"Jungkook, kau gila." pria bersurai jelaga menggeram marah. Sepasang mata elangnya menatap nyalang Jeon Jungkook yang berusaha menunjukkan senyum menenangkan.

Mereka masih berada di kedai, bahkan beberapa pelanggan mulai memperhatikan. Ada yang tengah berbisik dan mencuri-curi pandang, ada pula yang secara terang-terangan menunjukkan atensinya kepada sepasang manusia yang jelas sekali tengah bertengkar. Tetapi Tuan Muda Kim tak peduli, yang terpenting baginya adalah menggagalkan ide sang kekasih yang dianggapnya gila. Bahkan ia menepis kasar lengan Jeon muda yang berusaha mengusap pundaknya, berusaha menenangkan.

"H -hyung… kumohon."

"Tidak." sahut yang lebih tua cepat.

Mereka masih saling tatap dengan aura yang sama sekali tidak bersahabat menyelimuti keduanya, sampai-sampai Yugyeom yang sebelumnya sempat berbinacang dengan mereka lebih memilih untuk diam dan menjalankan tugasnya.

"Tapi aku harus menyelesaikan ini. Jimin hyung memaksa, dan aku tidak bisa membiarkan ia terus-terusan datang. Kau dengar sendiri saat dirinya bilang tidak akan berhenti menemuiku. Sudah seminggu ini a -"

"Sudah seminggu?" Kim Taehyung membentak. Ia sungguh tidak bisa mengontrol emosinya sekarang. "Si bajingan itu mengunjungimu setiap hari selama satu minggu dan kau tidak mengatakan apa-apa padaku?"

Decakan kesal dilontarkan pria Kim. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Jeon Jungkook menyembunyikan itu semua dari dirinya yang notabene merupakan calon suami penyandang marga Jeon? Tidak hanya merasa kesal, Taehyung merasa sangat marah.

Jika memang mulanya Jungkook tidak ingin bicara dengannya, kenapa barusan malah ia menyetujui usulan Park sialan untuk bicara berdua?

Lebih parahnya, mengapa Jungkook mempersilakan Park Jimin masuk ke kediamannya?

Ya. Park Jimin masuk ke bagian rumah. Pria itu langsung melewati pintu yang ada di belakang Jungkook begitu diberikan izin sementara pemuda bersurai madu masih di bagian kedai, berdebat dengan kekasihnya.

"Aku janji, kami hanya akan bicara. Tidak lebih."

Kim Taehyung diam. Ia tahu, jika dirinya membuka mulut, yang keluar hanyalah kata-kata yang akan menyakiti Jungkook.

"Hyung…" sorot di mata bulat Jungkook meredup. Ia sadar akan kekhawatiran pewaris Kim Enterprise. Namun ia tahu Park Jimin tidak main-main saat mengatakan bahwa dirinya tidak akan berhenti menemui Jungkook selama pemuda bergigi kelinci belum mau membicarakan hubungan mereka. Buktinya, sudah seminggu ini mantan kekasihnya itu tidak pernah absen berkunjung.

"Pa, poppa… mana mainan Kwonnie?" sesosok balita yang tiba-tiba menarik-narik ujung pakaian Taehyung berhasil membuatnya terlonjak.

Ia berusaha tersenyum saat berbalik menghadap jagoan kecilnya yang menatapnya kesal. Bibir si balita yang terkena krim kue mengerucut lucu, sementara pipinya digembungkan.

"Poppa lama. Malah bicara-bicara dengan momma, Kwonnie ditinggal terus mainannya menjadi lama."

Pria Kim terkekeh, ia menyerahkan kedua mainan putranya, lalu memberikan kecupan di puncak kepala. Ia bahkan mencubit pipi Taekwon main-main. "Maafkan poppa, hm? Kwonnie kembali main, poppa ada perlu sebentar."

Sang putra mengangguk patuh.

Ia mengucapkan terima kasih karena sang ayah sudah mengambilkan kedua mainannya. Dengan perasaan riang, Taekwon segera berjalan sambil melompat-lompat kecil menuju meja dimana Bumble Bee dan Optimus Prime sedang tergeletak mengenaskan. Bocah berusia empat itu terlihat meletakkan Lamborghini dan Jeep-nya, lalu memanjat kursi untuk duduk.

Taehyung menghela nafas. Ia menegakkan tubuhnya, kemudian menyisir surainya yang sudah mulai panjang ke belakang. Kembali ditatapnya penyandang marga Jeon, masih dengan tatapan yang sulit diartikan.

Hanya beberapa detik, karena setelahnya ia berjalan cepat untuk masuk ke dalam rumah sang kekasih.

Jungkook tentu langsung mengikutinya. Ia jelas khawatir kalau-kalau Kim Taehyung akan menghajar Park Jimin yang sudah berada di dalam. Bagaimanapun, Tuan Muda Kim adalah sosok yang dulu dikenalnya memiliki sifat tempramental dan seenaknya.

Namun yang didapatinya hanyalah Kim Taehyung yang masuk ke dalam kamarnya tanpa mempedulikan seseorang yang duduk di sofa yang biasanya digunakan pangeran kecil untuk menonton televisi.

Jungkook terdiam saat Kim Taehyung berjalan melewatinya sambil memasukkan sebuah dompet berwarna hitam ke saku celana bagian belakangnya. Ia tergesa mengikuti kekasihnya dengan raut wajah yang menunjukkan kebingungan.

"Hyung…" lirihnya saat pria Kim mengenakan sepatunya sebelum melangkah ke arah pintu.

Jungkook berusaha mengejarnya, tapi suara Kim Taehyung yang begitu dalam terucap tanpa memandang wajahnya membuat Jeon muda mematung di tempat.

"Kalau kau tidak ingin aku ikut campur, selesaikan sesukamu. Aku juga ingin menyelesaikan sesuatu, dan kau tidak boleh ikut campur."

Butuh waktu beberapa saat untuk Jeon Jungkook bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan untuk menjernihkan pikirannya.

Apa yang dilakukan Taehyung sungguh melukainya. Tapi ia sadar, keputusannya untuk bicara berdua dengan Park Jimin, juga fakta bahwa ia tidak memberitahukan kunjungan rutin yang dilakukan oleh sang mantan kekasih selama seminggu ini kepada ia yang merupakan calon suaminya pasti membuat pria Kim marah dan kecewa.

"Kook?" Jimin yang sedari tadi memperhatikan dari tempatnya duduk mulai bicara. Ia hampir saja beranjak dari duduknya lalu mendatangi Jungkook yang sedari tadi berdiri diam.

Sebelum itu sempat terjadi, pemuda Jeon sudah terlebih dahulu mengambil tindakan. Ia berucap tegas. "Akan kuambilkan minum sebentar. Kau duduklah di sana."

Pemilik kedai Jeon berjalan memasuki kedainya tanpa mempedulikan tanggapan Jimin. Sepasang netranya langsung memindai setiap sudut kedai, mencoba menemukan sosok kekasihnya. Akan tetapi pria bersurai arang itu tidak ada dimana-mana.

