Mari lanjutkan fanficnya...
"..." : ngomong
'...' : dalem hati
-xxx- : ganti setting
XxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxX
"Selamat datang di rumahku" Yukimura mencari saklar lampu di tembok samping, begitu ketemu, kapling Yukimura jadi terang. Kyo dipapah menuju kursi panjang yang cukup empuk di ruang tamu sempit. Tertatih-tatih mereka mencapai satu-satunya kursi di ruangan itu. Yukimura mendudukkan Kyo. Terdengar rintihan kecil saat pantat Kyo bertemu bantalan empuk di kursi.
"Maaf membawamu ke sini." Kata Yukimura sambil melepaskan sepatunya dan berjalan ke rak sepatu di samping pintu. Kyo mengamat-amati ruang tamu Yukimura. Hanya ada satu kursi panjang menghadap televisi kecil di seberangnya, satu rak buku yang tidak banyak berisi buku, dan sebuah akuarium di sudut yang lain. Kyo meneliti lebih lagi, dia melihat ada satu foto tergantung di dinding, foto ukuran 10 R. Karena cukup jauh, maka Kyo tidak bisa melihat dengan jelas foto siapa itu. Matanya menyapu ruangan sekali lagi, dan baru menyadari di samping kursi itu ada meja, di atasnya ada vas bunga kecil berisi bunga krisan dan sebuah pigura kecil berisi foto ukuran 5 R. Karena dekat, Kyo bisa melihat foto itu dengan jelas. Foto Yukimura, tidak seorang diri, berdua. Dengan seseorang, sepertinya laki-laki, karena orang itu memakai celana panjang, namun bagian wajah orang itu tertutup selotip hitam tebal. Di foto itu, Yukimura tertawa lebar dan rangkulan dengan orang di sebelahnya, tampak tanpa beban dan pandangan mata itu hidup, sungguh hidup.
'Tawa yang berbeda'
"Kami kehilangan ketua kami yang dulu..."
'Mungkinkah maksud dengan "kehilangan" itu, kehilangan tawanya yang seperti ini?' Kyo teringat kembali kata-kata Makoto siang tadi. Dia jadi semakin penasaran dengan kejadian dua tahun yang lalu. Kyo menjulurkan tangannya, meraih pigura di meja. Dia mencoba melepaskan selotip di kaca pigura itu. Tiba-tiba foto itu terambil dari tangannya, tertarik ke belakang.
"Sekali-kali, tahanlah rasa ingin tahumu. Hal yang ingin kau ketahui sering tidak sesuai dengan yang kau harapkan." Yukimura mengambil pigura dari tangan Kyo. Lalu meletakkan di tempat lain. Kyo menatap heran penuh selidik pada Yukimura.
"Foto siapa itu?"
"Tentu saja fotoku."
"Siapa yang disampingmu?"
"Who knows?"
Yukimura kini duduk di samping Kyo,membawa kotak obat di tangannya. Dia menaruh obat-obatan yang baru saja dia beli.
"Nah, kita bersihkan dulu lukamu," Yukimura mencelupkan kapas pada permanganat kalium. Kyo merebut dari tangan Yukimura.
"Aku bisa melakukannya sendiri." Kyo lalu membuka kemejanya yang basah dan kotor,lalu membersihkan beberapa luka di tubuhnya. Yukimura cuman diam melihat Kyo yang agak kesulitan membersihkan lukanya. Dia mencelupkan kapas ke lagi, memperbaiki posisi duduknya untuk bisa membantu Kyo. Dia membersihkan luka di wajah Kyo. Kyo kaget dan menarik kepalanya ke belakang tiba-tiba.
"Tidak sakit kok Kyo." Yukimura tersenyum dan membersihkan luka-luka itu lagi. Kyo terdiam mengamati pergerakan tangan kecil Yukimura di wajahnya. Yukimura melakukannya dengan hati-hati hingga Kyo sama sekali tidak merasa kesakitan.
"Wajahmu berantakan Kyo..." gumam Yukimura.
'Tangan yang hangat' begitu menurut Kyo saat Yukimura menyentuh pipinya untuk bisa membersihkan dengan seksama.
-xxx-
"Wajahmu berantakan sekali, Kyo! Kau pasti habis berkelahi! Dasar anak tidak tahu malu. Bikin onar terus! Sana ke kamarmu, bersihkan luka-luka itu, dan jangan keluar dari kamar! Malam ini ayahmu akan menerima tamu penting! Entah apa tanggapan koleganya saat ia melihatmu yang seperti ini....hhhh...kau sama sekali tidak bisa diharapkan!!" Ibunya ngomel ketika melihat baju Kyo yang sobek dan kotor kena lumpur.
