung harus berbuat apa. Lari? Saat ini tidak ada alasan untuk itu, karena bocah itu tidak menunjukkan tanda-tanda menyerang—atau setidaknya belum, lagipula kelihatannya lari pun sia-sia. Menyerang? Sama dengan alasan di atas, apalagi melihat Junpei tadi terpental dengan mudahnya. Souji tidak dapat begitu saja menyerangnya tanpa mengetahui dengan jelas kemampuannya. Berbicara? Mungkin ini satu-satunya pilihan yang ada, tetapi berbicara dengan bocah yang bisa dibilang agak sinting ini bisa menyebalkan jika salah bertanya sekali saja.

"Kenapa diam saja? Kukira kau akan menyerangku tanpa pikir panjang, seperti orang bertopi tadi…"

"Kau ingin aku melakukan apa memangnya?"

"Aku hanya… ingin bercakap-cakap saja, dengan orang yang telah mengalahkan sebagian dariku. Apakah aku terlihat akan menyerangmu, Souji-kun?"

"….Aku tidak ingat telah menyebutkan namaku padamu sebelumnya. Bagaimana kau bisa—

"Karena tempat ini adalah buatanku. Tempat ini bereaksi dengan ingatan semua orang yand berada didalamnya. Dengan kata lain, aku tahu semua hal tentangmu… Baik perjuanganmu di inaba, bagaimana kau mengalahkan izanami, bahkan tentang crossdressmu di sekolahmu dulu pun semuanya aku tahu…"

Souji membelalakkan matanya, seakan membeku mendengar omongan pharos barusan. Bagaimana ini mungkin? Hal itu yang ada di pikirannya, terutama setelah ia mengatakan kata 'crossdress' yang membuatnya sweatdrop. Jelas-jelas hal itu sangat teramat tidaklah penting sekali bahkan sama sekali sangat teramat tidaklah penting sekali untuk dibicarakan.

"Kau itu melihat masa lalu juga tidak pandang bulu ya… bahkan masa lalu yang sangat—

"Menjijikan? Betul… aku sengaja mengatakannya untuk menghilangkan keteganganmu. Berbicara dengan orang yang ketakutan tidak terlalu menyenangkan…" jawab Pharos santai.

Sekali lagi Souji sweatdrop. 'kalau memang tidak ingin aku tegang jangan mengeluarkan aura semacam itu dan tersenyum semacam itu pula dong… menyebalkan, jangan-jangan dia sengaja berbuat seperti itu hanya untuk perkataan yang sangat amatlah tidak penting barusan…' pikirnya sambil jengkel.

"Baik, jadi karena aku tidak lagi ketakutan dengan lelucon bodohmu itu… kuulangi, apa maumu? Kurasa yang lain belum matikan?" tanyanya sinis.

"Belum…"

Satu kata itulah yang dipakainya untuk menjawab pertanyaan Souji barusan. Bocah itu kemudian mengeliat sebentar, kemudian menaruh tangannya di belakang punggungnya seperti yang biasa dilakukannya. Dipandangnya mata Souji dalam-dalam, entah apa yang dipikirkannya. Dan ia pun kembali tersenyum.

"Sudah kukatakan dulu, aku menginginkan kau—bukan kalian, selamat dari nyx. Karena itu aku membawa kalian kesini…"

Souji mengkerutkan dahinya, dipikir ulang perkataan pharos barusan. Kesini? Memangnya ada apa di tempat ini? dan lagi kenapa tempat ini berbentuk seperti labirin, dan kenapa kami harus dipisah-pisah begini, dan yang terpenting, kenapa AKU dan bukan Minato yang ditemuinya. Itulah hal yang membuat penasaran anak berambut abu-abu itu daritadi, walau belum sempat ditanyakannya, pharos sudah terlebih dulu berkata.

"Tempat ini sama dengan 'pemuda' yang dulu kau lawan. Tempat ini juga merupakan kristalisasi dari ingatan kalian, hanya saja berbeda dengan 'pemuda' yang dulu kau kalahkan… tempat ini dikontrol olehku."

"Dikontrol olehmu?" tanya Souji. Pharos hanya mengangguk pelan menjawabnya.

"dia yang kau kalahkan dulu—'pemuda' itu, dikontrol oleh ingatan yang digunakannya. Ingatkah kau perbedaan sebelum dan sesudah pemuda itu bertanding denganmu?"

Souji kembali mengkerutkan dahinya, ia mencoba mengingat-ingat perbedaan 'pemuda' yang dilawannya dulu. Selintas saja terlewat di kepalanya, suatu bayangan seseorang. Seseorang yang terlihat berambut panjang, tidak jelas laki-laki atau perempuan karena hanya terlintas sebatas kepalanya saja.

Dan kemudian terlintas ingatan lain, bagaimana bentuk persona terakhir yang digunakan 'pemuda' itu. Persona dengan kepala botak dan tubuh penuh tato seperti bekas luka, bersayap hitam, dan punggungnya bergerigi. Lalu terlintas kembali sebuah bayangan lain di kepala Souji. Sebuah persona berbentuk wanita dengan rok berbentuk kubah, dan sayap seperti sayap kupu-kupu di punggungnya.

