Disclaimer: i own nothing but the plot and several OC :D
Platform 9 ¾, Hogwarts Express and Teddy Lupin
"Dad! Apa tidak sebaiknya kita berangkat sekarang?" tanya Fiona untuk kesekian kalinya sore itu. Fiona sudah siap untuk berangkat sejak satu jam yang lalu, sementara Dudley masih mengenakan baju santainya dan tampak asyik menonton televisi.
Dudley menoleh pada Fiona, "Fio, ini baru pukul—" Dudley melirik jam dinding "—dua kurang lima belas menit. Kita hanya butuh tiga puluh menit untuk sampai di King's Cross,"
Fiona merengek, "Tapi Dad, bagaimana kalau kita tidak dapat tempat parkir? Hari ini semua murid Hogwarts akan pulang Dad. Semua,"
"Bertahun-tahun aku ikut bersama kakek dan nenekmu mengantar Harry ke King's Cross dan kami selalu mendapatkan tempat parkir,"
"Tapi Dad!" Fiona merajuk.
"Dia akan terus merengek kecuali kalian segera pergi dari sini," ujar Caroline, menggeleng-geleng melihat rengekan putri sulungnya.
Dudley menghela nafas, "Baiklah! Berhenti merajuk dan beri aku beberapa menit untuk bersiap-siap," Dudley mematikan televisi dan berjalan ke kamarnya untuk bersiap-siap. Baru saja Dudley memakai t-shirtnya, Fiona sudah kembali berteriak dari ruang tengah.
"Dad? Ayo! Aku tidak ingin terlambat!"
.
Seperti yang sudah Dudley perkirakan, belum ada satu pun dari keluarga Potter yang datang. Dudley melirik jam tangannya, baru pukul tiga kurang sepuluh menit dan Dudley sudah berdiri di tempat yang sama selama dua puluh menit, kurang lebih.
Lain hal dengan Fiona yang terlihat sangat bersemangat. Ia tidak berhenti bergerak-gerak, berjinjit-jinjit mencari sosok yang mungkin di kenalnya. Fiona tidak terlihat lelah sedikit pun walau sudah berdiri cukup lama di situ.
"Itu mereka!" seru Fiona semangat.
Dudley menoleh, melihat Harry datang bersama James dan Lily. Lily dan Fiona langsung berlarian menghampiri satu sama lain.
"Hey Dudley!" sapa Harry riang.
Dudley tersenyum, "Hai Harry. Kau terlihat senang hari ini,"
"Tentu saja aku terlihat senang. Anak baptisku akan pulang hari ini,"
"Kau bawa mobil?"
"Tidak. Aku ber-Apparate,"
"Praktis sekali,"
Harry terkekeh, "Aku hanya sedang malas membawa mobil," Harry memandang ke sekeliling, matanya terlihat menerawang. "Tempat ini tidak berubah banyak,"
Dudley ikut melihat ke sekeliling, ia mengangguk setuju, King's Cross memang tidak banyak berubah. Hanya sedikit perbaikan dan cat tambahan di sana sini, tapi tetap terlihat sama. "Aku ingat saat menjemputmu waktu kau kelas empat," Dudley nyengir, "Itu Hermione kan? Yang menciummu?"
Pipi Harry memerah, "Apa? Bagaimana kau—"
"Dad memberitauku," potong Dudley, masih nyengir lebar. "Dia memberitauku dan Mum bahwa ada seorang gadis tidak waras berambut cokelat mencium si bocah. Jadi itu benar-benar Hermione?"
Harry mengangguk, wajahnya masih memerah. "Ya dan itu—err—itu pertama kalinya—emm—"
"Pertama kalinya dia menciummu?" goda Dudley.
Harry mengangguk lagi, "Dan itu hanya di pipi," tambah Harry.
James, Lily dan Fiona tampak asyik mengobrol, mereka berada beberapa langkah di depan Harry dan Dudley yang juga asyik mengobrol.
"Dimana itu Platform 9 ¾?" tanya Fiona.
"Di depan sana, di antara Platform 9 dan 10," jawab Lily.
"Aku tidak melihat ada Platform 9 ¾,"
James terkekeh, "Perhatikan aku," katanya singkat lalu berlari menjauhi Lily dan Fiona, tampaknya James hendak menabrak tembok.
"James! Tem—" dagu Fiona jatuh berguling-guling di lantai ketika James menghilang di antara palang 9 dan 10, ia menoleh pada Lily ragu. "Dia—kukira—itu—"
Lily mengangguk, "Yap, dia memang menembus palang itu. Platform 9 ¾ berada di baliknya. Ayo, Hogwarts Express akan tiba dalam waktu—" Lily melihat jam di tangannya "—sepuluh menit. Ayo,"
Tanpa menunggu persetujuan Fiona, Lily menariknya berlari untuk menembus palang. Fiona menutup matanya ketika mereka sudah mendekati palang.