"Gyeom, kau melihat Taehyung?" tanya Jungkook begitu ia mendapati Yugyeom yang baru saja masuk melalui pintu depan. Tangannya terlihat penuh dengan tanah.

Yang ditanya terlihat kesal. Ia bahkan mengumpat lirih. "Jika yang kau maksud adalah si brengsek yang tiba-tiba saja menendang pot sampai pecah, aku melihatnya pergi sambil mengumpat. Aku hanya menyingkirkan pecahan pot dan pohonnya ke pinggir, sisanya sama sekali belum kubersihkan."

Yugyeom berjalan masuk ke dapur untuk membersihkan tangannya, meninggalkan Jungkook sendirian di depan pintu masuk kedai. Untung saja mereka tidak memiliki pelanggan baru yang harus dilayani sehingga Yugyeom bisa segera bertindak.

Jeon Jungkook terlihat memejamkan matanya selama dua detik. Ia menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya perlahan seraya menolehkan kepala ke arah sang putra yang masih asyik berceloteh sambil menggerak-gerakkan Jeep-nya. Ia bahkan tertawa saat meletakkan Bee di atas mobil mainan yang dibelikan sang ayah, lalu mendorongnya hingga kedua benda itu terjatuh dari meja dan mendarat di kursi yang ada di sisi lain.

Ia bisa bernafas lega karena kelihatannya jagoan kecilnya tidak mengetahui insiden barusan.

Karena Kim Taehyung benar-benar terlihat menyeramkan saat marah, lebih menyeramkan, berkali-kali lebih menyeramkan ketimbang dirinya.

Dan Jeon Jungkook tidak mau sang putra melihatnya.

.

A fanfiction, the continuation of "Puzzled"

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung

Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Rated: M for the language and theme, and yeah

Warning: OC for Taekwon.

Ambigu, TYPO tak tertahankan, m-preg (?)

Rada vulgar

.

.

"Painted"

Part IX: the Hatching Lot

Jeon Jungkook duduk di ujung sofa. Sementara di ujung lainnya, Park Jimin tersenyum kikuk hingga sepasang netranya tampak menyipit.

Ini benar-benar cangung.

Memang Jimin yang mengusulkan supaya mereka membicarakan masalah hubungan mereka dengan serius. Walau memang dirinya sadar bahwa Jeon muda lebih memilih untuk bersama pria yang tadi sempat ditemuinya, namun status mereka berdua sejujurnya masih sepasang kekasih.

Baik Jeon maupun Park tidak ada yang membicarakan masalah perpisahan sebelum Jimin mulai kembali mengunjungi Jungkook seminggu yang lalu, dan kekasihnya itu menolak keharidannya dengan alasan ia sudah memiliki calon suami bernama Kim Taehyung.

Pria bersurai hitam tampak mengambil cangkir kopi kesukaannya yang disediakan tuan rumah, tentu Jungkook sudah sempat mempersilakannya untuk meminum. Ia menyesapnya perlahan sebelum kembali meletakkan cangkirnya di meja. Perlahan, Park Jimin menyiapkan mental.

"Kook…" gumam yang lebih tua memecah keheningan. Ia memutuskan untuk memulai perbincangan serius ini. "Maaf baru bisa berkunjung sekarang. Aku sangat sibuk sampai tidak sempat datang. Tapi aku sudah mengirimkan banyak pesan. Aku juga sudah mencoba untuk menelfonmu, dan tidak ada satupun yang kau tanggapi."

Memang seperti itu.

Bagi Park Jimin, pekerjaan adalah yang nomor satu.

Ia begitu mirip dengan Kim Taehyung yang dulu.

Tapi prianya sudah berubah sekarang. Ia bahkan rela menghabiskan waktu berhari-hari di Busan, meninggalkan kantornya, dan sekarang bahkan pria penyandang marga Kim itu kembali ke sisinya. Hal ini membuat Jeon Jungkook sadar bahwa dirinya dan sang putra saat ini menjadi prioritas nomor satu bagi Kim Taehyung.

Dan jika pria Park tidak bisa melakukan hal yang sama, maka Jungkook memang belum menjadi yang utama.

Tidak mendapat jawaban dari kekasihnya, Jimin berusaha menenangkan diri sebelum akhirnya kembali bicara. Sepasang netranya menatap tajam pemuda yang sudah memilii seorang putra. "Setelah kau menghubungiku dan memutuskan secara sepihak mengenai status kita, kau mengabaikanku. Lalu saat aku berusaha menemuimu, kau tiba-tiba saja bilang sudah memiliki calon suami. Apa pria yang tadi yang merupakan calon suamimu?"

"Ya." kali ini Jungkook bicara. Ia mendongak perlahan, membalas tatapan yang ia terima dengan sorot yang diusahakan tenang. Bibirnya tersenyum tipis meski dadanya terasa sesak dan tidak nyaman. "Kim Taehyung adalah calon suamiku."

"Kenapa pria itu? Bagaimana denganku?"

"Dia ayah Kwonnie, hyung. Kim Taehyung adalah ayah kandung putraku. Ia bilang ingin memperbaiki semuanya, dan aku tidak berhak untuk melarangnya. Lagipula aku ingin ayah yang baik untuk putraku. Aku ingin ayahnya menyayanginya." Jungkook memejamkan mata, mencoba menetralkan perasaannya. Mengingat kejadian di rumah sakit, dimana untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa Park Jimin tidak menyayangi putranya, membuat hatinya berdenyut nyeri.

"Ayah kandung Kwonnie katamu?" Jimin membeo, memilih untuk membahas pria yang tadi dengan lancang merangkul pundaknya lalu memberikan ancaman-ancaman bodoh seperti bocah labil yang sedang marah. "Bukannya itu adalah pria yang sama dengan yang menjadikanmu jalang dan memperlakukanmu seenaknya? Kau percaya begitu saja saat si keparat itu bilang akan memperbaiki semuanya? Kau tidak belajar dari pengalaman? Bagaimana kalau ia menyakitimu seperti dulu?"

Ya.

Penyandang marga Park memang sangat memperhatikan Jungkook. Ia sangat menyayangi pemuda bergigi kelinci.

Hanya Jeon Jungkook.

"Ada sesuatu yang lebih penting bagiku daripada semua hal, hyung. Kim Taehyung menyayangi Kwonnie. Aku melihatnya dengan sangat jelas dari pancaran matanya bahwa kasih sayang yang dimilikinya untuk putraku begitu nyata. Bahkan sebelum ia tahu bahwa Jeon Taekwon adalah darah dagingnya, Taehyung memperlakukannya dengan baik. Ia adalah pria baik yang menyayangi putraku."

Park Jimin menggeram kesal.

Jeon selalu berusaha menghindari tatapan matanya, dan ia duduk begitu jauh.

