Qtalita

.

.

Fly with Wonkyu

.

.

Enjoy

...

Kyuhyun berdiri di depan pintu kokpit, mengepal tangan kanannya, ingin melangkah namun ia khawatir, takut, ia tidak ingin kalah sekarang. Tidak. Gengsinya masih terlalu tinggi untuk menaikkan bendera putih sekarang.

Kret.

Dan logika setannya kalah. Setelah masuk ke dalam ruang kecil kokpit pesawat, Kyuhyun bersandar di pintu, Siwon di duduk menunduk dengan bertumpu pada kemudi, nafasnya tidak teratur, Kyuhyun mendekat, duduk di tempat sang kapten, disebelah Siwon, tangannya bergerak mengelus kemudi, senyumnya terukir simpul, seharusnya ia berada disini, menerbangkan pesawat, dan mungkin bersama Siwon.

Wajah Kyuhyun bersemu di kedua pipinya, matanya menatap intens Siwon, tangannya terulur, menyentuh bahu Siwon, namja itu tersentak, mungkin kaget, matanya sayu, meskipun terkejut mengetahui Kyuhyun ada disitu.

"Gwenchana?"

Lembut, suara Kyuhyun melembut, terdengar sarat kekhawatiran si telinga Siwon, namja tampan itu tersenyum lirih, menyandarkan tubuhnya.

"Apa aku akan baik-baik saja jika nyaris mencelakakan 300 penumpang?" Siwon berkata lirih, Kyuhyun menghela nafas, menatap lurus, sinar-sinar pancar cahaya lampu sesekali melintas, mobil-mobil pemadam serta ambulance masih banyak di landasan, Kyuhyun tersenyum.

"Kau sudah cukup hebat"

Siwon menggeleng.

"Tidak sehebat Kapten Cho"

"Aniyo, Appa sering menceritakan kehebatanmu, entah darimana dia menilai" Kyuhyun memutar bola matanya malas mengingat berapa kali sang Appa membicarakan Siwon di depan meja makan.

Siwon terkekeh kecil, melirik Kyuhyun yang juga menatapnya.

"Aku kira tidak akan bertemu lagi denganmu"

"Hm?"

"Tadi adalah kejadian paling mengerikan dalam hidupku"

Kyuhyun bisa melihat Siwon yang sesekali merinding, bergetar kecil, Kyuhyun merasa terenyuh, tangannya terulur menggenggam jemari Siwon, ia sendiri bingung darimana dorongan itu berasal, yang pastinya Kyuhyun ingin menenangkan Siwon detik ini.

"kemarilah"

Kyuhyun menarik Siwon untuk jatuh di pelukannya, meskipun tidak erat, namun Siwon cukup merasa tenang, ia menghirup sebanyak mungkin aroma tubuh yang begitu ia rindukan, mendekap selama mungkin tubuh yang membuatnya nyaman.

"Kau sudah menjadi pahlawan utuk 300 penumpang Siwon" Kyuhyun membelai punggung Siwon, mengecup bahu Siwon.

"..."

Kyuhyun melepas pelukannya, menangkup wajah Siwon, ditatapnya mata kelam itu dalam.

"Kau sudah menjadi pahlawanku, terima kasih telah menjaga appaku dengan baik"

Kyuhyun memasang senyum paling tulus yang ia miliki, hati Siwon menghangat,tanpa dipaksa bibirnya menyajikan balasan untuk Kyuhyun.

Tanpa mereka sadari seseorang berdiri di depan pintu kokpit, seseorang yang lebih memilih memalingkan wajahnya.

"Aku tahu ini akan menyakitkan" lirih namja itu meninggalkan Kyuhyun dan Siwon.

...

Taecyeon bernafas lega setelah melihat Kyuhyun dan Siwon muncul dari pintu masuk, langkahnya ringan mendekati Kyuhyun dan memeluknya.

"Kau membuatku khawatir, kau pergi begitu saja"

Siwon mengalihkan pandangannya, menatap Jaejoong yang menghambur ke dalam pelukannya, Yunho bernafas lega, adik iparnya baik-baik saja, meskipun ia mengernyit juga ketika Siwon meringis dalam pelukan jaejoong.

"Gwenchana?"

