Disclaimer:
Naruto milik Masashi Kishimoto
Sword Art Online milik Reki Kawahara
.
.
.
Multipairing:
Naruto x Asuna
Kirito x Shino
Genre: adventure/scifi/family/romance
Rating: T
Setting: Canon (Sword Art Online)
Note: cerita agak berbeda dari canon-nya. Tapi, ada adegan yang ambil dari canon-nya, dengan sedikit pengubahan yang disesuaikan dengan kondisi fic ini.
Kamis, 25 Agustus 2016
.
.
.
Fic request untuk Firdaus Minato
.
.
.
MY BROTHER, YOU ARE THE BEST
By Hikasya
.
.
.
Chapter 9
.
.
.
ZLUB!
Dia terkena dua kali damage cukup besar yang menyebabkan HP-nya berkurang mendekati area kuning. Dia berteriak kesakitan saat pedangku terus kudorong lebih dalam untuk menusuk perutnya. Meskipun tubuhnya dilindungi pakaian zirah besi, namun ujung pedangku yang tajam mampu menebus pertahanan tubuhnya. Dia tidak bisa apa-apa sekarang. Karena aku menyerangnya dalam jarak sedekat ini.
"AAAAAAH!" dia masih saja berteriak keras. Sangat memekakkan telingaku.
Aku menatapnya dengan penuh kebencian. Terus berusaha menusuk perutnya dan memberikannya damage yang bertubi-tubi sehingga HP-nya perlahan-lahan berkurang secara drastis.
Dia pasti merasakan perasaan yang tidak mengenakkan. Kemudian salah satu tangannya memegang bilah pedangku dan berkata.
"Ma-Maafkan aku... Aku tahu kalau aku telah bersalah. Jadi, lepaskan aku dan biarkan aku hidup. Aku berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama jika kau mau melepaskanku."
Suaranya terdengar lirih dan bergetar. Namun, aku tidak akan mau mendengarkannya ataupun mempercayainya begitu saja. Dia adalah pembohong besar. Seorang pembunuh yang telah menewaskan para player yang tidak berdosa.
Dengan wajah yang super dingin, aku menjawab.
"Pembunuh tetaplah pembunuh. Hukuman yang pantas buatmu adalah kematian. Aku tidak akan membiarkan kamu hidup karena kau telah membunuh banyak orang yang tidak berdosa. Perbuatanmu tidak bisa kumaafkan!"
Kutarik kasar pedangku dari perutnya. Darah merah digital menetes dari perutnya yang terluka. Ia mengalami cedera parah. Pasti sistem telah menunjukkan padanya.
BRUK!
Dia ambruk dan berlutut di salju. Menundukkan kepala. Menahan rasa sakit yang sangat pedih di punggung kiri dan perutnya. Pasti tidak mengenakkan baginya.
"Ma-Maafkan aku... Yellow Knight... Jangan bunuh aku..."
Dia masih memohon-mohon dengan nada lirih. Aku menatapnya dengan tajam. Masih berdiri di depannya.
Aku terdiam sejenak dan memegang pedangku erat-erat. Berpikir keras tentang semua ini.
Semua orang yang telah lumpuh karena keracunan, terdiam menyaksikanku.
Beberapa detik kemudian, aku merogoh saku jaketku. Mengeluarkan sebuah kristal biru tua.
Setelah melihat Kabuto menundukkan kepalanya tanpa suara, aku memasukkan pedangku ke dalam sarung yang terpasang di punggungku, mengangkat kristal biru tua itu tinggi-tinggi, dan kemudian berteriak.
"Koridor terbukalah!"
PRAAAANG!
Kristal itu pecah berkeping-keping dalam sekejap lalu muncul sebuah pusaran cahaya biru.
GOOOONG!
"Sekarang masuklah ke pusaran biru itu, Kabuto-san. Kau akan dihukum di Kastil Besi Hitam sebagai tempat keluarnya, Jadi aku akan menteleport kau ke penjara, terus The Army bisa mengurus sisanya dari situ."
Pria berambut putih itu mengangguk dan berjalan ke koridor dengan keadaan kepala yang menunduk lesu. Kemudian lenyap di dalam cahaya pusaran biru itu.
Setelah dia menghilang, koridor itu bersinar terang selama sesaat kemudian lenyap.
FYUUUSH!
Semuanya menjadi tenang lagi. Wilayah bersalju menjadi sepi kembali seakan semua yang baru saja terjadi hanyalah sebuah kebohongan. Kegelapan telah datang. Malam sudah tiba. Tapi, cahaya senja jingga masih terlihat di langit sebelah barat.
Aku menghelakan napas beratku. Terasa beban sudah turun dari pundakku. Hingga tatapanku terarah pada Asuna dan timku.
Mereka menatapku dengan ekspresi yang syok. Entah apa yang mereka pikirkan tentangku. Terlebih kursor di atas kepalaku masih berwarna orange. Pasti mereka takut padaku sekarang setelah menyaksikan keganasanku sebagai player orange yang tiba-tiba hari ini.
Tapi, Kirito malah berteriak senang. Dia sangat antusias.
"ANIKI-SAMA! KEREN! ANIKI-SAMA, KAMU MEMANG TERBAIK!"
Sepertinya efek kelumpuhan itu, masih tersisa beberapa menit, aku hanya tersenyum simpul mendengarkan perkataan adikku. Tapi, yang anehnya, mengapa dia malah memanggilku dengan sebutan "sama"?
Adik yang aneh. Begitulah tanggapanku di dalam hati.
Kemudian aku berjalan menghampiri mereka. Pertama, aku menghampiri Asuna dan mengambil Antidote Crystal dari window milikku agar Asuna bisa cepat sembuh dari kelumpuhan.
Antidote Crystal itu berupa kristal hijau. Aku meletakkan kristal itu di tangan Asuna dan berteriak.
"HEAL!"
PRAAANG!
Kristal itu pecah berkeping-keping dan memberikan efek langsung untuk menyembuhkan Asuna dari kelumpuhan. Asuna bisa bergerak lagi setelah aku mencabut jarum beracun yang menancap di bahunya. Lalu jarum itu kubuang jauh-jauh dari sana.
"Ah... Aku bisa menggerakkan semua badanku," Asuna tertawa senang dan langsung memelukku yang berlutut di sampingnya."Terima kasih, kamu telah menolongku dan semuanya. Kamu memang hebat, Naruto."
Aku hanya tersenyum simpul sambil menepuk bahunya pelan.
"Sudah... Jangan peluk aku dulu. Sebaiknya kita menyembuhkan semuanya dengan Antidote Crystal."
"Ah, benar juga."
Asuna melepaskan pelukannya. Dia tertawa ngeles dengan kedua pipi yang merona merah.
Lantas kami bangkit berdiri dan langsung menyembuhkan semua anggota tim kami dengan Antidote Crystal tersebut.
Tak lama kemudian, setelah memastikan kesembuhan dan HP kami yang sudah terisi penuh lagi. Kami berkumpul dahulu di tempat yang sama untuk berdiskusi mengenai rencana selanjutnya.
Aku yang mengawali pembicaraannya. Bertindak sebagai pemimpin tim dadakan ini.
"Nah, masalah tentang memburu naga putih itu. Apakah kalian akan masih mau mencarinya atau tidak sekarang?"
Dia menatap setiap wajah para Akatsuki secara bergantian. Para Akatsuki pun saling menatap antara satu sama lainnya.
Sedetik kemudian, Pain yang berbicara mewakili para anggota Akatsuki lainnya.
"Itu terserah ketua saja. Kami akan menuruti semua apa yang dikatakan ketua."
Para Akatsuki lainnya manggut-manggut. Membuatku menghelakan napasku.
"Ya, sudahlah... Kita akhiri saja petualangan hari ini. Sebaiknya kita kembali ke lantai 22," aku melirik ke arah Asuna."Pasti Asuna tidak keberatan membuatkan makan malam buat kalian. Pasti kalian merasa lapar sekarang, kan?"
Mendengar itu, beberapa Akatsuki tampak bergembira. Begitu juga dengan Kirito.
