Maaf karena udatenya telat melulu ya^^. Btw, fic ini dinominasikan ke IFA (Indonesian Fanfiction Awards) berkat seseorang yang kelewat baik, Queen of the Death *peluk peluk*. Dukung terus yaa! Review dari kalian selalu bikin aku jadi semangat! GO FANDOM DGM!

Sebagai bonus.. saya sajikan double chapter! ho ho ho ho! *plak

Dislcaimer : D GRAY MAN by Hoshino Katsura. DARREN SHAN SAGA by Darren Shan.


Aku gugup.

Well, mungkin inilah yang dinamakan demam panggung.

Jariku-jariku saling bertaut.

Aku menggigit bibir, berusaha untuk tidak memikirkan perasaan yang terus membuatku gelisah ini.

Sekilas aku menoleh menghadap Tyki yang duduk dengan rileks di sebelahku.

Aku akan tampil di cirque Du Freak sebagai asisten Tyki!

Dulu aku datang sebagai penonton. Dan hari ini akulah yang ditonton.

Dadaku mencelos ketika mendengar suara tepuk tangan yang sangat riuh, pertanda bahwa pertunjukan sebelum kami telah selesai.

"Jangan gugup," Tyki menepuk bahuku, tertawa kecil melihat wajahku yang pucat, "Kau pasti bisa melakukannya."

Aku menenggak ludah dan berjalan bersama Tyki menuju panggung Cirque du freak. Suara langkah kami rasanya terdengar keras sekali akibat kesunyian yang ada.

Tepuk tangan yang meriah menyambut kami berdua naik ke atas panggung. Aku melihat sekilas di barisan depan, Lala dan Skin tersenyum, mengacungkan jempol padaku. Oh, Tuhan, aku ingin ditelan bumi saja rasanya.

"Selamat malam, hadirin!" Suara Tyki yang terkesan misterius membuat semua penonton terdiam. "Malam ini, saya tidak sendirian. Saya diterima oleh rekan muda saya yang luar biasa," Tyki menepuk punggungku pelan, mendorongku supaya maju.

Aku bisa merasakan wajahku memerah panas ketika mendengar bisik-bisik diantara penonton. Apa yang mereka bicarakan? Apakah aku terlihat aneh? Apakah mereka tidak menyukaiku? YA AMPUUN!

"dan juga, partner kesayangan saya yang satunya lagi, Lady Tease," Tyki langsung membuka kandang Lady Tease. Aku sedikit lega ketika mendengar decak kagum sekaligus takut dari para menonton yang heran melihat kupu-kupu sebesar Lady Tease.

Tyki membawa Lady Tease dengan jari telunjuknya. "Saya ingin hadirin sekalian menjaga ketenangan. Karena Lady Tease sangat sensitive. Lady cantik ini akan membunuh siapa saja yang mengganggunya, karena dia memiliki bisa yang luar biasa kuatnya,"

Aku menyeret domba yang dirantai di belakang tirai, membawanya ke depan panggung.

"Cukup kuat untuk membawa domba yang malang ini ke akhirat," Tyki melepas Lady Tease dan membiarkannya hinggap di tubuh si domba.

Beberapa penonton menjerit ketika Lady Tease menghujam domba malang itu dan menghisap darahnya. Domba itu menggeliat kesakitan dan akhirnya mati membiru.

Tyki tersenyum dan meraih Lady Tease. "Dan saya akan bermain-main dengan Lady Tease malam ini,"

Aku maju ke depan dan mulai memainkan sulingku. Sebagian besar penonton cemas kalau aku akan melakukan kesalahan dan menyebabkan Lady Tease menghujam Tyki.

Aku memainkan melodi yang sudah kami pelajari, berkonsentrasi penuh.

Lady Tease mengitari Tyki perlahan, membentuk serbuk-serbuk emas yang berkilauan. Aku memerintah Lady Tease melakukan manuver dan gerakan akrobatik yang berbahaya, membuat para penonton berdecak kagum.

"Bagus, Allen, lanjutkanlah," aku mendengar Tyki berbisik padaku dengan sangat pelan.

Lady Tease hinggap di kepala Tyki, sulurnya menjilat dahi Tyki. Aku melihat penonton-penonton wanita meringis ketakutan.

Aku terdiam sejenak.

Inilah saatnya.

Inilah saat untuk membunuh Tyki.

Kebencianku padanya akhirnya akan terbalaskan.

