.
I'm Not Four Years Old Anymore, Hyung!
.
Author : syubsyubchim
.
Cast :
Park Jimin X Min Yoongi
Slight!BTS
.
Rate : T
.
NOTE :
YAOI! BOYXBOY! TYPOs! Review Juseyo
.
.
.
Setelah berpamitan dengan teman-teman dan keluarganya, Yoongi segera melangkah menuju mobilnya. Yang ada di pikirannya saat ini hanya melajukan mobilnya secepatnya menuju sekolah mereka. Kenapa sekolah? Entahlah, hanya itu yang ada di pikiran Yoongi mengingat kata 'beberapa bulan terakhir' di surat Jimin.
Yoongi sudah melepaskan seluruh atribut sarjananya. Saat ini Yoongi hanya mengenakan kemeja biru tuanya dan celana kain hitam. Yoongi tidak mau dikira gila dan mendapat bisikan-bisikan menyebalkan tidak jelas tentang dirinya.
Sepi.
Tidak ada siapa-siapa di sekitar sekolah, tidak ada mobil lain yang terparkir di parkiran. Apa Jimin benar-benar ada disini? Apa bocah menyebalkan itu hanya mengisengnya saja? Yoongi bersumpah akan memisahkan bagian tubuh Jimin untuk dihidangkan pada anak anjing haraboji di depan rumah mereka kalau Jimin benar-benar mengerjainya saja.
Dan benar saja, tidak ada siapa-siapa setelah Yoongi sampai pada ruang kelas Jimin. Ruang kelas itu kosong. Tidak menunjukan adanya kehidupan apapun bahkan setelah Yoongi mengecek dan mengobrak-abrik ruang kelas itu. Diatas meja, dibawah meja, di dalam laci, meja guru, sudut ruangan, belakang papan tulis yang hampir copot, lemari kecil di belakang kelas, tapi hasilnya sama saja, nihil.
Yoongi berdecak kesal, lalu memutar otaknya sekali lagi. Mungkin saja maksud Jimin adalah ruangannya dan Seokjin beberapa bulan terakhir ini saat mereka berdua magang. Tapi ruangan itu seharusnya sudah kosong mengingat dirinya dan Seokjin yang sudah menyusun barang-barang mereka untuk dibawa pulang Jumat lalu. Dan Yoongi dapat memastikan ruangan itu sudah terkunci karena baik Yoongi maupun Seokjin tidak lagi memiliki hak untuk menyimpan kunci ruangan itu.
Tapi tidak ada salahnya mencoba, kan? Lagi pula Yoongi tidak menemukan apapun di ruang kelas Jimin yang menandakan bukan ruangan itu yang dimaksud Jimin. Dengan langkah tergesa, Yoongi berlajan menuju ruangannya hanya untuk mendapati ruangan itu gelap dan terkunci. Yoongi mendengus kesal dan mengumpat kecil. Langkah terakhir yang dilakukannya adalah menghubungi bocah menyebalkan itu.
Satu nada sambung.
Yoongi berdecak tidak sabar.
Dua nada sambung.
"Sial, kau sebaiknya segera mengangkat, bocah."
Tiga nada sambung.
"Persetan dengan se-"
"Halo, hyung."
"Ya, bocah. Kau dimana?"
Terdengar kekehan kecil diujung sana. "Dihatimu tentu saja, hyung."
Yoongi berdecak kesal dan mengerucutkan bibirnya, tanpa sadar ikut menghentakkan kakinya ke lantai. Jimin akan mimisan dalam jumlah banyak kalau melihat kejadian ini secara langsung. "Ish, aku sedang serius, Park Jimin!"
"Tentu saja rahasia, hyung. Hyung harus mencari tahu sendiri dari kode-kode yang aku berikan. Memangnya hyung sedang dimana?"
Yoongi terlihat berfikir sejenak. Kode-kode katanya? Berarti masih ada lagi kode yang diberikan Jimin setelah ini? Oh, ayolah, baru kode yang pertama saja Yoongi sudah lelah. Bagaimana dengan kode-kode selanjutnya? Yoongi tidak akan menyukai ide ini.
"Aku sedang berada di High School dan tidak menemukan apa-apa. Jadi, kau dimana?"
Terdengar jeda sejenak dan tawa Jimin kemudian yang membuat Yoongi bersumpah akan memutus sambungan telepon mereka kalau Jimin tidak segera menghentikan tawanya. "Apa tidak ada tempat lain selain sekolah di dalam benakmu, hyung?"
Kening Yoongi berkerut, "Kamarku, Jimin?"
Jimin menggeleng di sebrang telepon, tapi begitu menyadari Yoongi yang tidak bisa melihatnya, buru-buru Jimin menjawab, "Ah, kita akan bersama di dalamnya setelah kamarmu dan sebelum tiba disekolah."
