Chapter 9
ChanbaekSaranghaeHeni; sarah brownie; StingyBee; Guest; rahillah.r5; hanazono yuri; berry uchiha; Aiko Asari; ; ami; madamoisellenna; KisaKisaMe; haru no haru; Myosotis sylvatica; dianarndraha; CherrySand1;
Tengkyu soooo much! Ane sayang kalian... ane juga sayang sama silent reader :D
1. Ugh, the more i love one character, the more i want to kill him/her XD
2. Unsur psikopat dan sadistik ini jadi bahan penelitian juga XD jadi terima kasih kalau sampai benar2 sudah terasa dan membuat kalian merinding atau mual :D
3. Sasuke malah jadi Damsel in distress wkwkwkw, aih, kadang seorang pria juga butuh diselamatkan oleh kelembutan hati wanitanya kan?
4. Sasuke baru muncul di chapter ini, jadi Sasuke yang muncul di chappi sebelumnya adalah Akiochiba.
5. Sayangnya, Agire nggak akan mati di chapter ini XD
6. Dalam chapter ini ada pengolahan emosi yang ane sendiri juga lagi usaha telaah. Jadi semoga maksud ane mengena dan tersampaikan
7. Kinoharu? LOL XD emang misterius dia itu
8. Kemungkinan actin di chapter ini agak tipis karena mau mendalami emosi tiap karakter XD, maafkan ane yang kurang memuaskan XD
Warning : GORE, Adventure, Romance, Friendship, Slight H/C, Slight Supranatural. Nggak pakai Beta Read. Maafkan kesalahan yang ada. Kritik yg sopan diterima, tapi Flame akan diabaikan.
Unsur psikologi mungkin agak terasa, karena ane sendiri sedang konsentrasi dengan isu psikologi untuk buku dan proyek personal lainnya. Semoga tidak terlalu membingungkan akibat permainan flash back XD
Cookies!
Enjoy new Chappi! :D
Reminder
Rencananya berantakan. Ia tidak menyangka perempuan incarannya itu, akan menyusahkannya sampai seperti ini. Sosok perempuan mungil berambut sewarna permen kapas itu menyimpan sosok monster yang tertidur pulas.
Kegilaan dan obsesinya pada Sakura semakin menjadi-jadi. Kunoichi itu sangat sempurna untuk menjadi pelengkap rencananya dalam menguasai Tanah Empat Musim.
Kinoharu menuntun mereka dalam pengejaran Agire. Aksi gila ini harus segera berakhir. Namun sayang, ia tidak bisa berbuat banyak dalam kondisinya sekarang. Ia melirik ke balik bahunya dan melihat Naruto dengan protektif, menggendong Sakura yang tampaknya begitu jauh untuk digapai.
Gadis itu terlihat dingin. Sorot matanya redup. Hijau itu tak lagi teduh, tapi seperti racun, seperti acid yang siap membunuh kapan saja kau memikirkannya, menyentuhnya, menghirupnya. Tatapannya lurus ke depan dan kosong. Begitu datar. Begitu dingin. Wajahnya bagai bertopengkan wajah Joker. Putih pucat, terbingkai helai feminin kelopak sakura yang ternoda, berulas senyum tragis.
Bibirnya tak lagi menggoda. Bibir mematikan itu bermandikan darah nista Agire dan dirinya sendiri. Ia enggan membersihkan noda itu. Ia enggan menyembuhkan lidahnya. Meskipun pendarahan terhenti, biarlah daging itu terkoyak.
Gara-gara benda lunak itu, semua timnya menjadi korban. Karena benda lunak itu harus menahan diri dari mencurahkan seluruh informasi yang krusial. Biarlah ini menjadi hukuman baginya. Hukuman baginya yang menjadi egois.
-xxxXXXxxx-
'Sakura, kau bodoh. Apa yang kau pikirkan!? Kau mau mati begitu saja dan membiarkan mereka meratapimu seperti idiot?!' jerit Inner frustasi.
'Diamlah, Inner! Aku sedang berkonsentrasi untuk membebaskan diri! Jika kau tidak berniat membantuku, tutup mulutmu dan biarkan aku berusaha!'