Aku bisa membuat Lady Tease menghujamkan racunnya… bahkan akuma-pun pasti bisa mati…. Aku bisa menyebutnya sebagai "kecelakaan". Cuaca memang agak panas. Aku bisa bilang sulingku tergelincir karena berkeringat. Lagipula, tangan pria itu di pinggang… Dia tidak akan bisa menghentikanku….

"Allen..?" Tyki menyadari kebimbanganku.

Aku menggeleng perlahan.

Lady Tease mengajukan sulurnya…

Dan menyemburkan serbuk warna-warni yang banyak, sampai Tyki terbatuk-batuk. Beberapa penonton tertawa melihatnya.


"Kau hebat, selamat!" Tyki tersenyum, tidak menyembunyikan nada bangga dalam suaranya. Aku hanya menggangguk. Apa yang selamat? Tadi aku berpikiran untuk membunuh Tyki….

Aku memalingkan wajah darinya, merasa malu karena aku hampir saja mengkhianatinya. Sebenci apapun aku pada Tyki, tetap saja aku tak akan sanggup membunuhnya….

Entah sejak kapan, tapi aku mengampuni akuma itu. Mengapa? Mungkin karena aku tahu bahwa Tuan Crowley pasti tahu bahwa aku yang membunuhnya. Mungkin karena aku butuh Tyki untuk mengajariku cara hidup. Mungkin karena aku tidak mau jadi pembunuh.

Atau mungkin… mungkin, karena aku mulai menyukai akuma ini.

Bagaimanapun juga, Tyki-lah yang membawaku ke sirkus ini. Bertemu Madarao, bertemu Lala. Dia selalu baik padaku, sebaik yang dia bisa.

"Dan terimakasih karena kau mempercayaiku," Tyki tetap tersenyum, "Aku tahu kau berniat membunuhku,"

Aku menoleh kepada Tyki, terkejut, "Apa maksudmu?"

"Janga pura-pura bodoh," ujarnya pelan. Suaranya kembali jadi dingin.

Aku merasakan wajahku memanas, "Ka.. kau tahu aku akan membunuhmu?"

Tyki mengangguk sekilas, "Karena itulah, tadi malam aku sudah mengurangi racun Lady Tease. Hanya cukup untuk membunuh domba tadi saja,"

Aku merasa malu.

Tyki sudah mengetahuinya dan berjaga-jaga….

Dan aku merasa lega karenanya. Lega karena aku tidak akan membunuhnya….

Tapi entah kenapa hal itu membuatku kesal.

"Itu semua… cuma tes?"

Wajah Tyki berubah suram, "Aku harus tahu. Aku harus tahu apakah kau bisa dipercaya atau tidak."

"Kalau kau tidak percaya padaku, sejak awal tidak usah menjadikanku asistenmu!" Bentakku gusar, aku meraih jaketku dan berlari keluar dari ruang ganti.

"Allen!" aku mendengar suara Tyki, tapi aku mengacuhkannya. Lagipula, Tyki tidak akan bersusah payah mengejarku.

TYKI BODOH TYKI BODOH TYKI BODOH TYKI BODOH! Aku mengutuk dalam hati.

Aku merasa sakit hati.

Tapi jauh di dalam lubuk hati, aku tahu apa yang dikatannya benar.

Aku menghela nafas dalam-dalam, kemudian diam-diam memasuki tenda penonton. Aku juga ingin menonton pertunjukan terakhir. Aku berdiri di pintu luar tenda, memicingkan mata untuk memperhatikan panggung yang agak jauh.

Pertunjukan terakhir malam ini dibawakan oleh Suman Dark, yang sepertinya terlihat kurang sehat belakangan ini. Apa yang terjadi, ya? Entahlah.. sepertinya memang sedang musim flu…, pikirku bingung.

Aku melihat ke panggung dan menyaksikan Cyril naik ke atas panggung.

AKu tersenyum sedikit.

Aku sudah diberi sebagian skenario malam ini. Cyril akan naik ke atas panggung, memprovokasi Suman, kemudian Suman akan menggigit tangannya sampai putus, dan Cyril dengan mudah akan menumbuhkannya lagi. Fantastis. Pasti penonton akan ketakutan.

Aku nyengir sedikit, melihat Cyril yang sekarang sedang memanas-manasi Suman.

