20 vs 50

Genre: Romace, Drama, Hurt/Comfort

Rating: T

Lenght: Chapter

Main Cast:

Lu Han

Se Hun

Pairing: Hunhan, Taoris, Chanbaek, Kaisoo, Sulay, slight Hunlay

Warning: Genderswitch,Ooc,Typos,geje,ect

Desclaimer:

Fanfic ini adalah karya asli saya, muncul dari otak saya berdasarkan pengalaman pribadi saya. Saya hanya meminjam nama member EXO dan beberapa karakter serta orang terdekat mereka. Sepenuhnya mereka adalah milik Tuhan YME.

NO BASH, NO FLAME, NO PLAGIAT

Summary:

Luhan yeoja cantik berusia 20 tahun jatuh cinta pada Oh Sehun yang usianya hanya 4 tahun lebih muda dari appanya. Mungkinkah cinta Luhan pada Sehun akan berbuah manis?

.

.

.

Annyeong...

Chapter 5 datang...

Terimakasih buat reader yang udah baca terutama yang review.

Mian, saya updatenya lama banget...maklum banyak cobaan yang terjadi.

Chapter ini bakal diwarnai dengan Sehun pov.

Oke sekian dari saya...selamat membaca^_^

Jangan lupa review ya...

- I let u go, if it better for u – WYF ur in my heart forever...

.

.

.

Previous Chapter

"BRAKK!"

Luhan terkejut karena Sehun tiba-tiba membanting pintu terlampau keras. Namja itu keluar kamar begitu saja.

.

.

HanPutri Present©

20 vs 50

Chapter 5 Part 1

.

.

.

OH Corp Building

SEHUN POV

"Kenapa harus anda yang menyelamatkan saya? Kenapa bukan orang lain? Kenapa anda tidak membiarkan saya tenggelam di sana dan menunggu orang lain datang menyelamatkan saya? Wae? Itu semua membuat saya semakin berharap. Bagaimana saya bisa membuang perasaan saya seperti yang anda minta dulu?"

Ku pijit pelipisku pelan. Lagi-lagi teringat kejadian seminggu yang lalu. Bayangan wajah yeoja itu terus memenuhi pikiranku. Aku yakin pekerjaanku minggu ini tidak ada yang beres karena hal itu.

"Cklek"

"Sehun-ah, kau sudah makan siang?" tanya seorang namja tan yang baru saja masuk ruanganku, Jong In.

"Belum" jawabku singkat.

"Aigoo...apa kau mau makan bersamaku?" tanya Jong In.

"Tidak. Kau duluan saja. Aku masih harus menyelesaikan ini. Lagi pula ini belum masuk jam makan siang Kim Jong In" jawabku sambil melirik arloji di pergelangan tanganku sekilas.

"Arraseo. Kalau begitu aku makan dulu presdir" kata Jong In sebelum berlalu.

Sepeninggalan Jong In aku mencoba fokus kembali pada pekerjaanku. Tapi hasilnya nihil. Tumpukan dokumen di depanku tak berkurang sedikitpun. Kalau mau cepat selesai sebenarnya mudah saja. Hanya menggoreskan pola tanda tangan dengan tinta pada lembaran dokumen ini dan semua pekerjaan ini selesai. Tapi resikonya juga besar.

Ku alihkan pandanganku dari tumpukan dokumen yang menjemukan itu saat IPhoneku bergetar.

"Yeoboseyo" sapaku.

"Yeoboseyo" balas yeoja di seberang.

"Ah, ada apa, Vic?" tanyaku pada yeoja itu.

"Apa presdir Oh sudah makan siang?" tanyanya sama seperti Jong In. Ku lirik arlojiku lagi.

"Belum" balasku.

"Apa mau makan siang bersamaku, presdir?" tanyanya lagi. Tawaran yang sama dengan Jong In tadi. Bedanya ini sudah masuk jam makan siang.

"Apa kamu tidak sibuk?" tanyaku balik.

"Tidak. Aku memang berniat makan siang di luar" jawabnya.