Siwon menggeleng, ia tersenyum membuka lengan kanannya meminta sebuah pelukan dari sang kakak ipar, Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya, memeluk erat namja yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri itu.

Kyuhyun bernafas lega dibalik pelukan Taecyeon, ikut tersenyum saat jaejoong menarik telinga adiknya dengan berurai air mata, lalu berbalik mengecupi seluruh wajah Siwon, dan berakhir dalam pelukan namja cantik itu.

Ia memang baru mengenal jaejoong, tapi ia merasa jika Siwon adalah namja paling beruntung di dunia, karena memiliki seorang hyung seperti istri pimpinannya itu.

"Ada yang melihat Kibum?"

Jaejoong menyeka airmatanya, memperhatikan sekeliling ruangan, Siwon menepuk dahinya, seperti baru mengingat jika Kibum juga berada di penerbangan yang sama dengannya, bahkan Kibum berperan banyak menenangkan penumpang tadi.

"Biar aku yang cari" Siwon menawarkan bantuan saat Taecyeon yang bergerak. Kyuhyun meremas jemarinya, mengepalkannya hingga memutih, ingin menahan Siwon tapi..

"Arra, jangan lupa tenangkan calon istrimu itu, aku yakin dia masih terguncang" Taecyeon menepuk bahu Siwon, Siwon melirik Kyuhyun sekilas sebelum mengangguk, sementara Kyuhyun lebih memilih memalingkan wajahnya ke arah lain.

Changmin datang merangkul Kyuhyun, memisahkan namja cantik itu dengan Taecyeon.

"Kyuhyun chagiii, kau berhutang banyaaak penjelasan padaku" Changmin memojokkan Kyuhyun dengan tatapannya, Kyuhyun berkedip lucu, Changmin tersenyum pada Jaejoong yang memandanginya.

Flashback

"MWO? Jadi hyung penyebab kecelakaan itu?"

Jaejoong mengangguk, matanya memerah.

"Jika bukan karena aku, pesawat itu tidak akan pernah kehilangan kendali dan.. Eomma Kyuhyun tidak akan meninggal"

Changmin menggigit jari telunjuknya, dahinya berkerut.

"Tunggu sebentar, jadi hyung dulunya seorang Co-pilot sementara.."

"Ya, Eomma Kyuhyun seorang pilot, pilot yang sangat hyung kagumi"

Ryeowook menatap Jaejoong dengan tatapan terkejut, tidak menyangka jika kejadiannya bisa seperti ini.

"Jika saat itu Kapten Cho tidak mendorong tubuhku sedetik sebelum pesawat menyentuk tanah, mungkin hyung sudah tidak berada di depan kalian" Jaejoong tersenyum miris, jemarinya bergetar setiap kali peristiwa itu terlintas di benaknya.

"Dan kini, hyung ingin menebus semuanya, Hyung mencari Kyuhyun kemanapun, dan beruntung kami bertemu disini"

Changmin menghela nafas panjang, cukup mengerti dengan kejadian ini, Jaejoong adalah mantan penerbang, sementara Kapten Cho adalah ibu Kyuhyun.

"Apa Kyuhyun tahu? Semuanya?"

Jaejoong menggeleng, sedikit khawatir. Ryeowook yang membaca gelagat aneh itu menepuk bahu Jaejoong.

"Cepat atau lambat ia akan tahu hyung, lalu Siwon?"

Jaejoong kembali menggeleng.

Changmin dan Ryeowook berpandangan, sepertinya ini akan bertambah sulit. Dilihatnya Jaejoong yang memberi pandangan memohon.

"Aku mohon jangan memberitahu siapapun masalah ini, akan ada waktu hyung sendiri yang berbicara"

Changmin menegakkan tubuhnya.

"Sebaiknya hyung bicara secepatnya, firasatku menjadi buruk, aku takut hal-hal yang tidak diinginkan bisa terjadi di masa depan hyung"

Jaejoong mengangguk.

Flashback End

...

Kyuhyun meminum aspirin ke 3 nya hari itu, seharian ia hanya berbaring di kamarnya, beruntung pihak perusahaan memberi liburan untuknya sejak insiden WK 407 beberapa hari lalu.

