Held Hostage
©Shinkyu
Kaisoo Fanfiction
.
.
.
"Tidak! Aku ingin bersamamu!" Kyungsoo berteriak lantang, kedua matanya memerah dan berlinang air mata.
Beberapa orang dalam ruangan saling berpandangan. Sebagai seorang ibu, yang mengenal Kyungsoo sejak bayi. Nyonya Park merasa ada yang tidak benar disini.
"Kyungsoo..." panggilnya lembut, meminta gadis mungil itu agar lebih tenang.
Lelaki tan tak berkata-kata apa-apa. Bibirnya membentuk garis lurus, wajahnya begitu kaku tetapi dalam pancaran matanya terlihat pergolakan batin disana. Kai hanya memandang Kyungsoo penuh arti, mengalihkan wajahnya. Kemudian berbalik, meninggalkan kamar rawat Kyungsoo dengan langkah tertatih. Dibelakangnya para pengikutnya mengikuti tanpa berkomentar.
Jeritan Kyungsoo mengiringi setiap langkah yang ia ambil, semakin jauh dari gadisnya, seperti mencabut nyawa secara perlahan.
"Kai! Aku ikut! Bawa aku bersamamu," tangan lemahnya, mencoba menopang tubuh sendiri. Seluruh tubuh bergetar hebat karena nyeri tak terkira yang belum sepenuhnya pulih. Posisi Baekhyun paling dekat dengannya, berinisiatif memapah Kyungsoo yang berniat untuk menyusul lelaki itu.
"Jangan tinggalkan aku" pinta putus asa Kyungsoo dengan air mata mengalir deras, membayangkan tak bisa melihat lelaki yang ia cintai itu rasanya sungguh menyakitkan, seluruh tubuhnya nyeri tapi melihat Kai yang memunggungi dan pergi lebih sakit lagi.
Kakinya terus melangkah walau perlahan dan penuh kehati-hatian, mencoba mengimbangi Kai yang sudah jauh di lorong rumah sakit. Chanyeol mengikuti Kyungsoo, begitu pun Baekhyun dan Luhan yang membatu Kyungsoo berjalan. Walau masih diliputi kebingungan mereka tetap membantu gadis itu. Menyadari situasi tak akan berjalan baik dan tak mungkin bagi Kyungsoo untuk menyusul, Luhan berinisiatif berlari menyusul Kai mewakili diri, tetapi langkahnya terpaksa terhenti karena salah satu bodygruad Kai menghadangnya agar tak menganggu tuan mereka.
Putus asa karena lelaki itu tak terkejar, Kyungsoo berusaha berlari, mengais cintanya kembali hingga dia tersungkur ke lantai dengan keras. "Kai jangan pergi, bagaimana dengan anak ini, bagaimana denganku?" dia terisak hebat terus memanggil suaminya. Menjatuhkan wajahnya dilantai tak memiliki tenaga lagi.
Air mata lolos mengalir di pipi tanpa ekpresinya. Disetiap langkah, dalam heningnya, Kai ikut bersedih akan cinta mereka tetapi dia tak mengerti harus bagaimana.
Suara lirih Kyungsoo masih dapat Kai dengar, mengores jiwanya, menarik dirinya untuk kembali namun hati Kai meragu, dia sangat menyayangi gadis itu sampai pada tahap dimana tak mau menyakitinya lagi.
"Ravi" panggilnya lirih. "Jika aku berhenti dan kembali pada Kyungsoo saat ini. Tembak saja kepalaku"
Ravi beberapa saat tak bersuara. Ragu untuk melakukannya. Bagaimanapun Ravi ingin Kai bahagia. Bukan begini caranya, tetapi jika keputusan ini yang tuannya ambil, maka Ravi tak bisa membantah.
"Laksanakan, tuan."
Jeritan di belakang sana makin histeris. Alis Kai hampir menyatu, berfikir keras kemungkinan yang terjadi pada Kyungsoo. Seorang bodyguard disisi kanannya mencondongkan tubuh, berbisik padanya.
"Nyonya Kyungsoo pingsan, tuan."
Langkah kaki sontak terhenti, Kai menolehkan wajah melihat gadis rapuh itu digotong kembali oleh dokter dan perawat. Remuk redam, hatinya hancur. Lagi-lagi Kyungsoo kembali tersakiti.
.
.
.
Ruangan serba putih yang Kyungsoo dapati saat kelopak matanya terbuka. Dia mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan dimana banyak orang-orang yang menungguinya. Kamar rawatnya ramai, penuh dengan mereka yang antusias menunggu kesadarannya kembali. Ada Chanyeol yang masih duduk di kursi roda, Baekhyun, Luhan, Sehun, orangtua Chanyeol berserta kedua orang tuanya.
"Ayah, ibu" rintih Kyungsoo mulai menangis hebat saat ibunya mengambil tubuh lemahnya kedalam pelukan lembut. Buaian tangan sang ibu di rambutnya yang kusut menghantarkan rasa hangat yang Kyungsoo rindukan. Bersama orang tua memang merupakan tempat yang paling nyaman dan tentram di dunia.
"Anakku, kau selamat nak." Ayahnya menghapus air mata Kyungsoo, ikut memeluk dua wanita yang paling ia sayang. Mereka bertiga berpelukan beberapa saat sambil menangis haru.
"lihat betapa mengenaskannya kau? Hati ibu hancur. Mengapa bukan ibu saja yang mengalaminya." gumam ibunya sedih, mengelus luka memar di sekujur tubuh anaknya.
"Aku baik-baik saja bu." Kyungsoo tersenyum melepas pelukan mereka, merasa malu karena banyak orang yang memperhatikan. Dia baru tersadar diantara orang-orang di ruang rawatnya, Kyungsoo tak menemukan sosok lelaki yang sudah ia anggap suami sendiri.
"Kai?!" pekiknya mulai panik, mengedarkan netra kesekeliling ruangan. Teringat kembali alasan dia pingsan adalah Kai yang berniat pergi. Dia terus memanggil putus asa, menutup wajahnya dengan telapak tangan. Jadi... Kai akhirnya meninggalkannya. "Kai.." rintih Kyungsoo di sela isak tangis.
kehangatan dirasa saat kedua tangan kuat mendekap tubuh bergetarnya. "Aku disini." suara baritone Kai menghantarkan kelegaan luar biasa. Kyungsoo terisak balas mendekap Kai erat, sangat erat, hingga dirasa Kai sedikit sesak dan mengikis tubuh mereka hampir tanpa berjarak.
"Jangan pergi seperti itu, kau membuatku takut."
Mereka berpelukan untuk beberapa saat karena Kyungsoo enggan melepaskan, terlalu takut Kai akan pergi darinya lagi. Kejadian beberapa saat lalu saat Kai berjalan menjauhi terlalu menakutkan.