Alis Yoongi menyatu bingung, terlihat berfikir sejenak, lalu menjentikan jarinya, "Maksudmu mobilku?"
Tawa Jimin kembali terdenger, kali ini lebih terdengar seperti tawa gemas yang puas. Persis seperti tawa Jimin setelah berhasil mengisengi Yoongi dan membuat kedua pipi pucatnya menggembung lucu. "Ya, hyung. Kupikir kau akan langsung mendapatkan maksudku setelah membaca pesanku."
Yoongi berdecak untuk yang kesekian kalinya dan melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir sendirian di parkiran sekolah. "Jangan matikan sambungannya. Aku sedang menuju ke mobilku."
"Ah, tapi kau harus menyelesaikan teka-teki kejutan ini sendirian, sayang."
"Jangan diputus atau aku tidak akan mengikuti teka-teki permainan bodoh ciptaanmu ini, bocah."
Dan tentu saja ancaman itu sukses membuat Jimin mengangguk patuh di sebrang sana. Dan meskipun Yoongi tidak mendengar apapun, namja pucat itu yakin Jimin tidak akan berani memutus sambungan telepon mereka.
Yoongi membuka pintu mobilnya. Pintu penumpang di belakang kemudi karena Yoongi yakin tidak ada apapun di bagian depan mobilnya. "Ya, Jimin. Aku tidak menemukan apapun disini. Sebenarnya dimana kau menyembunyikannya?"
Jimin mengehela nafas pelan di sebrang sana. Harusnya Yoongi memecahkan clue-clue yang dibuatnya sendiri. Kenapa sekarang Yoongi malah bertanya, oh lebih pada memaksanya memberi tahu jawabannya secara verbal?
"Bagian bagasi, hyung. Coba periksa."
Yoongi hanya mengangguk dan melangkah keluar untuk menuju pintu bagasinya. Dan benar saja, Yoongi menemukan sebuah kotak berwarna hitam yang dihias menyerupai wajah karakter animasi Jepang kesukaannya, Kumamon. Senyum Yoongi merekah sambil mengusap lembut permukaan kotak yang belum dibukanya.
"Kau menyiapkann ini sendirian, Jimin?"
Terdengar 'hum' pelan di sebrang sana.
"Ini sangat lucu, kau tahu. Aku begitu menyukainya. Terima Kasih."
"Aku senang kau menyukainya, sayang. Sudah dibuka?"
Yoongi menggumamkan 'belum' dan mengapit ponselnya diantara bahu dan telinga, memudahkannya untuk mengecek isi dari kotak Kumamon buatan Jimin. Yoongi merasakan maniknya basah dan wajahnya memanas.
'365 Things Jiminie Loves About Yoongie'
Begitulah judul yang tertulis di bagian depan buku berukuran 20 cm x 20 cm itu. Dari bagian luarnya yang terlihat sangat berantakan saja Yoongi tahu bagaimana Jimin menghabiskan banyak waktunya demi membuat buku itu. Ya, Yoongi yakin buku itu seratus persen handmade dari seorang Park Jimin.
"Jim.." Yoongi memanggil pelan, membuka lembar pertama buku penuh cinta seorang Park Jimin terhadap Min Yoongi.
'Your smile. Your gummy smile are the sweetest thing I've ever seen in my life.'
"Ya, sayang?"
Lembar kedua.
'Your lips. Especially when I steal a kiss on your sleep."
"Ini sangat indah. Aku sangat menyukainya. Terima Kasih Jimin-ah."
Jimin kembali tersenyum. Sangat lebar, bahkan kalau Tuhan memperbolehkan bibirmu robek karena tersenyum terlalu lebar, maka bibir Jimin sudah dipastikan robek saat ini. "Ya, sama-sama, hyung."
Lembar ke tujuh.
'Your hair. It fits errcolour you paint it.'
Merasa diabaikan, Jimin mencoba menyadarkan Yoongi. "Kau bisa membaca buku itu nanti, hyung. Aku tidak akan merebutnya darimu, tidak akan ada orang yang merebutnya. Tapi saat ini yang harus kau lakukan adalah menemuiku, Yoongi-ah."
Yoongi seakan tersadar saat hendak membuka lembar ke dua belas. Pandangannya beralih pada buket bunga Callla Lily di sebelah kotak Kumamonnya. Yoongi kembali menemukan surat berwarna putih yang terikat di ujung buket bunganya.
Hai Yoongi-ah
Kau menyukai buku yang aku buat, sayang? Aku tahu buku itu sangat berantakan dan jauh dari kata sempurna, jadi aku minta maaf. Hehe. Bagaimana dengan buketnya? Kuharap kau tidak akan lelah menerima beberapa buket dariku hari ini.
