Boku wa Exorcist

Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media yang punya

Warning : Typo, alur sedikit maksa, Miku Pov

.

.

.

Chapter 9

1 Year Later. Reincarnation

"Haaaahh. Capeknya!" Kataku sambil duduk di taman sekolah itu. Setelah ini ada liburan musim panas selama satu bulan.

"Memang siapa sih yang menukar dokumen kita lagi? Yang tadi itu sudah ada 2 semua level 6 lagi!" Kata Kaito mengeluh. "Sudah sering dokumen misi kita di tukar, dan yang menukar selalu kelompoknya Ritsu sialan itu! Apa kali ini mereka lagi yang menukarnya." Kata Kaito frustasi, kami telah menjalankan misi dengan Bakemono sebagai target kami.

"Mereka sungguh menyebalkan! Untung saja kita bisa keluar hidup-hidup dari sarang mereka!" Kata Rin-chan juga ikut kelelahan. Sedangkan Len-kun diam saja, sepertinya setelah ini suaranya akan serak karena sering meneriakkan mantra-nya, kekurangan exorcist tipe perapal mantra ini adalah suara mereka adalah kekuatan mereka. Jika mereka tidak memiliki suara yang kuat maka kekuatan mantra-nya juga tidak maksimal.

"Jadi menurut buku peninggalan ibumu, sang Lucifer itu tidak ada di singgasana-nya?" Tanya Kaito sambil memelankan suaranya. Aku hanya mengangguk, aku sudah menceritakan semua yang aku temukan di rumahku kepada anggota kelompokku, dan aku meminta mereka merahasiakannya karena aku ingin aku sendiri yang membunuh Lucifer di tanganku, sudah menipu semua orang selama 600 tahun terakhir ini, mereka juga membuatku hampir menyaksikan terbunuhnya orangtuaku di depan mataku. Maka dari itu aku harus lebih kuat! Aku harus lebih kuat untuk membunuh Lucifer itu.

"Kami akan membantumu membunuh iblis sialan itu! Dia telah mempermainkan Exorcist seperti mainannya saja." Kata Len akhirnya, sepertinya dia telah memulihkan suaranya.

"Tapi, kita bahkan masih jauh dari para senpai kekuatannya, apalagi Luka-senpai dan kelompoknya yang menjadi kelompok terkuat disini." Kata Rin.

"Bagaimana kalau kita minta Luka-senpai untuk melatih kita sekuat mereka?" Tanya Kaito.

"A-aku masih harus ke rumah, banyak sekali ruangan rahasia disana, dan hanya satu yang aku ketahui, dan 2 lainnya baru aku temukan setelah satu tahun mencari dan dua-duanya hanya berisi trophy dan piagam penghargaan orangtuaku, aku masih belum menemukan sisanya, kata Hiyama-san sih masih ada 10 ruangan tersembunyi lagi, aku yakin pasti orangtuaku telah meninggalkan jejak lainnya untuk kita!" Kataku mantab.

"Kalau begitu bagaimana kalau kita ke rumahnya Miku saja di Rainy Forest! Bukankah sekarang dengan Miku sebagai pemimpin disana, di sana hampir seperti kota-kota besar lainnya loh!" Kata Rin-chan memujiku, aku hanya tersenyum.

"Ide bagus, aku akan beritahu orangtuaku dulu!" Kata Kaito dan Len bersamaan sambil mengambil ponsel mereka masing-masing.

"Aku juga!" Kata Rin-chan, aku pun ikut mengambil ponsel untuk memberitahu Hiyama-san.

"Moshi-moshi, ada apa Ojou-sama?" Kata Hiyama-san.

"Hiyama-san! Teman-temanku akan kesana! Tolong di persiapkan yah segala keperluan untuk orang banyak, dan bersihkan kamar tamu." Kataku.

"Memang siapa yang akan menginap kesini Miku-sama?" Tanya Hiyama-san.

"Kaito, Len dan Rin tentunya! Para senpai-ku tidak mungkin ikut dalam acara ini." Kataku lagi.