'The fuck, Sakura! Aku tidak ingin mati dengan cara bodoh! Aku adalah kau dan kau adalah aku! Kau mati, aku mati. Aku mati, kau mati! Jika ini caramu melindungi mereka, maka kau adalah manusia terbodoh di dunia! Ingatlah! Kau ninja medik! Mereka membutuhkanmu! HIDUP-HIDUP!'
'Jika terlihat bodoh namun efektif dan ampuh, maka itu tidak bodoh. Siapa yang bilang aku akan mati? Aku akan hidup. Lihat saja nanti.' Balasnya angkuh. Tangannya semakin cepat mengayunkan pedang itu. Tiga lawan satu cukup merepotkan. Ia harus mengukur kekuatannya agar tidak sampai melukai dua partnernya yang lain.
'Aku membencimu, Sakura. Aku tidak percaya, aku adalah bagian dari dirimu!'
'Dan aku juga membencimu, Inner. Sekarang, buat dirimu berguna dan pinjamkan aku kekuatan.' Ia berdesis pelan.
'Apa lagi rencanamu kali ini? Kau akan kehilangan kewarasanmu jika kau berusaha mengikuti pola serangan Agire!'
'Karena itu, tugasmu adalah menjaga kewarasanku. Ingat saat ujian Chuunin dengan Ino? Pria bejad ini mau mengambil alih diriku, seperti Ino. Kau mau pria itu mendominasi kita?' Bujuk Sakura, begitu meyakinkan. Inner, begitu terprovokasi, langsung memakan umpan itu.
'Apa?! Bangsat! Tidak ada yang boleh mendominasi tubuh, jiwa, dan pikiran ini selain kita berdua! Tak akan aku biarkan. Mundurlah, Sayang. Biar kutunjukkan siapa Haruno Sakura sebenarnya.'
'Hell yeah! Way to go, Inner! Shanaroo!'
'Aku akan menguncimu dalam alam bawah sadar. Jangan sekali-kali kau buka. Aku tahu benar kau bukan seorang sadistik dan brutal. Jangan kau dengar dan kau lihat. Kau akan merepotkanku, jika kau sampai terguncang atas apa yang akan aku lakukan, Sakura. Diam dan tunggu kabar dariku. Sekarang, tidurlah!'dan itulah terakhir kali Sakura melihat indahnya warna dunia dari mata gadis pendamba masa depan cerah, sebelum semuanya menjadi buram dan monokrom.
Inner Sakura menyerang Agire dengan brutal dan tanpa ampun. Teriakan-teriakan Agire merdu di telinga Inner. Kesadisan yang ia tunjukkan adalah sisi gelap seorang Haruno Sakura. Namanya boleh saja terdengar lembut dan anggun, tapi jangan remehkan sisi gelap seorang manusia.
Selalu ada monster dalam setiap manusia.
Suka tidak suka, mereka ada.
Inner Sakura, merupakan monster terpendam, bentukan emosi-emosi dan logika yang tak pernah tersampaikan. Ia tidak merasakan sakit fisik, meskipun raga tempatnya berdiam terkoyak bagaimanapun sadisnya.
Segala emosi Inner tertumpah. Pengkhianatan, iri, dengki, terlecehkan, malu, murka, tidak puas, terabaikan, terlupakan, meledak dalam setiap pergerakan tubuh Sakura. Semakin keras korbannya berteriak, tenaganya makin bertambah.
Sakura merasakan emosi yang membuncah-buncah dari Inner, bergemuruh dalam dadanya dan entah bagaimana, membuatnya ketakutan setengah mati. Tubuhnya menggigil. Napasnya memburu. Ia bisa merasakan fisiknya bergerak, menari, melompat, menyerang, bertahan, begitu lincah dan fleksibel. Tidak pernah seumur hidupnya, ia seenergik ini. Sehidup ini.
Di satu sisi, ia senang dengan kerja Inner yang luar biasa untuk memenangkan pertarungan. Di sisi lain, ia takut, Inner begitu menikmati permainan ini dan mengabaikannya. Membuatnya menjadi Another Sakura.
Maka ia bangkit. Menggedor-gedor dinding yang melindungi jiwanya. Memanggil-manggil Inner untuk berhenti. Ia berlari ke sana kemari, memasuki tiap ruang hanya untuk menemui ruang lain yang berujung dengan kebuntuan. Dinding-dinding itu tak bergeming.