Kyuhyun melirik keluar, ke arah pintunya yang terbuka lebar, kebiasaannya ketika tengah terserang demam, ia membiarkan kamarnya terekspos berhadapan dengan ruang kerja sang appa, dengan begitu Kyuhyun merasa appanya bisa memperhatikan dirinya.

"Ne, ah kamsahamnida atas informasinya"

Kyuhyun menajamkan pendengarannya, sang appa tengah berjalan mondar mandir di depan meja kerja dengan ponsel di telinga kanannya. Bertepatan dengan ponsel yang dimatikan pandangan mereka bertemu, Appa Cho tersenyum, masuk ke dalam kamar Kyuhyun, mengecek suhu tubuh anaknya itu.

"Demam mu sudah turun, appa harus pergi"

"Eh? Pergi? Kyu kira appa tidak punya jadwal apapun hari ini" Protes Kyuhyun, ia duduk bersandar, Appa Cho menarik nafas sebelum duduk di pinggiran ranjang.

"Appa tidak ke bandara, appa harus menemui Yunho sajangnim, ini mengenai insiden kemarin"

Kyuhyun terkejut, apa ayahnya akan diberhentikan? Apa ayahnya akan terkena jerat hukum? Apa..

"Hei, ini mengenai Siwon"

"Siwon?" Dahi Kyuhyun berkerut, Appa Cho mengangguk.

"Rekaman Black Box membuktikan jika Siwon harus mendapat teguran keras dari pihak penerbangan dan departemen pusat, izin terbang Siwon bisa saja dicabut detik ini juga, hanya.."

"wae? Ini bukan salah Siwon sepenuhnya appa, aku yakin itu" Kyuhyun memotong pembicaraan ayahnya, Appa Cho tersenyum, menahan tawanya.

"Appa juga yakin, appa melihat dengan mata kepala appa sendiri kalau Siwon sudah berusaha keras mengendalikan pesawat, hanya saja appa merasa hari itu Siwon sedikit berbeda, ia berulang kali mengeluh jika lengannya terasa sakit jika digerakkan"

DEG

Kyuhyun seperti membeku ditempatnya, mungkinkah..

"Saat appa bertanya, Siwon hanya menjawab jika beberapa waktu sebelumnya ia terjatuh"

Bohong, Kyuhyun tahu betul apa dan siapa penyebab memar di lengan Siwon, tapi apa seburuk inikah akibatnya?

Kyuhyun bergegas turun dari ranjangnya.

"Appa aku harus pergi, jangan melarangku"

Kyuhyun memperingatkan appa cho yang hendak menahan Kyuhyun.

"Tapi kau masih demam"

Kyuhyun memutar matanya malas, memasukkan termometer ke dalam mulutnya sementara tangannya sibuk mengancing sweater coklat di tubuhnya.

"See? Demamku sudah turun" Kyuhyun menyodorkan termometer ke tangan ayahnya, lalu bergegas mengenakan ransel kecilnya dan sebuah beanie putih.

"Aku pamit"

"Yak! Yak! Cho Kyuhyun!"

Terlambat, Kyuhyun sudah berada di garasi dengan sepedanya, Appa Cho hanya membuang nafasnya kasar, tidak habis fikir dengan anaknya dan namja bernama Siwon itu.

"Ck, anak muda"

...

Tok tok tok

Kyuhyun mengetuk tidak sabar pintu di depannya, melupakan fungsi bel pada umumnya, ia berdiri dengan gelisah, pintu itu tidak juga terbuka.

Cklek

Kyuhyun nyaris mengetuk kepala yang menyembul dari balik pintu seandainya ia tidak cepat menyadari jika pintu itu sudah dibuka sang pemilik.

"Oi kepala jamur?"

"Yak! Choi Mesum, kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau sudah pindah ke apartemen ini?"

Kyuhyun melupakan apa fungsi 'menyapa' dan 'memberi salam', emosinya tiba-tiba memuncak, bukan karena Siwon yang memanggilnya kepala jamur, tapi karena Siwon yang sepertinya tidak bereaksi apapun dengan kedatangannya.

"Apa aku harus melapor padamu? Aku tidak ingin diganggu, bersama Jae hyung sama saja tinggal dengan seekor singa betina"

Masih di depan pintu, Kyuhyun dan Siwon sama-sama terdiam, kikuk.