Mendecakkan lidahnya, pria yang mengenakan kemeja kasual berwarna biru dan celana jeans panjang itu menggeser tubuhnya hingga ia duduk menghimpit kekasihnya di sudut sofa. Tangan kanannya terulur untuk menarik dagu Jungkook, membuat sepasang mata beriris onyx itu bertatapan dengannya.

"Aku tidak menerima alasan itu." kalimat itu terucap dengan nada yang lebih rendah dari biasanya. Kedua tangannya mencengkeram masing-masing lengan bagian atas Jungkook. "Kau milikku, Jeon. Milikku."

Dan Jungkook merasakan sesak di dadanya.

Penyandang marga Park semakin menghimpit tubuhnya, lalu tanpa aba-aba mendekatkan wajahnya ke wajah Jungkook. Bibir tebalnya meraup milik pemuda bersurai madu, mengulumnya kasar penuh nafsu.

Butuh waktu beberapa detik bagi Jeon Jungkook untuk kembali meraih kesadarannya. Ia berusaha keras mendorong tubuh pria yang lebih tua. Ia bahkan menggerak-gerakkan kakinya, sekuat tenaga, ingin bebas dari ciuman paksa yang dilakukan mantan kekasihnya.

Jungkook sedari tadi menutup bibirnya rapat, namun itu tak membuat Park Jimin berhenti. Maka hanya ada satu cara yang bisa dilakukannya. Jungkook membuka sedikit mulutnya, dan Jimin yang tak menyia-nyiakan itu segera melesakkan lidahnya ke dalam mulut pemuda yang ia anggap masih berstatus sebagai kekasihnya.

Dan saat itu juga, Jungkook menggigit apa saja yang menyentuh bibirnya, membuat Jimin dengan segera mendorong tubuh pemuda Jeon sekaligus menjauhkan tubuhnya sendiri dari si kurang ajar Jeon.

Tangannya bergerak tanpa aba-aba untuk melayangkan sebuah tamparan yang telak mengenai pipi kiri Jeon Jungkook.

"Hyung!" Jungkook memekik tertahan. Ia memegang pipinya yang terasa panas, lalu mulai bangkit dan menjauh dari sofanya. "Kau memukulku!"

Park Jimin berdecak kesal. Ia mengusap bibirnya yang terasa perih, lalu dengan tatapan nyalang, ia berjalan mendekati Jungkook yang langsung menjauh.

"Kau tidak pernah menolakku seperti itu, Jeon."

Ya. Jeon Jungkook dan Park Jimin memang pernah berciuman, bahkan lebih dari itu. Tapi saat itu hubungan mereka adalah sepasang kekasih.

Dan bagi Jeon Jungkook, saat ini Park Jimin bukan lagi kekasihnya.

Katakanlah dirinya egois karena memutuskan semuanya secara sepihak. Tetapi sikap Jimin kepada putranya benar-benar membuatnya ingin menjauh darinya.

"Maafkan aku, hyung…"

Jungkook tulus mengatakannya. Begitu banyak alasan membuatnya ingin meminta maaf kepada Park Jimin.

"Aku benar-benar minta maaf." ulangnya dengan suara yang lebih pelan. Jungkook menundukkan kepalanya.

Jimin tidak pernah marah kepadanya, tidak pernah. Dan ekspresi wajahnya yang keras, juga sorot mata tajamnya berhasil membuat Jungkook merasa ciut.

Hening menyelimuti beberapa saat, sampai pada akhirnya terdengar helaan nafas berat dari pria yang lebih tua.

Ia memejamkan matanya selama beberapa saat sebelum merengkuh tubuh kekasihnya ke dalam dekapan.

Jungkook hanya diam. Ia sama sekali tidak menolak, nemun juga enggan membalas pelukan.

"Kook…" bisik Jimin lembut, kembali dengan nada bicaranya yang biasa. "Maafkan aku soal Kwonnie. Aku benar-benar minta maaf. Aku akan berusaha menyayanginya, aku akan bersungguh-sungguh. Kumohon, beri aku kesempatan kedua."

Yang diajak bicara hanya diam. Ia tahu Park Jimin tulus. Walau entah bagaimana perasaan pria Park kepada Jeon Taekwon, namun perasaannya kepada Jeon Jungkook sungguh tulus.

"Kumohon…"

Jungkook bisa merasakan pelukan di tubuhnya mengerat. Ia memejamkan mata ketika Jimin menenggelamkan kepalanya ke perpotongan leher dan bahu yang lebih muda.

Mereka kembali terdiam, larut dalam pikiran masing-masing hingga Jungkook memutuskan untuk melepas lengan Jimin perlahan.

Jeon Jungkook tersenyum ramah. Diusapnya wajah Jimin yang terlihat sedikit kacau.

"Maafkan aku, hyung. Aku tidak bisa."

"Berikan alasan yang masuk akal dan bisa kuterima."

"Kwonnie sudah tahu kalau Taehyung adalah ayahnya. Ia ingin kami bertiga hidup bahagia bersama. Taehyung juga tulus menyayanginya, aku tidak bisa merusak itu semua."

Penyandang marga Park memejamkan matanya selama beberapa saat. Sorot matanya meredup saat ia membuka mata dan menatap Jungkook yang juga tengah menatapnya.

"Aku tidak peduli soal Kwonnie dan Taehyung." ucapnya dingin. Bibirnya bergerak begitu pelan seolah tidak ingin mengungkapkan apa yang ia pikirkan. "Aku hanya peduli padamu, Kook. Bagaimana denganmu?"

Jungkook terdiam.

Ia jelas tahu apa yang Park Jimin inginkan sebagai jawaban.

"Aku mencintainya." bisik pemuda bermata obsidian. Bibirnya tersenyum simpul saat ia berbicara dengan pria yang masih setengah memeluknya. "Aku mencintai Kim Taehyung."

Dan ketika Park Jimin benar-benar melepaskan lengannya dari tubuhnya, Jeon Jungkook tahu bahwa dirinya telah menghancurkan hati pria yang pernah begitu baik kepadanya.

Jimin terkekeh ringan. Ia menunjukkan senyum ironi yang terasa menyakitkan di hati Jungkook.

"Aku bagaimana? Apa kau pernah, sedikit saja, mencintaiku?"

Sungguh itu adalah pertanyaan yang begitu mudah, namun berat bagi Jungkook untuk menjawabnya. Ragu ia berkata, "Aku pernah benar-benar me -"

"Katakan, tidak." potong pria yang lebih tua cepat. Ia menyentuh bibir Jungkook dengan telunjuk kanannya. "Katakan kau tidak pernah mencintaiku. Jangan memberiku harapan walau hanya sedikit saja karena aku bersumpah, aku akan terus mengejarmu jika sampai itu terjadi."

Pemuda yang telah memiliki satu orang putra terdiam selama beberapa saat. Ia menghirup nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya kasar, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Ia terpaksa berbohong, namun pada akhirnya kalimat itu terlontar juga.

"Aku tidak pernah mencintaimu, Park Jimin."

