A/N: Hahaha, lama tak bersua, pembaca! Maaf, luna lagi sibuk di fakultas… yah, yang penting sekarang luna apdet lagi, kan? Oke, oke… ini dia Bagian 9 untuk 'The Meaning of a Family.' Nah, silakan dinikmati~!
Disclaimer: Odachi adalah dewa yang menciptakan One Piece, so semua karakter adalah milik beliau. Plot yang di cerita ini milik Luna, sih… ^__^
Warning: yah, seperti biasa, kekerasan, trik dan intrik, hints persaudaraan, eh, shonen ai ding… antara Zoro dan Sanji, Ace dan Luffy, bahasa kasar… apa lagi, ya? Oya, AU dong… dan oOC tentu saja XP
The Meaning of a Family
Bagian 9
Sanji masih berlari dengan gencar meskipun di belakangnya sudah tak ada para gadis yang tadi mengejarnya. Sepertinya dia berhasil melarikan diri dari mereka. Memperlambat larinya sedikit, Sanji mencoba mengatur nafas.
Duuh, kaya'nya aku betulan tersesat deh. Sekarang aku di sebelah mana di bagian rumah ini, sih?—pikir Sanji sambil melihat-lihat lorong di sekelilingnya.
Lorong kali ini agak lebar, muat untuk tiga atau empat orang dewasa jalan bersisian. Di ujung lorong di depan Sanji, ada cermin besar dengan wastafel di depannya dan ada dua lorong lagi yang mengarah ke kanan dan ke kiri.
Coba ingat-ingat, Sanji. Meskipun tadi matamu ditutup, kau pasti masih bisamengingat berapa kali kau belok, kan?—Sanji mencoba berkonsentrasi, berusaha mengingat-ingat lokasinya ketika Thunder dan Blademembawanya menemui bos mereka dari penjara. Dia sudah berusaha berlari ke arah yang tadi ditempuhnya sejak dia kabur dari ruangan Crocodile.
"Kalau tidak salah, dari tikungan ini ke kanan, lalu…?" Sanji berhenti bergumam sejenak saat dia menangkap suara-suara dari depannya, tepat di wilayah tikungan itu.
Geeh—! Ada yang datang dari arah sana!—pikir Sanji panik saat dia mencoba mencari tempat sembunyi.
"…makanya, tadi seharusnya kau biarkan saja," kata seseorang dari tikungan dan Sanji mengenali suara tinggi yang khas itu.
"Hahaha, habis kalau tidak ada persiapan kan tidak seru," sahut seorang lelaki lagi dengan nada santai.
"Dasar pemuda yang penuh semangat," lanjut seorang lagi sambil menghela nafas panjang.
Sanji melebarkan matanya dengan tak percaya saat mendengar suara-suara itu. Ia buru-buru berlari ke tikungan dan benar saja, di sana ada Franky, Ace, dan Brook yang tengah berbincang. "Brook! Ace! Franky!" panggilnya dengan wajah cerah berbinar.
"Oh?" Ace, Brook dan Franky kontan mengarahkan tatapan mereka pada pemuda yang baru saja memanggil nama mereka dan seketika itu pula, wajah mereka jadi cerah. "Sanji!" panggil ketiga orang itu dengan senang saat berlari ke arah si pirang bermata biru itu.
"Brook, Farnky! Kalian berhasil lolos! Dan Ace! Lama tak jumpa denganmu, Kak! Apa kabar?" Sanji memeluk Ace sambil meringis setelah mengecek Brook dan Franky yang baik-baik saja.
"Baik, Sanji. Baru juga aku pulang ke rumah, eh, kau malah diculik. Luffy tengah bikin onar di depan tuh. Aku datang dari belakang," kata Ace sambil membalas pelukan sobat karib adiknya dengan sayang juga. Sanji sudah seperti adiknya sendiri juga, soalnya.
"Luffy sendirian di depan?" Sanji agak terkejut melihat kenekatan itu, soalnya banyak penjaga bersenjata di tempat itu. Menyerbu sendirian bukannya bahaya? Yah, meskipun Luffy tak bakal berpikir sampai sejauh itu, sih… Dia kan tipe orang yang mengagungkan pepatah 'serang duluan sebelum diserang.'
"Hahaha, adikku memang nekat, tapi tak akan kubiarkan dia bertindak nekat, Sanji. Tentu saja ada bantuan di belakangnya," Ace meringis.
"Usopp dan kawan-kawan?" tanya Franky cerah. Sanji juga kelihatan senang. Teman-temannya betul-betul memperhatikannya sampai semuanya datang bersamaan untuk menolongnya.