"Siapa dia nak?" suara ibunya menarik perhatian mereka. Kyungsoo melepaskan Kai walau berat hati, menarik lelaki tan itu duduk di sampingnya.
"Ini Kai... Dia yang menyelamatkanku." balas Kyungsoo, memandang Kai dengan senyuman lebar. Tersirat rasa bangga dalam nada suaranya tak menyadari Kai mati-matian menyimpan rasa bersalah dalam relung jiwa.
Pantaskah disebut menyelamatkan jika dulu dia bahkan menyiksa gadis itu?
Nyonya Do menyeka air mata penuh syukur, menepuk pundak Kai pelan. "Terimakasih banyak, Kami berhutang padamu."
Yang bisa Kai lakukan hanya memaksakan senyuman, tidak mengerti harus merespon apa. Baru pertama kali dia dikelilingi orang banyak seperti ini kecuali rekan kerja yang hanya membicarakan hal menyangkut bisnis.
Teringat sesuatu, Kyungsoo memeluk lengan Kai disampingnya. "Ayah ibu kami juga sudah memiliki anak, aku sedang mengandung." serunya bahagia.
Kedua orangtuanya terhenyak beberapa saat. Begitupun semua orang diruangan.
"Kyungsoo kami tidak tahu harus berkspresi seperti apa." gumam ayahnya bingung kemudian senyuman senang terlukiskan di wajahnya, membayangkan sebentar lagi dia akan menimang cucu. "Terimakasih, Tuhan."
"Kalian memiliki hubungan?" tanya ibunya penasaran mengenai ayah dari janin yang dikandung putrinya.
"Iya, kami akan menikah!" Kyungsoo menyahut antusias, sedangkan Kai hanya diam. Dia sungguh tak biasa dengan semua perhatian ini.
Menyadari bahwa putrinya sekarang terlihat sangat bahagia, mau tidak mau sebagai seorang ibu. Nyonya Do ikut bersyukur juga, setidaknya dibalik musibah kecelakaan yang terjadi Kyungsoo menemukan cintanya.
"Kyungsoo... Selamat." Chanyeol mengucapkan ragu-ragu, tak menyangka akan berita yang baru ia dengar.
Kyungsoo tersenyum. "Kemarilah," pintanya agar Chanyeol mendekat ke ranjangnya. Kai berinisiatif bangun, menyingkir agar mereka bisa leluasa bicara tetapi Kyungsoo menahan lengannya meminta Kai untuk tetap tinggal.
"Kau juga Baekhyun." tambah Kyungsoo begitu Chanyeol sudah tiba dihadapannya. Baekhyun menuruti walau bingung.
Dia mengambil tangan Chanyeol dan Baekhyun menyatukan mereka agar saling berpegangan di atas pangkuannya.
Baekhyun tersentak berusaha menarik tangannya begitu pun Chanyeol namun Kyungsoo menahan mereka. Agar tetap pada posisi.
Sekilas Kyungsoo melirik Kai yang membisu disampingnya sebelum beralih pada kedua insan yang sebelumnya melangsukan acara pertunangan. Kejadiaan selama ini, dimana dia menjalani hari sebagai istri Kai, mendapatkan pengalaman mencekam disekap diruang bawah tanah, kabur dan mendapatkan kenyataan bahwa Chanyeol yang ia harapkan bertunangan dengan Baekhyun, menyadarkannya akan banyak hal.
Mengenai arti cinta yang buta, mau bagaimanapun Kai menyakitinya atau melakukan hal aneh dan misterius Kyungsoo sepenuh hati tetap mencintai lelaki itu tak peduli apapun yang telah Kai lakukan. Dia juga belajar mengenai kenyataan bahwa tak perlu terlalu berharap pada manusia. Tiap insan memiliki kewajiban untuk berusaha menolong diri mereka sendiri sebelum meminta pada orang lain.
Hari-hari yang Kyungsoo lewati bersama Kai memberikan perasaan yang tak pernah Kyungsoo rasakan sebelumnya, dari Chanyeol atau lelaki lain. Hanya Kai yang bisa menggetarkan hatinya. Satu-satunya orang yang bisa membuat Kyungsoo mendamba, menyerahkan diri seutuhnya pada pelukan Kai tanpa pikir panjang. Berbeda dengan Chanyeol dulu saat mereka masih bertunangan, kadang bergandengan tangan saja Kyungsoo masih sungkan padahal jika dihitung waktu bersama Chanyeol, Kyungsoo habiskan lebih lama dibandingkan dengan Kai seharusnya Kyungsoo lebih nyaman bersama Chanyeol bukan dengan Kai.
Cinta memang sebuah misteri, kita tak bisa memaksakan cinta walau waktu berbicara. Serta seberapa banyak pun orang yang datang kedalam kehidupan jika bukan mereka yang ditakdirkan pada dasarnya hanya akan lewat dan pergi begitu saja, tidak tinggal untuk bersama.
"Jangan batalkan pertunangan kalian" Kyungsoo berkata menyunggingkan senyum tulus, memandang Chanyeol dan Baekhyun tepat dimata. Sepenuhnya merestui cinta mereka.
Binar mata Baekhyun mulai basah, terharu dan juga tak menyangka. Walau ada perasaan senang tersirat dalam hatinya namun sungkan masih ada. Dia pernah berniat mengambil Chanyeol dari Kyungsoo, suatu hal yang sudah Kyungsoo maafkan tetapi belum sepenuhnya Baekhyun lupakan sebagai tindakan yang tidak dibenarkan. "Tidak Kyungsoo jangan—begini ak-u tidak pantas" tolaknya memelas. Sementara Chanyeol memandang Kyungsoo bingung tak bisa menebak keinginan gadis yang sudah ia anggap adik itu.
Kyungsoo menggeleng, menolak gagasan Baekhyun. "Kau yang paling pantas, yang paling mencintai Chanyeol oppa adalah kamu. Bukan aku." ungkap Kyungsoo sedih, membiarkan satu tetes air mata jatuh di pipi. Disampingnya Kai merengkuh pundak Kyungsoo lembut, mencoba menguatkan tanpa kata-kata.
"Selama ini aku mempertahankan pertunangan dengan Chanyeol oppa karena tidak tega menolak permintaan kedua orang tua kami." dia menambahkan dengan suara tercekat, di hadapannya nyonya Park terisak merasa bersalah, sudah mengetahui kenyataan tersebut dari putranya sementara ibu Kyungsoo menutup mulut tak percaya. "Aku sama sekali tidak memiliki perasaan cinta untuk Chanyeol oppa, selain teman atau kakak lelaki."
Kyungsoo menatap Chanyeol menyesal dan lelaki itu mengelengkan kepala sambil tersenyum membalasnya, karena dia pun merasakan hal yang sama.