Sakura merasa lemah dan tak bertenaga. Dia menjelma menjadi manusia biasa tanpa kemampuan ninja dan penguasaan cakra sempurna. Pikiran ini membuatnya linglung dan panik. Ia meninju, menendang, mencari celah kecil, berusaha mengintip dunia dari balik mata Inner.
Mustahil.
Pertahanan yang dibuat Inner sangat kuat dan sempurna. Tak ada celah tercipta. Untuk melihat atau pun mendengar. Kini, Sakura terjebak dalam alam bawah sadarnya sendiri. Ia harus melawan sisi gelap dirinya agar bisa terbebas dan menghentikan apapun yang dilakukan oleh Inner.
Dalam kepanikan, ia merasakan gelombang cakranya memenuhi ruangan tempatnya berdiri. Udara terasa sesak. Ruangan terasa sempit. Cakranya sendiri membuatnya depresi. Bergejolak hebat, mendominasi, dan kuat sekali, mengalir pada dua titik tubuhnya. Sikunya terasa dingin.
"Inner! Hentikan!" namun terlambat. Dirasakannya sikunya itu seolah terpecah menjadi serpih. Ia meraung menjerit kesakitan. Sakura hampir gila. Rasa sakit ini jauh melebihi bayangannya. Ia menangis. Memohon jiwanya yang lain untuk berhenti.
Rupanya Sang Kuasa masih mencintainya. Sebuah retakan kecil pada dinding tercipta akibat cakra yang meledak dalam tubuhnya. Dengan susah payah, ia menghampiri retakan itu.
Jika waktu bisa diputar kembali, ia akan memilih berdiam di tempatnya. Kristal hijaunya melihat secara jelas, dalam dunia hitam putih Inner, melalui mata jiwanya yang lain, saat wajah ngeri Agire menatap balik dan teriakan itu menguar. Indra perasanya mencecap cairan amis dan kental. Lidahnya ngilu perih dan terasa terkoyak. Tubuhnya terasa lengket dan basah, tapi tak ada satupun bukti nyata di tubuhnya.
Mulutnya tak bisa membungkam. Pita suaranya hampir putus. Ia berteriak sehisteris mungkin, sejadi-jadinya, saat Inner membuang potongan pedang hitam dengan bola mata yang tercucuk, dari mulutnya. Rasa mual itu begitu hebat. Ingin muntah tapi tak bisa. Inner baru saja menggunakan raganya untuk menghabisi Agire dalam kebrutalan.
Raga Sakura terhenti. Terduduk kaku di atas tubuh Agire yang tak berdaya. Matanya menatap nanar ke depan. Mulutnya masih sempat membisikkan 'Kai' sebelum akhirnya, raga itu seolah menjadi patung hidup.
Inner Sakura melepaskan kuasanya atas raga Sakura. Tubuh hitam putihnya melayang cepat memasuki alam bawah sadar. Diteriakkannya nama Sakura, memintanya untuk menenangkan diri.
'Sakura! Idiot! Sudah kuperingatkan! Tutup matamu dan telingamu! Tenanglah!' tak ada gunanya. Sakura terus menjerit-jerit dalam kungkungan dinding.
Begitu histerisnya, sampai ia tidak merasakan kehadiran Inner yang sudah bersimpuh di depannya. Memanggil namanya, berharap ia kembali pada akal sehatnya. Sisi gelap Sakura mengumpat keras dan dengan terpaksa, menampar jiwa lainnya.
Sakura terdiam dan syok.
'Inilah sebabnya, aku tidak ingin kau melihatnya, Sayang. Aku tidak yakin kau akan menerimaku, sisi gelapmu ini. Aku percaya kau sadar bahwa aku adalah manifestasi sisi gelapmu, tapi aku merasa sulit percaya kau akan menerima fakta ini dengan mudah. Kau hanya mengenaliku sebagai belahan jiwa yang tersembunyi, tapi kau lupa kalau aku juga terbentuk dari kumpulan emosi dan logikamu yang tak terungkap.' Sosok hitam putih Inner terisak memeluk tubuh bewarna Sakura. Perempuan dalam pelukannya itu diam seribu bahasa.
Inner melepaskan pelukannya dan memaksa Sakura berdiri, mendorongnya keluar dari balik dinding alam bawah sadar, terus mencengkeram bahunya. Sampai tiba saatnya Kakashi datang membawa tubuh Sakura, ia tidak akan melepaskan jiwa manisnya itu.