"Usopp sedang memanggil bantuan, soalnya sepertinya kita berhadapan dengan organisasi besar. Vivi, Nami dan Robin sepertinya bakal dipanggil juga," lanjut Ace.
"Eeh, melibatkan anak perempuan…?" Sanji mengrenyitkan dahinya. Brook juga sedikit tak setuju dengan itu.
"Jangan meremehkan anak perempuan," Ace menyentil dahi Sanji. "Kau juga dihajar sama perempuan-perempuan dari organisasi ini, kan?" Ia lantas meringis, membuat Sanji sedikit memerah.
"Bu-bukan berarti aku kalah dengan mereka," protes Sanji lemah.
"Iya, tapi mereka kelemahanmu," Ace menimpali dan Sanji tak bisa membalasnya karena itu memang benar.
"Lalu, siapa yang datang bersama Luffy-san?" tanya Brook kemudian.
"Hehe, kau pikir kenapa kita bisa tahu Sanji ada di sini?" Ace mengedipkan sebelah matanya.
Muncul keheningan sesaat sebelum, "Pak Smoker?" ketiga orang di depan Ace menebak dengan wajah terkejut.
"Yah, kalian sudah tahu, ya?" Ace agak kecewa mendengar tebakan tepat mereka. Sebetulnya dia ingin mengejutkan mereka. Tapi kok mereka bisa langusng tahu sih?—pikir Ace heran.
Polisi itu memang ada perhatian lebih ke Luffy, sih…—Brook dan Franky terkekeh pelan sedangkan Sanji tertawa salah tingkah memikirkannya.
"Oh ya, dan seorang lagi," kata Ace lagi sambil meringis sekarang.
"Siapa?" tanya Sanji, Brook, dan Franky berbarengan.
Ace menaikkan alis matanya. "Sudah jelas, kan? Masa kau perlu bertanya, Sanji?" tanyanya heran.
"Eh?" Sanji terdiam sejenak sebelum ekspresinya berubah sedikit aneh. Wajahnya jadi sedikit memerah saat menyadarinya. "Mana mungkin…?" katanya lirih dengan wajah sangat aneh sekarang, seperti menahan diri untuk tidak tersenyum.
Ace meringis makin lebar sedangkan Brook dan Franky hanya bisa menatap Ace dan Sanji bergantian dengan heran, tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
"Yah, pokoknya ayo cepat ke luar dari sini, sebelum bantuan dari pihak musuh juga menyerang kita," ajak Franky serius.
"Yup!" Semua mengangguk setuju dan segera bergerak lagi, kali ini kembali ke arah penjara karena tempat itu sudah berlubang dan mereka tak perlu membuang waktu untuk mencari pintu ke luar lain.
OoooZxSoooO
"Nitoryu (1)—, Taka…Nami (2)!" Zoro memakai dua pedang kayu yang dia pinjam dari dojo hari ini untuk menciptakan hembusan angin kuat yang menghantam lautan musuh di hadapannya hingga mereka terpental.
"Wow! Keren!" Luffy berteriak kagum saat lima sampai enam orang yang mengelilingi Zoro terhempas oleh kekuatan angin dari sabetan dua pedang kayu Zoro yang berputar. Zoro terlihat seperti tengah berdansa saat mengeluarkan jurusnya.
"Luffy, jangan meleng!" Zoro berteriak kaget ketika salah seorang musuh bermaksud menghantam kepala Luffy dengan tongkat baseball yang terbuat dari besi, tapi…
Dooor!
"GYAAA!!" tiba-tiba si penyerang berteriak kesakitan; tongkat tersebut terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai dengan suara dentingan berat. Ia memegangi tangannya yang berdarah sekarang.
"Hati-hati dengan belakangmu, Nak," kata Smoker sambil meniup asap dari pistolnya.
"Hyaaa! Paman Asap, kereeen!" Luffy berteriak kegirangan melihat aksi Smoker yang luar biasa itu.
Zoro sampai harus mengerjapkan matanya beberapa kali. Polisi satu ini benar-benar dandy. Ia harus mengakui kalau Smoker memang sedikit keren. Zoro tersenyum kecil melihatnya, tapi tentu saja rasa terpukau itu tak bisa bertahan terlalu lama karena musuh berikutnya kembali datang.
"Gaah, tak ada habisnya—!" kata Zoro agak senewen sembari menangkis pisau dari lawannya.
"Enaknya kalau pakai peledak Ace. Pasti langsung tumbang semua!" teriak Luffy sambil meninju tiga orang sekaligus dan mengirim mereka terbang menghantam tembok.