"Maafkan aku ibu" kini perhatian Kyungsoo beralih pada ibunya, dia merasa bersalah karena harus memutus pertunangan yang sudah di harapkan kedua keluarga. "Aku sangat menyesal"
Ibunya tak bisa menjawab hanya mengalihkan matanya, beliau pasti kecewa sementara itu nyonya Park mengangguk, mengumamkan Gwenchana dengan senyum pengertian. Saat ini kebahagiaan anak-anak mereka adalah yang paling utama.
"Kalian ingin kami bahagia kan?" tanya Kyungsoo pada kedua ibu tersebut yang langsung dijawab dengan anggukan. "Kebahagiaan Chanyeol bukan padaku, tapi dengan Baekhyun." dihadapannya Baekhyun menangis tanpa suara, diliputi haru dan bahagia.
"Aku minta maaf karena marah dihari pertunangan kalian" bibir Kyungsoo menekuk kebawa penuh rasa bersalah. "Waktu itu aku hanya kecewa karena kalian seolah bersenang-senang diatas penderitaanku padahal seharusnya aku berfikir dewasa kalian pun tidak tahu jika aku selamat dalam kecelakaan itu, yang kalian lakukan hanya move on."
"Tidak Kyungsoo! Aku pun salah waktu itu" seru Chanyeol cepat, tak terima karena ia pun merasa ikut menanggung beban alasan Kyungsoo menderita selama ini. Jika dari awal Chanyeol mengemudi dengan baik mungkin Kyungsoo tidak akan hilang. Semuanya adalah salah Chanyeol. Tetapi kayu sudah menjadi arang, jalan mereka memang ditakdirkan untuk menghadapi nasib seperti itu untuk mendapatkan pelajaran hidup lebih baik.
"Sudahlah" Kyungsoo merentangkan tangan agar Chanyeol dan Baekhyun memeluknya. "Setelah ini mari kita hidup bahagia sebagai seorang sahabat" bisiknya begitu Chanyeol menuruti merengkuh Kyungsoo penuh kerinduan lalu Baekhyun mengikuti memeluk Kyungsoo sayang.
"Tarimakasih Kyungsoo" gumam Baekhyun meneteskan air matanya bahagia, selepas ini dia dan Chanyeol bisa bersama lagi tanpa satupun keraguan yang tersisa.
"Sama-sama" Sahut Kyungsoo ceria meminta Chanyeol kembali memasangkan cincin pertunangan pada Baekhyun yang sempat lelaki itu lepaskan untuknya.
Mereka tertawa menemukan jalan keluar dari perasaan yang selama ini membelengu. Untuk pertama kali Kyungsoo melihat tawa Chanyeol yang begitu lepas dan rona bahagia di raut Baekhyun yang biasa murung. Kyungsoo merasa melakukan hal benar dengan merelakan hubungan yang dari awal memang salah. Dia melirik Kai disampingnya yang sedari tadi tak bersuara, tersenyum pada ayah dari anak di kandungannya itu. Kai meliriknya lantas bergumam pelan yang hanya di dengar mereka berdua.
"Aku bangga padamu"
.
.
.
Dokter dan perawat datang kemudian untuk memeriksa keadaan Kyungsoo. Sontak para keluarga memberikan ruang dengan keluar dari kamar Kyungsoo. Kyungsoo sendiri bingung mengapa orang sebanyak itu bisa masuk kedalam kamar rawatnya padahal belum jam besuk, mungkin karena kamar yang ia tempati merupakan VVIP yang Kai pesan khusus sehingga membebaskan keluarga pasien untuk masuk.
Dari kepala hingga kaki Kyungsoo diperiksa secara intensif. Untungnya dokter mengatakan tidak ada hal yang membahayakan lagi sehingga dokter tersebut beralih menawarkan Kyungsoo untuk melakukan USG. Detak jantung bayi memang baru terdengar saat memasuki minggu ke tujuh namun kehamilan Kyungsoo yang memasuki minggu ke lima bisa dilakukan dengan tujuan untuk mengecek kesehatan, perkembangan, juga bisa melihat kantung kehamilan dan embrio kecil janinnya.
Tentu saja Kyungsoo setuju dia sangat tidak sabar melihat janinnya, ditemani Kai, Kyungsoo dibawa ke dalam ruang khusus dan mulai dilakukan tindakan USG bersama dokter spesialis kehamilan.
Rasa dingin jely yang di ratakan diperutnya membuat Kyungsoo terkesiap sesaat. Disisinya Kai memegang tangan Kyungsoo memberinya ketenangan walau dia merasa gugup juga. Sebentar lagi Kai akan melihat calon anaknya, darah dagingnya sendiri.
Layar menunjukan warna hitam yang terdapat lingkaran kecil buram diujung, didalam lingkaran itu entahlah harus menyebutnya apa karena bentuknya tidak begitu jelas terlihat seperti gumpalan kecil yang bergerak pelan.
"Ini dia janinnya" Dokter mengkonfrimasi pada gumpalan dilayar. "Sepertinya dia sehat"
Gumpalan kecil itu begitu menakjubkan, suatu saat dia akan tubuh besar dan menjadi seorang anak. Keturunan mereka. "Dia sangat kecil" bisik Kyungsoo haru, memperhatikan dilayar USG itu sementara dokter tersenyum maklum akan kebahagiaan kedua pasangan itu dan tetap menggerakan alatnya berusaha memberikan gambaran yang lebih jelas.
Kai merasa sesuatu mencengkram organ terdalamnya erat menyaksikan sendiri janin kecil dalam diri gadis yang paling ia cintai. Kebahagiaan ini seperti tak nyata, bagaikan mimpi. Rasa senang dan tekad melindungi memenuhi dirinya. Dia mengusap mata mencegah air mata menetes disana lantas beralih mencium kening Kyungsoo penuh rasa terimakasih. Sesaat lalu Kai berniat meninggalkan gadis ini namun setelah menyaksikan seberapa rapuhnya Kyungsoo tanpanya dan anak dikandungan gadisnya itu, bagaimana mungkin Kai bisa pergi lagi.
"Kai dia sangat kecil, seperti kacang." bisik Kyungsoo dengan air mata yang berlomba turun. Mengelus rahang Kai tak percaya akan pemandangan calon anak mereka. Jemari Kai bergerak lembut, menghapus air mata ibu dari calon anaknya itu.
"Kacang kecil kita."
.
.
.
Malam sudah larut, teman-teman dan kedua orangtuanya sudah pulang karena di rumah sakit hanya diijinkan satu orang untuk menginap dan menunggui pasien. Kyungsoo tidak tega jika orangtuanya yang baru pulang dari Shanghai harus menjaga di RS jadi karena itu hanya Kai yang ia ijinkan tinggal, lagipula Kai adalah calon suaminya kelak.
Dekapan tangan Kai begitu erat melingkar di pinggulnya, Kyungsoo menyusupkan wajah di dada lelaki itu mencari posisi favoritnya dulu.