"Baiklah, kapan anda akan kemari?" Kata Hiyama-san.

"Hei, kita kesana kapan?" Tanyaku kepada mereka bertiga.

"Sehari setelah pengumuman liburan dong." Kata Kaito dengan ponselnya masih menempel di telinga.

"Terus kita disana berapa hari?" Tanya Rin dengan posisi sama seperti Kaito.

"Seminggu saja cukup, selebihnya kita cari sumber-sumber dari para peraih kemurnian nirvana lainnya." Kata Len juga masih menempelkan ponsel di telinganya.

"Baiklah Hiyama-san, kami akan kesana sehari setelah pengumuman liburan, kelihatannya dua hari lagi!" Kataku kepada Hiyama-san.

"Baiklah, Ojou-sama akan kami persiapkan. Kalau anda dan teman anda berangkat kemari bilang kepada kami lagi." Kata Hiyama-san formal lagi.

"Hiyama-san. Bukankah aku bilang jangan formal! Aku benci itu!" Kataku sambil sedikit marah kepada Hiyama-san.

"Ma-maafkan aku Miku-hime." Kata Hiyama-san. Aku kemudian memencet tombol merah disana sambil kesal.

"Jadi, besok pengumumannya dan lusanya kita ke rumah Miku yah?" Tanya Len. Aku hanya mengangguk.

"Kuharap kalian tidak terlalu aneh dengan suasana disana. Disana tidak seperti di sini loh, semuanya serba dingin walaupun sekarang musim panas, musim dingin apa lagi." Kataku sedikit curcol. Mereka hanya mengangguk paham.

"Miku-chan, kalau tidak salah kakekmu dari ayahmu yang sudah meninggal itu Mikuo Hatsune kan?" Tanya Rin-chan kepadaku.

"Ah iya, aku pernah di ceritakan tentang beliau dari Otou-san, memangnya ada apa dengan Mikuo-Jii?" Tanyaku.

"Aku pernah ke kediaman Luki-san, ayahnya Luka-senpai, katanya kakekmu itu adalah salah satu peraih kemurnian nirvana yang berhasil keluar hidup-hidup, tetapi kakekmu meminta untuk tidak menyebarluas-kan berita itu." Kata Rin-chan.

"Benar juga, aku juga pernah mendengarnya dari Lenka-Baa-san. Katanya sih memang kakekmu adalah salah satu peraih kemurnian nirvana sama seperti almarhum. Artinya! Lenka-Baa-san juga berhasil keluar dari Nirvana juga?" Kata Len-kun.

"Len-kun! Kau ini memiliki garis keturunan sepenting itu masa' kau lupa sih." Kata Kaito sambil sweatdrop.

"Berarti mungkin di rumah Len-kun juga ada petunjuk!" Kataku bersemangat.

"Berarti setelah ke rumah Miku-chan, kita menginap di rumah Lenny?" Tanya Rin-chan. Aku kemudian berfikir-fikir sejenak.

"Kalau kau tidak kerepotan Len-kun." Kataku. Dia hanya tersenyum.

"Kalau tidak salah, bukankah kita semua memiliki keturunan peraih kemurnian nirvana? Aku tidak salah mengajak Miku di kelompok kita!" Kata Kaito sambil menggosok kepalaku.

"Benar juga. Aku kepada Rinto-Baa-san, dan Kaito-kun kepada Akitou Shion! Para kakek dan nenek kita satu kelompok dulu!" Kata Rin-chan kepada kami.

"Lalu yang meneruskan peraih kemurnian hanya anak dari Mikuo Hatsune, sedangkah ayahku lebih memilih untuk tidak mengikutinya karena resiko yang sungguh besar." Kata Len-kun, Kaito pun juga mengangguk. "Ayo kita ke bagian gudang data! Kita lihat apakah benar kakek dan nenek kita satu kelompok dulu. Kalau tidak salah mereka di sekolah ini tahun 19xx kan? Ayo kita cari di tahun itu." Kata Len-kun, kami segera bangkit dari tempat duduk kami dan segera menuju gudang data, gudang data boleh di akses siapapun kecuali di beberapa bagian. Dan kami tidak boleh membawa keluar data-data itu, kami berlari karena tidak sabar dengan kenyataan ini. Kenyataan kalau kami adalah kelompok yang di bentuk karena takdir.