Mendengar celotehan ibunya, Kyo hanya berjalan, berlalu tidak peduli menuju kamarnya. Sampai di kamar, Kyo membuka jendelanya dan duduk di beranda kamarnya berjam-jam, menatap langit yang kosong tanpa bintang. Angin malam yang dingin meniup luka-luka di tubuh Kyo yang masih baru, dan juga luka di hatinya yang selalu dianggap sebagai anak tidak berguna oleh keluarganya sendiri. Kyo menutup matanya. Di dalam matanya, dia membayangkan suatu saat dia bisa bertemu seseorang yang menerima dia.
-xxx-
"Kyo....Kyo...." Yukimura mengibaskan tangannya di depan wajah Kyo.
"Kau melamun..." Lalu Yukimura mengoleskan gel pada luka memar dan luka sobekan benda tajam di tubuh Kyo. Untuk luka memar, Yukimura pakai gel yang dikemas dalam selongsong berwarna pink, sedangkan untuk luka goresannya, pakai bioplasenton. Gel itu dingin, membuat Kyo sedikit merinding, selain dinginnya malam dan gel, juga karena jemari Yukimura menyentuh kulitnya. Kyo merasa asing dengan sensasi itu. Begitu nyaman dan menenangkan.
'Dia orang yang aku cari...' Kyo merasa dadanya hangat saat dia memikirkan Yukimura, dan degup jantungnya menjadi tidak teratur.
"Gel ini, mengandung heparin, supaya memar dan bengkak bisa cepat sembuh dan kempes, jadi kau merasa nyaman. Dan permanganat kalium lebih manjur daripada betadine"
"Tidak perlu kau jelaskan, yang penting aku sembuh." Jawab Kyo ketus.
"Hahahaa... kau selalu ketus pada semua orang ya, sekalian menghafal untuk ujian negara." Yukimura beranjak meninggalkan Kyo, menuju ruangan lain di apartemen Yukimura.
"Di sini ada pakaian yang agak kebesaran untukku, mungkin jika kau yang pakai muat, Kyo." Yukimura melemparkan kaos dan celana ¾ ke pangkuan Kyo. Sementara dia memungut pakaian Kyo yang kotor.
"Aku cuci bajumu, besok kau masih sekolah." Belum sempat Kyo bereaksi, Yukimura sudah menghilang di ruangan belakang, dan terdengar bunyi siulan dari bibir beberapa menit terdengar panci, sendok, dan alat masak lain beradu,dan tercium bau yang harum dari arah Yukimura.
Namun tiba-tiba:
Prang..! Glatak! Bunyi piring pecah dan jatuh,mengagetkan Kyo, dengan spontan, dia segera menuju ke arah dapur. Di situ dia melihat Yukimura sedang berdiri bersandar di tembok dengan punggungnya, sementara tangan kanan memegangi kepala bagian depannya (1).
"Ugh..." Yukimura merintih. Kyo mendekat ke arah Yukimura, perasaannya khawatir dan was-was.
"Hey...Yukimura!" Kyo menggoncang-goncangkan lengan atas Yukimura, "Aw!" pekik Yukimura. Kyo menarik tangannya, dan terlihat di telapak kanan Kyo ada darah. Tanpa menunggu adegan selanjutnya, Kyo menyingkap lengan baju kiri Yukimura, dan dijumpai ada luka yang cukup dalam menganga di situ. Sebelumnya Kyo tidak memperhatikan. Rahang atas dan bawah Kyo beradu, tanda dia kesal. Dia menyeret Yukimura ke kursi panjang, menudukkannya dengan agak kasar.
"Hati-hati,Kyo!" Yukimura protes dengan tindakan Kyo. Kyo diam saja, dia menyingkapkan lengan baju Yukimura. Dia menggigit bibir bawahnya, serasa ada silet yang mengiris jantungnya melihat luka di tangan Yukimura. Kotak obat masih di tempatnya, Kyo mengeluarkan kapas dan permanganat kalium bersiap membersihkan luka Yukimura.
"Aku-"
"Diam kau! Sekarang giliranku yang mengobati." Kyo membersihkan luka Yukimura dengan seksama, tampak raut serius di wajahnya. Terakhir, Kyo membalut luka Yukimura.