"Kita sampai," terdengar suara Lily.
Fiona membuka matanya perlahan dan hal pertama yang ia lihat adalah kumpulan orang-orang berjubah seperti yang ia lihat di Diagon Alley. Lalu James melambai dengan semangat sebelum menghampiri Lily dan Fiona.
"Sudah ramai ya, mana Dad dan Paman Dudley?" tanya James.
"Tadi sih mereka masih ada di belakang kami," jawab Lily.
"Oh, Well," James mengangkat bahu, "Mungkin lebih baik Dad menunggu di stasiun Muggle daripada membuat keributan lagi,"
Fiona terkikik geli mengingat kejadian di Diagon Alley. Lily cemberut.
"Apa yang lucu?"
Ketiga anak itu menoleh. Harry berdiri tepat di belakang mereka dengan Dudley berada di sampingnya. Ketiganya nyengir dan menggeleng cepat, "Tidak ada apa-apa,"
Harry terlihat tidak percaya, tapi perhatian ketiga anak itu (sebenarnya termasuk Dudley juga) langsung teralih ketika mendengar suara kereta api mendekat sebelum Harry sempat mengatakan apa pun lagi. Lagi pula, Harry merasakan seseorang menepuk bahunya.
"Hey Bill," sapa Harry, tersenyum melihat Bill Weasley berdiri di dekatnya bersama Dominique. "Mana Fleur?" Harry mencari-cari sosok gadis keturunan Veela itu.
"Louis sakit jadi Fleur tetap di rumah, menjaganya," jelas Bill.
Harry mengangguk-angguk mengerti.
Hogwarts Express terlihat semakin mendekat, membuat Lily, Fiona, Dominique dan James terlihat semakin bersemangat. Bahkan sebelum kereta berhenti, James sudah berlari menyongsongnya, terlihat sangat tidak sabar untuk bertemu Teddy. Lily dan Dominique terlihat ingin menyusul James, tapi Harry dan Bill menghentikan keduanya, cukup James saja yang menjemput.
Fiona mengira Hogwarts Express akan terlihat berbeda dari kereta-kereta Muggle, tapi ternyata tidak jauh berbeda. Hanya terlihat lebih tua, besar dan panjang.
Segera setelah kereta berhenti, para penjemput terlihat mengerumuni kereta. James sudah tidak terlihat lagi, ia tenggelam di antara lautan manusia.
Tidak lama kemudian, James kembali terlihat. Kali ini ia tidak sendirian, seorang anak laki-laki bertubuh jangkung dengan rambut biru dan seorang anak perempuan bersamanya. Fiona melongo melihat anak perempuan itu, dia sangat cantik dan mengingatkannya pada Fleur.
"Victoire!" "Teddy!" jerit Lily dan Dominique, keduanya langsung berlari menghampiri Teddy dan Victoire lalu memeluk keduanya erat-erat.
Fiona menyadari bahwa Dominique terlihat mirip dengan Victoire, hanya saja Dominique berambut merah seperti ayahnya, Paman Bill, tapi sisanya mirip sekali dengan Victoire. Teddy-lah yang menyita perhatian Fiona hari itu. Rambut birunya membuatnya terlihat berbeda, tubuhnya yang jangkung tapi tidak kurus membuatnya terlihat seperti olahragawan, Fiona memang pernah mendengar dari James kalau Teddy senang bermain Quidditch.
"Teddy, Victoire, kenalkan ini Fiona. Sepupuku!" Lily mengenalkan Fiona pada Teddy dan Victoire.
Fiona mengulurkan tangannya, menjabat Victoire dan Teddy satu persatu.
Teddy nyengir, ia melirik James sekilas lalu kembali pada Fiona. "Jadi ini Fiona yang akhir-akhir ini James sebutkan di suratnya. Kau terlihat lebih cantik dari bayanganku," Teddy kembali melirik James, matanya berkilat jahil.
Wajah James bersemu kemerahan.
"Kau menulis tentangku?" tanya Fiona.
James menggaruk kepalanya, terlihat kikuk, "Umm—ya, aku bilang kalau—err—aku punya—umm—sepupu. Kelahiran-Muggle,"
Teddy mengangkat kedua alisnya, rambutnya berubah warna menjadi ungu. "Benarkah? Aku ingat kau mendeskripsikan Fiona dengan sangat jelas dan detail. Aku—"
"WAAA! WAAA!" James mengibaskan kedua tangannya sambil berteriak-teriak, membuat suara Teddy tenggelam dalam teriakannya. "Cukup Teddy," desisnya.