Setelah sampai di sebuah ruangan yang kami maksud, kami segera masuk dan menuju di dokumen siswa tahun 19xx.

"Minna! Aku menemukannya!" Kata Rin-chan, sambil membawa dokumen. Kelompok 10 tertera di atas map itu, sedangkan kami kelompok 8. Kami segera mencari meja di sana dan membacanya.

"Wah, banyak sekali prestasi mereka." Kata Kaito, benar juga di antara para tropi dan penghargaan itu ada milik Jii-san juga.

"Ini dia Lenka-Baa-san saat masih seumuran kita, dia memiliki rambut yang sama denganku!" Kata Len menunjuk gadis yang ada di foto.

"Ini Rinto-Baa-san juga!" Kata Rin menunjuk gadis yang hampir mirip seperti Lenka itu. Tetapi bedanya adalah Lenka berambut panjang dan Rinto berambut pendek hampir seperti laki-laki, yang membuatnya tampak seperti perempuan adalah jepit di poninya, persis seperti Rin-chan. "Dia ternyata hampir mirip denganku." Kata Rin-chan. "Aku tidak pernah melihatnya karena dia sudah meninggal ketika aku bayi, sedangkan foto-foto-nya aku tidak tahu tersimpan dimana." Kata Rin-chan lagi.

"ini Akitou-Jii-san, dia seperti kakakku rupanya." Kata Kaito menunjuk sosok laki-laki yang berambut merah.

"Ini pasti Mikuo-Jii-san, rambutnya hampir mirip denganku, dan Rin-chan benar! Mereka satu kelompok sedari dulu." Kataku tidak percaya akan semua kebetulan ini.

"Apakah ini yang namanya takdir? Kaito-kun yang langsung membawa Miku yang baru masuk hari itu dan masih menyembunyikan identitas sebenarnya, dan ternyata semua memiliki kakek dan nenek yang satu kelompok dahulu? Kita pasti sudah di gariskan." Kata Rin-chan.

"Kurasa itu masuk akal Rinny, lihatlah aku menemukan sesuatu yang menarik." Kata laki-laki berkuncir itu kepada yang lainnya sambil mengeluarkan sebuah buku, dia membukanya dan mencari-cari di halaman. "Lihatlah! Para peraih Nirvana tidak bisa keluar dari lingkaran Reinkanasi, dan para kakek dan nenek kita berenkarnasi menjadi kita?" Tanya Len-kun sambil melihat foto kakek dan nenek kami di foto tua itu.

"Tetapi Len, aku pernah dengar, kalau kita mengetahui siapa kita di kehidupan yang dulu itu sudah melanggar peraturan reinkarnasi? Memang sih kita tidak ingat kita yang dulu, tetapi benarkah ini semua reinkarnasi? Atau hanya garis takdir kita? Lagipula kalau kita memang reinkarnasi dari kakek dan nenek kita, kita tidak mungkin di biarkan mengetahui siapa sebenarnya kita di jaman dulu, bukan? Itu sudah aturan reinkarnasi, hanya orang lain yang boleh tahu kalau kita adalah reinkarnasi siapa." Kata Kaito. "Lihatlah ini, di baris ini, di sebutkan bahwa tidak tentu manusia dapat bereinkarnasi menjadi manusia lagi, bisa jadi mereka menjadi binatang." Kata Kaito lagi.

"Jadi, ini sudah takdir bahwa kita akan di satukan lagi?" Tanyaku kepada Kaito. Kaito hanya mengangguk.

"Sudah tentu ini takdir bukan hal reinkarnasi, kalaupun reinkarnasi, jarak kita terlalu dekat." Kata Kaito lagi. Aku kemudian berfikir dan mulai mengotak atik ponselku.