"Baiklah. Apa mau ku jemput? Sekarang kamu di mana?" tanyaku beruntun.

"Ah, tidak perlu. Ini aku ada di jalan menuju OH Corp. Tolong tunggu sebentar. Ini hampir sampai" balasnya.

"Baiklah" kataku sebelum telepon di antara kami berakhir. Aku jadi teringat kejadian seminggu yang lalu saat penandatanganan kontrak kerja di Jeju.

FLASHBACK ON

Last Week

Jeju Island

"Semoga kerja sama ini bisa berjalan lancar" kataku pada CEO Song.

"Ne, presdir. Saya juga berharap demikian" kata CEO Song.

"Ah, saya tinggal sebentar presdir. Saya ingin menyapa CEO Kang yang baru datang" katanya sebelum berjalan menuju seorang namja dan yeoja paruh baya.

"Bukankah itu CEO Kang" suara Jong In tiba-tiba terdengar dari belakangku. Dia membawa dua gelas minuman. Salah satunya diberikan padaku.

"Yang baru datang itu?" tanyaku sambil melihat ke arah CEO Song dan tamu yang baru datang tadi.

"Ne" jawab Jong In. Ku lihat CEO Song berjalan ke arah kami. Kelihatannya dia sudah selesai berbincang dengan CEO Kang itu.

"Bukankah itu tadi CEO Kang?" tanya Jong In pada CEO Song.

"Ne, tuan Kim" jawab CEO Song.

"Siapa yeoja yang ada di sampingnya itu? Setahuku istri CEO Kang sudah meninggal?" tanya Jong In lagi.

"Yeoja itu istri baru CEO Kang. Sebulan yang lalu beliau menikah" jawab CEO Song.

"Ah, begitu ternyata. Kelihatanya apa yang dilakukan CEO Kang ini harus dicontoh sahabat baikku" ucap Jong In sambil melirikku.

"Maksud anda?" tanya CEO Song tak mengerti dengan arah pembicaraan Jong In.

"Ehem! Begini, aku punya sahabat yang sudah lama menduda. Istrinya sudah meninggal lama sekali dan mereka tidak punya anak. Aku berpikir kalau sudah waktunya dia harus membangun rumah tangga lagi" jelas Jong In.

"Jadi begitu. Kenapa sahabat tuan Kim tidak segera menikah?" tanya CEO Song.

"Molla" jawab Jong In.

"Apa sahabat tuan Kim itu jelek sehingga tidak ada yang mau?" tanya CEO Song polos.

"Apa menurutmu dia jelek?" tanya Jong In sambil menunjuk wajahku. Aku langsung menatap tajam sahabatku ini.

"Ah...ha ha ha. Tentu tidak tuan" CEO Song terlihat salah tingkah.

"Apa anda mau dengannya?" tanya Jong In berani.

"A-apa maksud anda tuan?" tanya CEO Song tergagap.

"Anda dan presdir Oh sama-sama sendiri sekarang. Anda cantik dan presdir tampan. Alangkah baiknya kalau kalian menikah saja" kata Jong In sedikit melirik ke arahku. Bisa ku lihat ada semburat pink menghiasi pipi CEO Song.

"Ehem! Bagaimana kalau kita menyapa tamu undangan yang sudah hadir" selaku mengalihkan pembicaraan.

"Ah, kureyo" jawab CEO Song.

FLASHBACK OFF

.

SEHUN POV

"Tok tok tok" ada yang mengetuk pintu dari luar.

"Masuk" jawabku dari dalam.

"Selamat siang presdir" suara lembut seorang yeoja menyapa indera pendengaranku.

"Kamu sudah datang, Vic?" tanyaku.

"Ne. Siap untuk makan siang?" tanyanya dengan antusias. Aku hanya membalasnya dengan anggukan singkat. Aku beranjak dari tempatku.

"Kajja!" ajaknya penuh semangat sambil menarik tanganku. Begitu keluar ruangan mataku melirik tempat kerja sekretarisku yang ditinggalkan pemiliknya. Sudah hampir seminggu ini dia tidak ada saat jam makan siang tiba. Bisa ku pasitikan dengan siapa dia saat ini.