"Se-seandainya aku tidak bertemu Kibum, mungkin a-aku tidak tahu kau.."

"Masuklah"

Final. Siwon membuka lebar pintunya, awalnya Kyuhyun merasa enggan, gengsinya masih terlalu tinggi, melangkahkan kakinya masuk itu sama saja mengibarkan bendera putih di klan musuh. Kyuhyun berfikir.

"Ck, aku tidak akan berbuat macam-macam"

Kyuhyun mengaku kalah, kini ia malah melangkah masuk dan memperhatikan interior apartemen itu dengan sedikit.. berlebihan. Seperti berdiri lama di depan lukisan pesawat, dan mencari jika ada cela di seni gambar itu, mengalihkan perhatiannya, sejujurnya Kyuhyun tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia juga bingung dan baru sadar jika kebodohannya sudah mengantarkan dirinya masuk ke apartemen ini, hell.

"Lukisan itu tidak akan berubah menjadi Titanic ataupun Poseidon, duduklah, akan kubuatan minuman"

Kyuhyun mengalihkan pandangannya, baru menyadari jika lengan Siwon dibalut. Ah! Kyuhyun sadar apa yang membuatnya datang ketempat ini.

"Lenganmu, aku dengar kau.."

"Gwenchana, ini hal biasa, pilot hebat sepertiku tidak akan diberhentikan atas alasan apapun"

Wajah Kyuhyun memerah, hal biasa menurutnya? Sementara Kyuhyun dirundung rasa penyesalan dan lihat? Ia bahkan tidak sempat mandi dan memakai parfum, ia hanya mengenakan piyama hitam dibalik sweaternya. Dan Siwon hanya mengatakan ini hal biasa?

"Yak! Kau membuatku nyaris mati"

"Eh?"

Kyuhyun salah tingkah, ia menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal sama sekali, Siwon tersenyum menggoda.

"Jadi kau mengakui jika kau mengkhawatirkanku?"

"Y-yak! Bukan begitu maksudku" Kyuhyun membela diri. Siwon semakin menyeringai, menyaksikan sendiri bagaimana telinga Kyuhyun berubah semakin merona.

"Kau bisa memilih cara 'menolak' yang lebih baik Kepala Jamur"

"A-aku tidak mengkhawatirkanmu, a-aku hanya takut appaku akan kau seret dalam kasus ini" Kyuhyun masih tidak kehabisan akal, Siwon tertawa keras, Kyuhyun berbalik.

"Apa yang kau tertawakan?" Ketus Kyuhyun, Siwon menutup mulutnya dan menggeleng. Kyuhyun jengah, ia berbalik hendak pergi saja, namun sebuah tangan jatuh lembut di atas kepalanya yang tertutup beanie.

"Aku senang kau datang, aku membutuhkanmu.. Kyu"

DEG

Dada Kyuhyun berdetak keras, lengan itu membungkus tubuhnya begitu hangat, Siwon meletakkan dagunya di bahu Kyuhyun, menghirup aroma alami yang menguar dari tengkuk namja manis itu.

"Jangan pergi"

...

Tak tak Tak

Kyuhyun tidak mengerti jika yang Siwon maksud dengan 'membutuhkanmu' itu termasuk membuat menu makan siang seperti ini, sementara Siwon duduk santai di depan TV dengan berbagai macam cemilan manis di meja.

Dengan menggerutu Kyuhyun memotong wortel menjadi dadu kecil di atas tatakan, sengaja dengan suara yang sedikit keras, dan mengganggu.. tentu saja. Buktinya, Siwon kini berbalik setelah menghela nafas panjang.

"Yak! Bisakah kau pelan-pelan? Kau merusak moodku"

"Ck, aku datang kesini hanya ingin memastikan keadaanmu, bukan menjadi pelayanmu"

"Hey hey hey, kau lupa? Aku terluka, lenganku seperti ini karenamu Cho"

Kyuhyun menggeretakkan giginya, selalu dengan alasan yang sama, ini sudah ke lima kali Kyuhyun mendengar kalimat yang menurutnya membosankan. Namja itu mengangkat tatakannya, berbalik menuju panci dan memasukkan bahan-bahan sup yang sudah ia siapkan, sebenarnya Kyuhyun bukanlah seseorang yang ahli di dapur, semanis apapun wajahnya, dia tetaplah seorang namja yang lebih memilih memasak ramyun daripada berkutat dengan panci-panci, dan jika tak ada ramyun, Kyuhyun memilih option terakhir, memesan pizza atau makanan cepat saji lainnya.