"Wah, terima kasih sekali,Kyo... aku sangat terbantu!" Yukimura menjabat tangan Kyo dengan kedua tangannya. "Terimakasih.... terimakasih.... terimakasih..... " Kyo tersadar sesuatu.
'Apa ada bagian lain tubuhnya yang terluka?'
"Buka bajumu, aku periksa tubuh bagian dalammu." Ada penolakan dari Yukimura.
"Ti-tidak perlu,Kyo...tak ada yang bermasalah..." Wajah Yukimura memerah. Tapi Kyo, adalah Kyo, yang akan menyingkirkan setiap orang yang menghalangi keinginananya. Dengan lihai dan cepat, dia bisa membuka seragam Yukimura, dan tampaklah bagian tubuh atas Yukimura. Ada beberapa luka memar di situ, tapi bukan luka yang serius. Kyo mengoleskan gel antimemar yang tadi digunakan Yukimura.
"Kau sampai berbuat sejauh ini..." gumam Kyo.
"Hmm? Kau bilang apa?" tanya Yukimura.
"Tak ada."
"Tapi aku mendengar kau berkata sesuatu."
Entah mendapatkan kekuatan darimana, tapi omongan Yukimura membuat Kyo merasa harus menjawabnya.
"Padahal aku bukan siapa-siapa, tapi kau bersusah payah menolongku. Sampai kau luka-luka begini."
Yukimura heran mendengar jawaban Kyo. Dia menarik nafas panjang untuk kemudian menjawab Kyo.
"Karena kau murid SMA Fujimori. Semua orang di sana aku sayangi, dan jika mereka merasa kesulitan, pasti akan aku tolong. Yang kulakukan padamu adalah hal yang wajar."
"Hanya masalah kecil seperti itu, tidak seharusnya kau repot-repot..."
"Itu bukan masalah kecil, itu menyangkut Fujimori. Dan semua hal yang menyangkut Fujimori, menyangkut aku juga."
"Aku tidak mengerti.."
"Aku juga tidak memintamu untuk mengerti. Satu hal yang perlu dicatat, itu sudah jadi pilihanku, dan tak boleh seorangpun mengusik pilihanku itu." Tatapan Yukimura serius, Kyo terdiam.
'Melibatkan diri dengan orang-orang seperti itu berbahaya...'
"Itu... berbahaya..." Kyo berkata lirih, dia lagi-lagi mengatakan sesuatu dengan tidak sadar, dan meluncur begitu saja dari mulutnya. Yukimura tersenyum menatap Kyo. Dua orang itu kini saling bertatapan.
"Ada masa di mana hidup perlu sekali perubahan.
Pergantian. Seperti musim.
Musim semi kita sangat menyenangkan tapi musim panas sudah berlalu
Kita tak menikmati musim gugur, kini tiba-tiba udara begitu dingin
Begitu dingin hingga semuanya menjadi beku
Cita kita terlena dan salju mengejutkannya
Tapi jika kita terlena di atas salju, kau tak akan sadar kematian." (2)
"Apa maksudmu?"
"Kehidupan mengalami pergolakan, fluktuatif, bergantian seperti musim. Kadang ada di atas, namun tak jarang pula berada di titik terbawah. Seperti itulah juga yang terjadi di perfektur X. Perubahan terjadi, tidak menikmati musim gugur yang indah, musim semi yang sama sekali tidak menyenangkan, dan tiba-tiba udara menjadi dingin. Hati orang tiba-tiba menjadi beku. Di mana adanya kehangatan? Di keadaan yang beku seperti ini, apa salahnya menciptakan kehangatan? Dan saat kehangatan itu bisa terwujud, tak ada hal lain yang lebih penting untuk dilakukan selain menjaga kehangatan itu. Menjaganya di dalam, dan di luar Fujimori." Yukimura mengucapkan kalimat terakhirnya dengan memalingkan wajahnya dari Kyo, dan berganti menatap kosong ke foto yang tergantung tepat di seberangnya. Namun tidak sepenuhnya kosong, karena ternyata mata Yukimura berkaca-kaca.
"Yukimura..." bisik Kyo.
"Ah..hahahaha... bicara apa sih aku ini. Sekarang 'kan waktunya makan. Kyo, tolong kau siapkan mejanya, aku ambilkan makanan untukku dan untukmu." Yukimura melenggang pergi ke arah dapur.
"Yukimura!"
"Ya?" Pluk! Sebuah kaos putih menumbuk wajahnya.
"Pakai itu, ketua OSIS yang ceroboh."