Aku mengikuti langkah kaki jenjang Victoria. Kami menuju lift yang ada di dekat ruanganku. Lift itu adalah lift yang biasa aku gunakan.

"Aigoo...kenapa lift ini dalam perbaikan?" celetuk Victoria.

"Jinjja? Tadi pagi masih bisa kok" kataku.

"Aku tadi memakai lift yang ada di dekat ruangan tuan Kim" kata Victoria.

"Baiklah. Kita ke sana saja" ajakku.

Aku sedikit terkejut saat akan masuk lift itu. Pandanganku tertuju pada dua anak manusia beda jenis kelamin yang ada di dalam lift itu.

"Annyeong Luhan. Aigoo...kamu sekarang dengan tuan muda Seo, ne?" suara Victoria langsung memenuhi seluruh penjuru lift yang hanya berisi kami berempat.

"Ne, annyeong CEO Song" balas Luhan dengan senyum manisnya.

"Selamat siang presdir Oh" kini giliran Yi Jeong yang menyapaku. Aku hanya membalasnya dengan anggukan. Sedangkan yeoja yang ada di sampingnya, Luhan, hanya diam.

"Apa kalian keluar untuk makan siang?" tanya Victoria.

"Ne. Pekerjaan hari ini menguras isi perut kami CEO Song" jawab Yi Jeong. Suara Victoria dan Yi Jeong memenuhi lift.

"DEG"

Tanpa sengaja mataku dan Luhan bertemu. Harus aku akui kalau tatapannya padaku akhir-akhir ini berbeda dari biasanya. Mungkin sejak hari itu.

FLASHBACK ON

Last Week

Airport of Jeju Island

"Baiklah, kita berpisah di sini. Pesawat tujuan Jepang ternyata berangkat lebih dulu" kata Victoria.

"Oke, hati-hati, ne. Tolong sampaikan salamku untuk putri anda di sana" kata Jong In.

"Baik tuan Kim" balas Victoria dengan senyum menghiasi wajahnya.

"Selamat jalan CEO Song" kataku datar.

"Semoga penerbangan anda lancar" tambah yeoja yang ada di sampingku, Luhan.

"Ne. Gamsahamnida"jawab Victoria. Berjalan meninggalkan kami. Tapi tiba-tiba dia berbalik.

"CUP"

Oke, bisa ku rasakan ada sesuatu yang lembut menyapa salah satu bagian tubuhku, bibir lebih tepatnya. Jujur aku terkejut dengan hal itu. Jong In dan Luhan juga tak kalah terkejutnya.

"Jangan panggil saya CEO Song. Victoria saja sudah cukup. Itu terdengar lebih akrab" bisiknya sebelum berlalu.

"CEO SONG! TOLONG PERTIMBANGKAN LAMARAN OH SEHUN YANG MALAM ITU! Teriak Jong In pada CEO Song yang dibalas dengan acungan ibu jari olehnya.

FLASHBACK OFF

.

SEHUN POV

"TING!"

Akhirnya pintu lift itu terbuka. Kami keluar bersama-sama. Tapi aku dan Victoria berjalan menuju parkiran yang ada di lantai dasar. Sedangkan Luhan dan Yi Jeong menuju parkiran depan.

"Kita akan makan di mana?" tanya Victoria saat kami menuju parkiran.

"Kamu ingin makan apa?" tanyaku balik.

"Steak bagaimana?" tawarnya.

"Baik. Kita makan steak di resto dekat sini saja. Tempat itu langganannya istri Jong In" kataku.

"Ne" jawabnya semangat.

"Masuklah" aku membukakan pintu mobil untuknya.

"Gomawo" jawabnya sebelum masuk ke dalam mobil. Mobil audi yang hari ini ku bawa melaju membelah jalanan kota Seoul.

.

SEHUN POV

Moo Steak Resto

Tak berapa lama kami tiba di resto yang letaknya memang tak jauh dari perusahaan. Victoria memilih tempat duduk yang ada di dekat jendela. Jadi kami dapat melihat kendaraan yang berlalu lalang di jalan.