Saat Kakashi menenangkan jiwanya yang manis itu dalam genjutsu, Inner melihat bagaimana semua orang yang dikasihinya, datang dan pergi. Inner menangis. Dalam dunia monokromnya, mulutnya terus merapalkan permintaan maaf.
"Aku tahu kesedihanmu, Inner. Mari kita sudahi saja. Aku tidak tahu apa aku bisa kembali menjadi Sakura yang sebelumnya. Tapi, aku akan mencoba, untuk kita berdua." Bisik Sakura di tengah kerumunan orang terkasih. Suaranya lembut terbawa angin. Meskipun Inner tak bisa melihat belahan jiwanya dengan jelas, ia bisa membayangkan wajah Sakura yang sendu dan berusaha tersenyum.
'Sakura ... maafkan aku... Tidak seharusnya begini, Sayang..' gadis monokrom itu balik berbisik. Ia menggeleng pelan dengan wajah berlinang air mata.
'Aku tidak akan mengganggumu, Sakura. Mungkin, mulai sekarang, aku tidak selalu ada dalam dirimu. Tapi, jika kau sangat membutuhkanku, aku akan datang. Aku janji.' Desah napas pelan mengalun di udara. Kerumunan orang itu berpaling pada Inner dan memandangnya dengan penuh pengertian. Mereka semua tersenyum dan hal itu cukup untuk membuat gadis monokrom yakin, bahwa permohonannya telah mencapai Sakura dan perempuan itu memahami permohonannya.
Inner mendengus pelan dan tersenyum kecut, sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya, berjalan menjauh. Perlahan, bak pasir tertiup angin, tubuhya terurai dalam partikel debu monokrom, menghilang tanpa jejak. Hanya suara lirihnya yang tulus terdengar sebelum Inner musnah dari benak Sakura.
'I love you, Sakura...'
Sakura tersenyum dan menutup matanya.
"Kai." Bisiknya lembut. Selembut proses lunturnya dunia hitam putih menjadi warna yang ia dambakan sebelumnya.
-xxxXXXxxx-
Akiochiba hanya terdiam, tak ada sepatah kata keluar dari mulutnya. Proses penyembuhan Sakura menjadi momen sarat emosi bagi mereka. Pemberontakan Sakura bukanlah hal yang mudah untuk ditangani. Dengan tapak tangan berlubang dan siku yang patah serta dislokasi lutut dan bahu, belum lagi begitu banyak bagian tubuh yang tercabik-cabik, perempuan itu masih sanggup menciptakan kawah besar menggunakan tapak kakinya.
Ia menggeram, meraung, menyerang siapapun, baik Akiochiba, Kinoharu, bahkan Naruto sekalipun. Tak sampai hati Naruto bermain kasar untuk menjinakkan Sakura. Hanya Kakashi yang mengedepankan logikanya, dengan berat hati, menjebak Sakura dalam genjutsu.
Hal yang bisa Sakura lakukan hanyalah :
"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku..." begitu seterusnya ia ucapkan dalam pengaruh genjutsu Kakashi, dengan mata menatap langit, kosong, ditemani gelimang air mata. Memanfaatkan momen itu, Akiochiba cepat-cepat menyembuhkan luka-lukanya. Menyambung kembali tulang yang patah, menumbuhkan kembali serat-serat daging yang tercabik, mengembalikan posisi sendi, menghentikan pendarahan. Namun, semua itu terhenti, tatkala tangannya bergerak di wajah Sakura.
Tangan itu, meremas pergelangan tangannya. Kuat. Sangat kuat hingga meninggalkan bekas. Mata merahnya beradu dengan acid mematikan. Perempuan itu memandangnya dalam-dalam, tajam, dan menuntut, menunjukkan dominasi atas tubuhnya sendiri.
"Jangan." Dengan satu kata itu, Akiochiba berhenti dan membiarkan lidah itu terkoyak dalam rongga mulutnya. Kakashi hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sakura adalah ninja cerdas. Genjutsu yang ia tanamkan sangat mudah untuk dilepas. Ia hanya ingin Sakura tenang dan tahu bahwa, apapun yang terjadi pada mereka, biarlah berlalu, dan mereka akan senantiasa bersama, meskipun banyak hal berusaha memisahkan mereka.