Dan sekarang ia berada di dapur,dan parahnya, dapur itu milik Siwon.

Pletak.

Kyuhyun memukul kecil dahinya sendiri dengan sendok kayu, menyadari berapa banyak batas yang ia lewati hari ini. tapi walau bagaimanapun ia menyesal, Kyuhyun tetap saja mencari garam dan penyedap makanan di lemari, mengeluarkan daging kukus dari lemari es dan memasukkannya ke dalam panci sup. Meskipun menggerutu Kyuhyun tetap mengaduk masakannya, mencicipi setiap kali adukannya terhenti, seakan memastikan jika makanan ini layak untuk masuk ke dalam perut Siwon.

"Apa sudah matang?"

"Ya Tuhan! Kau mengagetkanku Choi" Kyuhyun tersentak, Siwon tiba-tiba saja muncul di belakangnya, menyembulkan kepalanya di bahu kiri Kyuhyun, Kyuhyun mengelak, seakan anti dengan sentuhan Siwon di kulitnya.

"Ck, aku lapar"

Kyuhyun mendorong kepala Siwon menjauh menggunakan telunjuknya, menunjuk meja makan lalu berkacak pinggang.

"Tunggulah disana, kau merepotkan, dasar mesum"

Siwon tersenyum, meskipun galak, Kyuhyun terlihat sangat perhatian padanya, Siwon melangkah ringan menuju meja makan, situasi ini membuat kenangannya seakan terputar kembali, but well walau kini Kyuhyun malah terlihat seperti ibu muda yang kerepotan. Siwon tertawa sendiri membayangkannya.

"Yak, kepala jamur, kau tidak akan meracuniku bukan?"

"Apa ada untungnya bagiku?"

"Mungkin"

"..." Kyuhyun memutar bola matanya kesal. Selain menyebalkan, ia baru tahu jika Siwon bisa saja berubah menjadi sangat berisik.

"Atau jangan-jangan kau memang sengaja datang untuk membunuhku?"

Trak.

"Ouch.."

"Diamlah atau aku benar-benar meracunimu"

Kyuhyun kembali fokus memasak setelah berhasil melempar sebatang sumpit ke kepala Siwon. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, geli dengan kelakuan Siwon yang tidak pernah dewasa, tidak pernah berubah, Kyuhyun mengulum senyumnya setiap kali suara Siwon terdengar, entah itu hanya mengomentari aroma masakan Kyuhyun atau berbicara sendiri dengan piring dan gelas di depannya, Kyuhyun merasa jika saja ia terlambat meletakkan semangkuk sup di depan Siwon, maka namja itu bisa benar-benar gila.

"Makanlah, setelah itu aku bisa pulang"

Mata Siwon menyipit, lekat memperhatikan masakan Kyuhyun, ya dengan warna sedikit gelap, masakan Kyuhyun malah seperti..

"Aku menambahkan kecap, sepertinya aneh, tapi aku jamin enak"

Alis Siwon mengerut, bergerak naik turun. Sudah ia duga Kyuhyun tidak akan pernah berhasil membuat semangkuk makanan, dan tadaaa.. sekarang Siwon dihadapkan dengan..

"MAKAN"

Singkat namun tegas, Siwon menatap Kyuhyun yang menyodorkan sendok, tatapannya mematikan, tangan Siwon bergetar saat mengaduk sup di depannya, apalagi saat Kyuhyun di depannya duduk tersenyum, memaksanya.

Siwon menyuap sedikit dengan mata tertutup. Dan..

"Enak"

Mata Kyuhyun berbinar senang, ia bersorak, bahagia melihat Siwon begitu lahap memakan sup buatannya.

"Aku tidak pernah menyangka kau bisa memasak kepala jamur"

"Ck, kau harus mencoba pancake buatanku"

"Eoh? Kau bisa?"

