YO! Saya balik lagi~

Maaf agak lama yang update. Khikhikhi...

Bleach © Tite Kubo


Kilas balik chappie 7

Rukia sudah mulai tinggal di rumah Kurosaki. Pagi yang tidak biasaa dilaluinya dengan tak terduga. Di sekolah, ia yang mulai ragu menyukai Ichigo atau tidak dikejutkan dengan suara gadis yang meneriakkan namanya dan Ichigo.


Chappie 8


Aku tak mengerti kenapa.

"Rukia?" Ichigo menatapku sedikit kaget. Mungkin ia tak menyangka aku akan datang ke kelasnya. Kemudian gadis itu keluar. Air mata masih nampak di ujung matanya dan garis tipis di pipinya. Jadi dia yang tadi menyatakan cinta?

"Kau! Ini semua gara-gara kau!" Gadis itu berjalan cepat ke arahku. Aku yang tak tahu apa-apa hanya diam di tempat. Aku baru sadar ketika gadis itu sudah berada di hadapanku. Air matanya kembali turun di pipinya, tangan kanannya terangkat di udara.

"Senna!" Aku memejamkan mataku. Tak ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Lepas Ichigo! Dia! Ini gara-gara dia kan! Kau menolakku gara-gara dia!" Aku membuka mataku. Aku melihat Ichigo menahan tangan gadis itu. Wajah Ichigo sama sekali tak bisa kujelaskan. Semuanya bercampur. Marah, bersalah, cemas?

"Hentikan. Kau sudah tahu alasannya. Aku tak perlu memberitahukannya kepadamu, Senna," kulihat Ichigo melonggarkan pegangannya pada pergelangan tangan gadis itu—Senna. Setelah tangan Ichigo melepaskannya, Ichigo menuntunku untuk menjauh dari sana. Aku tak tahu mesti bicara apa. Aku masih bingung dengan apa yang dikatakan gadis tadi. Dari ujung mataku, aku melihat Senna jatuh terduduk dan ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mulai menangis. Keras.

"Kuro—" aku menengadahkan kepalaku ke arahnya yang berjalan di belakangku.

"Tak usah dipedulikan. Jangan kau pikirkan apa yang tadi ia katakan padamu," aku mengangguk pelan dan kembali melihat jalan di hadapanku. Aku tak sadar jika tangan Ichigo masih ada di pundakku dan kami berdua berjalan sangat dekat sampai aku bisa merasakan dadanya di punggungku.

Wajahku menjadi panas melihat dua orang gadis yang berjalan melewati kami tertawa kecil sambil menggumam. Walau hanya menggumam, aku bisa mendengarnya dengan jelas. Mereka pasangan manis.

Bodoh. Apa yang mereka pikirkan? Aku dan jeruk baka ini bukan pasangan.

Ichigo membuka sebuah pintu dan mendorongku pelan untuk membuatku masuk. Kemudian dia menutup pintunya. Ah, aku baru sadar ternyata dia membawaku ke ruangannya.

"Kenapa kau membawaku kemari?" Aku menatapnya dengan menyipitkan mata. Tapi entah kenapa rasanya rona merah di wajahku belum hilang.

"Bodoh. Apa kau lupa hukumanmu?" Menjengkelkan! Senyumannya itu menjengkelkan! Mungkin lebih cocok disebut seringai daripada senyuman. Baka mikan!

"Apa hubungannya dengan hukuman? Bukannya hukumanku itu hukuman fisik?" Aku melipat kedua tanganku.

"Tepat! Sekarang ambil tumpukan kertas itu," dia menunjuk setumpuk tinggi kertas—yang menurutku—tak berguna. "Dan taruh di lemari sebelah sana," lagi-lagi tangannya menunjuk sebuah lemari yang terletak di ujung ruangan itu. Sedari tadi aku hanya memperhatikan gerak tangannya yang selalu menunjuk.

"Apa yang kau tunggu, eh? Cepat kerjakan!"

Ctek!

Tidak ada yang berani menyuruhku sebelumnya. Huh! Jangan pikir kau akan lolos dengan ini semua, jeruk. Tak ingin berdebat konyol dengannya, aku hanya menuruti perintahnya dengan bersungut-sungut. Semoga hal ini tak berlangsung lama. Coba kalau ada meteor jatuh, pasti aku tak perlu ada di sini sekarang.

Cklek...

"Ah, Kurosaki," aku mendengar seseorang masuk dan memanggil jeruk mesum itu. Aku sama sekali tak mau berbalik. Itu kan urusannya. Lagipula aku tak ingin tahu siapa yang datang.

"Ada apa, Ishida?"

Heck!

Ternyata yang datang ketua OSIS. Mau apa dia kemari? Oh, oke. Aku tak tertarik dengan apa urusannya. Jangan dipedulikan, Rukia...

"Bodoh. Kau belum memberikan laporan yang kuminta seminggu lalu. Apa kau sudah mulai pikun?"

"Ck... Aku belum membuatnya."

