Disclaimer:
Naruto © Kishimoto Masashi
Jangan Pernah… © Haruno Aoi
Warning: AU, OOC, TYPO(S)
Terima kasih karena sudah bersedia membaca dan mereview fic-fic nyinetron saya… Y_Y
.
.
.
.
.
~oOoOo#0#oOoOo~
.
(9) Jangan Pernah Menghindariku Lagi…
.
Ruang resepsi sudah dipenuhi oleh makhluk-makhluk glamour. Kumpulan bunga mawar putih dan merah menghiasi setiap sudut ruangan. Aroma barbeque berbaur wine serta beraneka parfum mahal menguar di udara. Denting sendok dan piring serta dengung para tamu undangan yang tengah berbicara mengisi ruangan bernuansa putih dan merah tersebut. Alunan piano classic dalam irama jazz yang anggun membelai indera pendengar hadirin.
Sejak tadi pagi, Hinata selalu mencoba untuk menghindari mata Sasuke. Ia akan berjalan cepat melewati pemuda itu apabila berpapasan tanpa sengaja. Entah kemana perginya pemuda itu saat ini, yang membuatnya penasaran sekaligus memberikan kesempatan baginya untuk sejenak bernapas lega. Sepanjang hari ini Sasuke memang sukses membuat jantungnya berdebar tak terkendali.
Hinata menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi ketika terdengar suara pembawa acara mempersilahkan para tamu untuk berdansa diiringi suara merdu penyanyi jazz terkenal. Diluruskan punggungnya yang pegal. Tubuhnya lelah sekali, tetapi perasaan yang luar biasa menyelimuti hatinya. Ia turut bahagia melihat kegembiraan yang tampak dari raut wajah Konan.
Semakin banyak pasangan yang mulai mengisi area yang disediakan untuk berdansa di tengah ballroom yang berhiaskan lampu-lampu stardust. Ia tersenyum melihat kedua pengantin, Uchiha Itachi dan Konan, turun dari pelaminan dan berdansa di antara pasangan lain. Semua tamu undangan berkumpul menikmati pemandangan romantis itu. Begitupun dengan Hinata yang membayangkan sedang ikut berdansa, di tengah kegiatannya mengawasi adik-adik asuhnya yang tidak mungkin ditinggalkan di panti dalam momen bahagia ini.
Jika kebanyakan orang ragu dan terlalu sungkan untuk ikut berdansa, Hinata mempunyai alasan lain; yaitu karena tidak mempunyai pasangan. Sebenarnya alasan utamanya adalah lantaran ia memang tidak bisa berdansa. Namun, tak tahu mengapa tiba-tiba terbayang sekelebat sosok Sasuke yang mengulurkan tangan kepadanya. Seketika Hinata merutuki dirinya sendiri karena telah mengharapkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh ia angankan.
Karena banyak orang yang sibuk berdansa, Hinata segera bangkit dan menggunakan kesempatan tersebut untuk menikmati makanan yang disajikan. Jujur saja ia kelaparan lantaran sejak pagi perutnya hanya terisi bekal yang dibawakan oleh Uchiha Mikoto, yang mengantisipasi kemungkinan terbatasnya waktu untuk makan siang.
"You look stunning."
Suara yang tak asing mengejutkan Hinata. Ia menelan daging panggang yang dikunyahnya, kemudian menoleh ke sumber suara. Ternyata benar dugaannya, Sai. Ia memang yakin kalau Konan akan mengundang lelaki yang telah menyelamatkan masa depan panti asuhannya. Tetapi, entah mengapa ia masih terlupa untuk membawa saputangan Sai. Dalam kesempatan ini pun ia belum bisa mengembalikannya.