Sekilas aku melihat kilatan di mata Suman… Eh? Suman Dark.. terasa lain… terasa aneh…. Sepertinya aku pernah merasakan perasaan ini entah di mana. Aku memfokuskan penglihatanku ke arah Suman, dan menemukan tanda akuma, alias pentagon dalam jumlah cukup banyak di leher dan tangan kanannya… Tapi itu tanda akuma! Kenapa Suman bisa memilikinya…?

Kemudian aku tahu perasaan ini. Ini perasaan yang muncul setiap aku merasa lapar… Perasaan ini….

"CYRIIIL! MENJAUH DARI SUMAN!" Teriakku sekencang mungkin, membuat penonton yang dekat denganku terlonjak kaget di kursinya.

"Eh..?" Cyril menoleh ke arahku, mencari sumber suara.

"RRRRRAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Suman mengaum, dia bertransformasi menjadi manusia serigala. Tapi kali ini berbeda. Ini adalah manusia serigala yang sangat-sangat buas, dan tidak dapat dikendalikan. Suman menerjang Cyril, berniat mencabik-cabiknya.

Aku maju ke depan, terkejut sendiri dengan inisiatifku. Sebelum aku mencapai Suman, Tuan Crowley menangkap tangan Suman, memelintirnya dan menelikungnya ke belakang. Aku terpesona dengan kekuatan Tuan Crowley. Seakan-akan serigala sebesar Suman itu bayi di tangannya!

Penonton terus-menerus menjerit ketakutan sampai Crowley merantai dan memasukkan Suman ke dalam kerangkeng besar.

"Maafkan kami, hadirin sekalian. Sepertinya salah satu anggota kami ada yang kelepasan control," Tuan Crowley membungkuk, "Terimakasih telah menghadiri Cirque Du Freak,"

Dan tirai pun ditutup.


Suasana jadi benar-benar sunyi. Semua penghuni sirkus sudah kembali ke tenda masing-masing dan tidur. Hari ini benar-benar melelahkan. Ditambah lagi dengan kekacauan yang disebabkan Suman. Tuan Crowley tidak mau menjawab satu pun pertanyaan tentang Suman. Dan Tyki menghilang entah ke mana.

Aku menghela nafas. Payah….

Aku menatap langit yang gelap. Tidak ada bulan maupun bintang... tapi aku melihat sekilas sosok yang berdiri di atas pohon.

Eh? Apa itu? Binatang?

Tidak! Sosok itu berbentuk seperti manusia… Dengan rambut panjang.

Aku berkedip, dan kemudian sosok itu tidak ada lagi. Apa itu cuma bayanganku..?

Tiba-tiba aku mendengar suara langkah seseorang. Aku langsung siaga, memicingkan mata dan mencari tahu siapa yang datang itu.

"Allen? Itu kau?"

Lala?

"Lala, kau sedang apa di sini? Ini jam berapa, hah?" Aku berlari mendekatinya.

Lala tertawa kecil, "Maaf, aku ingin bertemu denganmu. Mau makan dango?" Lala menyodorkan dango dalam toples kesayangannya padaku.

Aku tersenyum. Entah kenapa melihat Lala membuat perasaanku sedikit lebih baik, "Bagaimana sirkusnya tadi?"

"Fantastis! Ehhmm…. Tapi sepertinya Skin tidak terlalu menyukainya," Lala menghela nafas.

"Eh? Kenapa?"

"Sepertinya dia tidak suka cara kalian memperlakukan domba itu. Dia juga sepertinya berpendapat bahwa Suman seharusnya tidak dikerangkeng," Lala mengangkat bahunya, "Aku tidak paham jalan pikiran pecinta alam."

Tiba-tiba suara lengkingan yang sangat keras terdengar.

Lala terlonjak, buru-buru memeluk lenganku.

Ini… lolongan Suman?

"La-Lala, kamu di sini saja! Aku mau lihat Suman dulu!" Aku medorong Lala dan buru-buru berlari. Lala mengangguk sekilas, wajahnya ketakutan. Firasatku tidak enak nyaman. Yang jelas ada yang tidak beres.

Aku terus berlari sampai aku melihat sesosok pria bertubuh besar berdiri di depan kandang Suman.

Sosok itu…. "Skin?" Panggilku sedikit ragu.

Pria itu menoleh, dan tersenyum padaku, "Oh, halo, Allen!"

"Apa yang kau lakukan di sini?" Aku menyipit curiga, mendekatinya. Skin membawa semacam kawat.