Teddy, Lily, Victoire dan para orang dewasa tertawa melihat James yang salah tingkah. Fiona terdiam dan bahkan tidak berkedip sedikit pun.
"Intinya adalah, dia bercerita banyak tentangmu Fiona. Aku melihat sendiri surat-surat dari James beberapa minggu terakhir," Victoire mengedipan matanya pada Fiona, lalu nyengir pada James.
James menggerutu, merasa semua orang bersekutu untuk menyudutkannya.
"Ayo, kita pulang sekarang. Kalian bisa lanjut menggoda James nanti," kata Harry, terlihat senang melihat putra tertuanya disudutkan seperti itu.
"Dad!" keluh James.
Harry terkekeh, ia menepuk punggung James pelan.
Bill dan Harry mengecilkan koper-koper Victoire dan Teddy lalu memasukkannya ke dalam saku. Bill berpamitan pada semuanya dan membawa kedua gadis kecilnya ber-Apparate langsung ke rumahnya.
"Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?" tawar Dudley.
"Aku tidak mau merepotkanmu,"
"Tidak apa-apa Harry, aku yakin anak-anak akan senang,"
Harry dan Dudley melihat Lily dan Teddy menggoda James dan Fiona tentang mereka berdua duduk di atas pohon dan berciuman. Wajah James dan Fiona memerah, mengingatkan Harry pada warna bunga mawar merah yang ditanamnya di halaman rumah.
"Yeah, sepertinya mereka akan senang menggoda James dan Fiona," Harry mengangguk setuju. Ia menepukkan kedua tangannya untuk menarik perhatian anak-anak itu, "Ayo anak-anak, Paman Dudley akan mengantar kita pulang dengan mobilnya!"
Teddy berseru semangat, ia dan Lily bahkan berlari mendahului Harry dan Dudley menuju lapangan parkir. Meninggalkan James dan Fiona yang masih tampak salah tingkah, mereka berjalan pelan tidak jauh di belakang Harry dan Dudley.
"Rambut Teddy berubah warna," gumam Fiona.
"Dia metamorphogus. Teddy bisa merubah warna rambut, bola mata dan bentuk tubuhnya," James nyengir, "Kadang aku ingin menjadi metamorphogus sepertinya,"
"Kenapa? Dan bagaimana kau bisa menjadi metamorphogus?"
"Kita tidak bisa belajar menjadi metamorphogus. Teddy mendapatkan kemampuan itu dari ibunya yang juga metamorphogus dan kurasa aku dalam rambut pirang, mata gelap dan tubuh seperti pemain Quidditch profesional akan terlihat bagus kan?" gurau James.
Fiona terkikik, "Kau terlihat bagus dengan rambutmu sekarang dan matamu—" Fiona tersenyum manis, "Kau punya warna mata yang menarik,"
Pipi James memanas, "Umm—thanks. Kau juga terlihat cantik dengan rambut dan kau punya warna mata yang menarik juga,"
Wajah Fiona memerah, "Terima kasih James,"
Mereka berjalan bersisian dalam diam sambil memperhatikan ke sekeliling mereka, memperhatikan Harry dan Dudley yang sepertinya terlibat obrolan seru serta melihat Teddy mengejar-ngejar Lily.
"Banyak hal yang tidak aku tau,"
James menoleh, "Tidak juga. Kau sudah tau cukup banyak hal dalam waktu beberapa minggu saja. Lagipula—" James meraih tangan Fiona dan tersenyum, "—jika kau punya sesuatu yang ingin kau tanyakan, kau bisa bertanya padaku atau orangtuaku atau Lily. Kami pasti akan menjawabnya,"
Fiona tersenyum, "Terima kasih. Aku pasti akan kehilanganmu kalau kau berangkat ke Hogwarts nanti,"
James nyengir, "Kau akan segera menyusulku dalam beberapa tahun kan? Sementara itu mungkin aku akan mengirimkan toilet Hogwarts atau meja asrama untukmu, sebagai oleh-oleh,"
Fiona terkikik, "Itu terdengar bagus. Bagaimana kalau kau bawakan menara Gryffindor untukku?"
"Sepertinya aku akan membawa kastil Hogwarts pulang,"
Mereka tertawa keras. Tidak menyadari bahwa ada empat pasang mata yang menatap mereka dengan penuh keingintauan.
"Hoy pasangan bahagia di sana! Kami mau berangkat, kalian mau kami tinggal?" teriak Teddy dari seberang lapangan parkir.
Fiona dan James tertawa lagi, "Kami datang!" dan mereka pun berlari menghampiri keluarga mereka.
thank you for reading :)