.

.

.

.

.

.

Jeon Jungkook terdiam. Pandangannya menerawang jauh. Hatinya terasa begitu resah, dan pikiran-pikiran buruk mengenai Kim Taehyung yang tak kunjung pulang membuatnya khawatir.

"Ma, momma. Poppa masih lama?"

Ucapan khas anak-anak yang berasal dari balita yang duduk di hadapannya, membuat lamunan sang ibu buyar.

Pemuda yang hanya mengenakan sweater rajut berwarna abu-abu dan celana bahan hitam itu pun tersenyum, mencoba menyingkirkan kekhawatirannya. Tangannya terulur mengusak surai kecoklatan putranya yang terlihat kesal.

"Poppa sedang ada urusan, sayang."

"Apa poppa bekerja? Tapi katanya poppa liburan, tapi kenapa bekerja terus?"

Jungkook tersenyum kecut. Sejujurnya ia sendiri tidak tahu apa yang tengah dilakukan pria Kim. Sejak kepergiannya pagi tadi setelah Jungkook memutuskan untuk memenuhi permintaan Jimin, Kim Taehyung tidak kembali hingga sekarang. Berkali-kali Jeon muda berusaha menghubunginya, namun tidak ada yang membuahkan hasil.

"Kwonnie makan dulu dengan momma, ya?"

Si bocah menggeleng kuat. Bibirnya mencebik saat sepasang mata bulatnya menatap sang bunda. "Kwonnie sudah makan siang tidak sama-sama poppa. Kwonnie mau makan sekarang tapi menunggu poppa. Nanti kalau ditinggal lalu poppa tidak makan, bisa kelaparan."

Jungkook lagi-lagi menunjukkan senyum hambarnya.

Ia memang berhasil membujuk putra semata wayangnya untuk makan siang tanpa sang ayah, tapi sepertinya untuk makan malam kali ini, Jeon Taekwon akan sedikit keras kepala.

"Nanti Kwonnie bisa sakit kalau tidak makan sekarang. Poppa pasti sudah makan, poppa tidak akan kelaparan. Kalaupun nanti poppa belum makan saat pulang, momma akan membuatkan makanan."

"Tidak mau!" pekik si balita. Ia langsung melompat turun dari kursinya, meinggalkan meja makan yang penuh dengan menu makan malamnya.

Jeon Jungkook hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia tidak ingin memaksa putranya dalam keadaan hatinya yang masih kacau. Jungkook takut akan berakhir dengan dirinya yang berteriak dan marah-marah. Bagaimanapun, Taekwon yang takut dengan dirinya adalah mimpi buruk yang tidak ingin dilihatnya lagi.

Dengan langkah gontai, Jungkook berjalan menghampiri putranya yang tengah duduk memeluk boneka Chimchar yang dimenangkan sang ayah tempo hari. Wajahnya merengut kesal. Televisi di hadapannya menyala, namun sepertinya Kwonnie sama sekali tidak fokus menontonnya.

"Jagoan, jangan marah seperti ini." bujung Jungkook. Ia mendudukkan diri di samping putranya, lalu mengusap kepalanya perlahan. "Poppa memiliki pekerjaan yang sangat banyak. Kalau tidak bekerja, poppa tidak akan memiliki uang untuk mengajak Kwonnie jalan-jalan dan membelikan Kwonnie mainan."

Si bocah tampak berpikir. Ia menolehkan kepalanya, menatap bunda kesayangan dengan mata yang berkedip lucu. "Uhh…"

"Kita tunggu poppa pulang, hm?"

Jeon Taekwon mengangguk. "Tapi Kwonnie tidak mau makan malam. Nanti kalau poppa pulang, baru Kwonnie mau makan malam."

Sang momma hanya bisa menurutinya. Mereka akan menunggu poppa bersama-sama.

Kalau boleh jujur, hati Jungkook berdenyut nyeri saat ini. Ia tahu Kim Taehyung marah. Tapi tindakan sang pewaris Kim yang pergi begitu saja tanpa memberinya kabar hingga waktu makan malam tiba sungguh membuat Jungkook kecewa.

Apa Kim Taehyung lupa kalau dirinya sudah berjanji akan menjadikan Jeon Jungkook dan Jeon Taekwon sebagai tanggung jawabnya?

Bukankah Jungkook hanya ingin menyelesaikan masalahnya dengan Jimin? Semua itu dilakukannya demi kelancaran hubungannya dengan Kim Taehyung. Ia hanya tidak mau Park Jimin datang di kemudian hari dan mengganggu keluarga kecilnya saat mereka sudah bahagia.

Tapi kenapa Taehyung tidak mau mengerti dan malah bersikap egois?

Menghela nafasnya kasar, Jungkook memilih untuk mengabaikan pikiran-pikirannya yang mengelana jauh. Lebih baik mengurus putranya yang terlihat mengantuk saat ini.

Perlahan ia membaringkan tubuh mungil Taekwon di sofa. Bocah yang masih setengah sadar itu terlihat mengerang protes saat sang ibu melakukannya, namun ia sama sekali tidak memiliki niat untuk melawan. Yang ada, Taekwon malah merapatkan tubuhnya yang hanya berbalut kaos coklat dan celana pendek senada ke sandaran sofa.

Jungkook terkekeh lirih. Ia mengusap lembut kepala putra kesayangannya supaya si balita merasa lebih nyaman.

Entah berapa lama waktu yang ia habiskan untuk mengagumi wajah pangeran kecilnya yang semakin hari semakin mirip dengan Kim Taehyung. Ia tersenyum simpul memperhatikan caranya tidur yang begitu menggemaskan; meringkuk dengan memeluk sesuatu. Baru saja ia mencondongkan tubuhnya dan hendak mencium kening sang putra, tapi bunyi ponsel yang diletakkannya di meja makan sukses menghentikan kegiatannya.

Ia melirik sekilas ponselnya sebelum mengecup singkat dahi sang putra. Setelahnya, Jungkook beranjak ke meja makan. Jantungnya berdegup kencang saat sebuah nama yang begitu familiar tertera di layar sentuhnya. Ia segera menggeser ikon berwarna hijau, lalu mendekatkan ponsel ke telinganya.

"Kook, aku di depan. Bukakan pintunya."

Jungkook tersenyum lega saat mendengar suara serak itu. Ia segera memutus panggilan lalu berlari kecil masuk ke kedainya. Dari pintu kaca, ia bisa melihat sosok pria bersurai gelap yang tengah menunjukkan senyumnya. Walau hanya segaris tipis, Jungkook tahu pria Kim tulus melakukannya.

Ia segera membuka pintu depan kedai dan hampir terjungkal ke belakang saat tiba-tiba Taehyung menubruk tubuhnya dan memeluknya erat. Untung saja pria Kim langsung menarik Jungkook ke dalam dekapannya, menjadikan dirinya sebagai tumpuan beban tubuh mereka berdua di sela kegiatannya menenggelamkan wajah ke perpotongan leher dan bahu Jungkook-nya.