"Apa? Santai sekali kau bilang kau belum membuatnya?"

"Kalau belum ya belum. Mau apa lagi?"

Dari balik punggungku, aku bisa merasakan hawa tidak enak. Pasti mereka saling melotot melempar death glare. Aku ingin tahu siapa yang menang.

"Huh... Kuberi waktu sampai besok. Jika tidak..."

"Jika tidak?"

"Kau tahu senndiri akibatnya..." Dan dengan kalimat itu, sang ketua OSIS keluar dari ruangan. Sepertinya ia sama sekali tak menyadari kehadiranku di sini. Apa terlalu sibuk dengan Ichigo sampai-sampai tak menyadariku?

Saat aku berbalik menatap Ichigo, dia membuat wajah. Kau tahu seperti apa? Wajahnya itu berwarna hijau dengan butir keringat di keningnya. Matanya tertutup poni rambut orangenya yang sedikit panjang. Apa yang dia pikirkan? Apa ini efek gertakan ketua OSIS? Aku jadi penasaran apa yang akan dilakukan ketua OSIS sebagai hukuman.

Dia sama sekali tak bicara bahkan tak bergerak selama lima menit. Tangan kanannya yang berada di atas meja sedikit gemetar. Wajahnya sedikit pucat. Ah... Bodoh sekali dia.

"Hey," Aku memanggilnya dengan suara pelan. Siapa tahu dia mendengarnya. Tapi sepertinya tak berguna. Lihat saja dia, wajahnya semakin tak tergambarkan.

"Hey..." Masih belum menjawab... Sabar...

"Hey!" Aku menaikkan sedikit suaraku agar dia mendengar. Sebenarnya dia masuk ke dunia fantasi jenis apa sih?

"HEY JERUK MESUM!" Karena sudah tak sabar lagi, aku berteriak sambil menggebrak mejanya.

"Huooo...!" Dia sedikit terjungkal dengan teriakanku.

"Apa-apaan kau, midget?"

"Bodoh! Aku memanggilmu berkali-kali tahu!"

"Oh, maaf..."

Ha? Apa aku tak salah dengar? Dia minta maaf? Dia sakit ya?

Aku berjalan ke arahnya dan berdiri di sampingnya. Dia hanya melihatku yang terus mendekatinya dan menatapku dengan mata ambernya. Aku mengangkat tanganku dan menyentuh keningnya. Wajahku kusejajarkan dengan wajahnya agar aku bisa melihat dengan jelas dia baik-baik saja atau tidak.

Ah... Wajahnya memerah. Keningnya sedikit hangat. Tunggu. Keningnya yang sedikit hangat atau tanganku yang terasa panas? Seluruh tubuhku sepertinya terasa panas. Kenapa?

"Hey, kau mau apa?" Dia memegang tanganku dan menyingkirkannya dari keningnya. Aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Lidahku tercekat di dalam. Aku tak mau menjawabnya. Aku hanya ingin menatapnya seperti ini. Dua bola matanya itu seperti magnet.

Aku tak sadar jika semakin lama aku semakin mendekat ke arahnya. Aku tak bisa berpikir apa-apa. Dekat... Dekat... Semakin dekat.

Nafasnya yang hangat itu bisa kurasakan. Aku melihat lagi ke dalam matanya sebelum menutup mataku. Bibirnya menyentuh bibirku pelan. Terasa ragu di saat pertama. Aku menggerakkan kepalaku ke samping untuk memperdalam ciuman. Ah... Manis. Ia terasa seperti coklat. Kedua lututku terasa lemas. Tak tahu harus bagaimana aku mencengkeram baju seragamnya. Tanganku yang satu lagi ia tautkan dengan jari-jarinya. Dia mendorongku mendekat ke arahnya dangan tangannya yang berada di pinggangku. Entah bagaimana aku berakhir duduk di pangkuannya.

Ia mengelus pelan punggungku dan membuatku semakin mendekat, menekan tubuhku ke tubuhnya. Tanganku yang tadi mencengkeram bajunya mulai bergerak ke rambutnya. Aku mengelus pelan kepalanya, merasakan tiap helai rambut miliknya.

Apa aku benar-benar menyukainya? Satu yang pasti, aku ingin tetap seperti ini.

Tak lama, ia melepas ciumannya. Aku membuka mataku dan menatapnya. Mataku terbelalak lebar setelah menyadari apa yang baru saja terjadi. Aku menciumnya dan sekarang aku duduk di pangkuannya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Seseorang tolong culik aku!

Aku hanya menundukkan kepalaku. Tanganku yang berada di lehernya kuturunkan. Tangan yang satu lagi masih ada di genggamannya. Aku menyadari wajahku memerah. Panas. Tangannya yang kini menyentuh wajahku terasa panas. Aku merasa terbakar di bawah sentuhannya.