Sai tersenyum seperti biasanya. Hinata memaksakan sebongkah senyum gugup. Gaun putih pemberian suami Konan memang terbuat dari bahan sutra halus yang mengikuti setiap lekuk tubuh Hinata dengan indah. Tungkainya terlihat lebih ramping dan panjang dengan hak sepatu langsing setinggi sepuluh senti yang senada dengan gaunnya. Apa pujian Sai dikarenakan gaun indah dan sepatu mewah yang dikenakannya?
"Will you dance with me?"
Tindakan Hinata yang meletakkan piring di meja dianggap persetujuan oleh Sai. Lelaki itu menarik tangan Hinata dan diletakkan di bahunya. Sebelah tangan Hinata digenggamnya ke atas, kemudian dibawanya gadis itu berayun pelan mengikuti irama.
Dalam keadaan setengah sadar, Hinata membiarkan Sai membawanya berdansa. Keduanya tak saling bicara, namun hanya berpandangan hingga satu lagu berlalu. Seusai berlalunya lagu kedua, Hinata terhanyut dalam alunan musik light jazz yang dibawakan secara langsung oleh satu kelompok pemusik. Sai merapatkan tubuh Hinata ke dadanya.
Ketika tempo musik berubah riang, Hinata baru tersadar kalau kepalanya sudah menyandar di dada Sai. Lelaki itu terkejut saat tiba-tiba Hinata melepaskan diri dan menatapnya dengan salah tingkah. Tetapi Sai tidak mencoba untuk mengejar Hinata yang berbalik meninggalkannya tanpa sepatah kata.
Hinata buru-buru meninggalkan ballroom dan berniat ke toilet saat menemukan sebentuk wajah dingin Sasuke di antara para anggota keluarga Uchiha. Pemuda itu masih menatapnya lekat-lekat, sorot matanya dingin bagai tanpa emosi. Hinata menekan rasa gugupnya dan kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti. Ia sampai tak menyadari saat Mikoto mengejarnya.
"Hinata…"
Hinata berbalik sesaat setelah mendengar suara Mikoto yang memanggilnya dengan ragu-ragu. Sejak bertemu tadi pagi, ia belum berbicara dengan wanita yang pernah menjadi majikannya itu, bahkan seolah tidak ada kesempatan untuk sekadar bertegur sapa. Karena itu, saat Mikoto semakin dekat jantung Hinata bertalu-talu gaduh.
Hinata tak menyangka Mikoto akan memeluknya. Seketika pijaran hangat mengaliri tubuhnya. Ia tak pernah ingat rasa yang seperti ini, kecuali pelukan penuh kasih dari mendiang ibu asuhnya.
"Maaf…"
Hatinya mencelos namun ia belum mampu mengeluarkan sebutir kata pun. Waktu itu ia sangat terpukul dan sempat merasa sakit hati. Meskipun miskin ia tidak akan mencuri. Harga dirinya tidak bisa dinilai dengan bergepok uang. Sakit fisik bisa sembuh dalam hitungan menit, berbeda dengan luka di hatinya. Tetapi, ia bukanlah seorang pendendam. Ia lalu mengangguk sambil memasang senyum.
Tanpa disangka, Mikoto memanggil Sasuke setelah melepas pelukannya. Hinata terbelalak melihat pemuda itu berjalan mendekat. Jantungnya bergemuruh bising, nyaris menulikan pendengarannya.
"Jelas kutangkap ekspresi cemburu di wajahnya saat melihatmu berdansa dengan lelaki lain," bisik Mikoto seraya tersenyum penuh arti. Ia meninggalkan Hinata yang masih terpaku ketika Sasuke hampir menjangkau gadis itu.
Hinata sendiri tak mampu berkata-kata saat Sasuke menarik lengannya keluar ballroom dan membawanya ke tempat yang luput dari perhatian orang-orang.