"Mengapa kau ingin melepasku secara tiba-tiba tadi?" tanyanya penasaran, mengingat kembali saat Kai mengijinkan Kyungsoo untuk pulang dan bersama Chanyeol lagi. Beberapa saat menunggu, jawaban tak kunjung menghampiri, dia mendongakan wajah dan menemukan ekpresi damai lelaki itu. Kedua mata elangnya tertutup rapat. Kai ternyata sudah terlelap.
Kyungsoo menghela nafasnya, tidak berani mengungkit lagi masalah tersebut. Dia takut juga dengan jawaban suaminya itu yang mungkin akan menyakiti hatinya. Kyungsoo tak siap... Bagaimana jika nanti Kai menjawab bahwa dia tak mencintainya lagi? Memperkirakannya saja hati Kyungsoo sudah nyeri.
Tubuhnya tanpa sadar terus bergerak mengubah posisi. Dari kemarin Kyungsoo merasa kembung sehingga tidak bisa tidur dengan nyaman. Dokter mengatakan bahwa hal tersebut normal untuk wanita hamil tapi tetap saja Kyungsoo belum terbiasa.
"Ada apa?" suara serak Kai menggagetkan Kyungsoo, gerakannya pasti membangunkan lelaki itu.
"Tidak nyaman saja"
"Kemarilah"
Kyungsoo menggeserkan diri makin merapat pada tubuh hangat Kai, meletakan kepalanya di dada bidang lelaki itu. Tangan Kai terulur mengusap perut Kyungsoo lembut sambil menyenandungkan lulaby penghantar tidur.
Kelopak mata Kyungsoo terhanyut oleh kenyamanan yang Kai tawarkan, dia terlelap beberapa menit kemudian.
.
.
.
Dimalam-malam berikutnya mereka selalu melakukan hal yang sama; saling berpelukan sementara Kai mengelus perut Kyungsoo penuh kasih sayang. Semua sempurna, terkadang teman-teman dan keluarga Kyungsoo menengok saat siang hari sedangkan malam adalah waktu mereka, seperti saat ini.
"Kai sebentar lagi natal bukan?" Jemari Kyungsoo bergerak random mengelus kancing kemeja Kai yang tengah tiduran di sisinya.
"Kau ingin hadiah?"
"Bisa dibilang begitu." cengir Kyungsoo senang dan Kai membalasnya dengan senyuman menggoda.
"Keinginanmu atau kacang kecil?"
Bibir Kyungsoo mengerucut sebal, setelah USG itu mereka memutuskan memanggil janin Kyungsoo kacang kecil. Selain itu Kai menjadi lebih perhatian pada si kacang kecil, Kyungsoo kan cemburu. "Kami berdua."
"Katakan saja, apapun akan ku berikan untuk kalian" kata Kai mengelus surai Kyungsoo yang sudah makin memanjang.
Netra Kyungsoo berpendar mengingat kembali keinginannya sejak kecil. "Saat menjelang natal, aku ingin pergi ke London"
"London?"
Kyungsoo mengangguk dengan senyuman meyakinkan. "Tepatnya, di Royal Botanical Gardens Kew," serunya antusias. "Kau tau aku suka taman dan bunga-bunga?"
Bibir Kai berkedut menahan senyuman. Tentu saja dia ingat, saat mereka tinggal bersama Kyungsoo suka sekali merawat taman mawarnya dan juga meletakan banyak sekali rangkaian bunga di kediaman Kim.
"Saat malam natal di taman botinical London itu akan ada pertunjukan cahaya, pohon jalan semua akan disulap menjadi taman lampu yang indah. Aku ingin sekali melihatnya bersama dengan orang yang paling aku cintai. Yaitu kamu dan kacang kecil kita" tangan Kyungsoo terulur mengelus perutnya yang masih rata, pergerakan sederhananya membuahkan senyuman tulus di bibir calon suaminya.
"Anyting for you my queen" jawab Kai tanpa pikir panjang, keluar negeri atau ke bulan sekalipun bukan masalah besar untuknya. Apa lagi demi Kyungsoo dan kacang kecil, apapun akan dia lakukan walau nyawa taruhannya. "Tetapi kurasa bukan tahun ini karena kacang kita masih terlalu kecil, jika dia sudah berubah jadi kacang besar kita akan membawanya kesana."
Kyungsoo tertawa, selalu geli jika Kai berceloteh mengenai kacang kecil mereka, pasalnya ekpresi lelaki itu tetap saja datar walau suaranya terdengar antusias.
"Terimkasih, Kai, lalu kado apa yang kau inginkan dariku?"
Kening mereka menyatu dan Kai menatap kedua mata bulat Kyungsoo lekat. "Kehadiranmu dan kacang kecil sudah lebih dari cukup untukku" lalu kedua mata mereka perlahan menutup seiring dengan jarak bibir yang mulai terhapuskan.
.
.
.
Kamar rawat Kyungsoo hari ini terlihat lebih sepi, Kai ijin untuk mengurus perusahannya sebentar. Ibu Kyungsoo yang bertugas menjaganya hari ini namun saat ini ibunya itu sedang berada di toilet.
"Nyonya Kyungsoo, bagaimana keadaan Anda hari ini?" dokter memasuki kamar rawat Kyungsoo dengan senyuman profesional.
"Luarbiasa, bolehkah aku pulang?" Kyungsoo menyahut ceria. Tak sabar untuk segera keluar dari rumah sakit.
"Belum bisa, anda masih harus mendapatkan perawatan intensif." sang dokter bernama Minseok itu menggeleng pelan. "Kedatangan saya, untuk menyarankan mengenai konsultasi kejiwaan"
Kening Kyungsoo merenyit heran. "Apa maksudmu dokter? Saya tidak gila"
"Nyonya bukan berarti bertemu dengan psikiater berarti gila, kami ingin terbaik untuk anda karena anda telah mengalami kejadian yang mengerikan. Anda histeris hingga pingsan kemarin. Tingkat stress anda sangat tinggi, akan membahayakan pada janin anda juga. Kami sarankan anda bertemu dan berbicara dengan orang yang tepat."
Kyungsoo tidak pernah berfikiran sampai kesana, dia memang pernah membaca jika ibu hamil memang dilarang stress. Apapun metodenya asal memang yang terbaik, Kyungsoo akan mengikuti. "Uhm baiklah."
Dr. Minseok tersenyum menjelaskan sesuatu mengenai metode konsultasi kejiwaan itu tetapi Kyungsoo tak sepenuhnya mendengarkan. Selintas dia mengingat kembali hal-hal yang membuatnya stress, salah satunya adalah perilaku misterius suaminya dan tingkah lelaki itu yang mengurung Kyungsoo begitu lama. Sesuatu yang tak benar ada dalam diri Kai.
"Dokter bisakah suami saya melakukan konsultasi kejiwaan juga?" tanya Kyungsoo, mengigit bibir bawahnya ragu.
"Apa?"
.
.
.