Apa kau masih ingin kupeluk dan kuangkat berputar di udara sebagi tanda kelulusanmu, sayang. Kalau begitu segeralah menemuiku.
CLUE 2 : Aku dan Jungkook.
Kening Yoongi kembali mengerut bingung. Dirinya dan Jungkook? Hanya ada beberapa tempat di benak Yoongi saat ini, ruang latihan menari di dalam gedung sekolah dan juga restoran tempat Jimin bekerja. Tapi setelah Yoongi mendapati sekolah yang sepi seperti ini, pilihan kedua terdengar lebih menjanjikan.
Yoongi baru saja ingin bertanya pada Jimin melalui sambungan telepon mereka hanya untuk mendapati Jimin telah memutus sambungan telepon mereka secara sepihak. Yoongi hampir saja berdecak kesal kalau tidak menemukan Jimin meninggalkan sebuah pesan foto di sosial medianya.
Yoongi mencoba menerka-nerka posisi Jimin saat ini dengan latar belakang dari foto yang dikirim. Yoongi hanya melihat dominan warna putih dan coklat, juga beberapa sentuhan hijau, tapi Yoongi tidak bisa memprediksikan lokasi Jimin saat ini. Bibir Jimin maju beberapa senti dengan mata yang tertutup, seperti mengirimkan sebuah kecupan semangat untuk Yoongi. Manik Yoongi beralih pada pesan yang Jimin tinggalkan.
'Hwaiting, sayang! Aku tidak sabar untuk menunjukan hadiahku padamu!'
Yoongi hanya terkekeh kecil dan menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya, lalu membenahi kotak Kumamonnya dan mengambil buket bunga Lilynya untuk ditaruh di kursi depan.
Yoongi menjalankan mobilnya menuju restoran eomma Jungkook. Dirinya tidak berharap menemukan Jimin disana, karena sepertinya ini akan menjadi hari yang panjang untuk Yoongi. Yoongi menarik ucapannya beberapa saat lalu yang mengatakan Yoongi tidak akan menyukai ini, karena saat ini Yoongi benar-benar menikmati permainan bodoh yang diciptakan oleh Jimin.
.
.
.
TRING~
"Annyeonghaseyo," Yoongi melangkahkan kakinya perlahan kedalam restoran. Keadaan restoran sedang sepi, mengingat jam makan siang sudah lewat beberapa saat lalu. Hanya ada dua meja yang diisi oleh sepasang kekasih yang terlihat belajar bersama dan remaja wanita yang sedang melakukan obrolan ringan.
"Ah, Yoongi-ah, akhirnya kau sampai juga sayang," ibu Jungkook datang menghampiri Yoongi dan memeluknya singkat, lalu memberikan kecupan di pipi kanan Yoongi, "Selamat atas kelulusanmu, Yoongi-ah. Sekarang, duduklah."
Yoongi hanya mengangguk menggumamkan 'Terima Kasih' dan mengikuti ibu Jungkook yang membawanya ke tempat favoritnya saat mengunjungi kafe. Meja di sudut kafe yang mendapatkan pemandangan langsung kearah pintu dapur, posisi dimana Jimin berdiri menunggu tamu memerlukan bantuannya.
"Tunggulah sebentar disini," setelahnya, ibu Jungkook melangkah kedalam dapur, meninggalkan Yoongi yang bertopang dagu di mejanya. Sepertinya tebakannya kali ini tepat sasaran karena ibu Jungkook kedengaran seperti menunggu kedatangannya.
Manik Yoongi terbelak sempurna dan tubuh mungilnya bangun dengan semangat dari tempat duduknya saat gumpalan berwarna hitam favortinya menampakan wujudnya dari balik dapur, "KUMAMON!"
Pekikan Yoongi membuatnya mendapatkan atensi dari para tamu di dalam restoran. Terdengar umpatan kecil dari sepasang kekasih yang sedang belajar bersama beberapa saat lalu dan kumpulan remaja wanita yang berusaha tidak peduli dan kembali melanjutkan obrolan mereka.
Kumamon, beruang hitam dengan wajah bodoh itu melambai senang kearah Yoongi, lalu membawa senampan potongan besar cheesecake kearah Yoongi, dengan sebuket bunga Calla Lily yang lain yang Yoongi yakin memiliki surat pada ikatannya di ujungnya.
"Silahkan dinikmati, seonsaengnim."
Okay, katakan orang yang berada dibalik Kumamon itu bodoh karena Yoongi mengenal begitu saja siapa yang sedang menyamar menjadi Kumamon didepannya saat ini. Hanya ada seseorang yang mungkin memanggilnya seonsaengnim, berada di dalam restoran orang tua Jungkook dengan mudahnya dan menjadi bagian dari rencana kekanakan Park Jimin. "Terima Kasih Taetae-ah. Tapi kau boleh membuka kostum itu kalau tubuhmu kepanasan."