"H -hyung… ada apa?"

Yang ditanya hanya terkekeh. Ia menggeleng ringan sambil menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.

Jungkook balas tertawa lirih. Tangannya terulur naik tanpa aba-aba untuk mengusap punggung sang kekasih. Ia sempat menjauhkan tubuhnya hanya untuk mencium pelipis pewaris Kim. Setelah beberapa saat, ia ikut menenggelamkan wajahnya ke dalam dekapan pria yang lebih tua enam tahun darinya.

Mereka seakan terhipnotis ke dalam dunianya sendiri. Bahkan pintu yang masih terbuka pun diabaikan begitu saja.

Hingga pada akhirnya Kim muda bersin dan membuat Jungkook tertawa renyah. Perlahan ia melepaskan pelukan sang kekasih. "Aku menutup pintunya dulu, hyung."

Pria bersurai jelaga mengerang protes. "Kau janji memanggilku poppa."

"Baiklah… poppa." Jungkook mendesah pasrah. Ia lalu mengulangi ucapannya. "Momma ingin menutup pintunya. Poppa tolong lepaskan pelukannya."

Dan Kim Taehyung menurut. Ia langsung melepas lengannya yang mendekap tubuh Jeon muda, lalu menunjukkan cengiran kotaknya. Sepasang matanya mengikuti gerak-gerik kelinci menggemaskannya yang tengah menutup pintu depan dan menguncinya.

"Kita akan bicara nanti, tapi sekarang mandilah terlebih dahulu." gumam yang lebih muda seraya menarik lengan kekasihnya untuk masuk ke dalam rumah.

"Apa kau menyisakan makan malam untukku? Aku lapar."

Jungkook tersenyum. "Mandilah, aku akan menghangatkan makanannya."

Tentu yang dilakukannya setelah Kim Taehyung memberinya sebuah kecupan singkat di bibir dan melesat ke kamar mandi adalah menghangatkan makanan yang sudah dimasaknya. Sementara menunggu, ia menghampiri sang putra yang masih terlelap di atas sofa.

Ia ingin membangunkan Kwonnie supaya balita manisnya makan malam, walau harus dalam keadaan setengah tertidur. Pasalnya, anak itu tidak pernah melewatkan makan malamnya. Jungkook khawatir perut putranya bisa sakit karena ia tidak terbiasa.

"Sayang… poppa sudah pulang. Kwonnie makan bersama poppa, ya?"

Padahal matanya masih tertutup sempurna, tapi setelah mendengar bahwa ayah yang sudah ditunggu-tunggunya sudah kembali, Taekwon langsung menggerak-gerakkan tubuhnya, mencoba untuk bangun. "Ungg.. poppwa…"

Jungkook yang melihatnya pun menggendongnya perlahan.

Terkekeh renyah, ia mencium pelipis putranya. Pemuda Jeon menggendong putranya yang lumayan berat dengan sebelah tangan, sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk menyiapkan makan malam yang sudah sangat terlambat.

"Bukan poppa.. um… poppa…" rengek balita berusia empat saat ia merasakan yang tengah menggendongnya bukanlah sang ayah. Sebelah tangannya yang masih mencengkeram kuat ekor Chimchar ia goyangkan hingga boneka kera api itu menyenggol gelas keramik yang ada di meja.

Gelas yang berisi air itu pun menggelinding hingga jatuh ke lantai dan pecah.

Kwonnie yang masih setengah tidur langsung terlonjak kaget. Ia terlihat bingung saat memperhatikan sekelilingnya, lalu bibirnya mulai mencebik dan matanya berkaca-kaca, siap menangis.

"Ssttt… tidak apa-apa sayang." bisik Jungkook. Ia membetulkan posisi putranya, lalu memberikan kecupan-kecupan ringan di wajahnya. "Tidak apa-apa."

"Jungkook. Ada apa?" pria Kim yang baru selesai mandi berjalan cepat dan langsung menghampiri calon istrinya. "Apa Kwonnie terbangun?"

Si balita yang mendengar suara ayahnya dan merasakan usapan tangan besar di kepalanya segera menoleh. Ia mencondongkan tubuhnya, meminta sang ayah menggendongnya.

"Poppa…" rengeknya mengusekkan kepalanya ke bahu sang ayah. Handuk kecil berada di sana, menangkap tetesan-tetesan air yang berasal dari rambut ayahnya yang basah.

"Iya, sayang. Poppa di sini." bisiknya lembut.

Jungkook yang melihat putranya tenang di dalam gendongan ayahnya langsung bergegas membersihkan pecahan-pecahan gelas yang berserakan.

"Kook, biar nanti aku yang bersihkan."

"Tidak, hyung." tolak pemuda Jeon. Ia berjongkok memunguti pecahan gelas satu per satu. "Untung saja ini keramik, jadi tidak ada serpihan-serpihan kecil. Kau duduklah, hyung. Nanti kita makan malam bersama."

Taehyung mengeryit, namun ia segera mendudukkan dirinya di kursinya karena sungguh, Jeon Taekwon yang tengah menggelendot di gendongannya lumayan berat. Ia heran bagaimana Jungkook bisa menggendong putranya sambil mengerjakan ini-itu.

"Kau belum makan?" Taehyung akhirnya bertanya.

Sementara yang ditanya hanya menunjukkan senyum simpulnya.

"Uhh… poppa." keluh balita yang kini dipangkunya. Bocah yang masih memegang Chimchar-nya itu segera mendongak untuk memastikan bahwa pria yang bersamanya kini adalah sang ayah. Ia mengucek matanya dengan kedua tangan setelah menaruh bonekanya di pangkuan. "Poppa lama pulang, Kwonnie kelaparan hampir kurus dan menjadi bayi kecil."

Ingin rasanya pria Kim tertawa mendengar putranya, namun ia lebih memilih untuk mendongak dan mengamati jam dinding yang tergantung di salah satu sudut ruangan.

Pukul sembilan lewat.

Dan putra kecilnya bilang dirinya kelaparan.

"Kwonnie tidak mau makan kalau tidak dengan poppa. Momma tidak bisa membujuknya." Jungkook menjelaskan ucapan putranya.

Kim Taehyung merasakan nyeri di ulu hatinya. Ia mendongakkan kepala, dan ketika dilihatnya bibir sang kekasih yang tersenyum maklum, hatinya benar-benar terluka.

Ia bersikap seenaknya, dan Jeon Jungkook memakluminya.

Bahkan sang putra yang tidak tahu apa-apa menjadi korban atas tindakan kekanakan yang ia lakukan.

Tuan Muda Kim menggunakan sebelah tangannya untuk memijit kening, sementara yang satunya ia gunakan untuk memegangi balita Jeon yang masih terlihat mengantuk.

"Makan yang banyak, hm? Poppa suapi Kwonnie." Taehyung berusaha tersenyum walau terasa aneh. Dan putranya yang langsung mengangguk benar-benar membuatnya lega. Ia segera mengambil sesendok nasi beserta lauknya, lalu menyuapkannya kepada sang putra.