"Jangan menggunakan yang aneh-aneh! Memakai peledak tanpa izin itu kriminal, Topi Jerami!" seru Smoker tak jauh dari bocah berambut hitam itu, diiringi suara dentuman-dentuman pistolnya yang mengenai kaki atau tangan lawannya sampai mereka tak bisa bangkit lagi.
Hebat… sama sekali tak ada yang meleset…!—pikir Zoro kagum saat melirik hasil kerja Smoker yang sangat efektif itu. Zoro juga tak mau kalah!
"Oke, kalau begitu, aku juga!" Zoro memasang kuda-kuda dengan memposisikan kedua pedang kayunya di depan badannya seperti cula badak. "Nitoryu—, Sai… Kuru (3)!" Lalu dengan kelenturan dan kekuatan pergelangan kedua tangannya, ia memutar kedua pedang kayunya yang memukul kepala lawan-lawan di depannya atau menjatuhkan senjata mereka jika pukulan tersebut mengenai tangan mereka.
"Ahaha! Jurus-jurusmu aneh, Zoro!" Luffy tergelak sambil menghindari beberapa serangan pipa besi dari musuh-musuhnya. "Yosh, kalau begitu…," Luffy mengeluarkan jurus andalannya dengan membuat gerakan tinju berulang yang sangat cepat dan bertenaga, "Gomu-gomu no (4)—, Gattling Gun!" menghajar para musuh tanpa pandang bulu bagian mana yang ia serang.
"Aku tak mau dikatai begitu olehmu," kata Zoro dengan wajah salah tingkah melihat jurus Luffy yang terlihat sembarangan, tapi efektif menjatuhkan banyak lawan sekaligus.
"Hayo, malah ngobrol… jangan santai terus! Lakukan dengan lebih serius!" ujar Smoker sambil menghindari ayunan botol bir kosong lawan, lalu dengan cepat berkelit dan menghantam tengkuk lelaki itu dengan gagang pistolnya sampai dia jatuh pingsan. Selesai dengan satu lawan ia segera menjaga jarak dari lawan lain dan melepaskan tembakan-tembakan lagi yang dengan sangat efektif menjatuhkan lawan-lawannya dengan sekali serang.
Paman polisi memang keren—pikir Zoro dan Luffy bersamaan sekarang, dengan tatapan kagum.
Luffy dan Zoro saling melirik, lalu meringis berbarengan. "Kalau begitu, ayo ikuti saran Paman Asap! Hajar mereka semua!" kata Luffy dengan sangat bersemangat.
"Ou!" Zoro sangat setuju dengan ide itu. Mereka pun mengeluarkan jurus-jurus mereka dengan gencar.
"Gomu-gomu no—, Muchi (5)!" Luffy mengayunkan tendangan dengan kaki kirinya yang lentur secara diagonal dari kanan ke kiri, menyapu kaki dan pinggang para musuh dan membuat mereka terjungkal dan terjerembab.
"Nitoryu—, Nana Jyuu Ni Pound Hou (6)!" Zoro memposisikan kedua pedang kayunya di atas depan bahu secara horisontal, lalu bersamaan dengan teriakannya dia menyabetkan kedua pedang itu secara bersamaan dengan gerakan berputar yang cepat, membuat tekanan udara di sekitarnya turun drastis dan menciptakan ruang hampa yang menyerang musuh-musuhnya hingga membuat mereka tergores ruang hampa itu.
Serangan Zoro dan Luffy barusan sudah menumbangkan hampir seluruh lawan mereka. Ditambah dengan kakuratan serangan tembakan Smoker yang mencederai semua lawan hingga tak bisa berdiri lagi, akhirnya jalan ke lorong utama pun terbuka.
"Oke, ayo maju ke lorong utama!" kata Luffy memimpin dengan girang.
Kaya' lagi main game—pikir Zoro lagi dengan wajah aneh, bulir keringat berjatuhan dari belakang kepalanya saat mengikuti Luffy dan Smoker yang sudah berlari duluan ke lorong itu.
OoooZxSoooO
"Usopp, apa benar di tempat ini?" tanya Nami dengan wajah tak percaya dari tempat duduk belakang. "Ini kan rumah politisi terkenal itu, siapa namanya…."
"Crocodile, kan?" sahut Robin di sampingnya dengan expresi tenang.
"Yah, itu dia," Nami mengangguk ringan.
"Eeh, itu kan politisi yang dekat dengan papa," kata Vivi dengan wajah cemas dari sebelah Robin.