Dan benar saja. Begitu Taehyung meletkan nampannya diatas meja Yoongi, topeng kepala Kumamon dilepasnya begitu saja, menampilkan wajah bodoh Taehyung yang tersenyum kotak dengan peluh yang membuat poninya sedikit basah. "Hehe, ketahuan deh."
Jungkook yang menyaksikan langsung dari balik jendela dapur menghela nafas pasrah dan melangkahkan kakinya keluar dapur menuju meja Yoongi. Kekasihnya memang tidak bisa diandalkan, tapi Jungkook juga tidak mau berpanas-panasan di dalam boneka itu. Apalai tidak boleh berbicara karena Yoongi akan langsung mengenali suaranya, jadilah Taehyung yang mendapatkan peran itu. Tapi malah ketahuan begitu saja.
"Hai, hyung."
Yoongi melambai kecil kearah Jungkook dan menyuruh kedua sejoli itu duduk untuk menemaninya menghabiskan cheesecake potongan jumbo yang baru saja Taehyung bawakan. "Jadi, Jimin adalah otak dari semua ini?"
Kedua bocah itu mengangguk. taehyung masih sibuk mengipasi dirinya karena belum juga melepas kostum berat berwarna hitam itu dari tubuhnya. Yoongi yang kasihan melihat keadaan Taehyung akhirnya menyuruhnya melepas kostumnya. Meskipun Yoongi sebenarnay ingin menyantap cheesecakenya dengan sebuah Kumamon dihadapannya, tapi membiarkan Taehyung kepanasan juga bukan hal yang benar.
Mereka bercakap ringan, membicarakan tentang kelanjutan sekolah Taehyung di universitas dan juga Yoongi yang akan melanjutkan pekerjaannya entah dimana. Yoongi sih ingin melanjutkan pekerjaannya sebagai produser lepas atau seorang guru taman kanak-kanak. Memang berbanding terbalik dan sangat jauh, tapi menjadi produser adalah impiannya sejak High School dan mengajar anak-anak yang imut dan menggemaskan adalah keinginginan dadakannya yang terasa sepert ngidam seorang ibu hamil. Jadi Yoongi rasa kedua piliha itu tidaklah buruk.
Selesai menghabiskan cheesecakenya, Yoongi pamit dan melangkah menuju mobilnya. Dengan buket bunganya, tentu saja. Setelah masuk kedalam mobilnya, Yoongi membaca kertas kecil yang berisikan rangkaian tulisan berantakan Jimin.
Hai Yoongi-ah.
Apakah kau menikmati cheesecake buatanku? Maaf kalau rasanya aneh dan tidak seenak yang biasa kau nikmati. Aku baru mempelajarinya semalam dari bibi Jeon. Hehe. Aku akan berlatih membuat cheesecake lebih sering agar kau bisa menimkatinya lebih sering juga. Ah, sekarang, cepat temui aku. Aku sudah tidak sabar.
CLUE 3 : Cek ponselmu, hyung. Aku meninggalkan sebuah pesan.
Yoongi melipat kembali suratnya dan meletakan buketnya bersama dua buket lainnya. Lalu mengecek ponselnya dan mendapati Jimin yang meninggalkan sebuah pesan. Saat membuka pesan itu, kening Yoogi mengerut sesaat. Jimin seperi mengirimkan sebuah alamat website, atau kalau boleh Yoongi sebut setelah membacanya dengan seksama, seperti lokasi suatu tempat yang dapat diakses dari GPS.
Yoongi tersenyum senang dan mengaktifkan GPS mobilnya. Tentu saja dia senang, Yoongi tidak harus memutar otaknya lagi kali ini, Jimin dengan senang hati mengirimkan sebuah lokasi yang tinggal diikutinya sesuai dengan arahan GPS dan tidak harus memutar otaknya menebak dimana Jimin berada. Dan juga mengurangi kemungkinan kesalahan tempat. Yoongi tidak menyukai itu.
Yoongi memperlambat laju mobilnya saat jarak di GPS menunjukan lima ratus meter menuju lokasi yang dimaksud Jimin. Lalu maniknya kembali menyipit binyung saat berhenti tepat di sebuah toko bunga berwarna putih di sudut jalan. Hari sudah mulai gelap dan jalanan di sekitar juga sudah mulai sepi. Yoongi membawa seluruh buket bunga dan juga kotak pemberian Jimin dan melangkah dengan ragu menuju ke dalam toko bunga itu.
Yoongi mengetok tiga kali. Tidak ada jawaban. Dengan helaan nafa berat, Yoongi membuaka knop pintu dan mendorongnya pelan, "Jimin, kau di dalam?"