Skin tidak menjawab.

"Jangan bilang kau mau melepas Suman?" Bisikku mengancam.

"Kalau iya, kenapa?" balas Skin tajam.

"Suman sedang tidak sadarkan diri! Apa kau gila?" Bentakku kesal. Skin bertindak terlalu jauh!

"Kalian menganggap mahluk malang ini seperti hewan. Mengurungnya, merantainya.. Kalian semua kejam!"

"Skin, kami melakukan itu untuk kebaikannya. Dia tidak mengenali dirinya sendiri,dia…"

"Aku tak peduli omong kosong kalian! Setelah ini, aku akan ke polisi dan melaporkan penyiksaan binatang yang kalian lakukan!"

Aku menghela nafas. Tidak ada gunanya bertengkar pendapat dengan orang seperti Skin. Skin punya pandangan yang berbeda terhadap dunia. Pandangan yang berbeda denganku. Aku menyukai Skin, tapi aku tak akan membiarkannya melepaskan Suman.

"SKIN!" Aku menerjang Skin dan berusaha mengambil kawat itu dari tangannya.

Orang dewasa seperti Skin belum tentu bisa mengalahkan akuma sepertiku, walaupun aku masih anak-anak, dalam adu kekuatan, tetap saja aku unggul. Kami terus bergulat. Bagaimanapun juga, tubuh Skin besar sekali. Aku kesulitan memukulnya telak.

Tiba-tiba kepalaku terasa pusing karena kurang darah. Sial! Kenapa di saat begini? Skin memanfaatkan momen itu dan memukul kepalaku. Aku menjerit tertahan, tubuhku terhempas ke tanah.

Skin kembali ke kandang Suman, dan membukanya…..

"Syukurlah, serigala manis, Jangan khawatir, Skin ada di sini untukmu! Aku tidak akan mengurungmu! Kemarila…"

CRAAT!

Cakar Suman yang besar mencabik tangan kanan Skin. Mataku membelalak ketika melihat potongan tangan Skin jatuh tepat di sebelahku.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!" Skin menjerit keras sekali, memegang bahu kanannya, yang kini sudah tak berlengan. Darah mengucur deras dari lukanya yang sangat parah itu.

Suman melangkah keluar dari kurungannya, wajahnya tampak sangat buas. Tak ada lagi jejak manusia di situ. Suman sudah sepenuhnya jadi serigala yang berbahaya. Dengan sekuat tenega, serigala berbahaya itu melepas rantai yang mengikat tubuhnya, kemudian menggeram keji.

Aku berusaha bangun, tapi kepalaku masih sangat pusing.

"TANGANKU! TANGANKU!" Skin menjerit-jerit seperti orang gila, kemudian menatapku dengan liar, "INI GARA-GARA KAU! IBLIS! MONSTER!"

"Skin! Bertahanlah, aku akan…"

Nafasku tercekat ketika menyadari Suman sedang menatapku. Geramannya yang pelan terasa mencekam di tengah kegelapan malam. Suman melolong, kemudian mendorong kaki belakangnya…. Berlari ke arahku!

Aku mempersiapkan diri menghadapinya, namun Suman hanya menghempasku ke tanah, kemudian berlari melewatiku.

Aku terkesiap, apa yang terjadi? Kenapa Suman tidak menyerangku?

Aku menoleh ke belakang dan menatap tas selempang milik seseorang.

Tas selempang milik Lala…

Aku menyadari satu hal.

Seorang akuma tidak menarik bagi makhluk buas yang sedang kelaparan.

Makhluk itu menginginkan daging dan darah yang segar.

Lala.

Suman Dark, yang kini berubah jadi serigala buas, sedang mengejar Lala!

TO BE CONTINUE


Huwaaaah! Tugas sekolah itu berat! Berjuang! Jangan mengeluh! GOOOOO!

Saya agak prihatin sama daftar nominasi IFA.. ternyata dari fandom DGM sedikit sekali. Padahal kita punya banyak banget story dan author yang keren. Fandom kita mungkin belum bisa serame fandom lain kayak Bleach atau Naruto. Pokoknya, selalu berjuang yang terbaik! XDDD.

Btw, saya udah jarang banget maen ke fandom Naruto sama Bleach.. kangen.. T^T. Dulu temen-temen saya dari situ semua. Sekarang udah banyak anak baru.

Ow yeah, klik next gan!

jangan Lupa reviewnya~!