"Ide bagus, Aniki-sama. Kebetulan aku juga sudah lapar."
"Ya, sekalian kita mengadakan pesta untuk merayakan pernikahan ketua dan Asuna-sama," Konan mendadak memberikan usul yang mengagetkan semua orang. Dia adalah seorang gadis muda berambut pendek biru dan bermata merah.
"Aha! Usul yang bagus, un!" Deidara mengangguk setuju dengan usulan Konan."Sekalian merayakan pernikahan Kirito-sama dan Sinon-sama, un!"
"Ya, itu pasti sangat menyenangkan," Sasori tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjang.
"Jadi, perburuan naga putih itu?" Kakuzu tampak kecewa.
"Ya, lupakan saja," Pain yang menjawabnya.
Sang pria bercadar menunduk lesu. Hancur sudah harapannya untuk memperkirakan harga logam langka yang terdapat di perut naga putih tersebut.
Sudah diputuskan bahwa kami akan kembali ke lantai 22. Kami merasa sangat puas dengan petualangan hari ini.
Asuna tersenyum dan mengatakan akan memasak makan malam yang enak buat kami. Dia merangkul lenganku dengan erat. Memandangku dengan pandangan yang berbinar-binar.
"Ayo, kita pulang sekarang! Aku dan Sinonon akan membuatkan makan malam buat kalian semua!" pinta Asuna yang memberikan komando. Citranya sebagai wakil ketua sudah muncul lagi.
"YEAAAAH!" para Akatsuki meloncat kegirangan. Kirito pun ikut-ikutan bersama mereka.
Datang Sinon yang menggenggam tangan Kirito. Dia berwajah datar.
"Kamu tidak usah ikut-ikutan, Kirito. Malu-maluin saja."
"Hahaha... Maaf."
Kirito menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia tertawa kikuk dengan wajah yang sedikit memerah.
Adikku sangat kekanak-kanakan. Dia tidak pernah berubah sedikitpun. Meskipun dia sudah menikah dengan gadis terdingin itu. Namun, aku akui bahwa dia mampu mencairkan hati Sinon yang sedingin es batu itu. Kini Sinon bersikap sangat manis dan manja padanya. Mereka menjadi pasangan yang sangat serasi.
Malam yang indah di lantai 55 yang dipenuhi padang es. Berakhir dengan keadaan yang sangat menyenangkan.
.
.
.
Terdapat empat macam hubungan antara dua pemain di dalam sistem dari SAO.
Yang pertama adalah dua orang yang tidak saling mengenal sama sekali. Yang kedua adalah teman. Para pemain yang telah saling mendaftarkan satu sama lain sebagai teman dapat saling mengirim pesan singkat antar teman, tidak peduli di mana mereka berada. Mereka juga dapat saling mencari lokasi teman mereka melalui peta.
Yang ketiga adalah anggota satu guild. Selain keuntungan yang telah disebutkan di atas, mereka juga mendapatkan sedikit peningkatan status mereka ketika mereka berkelompok dengan teman dari guild yang sama. Akan tetapi, mereka harus menyerahkan sebagian kecil dari Coll yang mereka peroleh sebagai pajak dari guild.
Hingga sekarang, Asuna dan aku adalah teman dan anggota satu party, walaupun pada kenyataannya saat ini Asuna sedang beristirahat dari kegiatan guild. Tetapi, kami telah memutuskan untuk memasuki tahap terakhir dari hubungan antar pemain.
Pernikahan, walaupun sebenarnya langkah untuk menikah sebenarnya sederhana sekali.
Ketika seseorang mengirimkan pesan lamaran dan orang yang lain menerimanya, mereka kemudian telah dinyatakan menikah. Tetapi, perbedaan dari pernikahan dengan teman atau anggota satu guild sangat jauh. Pernikahan di SAO berarti membagi semua informasi dan item. Yang satu dapat melihat stat window yang lain setiap saat, dan bahkan inventory window mereka bergabung menjadi satu. Dengan kata lain, hal ini berarti mempercayakan jaring pengaman paling penting seseorang kepada partner mereka.
Di dalam Aincrad, di mana pengkhianatan dan penipuan umum terjadi, sangat sedikit yang bertindak hingga sejauh tahap pernikahan bahkan di antara pasangan-pasangan yang paling dekat. Tentu saja, alasan penting lainnya adalah perbandingan pria-wanita yang sangat tidak seimbang.
Itulah mengapa aku melamar Asuna menjadi istriku. Dengan alasan ingin melindunginya dari berbagaimacam bahaya yang terjadi di dunia ini. Aku tidak bisa membiarkan Asuna hidup sendirian. Apalagi saat itu, dia telah mengatakan cinta padaku. Tapi, aku menolaknya dengan alasan memikirkan perasaan Kirito.
Hingga kusadari bahwa perasaan Kirito terhadap Asuna hanya sebatas kagum seorang teman. Kirito yang mengatakannya padaku, tempo hari itu. Bahwa gadis yang disukainya adalah Sinon bukan Asuna. Mendengar hal itu, membuatku merasa lega dan mendorongku untuk segera melamar Asuna saat itu juga.
Asuna menerima lamaranku. Maka kami pun menikah dan sekalian berbulan madu di lantai 22 ini. Pernikahan kami masih berumur 3 hari, lalu para Akatsuki datang untuk memberitahukan masalah pembunuhan player yang dilakukan guild kriminal seperti Darkness Moon itu.
Akhirnya guild Darkness Moon itu berhasil ditaklukkan, kami pun kembali pulang ke lantai 22. Kemudian Asuna dan Sinon memasakkan banyak makanan yang lezat untuk kami. Sekalian berpesta kecil-kecilan untuk merayakan pernikahanku dengan Asuna dan pernikahan Kirito dan Sinon. Pesta berjalan cukup meriah dan diwarnai dengan aksi konyol yang dilakukan para anggota Akatsuki tersebut.
Pesta berakhir sampai jam 11 malam. Para Akatsuki pamit pada kami dan kembali ke penginapan yang ada di desa. Kirito dan Sinon juga pulang ke rumah mereka, yang berada di samping rumahku.
Masih di malam ini.
Asuna masuk ke kamar dan berseru,"Dingin... Dingin..."
Aku yang duduk di tempat tidur, melihat ke arahnya dengan muka yang datar.
Dia merangkak masuk ke tempat tidur, lalu merapatkan tubuhnya denganku dan membuat suara tanda kepuasan hati. Dia berkedip dengan enggan dan kemudian tersenyum seakan-akan dia baru saja memikirkan sesuatu.
"Pesta yang sangat meriah ya? Anggota-anggota guild-mu sungguh konyol semuanya. Aku merasa sangat senang sekali."
"Ya, mereka memang orang-orang aneh. Tapi, syukur sekali kalau kamu merasa senang."
"Iya... Hmmm..."
Dia kemudian tiba-tiba menarik senyumnya dan menggumam.
"Baru kali ini, aku merasakan hidup yang sesungguhnya di dunia ini. Aku terus bertarung di lantai atas. Tapi, aku malah melupakan kehidupan normal seperti ini. Entahlah, aku bahkan hampir melupakan tentang kehidupanku di dunia nyata."
Aku menatapnya dengan datar. Asuna memeluk pinggangku dari samping dan meletakkan kepalanya di bahuku.
Lalu dia melanjutkan kata-katanya.
"Di dunia ini, aku berkeinginan ingin menjadi kuat dan berusaha ikut dalam misi clearing lantai agar bisa membebaskan semua orang dari dunia ini. Dengan begitu, semuanya dapat kembali ke dunia nyata. Benar, kan?"
"Benar, aku juga selalu berusaha keras selama ini dan merasa bahwa menjadi lebih kuat adalah jalan untuk bertahan hidup di dunia ini."
"Karena itu, aku merasa bahwa banyak orang akan mulai bergantung kepadamu mulai sekarang. Tentu saja aku juga termasuk."
"Tapi, dengan kepribadianku, mendengar pemikiran semacam ini, hanya membuatku ingin melarikan diri."