-xxxXXXxxx-
"Naruto, jika suatu saat, apa yang kau percayai selama ini hanyalah kedok seseorang, apa yang akan kau lakukan saat mengetahui kebenarannya?" tanya Kinoharu. Jinchuuriki itu menyipitkan matanya.
"Apa yang kau sembunyikan dari kami? Katakan sekarang, sebelum semuanya terlambat." Jawabnya jengkel. Akiochiba menatap Pangerannya dalam kedukaan dan Kakashi melihatnya dengan jelas.
"Aku hanya bertanya."
"Dan aku hanya ingin tahu jawabannya." Cibir Naruto tak kalah dingin.
"Nanti, saat sudah tiba saatnya." Jawab Pangeran singkat. Ia menunjuk ke suatu arah di depannya dengan dagunya.
"Nampaknya seseorang sudah mendahului kita."
-xxxXXXxxx-
Kicauan burung memekakkan telinganya. Ujung tajam beraliran listrik tertempel di tengkuknya. Agire tertawa pelan dan menggeleng sejenak.
Mangekyou Sharingan menyala-nyala pada wajah kelamnya. Pendar ungu tajam tersingkap di balik helaian rambutnya. Raut khas Uchiha tercetak jelas pada wajah tampan itu.
"Mengkhawatirkan istrimu?"
"Di mana Sakura?"
"Ra-ha-si-a." Jawabnya tertawa terkekeh. Ia melompat menjauh sebelum aliran listrik merusak penyembuhannya. Menurunnya kecepatan Sasuke akibat rasa sesak dan panas di rongga dadanya memberikan peluang bagi Agire untuk leluasa bermanuver. Dengan sebilah pedang hitam yang tersisa, ia menari bersama Sasuke, diiringi oleh kicauan jutaan burung.
Cakra ungu membungkus raga Uchiha dengan gerakan lamban. Emosinya sudah menganak sungai. Selama dirinya masih hidup, tidak boleh, meskipun satu saja, yang berharga baginya, direnggut. Tidak akan terjadi, selama nama Uchiha masih disandangnya.
Rangka Susano'o mulai terbentuk. Mengumpulkan cakra pada kedua kakinya, ia menyerang Agire dengan kecepatan penuh. Aino Agire menyeringai lebar dan membentuk segel tangan untuk memanggil kuchiyose.
Gumpalan asap raksasa dan tebal menyelubungi pandangan Sasuke dan delapan cermin raksasa mencuat ke permukaan, mengelilingi mereka berdua.
"Ironi bukan, saat kau membenci sebuah nama, tapi nama itulah yang menjadi andalanmu." Seru Agire.
"Datangi aku saat kau sukses melewati Kagu-tsuchi!" soraknya sebelum menghilang dalam butiran kristal. Mulut sinis Sasuke berdecak melihat debu kristal berkilauan di udara. Cermin raksasa setinggi 30 kaki menjulang di angkasa. Refleksi dirinya terpantul dengan jelas. Delapan Sasuke raksasa berdiri saling menatap.
"Ini bodoh. Kuchiyose macam apa lagi ini?" gumamnya dongkol. Kondisinya yang tidak jelas ini membuat emosinya semakin bergejolak hebat. Gurat letih tergambar pada setiap pantulan raksasanya. Posisi tubuhnya siaga. Ia melihat ke setiap cermin, menelaahnya dengan matanya yang terlatih dan tidak mendapati satupun kumparan cakra yang mengalir. Benar-benar cermin biasa.
Susano'o dilepasnya. Ia berjalan mengitari cermin-cermin itu dan tubuh raksasanya balik memandangnya dengan intensitas tajam. Posisi cermin-cermin itu rapat, tak meninggalkan celah sedkitpun. Saat ia mendongak, tak terlihat langit cerah. Yang ada hanyalah dirinya yang menatap balik. Cermin ini,benar-benar memerangkapnya seperti dalam planetarium. Sekarang, cermin menjadi satu benda utama dalam daftar benda paling menyebalkan sepanjang sejarah.
"Sasuke-kun!" kepalanya seketika berpaling pada suara feminin yang memanggilnya. Matanya menyipit.