Taekwon yang duduk menyamping di pangkuan ayahnya terlihat senang. Tangan kecilnya menunjuk-nunjuk sendok yang ditaruh ayahnya di piring sebelum berpindah menyentuh bibir sang ayah dengan telunjuk, memberi isyarat agar Taehyung makan juga.

Tentu pria Kim mengikuti kemauan jagoan ciliknya.

"Kenapa kau membangunkannya hanya untuk makan, Kook? Seharusnya biarkan saja Kwonnie tidur sampai pagi." sepasang mata elang pria bersurai arang menatap pemuda Jeon. Sama sekali tidak ada sorot intimidasi di sana, hanya ada kelembutan dan rasa keingintahuan.

"Kwonnie tidak terbiasa tidak makan malam, hyung. Ia juga belum minum susu atau makan kue sejak sore tadi. Aku takut Kwonnie akan sakit perut. Lagipula ia bilang ingin makan bersama poppa." Jeon muda menunduk. Ia tahu dirinya bukan ibu yang baik hari ini karena membiarkan putranya tidak makan apapun sejak sore. Namun jika dirinya memaksa, Jungkook khawatir jika Taekwon akan takut padanya seperti tadi pagi. Bagaimanapun, emosi Jeon Jungkook hari ini benar-benar tidak stabil. "Maafkan aku."

Kim Taehyung menghela nafas pelan menanggapi cicitan sang kekasih. Ia menyuapi putranya yang nampak memeluk Chimchar sambil menahan kantuk. Setelahnya, Kim muda mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi pemuda Jeon.

"Kau juga makanlah yang banyak. Aku tidak mau calon istriku sakit." gumam Taehyung membuat Jungkook bersemu.

Jungkook yang sedari tadi belum menyentuh makanannya langsung melaksanakan apa yang calon suaminya perintahkan. Tentu pria Kim juga makan sepiring berdua dengan sang putra. Karena dirinya bahkan tidak makan siang, Taehyung sebenarnya sangat kelaparan, namun ia tidak mau membuat Jungkook khawatir sehingga ia menahan hasratnya untuk menyantap makanan dengan lahap.

Kim Taehyung memang belum memakan apapun hari ini selain sarapan tadi pagi.

Melihat putranya mulai terlelap, Kim muda berusaha membujuknya agar menyikat gigi terlebih dahulu. Kwonnie mau melakukannya bersama-sama dengan sang ayah dan ibu. Walau dengan mata yang hampir terpejam sempurna, Jeon Taekwon tetap menggosok giginya, tentu dengan bantuan poppa kesayangannya.

Jungkook memutuskan untuk membersihkan sisa makan malam sementara Taehyung menidurkan sang putra di kamarnya sendiri.

Hanya sekitar sepuluh menit pria bersurai jelaga ada di kamar balitanya yang menggemaskan. Ia keluar dari kamar bersamaan dengan Jeon muda yang mendudukkan dirinya di sofa.

Kim Taehyung menutup pintu kamar Kwonnie perlahan. Dihirupnya nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan untuk menetralkan isi kepalanya yang kacau. Setelah merasa dirinya tenang, Taehyung langsung berjalan menuju sofa. Ia mendudukkan dirinya di samping yang lebih muda, lalu memeluknya dari samping.

"Mmhhh…" lenguh Jungkook tertahan saat dirasakannya kecupan-kecupan sensual yang menyentuh lehernya.

Televisi yang baru saja ia nyalakan langsung dimatikan oleh kekasihnya. Kemudian tubuhnya ditarik untuk duduk di pangkuan, berhadapan dengan pria yang telah merebut hatinya, menduduki gundukan yang mengganjal tepat di sela-sela bongkah pantatnya.

"Ka -kau dari mana hyumhh… Kwon ahh.. mencarimu. Aku mengkhawatirkanmhh…"

Jeon Jungkook tidak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh pewaris Kim, namun ia meyakini bahwa sentuhan-sentuhan yang ia rasakan sarat akan nafsu yang tidak bisa ditahan. Ia hanya bisa meremat surai hitam Kim Taehyung yang masih setengah basah, atau mencengkeram bahu kokohnya saat sang dominan mencumbu leher.

"Jangan meninggalkan bekas di sana."

Sepasang tangan pria Kim bergerak menelusup ke dalam sweater Jungkook. Kesepuluh jarinya bergerilya menyalurkan sengatan rangsang yang sukses membuat tubuh Jeon Jungkook menegang.

"Tadi pagi, aku benar-benar ingin menghajar seseorang. Membunuhnya, kalau perlu." pria yang lebih tua terkekeh. Perlahan ia mengubur wajahnya ke dada padat Jungkook sementara kedua lengannya erat memeluk pinggang sang kekasih. "Tapi aku ingat kekasihku yang menggemaskan dan putraku yang lucu akan sangat sedih kalau sampai aku dipenjara. Aku juga tidak ingin Kwonnie malu memiliki ayah seorang kriminal."

Jeon muda tersenyum simpul. Sepasang lengannya mengalung kasual di leher pewaris Kim Enterprise, menekannya perlahan sembari mengusap lembut surainya yang memanjang. Ia tahu Kim Taehyung-nya belum selesai bicara, maka Jeon Jungkook diam dan menunggu hingga sang kekasih selesai berkata-kata.

"Aku memilih pergi untuk, well… menenangkan diri? Entahlah… aku hanya merasa sangat marah saat tahu keparat yang ingin mencelakai putraku datang untuk menemuimu. Lebih parahnya, kau mau-mau saja memenuhi permintaannya. Aarghh!" sosok bersurai arang mengerang, masih menenggelamkan wajahnya ke dada berisi Jungkook hingga suaranya ketika bicara menjadi tidak terlalu jelas. Ia tak peduli karena pemuda Jeon pasti mengerti. "Pokoknya kau tahu alasanku pergi."

Yang lebih muda terkekeh ringan. Ia mencium puncak kepala sang kekasih, lalu mengangguk dengan posisi wajahnya yang masih menempel di kepala pria Kim. Otomatis, Kim Taehyung mengetahuinya.

"Dan kau pergi minum?"

Jungkook bisa merasakan tubuh calon suaminya menegang selama beberapa saat sebelum akhirnya kembali rileks. Perlahan kepala di dalam dekapannya mengangguk.

"Apa aroma alkohol dari tubuhku seburuk itu?" gumam Taehyung polos. Ia menjauhkan kepalanya, lalu menegakkan tubuh supaya bisa menatap sang kekasih dengan lebih nyaman. Sorot matanya menyiratkan keseriusan. "Apa bicaraku terlalu aneh? Apa aku terlihat mabuk?"

Kali ini pemuda Jeon menggeleng. Ia memberikan sebuah kecupan ringan di tulang pipi kiri pria Kim, lalu mengusap lembut rahang tegasnya yang menawan. "Aku mencium aroma parfum wanita di tubuhmu."