"Selamat siang. Pesan apa tuan?" tanya seorang pelayan.

"Kamu pesan apa, Vic?" tanyaku pada Victoria yang sedang melihat daftar menu.

"Aku ikut presdir saja" jawabnya.

"Oke, beef steak with mushroom sauce dua" kataku pada pelayan itu.

"Minumannya tuan?" tanya pelayan itu lagi.

"Blue hawaiian dua" jawabku.

"Baiklah, mohon tunggu sebentar untuk pesanan anda" katanya sopan sebelum pergi meninggalkan kami.

"Apa presdir sering ke sini?" tanya Victoria.

"Tidak juga" jawabku singkat. Ku sandarkan punggungku pada sandaran kursi.

"Banyak juga anak muda yang makan di sini" ucap Victoria.

"Ne" jawabku singkat. Memang benar kalau yang datang ke sini kebanyakan adalah anak muda. Banyak dari mereka yang datang bersama teman-temannya, ada pula yang datang dengan kekasihnya. Meski demikian ada juga orang seusiaku yang datang ke sini bersama keluarganya. Pandanganku tertuju pada dua anak manusia yang baru saja masuk resto. Mereka duduk agak jauh dari kami. Kelihatannya aku tidak asing dengan mereka. Dan benar saja, aku melihat sepasang mata rusa berkedip imut pada namja yang ada di hadapannya itu.

"Luhan!" batinku.

"Ada apa?" tanya Victoria.

"Aniyo" jawabku singkat. Victoria tidak tahu kalau ada Luhan dan Yi Jeong di sini karena posisinya membelakangi mereka.

"Beef steak with mushroom sauce dan blue hawaiian. Silahkan" kata pelayan sopan.

"Gamsahamnida" jawabku dan Victoria.

"Kelihatannya enak. Mari makan" kata Victoria. Dia terlihat sangat menikmati steaknya.

"Mashita!" ujarnya.

Seleraku makan mendadak hilang entah kemana setelah melihat Luhan datang dengan Yi Jeong. Dari tadi kulihat mereka terus saja bercanda. Aku tidak tahu apa yang membuat Luhan tertawa begitu lepas saat bersama Yi Jeong.

"Ige" Victoria menyodorkan sepotong daging padaku. Aku sedikit membuka mulut dan mengunyah daging itu perlahan.

"Kenapa tidak dimakan? Ini enak sekali lho~" kata Victoria sambil memandangku.

Baru saja aku memasukkan potongan daging ke dalam mulut, tapi pemandangan yang ku lihat tidak mendukung sama sekali. Bagaimana tidak, Luhan terlihat sangat senang saat Yi Jeong menyuapinya. Senyum itu belum pernah ku lihat sebelumnya.

"Presdir~ kenapa melamun?" suara Victoria menyadarkanku. Dia sudah selesai dengan makanannya dan sekarang beralih pada minumanya.

"Ani" jawabku singkat. Pandanganku masih mengarah ada dua anak tadi.

"Apa jadwal anda setelah ini presdir?" tanya Victoria.

"Ada meeting dengan tuan Jung" jawabku sambil mengalihkan pandanganku dari Luhan dan Yi Jeong.

Meski Victoria sudah selesai tapi dia tetap setia menungguku makan. Jujur saja makanku sangat lambat seperti siput. Luhan dan Yi Jeong sudah pergi beberapa saat yang lalu.

Akhirnya acara makanku selesai juga. Setelah membayar di kasir aku menyusul Victoria yang sudah ada di mobil.

"Kita langsung ke OH Corp?" tanya Victoria begitu aku duduk di kursi kemudi.

"Ne" jawabku singkat. Dalam perjalanan kami tidak banyak bicara. Sesekali Victoria menceritakan putrinya.

"Luhan dan Yi Jeong itu sangat serasi, ne" celetuk Victoria yang membuatku menginjak pedal rem mendadak. Untung saja ini sedang lampu merah, jadi tidak terlalu mencurigakan.