'Sejak kapan tempat ini berkabut? Ini aneh.' Kusanagi dihunuskan sejajar matanya.
"Sasuke-kun!" kali ini terdengar lebih nyaring dan lebih berat.
"Sakura..."
"Sasuke-kun!" Mangekyou Sharingan menyala-nyala.
'Sial! Jika ini genjutsu, seharusnya aku sudah bisa mengetahuinya sedari tadi. Tapi, jika ini bukan genjutsu, lalu apa ini?' suara yang memanggilya semakin lama semakin terdengar berat dan penuh beban. Kabut itu begitu tebal. Pantulannya tak lagi terlihat. Dengan chidori nagashi, ia berusaha menusuk salah satu cermin.
"Kyaaa!" tangan itu kaku seketika. Matanya terbeliak.
"Sakura..." bisiknya tak percaya. Siapapun tolong katakan padanya, ia tidak sedang menghujam Sakura dengan chidori nagashi. Bulir keringat mulai terbentuk di pelipisnya.
Suara gedoran kecil menggema dalam kubah cermin itu. Kabut perlahan menipis dan dengan jelas nampak sosok anak kecil dengan kaus biru berlengan panjang dan bercelana selutut merah, meringkuk di sudut cermin, dengan kepala yang tersembunyi di baling rengkuhan kedua tangannya. Chidori nagashi menancap di cermin, hanya berjarak beberapa inci dari sosok meringkuk itu.
Pita merah mencuat di atas kepalanya. Kepalanya menyembul takut-takut. Tangan kecilnya dengan putus asa menggedor-gedor cermin. Mata hijaunya membeliak ngeri. Helai selembut gulali kapas itu membingkai keningnya yang lebar.
"Sakura? Apa ... bagaimana ... kau..." untuk pertama kalinya Sasuke tergagap melihat kehadiran Sakura kecil, terperangkap di balik cermin.
"Sasuke-kun..." lirihnya sesenggukan.
xxxXXXxxx
"Ini konyol." Cetus Kinoharu. Semua mata tertuju padanya, kecuali Sakura. Mata hijaunya memandang lurus ke depan. Apa yang ia cemaskan menjadi kenyataan. Planetarium cermin raksasa menjulang ke langit.
"Jadi, dia menggunakan kagu-tsuchi?" timpal Akiochiba. Kepala merah muda itu mengangguk pelan.
"Apa itu? kenapa tiba-tiba ada cermin raksasa di tengah hutan seperti ini?" tanya Naruto setenang mungkin, berusaha tidak mengusik pesakitan di punggungnya.
"Jadi, jika aku boleh bertanya, apakah Sasuke mempunyai masa lalu yang bersifat traumatis? Maksudku, sangat kelam dan hampir membunuhnya?" tanya Kinoharu yang kini memutuskan untuk berhenti di salah satu dahan pohon, berjarak sekitar 700 meter dari cermin itu berdiri.
"Bagus sekali, kita punya pekerjaan tambahan." sambung Akiochiba sembari berdecak.
"Aku rasa," Kakashi berdiri bersebelahan dengan Naruto, menyipitkan matanya, memandang gelisah pada cermin-cermin itu. "Musuh terbesar Sasuke ada di dalam cermin itu." sambung Kakashi seraya melipat tangan.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Naruto setengah berbisik.
"Firasat." Jawabnya, mengedikkan bahu.
"Dan bukan sekedar firasat." Ucap Kinoharu. "Apa yang kau pikirkan memang benar, Kakashi." Naruto menggeram kesal. Dia mulai tidak suka pembicaraan ini. Seolah-olah tidak ada jalan keluar bagi mereka untuk menyelesaikan masalah ini.
"Kenapa kalian diam!? Kenapa kita tidak langsung hanurkan cermin itu dan mengeluarkan Sasuke?!"
"Pergi dan lakukanlah. Jika kau tidak bisa menghancurkannya, berhentilah merengek!" sentak Kinoharu dengan tangan mengepal. Akiochiba melirik dari ekor matanya. Kakashi menghela napas pelan.
"Musuh terbesar Sasuke adalah dirinya sendiri. Jika ia masih terbelenggu dengan bayang-bayang masa lalu, cemin itu tidak akan hancur. Semakin Sasuke tenggelam dalam penyesalan, cermin itu akan semakin kokoh. Tapi, jika dia bisa MEMAAFKAN dirinya sendiri dan melepaskan penyesalan, cermin itu akan hancur dengan sendirinya. Berikan semua jutsu terbaikmu. Cermin itu tidak akan goyah." Jelas Akiochiba. Naruto menggigit bibirnya.