Taehyung mendongakkan kepalanya, menatap lekat sepasang mata bulat kekasih kelincinya.

Ini di luar dugaan.

Kim Taehyung tidak pernah menyangka Jeon Jungkook akan lebih peka dengan parfum wanita yang menempel padanya daripada aroma alkohol yang biasanya sukses membuatnya mengomel.

Dan lagi… senyum canggung yang begitu menuntut penjelasan itu…

"Ya… itu… tadi aku sempat mencari hiburan."

"Hiburan?" Jeon Jungkook membeo.

Bibirnya menunjukkan senyuman, namun sorot matanya menuntut penjelasan. Dan itu sukses membuat Taehyung bersusah payah menelan saliva. Beberapa kali dijilatnya bibir yang terasa kering.

"Aku pergi ke hotel yang waktu itu, menyewa kamar dan memesan minuman, lalu tidur seharian. Sore harinya aku pergi ke bar untuk mencari hiburan, tapi aku merasa bosan. Beberapa wanita mendekatiku tapi aku merasa muak dengan mereka, jadi aku pulang." pria yang lebih tua berusaha menceritakan apa saja yang dilakukannya seharian secara singkat. Jungkook pasti akan menanyakannya, jadi sekalian saja ia katakan semuanya.

"Jadi kalau kau tidak merasa muak, kau akan mencumbu mereka?"

Kim muda tahu, ada kekecewaan yang terpancar di mata kekasihnya. Maka ia segera mengusap tengkuknya, memberikan ciuman lembut di bibir, lalu berucap jujur.

"Tidak akan." frasa itu terdengar sangat meyakinkan. Senyum menenangkan yang terselip ketika Kim Taehyung mengungkapkannya membuat pemuda Jeon bungkam memperhatikan. "Aku sudah memiliki seorang kekasih, dan kami akan segera meniikah. Kemanapun aku pergi, meskipun ada banyak wanita atau pemuda manis yang mendekatiku, aku tidak akan mempedulikannya."

Tidak ada kebohongan di sana.

Jungkook yakin, yang didapatnya dari sepasang mata elang sang kekasih hanyalah kejujuran.

Dan ia tersenyum senang, memeluk erat tubuh pria Kim sambil terkekeh riang.

"Jangan pergi seperti tadi. Atau, setidaknya, berikan kabar atau jawab panggilanku agar aku dan Kwonnie tidak merasa khawatir."

Sejujurnya, Jeon muda ingin secara tegas melarang calon suaminya supaya tidak keluyuran, terutama di tempat-tempat yang dulu menjadi tempat favorit pria bersurai jelaga. Tapi ia sadar bahwa Taehyung tidak suka dikekang, sehingga yang dilakukannya hanya mencoba untuk memperingatkan.

"Tidak akan, sayang. Aku tidak akan melakukannya lagi." janji Taehyung kepada sang calon istri. Ia memeluk erat kelinci menggemaskannya, masih dengan jemarinya yang meraba pinggang yang lebih muda.

"Lalu…" gumam Taehyung setelah sekian lama terdiam. Ia menatap lekat sepasang netra indah Jungkook. "Apa yang kalian bicarakan?"

"Banyak." jawab Jeon muda tanpa ragu. Ia tahu betul Kim Taehyung menanyakan obrolan yang dilakukannya dengan Park Jimin.

Taehyung tahu, Jungkook belum menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya diam saat sepasang lengan itu mengalung di lehernya sementara kening mereka saling bersentuhan.

Jungkook memejamkan matanya, tapi pewaris Kim Enterprise bahkan tidak berkedip.

"Jimin tidak akan datang lagi. Setidaknya, jika lain kali ia datang, ia hanya akan datang sebagai teman."

Pria Kim berdecak kesal.

Ia ingin Park Jimin enyah dan tidak pernah muncul di kehidupan Jeon Jungkook lagi, namun ia tidak akan bisa bersikap egois.

Ia harus mulai belajar untuk menghargai keputusan Jungkook.

Jika kekasihnya merasa hal itu bukan masalah, maka dirinya harus menerimanya juga.

"Ada satu lagi." gumam Jungkook ragu. Ia menjauhkan wajahnya, lalu ditatapnya sepasang mata elang sang kekasih. "Berjanjilah kau tidak akan marah, baru aku mau mengatakannya."

Kim Taehyung mengeryit, namun ia memutuskan untuk mengangguk saking penasarannya dengan apa yang ingin Jungkook katakan.

"Ji -Jimin."

Gerak-gerik Jungkook sungguh mencurigakan, dan itu sukses membuat pria Kim semakin penasaran. Ia menunggu dalam diam hingga kalimat yang terlontar dari bibir Jungkook setelahnya berhasil membuat dirinya lepas kendali.

"Jimin menciumku."

Taehyung menggeram kesal.

Ia mengumpat dan langsung menarik tengkuk calon istrinya.

Lidahnya terjulur untuk menjilat seluruh permukaan bibir ranum sang kekasih sebelum akhirnya mengulum bagian atas dan bawahnya secara bergantian. Sebelah tangannya yang bebas semakin menelusup ke dalam sweater abu-abu Jungkook, membentuk pola lingkaran di dada sebelah kiri Jungkook tanpa menyentuh nipple-nya.

"Uwmhh.." Jungkook melenguh.

Berbeda dengan ketika Park Jimin melakukannya, ia sungguh menikmati apa yang saat ini pria Kim lakukan padanya.

Bahkan tanpa keraguan Jungkook semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh yang lebih tua, membalas ciumannya yang mulai bermain lidah.

Ia memberikan akses penuh kepada Kim Taehyung yang kini menggunakan kedua tangannya untuk bergerilya memberikan rangsang ke tubuh bagian atasnya, menyingkap sweater-nya ke atas hingga sebatas dada. Lengan kiri Jungkook masih memeluk kepala pria kesayangannya, ssementara yang kanan ia gunakan untuk membelai rahang tegas calon suaminya.

"Ahh.. mwhh… hyung…"

Katakanlah Jeon Jungkook tidak tahu malu karena tubuhnya kini menggeliat di pangkuan mantan tuannya, bergerak maju mundur, membuat gundukan di selangkangan Taehyung menggesek paha dalam juga belahan pantatnya yang sintal.

"Ahh… kelinci nakal." gumam pria Kim sebelum menghisap lidah Jungkook kuat seakan ingin meneguk saliva di mulut sang kekasih hingga kering. "Aku harus menghapus noda menjijikkan ini dari bibirmu."

Pemuda Jeon mengangguk patuh. Ia membalas setiap lumatan dan hisapan kasar yang diterimanya dengan kuluman lembut penuh perasaan. Lidahnya terasa begitu panas di dalam mulut sang dominan.

Kim Taehyung begitu rakus hingga Jungkook melenguh keras, memberikan isyarat bahwa dirinya mulai kehabisan nafas.