"Huh, kamu ini..."
Sementara Asuna mencibir tidak puas, aku membelai rambutnya dan berharap bahwa kehidupan seperti ini akan berlanjut sedikit lebih lama. Demi adikku dan pemain lainnya, kami harus kembali ke garis depan pada titik tertentu. Tetapi, setidaknya untuk sekarang. Berdasarkan pesan-pesan yang dikirimkan oleh Agil dan Klein pada Kirito, aku tahu bahwa mereka sedang kesulitan untuk menyelesaikan lantai 75. Akan tetapi, aku percaya dari lubuk hatiku yang terdalam, bahwa hal yang paling penting untukku sekarang adalah kehidupan ini bersama Asuna dan adikku.
Sebelum aku terperangkap di dalam permainan ini, aku hanyalah seorang anak yang pergi ke sekolah dan kemudian kembali ke rumah tanpa cita-cita apapun dalam hidupku. Tetapi sekarang, dunia nyata telah menjadi masa lalu yang jauh.
Namun, jika permainan ini sudah diselesaikan, kami dapat kembali ke dunia nyata. Semua pemain, termasuk Asuna, Kirito, Sinon dan aku, yang diharapkan untuk menjadi nyata. Tetapi, aku tidak dapat menahan rasa cemasku yang muncul setiap kali aku memikirkan mengenai hal ini. Aku tanpa sadar menarik rambut Asuna.
"Naruto, sakit... Kamu kenapa sih?"
"Ma-maaf... Hei, Asuna..."
Untuk sesaat aku berhenti berbicara, tetapi aku harus menyelesaikan pertanyaanku.
"Hubungan kita, apakah hanya dalam permainan? Apakah hubungan ini akan menghilang setelah kita kembali ke dunia yang lain?"
"Aku akan menjadi marah, Naruto."
Asuna mengangkat kepalanya dan menatapku dengan kedua matanya yang penuh dengan emosi.
"Walaupun ini hanyalah sebuah permainan normal dibandingkan dengan situasi aneh ini, aku tetap tidak akan menyukai orang lain dengan begitu saja."
Dia menekan kedua pipiku dengan kedua tangannya dan kemudian berkata lagi.
"Aku mempelajari sesuatu di sini, dan semuanya. Aku harus terus berusaha dan jangan pernah menyerah. Bila kita berhasil kembali ke dunia nyata, aku pasti akan datang mencari Naruto lagi, dan aku akan tetap mencintaimu."
Berapa kali aku telah mengagumi kejujuran dan ketegaran hati Asuna? Atau mungkin saja hatiku yang terlalu tidak tanggap pada perasaannya selama ini.
Tetapi walaupun aku adalah yang lebih payah, hal itu tidak menjadi masalah. Aku telah lupa sejak lama betapa menyenangkannya untuk menggantungkan diri kepada orang lain dan merasakan orang lain bergantung kepadaku. Aku tidak tahu berapa lama kami dapat tinggal di sini, tetapi setidaknya kami terletak jauh dari pertempuran selama masa waktu ini.
Aku membiarkan pikiranku mengembara dan mengonsentrasikan perasaanku kepada kelembutan dan bau harum yang memenuhi kedua tanganku. Hingga menuntunku untuk merangkul tubuh Asuna agar lebih dekat denganku. Asuna tampak kaget dengan tindakanku.
"Heh... Naruto?"
Aku mendekatkan wajahku dengan wajahnya. Dapat kulihat wajah Asuna memerah. Kedua tangannya yang memegang kedua pipiku, diturunkannya dan dialihkannya memegang dadaku. Dia membeku seperti diterpa badai es.
Dia tidak bergerak sama sekali. Sampai bibirku mencapai keningnya. Aku menutup kedua mataku saat melakukannya.
Tindakanku ini sudah termasuk pelecehan seksual. Pasti pesan sistem peringatan sudah muncul di depan Asuna.
Namun, Asuna membiarkan pesan sistem peringatan itu begitu saja. Sampai bibirku menjauh dari keningnya. Lalu bibirku menyentuh pipinya.
Kudengar Asuna bergumam dengan nada yang lembut.
"Naruto... Apakah kamu memang mencintaiku?"
Aku selesai mencium pipinya dan menatapnya dari jarak yang sangat dekat.
"Iya, aku mencintaimu, istriku."
Mendengar itu, tawa lebar terukir di wajahnya yang cantik. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku.
"Aku senang sekali mendengarnya. Jadi, kita sudah saling mencintai sekarang," katanya dengan hati yang berbunga-bunga."Berjanjilah bahwa kita akan selalu seperti ini jika sudah kembali ke dunia nyata nanti. Aku ingin kita selalu bersama. Kamu mau berjanji, kan?"
Aku mengangguk sambil mengelus rambutnya yang panjang.
"Aku berjanji."
"Bagus. Aku senang mendengarnya."
Dia pasti tertawa senang lagi. Terus menyandarkan dirinya pada tubuhku. Aku terus memeluknya agar memberinya kehangatan di malam ini.
"Sekarang tidurlah... Besok aku akan pergi ke suatu tempat. Kamu mau ikut?"
"Eh? Kemana?"
"Aku ingin membeli sebuah pedang baru."
"Hmmm... Bagaimana kalau kita beli pedang baru di toko blacksmith kenalanku? Sekalian aku ingin memperkenalkan kamu padanya."
"Boleh juga."
"Oke. Kita berangkat jam berapa?"
"Sekitar jam 8. Mungkin..."
"Baiklah... Aku akan segera tidur sekarang!"
Asuna melepaskan diri dari pelukanku. Dia merangkak dan turun dari tempat tidur. Dengan tujuan ke arah tempat tidurnya sendiri yang agak terpisah dari tempat tidurku.
Ya, walaupun kami adalah suami-istri di dunia game ini. Bukan berarti kami setidur dalam satu tempat tidur. Ada batas-batasnya yang tidak boleh dilanggar karena ada sistem yang akan memperingatinya.
Jadi, Asuna akan tidur di tempat tidurnya sendiri. Lalu ia sudah duduk di atas tempat tidurnya dan melihat ke arahku. Tersenyum manis.
"Oyasumi, Naruto."
"Oyasumi, Asuna."
Setelah itu, dia terbaring dalam keadaan miring ke kanan. Menutup matanya dengan segera.
Aku memperhatikannya sebentar. Lalu tersenyum simpul. Perasaanku begitu bahagia saat bersamanya seperti ini.
'Aku akan mencintaimu sampai akhir, Asuna,' batinku yang menggema sampai ke dunia nyata sana.
.
.
.
Paginya.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi bersama, aku dan Asuna segera bersiap-siap pergi. Kami tidak memakai pakaian tempur kami. Melainkan memakai pakaian serba tebal untuk melindungi diri dari pengaruh cuaca musim dingin ini.
Sesuai dengan rencana, kami pergi dari rumah sekitar jam 8 pagi. Hanya kami berdua saja yang pergi. Namun...
"Aniki-sama, aku ikut juga dengan kalian!" Kirito mengejar kami ketika kami berada di depan rumah kami.
Dia baru saja keluar dari rumahnya bersamaan dengan kami yang juga keluar. Sementara Sinon berjalan santai sambil mengikuti Kirito dari belakang.
Aku kewalahan saat adikku memergoki aku dan Asuna yang akan pergi. Dengan senyuman terpaksa, aku menganggukkan kepalaku.
"Ya, kamu boleh ikut juga, Kirito."
"Yeah... Terima kasih, Aniki-sama."
Kirito tampak bersemangat dan sangat senang sekali.
"Tapi, jangan sebut aku dengan suffix sama."
"Biarkan saja. Aku akan tetap memanggil Aniki dengan suffix sama karena Aniki-sama adalah orang yang sangat kuidolakan. Aniki-sama memang yang terbaik."
Aku sweatdrop mendengarnya. Asuna dan Sinon malah tertawa kecil.
"Hehehe... Ya sudah, ayo kita berangkat saja sekarang!" ajak Asuna sambil merangkul lenganku."Sekalian Sinonon juga ikut ya."