Kyuhyun mengangguk, meraih sendok juga, ingin mencicipi buatannya. Namun Siwon dengan cekatan menarik mangkuk di depan Kyuhyun.

"Aku masih lapar, kau buat saja lagi"

"Yak!"

Kyuhyun tersenyum, Siwon begitu lahap dengan dua mangkuk sup dan semangkuk nasi, menghabiskan semuanya hingga tandas, Kyuhyun menarik nafas lega, ada perasaan lega luar biasa menyelimuti hatinya, Siwon menepuk perutnya yang membuncit kekenyangan, Kyuhyun terkekeh, tangan kanannya menjulur ke depan, membersihkan sudut bibir Siwon yang kotor.

"Kau tidak pernah berubah, berantakan"

Siwon terdiam, masih merasakan sisa sentuhan Kyuhyun di bibirnya, Kyuhyun menunduk, tersadar, lalu membersihkan meja dan mengangkat piring kotor ke dapur, rasanya Kyuhyun ingin mengubur dirinya sekarang, bersembunyi jauh dari Siwon, merasa menjadi orang paling memalukan di dunia.

"Pabo Kyu" Desisnya.

...

Kyuhyun berulang kali mengutuk dirinya, setiap ia melihat bayangannya di permukaan wastafel atau piring, Kyuhyun akan menggerutu, merasa ia baru saja melewati batasan paling tinggi untuknya. Dengan cepat namja itu membasuh piring, lalu melepas apronnya.

"Apa-apaan ini? Aku seharian disini? Menjadi pelayannya? Ya Tuhan"

Kyuhyun bertumpu di wastafel, membayangkan wajah Siwon yang begitu ceria di depan Siwon, tidak sadar senyum Kyuhyun mengembang.

"Yak! Kau sudah gila Kyu"

Kyuhyun memukul dahinya.

"Kau bisa bertambah bodoh kepala jamur"

"Yak! Kau mengagetkanku lagi" Kyuhyun berbalik, Siwon berdiri di pintu dapur, bersandar dengan lengan yang terlipat di depan dada. Kyuhyun merasa dirinya berada dalam sebuah perangkap, maka dari itu ia segera menggantung apron di samping lemari es dan bergegas keluar.

"Mianhe.."

Kyuhyun berhenti melangkah, tepat setelah ia melewati Siwon. Siwon terdengar membuang nafasnya kasar.

"Mianhe atas semuanya, semua yang sudah aku lakukan, aku benar-benar menyesal"

Kyuhyun berbalik, Siwon menatapnya sendu.

"aku tidak ingin membahasnya lagi"

"Aku bersungguh-sungguh Kyu, aku benar-benar menyesal mengenai masa itu, aku..aku tidak berniat apapun, aku.."

"Cukup Siwon, aku tidak ingin mengingatnya lagi, sebaiknya kau istirahat, aku pulang"

Grep.

Chup.

Sedetik setelah Kyuhyun berbalik, lengannya ditarik kuat hingga tubuhnya masuk ke dalam sebuah pelukan, dan bibirnya dibungkam benda kenyal yang terus saja menghisapnya. Mata Kyuhyun membulat sadar, dengan cepat ia mendorong dada Siwon, namun sayang, Siwon sepertinya memeluk Kyuhyun dengan Kuat, mempertahankan posisi mereka hingga akhirnya Kyuhyun tunduk dalam ciuman lembut Siwon, cukup lama mereka saling merasakan kelembutan masing-masing, mengecap rasa masing-masing, hingga Siwon merasa sesuatu membasahi ujung bibirnya, Siwon membuka mata, Kyuhyun menangis.

"Kyu?" Siwon melepas ciumannya namun tidak dengan pelukannya, Kyuhyun sesenggukan.

"L-lepaskan aku Siwon"

"Kyu, aku.."

"Aku mohon"

Siwon tidak punya pilihan lain, ia melepas Kyuhyun dari pelukannya yang dengan cepat dibalas Kyuhyun dengan tergesa-gesa memakai sweater dan beanie nya, berlari keluar dari apartemen itu, meninggalkan Siwon dengan rasa penyesalannya.

"Kyu.. aku mencintaimu"

TBC