"Mian" ucapku karena insiden rem tadi.

"Tak apa" balasnya. Setelah itu kami tak bersuara sama sekali.

.

OH Corp

"Apa tuan Kim ada di ruangannya?" tanya Victoria saat kami baru masuk gedung.

"Kelihatannya ada" jawabku. Beberapa karyawan melihat ke arahku dan Victoria. Samar-samar aku bisa mendengar bisik-bisik mereka, seperti jadi itu calon istri presdir, cantik sekali, mereka serasi.

Aku dan Victoria masuk lift bersama. Tapi dia keluar lebih dulu karena ruangan Jong In ada di lantai lima belas.

"TING"

Pintu lift pun terbuka dan aku melangkah keluar. Beberapa karyawan menyapaku. Ada juga di antara mereka yang menatapku kagum. Maklum, gayaku memang terbilang cool dan itu natural. Kebiasaanku memang memasukkan sebelah tanganku ke dalam saku celana.

Aku melihat Luhan sudah ada di tempatnya. Seperti biasa dia ditemani tumpukan dokumen dariku.

"Selamat siang sajangnim" sapanya.

"Siang" jawabku singkat.

"Segera siapkan dokumen untuk meeting dengan tuan Jung" titahku pada Luhan sebelum masuk ruanganku sendiri.

"Ne, sajangnim" jawabnya patuh.

"Drtttttt"

"Jong In calling"

"Yeoboseyo" sapaku.

"Yeoboseyo" balas Jong In.

"Ada apa?" tanyaku.

"Nanti malam datanglah ke rumahku" pintanya.

"Wae?" tanyaku lagi.

"Jong Soo hari ini datang. Dia sudah lama ingin bertemu denganmu" terangnya.

"Jinjja? Okey, nanti aku akan ke sana" jawabku sebelum telepon berakhir.

"Sudah jam dua ternyata" gumamku.

"Tok tok tok"

"Masuk" balasku.

"Dokumen untuk meeting dengan tuan Jung sudah siap, sajangnim" kata Luhan.

"Baiklah. Kajja!" aku menghampiri Luhan yang berdiri di dekat pintu.

Seperti biasa aku berjalan lebih dulu. Kurasa langkah kakiku tidak terlalu panjang. Tapi yeoja di belakangku terlihat kesusahan untuk mengimbangi langkahku.

"Kenapa jalanmu jadi lelet begitu?" kataku begitu kami ada di dalam lift. Dia mendongakkan kepalannya dan menatapku dengan tatapan polos.

"Mianhamnida" cicitnya sambil menundukkan kepalanya lagi.

.

Begitu meeting usai pukul lima sore, aku langsung bergegas menuju parkiran. Tanpa sengaja aku melihat Luhan dan Yi Jeong jalan bersama. Kelihatannya Yi Jeong akan mengantarkan Luhan pulang.

"DEG"

Lagi, pandanganku dan Luhan bertemu. Dia menatapku lama dengan tatapan yang tidak ku pahami. Akhirnya akulah yang memutuskan kontak mata di antara kami.

.

Kim House

"Annyeong Sehun ajushi" sapa Jong Soo, putra Jong In , saat aku baru datang ke rumah mereka.

"Annyeong Jongjun, Jong In Junior" balasku sambil memeluknya.

"Aigoo...ajushi selalu memanggilku begitu, Jongjun" katanya.

"Itu karena kemiripanmu dengan appamu yang amat kentara" balasku.

"Ah, ajushi bisa saja. Bagaimana kabar ajushi?" tanya Jong Soo.

"Aku baik. Di mana Jong Sang?" tanyaku.

"Annyeong Thehun aboji~" terdengar suara yeoja yang menyerupai suara anak kecil. Dapat ku lihat Kyungsoo noona berjalan ke arahku sambil menggendong Jong Sang.

"Annyeong chagi~" kataku pada Jong Sang. Perlahan anak itu beralih pada gendonganku.

"Jong In di mana noona?" tanyaku pada Kyungsoo noona.