"Bukankah menurut perputaran reinkarnasi Lucifer, dia sebenarnya sudah terlahir kembali dalam 100 tahun pertama, tetapi dalam waktu 100 tahun setelahnya dia mengumpulkan kekuatan lagi. Jadi sudah 600 tahun Lucifer mengumpulkan kekuatan, kekuatannya akan jauh lebih kuat daripada yang dulu." Kata Kaito. Aku kemudian mengangguk, semuanya sungguh benar.

"Apalagi Otou-san dan Okaa-san bisa keluar hidup-hidup, sama seperti para kakek kita! Artinya, masih ada kemungkinan kalau kekuatan Lucifer masih sama, lalu, yang menjadi pertanyaanku adalah, kenapa terjadi Malam Darah? Sebenarnya apa yang di tunggu dalam Malam Darah itu?" Kataku. Mereka kemudian memikirkannya juga. "Ah, aku merasakan pemikiran ku buntu!" Kataku sambil membenamkan mukaku di lipatan tanganku di meja. Aku merasakan kepalaku di gosok seseorang, setelah aku mengintipnya, ternyata Kaito, dia kemudian tersenyum, sebuah senyuman yang sangat aku sukai.

"Tidak apa-apa, hal itu memang masih menjadi misteri. Omong-omong soal pemikiran buntu, aku jadi lapar." Kata Kaito yang di jawab suara konser dari perut Rin-chan dan Len-kun.

"Bagaimana kalau kita ke kedai pancake yang biasanya aku jadi ingin yang manis-manis." Kataku sambil ikut memegangi perutku yang ikut keroncongan. Akhirnya semuanya pun berjalan menuju luar ruangan data setelah menaruh semua yang kita ambil tadi dan berjalan menuju kantin, kantin di tempat ini lebih seperti Food Court, hampir semua makanan memiliki kedainya tersendiri dan kokinya tersendiri. Hampir seperti ketika kau mengunjungi sebuah mall besar dan berada di Food Court di sana.

"Kantinnya sedikit sepi yah?" Tanya Len-kun.

"Banyak yang belum kembali dari misi-nya Len-kun, ini kan misi terakhir sebelum liburan musim panas." Kataku.

"Jadi, kita akan Tour rumah nih ceritanya?" Tanya Rin-chan tiba-tiba.

"Benar juga, seminggu pertama kita ke rumahnya Miku, seminggu setelahnya ke rumahnya siapa?" Tanya Kaito.

"Kalian putuskan saja sendiri, toh aku bebas." Kataku memandangi menu yang menggiurkan disana, setelah misi memang enak untuk langsung mengisi perut.

"Baiklah, kita Jan-ken-po saja." Kata Len-kun sambil mengulurkan tangan kanannya, aku langsung memegangi tangannya itu.

"Pesan dulu, lihat, antriannya sudah banyak loh." Kataku, mereka bertiga langsung melihat ke belakang mereka dan benar, sudah ada antrian di sana. Setelah memesan dan mengambil nomor, kami kemudian mencari tempat duduk yang nyaman untuk kami, sebuah tempat duduk berisi empat orang di dekat jendela di lantai 5 gedung sekolah ini.

"Baiklah, ayo kita jan-ken-po untuk memutuskan siapa yang selanjutnya!" Kata Len-kun lagi, Rin-chan dan Kaito kelihatan sangat bersemangat dengan acara ini, semoga saja kami bisa lebih menemukan petunjuk lagi. Aku yang duduk di samping cendela itu melihat beberapa anak mulai memasuki kawasan sekolah, rumah-rumah kecil tempat tinggal para murid dan guru di sini terletak di belakang gedung sekolah ini. Kemudian ada sebuah tangan melambai di hadapanku yang membuatku kaget. Ketika aku menoleh ternyata Kaito.

"A-ada apa Kaito?" Tanyaku.