"Justru itu. Menurut Zoro, tempat ini dulunya markas orang yang bernama One Bones," kata Usopp yang duduk di bangku depan, sambil mengintip dari jendela mobil mercy hitam milik keluarga Robin. "Pak Smoker juga bilang ini rumah Bones," lanjutnya.
"Apa Crocodile sengaja mengatasnamakan kepemilikan tanah dan rumah ini ke One Bones?" kata Robin sambil meletakkan telunjuk jari tangannya di depan dagu, berpikir dengan wajah sedikit serius.
"Bisa jadi," kata Nami. "Mungkin dia melakukan sesuatu di belakang, dan pengatasnamaan properti ini ada hubungannya. Jangan-jangan untuk menyembunyikan identitas sebenarnya?" lanjutnya berspekulasi.
"Oya, aku pernah mendengar rumor tentang Crocodile… dan banyak yang tidak baik. Biarpun papa tidak percaya rumor-rumor itu, tapi aku merasa lelaki itu memang agak aneh. Aku belum mendapat bukti apa-apa sih, tapi sepertinya dia bukan tipe orang yang bisa dipercaya," kata Vivi, gadis berambut biru itu, memberi informasi dengan wajah cemas.
"Bagaimana menurutmu, Chaka?" tanya Robin pada lelaki berwajah eksotis berbadan tinggi kekar dengan rambut hitam lurus yang dibiarkan memanjang sampai di atas bahu di kursi supir.
"Saya banyak mendengar rumor dari dunia belakang tentang organisasi penjahat yang pimpinannya misterius," kata Chaka dengan suara rendah yang merdu. "Ada yang bilang para bawahannya tak kenal dengan bos utama mereka dan mereka hanya menjalankan tugas yang diberikan lewat email sekali pakai," lanjutnya dengan tenang.
"Tentang gerakan geng-geng kecil yang tiba-tiba jadi kompak dan terorganisir itu?" tanya Robin dengan wajah tak senang. Sepertinya masalah ini lebih pelik dari dugaan awalnya.
"Bisa jadi berkaitan. Tidak, pasti berkaitan," kata Chaka. "Saya mengintrogasi beberapa orang dari kelompok terpisah yang mencoba-coba berjualan narkoba di wilayah kita, dan mereka semua mengatakan hal yang sama: 'kami hanya menjalankan perintah'."
Robin berdecak. "Aku tak suka ini," katanya sambil mengerutkan dahi. "Seharusnya aku tidak pergi selama delapan bulan untuk penggalian. Dunia belakang jadi kacau gara-gara tak ada yang mengawasi," lanjutnya.
"Maafkan ketidakmampuan kami menjaga wilayah selagi Anda pergi, Nona Besar," kata Chaka dengan wajah malu.
"Itu bukan salahmu, Chaka. Aku yang seenaknya pergi meninggalkan kalian," kata Robin dengan wajah merasa bersalah sudah membuat tangan kanannya menyalahkan diri sendiri.
"Tidak, kami memang sedikit lalai karena Nona tidak ada di rumah. Semua tanggung jawab jatuh pada kami," kata Chaka bersikeras.
Robin menghela nafas. "Baiklah, kita sama-sama salah," kata Robin menyerah. Kadang-kadang bawahannya memang sangat keras kepala.
Vivi dan Nami terkikik melihat interaksi Robin dan lelaki kepercayaannya. "Chaka memang begitu, Robin," kata Vivi masih tertawa kecil. "Kadang-kadang bisa membuat kita pusing sendiri dengan gampangnya dia menyalahkan diri sendiri, sama saja dengan Pell," lanjutnya.
"Putri Vivi…," Chaka sedikit memerah mendengar komentar mantan majikannya sebelum dia bergabung dengan Grup Ohara. Memang benar, dulu Chaka dan Pell adalah body guard keluarga Nefertari. Namun, Chaka memutuskan bergabung dengan Grup Ohara untuk melindungi keluarga Nefertari dari belakang semenjak keluarga Nefertari menjalin aliansi dengan Grup Ohara yang mempelajari Poneglyph peninggalan turun-temurun keluarga Nefertari. Sedangkan Pell tetap tinggal sebagai body guard keluarga Nefertari. Keduanya menjadi penghubung kedua keluarga karena bisa dipercaya dan saling percaya satu sama lain. Apalagi Vivi dan Robin berteman akrab. Yah, meskipun aliansi kedua keluarga itu rahasia di mata rakyat biasa (habis, yang satu keluarga pejabat, satunya keluarga yakuza), tapi semua dapat berjalan lancar karena aliansi mereka bersih.
"Oya, apa kau mengabari Pell soal ketidakstabilan dunia belakang akhir-akhir ini?" tanya Robin pada Chaka lagi.