"Bohong jika aku bilang bisa melepasmu." Sasuke sedikit tergagap, menanti respon dari Hinata dengan gelisah. "Sejak aku kembali ke rumah, Aniki menyinggung namamu sekali, but since then I can't stop thinking about you. Bahkan kau tak akan mengira seberapa lama aku memikirkanmu," Sasuke berhenti sejenak dengan tatapan mencari-cari sedikit balasan di mata lavender Hinata, "jauh sebelum kau menyadari perasaanku."
Hinata masih memandang mata Sasuke dalam-dalam, seolah ingin membaca isi hati pemuda yang lebih muda tiga tahun darinya itu.
"Tunggu aku…" bisik Sasuke sambil mendekat.
Hinata menanti dengan cemas. Ia bimbang antara membiarkannya atau mundur. Tetapi, ternyata tubuhnya mengkhianatinya. Mendadak hatinya dipadati rasa hangat yang nyaman, dan ia pun terhanyut dalam pesona seorang Uchiha Sasuke. Ciumannya cukup lama, sampai lantai yang dipijaknya terasa oleng dan jantungnya seakan berhenti berdetak.
"I hate it when you dance with other guy, for God's sake."
Hinata tertawa pelan bercampur tangis dalam pelukan Sasuke.
.
.
.
Penyesalan menggelayuti hati Sai sepulangnya ia ke Tokyo. Seharusnya ia memang tidak harus memaksakan dirinya untuk menghadiri resepsi pernikahan Konan di Yamaguchi. Namun, ia tidak bisa menolak niat baik perempuan itu yang telah berbaik hati mengundangnya. Apalagi di sana ia bisa mengakrabkan diri dengan Hinata, yang akan mempermudah usahanya untuk membawa gadis itu pulang ke tengah-tengah keluarga besarnya.
Keadaan Hanabi yang tidak lebih membaik membuatnya merasa semakin bersalah. Terakhir kali sebelum keberangkatan Sai ke Yamaguchi, Hanabi terlihat sangat terguncang atas meninggalnya janin dalam kandungannya. Tidak hanya Hanabi, Sai juga bisa melihat kepedihan mendalam yang dirasakan oleh Hizashi. Dan saat itu untuk pertama kalinya ia melihat Neji menangis tanpa rasa malu dalam dekapan Hanabi.
Setelah menutup pintu dengan perlahan, pandangan nanar Sai mengarah pada Hanabi yang tengah duduk menyandar di pagar balkon kamarnya dengan tatapan kosong. Langkahnya semakin dekat, namun tak ada tanda-tanda kalau Hanabi menyadari kehadirannya. Bahkan ketika langkahnya sudah berhenti di dekat tubuh ringkih itu, ia sama sekali tak merasakan bahwa keberadaannya diakui. Sai lalu berjongkok dan menggendong Hanabi ke dalam kamarnya karena malam semakin larut. Ia juga menutup pintu kaca menuju balkon setelah merebahkan Hanabi di tempat tidurnya.
Hanabi langsung menghambur memeluk Sai begitu lelaki itu duduk di sebelahnya. Ia sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi, ia menangis tergugu dalam pelukan Sai. Ia sungguh merasa kehilangan dan menyesal. Andai ia lebih menjaga kesehatannya, pasti ia tidak akan kehilangan calon bayinya.
"Hei, kau masih ingat tentang dandelion yang akan tetap tegar kemanapun angin menerbangkannya?" bisik Sai.
Hanabi mengangguk lemah. Ia bahkan masih sering membaca buku bergambar pemberian Sai yang menceritakan tentang si topi putih itu, bunga yang terlihat rapuh namun sebenarnya kuat. Waktu itu ia sempat tersinggung karena mengira bahwa Sai masih menganggapnya sebagai bocah yang sangat menyukai buku cerita bergambar. Namun, isi buku itu telah mengajarkan banyak pelajaran hidup padanya. Meskipun untuk saat ini ia masih belum bisa menerima kenyataan, dan ia sangat membutuhkan Sai untuk menguatkannya.