"Kau sedang melamun yah?" Tanyanya, aku hanya menggeleng. "Jangan bohong deh, kalau kau tidak melamun, coba beritahu aku siapa yang kebagian giliran setelah ke rumahmu?" Tanya Kaito lagi, akhirnya aku menyerah, aku tidak tahu hasil Jan-ken-po tadi. "Tuh kan melamun lagi." Kata Kaito sambil mencubit pipiku pelan.

"Setelah Mi-chan, kita ke rumahku Yeay! Kemudian ke rumah Kaito-kun dan terakhir ke rumah Lenny." Kata Rin-chan dengan senang hati menjelaskan kepadaku.

"Jangan mengeluh ya kalau rumahku lebih kecil daripada kalian." Kataku kepada mereka, mereka hanya mengangguk, dan pesanan kami akhirnya datang juga, kami pun memakannya dengan diam, salah satu ciri khas tata cara makan di keluarga bangsawan. "Minna, Gomenasai, aku rasa aku sedikit tidak enak badan, aku akan kembali ke rumahku dulu." Kataku sambil memegangi leherku dan pergi dari bangku mereka.

"Akan aku temani. Maaf yah, Rin, Len, aku akan mengantar Miku dulu." Kata Kaito sambil menyusulku, dia kemudian merangkul leherku dengan tangan kanannya.

"Haduh Kaito, jangan seperti ini." Kataku menyingkirkan tangannya dari atas pundakku, kepalaku mulai pusing.

"Tidak apa-apa kan Miku, lagipula memang salah memeluk kekasihku ini?" Tanyanya, aku hanya menjawab dengan menggeleng. Dia kemudian kembali merangkul leherku. Padahal tadi badanku masih biasa-biasa saja. Kenapa sekarang rasanya kepalaku pusing sekali dan badanku mulai terasa remuk sekali. Padahal misi tadi tidak sampai menguras tenaga-ku. Apa yang terjadi denganku? "Ada apa Miku?" Tanya Kaito kepadaku.

"Aku rasa aku hanya kecapaian Kaito, tidak ada apa-apa kok." Kataku. "Aku hanya merasa ada yang aneh dengan lingkaran reinkarnasi itu Kaito." Kataku.

"Jangan terlalu di pikirkan dulu, nanti saja ketika kau sudah sehat baru pikirkanlah soal itu." Kata Kaito sambil menggosok kepalaku dengan tangan yang tadinya memeluk leherku.

-skip time-

"Jadi, memang ada yang aneh dengan lingkaran reinkarnasi itu?" Tanyaku kepada bayanganku sendiri di kaca. Aku telah menjelaskan semua yang aku dengar itu kepada diriku yang lain.

'Benar sekali, aku merasa, bukan kakek mu yang bereinkarnasi menjadi dirimu, orang yang bereinkarnasi menjadi dirimu adalah orang yang memiliki kekuatan yang sama denganmu, dan memiliki waktu lebih lama dari beberapa puluh tahun. Aku bisa merasakannya.' Kata Mikuri, kini aku menamainya menjadi Mikuri.

"Ada apa Mikuri-chan? Kau merasakan sesuatu yang buruk?" Tanyaku melihat raut muka Mikuri-chan.

'Entahlah, aku juga tidak tahu Miku-chan, aku merasakan hal aneh. Kelihatannya setelah kau sampai ke rumahmu kau tidak akan bisa berkeliling bersama mereka dulu untuk satu atau dua hari.' Kata Mikuri sambil mengigit kuku ibu jarinya.

"Baiklah, akan aku ingat-ingat Mikuri-chan." Kataku.

'Entah mengapa aku merasakan telah menjadi temanmu sudah 600 tahun yang lalu, padahal aku baru tercipta saat kau berumur 10 tahun. Rasanya sudah lama aku mengenalmu Miku-chan.' Kata Mikuri-chan, aku kemudian menghela nafas.

"Jadi setiap kekuatan pada jaman dahulu masih ada sampai sekarang?" Tanyaku. Mikuri-chan hanya mengangguk.