"Maksudmu, cermin itu seperti benteng dari jiwa Sasuke?"
"Begitulah. Kagu-tsuchi seperti cermin biasa, tapi cermin ini mampu menangkap aura dan emosi seseorang yang terperangkap di dalamnya. Cermin ini memanifestasikan kecemasan terdalam seseorang menjadi kenyataan. Dengan kata lain, kita dihadapkan dengan musuh kita secara psikologis." Kali ini Kinoharu yang menjawab. Kakashi mendengus pelan daan menggeleng sedih.
"Jika Sasuke tidak bisa mengalahkan dirinya sendiri atau melepas penyesalan dan mengampuni dirinya sendiri dan orang lain ... seperti ilusi abadi, bocah ini akan terjebak dan menjadi gila." Gumam Kakashi. Naruto menyerngitkan keningnya .
"Lalu?" bisik Naruto, berusaha tidak mengetahui jawabannya.
"Apalagi? Mati." Sahut suara baru yang bergabung di depan mereka.
"Sai?" ucap Naruto terbelalak. Pelukis itu tersenyum dan dengan sedih melihat gadis kesayangan Tim 7 dalam kondisi mengenaskan.
"Aku rasa, ini bukan saat yang tepat untuk mengetahui sebab Sakura seperti itu. Benar?" Akiochiba mengangguk. Pemuda pucat itu termangu dan menatap balik Naruto.
"Jadi?" tanyanya.
"Sasuke, Teme! Jangan sampai kau bersikap bodoh di dalam sana!" dengus jinchuuriki itu kesal. "Apa tidak ada cara untuk membantunya dari luar?" Kinoharu termenung sebentar lalu melirik Naruto. Matanya dingin dan mengkalkulasi. Tampak enggan mengatakan.
"Ada."
"Katakan." Perintah Kakashi.
"Seseorang yang sangat berpengaruh pada Sasuke, terutama secara emosi, jika bisa menggapai Uchiha, ada kemungkinan membantunya dalam mengatasi luka batin di masa lalu." Mata legam Kakashi melebar dan serta merta melongok ke arah punggung bocah rubah itu. Seolah menyadari maksud tatapan Kinoharu sebelumnya, Naruto menoleh sedikit ke belakang.
Sakura bagai boneka hidup yang baru saja jatuh dalam ladang pembantaian. Matanya kosong dan dingin dan datar menurut Naruto. Tapi, Kinoharu tahu Sakura tidak sekedar menatap kosong.
Ia menatap tajam cermin-cermin raksasa itu.
"Aku ... aku tahu apa saja yang sudah dilalui Sasuke. Dan aku paham rasa sakit yang ia panggul selama bertahun-tahun. Aku bisa merasakannya, karena jika dia sakit, aku juga sakit." Ucap Naruto sendu.
"Tapi, ada bagian lain dari Sasuke yang tidak akan pernah aku bisa pahami. Gadis hebat di punggungku ini, bisa memahaminya dengan luar biasa. Aku yakin, jika kau butuh orang yang bisa mencapai tempat tergelap Sasuke, itu hanya Sakura." senyum tipis terulas di bibir Naruto, sebelum akhirnya memudar dan matanya membeliak, menatap gadis malang itu.
Sakura menangis dalam tatapan kosong.
Hampir 6 bulan? Gomen, tapi kesibukan ngurus wisuda dan mengajar cukup menyita waktu. Terima kasih atas doa dan dukungannya, baik lewat fave, follow, review, dan silent reader. Ane lulus dengan baik dan Cum Laude, jadi dosen, sekarang lagi garap buku dan proyek pribadi sampingan, dan coba urus S2. Terima kasih :D
Ane ga mau jadi tukang ingkar janji, jadi ane mau merampungkan semua FF yg ane tulis dengan baik. Semoga.
Ah iya, sekalian tanya donk untuk kalian anak Yogyakarta, pernah dengar univ AMIKOM? Bagi2 info dunk XD
Love you all people :*
RnR Pliss?
Matursuwun...:3