Tidak ada jawaban, Yoongi membenci ini. Yoongi tidak suka kegelapan dan Yoongi ingin Jimin saat ini. Semakin Yoongi melangkah kedalam, semakin gelap ruangan itu menjadi. Yoongi mempererat cengkramannya pada buket bunga dalam pelukannya. "Jimin.." dna kembali mendesis memanggil nama Jimin.
CLICK!
Yoongi sukses menutup maniknya saat sinar silau mendadak menerangi ruangan toko bunga itu. Belum sempat Yoongi membuka maniknya untuk menganalisa ruangan, Yoongi sudah merasakan sebuah lengan melingkari pinggang sempitnya dan membawa tubuhnya memutar.
"Selamat atas kelulusanmu, sayang."
Yoongi terkekeh saat mendengar suara itu, lalu memeluk lengan kekar yang melingkari pinggangnya.
Saat tubuh Yoongi mendarat kembali ditanah, Yoongi langsung memeluk tubuh didepannya erat-erat, seakan kalau Yoongi melepaskannya tubuh itu akan menghilang begitu saja. "Terima Kasih, Jiminie."
Jimin tersenyum gemas saat kekasih gulanya tiba-tiba memeluknya, dengan perlahan Jimin mengusap punggung Yoongi dan mendaratkan banyak kecupan kupu-kupu pada helaiannya. "Ya, apapun untukmu, sayang."
Jimin pikir Yoongi akan menyudahi pelukan mereka setelah beberapa saat. Namun sampai saat ini Yoongi tidak ada niatan sama sekali untuk melepaskan pelukan mereka. Jimin terkekeh kecil dan berbisik di telinga Yoongi, "Hey, kejutan yang lain meunggu di meja makan."
Yoongi menjauhkan wajahnya dari dada Jimin dan mendongak, "Meja makan?"
Belum selesai Yoongi mencerna ucapan Jimin, tubuh mungilnya kembali terangkat ke udara. Jimin menggendongnya seperti pengantin baru yang membuat Yoongi mau tidak mau mengalungkan lengannya di sekeliling leher Jimin sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah. Tapi Yoongi suka Jimin memeperlakukannya seperti ini. Klise, seperti putri dongeng di buku cerita anak TK.
Jimin mendudukan tubuh mungil Yoongi di depan meja makan yang menyajikan dua piring steak ayam dengan sebotol wine tahun 1982. Setelahnya, Jimin mengelilingi meja dan mendudukan diirnya di depan Yoongi. Melihat Yoongi yang tidak menunjukan pergerakan apapun, Jimin mengambil inisiatif untuk memotong potongan kecil dan menyuapkannya untuk Yoongi, "Makanlah, hyung. Kau belum makan sejak siang, kan?"
Yoongi hanya mengangguk dan membuka mulutnya, membiarkan potongan kecil itu masuk kedalam mulutnya. Saat Yoongi mengunyak potongan daging itu, Jimin mengamatinya dengan seksama. Memperhatikan setiap gerakan alis dan otot wajah yang dibuat Yoongi, "Bagaimana rasanya?"
Yoongi mengangguk singkat, "Tidak buruk, kau memasakanya untukku?"
Dengan malu Jimin mengangguk.
Tanpa Jimin sadari, Yoongi sudah meraih sebelah lengannya dan membawa kedepan wajah Yoongi, "Memasaknya sendiri sampai melukai jari-jarimu seperti ini?"
Wajah Jimin terlihat panik untuk sesaat, lalu menggaruk pipinya dengan jari telunjuk dan mengangguk singkat, "Ternyata memfillet daging ayam itu susah, hyung," tanpa sadar Jimin merengek pada Yoongi.
Yoongi tertawa pelan, lalu membawa jari Jimin untuk dikecup, "Terima kasih, Jimin. Sungguh, kau tidak perlu bebuah sejauh ini untukku."
Buru-buru Jimin menggeleng, "Ini masih bukan apa-apa, hyung. Tidak ada yang terlalu berlebihan kalau itu untukku."
Oh, seseorang tolong tmpar Yoongi sampai sadar kalau ini hanyalah sebuah fantasi. Sungguh, Yoongi merasa begitu dicintai saat ini. Bolehkan waktu berhenti untuk sejenak dan membiarkannya berdua dengan Jimin dalam keadaan seperti ini?
"Kau berlebihan, Jimin. Sungguh."
Jimin hanya tersenyum kecil dan menggeleng, tidak mencoba membalas argumen Yoongi karena untuknya itu tidak penting. Membahagiakan Yoongi dalam bentuk apapun tidak pernah menjadi sesuatu yangberlebihan untuknya. Meskipun Yoongi mnengatakan itu berlebihan, biarlah Jimin menyimpan argumennya untuk dirinya sendiri.
"Ayo, dimakan steaknya, hyung."
.
.
.