"Dia ada di dapur" jawab Kyungsoo noona.

"Apa noona tidak khawatir pada dapur noona?" tanyaku tak percaya kalau Jong In diizinkan menginjak dapur. Masih segar di ingatanku kalau namja tan yang satu itu pernah menghancurkan dapur di apartemen mereka yang lama.

"Dia hanya membutkan bubur untuk Jong Sang kok" balas Kyungsoo noona.

"Aku tidak melihat Eun Sang, noona?" tanyaku sambil berjalan mengikuti Kyungsoo noona menuju dapur.

"Sore tadi dia keluar dengan temannya. Dia tadi juga menitip salam untukmu Sehun-ah" jelas Kyungsoo noona.

"Aigoo~ ternyata calon pengantin baru sudah tiba" pekik Jong In tak elit dari arah dapur. Aku hanya memutar bola mataku malas.

"Pengantin baru?" gumam Jong Soo. Dia terlihat bingung dengan ucapan appanya.

"Ajushimu itu akan segera menikah dengan CEO Song, Jong Soo" terang Jong In.

"Benarkah itu ajushi?" tanya Jong Soo padaku.

"Appamu itu yang mau menikah lagi" jawabku asal sambil mendudukkan pantatku di kursi meja makan. Jong In langsung memberiku death glare.

"Tapi ku rasa kamu memang harus segera menikah, Sehun-ah. Sudah terlalu lama kamu hidup sendiri. Ku rasa CEO Song pilihan yang tepat untukmu" kata Kyungsoo noona.

"Aku masih belum berpikir untuk menikah lagi, noona" jawabku.

"Lalu kapan kau akan memikirkannya? Jodoh sudah ada di depan mata tuan Oh. Lagipula aku juga sudah melamarkannya untukmu" kata Jong In.

"Aku tidak memintamu untuk melamarnya" balasku malas.

"Kalau begitu pikirkan lagi Sehun-ah. Aku yakin tuan dan nyonya Oh juga berharap untuk segera mendapat menantu baru yang bisa mendampingimu" tutur Kyungsoo noona bijak.

"Ne, noona. Nanti akan ku pikirkan lagi" jawabku.

.

OH Corp

"Setelah ini jadwalku sudah selesaikan?" tanyaku pada yeoja yang berjalan di belakangku, Luhan.

"Ne, sajangnim. Pertemuan dengan klien dari Jerman sore ini adalah jadwal terakhir anda untuk hari ini" jawab Luhan.

"Catat semua hal penting dalam meeting ini, lalu buat rekapannya. Aku ingin rekapan itu sudah ada di mejaku Senin pagi sebelum aku berangkat ke Busan" titahku.

"Baik sajangnim" jawab Luhan patuh. Aku melirinya sekilas. Dia terlihat mengutak-atik telepon genggamnya.

"Ada apa dengan hand phonemu?" tanyaku.

"Kelihatannya rusak sajangnim. Dari tadi tidak mau menyala" jawabnya masih terfokus pada benda mati itu.

.

"Huft~ akhirnya aku bisa bernapas lega" gumamku setelah selesai meeting dengan klien dari Jerman. Mereka memang terkenal sulit untuk dinego. Tapi aku harus bersyukur karena meeting kali ini lancar.

"Sajangnim, saya ke kamar mandi dulu" izin yeoja yang masih setia mengekoriku, Luhan. Aku hanya membalasnya dengan anggukan sekilas.

Aku memutuskan untuk kembali ke ruanganku sendiri. Suasana kantor sudah sepi. Hanya beberapa orang saja yang masih ada. Ku rasa mereka lembur malam ini.

Sebelum masuk kedalam ruanganku, mataku tertarik untuk melihat selembar kertas yang ada di atas meja Luhan. Kertas itu terlihat mencolok di atas meja Luhan yang sudah bersih dari tumpukan dokumen.

"Minggu, jam 8 pagi, Lotte World. Ku jemput di tempat biasa ^_^ SYJ" begitulah tulisan di kertas itu.