"Kenapa aku harus lakukan itu?" sepulang kerja membawa penat dan lelah Kai mendapati keinginan aneh terlontar dari Kyungsoo.
"Aku hanya takut" kepala Kyungsoo menunduk, sudah memperkirakan respon Kai.
"Kau takut padaku?" ulang Kai mendecih tak percaya. Dia yang paling mencintai Kyungsoo selama ini. Kai tak terima akan fakta yang baru Kyungsoo kemukakan. "Kyungsoo aku mencintaimu!" serunya kesal.
"Tapi kau pernah menyekapku, Kai." kedua mata bulat Kyungsoo memandang Kai cemas. Tubuhnya bergetar pelan kembali terbayang saat-saat yang ia lalui di ruang bawah tanah yang menyeramkan.
Kai tersentak kaget, tak bisa membantah. Rasa bersalah menyelimutinya. Dia menekan pundak Kyungsoo, meminta gadis itu agar terfokus padanya untuk mendengarkan penjelaskan yang akan Kai berikan.
"Aku minta maaf, kau berusaha pergi dariku. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana untuk menahanmu tetap disisiku. Tidak pernah ada yang mengajariku tentang cinta, tidak pernah ada yang mengajakku bicara. Tidak ada yang mau berteman denganku atau mencintaiku seperti bagaimana kamu. Aku benar-benar takut kehilangan sehingga melakukan itu."
Penjelaskan Kai membuka sedikit relung dada Kyungsoo, gadis itu mengangguk mencoba memahami sebelum menyerukan kepalanya di perpotongan leher Kai. "Sekarang aku disini, aku takkan meninggalkanmu lagi." bisik Kyungsoo lembut mengangkat kepalanya demi memandang Kai tepat di mata. "Tetapi sebaiknya kau tetap mengikuti pemeriksaan, demi aku dan kacang kecil kita."
Kai tak bisa membantah jika Kyungsoo sudah membawa anak mereka. Walau dia tetap merasa tak perlu melakukan pemeriksaan tidak berguna seperti itu. Karena Kai sepenuhnya yakin dia baik-baik saja.
.
.
.
Serangkaian proses telah dilakukan, pemeriksaan Kai keluar begitu lama dibanding dengannya. Sementara depresi Kyungsoo sudah ditangani dengan baik. Dokter spesialis kejiwaan bernama Kang Seulgi baru mendatanginya hari ini. Dikarenakan Kyungsoo meminta agar diagnosa Kai harus Kyungsoo yang diberitahu lebih dulu dari pada Kai. Kyungsoo takut Kai akan tersinggung atau marah jika mengetahuinya duluan sehingga bisa melakukan hal yang tidak diinginkan.
Situasi sudah memungkinkan, Kai berangkat ke kantor seperti biasa dan orangtua Kyungsoo sedang keluar untuk membeli makanan saat dokter Seulgi datang.
"Nyonya Kyungsoo ini hasil mengenai pemeriksaan tuan Kai" dokter cantik itu menyerahkan dokumen yang langsung Kyungsoo baca secara seksama. di dalamnya terdapat pemeriksaan otak dan hasil wawancara yang tak sepenuhnya Kyungsoo pahami.
"Jadi, Kai baik-baik saja kan?" tanya Kyungsoo dengan jantung berdetak gugup. Hatinya mencelos begitu Dr. Seulgi malah menggeleng padanya.
"Tuan Kai kecenderungan menderita kelainan mental disorder, psikopat sebanyak 60%."
Bagaikan di hantam oleh sesuatu tak kasat mata, dada Kyungsoo nyeri tak terkira akan kenyataan penyakit suaminya.
"Psiko—pat?" ulangnya berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa yang di dengarnya bukan guyonan semata.
Dokter Seulgi mengangguk tampak bersimpati. "Benar, kami sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Seperti wawancara ketat dan Brain scan" dia mulai membuka dokumentasi medis milik Kai.
"Saya akan menjabarkan beberapa hal yang sepatutnya anda ketahui. Diantaranya yang dapat mempengaruhi seseorang menjadi psikopat salah satunya; Pola asuh saat kecil yang salah. Dari hasil pengkajian kami, selain mengalami kekerasan fisik tuan Kai juga mendapat kekerasan verbal. Sehingga dia tak bisa mentoleransi hal-hal kecil dan melampiaskannya dengan kekerasan."
Kyungsoo teringat jika dimansion dulu Kai tak bisa menerima kekacauan yang dilakukan anak buahnya sekecil apapun. Mereka akan dipukuli.
"Terdapat faktor genetik yang berperan penting, menurut penelitian perilaku psikopat bisa diturunkan dari gen orangtua kepada anaknya. Ayah atau ibu yang menderita psychopathy memiliki peluang lebih banyak untuk menurunkan sifat psikopat kepada sang anak dibandingkan dengan faktor lingkungan atau kondisi psikologi."
Apa Kai memiliki orangtua yang bermasalah? Kyungsoo tidak tahu. Kai tertutup tidak pernah menceritakan masa kecilnya.
"Pemeriksaan penujang tuan Kai menujukan tidak berfungsinya bagian otak Amygdala. Kerusakan bagian otak ini menjadikan seseorang kurang peka terhadap rasa takut dan kebal akan emosi serta rasa penyesalan. Bagian otak ini menjaga agar seseorang tetap memiliki perkembangan moral. Seorang psikopat tidak memilikinya maka dia tidak dapat merasakan kasian, empati, penyesalan atau emosi atas tindakan yang telah ia lakukan. Bahkan tindakan yang sangat buruk atau mengerikan sekalipun."
Dulu saat mengurungnya Kai memang terlihat tak ada rasa kasian. Seharusnya orang lain mungkin takkan tega memperlakukan orang yang ia cintai seperti itu. Mengenai tindakan buruk lain Kyungsoo tidak tahu, dia hanya berharap semoga Nancy baik-baik saja. Kyungsoo mengira Kai pasti sudah melihat cctv mereka. Sampai saat ini Kai tak pernah membicarakan Nancy atau hal lain tentang pelariannya waktu itu.
"Selain itu mengenai otak terdapat juga bagian Kortes Frontal Orbital yang lebih sedikit. Dibanding orang normal. Bagian ini berfungsi dalam proses pengambilan keputusan. Penderita psikopat jarang menggunakan bagian otak ini. Sebagian orang mungkin akan menimbang keuntungan atau kerugiaan saat mengambil keputusan tetapi para psikopat, tidak. Selama rencana dan tujuan terpenuhi maka mereka akan tetap melakukan apa yang ia lakukan."
Memang Kai cenderung tak pernah pikir panjang setiap keputusan yang diambilnya, sama saat dimana kakinya dihancurkan setelah dia mengingat kembali ingatan. Jika Kai normal mungkin pria itu akan memikirkan kemungkinan terburuk seperti bagaimana jika Kyungsoo malah lumpuh selamanya akan perbuatannya itu?