'Rin-chan bisa melihat masa lalu, Len-kun adalah perapal mantra terkuat di angkatan ini, Kaito juga dengan kemampuan analisisnya yang luar biasa, Luka-senpai bisa melihat kebohongan, aku merasa sudah sering melihat mereka dulu.' Kata Mikuri-chan, aku sedikit terkejut mendengar yang terakhir.

"Tunggu kau juga melihat Luka-senpai yang bisa melihat kebohongan?" Tanyaku, Mikuri-chan hanya mengangguk.

'Miku, ini mungkin sedikit berbahaya, tetapi, bisakah kau melepaskanku di Danau Tahun? Aku merasa danau itu menjadi saksi banyak sekali peristiwa, kita memang belum pernah mencoba di air, tetapi apa salahnya mencoba, aku yakin aku pasti bisa melakukan penjelajahan disana.' Kata Mikuri-chan. Aku sedikit ragu. 'Miku-chan, jangan ragu, ayo! Ini untuk kebebasan kita, apa kita bisa mengulang beberapa tahun lagi untuk mengalahkan Lucifer?' Tanya Mikuri-chan, akhirnya aku hanya mengangguk dan menyentuh kaca itu Mikuri-chan sudah kembali ke dalamku. Aku mencari Air Board milikku dan meluncur menuju danau tahun. Air Board seperti Skateboard kebanyakan, tetapi dia melayang di udara.

Setelah sampai aku mulai memandangi Danau Tahun itu.

"Kau yakin Mikuri-chan?" Tanyaku.

'Seratus persen yakin Miku-chan, tetapi mungkin menyelami danau tahun akan memerlukan sedikit tenaga, aku akan segera kembali begitu kau merasa kehabisan tenaga, tenang saja.' Kata Mikuri-chan, akhirnya aku berjngkok di tepian danau dan melihat bayanganku disana, aku kemudian menyentuhkan tanganku di air di sana dan Mikuri-chan langsung terlepas disana. 'Aku akan menyelam dulu untuk meraih informasi, kau tunggulah di tepian.' Perintah Mikuri-chan kepadaku, wujudnya berubah seperti putri duyung. Aku merasakan badanku sedang berenang tetapi aku kemudian merasakan silau. Ada apa? Kemudian sebuah informas mengalir di kepalaku.

Danau Tahun sebenarnya adalah danau sihir dimana airnya adalah air penangkap riwayat hidup, setiap orang yang kemari akan otomatis akan terekam semua riwayatnya, danau ini terbentuk dari air mata sang penemu Exorcisme yang selalu tersiksa akan perkataan orang-orang kalau dia orang gila yang hanya menghayal, sekarang, sudah berabad-abad berlalu semenjak kejadian itu, sebelum kematiannya, dia bersumpah danau ini akan menjadi saksi hidup perjalanan Exorcist di muka bumi. Dan hanya exorcist dengan kemampuan sepertiku yang bisa menemukan kebenaran yang di cari lewat danau ini. Setiap generasi memiliki satu yang seperti ini dan generasi sebelumku, Merli-senpai.

Aku merasakan otakku mau meledak atas semua informasi itu.

"Mikuri-chan! Aku tidak bisa melakukannya lagi!" Kataku.

'Cepat sentuh airnya! Agar aku bisa kembali, semakin aku di sini semakin banyak informasi yang aku serap! Ayo Miku-chan!' Kata Mikuri-chan lewat pikiranku. Aku merangkak ke arah danau dan segera menyentuh air disana, semuanya terasa memenuhi otakku sekarang ini.

"Haaah, Haahh, jadi kita harus bertemu Merli-senpai?" Tanyaku kepada Mikuri-chan.

'Tidak di ragukan lagi, sebenarnya informasi yang aku dapatkan lebih banyak lagi, tetapi aku menyimpannya di memoriku, karena kalau aku menaruh semuanya kepadamu, kepalamu akan meledak dan kau akan mati, maka dari itulah, hanya orang dengan kekuatan seperti kita yang bisa menggali informasi dari sini, semuanya langsung berada di sekelilingku semua fakta itu! Akan aku beritahu kau Miku-chan, tenang saja, dan menurut informasi bila kekuatan kita sama-sama di taruh di kaca atau air yang sama, kita bisa saling membaca pikiran orang itu. Tetapi hanya yang diinginkan saja.' Kata Mikuri-chan, aku hanya berbaring menatap langit yang cerah itu menunggu pusingku mereda. Setelah reda, aku langsung berlari menuju rumah Merli-senpai.