"SYJ? Seo Yi Jeong?" batinku.

.

LOTTE WORLD

SEHUN POV

Ini adalah hal paling konyol yang pernah ku lakukan sepanjang sejarah hidupku, menjadi stalker.

Aku datang satu jam lebih awal dari mereka. Berdiam diri di dalam mobil ternyata cukup membuatku bosan. Mungkin membaca buku sebentar bisa mengurangi kebosananku.

An Hours Later

Beberapa saat yang lalu buku yang ku baca tadi terabaikan. Mata tajamku mulai mengamati pengunjung yang baru keluar dari mobil.

"AHA!"

Akhirnya aku bisa menemukan mereka. Aku harus berterimakasih pada appa karena dia telah menurunkan mata tajamnya padaku.

Luhan dan Yi Jeong baru saja keluar mobil. Mereka tampil casual layaknya anak muda kebanyakan.

"Jarang sekali aku melihat rambut Luhan yang terurai seperti itu" batinku saat melihat rambut panjang Luhan yang nampak berkilau saat tertiup angin.

Okey, saat beraksi! Aku yakin tidak ada yang mengenaliku dengan penampilan seperti ini. Ku rasa penampilanku cukup casual, dengan celana jeans dan kaos putih polos yang di padukan dengan blazer hitam. Tak lupa aku juga memakai topi dan kacamata hitam. Perfect!

Suasana Lotte World cukup ramai hari ini. Langit sangat cerah tanpa gumpalan awan. Benar-benar suasana yang sangat mendukung untuk kencan.

Dari belakang mereka aku bisa mengamati secara jelas. Luhan benar-benar seperti anak kecil kalau diajak ke tempat macam ini. Dia menunjuk banyak wahana yang ingin dinaikinya. Lucu sekali anak itu. Yi Jeong dengan sabar menuruti kemauan yeoja itu.

Luhan tampak memandang sesuatu. Aku mengikuti arah pandangannya. Dan ternyata yang dia lihat adalah kedai bubble tea.

"Ah, bubble tea"

"Kau mau?"

"Apa anda akan membelikannya?"

"Kalau kau mau"

Aku jadi teringat liburan kami di Maccau beberapa bulan yang lalu. Saat Luhan melihat ada kedai bubble tea di Senado square dia memekik kegirangan sama seperti saat ini.

Luhan terlihat menarik tangan Yi Jeong ke kedai bubble tea tadi. Beberapa saat kemudian yeoja itu sudah membawa segelas bubble tea di tangan kanannya. Yi Jeong terlihat menggodanya dengan pura-pura meminum bubble tea milik Luhan.

Hari semakin siang dan pengunjung semakin banyak yang berdatangan.

"Uhuk"

Dengan tidak elitnya aku tersedak bubble tea yang baru saja ku beli karena pemandangan tak mengenakkan di depanku.

Dengan santainya Yi Jeong merangkul pundak Luhan setelah sebelumnya dia memasangkan topi miliknya pada kepala Luhan. Dan hebatnya yeoja rusa itu tidak menolak perlakuan Yi Jeong itu.

Moodku benar-benar jadi buruk hari ini. Ku rasa sekarang ada gumpalan awan hitam di sertai petir yang menyambar ke sana kemari di atas kepalaku.

Setelah lelah berjalan, Luhan dan Yi Jeong memutuskan untuk membeli makanan di food court. Kelihatannya mereka juga beristirahat di tempat itu.

Setengah jam kemudian mereka berjalan lagi. Mereka mencoba semua wahana yang ditunjuk oleh Luhan. Senyum ceria tak lepas dari wajah yeoja itu. Sesekali Yi Jeong terlihat membuat lelucon yang sukses membuat yeoja rusa itu terpingkal.

"MWO?"

Dengan mudahnya Yi Jeong meraih tangan Luhan dan menggandengnya mesra. Ada rasa tidak suka saat melihat pemandangan itu.

"Apa wajahmu juga merona seperti saat aku menggenggam tanganm dulu, Lu?" batinku.