"Kita memang mempunyai keinginan, tapi keinginan Tuhan lah yang akan berjalan," Sai kembali berbisik, berharap dapat membangkitkan semangat Hanabi. "Tuhan mengetahui apa yang tidak kita ketahui." Ia berhenti sesaat untuk mengelus lembut puncak kepala Hanabi. "Dan Tuhan pasti memberikan yang terbaik, kau harus yakin."
Hanabi merasa lebih baik sekarang. Sai memang dewasa dan selalu ada ketika ia membutuhkannya. Bahkan ia juga tidak segan dan sering meminta bantuan arsitek muda berbakat itu dalam menyelesaikan tugas kuliahnya. Dan selama ini lelaki itu memang mampu memberikan kekuatan untuknya dalam menghadapi masa-masa sulit, walaupun terkadang secara tidak langsung serta tanpa disadari olehnya.
"Mungkin di mata Tuhan kepulangannya adalah yang terbaik untukmu, untuk Neji, dan untuk keluarga Hyuuga. Ambil hikmahnya, oke?"
Hanabi mengangguk cepat, secepat ia menyeka air matanya yang berlelehan.
"Be tough."
.
.
.
Neji tampak sumringah ketika melangkahkan kakinya menuju kamar pribadi Hanabi. Ia bahagia lantaran mendengar suara ceria Hanabi melalui telepon beberapa saat yang lalu, tidak lama setelah ia keluar dari kelas. Setidaknya ia yakin kalau tak ada lagi air mata yang akan dilihatnya di wajah Hanabi. Belakangan ia merasa semakin sedih saat melihat mata Hanabi yang selalu sembab dan menolak berbicara dengannya. Dan ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya sejak Hanabi menghubunginya dan memintanya untuk datang.
Neji memasuki kamar Hanabi seusai mendapatkan izin dari pemiliknya. Ia lega melihat Hanabi yang fresh, dan jauh lebih baik dari yang ia kira. Sepupunya itu tengah menyisir rambut panjangnya di depan meja rias sembari tersenyum manis ke arahnya.
Neji bahkan belum menghentikan langkahnya ketika Hanabi memeluknya erat. Ia terkesiap, namun bukan firasat baik yang dirasakannya.
"Aku tak merasakan pertanda baik, Hanabi…" gumamnya ragu.
Hanabi melepaskan pelukannya tanpa memudarkan senyum, membuat Neji merasa semakin sesak.
"Sekarang tak ada lagi alasan bagimu untuk menikahiku," bisik Hanabi dengan suara getir. Pandangan matanya tak sekalipun lepas dari dua manik yang serupa miliknya. "Lebih tepatnya, tidak ada alasan bagi kita untuk bersama lagi." Telunjuknya menekan lembut bibir Neji yang hampir terbuka untuk mengeluarkan balasan. "Ino mencintaimu. Aku yakin cinta bisa tumbuh karena terbiasa…"
Sejak jatuh cinta pada Neji, Hanabi sering berpikir bahwa hidup ini sangat tidak adil. Ia sudah tahu kalau lelaki yang disayanginya tidak mungkin menjadi miliknya, cintanya terlarang. Bahkan ia sempat ingkar kepada takdir, dan berharap tidak dilahirkan sebagai sepupu Neji. Tetapi, ia percaya bahwa ada sesuatu yang tidak bisa dimilikinya, meskipun sangat ia inginkan. Semua yang diharapkannya belum tentu bisa didapatkan dan dimilikinya, termasuk Neji.
"Berbahagialah tanpa aku…" lirihnya tanpa mencoba menahan tangis. Ia menangis sesenggukan melihat Neji menangis dalam diam. Dengan kedua telapak tangannya, ia merangkum wajah Neji dan menghapus air mata yang mengalir di sana.
Saat-saat bersama Neji adalah saat yang indah dan berkesan. Hanabi tidak pernah menyesali apapun yang telah terjadi.