"Baiklah, Asuna," kata Sinon yang tersenyum.
"Kita akan kemana?" tanya Kirito dengan wajah bengong.
"Kita akan pergi ke lantai 48. Ke tempat blacksmith langgananku," Asuna yang menjawabnya.
"Eh?" Kirito tercengang."Lantai 48? blacksmith langganan Asuna? Jangan-jangan..."
Asuna tersenyum dan langsung menyeretku begitu saja. Bahkan Sinon juga ikut menyeret Kirito.
"Sudah... Jangan banyak tanya... Kita ikuti saja mereka."
"Ah, iya, Sinon."
Kemudian kami berempat pun segera pergi menuju ke lantai 48, di mana blacksmith langganan Asuna berada. Aku penasaran siapakah blacksmith yang dikatakan Asuna itu? Namun, yang pasti aku akan segera mengetahuinya.
.
.
.
POV: NORMAL
.
.
.
Kincir air yang besar itu berputar dengan mantap, memenuhi seluruh toko dengan suara menenangkan.
Walaupun ini hanya rumah kecil untuk digunakan kelas support di antara perumahan khusus pemain, harganya naik seperti pasang karena kincir air itu. Saat dia pertama menemukan rumah ini di distrik utama Lindus di lantai 48, pikirannya tiba-tiba berkata 'ini dia!', tepat sebelum harganya mengejutkannya.
Sejak saat itu, dia mulai bekerja keras membanting tulang, meminjam uang dari berbagai tempat, dan berhasil mengumpulkan tiga juta Coll hanya dalam dua bulan. Kalau ini adalah dunia nyata, tubuhnya akan dipenuhi otot dari semua pengalamannya memukulkan palu, dan tangan kanannya akan penuh dengan kapalan tebal.
Tapi semua itu terbayar sudah, dia memperoleh sertifikatnya hanya selangkah lebih dulu dari pesaingnya dan membuka "Toko Senjata Spesial Lisbeth" di rumah berkincir air ini. Ini terjadi setahun tiga bulan lalu saat musim semi yang sejuk.
Setelah meminum kopi paginya dengan cepat - untungnya ini Aincrad - sambil mendengarkan berputarnya kincir air seperti mendengarkan BGM, dia memakai seragam blacksmith-nya dan melirik pantulannya di cermin besar yang tergantung di dinding.
Meskipun dia menyebutnya seragam blacksmith, sebenarnya pakaiannya ini sekedar mirip pun tidak, tapi pakaiannya ini sebenarnya lebih mirip seragam pelayan wanita. Sebuah atasan merah tua dengan lengan baju yang menggembung dan sebuah rok layang dengan warna yang sama, ditambah sebuah celemek putih bersih di atasnya dan sebuah pita merah di dadanya.
Bukan dia yang memilih pakaian ini, seorang pelanggan setia sekaligus temannya yang memilihnya. Menurut temannya itu, 'wajahmu imut, jadi pakaian kaku tidak cocok buatmu.'
Nah, itulah yang dikatakan oleh temannya, dan dia itu seperti 'urus urusanmu sendiri!' Tapi, penjualannya naik dua kali lipat sejak dia mulai memakai seragam ini, jadi dia tidak punya pilihan selain terus memakainya.
Nasehat temannya tidak berhenti di pakaiannya, tapi bahkan sampai juga ke rambutnya. Sekarang rambutnya sudah dirombak menjadi sangat pink dan halus. Tapi berdasarkan respon pelanggan, sepertinya penampilan ini cocok dengannya.
Dia, Lisbeth si blacksmith, berumur 15 tahun saat dia pertama kali masuk ke SAO. Dulu di dunia nyata, dia mendengar bahwa dia terlihat lebih muda dari usianya, tapi di dunia ini dia bahkan terlihat lebih muda lagi. Ketika rambut merah mudanya, mata besarnya yang biru, dan bibirnya yang mungil dikombinasikan dengan celemek bergaya kuno, pantulannya di cermin terlihat hampir seperti boneka.
Karena di dunia lain, dia hanya anak SMP yang tidak peduli dengan mode, jurangnya pun makin melebar. Entah bagaimana dia telah terbiasa dengan penampilannya, namun karena kepribadiannya tidak berubah. Sama mudahnya, dia sudah beberapa kali menakuti pelanggannya dengan tingkahnya dari waktu ke waktu.
Dia memeriksa apa ada yang terlupa dia siapkan sebelum dia ke bagian depan toko dan membalik tanda 'TUTUP'. Dia memandang beberapa pemain yang telah menunggu bukanya tokonya, lalu memperlihatkan senyum terbaiknya dan menyapa mereka.
"Selamat pagi! Silakan!"
Sebenarnya, belum terlalu lama sejak dia bisa melakukan ini secara alami.
Mengelola sebuah toko sudah menjadi mimpinya sejak lama, tapi melakukannya di dalam game ternyata sangat berbeda dengan di dunia nyata. Dia mengalami sendiri bagaimana susahnya penyambutan dan pelayanan ketika dia pertama mulai sebagai pedagang jalanan dengan sebuah penginapan sebagai markasnya.
Karena menahan senyum terlalu sulit baginya, dia memutuskan untuk menang melalui kualitas, dan sepertinya menaikkan level skill weaponsmith-nya adalah jawabannya, terbukti dengan banyaknya pelanggan setianya yang terus menggunakan senjatanya bahkan setelah dia membuka toko ini. Setelah selesai menyapa mereka, dia meninggalkan resepsionis ke pegawai NPC-nya lalu menyembunyikan diri di ruang kerja yang tersambung ke toko miliknya. Ada sekitar sepuluh item yang harus dia buat hari ini.
Segera setelah dia menarik tuas di dinding, kekuatan mekanik dari kincir air mulai digunakan oleh puputan untuk meniupkan udara ke kompor arang, pemoles pun mulai berputar. Dia mengeluarkan sebongkah logam mahal dari inventarisnya dan memasukkannya ke kompor arang yang baru mulai memanas. Setelah cukup panas, dia memindahkannya ke landasan tempa menggunakan sepasang penjepit. Dia berlutut dengan satu kaki dan menggenggam palunya, lalu memanggil menu pop-up dan memilih benda yang ingin dibuatnya. Sekarang yang harus dia lakukan hanyalah memukul bongkahan logam itu sebanyak jumlah yang diperlukan dan benda itu pun tertempa. Tidak ada teknik yang diperlukan untuk ini dan kualitas senjata yang dihasilkan pun acak, tapi dia pikir hasil akhirnya bergantung dengan sekuat apa konsentrasinya, jadi dia menegangkan semua otot-ototnya dan mengangkat palunya pelan-pelan. Kemudian, persis saat dia akan menghantam logam itu...
"HEI, LIS!"
"AAAAH!"
Pintu ruang kerjanya terbuka dengan keras dan dia pun meleset, alih-alih membentur logam, dia malah mengenai alas tempanya dengan dentang yang menyedihkan dan percikan-percikan bunga api.
Begitu Lisbeth mengangkat kepalanya, si pengacau itu sedang menggaruk kepalanya dan tersenyum dengan lidahnya terjulur keluar.
"Maaf... Lain kali aku akan hati-hati."
"Kira-kira sudah berapa kali ya aku dengar kata-kata itu... Ya, setidaknya ini terjadi sebelum aku mulai..."
Lisbeth berdiri sambil menghela nafas panjang dan mengembalikan bongkahan logam itu ke dalam kompor arang sebelum menempatkan kedua tangannya di pinggang dan berbalik.
Kemudian dia memandang gadis yang sedikit lebih tinggi darinya.
"...Hei, Asuna."
Sahabat Lisbeth dan seorang pelanggan setia, si pengguna rapier, Asuna, berjalan melintasi ruangan ke arahnya lalu duduk di atas sebuah kursi kayu. Lalu Asuna menekan rambut coklat kemerah-merahannya yang panjang yang melewati bahunya dengan tangannya. Semua pergerakannya seperti bersinar, seakan dia adalah seorang bintang film, dan membuat Lisbeth terpana meskipun Lisbeth sudah lama mengenalnya.