Dibawanya wajahku untuk menatapnya lagi. Jari jempolnya mengusap pelan bibirku dan dia tersenyum kecil. Sedetik kemudian, dia menciumku lagi. Kali ini tidak pelan atau terasa ragu-ragu. Ciumannya penuh sesuatu yang sulit kujelaskan. Keinginan? Nafsu? Entah...

Genggaman tangannya semakin kuat. Dengan duduk di pangkuannya seperti ini, aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak kencang sama seperti jantungku.

Apa dia menyukaiku?


Aku berjalan pelan keluar gerbang sekolah. Di luar sudah gelap. Mungkin ini sudah jam setengah tujuh. Jantungku masih berdetak kencang. Gambaran sore tadi di ruangan itu semakin tak bisa kulupakan. Dalam waktu singkat aku mendapat ciuman dua kali. Dan itu ciuman pertamaku. Anehnya aku tak merasa marah atau apapun. Aku merasa kalau itu benar dan memang harus begitu.

Apa ini berarti aku memang menyukainya?

Aku belum pernah seragu ini. Perasaan ini membuatku bingung. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bahkan berpikir pun tak bisa. Saat ini yang aku pikirkan hanya tubuhnya yang hangat itu bersentuhan dengan tubuhku.

Bibirnya masih bisa kurasakan. Rasa coklat. Aku baru tahu kalau ia suka makan coklat. Tanganku terangkat menyentuh bibirku. Lagi-lagi bayangan itu muncul. Sepertinya aku sedang kacau.

"Hey..." Aku berhenti dan menengadahkan kepalaku. Di bawah lampu jalan, ia berdiri bersandar. Matanya tak terlihat. Syal rajut yang dipakainya menjuntai di depan mantel hitamnya. Ini seperti beberapa hari lalu. Belum lama. Saat itu dia menggenggam tanganku dan mengantarku pulang. Ah... Aku kembali merasa panas jika melihatnya.

D-dia berjalan ke arahku. Aku yang tak tahu harus apa hanya diam. Jantungku kembali berdetak tak karuan. Tuhan, bisakah kau menghentikan waktu sekarang? Aku ingin lari darinya. Bersembunyi hingga ia tak perlu melihatku yang seperti ini, panas dan menahan malu.

Dia berhenti di hadapanku. Aku tak ingin menatapnya. Jika aku menatapnya, aku akan lupa diri. Jika aku menatapnya, aku akan berteriak aku menyukainya. Jadi biarkan aku menatap ke depan, ke arah dadanya yang berada tepat di hadapanku.

Dia menyentuhku lagi. Tangannya yang hangat itu menyentuh pipiku. Panas. Rasanya semakin membara. Hey, aku bisa pingsan jika kau perlakukan aku seperti ini.

Aku menutup mataku kuat-kuat ketika ia menengadahkan kepalaku. Aku merasa bibirya yang hangat itu menyentuh keningku. Lama... Bagiku, bibirnya terasa lama berdiam di sana. Semua perlakuannya hari ini, semakin membuatku menyukainya. Benar-benar menyukainya. Ya. Aku yakin kalau aku menyukainya. Aku tak peduli jika aku baru bicara dengannya dua hari lalu. Tapi aku merasa telah mengenalnya sejak lama. Aneh...

Dia melepas kecupannya. Aku membuka mataku dan menatapnya. Senyum kecil itu terpampang lagi di wajahnya dan semakin membuat jaantungku berdetak kencang. Dan dia merunduk, memberikan kecupan singkat di bibirku sebelum menggenggam tanganku dan menuntunku pulang bersamanya. Dia sama sekali tak berbicara. Aku pun juga tidak. Sama sekali tak ada kata-kata yang keluar. Tapi aku tahu apa yang ia pikirkan dari genggaman tangannya yang bertautan dengan jari-jariku. Semuanya tertuang di sana.

Dia merasakan hal yang sama denganku.


TBC


AKHIRNYA MEREKA SAYA BUAT CIUMAN! Ahaha... XD

Oh, sekedar info, Inoue sekelas ma Rukia. Lagipula kalo dia ketemu Ichigo, gak nahan! Alias bisa pingsan kalo lama-lama natap Ichi.

Kali ini pendek aja lah~ belum ada ide lagi. Khukhukhu...

Bagaimana? Bagaimana? Apa ini bisa dibilang full IchiRuki? Entahlah~


Bales review buat yang kaga log-in. Yg log-in... PM aja ya~

Arigato buat semua review dan yang udah dijadiin fave. Saya terharu~ #plakk

vvvv: woh~ namamu unik ya. XD yap! Udah terjawab. Si Senna yang nembak Ichi... R&R lagi dong~

shirayuki nee: khukhukhu... Aku paling suka kalo Isshin ma Ichi saling bunuh. *psycho* Yang tereak? Udah kejawab kan~ R&R lagi. XD

Miko Kazuma: hohoho... Arigato udah baca ngebut dari awal. R&R lagi~ XD

vita Xc Tari: eheheheh... Siapa kau? *plakk* inget kok inget... Xp R&R lagi yah~ XD


Osh! review?