Hanabi banyak belajar dari serentetan peristiwa yang terjadi. Ia belajar untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan semakin tegar dalam menjalani hidup. Seperti kata Sai, semua yang terjadi di antara dirinya dan Neji telah memberikan hikmah tersendiri. Ia juga belajar untuk ikhlas melepaskan seseorang yang sangat disayanginya. Ia tidak akan memaksakan diri untuk melupakan Neji, namun ia lebih memilih untuk membiarkannya mengalir begitu saja. Begitupun dengan Neji yang rela melakukan apapun asalkan Hanabi berbahagia.
Selalu dibutuhkan pengorbanan dan perjuangan untuk mendapatkan yang terbaik pada akhirnya. Dan perpisahan keduanya merupakan yang terbaik meskipun bukan yang terindah. Semoga pengorbanan mereka berbuah kebahagiaan bagi semuanya.
No more tears, then everything will go so well.
.
.
.
Hiashi kembali memasuki kediamannya dengan bantuan Sai yang mendorong kursi rodanya. Ia hanya ditemani oleh adik kembarnya dan Sai, merasa kurang karena Neji tidak turut menjemputnya dari rumah sakit. Sejujurnya ia juga berharap agar Hanabi yang telah mengetahui statusnya yang sebenarnya juga menyambut kepulangannya dengan gembira. Sayangnya ia menjadi takut untuk mengangankan diakui sebagai ayah oleh putri kandungnya sejak kejadian sebelum ia dilarikan ke rumah sakit. Apalagi jika mengingat putri sulungnya yang telah dicampakkannya, penyesalan di hatinya terasa semakin menyesakkan dada.
"Hizashi, bagaimana kabar Hanabi?" Hiashi bertanya dengan suaranya yang terdengar lemah setelah Sai membantunya duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Aku tahu yang sebenarnya ingin Onii-sama tanyakan," balas Hizashi dingin sembari mengikat tirai putih di kamar itu ke dua sisi jendela kaca yang lebar. Ia merasa was-was, khawatir jika sakit Hiashi kembali kambuh setelah mendengar kenyataan yang akan diungkapkannya.
"Aku menyesal atas ucapanku waktu itu pada Hanabi," ujarnya penuh rasa bersalah.
"Cucu laki-lakiku meninggal sebelum memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di luar rahim ibunya."
Sai mengelus pundak ayahnya yang tampak menegang. Ia tidak menyangka pamannya akan berani memberitahukan fakta itu di saat kesehatan Hiashi mulai membaik.
"Hanabi keguguran saat demam tinggi," Hizashi menambahkan sebelum berlalu meninggalkan kamar luas kakak kembarnya.
Hiashi memejamkan matanya dengan ekspresi menahan sakit. Detik itu ia merasa bahwa penyesalan tidak dapat memperbaiki kesalahannya. Ia memberikan isyarat pada Sai untuk membantunya berbaring. Sekarang perasaan yang bercampur aduk memenuhi hatinya, dan berbagai asumsi berkecamuk di benaknya yang sibuk.
Mungkin masih ada kesalahan yang bisa diperbaikinya dengan adanya dorongan dari penyesalan mendalam dan rasa bersalah yang hingga kini terus menghantuinya.
"Sai…"
Sai menyimak apapun yang akan dikatakan oleh ayah angkatnya.
"Tolong cari Hinata dan bawa dia pulang…"
Sebelumnya Sai tidak pernah mendengar seorang Hyuuga Hiashi memohon kepadanya. Karenanya ia mengangguk hormat untuk mewakili kesanggupannya. Walaupun tanpa permintaan dari Hiashi, ia pun sebenarnya telah bertekad untuk mengajak gadis itu kembali ke tempat seharusnya ia berada.
.
~oOoOo#0#oOoOo~
.
.
.
.
.
.
.
4 Februari 2012
Terima kasih banyak semuanya…
Kritik dan saran?