Tetapi mau seperti apapun Kai tetap orang yang ia cintai sepenuh hati, ayah dari anak dikandungannya. Kyungsoo menginginkan Kai sembuh dan membina rumah tangga seperti keluarga normal lain.
"Lalu apakah suamiku bisa sembuh?"
"Kemungkinan sangat kecil nyonya tetapi kami melihat tuan Kai tak sepenuhnya memiliki tanda seorang psikopat. Tuan Kai sangat peduli dan mencintai anda. Suatu perasaan yang jarang terjadi pada pasien lain. Biasanya orang seperti tuan Kai hanya peduli pada diri mereka sendiri tanpa mau mengagumi orang lain. Anda tampaknya suatu keajaiban untuknya" ungkap Dr, Seulgi terkagum-kagum padanya.
Pipi Kyungsoo rasanya memanas, apakah ini kekuatan cinta mereka? Tuhan memberikan keajaiban agar pintu hati Kai terbuka berkat kehadirannya?
"Kami akan melakukan segala hal semampu kami untuk tuan Kai asalkan beliau bersedia, pasien psikopat terkadang sulit untuk diajak berkerja sama karena mereka merasa sangat sehat dan baik-baik saja. Balik lagi kepada yang sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa mereka cenderung tak memiliki nurani jadi merasa semua hal buruk yang mereka lakukan adalah yang benar hingga tidak perlu dilakukan pengobatan." Dr. Seulgi kembali menjelaskan secara profesional. Dia kemudian berdiri merapihkan jas dokternya.
"Tuan Kai akan mendapatkan psikiater terbaik dan medikasi juga yang mungkin harus dia konsumsi seumur hidup." tambahnya dengan senyuman sebelum berbalik untuk pergi.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, dia kembali berbalik memandang Kyungsoo dengan senyuman bersahabat. "—dan Nyonya alasan saya menjelaskan kepada anda sebenarnya ada maksud lain juga."
"Apa itu?" alis Kyungsoo terangkat.
"Pasien jiwa tidak akan bisa sembuh jika tak mendapatkan dukungan psikis dari keluarga dan orang yang ia sayangi, obat atau rencana lain mungkin akan membantu tetapi tak bisa berperan banyak jika tak ada yang menyokongnya secara psikis juga. Anda perlu memberikan tuan Kai semangat dan selalu disisinya. Anda perlu mengajarkan Kai kasih sayang, dan juga cara agar memiliki empati pada orang lain"
Perkataan Seulgi menampar Kyungsoo telak, benar yang dibutuhkan Kai saat ini adalah dirinya. Kai bisa sembuh jika Kyungsoo selalu bersama Kai dan mencintai lelaki itu sepenuh hati.
"Kami lihat tuan Kai berpotensi untuk sembuh karena dia sangat menyayangi anda dan juga calon anak kalian. Saya permisi."
Selepas kepergian Dr. Seulgi, Kyungsoo terus melamun memikirkan rencana masa depannya bagaimana membuat Kai sembuh. Tak ada sedikitpun niat dimana Kyungsoo meninggalkan Kai, tidak. Mereka berdua saling membutuhkan, saling bergantung satu sama lain.
Membahas mengenai penyakit pada Kai mungkin akan menyinggung perasaan lelaki itu, maka Kyungsoo akan berpura-pura tak tahu dan diam-diam membantu pengobatan suaminya.
Semoga setelah ini kehidupan mereka akan lebih baik. Pinta Kyungsoo dalam hati sambil tersenyum lebar membayangkan berkeluarga dengan Kai dan calon anak mereka.
"Psikopat? Apa maksudnya Kyungsoo?"
Senyum Kyungsoo luntur begitu sang ayah memasuki kamar dengan raut berang. Ibunya melotot kaget, seakan tak percaya akan apa yang ia dengar sebelumnya.
"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Kai seorang psikopat? dan apa yang terjadi padamu selama kau hilang!?"
Susah payah Kyungsoo menelan salivanya, setelah ini akan terjadi perdebatan yang panjang.
.
.
.
"Kai-ssi kami ingin bicara" tangan Kai yang hendak membuka pintu kamar rawat Kyungsoo terhenti.
Orang tua Kyungsoo memandangnya dengan raut wajah yang tak bersahabat. Beberapa hari saling mengenal mereka memang jarang saling berbicara, tetapi hubungan mereka tak sekaku saat ini. Walau bingung Kai tetap mengikuti saat orangtua gadisnya mengajak ke sebuah tempat sepi, dibelakang rumah sakit yang jarang orang lewati.
"Kami sudah mengetahui apa yang terjadi pada Kyungsoo selama ini." Ayah Kyungsoo memandangnya marah dan dibalik punggungnya sang istri terisak menutupi wajah dengan sapu tangan. "Sebagai orangtua rasanya sangat terpukul atas apa yang menimpa Kyungsoo, terutama perbuatanmu yang tak bisa kami terima."
Nyonya Do sambil menyeka air mata lalu menambahkan. "Walaupun kau lah yang menyelamatkan Kyungsoo, kami tetap tak terima atas semua rasa sakit Kyungsoo selama ini." serunya marah. Ibu mana yang ingin anaknya mendapat perlakuan seperti itu?
Kelopak mata Tuan Do yang keriput tertutup sedih. "Aku harap kau mengerti, kami menginginkan yang terbaik untuk Kyungsoo anak kami satu-satunya. Yang pasti itu bukan kau. Tolong tinggalkan putri kami. Biarkan dia hidup normal bersama lelaki baik lain diluar sana." pintanya putus asa.
"Jika denganmu, selamanya Kyungsoo bisa terancam bahaya. Kau seorang pasien jiwa. Seharusnya kau ke dokter dan berobat. Tempatmu bukan bersama Kyungsoo tapi di rumah sakit jiwa." ujar Nyonya Do tajam. "Pergilah, menjaulah dari putri kami. Sudah cukup Kyungsoo menderita selama ini. Semoga kau mengerti. Aku mohon padamu, tinggalkan Kyungsoo dan jangan kembali lagi."
Kai tak keberatan jika dia dihina tetapi kenyataan dimana dia harus menjauh dari Kyungsoo mengguncang batinnya. Sorot mata Kai kosong seakan tak ada jiwa disana. "Tapi bagaimana dengan cintaku untuknya? Bagaimana dengan anakku dan Kyungsoo?"
Tuan Do merangkul istrinya menjauh dari Kai bagaikan Kai adalah monster mengerikan dan menjijikan.
"Rasa cinta akan hilang seiring berjalannya waktu, Kyungsoo akan baik-baik saja. Mengenai anak kalian kami akan merawatnya dan akan mencari lelaki lain yang pantas untuk Kyungsoo. Sedangkan kau, kami berharap kau mendapatkan penderitaan yang menyakitkan seumur hidupmu."
.