"Persona…. Dan sifat 'pemuda' itu berbeda…" kata Souji pelan.

"Tepat sekali…" kata pharos dengan senyum diwajahnya. "Persona yang pertama ia gunakan adalah milik seniormu yang berambut pendek itu, dan yang terakhir ia pakai adalah milik seseorang yang merupakan musuh dari kalian. Karena itulah sifatnya pada awal dan akhir pertarungan sangatlah berbeda.."

"….baik, sejauh ini aku sudah bisa menangkap maksudmu. Jadi apa hubungannya dengan semua ini?"

Mendengarnya, pharos membuka matanya yang dari tadi tertutup. Bocah berkulit pucat itu kemudian menggaruk-garuk kepalanya, entah gatal atau kesal dengan kebodohan—atau kelambatan Souji. Bocah itu kemudian kembali menaruh kedua tangannya di belakang punggungnya seperti sebelumnya.

"Tidakkah kau mengerti? Disini, aku dapat membaca semua ingatan kalian—bahkan kau yang baru saja kukenal. Berbeda dengan 'pemuda' itu, pemuda itu hanya memegang sebagian dari ingatan kalian saja, bahkan kurang."

"…jadi?"

"Tujuanku membawa kalian kemari adalah agar teman-temanmu dapat mendapatkan kembali ingatan mereka. Di tempat ini, segalanya terbuat dari memori. Untuk mengembalikan persona mereka ke bentuknya yang terkuat, 'alasan' mereka harus dibangkitkan—melalui ingatan itu."

"…..baik, aku mengerti, aku mengerti. Jangan marah dong, daya prosesku tidak secepat Naoto… Lalu yang masih membuatku penasaran, adalah kenapa kau ingin berbicara denganku? Kurasa tidak mungkin kau datang hanya untuk memberi tahuku hal itu…"

Akhirnya sebuah senyum kembali menghiasi muka bocah berkulit pucat itu, wajahnya terlihat lega mendengarnya. Mungkin selama ini ia merasa bahwa Souji hanyalah anak bodoh saja, dan untungnya dugaannya itu tidaklah benar—sepenuhnya.

"Memang. Aku kesini karena ingin mempertemukan seseorang di ingatan temanmu yang kurasa ingin kau temui…"

'TAP, TAP, TAP'

Suara langkah pendek itu terdengar dari arah belakang Souji, dan makin mendekat. Souji menoleh ke asal suara itu, dilihatnya sebuah siluet yang cukup tinggi tapi tidak dikenalinya, siluet itu semakin mendekat ke arahnya.

"Jadi dia ya….." kata siluet itu.

"Kau…. Siapa?"

To be continued…


Author's note

HELL-O! Akhirnya kuupdate juga, sudah berapa lama ya? Tunggu dulu sudah berapa LAMA nih? Kok tahu-tahu aku jadi ill-feel ya, glek haruskah aku nyiapin bleach (semir rambut) supaya tidak ubanan? Tidak, mungkin lebih bijak jika aku nyiapin kotak P3K saja. Pliss, maaf, MAAF BANGET lama tidak diupdate! Akhir-akhir ini keasyikan maen SMT2: Raidou Kuzunoha VS King Abaddon soalnya. Saya jangan dihajar, digantung, atau dieksekusi.

Anyway back to topic, mari kita singkirkan kolom curhat dan kolom alibi diatas. Pertama-tama terima kasih buat yang sudah me-review. Aahhh, ini chapter yang paling membuat kepala saya pusing. Terutama menuliskan bagaimana kondisi tiap-tiap individu setelah dipisah-pisah oleh Pharos. Rencana saya sebelumnya sih, Koromaru, Fuuka, dan Aigis dipisah-pisah sendiri. Tapi karena timbul banyak masalah dalam proses antara lain…

1. Fuuka tidak bisa bertarung.

2. Koromaru tidak bisa berbicara apa-apa, ditulis 'arrf!' saja tentunya tidak nikmat (tentu, sebab bukan makanan)

3. Aigis sifatnya termasuk pendiam sekali, kedua setelah Fuuka menurutku.

4. Yukari dan Mitsuru…. Emm, jangan dibahas, keduanya masih merupakan dua wanita paling menyeramkan di P3F menurutku.

Jadi, pembagiannya seperti itulah. Lalu, kira-kira siapa ya yang menemui Souji itu? Bisa menebak 'kan? jangan ditulis di review, bisa-bisa spoiler. Anyway terima kasih telah membaca, dan terlebih lagi mereview, sekali lagi segala kritik, saran, dan komentar lainnya akan saya baca, pertimbangkan, saya koreksi sebisa mungkin, jadi review sesering mungkin. Maaf apabila ada beberapa review yang belum sempat saya balas via PM.

Chapter 8 Update ASAP (setelah SMT2 tamat mungkin)

GOD BLESS US ALL

-Tetsuwa Shuuhei