Aigoo...Mereka benar-benar terlihat menikmati acara ini, tapi tidak untukku. Yang ada moodku malah semakin buruk saja.

Hari sudah menjelang sore, semburat kemeran di langit juga mulai tampak. Luhan dan Yi Jeong terlihat bersiap untuk keluar dari Lotte World.

"Eh?"

Aku melihat Luhan merengek pada Yi Jeong di depan kedai permen kapas. Lagi-lagi rekaman acara di Maccau kembali teringat di pikiranku. Wajah Luhan saat merengek minta di belikan permen kapas, wajah Luhan saat merajuk karena aku tak membelikannya dan wajah ceria yeoja itu saat mendapatkan permen kapas sekarang memenuhi kepalaku.

Karena bernostalgia aku tidak sadar kalau Luhan dan Yi Jeong sudah meningalkan kedai tadi. Sekarang aku kehilangan jejak mereka. Aku tidak menemukan mereka. Mungkin mereka sudah keluar. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Ku rasa acara stalker hari ini sudah usai.

"Audi hitam?" gumamku saat melihat mobil audi hitam yang tidak asing bagiku ada tak jauh dari mobilku. Kebetulan sekarang sedang lampu merah. Melihat nomor polisinya aku yakin mobil itu milik Yi Jeong. Mau kemana mereka? Ini sudah menjelang petang. Aku memutuskan untuk membuntuti mobil itu. Dan ternyata mereka berhenti di sungai Han. Untuk apa mereka ke sungai Han?

Sedari tadi aku hanya melihat mereka berdiri memandangi sungai itu. Mungkin mereka membicarakan sesuatu. Entahlah aku juga tidak tahu, aku hanya mengawasi mereka dari dalam mobilku. Apa mereka tidak pegal berdiri selama itu. Sekarang sudah petang. Matahari sudah tenggelam beberapa saat yang lalu dan lampi-lampu mulai menyinari kota. Tapi dua bocah itu tidak beranjak dari tempatnya. Aku pegal sendiri menunggu mereka.

"DEG"

A-apa itu? Kenapa Yi Jeong menarik tangan Luhan dan mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan? Okey, pemandanagn berikutnya adalah hal yang sangat tidak ku harapkan. Luhan diam saja saat Yi Jeong menciumnya. Dia benar-benar tidak bergerak. Menolak tidak, membalasnya juga tidak.

"Apa yang di pikirkan yeoja itu?" batinku gemas.

"DEG"

Mataku yang sipit membulat sempurna saat melihat Luhan mulai membalas ciuman Yi Jeong. Bahkan perlahan tangan yeoja itu menggantung dengan indahnya di leher Yi Jeong. Jujur saja aku ingin menyingkirkan tangan Yi Jeong yang bertenger manis pada pinggang Luhan.

"AKH!"

Tiba-tiba ada rasa nyeri pada dadaku. Aku merasa detak jantungku mulai tidak wajar. Napasku juga mulai tidak beraturan. K-kenapa ini?

"Damn" Pandanganku mulai tak fokus. Dengan susah payah aku mengambil iphone yang ada di kantongku dan menekan tombol call.

"K-kim Jong In. Jemput aku di sungai Han sekarang"

"Mwo? Wae? Kenapa kau ada di sungai Han?"

"Jangan banyak tanya. C-cepat k-kemarilah. Ini sangat sakit"

"Mwo? Apamu yang sakit?"

"Sehun?"

"Oh Sehun?"

"SEHUN-AH! JAWAB AKU PABBO!"

Aku bisa mendengar suara Jong In, tapi tidak sanggup untuk menjawabnya. Ku rasa iphone yang ku genggam sekarang terlepas dan jatuh. Perlahan rasa sakit itu menghilang bersamaan dengan kesadaran yang mulai menjauhi tubuhku.

"Gelap!"

TBC

.

.

.

Bagaimana?

Ditunggu buat komen, masukan dan sarannya...

Buat yg baca, follow, fav review, ne!

Chapter depan kita bahas isi hati Luhan, ne...^_^

Gamsahamnida

HanPutri