Lisbeth pun duduk di kursi di depan alas tempanya itu dan menyandarkan palunya ke dinding. "Jadi, hari ini ada apa? Kamu datang lebih pagi dari biasanya."
"Ah, aku ingin kamu merawat ini."
Asuna mengeluarkan rapiernya, dengan bilahnya masih disarungkan, kemudian melemparnya. Lisbeth menangkapnya dengan satu tangan lalu menariknya keluar. Rapier itu sedikit tumpul karena sudah lama digunakan, namun tidak cukup tumpul untuk menyebabkan masalah memotong pada bilahnya.
"Kondisinya masih lumayan bagus kan? Terlalu awal untuk dirawat."
"Iya, kamu benar. Tapi, aku ingin ini jadi benar-benar berkilau."
"Hmmm?"
Lisbeth menatap Asuna dengan teliti. Pakaian yang dikenakan Asuna adalah mantel berbulu berwarna putih dan rok mininya berwarna biru muda, namun sepatunya bersinar seperti baru dan dia bahkan memakai sepasang anting perak.
"Kamu aneh... Aku baru kepikiran sekarang, hari ini hari kerja, kan? Walaupun sedang musim dingin seperti ini. Bagaimana tentang kuota clearing guild kamu? Bukannya kamu bilang kalian sedang kesusahan di lantai 75?"
Mendengar ucapannya, Asuna tersenyum malu.
"Ya... aku dapat cuti beberapa hari ini. Karena aku sedang liburan bersama seseorang..."
"Oh...!"
Lisbeth bergeser mendekat ke Asuna sambil tetap duduk di kursinya.
"Kasih tahu aku dong. Kamu liburan dengan siapa?"
"Ra-Rahasia!"
Asuna memerah dan menghindari tatapan Lisbeth. Lisbeth menyilangkan lengannya, menggangguk, lalu berkata.
"Ah... kupikir aneh kamu menjadi lebih cerah belakangan ini. Jadi akhirnya kamu dapat pacar."
"Tidak begitu kok!"
Pipi Asuna memerah makin tua. Dia terbatuk lalu menanyakan Lisbeth dengan sebuah pertanyaan sambil sedikit melirik-lirik.
"Apa aku ... Benar-benar berbeda sekarang...?"
"Tentu saja... Waktu aku pertama bertemu kamu, kamu selalu berkonsentrasi menyelesaikan dungeon! Waktu itu kupikir kamu sedikit terlalu kaku, tapi kemudian, mulai musim dingin ini, kamu mulai berubah sedikit, seperti beristirahat dari menyelesaikan game waktu hari kerja... Dulu kamu tidak akan pernah melakukan itu."
"Be-Benar... Mungkin aku memang telah terpengaruh..."
"Jadi, siapa dia? Aku kenal tidak?"
"Ku... kurasa tidak.. Sepertinya..."
"Lain kali bawa dia ke sini."
"Ah itu...! Dia... Aku..."
"Hmm...?"
Kali ini Lisbeth benar-benar terkejut. Asuna adalah sub-leader dari guild terkuat, KoB, dan salah satu dari lima cewek tercantik di Aincrad. Laki-laki yang menginginkan perhatian Asuna ada sebanyak bintang di langit, tapi Lisbeth bahkan tidak pernah membayangkan kalau kebalikannya itu ada.
"Begini lho, dia orang yang benar-benar aneh dan sangat dingin," ucap Asuna dengan kedua matanya merenung ke dalam kejauhan. Senyum lembut terlihat di bibirnya. Kalau ini adalah komik percintaan, maka sekarang di latarnya akan ada kelopak-kelopak bunga.
Lalu dia melanjutkan kata-katanya.
"Menurutku, dia tidak bisa ditebak, atau dia cuma melakukan semuanya dalam temponya sendiri... Tapi, walaupun begitu, dia benar-benar kuat."
"Oh, lebih kuat dari kamu?"
"Iya, benar. Kalau kita duel, aku bertahan semenit saja pasti tidak akan bisa."
"Oh.. Aku bisa menghitung orang yang mampu melakukan itu dengan jari."
Segera setelah Lisbeth mulai memeriksa daftar clearer di kepalanya, Asuna mulai mengibaskan tangannya.
"Ah, jangan bayangkan dia!"
"Ya, aku menantikan untuk segera melihatnya. Dan kalau begitu ceritanya, aku akan mengandalkanmu untuk promosi juga!"
"Kamu tidak pernah melewatkan kesempatan ya. Akan kukenalkan dia kok. Ah, oh! Cepat dirawat!"
"Iya, iya. Akan kuselesaikan sekarang juga, jadi tunggu sebentar."
Lisbeth berdiri dengan rapier Asuna di tangannya dan berjalan ke pemoles yang berputar di pojok ruangan.
Dia mengeluarkan pedang tipis itu dari sarungnya. Senjata ini dikategorikan sebagai "Rapier" dengan nama unik "Lambent Light". Termasuk salah satu pedang terbaik yang pernah dibuatnya. Walau dia menggunakan bahan mentah terbaik, palu terbaik, alas tempa terbaik, dan segalanya yang terbaik sekalipun, kualitas senjata yang dihasilkan masih berbeda-beda dikarenakan faktor acak. Karena itulah, dia hanya bisa membuat pedang berkualitas seperti ini setiap sekitar tiga bulan.
Pelan-pelan dia menempelkan pedang itu ke pemoles dengan kedua tangannya. Teknik yang terlibat dalam memoles senjata juga tidak ada, tapi dia tidak berniat untuk mengabaikannya.
Dia meluncurkan pedang itu dari pangkal hingga ujungnya. Bunga-bunga api berlompatan keluar dengan terang, suara metalik terdengar, dan di saat yang bersamaan kilau gemerlapan kembali ke pedang tersebut. Begitu proses pemolesan selesai, rapier itu kembali ke ke penampilan keperak-perakannya, bersinar dengan cahaya matahari pagi.
Dia menyarungkan bilahnya lagi dan melemparkannya ke Asuna. Lalu dia menangkap koin perak 100 coll yang dilempar Asuna pada saat yang bersamaan dengan ujung-ujung jarinya.
"Makasih!"
"Aku juga akan memintamu memperbaiki armorku nanti... Tapi, lain saja."
Asuna berdiri dan memasukkan rapier ke menu equipment di jendela akunnya.
"Aku penasaran dia seperti apa sih. Mungkin aku harus ikut pergi."
"Eh, ja-jangan!"
"Hahaha, aku bercanda. Tapi, lain kali bawa dia ya."
"Se-segera kok... Malahan dia sudah ada di sini kok."
"Eh?"
Asuna tersenyum dan keluar dari ruang kerjaku seakan-akan dia ingin melarikan diri.
"Dia sudah menungguku di luar. Apa kamu ingin menemuinya? Aku akan memperkenalkanmu padanya."
"Masa? Dia sudah ada di sini."
Asuna mengangguk malu. Dia tersenyum.
"Bahkan kami sudah menikah sejak tiga hari yang lalu."
"EEEEH!? KENAPA TIDAK BILANG PADAKU SIH!?"
"Ha-Habisnya sangat mendadak...," Asuna tersenyum dengan kemerahan di dua pipinya."Ayo, kita keluar! Pasti dia sudah menunggu terlalu lama."
"Ah, iya."
Lisbeth tersenyum dengan sedikit pahit mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Asuna.
Dua tahun sudah lewat sejak dia datang ke dunia ini. Karena kepribadiannya, dia tidak bersenang-senang dan malah menuangkan segalanya untuk mengembangkan tokonya hingga seperti sekarang ini. Tetapi sekarang dia telah memiliki sebuah toko dan sudah menyempurnakan skill smith-nya dia juga mulai merindukan pertemanan lagi, kemungkinan besar karena dia tidak punya tujuan yang jelas lagi.
Karena tidak ada banyak perempuan di Aincrad, lumayan banyak lelaki yang mencoba mendekatinya, tapi karena beberapa alasan dia tidak pernah merasa ingin menanggapinya.