Setelah mengahabiskan makan malam dan menikmati wine diselingi obrolan ringan, Jimin bangkit dari mejanya, melangkah menuju pemutar musik di sudut ruangan. Yoongi hanya mengamati Jimin pergerakan Jimin. Setlah musik mengalun memenuhi ruangan, Jimin melangkah kehadapannya, bertumpu pada lututnya dengan sebelah tangan terulur kearah Yoongi, "Berniat berdansa denganku, Yoongi?"
Yoongi terlihat ragu, dirinya payah dalam hal menari dan langkah kaki rumit dalam dansa bukanlah ide yang baik jika dilakukan secara tiba-tiba. "Tapi, aku tidak bisa berdansa, Jimin."
"Aku akan menuntunmu."
Itu terdengar meyakinkan. Terlalu meyakinkan sampai Yoongi seolah terhipnotis dan menyerahkan sebelah lengannya bertaut dengan lengan Jimin. Jimin melingkarkan sebelah lengannya yang lain di pinggang Yoongi dengan cara posesif dan Yoongi mendaratkan sebelah lengannya di bahu Jimin.
"Menapaklah pada kakiku, hyung."
"U-Uh?" Yoongi menautkan alisnya bingung. Apa Jimin baru saja menyuruhnya menginjak kakinya?
"Aku akan menuntunmu berdansa, hyung. Ayo lakukan."
Dengan ragu, Yoongi mendaratkan kaki kanannya pada kaki kiri Jimin dan sebaliknya, membuat cengkramannya pada bahu dan jemari Jimin semakin erat. Jimin tersenyum merasakan tubuh Yoongi yang menjadi kaku diatas tumpuan tubuhnya. Dengan perlahan, Jimin menggerakan kakinya, membawa tubuh Yoongi mengikuti alunan musik yang di mainkannya.
Yoongi terlihat mlai menikmati dansa yang dicitakan Jimin,terlihat dari bagaimana Yoongi menyandarkan kepalanya pada bahu Jimin dan menghirup aroma tubuh Jiminn dari lehernya. Tidak ada pertukaran percakapan yang terjadi. Hanya gesekan tubuh ringan dan cengkraman jemari Yoongi yang mengerat di tubuh Jimin. Juga beberapa kecupan yang Jimin curi dari helaian rambut Yoongi saat kepala itu masih setia menyamdar pada bahunya.
Alunan musik berakhir dengan pelukan Jimin pada pinggang Yoongi dan lesakan kepalanya pada leher jenjang Yoongi, menghadiahkan beberapa kecupan manis diantaranya. Yoongi sendiri mengalungkan kedua lengannya di leher Jimin sambil mengusap surai gelap kekasih bocahnya, sesekali turun ke undercutnya dan tengkuknya.
"Yoongi-ah.."
Jimin memanggil pelan. Menggunakan banmal dengan suara yang direndahkan. Membuat tubuh Yoongi menegang sesaat sebelum menggumamkan 'ya' yang sangat pelan. Seperti berbisik. Yoongi yakin kalau Jimin tidak sedang memeluknya saat ini, Jimin tidak akan bisa mendengar jawabannya.
Perlahan, Jimin menjauhkan tubuhnya dari tubuh Yoongi, lalu mengambil buket bunga yang Yoongi bawa tadi, ditambah sebuah buket bunga yang baru, berlulut didepan Yoongi menyerahkan empat buket bunga sekaligus yang membuat Yoongi mengerut bingung.
"Ada apa, Jimin-ah?"
"Dua puluh empat bunga mawar mengartikan 'Aku milikmu'. Tapi aku tahu kau tidak menyukai bunga mawar dan menyukai Calla Lily, oleh karena itu aku memilih bunga ini."
Yoongi menganga seperti orang bodoh untuk beberapa saat, lalu mengambil empat buket bunga yang diserahkan Jimin sambil menghitung jumlahnya. Benar, ada dua puluh empat batang Calla Lily putih kesukaannya di dalam. "Jimin, ini.."
Belum sempat Yoongi move-on dari euforia yang membuat maniknya basah, jemari Jimin sudah memegang sebuah kotak beludru berwarna merah dengan sebuah cincin puth polos di dalamnya.
"Aku tahu, dilamar ditengah hamparan bunga Lily putih adalah impianmu. Mimpimu yang terdengar seperti gadis remaja yang membuatmu ingin mewujudkannya demi melihat senyum manismu. Tapi sulit untuk menemukan ladang Lily di Korea, jadi aku meminjam toko bunga ini dan mengias ruangannya dengan bunga Lily agar terlihat seperti lamaran idealmu. Apa aku lulus, Yoongi-ah?"
Yoongi mengedarkan pandangannya kesekitar. Ia baru sadar kalau bnyak sekali pot bunga Lily menghiasi ruangan ini. Ada yang terletak di rak, diagntung di langit-langit, diatas lantai, atas meja. Oh, kenapa Yoongi baru sadar ruangan ini indah sekali?