"Hhhmm.. jadi kau juga memiliki kekuatan yang sama yah denganku, Merliana juga mengatakan kepadaku sih, memang siapa punyamu?" Tanya Merli-senpai sambil menyentuh kaca besar di dekat kursinya, dan muncul sesosok orang persis sama seperti Merli-senpai.

"Namanya, Mikuri." Kataku sambil ikut menyentuh kaca itu dan mereka berdua berada di sana. Merli-senpai seperti mendapat sesuatu yang mengejutkan.

"Miku-chan, jangan coba-coba menaruh kekuatanmu di Danau Tahun! Itu berbahaya Miku! Beruntung Mikuri-chan bisa mengendalikan informasi berhenti di dirinya, kalau semuanya mengalir ke kepalamu? Kita memang bisa menyerap semua informasi itu, tetapi banyak sekali informasi di saat bersamaan bisa membuat kepalamu pecah Miku-chan!" Kata Merli-senpai kepadaku. Aku hanya mengangguk.

"Maafkan aku Merli-senpai, aku tidak tahu." Kataku sambil menunduk, aku bisa merasakan Merliana-senpai juga memarahiku.

"Informasi soal yang kelompokmu selidiki itu penting, tetapi jangan lalaikan keselamatanmu, Yuuma saja bila mengetahui aku melakukan hal itu dia sangat memarahiku, aku juga pernah melakukan apa yang kau lakukan, tujuannya sama, dan ini yang aku dapat." Kata Merli-senpai memperlihatkan sebuah foto kepadaku.

"I-ini Senpai?" Tanyaku.

"Iya, itu kelompokku 180 tahun yang lalu, aku mengambilnya dari dokumen di ruang dokumen, jangan bilang siapa-siapa yah." Kata Merli-senpai, memang benar, foto di sana memperlihatkan kelompok Merli-senpai dengan pakaian jaman dahulu. "Ketika semua terkuak, berarti garis reinkarnasi kita akan terputus sampai ini, lumayan melelahkan kau tahu mengulang setiap 200 tahun selama 600 tahun, artinya kau sudah 3x di bangkitkan." Kata Merli-senpai.

Aku menatap foto itu lama dan mengembalikannya kepada Merli-senpai.

"Apakah kejadian seperti ini pernah terjadi?" Tanyaku. Merli-senpai hanya mengangguk.

"Dari pertama kali manusia menjadi peradaban dan sang penemu exorcisme pertama kali lahir, sudah 3 kali, termasuk saat sang penemu itu lahir kedunia. Dia gagal di Malam Darah dan voila, dia mengulang lagi 200 tahun setelahnya. Aku mengetahuinya dari danau tahun." Kata Merli-senpai.

"Baiklah Merli-senpai, terima kasih atas informasinya!" Kataku sambil menyentuh kembali kaca itu dan Mikuri-chan kembali kepadaku lagi dan meninggalkan rumah Merli-senpai, jadi kelompok Merli-senpai juga mengulang..

.

.

.

TBC

Holaaa.. Clara kembali-desu, bertele-tele kah chapter yang ini-desu? Habisnya Clara bingung gimana supaya kasusnya tambah greget-desu.. Maaf telat-desu, akhir-akhir ini yang selalu hujan membuat Clara sedikit pilek-desu(curcol).. apalagi tinggal di pegunungan itu ngebuat suasana tambah dingin semua-desu.. akhir kata.. RnR nya-desu.. (^_^)

Balasan review

Fujita Mari : Gomenasai-desu kalau chapter kemaren bertele-tele-desu, semoga yang ini tidak terlalu bertele-tele-desu, semoga Mari-chan suka-desu.. terus baca karya Clara yah.. (^_^)