Jadi, ketika topik ini dibicarakan dia merasa cukup iri pada Asuna.
"Pasti sangat menyenangkan punya pasangan yang sehati dengan kita. Aku ingin seperti Asuna. Merasakan dicintai seorang cowok juga..." dia bergumam, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran-pikiran aneh ini dan berdiri. Lalu mengikuti langkah Asuna dari belakang.
Mereka pun berjalan ke arah bagian depan toko. Di mana laki-laki berambut pirang jabrik menunggu mereka.
Langkah mereka terhenti tidak jauh dari laki-laki berambut pirang yang berdiri membelakanginya.
Lisbeth memperhatikan laki-laki itu dengan seksama dan berbisik pelan pada Asuna.
"Itu ya orangnya?"
"Hm..."
Asuna menyembunyikan telapak tangannya di belakang, dan tergelak malu, mengetuk lantai berulang-ulang dengan tumit sepatunya. Lisbeth melihat pipinya itu dibubuhi bayangan berwarna merah muda bunga sakura.
Lisbeth mengerti keseluruhan situasinya. Dia tersenyum senang melihatnya.
Mendengar bunyi sepatu Asuna itu, laki-laki berambut pirang itu menoleh ke arah mereka. Menunjukkan wajahnya yang datar dan dingin.
Lisbeth memperhatikan laki-laki itu dengan seksama dari atas sampai bawah. Dari bawah ke atas.
Laki-laki itu tidak terlihat seperti seseorang yang berlevel sangat tinggi. Dia tampak hanya sedikit lebih tua dari Lisbeth; rambut pirang dengan jaket, celana panjang, dan sepatu yang simpel. Satu-satunya persenjataan yang dia miliki hanyalah pedang satu tangan di punggungnya.
Dia menatap kedua gadis itu dengan datar, lalu bertanya dengan nada yang sangat datar.
"Asuna... Apa dia blacksmith yang kamu maksud itu?"
Asuna tersentak dan buru-buru menjawab.
"Ah iya...," dia menarik tangan Lisbeth dan berjalan menghampiri laki-laki itu.
Begitu dekat, Asuna memperkenalkan laki-laki itu pada Lisbeth.
"Lis, kenalkan dia adalah Menma... Tapi, kamu bisa memanggilnya Naruto...," lanjut Asuna sambil tersenyum.
"Halo... Aku Lisbeth. Salam kenal ya?" Lisbeth tersenyum dengan manisnya. Walaupun senyumannya itu masih terkesan kaku.
"Salam kenal juga...," jawab Naruto dengan wajahnya yang masih datar.
Perkenalan yang terkesan hambar dan diakhiri dengan suara Asuna yang terlihat antusias. Tidak tampak Kirito maupun Sinon bersama mereka.
Lalu, kemanakah Kirito dan Sinon itu?
Oh, rupanya mereka memilih menunggu di sebuah tempat yang tidak jauh dari toko Lisbeth tersebut.
"Baiklah, perkenalan disudahi sampai di sini!" Asuna melirik Lisbeth."Oh iya, Lis. Naruto datang ke sini untuk mencari pedang yang bagus. Bukankah begitu, Naruto?"
Pandangan Asuna tertuju pada Naruto. Naruto mengangguk cepat dengan tampang bosan.
"Ya, begitulah."
"Oh, kalau begitu... Silakan melihat-lihat dulu, Naruto."
Lisbeth kelihatan kaget ketika mengetahui Naruto akan mencari pedang di tokonya ini. Terlebih Asuna sudah menceritakan tentang diri Naruto sebelum Naruto diperkenalkan padanya. Dengan kata lain, Naruto adalah player yang sangat kuat dan berlevel tinggi. Tentu saja Naruto membutuhkan sebuah pedang yang berkualitas tinggi dan memiliki ketahanan yang kuat saat menggunakannya dalam pertempuran apapun.
Senjata-senjata di toko Lisbeth memerlukan stats yang tinggi dan dia khawatir apa level Naruto begitu tingginya, sehingga senjata-senjata di tokonya tidak sesuai dengan level Naruto. Tapi, dia tidak memperlihatkan kekhawatirannya dan memandu Naruto untuk melihat-lihat seisi tokonya. Asuna memperhatikan mereka.
"Bagian pedang satu tangan di sebelah sana."
Melihat Lisbeth menunjuk ke arah bagian senjata-senjata dasar, dia bertampang bosan dan berkata.
"Ah, begini, aku ingin memesan yang buatan sendiri..."
Lisbeth semakin tambah khawatir. Bahkan senjata pesanan yang termurah pun, yang butuh bahan-bahan khusus untuk menempanya, berharga lebih dari seratus ribu coll. Kalau Naruto mulai panik mendengar harganya, Lisbeth juga jadi malu, jadi Lisbeth mencoba menghindari situasi itu.
"Harga logam sekarang lagi agak tinggi, jadi kupikir harganya akan sedikit mahal."
Begitu Lisbeth memberitahukannya, laki-laki berpakaian serba hitam dan jingga itu mengucapkan hal yang sama sekali tak bisa dipercaya dengan ekspresi cuek.
"Tidak usah khawatir terhadap harganya. Tolong tempa saja pedang terbaik yang kamu bisa sekarang."
"..."
Lisbeth terbelalak menatap wajahnya selama beberapa saat kemudian entah bagaimana dia berhasil membuka mulutnya.
"Yaaa... Walau kamu bilang begitu... aku harus punya gambaran tentang kualitasnya."
Intonasi Lisbeth sedikit lebih kasar dari biasanya, tapi tampaknya Naruto tidak peduli dengan itu dan hanya mengangguk.
"Benar juga. Kalau begitu..."
Dia mengambil pedang di punggungnya, masih disarungkan, dan memberikannya pada Lisbeth. "Bagaimana kalau pedang dengan kualitas sama atau lebih bagus dari yang ini?"
Lisbeth memperhatikan pedang itu dengan seksama.
Tidak terlihat seperti senjata yang hebat. Pedang berwarna jingga dengan bilah emas yang mengkilat dan gagangnya berbentuk kepala musang yang dililitkan sebuah tali rumbai-rumbai warna jingga. Tapi, saat Lisbeth mengambilnya dengan tangan kanannya...
BRUK!
"BE-BERAT SEKALI!"
Dia terjatuh bersamaan seruannya yang keras dan terkapar tidak elit ditimpa oleh pedang milik Naruto. Seakan-akan berapa banyak besi yang menimpanya. Tidak bisa dibayangkan.
Melihat adegan itu, Asuna tercengang dan panik. Dia segera menghampiri sahabatnya itu.
"WAAA, LIS! KAMU TIDAK APA-APA!?"
"Ah, tidak. Hanya saja pedang ini benar-benar berat. Aku tidak sanggup untuk mengangkatnya."
"Ma-Masa?"
Seketika pandangan kedua gadis itu tertancap pada Naruto. Mereka menatap Naruto dengan pandangan takjub.
"Hm... Kenapa?"
Asuna yang menyahutnya.
"Pedangmu begitu berat begini sehingga Lis tidak dapat mengangkatnya. Bahkan sampai membuatnya terjatuh begini. Tapi, bagaimana bisa kamu menggunakannya begitu entengnya saat menghadapi pertarungan?"
Mendengar itu, sang Yellow Knight hanya memasang wajah datarnya.
"Ya... aku sudah terbiasa menggunakannya. Memang awalnya, aku terjatuh seperti Lisbeth saat mengangkatnya. Tapi, karena terus berlatih, makanya aku semakin mudah menggunakannya. Kira-kira seperti itulah..."
Kedua gadis itu manggut-manggut saat mendengarkannya. Mereka kagum melihat sosok laki-laki berambut pirang jabrik tersebut.
Persyaratan stat kekuatannya luar biasa tinggi. Sebagai seorang blacksmith dan pengguna gada, Lisbeth cukup percaya diri dengan kekuatan Naruto. Tapi, dia tidak akan pernah bisa mengayunkan pedang ini.