"Jimin.."
Yoongi tidak dapat menyelesaikan kata-katanya. Yang bisa dilakukannya saat ini hanya membekap mulutnya dengan sebelah tangannya karena kekaguman yang luar biasa. Yoong benar-benar tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Mungkin bisa dikatakan perasaan Yoongi kali ini sama hebatnya dengan jika dirimu berasal dari keluarga kurang mampu yang ingin sekali merasakan sky diving paling terkenal di Dubai dan mendapatkannya secara cuma-cuma secara tiba-tiba. Dan pendamping sky divingmu adalah orang paling tampan se-Dubai, atau idola yang membuatmu mimisan setiap malam. Tidak, tidak! Perasaan ini bahkan lebih menakjubkan dari itu. Yoongi benar-benar kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikannya dengan baik.
Yoongi mengembalikan atensinya pada Jimin yang masih berlutus dengan seulas senyum yang tak kunjung hilang dari bibir tebalnya, "Aku masih belum bisa membelikan cincin mahal seperti di film-film yang sering dirimu, Jungkook dan Seokjin hyung tonton. Aku hanya sanggup membeli ini dengan gajiku selama bekerja di restoran ibu Jungkook, tapi, aku akan membelikan cincin yang lebih layak dimasa depan. Cincin sesuai pilihanmu. Aku berjanji."
Jeda.
"Jadi, Min Yoongi, bersediakah kau melingkarkan cincin ini di jari manismu? Menandakan dirimu hanya milikku? Milik seorang Park Jimin?"
Dan, iris Yoongi sukses memproduksi cairan bening yang terasa asin. Tidak, Jimin tidak melamarnya untuk mengajaknya menikah. Meskipun janji itu tersemat secara tidak langsung didalam kalimat Jimin, tapi Yoongi yakin bocah itu belum mengajaknya menikah saat ini. Tapi Yoongi senang, bahagia, perasaannya meletup-letup mengerikan. Kalau Yoongi tetap berada pada level ini, Yoongi yakin dirinya akan mati karena perasaan senang dengan wajah yang tersenyum manis yang menungkin menakuti orang yang menemukan mayatnya.
Yoongi mengangguk singkat, menyerahkan tangan kirinya kearah Jimin untuk disematkan sebuah cincin sederhana. Cincin yang menandakan dirinya adalah milik seorang Park Jimin.
Jimin mengecup sayang telapak tangan Yoongi sebelum menyematkan cincinnya disana, lalu kembali mendaratkan sebuah kecupan lagi, pada jari manis Yoongi yang dihiasi oleh cincin sederhananya. Lama, penuh cinta.
Sedetik setelah Jimin menegakkan tubuhnya untuk kembali berdiri, Yoongi langsung melempar tubuhnya kearah Jimin sambil mengumamkan 'Terima Kasih' dan 'Aku mencintaimu'. Ada airmata kebahagiaan yang membuat bahu Jimin basah disana. Jimin hanya terkekeh gemas dan menggumamkan 'Aku juga mencintaimu' sambil mengusap sayang bahu sempit Yoongi, berusaha meredakan isakannya.
Saat merasakan isakan Yoongi mereda, Jimin membawa wajah itu menuju wajahnya, lebih tepatnya bibir manis Yoongi menuju bibirnya. Meraupnya dengan lembut dan penuh cinta sambil kedua tangannya mengusap pinggang Yoongi dengan gerakan sensual. Yoongi sendiri meremas rambut Jimin dan membuka mulutnya, membiarkan Jimin mengeksploitasi goa hangatnya lebih jauh. Saling berbagi saliva yang membasahi dagu tiap mereka.
Yoongi memutus tautan mesra diantara mereka berdua, lalu menempelkan keningnya dengan kening Jimin. Menggesek gemas hidung keduanya sambil bersama-sama menormalkan nafas mereka.
"Jimin.." Yoongi memanggil pelan, dengan suara rendah.
Jimin tidak menjawab, hanya mencuri satu jilatan penuh pada bibir Yoongi yang terbuka didepan bibirnya.
"Aku mau menagih hadiahku."
Tangan Yoongi bergerak turun, membelai dada Jimin dengan gerakan abstrak yang diciptakan oleh jemarinya. Membiarkan jemarinya bermain dengan nakal diatas kemeja Jimin. "Apa yang kau inginkan, hyung?"
Yoongi menatap Jimin, langsung kearah manik gelapnya dengan tatapan sayu, dengan ragu Yoongi menyuarakan isi hatinya, "Sentuh aku, Jimin."
.
.
.
TBC
.
.
.
INFIRES!