"Terima kasih,Kyo." (3)
Makan malam berlangsung dengan singkat, tak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Sepertinya mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Setelah membersihkan piring yang terakhir, Yukimura memberikan Kyo CTM.
"Minumlah ini, biar kau tidur, dan besoknya bisa segar lagi." Kyo tidak tahu apa itu, pil kuning kecil mungil yang diberikan Yukimura padanya.
"Apa ini?"
"Itu CTM, fungsinya sebagai antihistamin, mencegah peradangan, dan luka-lukamu jadi tidak nyeri. Efek sampingnya bikin ngantuk, dan kau bisa istirahat."
Kyo mengerutkan dahinya 'Dia ingin masuk ke bidang kedokteran?'
"Masa sih kau belum pernah meminumnya, Kyo... aku juga akan minum kok." Yukimura lalu mengambil segelas air putih, memberikannya pada Kyo, dan di tangannya juga ada pil CTM warna kuning ngejreng. Dalam waktu yang bersamaan, kedua orang tadi meminum CTM. Untuk menunggu waktu reaksi obat, Yukimura mempersiapkan tempat tidur Kyo di kamar, sedangkan Kyo menonton televisi kecil di ruang tamu. Dia super bosan, tontonan tidak ada yang bagus, ingin mengajak Yukimura ngobrol, tapi dia bukan orang yang bisa untuk memulai pembicaraan, akhirnya Kyo bingung sendiri dan bengong menatap lurus ke arah televisi. Acara yang menyala adalah laporan cuaca, di situ mengatakan bahwa cuaca agak memburuk di minggu ini dan kemungkinan akan ada badai, tidak terlalu ganas,dalam beberapa hari ke depan.
Tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang. Yukimura.
"Tempat tidurmu sudah aku siapkan, kau bisa tidur sekarang." Kyo gengsi ingin masuk ke dalam kamar Yukimura, dia bertahan di kursi panjang.
"Aku tidur di sini."
"Jangan begitu,Kyo. Tempat tidur yang sudah siap, seharusnya dipakai. Jadi, masuklah." Yukimura berdiri di depan Kyo,melipat kedua tangannya di depan dada. "Lagipula hujan mulai turun lagi, di sini dingin, sebaiknya kau menghangatkan dirimu di dalam." Yukimura menunjuk kamarnya dengan telunjuk kirinya.
-xxx-
"Ibu...dingin...."
"Diam! Itu hukumanmu karena mempermalukan ayahmu di depan koleganya! Malam ini kau tidak boleh tidur di dalam! Tidur di gudang,sana!"
Suara wanita yang melahirkannya terdengar semakin menjauh,meninggalkan Kyo kecil kedinginan di gudang. Namun sayup-sayup dia bisa mendengar percek-cokan ayah ibunya yang saling menyalahkan masalah hal mendidik Kyo hingga dia bisa sebandel ini. Suara-suara yang penuh emosi, tensi tinggi, dan umpatan-umpatan keluar. Di dalam gudang, Kyo bertahan, memeluk kaki yang dilipat di depan dadanya, air matanya yang kering jadi saksi bisu kepedihan hati Kyo. Mulai hari itu, dia bertekad tidak akan mengeluarkan air mata lagi, bahkan ketika ibunya meninggal, dia sama sekali tidak berkomentar apapun, dan tak ada rasa sedih yang tergambar di wajahnya.
-xxx-
Kyo yang belum juga beranjak dari kursi panjang karena sekali lagi pikirannya kosong, ditarik paksa oleh Yukimura. Sedikit terkejut, Kyo mengibaskan tangannya, membuat pegangan Yukimura padanya terlepas. Ketika Yukimura akan protes, Kyo ternyata berjalan menuju kamar, Yukimura lega melihatnya.
Di kamar ukuran 3x4 terdapat dua futon lengkap dengan bantal dan selimut, sudah tegelar di lantai yang dilapisi selembar karpet yang tidak terlalu tebal.
"Kau tidurlah di sebelah barat. Sebaiknya cepat tidur, besok kita harus berangkat pagi-pagi." Kyo membaringkan dirinya di futon yang tersedia.
'Walaupun futon ini sudah lama, terasa nyaman..' Kyo memejamkan matanya menikmati empuk dan hangat futon yang dia tiduri. Yukimura yang duduk di samping Kyo, tidak langsung tidur. Dia masih sibuk membaca buku, ditemani sebuah lampu duduk yang cahayanya tidak terlalu terang. Kyo rupanya tahu kalau Yukimura belum berbaring, menarik kaos Yukimura untuk tidur. Tubuh Yukimura jatuh ke futon tempat Kyo berbaring dan menimpa tubuh Kyo. Deg! Deg! Deg!