Dengan bersusah payah, dia bangkit dari acara terkaparnya dan menggeser pedang itu dari tubuhnya. Pedang itu terjatuh di lantai dan dia menarik pedang itu dari sarungnya. Pedang yang hampir jingga dan emas sempurna itu berkilat. Dia tahu pedang ini adalah pedang berkualitas tinggi hanya dengan melihatnya sekilas. Dia meng-klik pedang itu dengan jarinya untuk memanggil layar pop-up: kategori "Pedang Panjang/Satu Tangan", nama uniknya "Fox Flash Sword". Tidak ada nama pembuatnya, berarti pedang ini bukanlah buatan seorang blacksmith.
Para player bisa memisahkan semua senjata di Aincrad menjadi dua kelompok.
Satu adalah "buatan pemain", artinya senjata yang dibuat oleh para blacksmith. Yang satunya lagi adalah senjata yang diperoleh dari berpetualang sebagai "benda yang dijatuhkan monster". Tak perlu dikatakan lagi, para blacksmith tidak begitu suka senjata-senjata yang dijatuhkan itu. Lisbeth bahkan tidak bisa memulai untuk menghitung semua nama seperti 'Tidak bernama' atau 'Tidak bermerek' yang diberikan pada senjata-senjata tersebut.
Tapi, pedang ini tampak seperti benda yang sangat langka di antara benda yang dijatuhkan monster. Jika para player membandingkan kualitas rata-rata senjata buatan pemain dan senjata yang dijatuhkan monster, yang lebih baik adalah yang pertama. Tapi sekali-sekali, "Pedang Kilat Musang" seperti ini muncul, begitulah yang Lisbeth dengar.
Bagaimanapun, harga diri Lisbeth sekarang menjadi taruhannya. Sebagai seorang blacksmith, tidak mungkin dia akan kalah dengan senjata jatuhan. Dia mengembalikan pedang yang berat itu pada Naruto.
"Ini pedangmu, Naruto. Aku kembalikan."
Naruto mengambil pedangnya dengan mudahnya. Sehingga Lisbeth bisa bangkit berdiri lagi. Asuna juga bangkit berdiri dan memperhatikan Lisbeth yang mengambil sebuah pedang panjang yang tergantung di dinding belakang toko. Lisbeth menempa pedang ini sebulan lalu dan inilah pedang terbaik yang bisa dia tempa sekarang.
Pedang yang ditariknya dari sarungnya itu dibubuhi warna kemerah-merahan, seakan-akan diliputi oleh api.
"Ini pedang terbaik di tokoku sekarang. Kemungkinan besar tidak akan kalah dengan pedangmu."
Naruto mengambil pedang itu tanpa bicara, mengayunkannya dengan tangan kanannya, kemudian memiringkan kepalanya.
"Sedikit enteng ya?"
"Aku menggunakan logam tipe kecepatan untuk membuatnya."
"Hmm..."
Ekspresi curiga terlihat di wajahnya dan dia mengayunkan pedang itu beberapa kali lagi sebelum memalingkan tatapannya ke arah Lisbeth dan bertanya.
"Boleh aku mengetesnya sedikit?"
"Tes apanya...?"
"Ketahanan."
Laki-laki itu menarik pedangnya, yang ia pegang di tangan kirinya dari tadi, lalu meletakkannya di atas konter. Kemudian dia berdiri di sampingnya dan perlahan-lahan mengangkat pedang yang kemerah-merahan dengan tangan kanannya.
Menyadari apa yang ingin dia lakukan, Lisbeth mencoba menghentikannya. Begitu dengan Asuna.
"Naruto, apa yang kamu lakukan? Hentikan itu!" Asuna tampak panik.
"Tu-tunggu! Kalau kamu lakukan itu pedangnya akan rusak!" Lisbeth juga tampak panik.
"Kalau pedang ini rusak semudah itu, maka ini tidak berguna. Kalau itu terjadi akan kuurus nanti."
"Itu..."
Itu benar-benar gila. Itulah kalimat yang ingin Lisbeth katakan, tapi dia menghentikan dirinya. Asuna pun ikut terdiam dan memilih menyaksikan apa yang ingin Naruto lakukan pada pedang buatan Lisbeth itu.
Naruto memegang pedangnya di atas kepalanya dan matanya bersinar tajam. Segera, pedang itu mulai bersinar dengan cahaya biru.
"HIAAAAAT!"
Dengan sebuah pekikan, dia mengayunkan pedang itu dengan kecepatan luar biasa. Kedua pedang tersebut saling beradu satu sama lain sebelum Asuna dan Lisbeth sempat berkedip, dan dentumannya bergema keras di dalam toko. Karena kilatan yang dihasilkannya terlalu terang, mereka memicingkan mata masing-masing untuk melihatnya, lalu mundur selangkah ke belakang.
Tapi, terjadilah peristiwa yang tidak disangka-sangka.
Bilahnya terbelah dua dengan rapi dan telah benar-benar hancur!
Pedang karya terbaik Lisbeth. Lisbeth tercengang. Begitu juga dengan Asuna.
"AAAAAAH!"
Lisbeth berteriak dan buru-buru menggapai tangan kanannya. Dia ambil setengah bagian yang tersisa dan memeriksanya dengan hati-hati dari semua sudut.
Reparasi, sudah tidak mungkin.
Begitu sampai pada kesimpulan itu bahunya terkulai lemas, setengah yang sisanya lagi berhamburan menjadi pecahan poligon. Setelah beberapa detik yang hening lewat, dia mengangkat kepalanya pelan-pelan.
"Huh... Waaa..."
Lisbeth menggenggam kerahnya selagi bibirnya gemetaran.
"APA YANG KAU LAKUKAN! INI RUSAK, TAHU!"
"Maaf, aku tidak pernah mengira kalau pedang yang kuayun akan patah."
Naruto memasang wajah datar tanpa dosa. Sungguh membuat Lisbeth geram melihatnya. Begitu juga dengan Asuna.
Lantas Asuna berjalan mendekati Naruto. Wajahnya memerah padam. Kedua matanya terlihat emosi.
"Naruto... Kamu payah! Untuk apa sih kamu melakukan itu!? Kasihan Lis, kan? Huh... Kamu ini! MENYEBALKAN!"
Naruto menoleh ke arah Asuna dengan tatapan bosan.
"Aku tahu itu. Ya... aku sudah minta maaf, kan? Apa lagi yang mesti aku katakan."
"Haaah!" Asuna mengepalkan kedua tangannya dan berbalik menghampiri Lisbeth."Lis, maafkan aku. Karena Naruto... Pedang buatanmu jadi begini..."
Lisbeth tersenyum pada Asuna.
"Ah, tidak apa-apa. Hanya saja...
Tatapannya menjadi tajam ke arah Naruto. Kemudian menyambung perkataannya yang sempat terputus.
"Tapi, aku berurusan dengannya. Hei, Naruto... Kamu ingin mengatakan kalau pedangku lebih lemah dari yang kamu kira, kan!?"
"Hmmm... yaa, iya. Seperti itulah..."
"Ah! Sekarang kamu langsung jujur begitu saja?"
Lisbeth meletakkan kedua tangannya di pinggul dan menegakkan dadanya.
"Ku... Kuberitahu kamu! Kalau aku punya bahan yang tepat, aku bisa membuat senjata-senjata yang bisa mematahkan pedangmu sebanyak apapun yang aku mau!"
"Oh ya?"
Naruto tersenyum simpul mendengar ucapan yang dia katakan dalam kondisi marah itu. Sementara Asuna semakin panik melihat kondisi yang mulai memanas di antara mereka. Padahal mereka baru berkenalan hari ini. Tapi, mengapa kondisinya menjadi seperti ini?
"Kalau begitu, aku ingin memintamu untuk membuatnya. Sesuatu yang bisa mematahkan pedang ini begitu saja."
Naruto mengambil pedang di konter dan menyarungkannya. Darah akhirnya menyerbu naik ke kepala Lisbeth dan akhirnya meledak hebat.