Kim Taehyung bersumpah, kalau saja ia tidak ingat putranya sedang terlelap sendirian di kamar. Ia pasti mengabaikan keluhan sang kekasih.

Maka perlahan dilepaskannya tautan bibir mereka, menyisakan benang saliva yang menghubungkan sudut bibirnya dengan lidah Jungkook yang masih terjulur.

"Awhhh!" pekik yang lebih muda. Ia memejamkan matanya, mendongakkan kepala saat dirasakan sepasang telapak besar yang meremat masing-masing pinggangnya.

"Apa lagi yang pernah dia lakukan padamu, hm?"

Gumaman itu terdengar begitu mengintimidasi, bahkan terdengar seperti geraman.

Kim Taehyung terlihat menggigit bibir bawahnya saat sepasang lengannya memanjakan pinggang kekasihnya. Ia begitu menikmati ekspresi Jungkook hingga tangan yang tadinya bertengger di pinggang kini telah berpindah ke bongkah pantat yang begitu padat dan terasa kenyal.

"Mmhh.. hyung… ahh…"

Pria Kim terkekeh. Tangannya bergerak dengan begitu gesit, meloloskan sweater yang sudah berantakan dari tubuh sang kekasih. Ia lalu membuangnya asal. Ia membanting tubuhnya sendiri ke atas sofa, membuat Jungkook memekik lirih, terlebih saat dengan tergesa pria bersurai jelaga kembali memberikan lumatan di lehernya.

Taehyung menuruti untuk tidak membuat tanda di sana. Sebagai gantinya, bibirnya menelusur perlahan, membuat jejak saliva yang entah bagaimana terasa panas dan begitu membakar Jeon muda.

Bibirnya terbuka lebar ketika tiba di collar bone sebelah kanan. Digigitnya bagian itu, lalu dihisapnya kuat-kuat.

"Mwnn.. baby.. mmhh…" gumamnya di sela kegiatan melumatnya.

Jungkook mengerang nikmat. Ia mendongakkan kepalanya, menelusur punggung sang kekasih dengan kuku-kukunya.

Semua terasa begitu nikmat.

Semua terasa begitu benar.

Jeon Jungkook yang berada di bawah kungkungan pria Kim, dan Kim Taehyung yang memanjakan tubuh pemuda Jeon… seharusnya, memang itulah yang terjadi.

Kim Taehyung menyudahi kegiatan menandainya. Diberinya sebuah kecupan lembut pada tanda kemerahan di tulang selangka Jungkook, lalu setelahnya ia menjauhkan tubuhnya.

Ia duduk di sela-sela kaki calon istrinya yang mengangkang.

Sepasang mata elangnya menatap kagum tubuh indah Jeon muda yang tengah terengah dengan dada yang naik-turun. Ia menyeringai bangga saat melihat tanda pertama yang dibuatnya.

Sepasang nipple Jeon Jungkook terlihat begitu menggoda, sangat menggemaskan dan begitu tegang mencuat.

"Kau cantik, sayang." gumamnya lirih hampir berbisik.

Dan mata sayu Jeon Jungkook, serta senyum tipis di bibirnya menunjukkan bahwa ia mendengar ucapan calon suaminya. Pipinya memerah, terlihat sangat menggemaskan dan menggoda pada saat yang bersamaan.

Yang lebih muda kembali melenguh saat merasakan ujung telunjuk pria Kim meraba perutnya, membuat gerakan melingkar di sekitar pusar sebanyak lima kali sebelum akhirnya bergeser dan menyentuh sesuatu di bagian bawah perut sebelah kirinya.

Jungkook menunduk untuk memastikan apa yang pria Kim lakukan. Ia kemudian menggunakan sebelah tangannya untuk mengusap punggung tangan Kim Taehyung. Ia kembali tersenyum saat berucap, "Itu bekas jahitan yang kudapat setelah aku melakukan c-section."

Tubuh Kim Taehyung menegang.

Kini ia menggunakan kedua tangannya untuk mengelus bekas luka memanjang itu.

Ia sedikit mendongak untuk menatap mata Jeon Jungkook yang entah bagaimana terlihat bahagia. Bibir yang telah membengkak akibat ciumannya itu tersenyum simpul.

"Apa terasa sakit?"

Dan pertanyaan itu meluncur begitu saja.

Kim Taehyung tidak tahu apa yang ia pikirkan. Isi kepalanya mendadak kosong saat ia membayangkan Jeon Jungkook yang berjuang sendirian di ruang operasi saat berusaha melahirkan putra mereka.

Saat itu, bahkan dirinya tidak tahu bahwa Jungkook tengah mempertaruhkan hidup dan matinya.

Yang ditanya mengangguk perlahan.

"Aku dibius lokal selama proses itu, perutku rasanya kebas. Setelah efek obatnya hilang, rasanya memang sakit. Tapi malaikat mungilku yang manis membuat rasa sakitnya hilang."

Jungkook ingin melanjutkan, namun ia terdiam kaget saat tiba-tiba pria bersurai arang menubrukkan dirinya ke atas tubuh Jeon muda. Tubuhnya yang setengah telanjang dipeluk erat, sementara pipinya diberikan kecupan-kecupan ringan.

"Maafkan aku karena tidak ada di sana. Maafkan aku, sayang."

Jeon Jungkook terkekeh ringan.

Kalau boleh jujur, ia sangat sedih saat harus melahirkan tanpa ditemani ayah dari bayinya. Namun ia mencoba mensyukuri apa yang dimilikinya saat itu.

Jeon Taekwon yang lahir selamat,

Dirinya yang tidak mengalami kendala selama proses persalinan,

Serta kedua sahabatnya yang sangat baik hati yang membantu semuanya…

Jeon Jungkook cukup bahagia.

Maka ia mengusap tengkuk sang calon suami, membisikkan kata-kata penenang, meyakinkan bahwa dirinya saat itu baik-baik saja. Berulang kali dibalasnya kecupan yang ia dapat di pipi dengan ciuman lembut pada dagu dan rahang calon suaminya.

Sesekali Jungkook akan terkekeh saat Taehyung mengerang kesal karena Jungkook memaafkannya dengan begitu mudah.

Butuh waktu beberapa menit hingga Kim Taehyung berhenti menggumamkan maaf dan menggantinya dengan jilatan dan hisapan lembut di leher yang lebih muda.

Jungkook tertawa renyah. Ia mencubit pinggang pria yang begitu ia puja karena perubahan sikapnya yang tergolong cepat.

Bibirnya mengerang lembut sebelum akhirnya memberikan tawaran yang sangat menggoda.

"Jadi…" bisiknya tepat di telinga pria yang lebih tua. Lidahnya terjulur nakal untuk menjilat bagian belakang telinga Kim Taehyung. "Mau melanjutkannya di kamar, daddy?"

.

.

.

TBC

.

.

You didn't expect that!

You didn't see that one comin'!

I'm done. Bye…

.

Akhirnya…

Review please