.
.
Malam menujukan pukul sebelas saat Kai baru memasuki kamar Kyungsoo dengan lemas. Walau wajahnya pucat pasi, dia tetap memaksakan senyuman.
"Kai kau dari mana saja? Aku mencarimu"
Tanpa menjawab Kai mendekati ranjang Kyungsoo masih dengan senyuman dan tatapan lembutnya. "Bagimana keadaan kacang kecil?"
"Dia bahagia karena papanya sudah kembali" tangan Kyungsoo terangkat meminta Kai memeluknya kebiasaan mereka setelah berpisah walau sebentar. "Aku sangat rindu padamu" gumam Kyungsoo manja, mengecup pipi tirus Kai. Respon Kai yang tersentak akan tindakannya membuat Kyungsoo keheranan. Mereka sudah biasa melakukan kontak fisik, lalu mengapa hari ini Kai terlihat aneh sekali.
Tiba-tiba Kai melepaskan pelukan mereka, membuang muka beralih memusatkan perhatian ke perut Kyungsoo yang masih rata.
Entah perasaan Kyungsoo saja atau dia melihat mata elang Kai terdapat genangan air mata disana.
"Biarkan aku bicara dengan kacang kecil, kamu jangan menguping." suara Kai mengalihkan kecurigaan Kyungsoo.
"Apa?!" sentak wanita itu cemburu, Kai selalu saja mendahulukan kacang kecil mereka padahal Kyungsoo masih ingin bermanja-manja.
Pria tan itu mengeluarkan smartphone yang sudah tersambung dengan headset, dia pasangkan benda itu pada telinga Kyungsoo dan memutar musik dengan volume keras. "Jangan berani-berani mencabutnya, atau aku tak mau menggendongmu lagi" ancam Kai kejam sambil menghalangi pandangan Kyungsoo dengan bantal agar gadis itu tak bisa melihat perbuatan yang ia lakukan.
Mata Kyungsoo melotot kesal akan tindakan tak masuk akal Kai, tetapi dia tetap menuruti, Kyungsoo tak mau Kai berhenti menggendongnya. "Ish!"
Setelah memastikan headset terpasang dan Kyungsoo tak bisa mendengar atau melihatnya, Kai menurunkan wajah di atas permukaan perut Kyungsoo. Mulai berbincang. "Halo kacang kecil, ini papa. Tolong jadilah anak yang baik. Tidak seperti papa yang selalu menyakiti mamamu. Tumbuhlah dengan sehat, tolong jaga mama ya." air mata yang mati-matian dia tahan menetes dan terjatuh diatas permukaan perut Kyungsoo.
"Kakek dan nenek kalian ingin papa pergi, papa tak bisa membantah mereka karena papa tak ingin membuat mama sedih lagi." Kai mencoba menahan agar tak terisak tetapi pertahanannya runtuh dia membiarkan airmata terus turun membentuk aliran sungai dipipinya.
Dia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan, terlalu berat melepaskan kacang kecilnya dan Kyungsoo hanya berdua. "Jika kamu sudah lahir kelak dan tak melihat papa" Kai kembali menangis. "Papa pasti sudah mati disuatu tempat. Tetapi papa akan sangat bahagia karena dengan begitu hidupmu dan mama akan tenang, maafkan papa yang selalu menyakiti mamamu, nak. Papa tidak mengerti apa yang harus papa lakukan. Papa sangat mencintainya."
Dia menghapus air matanya dengan punggung tangan, mencoba memaksakan senyuman. "Nak dimanapun papa berada, papa akan selalu memperhatikan kalian. Papa akan selalu mencintai kalian berdua tanpa henti sampai nafas papa tak tersisa lagi. Tumbuhlah menjadi anak yang bahagia, jangan jadi seperti papa. Papa orang jahat nak." tangannya mengelus perut Kyungsoo, kebiasaan yang ia lakukan jika Kyungsoo akan tidur kini tak bisa dia lakukan lagi. Kai berharap yang terbaik untuk anaknya dan Kyungsoo. Semoga mereka baik-baik saja tanpa kehadiran Kai sebagai sosok seorang suami dan ayah.
Kai sangat menyayangi mereka melebihi nyawanya, jika memang tanpanya Kyungsoo dan anak mereka akan lebih bahagia maka Kai rela, pergi dengan ikhlas.
Merasakan elusan diperutnya membuat Kyungsoo penasaran. Dia mencopot headset Kai ditelinganya dan menyingkirkan bantal yang menganggu pandangan. Menemukan lelaki tan itu menunduk dengan rambut yang menutupi wajah, menyembunyikan ekpresi wajahnya saat ini.
"Kai, hey ada apa?" tanya Kyungsoo penasaran, mengusap rambut Kai perlahan.
"Aku hanya takut." guman Kai pelan.
"Jangan takut ada aku disini," Kyungsoo membalas sembari manarik tubuh Kai kedalam dekapan hangatnya, dia menepuk punggung lelaki itu mencoba menenangkan segala kerisauannya.
Aku takut karena setelah ini aku takkan bisa melihatmu lagi.
Sampai mereka berdua memutuskan untuk tidur Kyungsoo merasa Kai terus memandanginya hingga pagi menjelang tapi Kyungsoo sebagai seorang wanita hamil selalu merasa lelah tanpa alasan, maka dia menepis semua fikiran negatif itu dan hanya berusaha istirahat dipelukan Kai yang ternyata akan jadi pelukan terakhir mereka.
.
.
.
Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit namun Kyungsoo tak mendapati sosok Kai dimanapun selain ibunya yang sudah datang membawakan baju ganti.
"Ibu?" panggil Kyungsoo bingung.
"Kai sudah berangkat kerja ya? Mengapa tidak bangunkan aku. Dia tak bisa memasang dasinya sendiri." Kyungsoo protes kecewa. Sementara ibunya hanya mengalihkan pandangan terlihat berusaha menyibukan diri menata pakaian.
"Kenapa ibu diam saja?"
.
.
.
"Kenapa Kai tidak pulang juga?" Kyungsoo bertanya dan hanya hembusan angin yang menjawabnya.
Langit sudah berganti menjadi gelap gulita, sang surya sudah menggantikan tugasnya dengan rembulan.
Kyungsoo berusaha menjaga matanya untuk tetap terjaga, berulang kali menengok jam dinding di kamar rawatnya yang menujukan waktu pukul dua dini hari.
Mungkin kah Kai sedang rapat? Atau keluar kota sehingga meminta ibunya menjaganya?
Segala kemungkinan terus Kyungsoo perkirakan sampai dia tak bisa lagi menjaga kesadaran dan akhirnya menyerah menunggu calon suaminya pulang.
"Bu aku mengantuk, bangunkan jika Kai pulang ya."
Lagi-lagi ibunya tak menjawab apa-apa.
.
.
.