"Jadi begitu ya!? Oke! Kalo begitu kamu bantu aku juga dong! Mulai dengan membantuku untuk mendapatkan bahan-bahannya!"
Lisbeth tahu kalau dia baru saja membuat kesalahan, tapi nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin dia mundur sekarang. Tapi, Naruto tidak bergeming sama sekali dan mencermatinya dengan dingin.
"Begini, aku tidak keberatan, tapi bukannya lebih baik kalau aku pergi sendiri? Akan jadi masalah kalau kamu menyulitkanku."
"AAAARGH!"
Ternyata orang yang sehebat ini dalam memanas-manasi orang benar-benar ada. Lisbeth mengibas-ngibaskan tangannya dengan liar dan protes seperti anak kecil.
"Ja-jangan meremehkanku! Begini-begini, aku seorang pengguna gada!"
"Ah, merepotkan..."
Laki-laki itu malah melihat ke arah lain. Tidak mempedulikan Lisbeth yang sedang berbicara. Sekarang dia cuma asyik sendiri.
"Kalau begitu, aku akan menunggunya. Omong-omong, akan kubayar pedang yang kupatahkan."
"Tidak usah dibayar! Ingat saja kalau aku membuat pedang yang lebih bagus dari pedangmu, akan kubuat kamu membayar segunung!"
"Oke, sebanyak apapun yang kamu mau. Kuharap kita berteman baik sampai pedangnya selesai."
Lisbeth menyilangkan tangannya dan membuang pandangannya.
"Kuharap kita berteman baik, Naruto."
"Hmmm... Kamu baik juga ya. Kuharap kita berteman baik, Lisbeth."
"HUH!"
Kesan pertama terburuk yang pernah ada untuk membentuk sebuah kelompok. Inilah yang terjadi hari ini.
Asuna memperhatikan keduanya dengan seksama. Naruto dan Lisbeth dikelilingi aura permusuhan. Hal ini pasti akan membuat hubungan mereka menjadi buruk. Setidaknya begitu.
Bagi Lisbeth sendiri, dia merasa Naruto mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang pernah datang ke tokonya untuk mencari pedang. Lalu seseorang itu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Naruto. Pedang mahakarya terbaiknya patah dan terbelah menjadi dua. Dia marah pada seseorang itu. Seseorang itu tidak mau tahu dan menantangnya untuk membuat senjata yang lebih hebat dari itu. Mengantarkan mereka membentuk party dalam berburu logam langka yang dibawa naga putih di lantai 55. Namun, misi mereka gagal dan tidak berhasil menemukan logam langka tersebut. Hanya mendapatkan beberapa coll dan item langka. Itulah yang mereka dapatkan dari misi party mereka selama sehari itu.
Setelah itu, seseorang itu membeli pedang mahakarya Lisbeth yang terbaik. Dia menguji ketahanan pedang buatan Lisbeth dengan pedang hitam miliknya. Menggunakan skill dua tangan dengan kecepatan luar biasa. Sehingga membuat Lisbeth kagum pada seseorang itu dan langsung menyatakan perasaannya pada seseorang itu.
Seseorang itu kaget mendengar pengakuan cinta Lisbeth. Dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa dia menganggap Lisbeth sebagai teman. Tidak lebih dari itu. Lisbeth mengerti dan mencoba tegar hingga seseorang itu pergi meninggalkan tokonya. Setelah itu, Lisbeth tidak pernah lagi berjumpa dengannya selama setahun ini.
Ya, tingkah Naruto hampir mirip dengan seseorang itu. Seorang laki-laki yang istimewa di hatinya sekarang. Untuk selamanya, dia mencintai laki-laki itu. Tidak akan pernah tergantikan dengan yang lain.
Kini ketiganya pun terlibat dalam pembicaraan serius tentang pembentukan kelompok mendadak ini. Ujung-ujungnya berkaitan tentang naga putih di lantai 55 itu.
.
.
.
"Hm, kira-kira ada masalah apa sih? Sehingga kamu tidak ingin ikut kakakmu ke toko Lisbeth itu. Kamu kelihatan aneh, Kirito."
Mendengar suara Sinon yang bertanya, tanpa suara Kirito mengarah ke jalan utama, terus berjalan dengan tempo cepat.
Kirito cuma memasang wajah kusut dan terus menggenggam tangan Sinon. Jika Kirito tidak kabur, sepertinya dia akan sadar bahwa dia kehilangan jalan.
Bagai sudah menyadari kondisi Kirito yang aneh, Sinon mengikutinya tanpa bicara. Dengan lembut, dilepaskannya tangan gadis itu.
Mereka memasuki jalan kecil yang menghadap timur, berjalan sebentar, lalu menemukan sebuah kafe kaki lima yang terlihat seperti tersembunyi oleh dinding batu yang tinggi. Tidak ada pelanggan sama sekali. Mereka masuk ke kafe itu dan memilih meja di pinggir. Duduk di kursi berwarna putih.
Sinon mengamati wajah Kirito sambil ia duduk di sisi yang berlawanan, tak memberikan kesan apapun dari pikirannya.
"Hei... Kamu kenapa sih?" tanya Sinon lagi."Kalau ada masalah, ceritakan saja padaku. Aku sudah memberitahukan padamu berkali-kali, kan?"
Kirito menatap Sinon dengan lama. Lalu dia tersenyum.
"Ah, tidak ada apa-apa kok."
"Apa benar?"
"Benar."
"Kamu pasti bohong."
"Aku tidak bohong. Sumpah lho..."
"Jangan pakai sumpah segala. Kalau kamu memang bohong, pasti akan ada apa-apa yang akan menimpamu."
"Ya... Aku memang tidak bohong. Percayalah padaku, Sinon."
Sang Black Swordman terus tersenyum sambil menatap istrinya dengan intens. Dia berusaha menyembunyikan kegelisahannya dari pandangan tajam istrinya itu.
Setelah itu, Sinon tersenyum dengan manisnya. Wajahnya kemerahan dan berseri-seri. Dia sangat imut seperti kucing.
"Oke, aku mengerti. Aku percaya kamu kok. Asal kamu tidak membohongi aku. Kejujuran yang mesti diutamakan dalam hubungan kita. Itu sudah cukup bagiku."
Terpana akan wajah dan perkataan Sinon, Kirito mengangguk pelan. Pandangan mata hitamnya melembut.
"Kamu memang gadis yang lembut dan perhatian. Ingin rasanya aku berada di sampingmu dan melindungimu. Sinon, aku mencintaimu. Kamu mau berjanji akan selalu bersamaku hingga akhir nanti, kan? Aku berharap hubungan kita terus berlanjut di dunia nyata. Seperti hubungan kita di dunia ini."
Giliran Sinon yang terpana. Dia mengangguk dengan senyuman lembut.
"Hm... Aku berjanji dan tidak akan melanggarnya."
"Bagus. Aku senang mendengarnya."
Diraihnya tangan Sinon. Dia tersenyum lembut dan penuh kehangatan dan memberikan tanda arti cinta pada gadis berambut hitam di depannya ini. Baginya, Sinon adalah cinta pertama dan terakhir yang pernah dia temukan di sepanjang hidupnya. Dia tidak akan melepaskan Sinon begitu saja.
Adegan romantis yang terjadi di antara Kirito dan Sinon itu ditangkap oleh sebuah teropong. Teropong yang dipakai seseorang yang berdiri tak jauh dari depan kafe itu. Dia bersembunyi di sebuah gang sempit di antara dua bangunan.
Entah siapa dia. Namun, yang pasti dia menyeringai sinis dengan penuh aura misteri.
"Akhirnya aku menemukanmu, Black Swordman. Secepatnya kau akan kubunuh untuk membalas dendam para anggota guild-ku."
Begitulah katanya. Di hatinya dipenuhi dendam kesumat yang telah tertanam kuat. Ingin segera menuntaskannya agar dia merasa tenang.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
CHAPTER 9 UPDATE!
Terima kasih atas perhatian kalian.
Sampai jumpa di chapter 10 ya.
Jumat, 26 Agustus 2016