"Maaf Kyo, kau pasti sakit." Yukimura buru-buru menarik badannya dari Kyo, dan siap mengambil obat lagi. Tapi tangannya ditahan Kyo, katanya "Tak perlu, sekarang kau tidur,bodoh!" Kyo menjitak kepala Yukimura, cukup keras dan bisa membuat Yukimura mengaduh dan memegangi bekas jitakan Kyo.
"Kyo, kau tidak sopan pada senpai!" Namun sia-sia, Kyo buru-buru membalikkan badannya membelakangi Yukimura dan melingkarkan bantal di telinganya, malas mendengar ocehan Yukimura. Yukimura tidak bisa menahan tawanya, dia tertawa pelan melihat tingkah Kyo yang kekanakan.
"Tak ada yang lucu, tidur!" Nada kesal terdengar dari ucapan Kyo. 'Ugh...memalukan...tapi yang tadi....' Kyo mengingat tangannya yang secara refleks menarik Yukimura untuk tidur. Di balik bantal yang melingkari kepalanya, wajah Kyo merah padam.
"Baiklah Kyo," Yukimura masuk ke dalam futonnya di samping futon Kyo,menarik selimut hingga sampai di batas lehernya.
Kyo melihat-lihat sekeliling, ada satu benda di dinding yang menarik perhatiannya. Sebuah pigura dengan ukuran yang cukup besar, berisi tulisan dengan tinta emas, beralaskan seperti kain flanel merah darah. Kyo membacanya. 'Puisi?'
Jika mati adalah jalan yang harus dilalui.
Maka sungguh ijinkan aku menggenggam tanganmu.
Ketika kulepas satu-satu napas tersisa ini.
Dan sepuluh jariku menegang kaku (4)
"Kau yang membuat puisi itu?" kata Kyo dari balik bantalnya.
"Bukan, itu temanku yang membuatnya."
Beberapa menit terjadi dead air, Yukimura tidak mengajak Kyo ngobrol atau mengoceh mengisi kekosongan waktu, Kyo mengedarkan pandangannya ke kamar Yukimura. Seperti kamar-kamar pada umumnya, meja kecil, futon, lemari, rak buku kecil. Standart-lah... dan mata Kyo kembali ke pigura yang tadi dilihatnya. Lampu duduk Yukimura masih menyala, dan Kyo bisa melihat ada tulisan lain selain puisi tadi. Kyoshiro Mibu.
'Kyoshiro Mibu?'
"Yukimura...apa "teman" yang menulis puisi itu Kyoshiro?" Kyo bertanya. Tidak ada jawaban.
"Yukimura..." Masih tak ada jawaban
"Yukimura! Aku bertanya pada....mu..." Kyo berbalik badan, melihat ke futon di sebelahnya, ternyata di situ Yukimura sudah mendengkur halus. Tidur. Kyo jadi malu sendiri, mengajak orang yang sudah tidur bicara, jelas takkan ada menatap wajah Yukimura yang tidur, tanpa sadar wajahnya sudah di dekat pipi Yukimura. Dia buru-buru menarik kepalanya. Kyo terdiam beberapa menit, melihat gerakan dada Yukimura yang kembang kempis.
'Selamat tidur,Yukimura'
chapter 9 selesai -
epilog
cara berdirinya Yukimura waktu pusing habis kebanyakan pake sekireigan di volume 27. uuuggghhh...volume 25-27 itu adalah volume yang berisi bukti2 Kyo n Yukimura lagi kencan ~cm org gila aj yg bilang bertarung dgn taruhan nyawa adalah kencan~
salah satu dialog di film Paris Je T'aime, hekekeke...aku suka dialog ini, menurutku cucok kalo aku taruh di fanficQ. Ada sedikit editan, di bagian "Cita kita terlena..." kalo aslinya cita diganti cinta.
sewaktu adegan itu, mereka berdua belum ganti baju loh, jadi Kyo n Yukimura sama2 g pake atasan...~mimisan~
puisi comotan lagi, dari buku antologi puisi Les Cyberlettres ~kalo g salah tulis~, puisi singkat padat jelas, dan sesuai banget dengan tema fanfic.
Yay! Oh my goodness...udah nyampe chapter 9 rupanya, hm...ini baru 30% dari plot yang kubikin...entah bakal jadi berapa panjang, aku juga g tahu. Terimakasih untuk semua yang baca apalagi nge-review.