Annyeong~ Syubsyubchim balik lagi bawain sambunagn fanfic ini. Fast update seperti janji tidak? Hehehe. DAN JANGAN BEREKSPEKTASI UNTUK CHAPTER SELNAJUTNYA. TOLONG, EKSPEKTASI DAN PIKIRAN KOTOR DIKONDISIKAN! Syubsyub belum pernah mengetik m-rated story sama sekali. Memang, syubsyub sering baca (eheyyyy) tapi baca sama ngetik kan beda ya. Ga semua orang bisa ngetik m-rated dengan baik. Tapi banyak yang meminta MinYoon naena, jadi, syubysyub akan mencoba sebaik mungkin untuk mengwujudkannya. Tapi, tolong jangan berekspektasi terlalu tinggi karena syubysyub SANGAT TIDAK BERPENGALAMAN DALAM MENGETIK NAENA. Dasar kalian semua reader mesyum kaya Chimchim.
Terus, dimaafkan typo dan kalau alurnya aneh, entahlah, syubsyub merasa something off but have no idea what it is. Semoga kalian bisa menikmati fanfic ini kaena ini termasuk yang terpanjang yang pernah syubsyub ketik untuk chapter fanfic ini.
Dan, sebenarnya the idea of dilamar di hamparan bunga Lily itu impian syubysub. EHEYYY! Jomblo tingkat aku ga ada yang ngabulin jadi biarlah syubysub menumpahkannya pada fanfic ini. Lili juga bunga kesukaan syubsyub, jadi biarlah syubysub melakukan ini untuk kesenangan dan kepuasan syubysub semata. Eheeeee.
Terakhir, terima kasih untuk semua yang sudah bersedia membaca, memfollow, memfavorite bahkan sampai mereview fanfic yang sangat tidak jelas asal-usulnya ini. Maaf kalau mengecewakan.
SPECIAL THANKS :
glow-rie : Jangan sungkan sama syubsyub beibhh, ayo kita mengakrabkan diri. Biarin dirimu baper gegara Jimin. Syubysyub juga baper kok. Pengen jugaa punya cowo ke chim (hikseu). | tris : Noon asemoga ditabahkan ya dikuatkan meskipun ga ada cowo kek Chim (ketawa kurang ajar)(eheyy). | XiayuweLiu | Dessy574 | HyunShine : Yoongi romantis dimananya? Tsundere abis anak iniii. wkwkwk | rossadilla17 : Yoongi hanya malu untuk manja kalo sadar seratus persen, makanya manja pas mabuk (Uhuk uhuk). | Pinkerbell97 : Syubysyub juga suka Yoongi mabuk. Manjanya keluar (yeheett). | MinJiSu : NAH YANG INI LEBIH GANTUNG! HAHAHAHAAA (ketawa nista). | anunyajimin : Mungkin penname kamu akan keluar di chapter selanjutnyaaa. | exoinmylove : Maaf nada kurang beruntung, silahkan coba lagi. | Guesteu : Yang ini lebih gantung kan yaa? (huehehehehe) | | whalme160700 : Duh dagdigdug jangan-jangan sakit jiwa, eh jantung. eheheheee | Win500 : Makasih karena udah mendukung fanfic ini sampe akhiiiirrrr. Yuhuuuu (bow). | Suga's Kumamon : Mungkin konfliknya di chapter-chapter depan. Maaf kalo misalnya fanfic ini terlalu smooth (bow). | HamirohLangen | Cho Ryeomi : Yoongi Tsundere memang the best! syubysub juga sukaaa! | Fujimoto Yumi : #TeamMasoJimin #TeamMasoJimin #TeamMasoJimin NAENA MINYOON CHAPTER DEPAN YA SENPAI, TAPI JANGAN BEREKSPEKTASI, SYUBYSYUB TAR TAKUT JADINYA. EHEYYYYY. Doakan saja syubsyub mendapat pencerahan untuk menjerumuskan para reader mesyum ini ke dalam dosa ya (YEHET). Syubsyub senang senpai kembali mereview (kayang sambil selebrasi) #TeamMasoJimin #TeamMasoJimin #TeamMasoJimin. | tryss : Semua berfikir kamar ya XD Silahkan dibaca chapter iniii. | CandytoPuppy : #TeamMasoJimin #TeamTsundereYoongi | applecrushx : MABOK TERUS ENTAR OVERDOSIS GIMANAA?! TANGGUNG JAWABBB wkwkwkwkkkk | Reny246 : Aduh maaf banget kalo nama kamu terlewat. Nah nama kamu udah aku cantumin. Sorry for the mistake. Btw, jangan berekspektasi yang berlebihan untu part naena ya, eheyyy. | minyoonlovers
(P/S : Maaf kalau ada yang namanya salah ketik atau kelupaan.)
.
Terima Kasih.
Salam, INFIRES!