Sudah berhari-hari Kyungsoo tak melihat Kai kembali, gadis itu kini tambah kurus berbanding terbalik dengan wanita hamil lain yang seharusnya bertambah berat badan.
Dia bahkan kembali menjalankan konsultasi kejiwaan dikarenakan stressnya yang kembali datang tanpa Kai.
"Kenapa nak? Kamu rindu papa ya?" Kyungsoo berbincang pada perutnya seakan anaknya mengajak dia mengobrol. Kebiasaan untuk menghilangkan segala bayangan Kai yang menyiksanya. "Mama—juga rindu papa—" dan air mata itu tumpah, mengalir deras tak bisa lagi terbendung.
Secepatnya Kyungsoo menyeka air mata itu, teringat dokter agar harus menjaga tingkat stressnya. "Papa sedang kerja. Sabar ya sayang nanti saat dia pulang, kita minta belikan permen."
.
.
.
Siang itu Luhan mengunjungi membawa banyak buah-buahan dan cemilan ibu hamil karena dia mendapat kabar kesehatan Kyungsoo tak membaik. "Kamu buat apa?" tanyanya sambil mengupas apel.
"Sarung tangan, Kai jarang memakainya. Tangannya selalu dingin" balas Kyungsoo ceria, kembali melanjutkan rajutannya.
.
.
.
Tidak mendapatkan perkembangan signifikan akan kesehatan Kyungsoo, kini Chanyeol dan Baekhyun berinisiatif berkunjung sebagai bentuk dukungan untuk Kyungsoo dan ikut mencoba mengalihkannya dari keberadaan Kai.
Pasangan itu berusaha mengajak Kyungsoo mengobrol, beberapa kali melontarkan lelucon tapi wanita bermata bulat itu sama sekali tak berespon. Dia memeluk perutnya sendiri dengan pandangan yang kosong.
"Chanyeol bisa kah kau menghubungi Kai?" tanyanya lirihnya tanpa menatap lelaki itu.
Chanyeol berpandangan dengan Baekhyun bingung harus menjawab bagaimana, kemudian dia menghela nafas merasa bersalah. "Kami tak memiliki nomor ponselnya"
Kyungsoo menoleh, matanya memerah dan kantung matanya bahkan mulai gelap. "Dia memiliki perusahaan, punya rumah di Seoul dan Busan. Alamatnya aku tak tahu. Tapi rumah di Busan sangat besar gerbangnya warna hitam dan terdapat taman mawar" tuturnya memaksa agar Chanyeol mencari.
Semua ciri yang Kyungsoo ucapkan sangat sulit untuk ditemukan karena terdapat jutaan rumah di Seoul dan Busan yang seperti itu. Lagi pula orang tua Kyungsoo meminta secara pribadi agar mereka tak membantu Kyungsoo kembali pada Kai lagi. Entah alasannya tak ada teman-teman Kyungsoo yang diberitahu. Mereka menuruti karena orangtua Kyungsoo mengancam, jika tidak mereka tak bisa bertemu Kyungsoo lagi.
"Maafkan kami Kyungsoo"
.
.
.
Disuatu malam yang sepi, Kyungsoo kembali berbicara dengan anak dikandungannya sambil terisak dan berurai air mata. Mengelus perutnya yang mulai membesar. "Iya nak mama juga rindu papa. Biasanya sekarang dia akan memeluk mama dan mengusapmu kan? Sekarang cuma ada mama. Tidak apa-apa ya nak, ayo kita berdoa semoga papa cepat pulang."
Tanpa disadari nyonya Do selalu mendengarkan dan ikut menangis bersama putrinya.
.
.
.
Kandungan Kyungsoo menginjak usia dua belas minggu. Sekarang dia bahkan merasakan kacang kecil mereka sudah tumbuh dan meletup di dalam perutnya. Dokter mengatakan bahwa hal itu normal terjadi karena anak mulai menendang walau hanya dirasa seperti pukulan pelan.
"Sudah lama ya papa tak bicara denganmu, kau sekarang sudah bisa menendang. Tapi papa tak tahu. Papa pasti sedih melewati setiap moment pentingmu." gumam Kyungsoo sendu, mengelus perutnya mencoba menenangkan letupan kecil disana.
"Sudah waktunya kita pulang Kyungsoo." Tuan Do menghela nafas, mengangkat tas keperluan Kyungsoo. Berat badan Kyungsoo memang lebih kurus dibanding wanita hamil lain tetapi selain itu dia sehat dan bisa dilanjutkan dengan rawat jalan biasa.
Kyungsoo menggelengkan kepala keras, memeluk selimut seakan benda tersebut bisa melindunginya. "Tidak, bagaimana jika nanti Kai kembali ke rumah sakit ini? mencariku dan si kacang kecil?"
Tuan Do tercekat tak bisa berkata-kata, pria paruh baya itu memilih menjatuhkan barang bawaannya dan keluar dari ruangan. Tak kuasa melihat bagaimana menyedihkan putrinya sendiri dari hari kehari.
Perhatian Kyungsoo beralih pada ibunya, memelas meminta pengertian. "Aku harus disini sampai Kai kembali, bu." dia memohon lirih mengores perasaan sang ibu.
"Ini sudah dua bulan," ibunya menatapnya sendu. Menutup matanya sesaat sebelum melontarkan kenyataan menyakitkan yang sanggup membunuh Kyungsoo secara perlahan. "Kai takkan pernah kembali karena dia sudah mati nak."
TBC
(A/N)
Mengenai pembahasan psikopat dan kehamilan saya sudah membaca melalui beberapa penelitian dan jurnal di internet, maaf jika ada sesuatu yang salah atau kurang berkenan. Karena saya bukan ahlinya dibidang itu, lagi pula ini hanyalah fanfiction walau sudah saya rangkai dengan se-real mungkin dengan menekankan pada bukti dan beberapa hal yang disangkut pautkan.
Seperti ayah Kai yang psiko lalu menurun ke Kai alasan sikap Kai selama ini semua terjawab di chapter ini. Semoga kalian bisa menangkap dan tidak bingung :)
Mengenai pembunuhan Jinki dan Nancy disini posisinya Kyungsoo gak tahu ya.
Di Korea juga memiliki kebiasaan menamai anak mereka dengan panggilan sebelum anak itu lahir, seperti pasangan Kaisoo kita.
Chapter depan merupakan bagian terakhir dari Held Hostage, saya tidak bisa membocorkan tapi saya janjikan kalian tidak akan kecewa.
Terimakasih telah membaca, saya sudah membuat chapter ini panjang sesuai keinginan kalian. Silakan tinggalkan komentar nya yaaa. Arigatou. 😆
Ps: Untuk Chapter depan saya menyarankan untuk membacanya di akun wattpad saya Shinkyu88 karena saya akan memberikan lumayan banyak gambar; seperti anak Kaisoo dan pemandangan. Sayang sekali jika kalian tidak bisa melihatnya: (