"Benar, saya juga meminta bantuan darinya kalau-kalau ada insiden aneh yang melibatkan politikus," kata Chaka kembali serius.
"Hasilnya?" tanya Nami, tiba-tiba sangat tertarik.
Chaka terdiam sejenak sebelum berkata, "Banyak, katanya."
"Misalnya?" Usopp ikut penasaran.
"Banyak politikus-politikus muda berbakat hilang atau meninggal secara misterius," Chaka memulai, "dan anehnya, semua kasusnya tidak jelas, hanya diberitakan sebagai 'kecelakaan' dan memiliki satu persamaan saja. Rencana kedepan mereka, semuanya secara langsung atau tidak langsung, bertentangan dengan kebijakan politik Crocodile," lanjut Chaka serius.
"Kalau begitu jelaslah pelaku sebetulnya," kata Nami menyimpulkan. Usopp dan Vivi mengangguk setuju.
"Kenapa polisi tak bisa bergerak menangkap Crocodile dengan bukti situasi sejelas itu?" tanya Robin heran.
"Banyak petinggi pemerintah menyukai Crocodile, jadi kalau tak ada bukti konkret yang menyatakan Crocodile terlibat langsung, mustahil menangkapnya. Mereka hanya menganggap itu kebetulan," lanjut Chaka sambil menghela nafas panjang.
"Yah, memang kelihatannya dia orang yang menyusahkan, tapi apa hubungannya dengan Sanji?" tanya Usopp kemudian, mencoba menghubungkan semua info itu dengan sobatnya yang berambut pirang bermata biru itu.
"Bukannya dengan Zoro?" tanya Nami lagi.
"Itu kan tentang One Bonez, bukan Crocodile," kata Usopp lagi.
"Makanya, kalau Bonez itu bawahan Crocodile, semua jadi nyambung, kan?" kata Nami lagi.
"Ah!" Usopp dan Vivi langsung paham.
"Crocodile menginginkan Zoro sebagai kekuatannya, ya?" Robin mengangguk, merasa masuk akal dengan itu.
"Kalau Zoro memang sekuat itu… oya, kata Robin, dia kan yang menghancurkan kelompok Morgan," kata Usopp setuju.
"One Bonez yang mencelakai Kuina, ternyata suruhan Crocodile. Lalu sekarang dia menculik Sanji yang secara teknis merupakan orang yang paling dekat dengan Zoro setelah ibunya, untuk kembali mengancam Zoro, huh? Dasar licik…!" Nami merasa kesal setelah bisa menghubungkan semuanya.
"Zoro-san sudah jadi bagian dari Topi Jerami, kan? Luffy-san sudah memutuskan begitu. Lagipula Sanji-san itu teman kita, jadi kita juga akan membantu Zoro-san menyelamatkan Sanji-san!" Vivi bertekad dengan semangat.
"Ka, kalau hanya membantu dari jauh, sih… " kata Usopp dengan wajah agak pucat.
Robin tertawa ringan. "Jadi berdebar-debar, ya? Chaka, apa kau bisa memanggil sudara-saudara kita untuk membantu? Karena sepertinya kita bakal berhadapan dengan banyak orang," kata wanita dewasa itu dengan senyum cerah.
"Yah… asalkan Anda sekalian tidak bertindak nekat…," kata Chaka dengan wajah kalah. Menghentikan mereka pun sepertinya percuma. Sifat majikan-majikannya memang seperti itu.
"Kalau begitu, ayo kita serang!" Nami mempersiapkan triple stick andalannya dan Vivi menyiapkan parfum hipnotis serta pendulumnya. Usopp dengan berat hati mengambil ketapelnya dan Robin menyibakkan rambutnya ke belakang setelah melepaskan jas panjangnya.
"Nona Besar tidak membawa apa-apa?" tanya Chaka saat Robin ke luar dari mobil.
Robin menoleh ke arahnya dan tersenyum. "Kau lupa sedang berbicara dengan siapa, Chaka?" tanya Robin dengan pandangan menyipit.
Chaka sedikit memucat melihatnya. "Ma-maafkan saya…," katanya sedikit merinding. Kadang-kadang bosnya yang sekarang memang sedikit menakutkan. Iya juga, Robin adalah bos Grup Ohara yang sampai sekarang pun masih terkenal dengan sejarah dan pengetahuannya akan sihir.
Darah penyihir yang kental mengalir di tubuh Robin, warisan langsung dari kakeknya Profesor Nico Clover, ahli ramal, ilusi, dan hipotis yang sangat terkenal di zamannya, dan ibunya, Nico Olivia yang dulu mendapat sebutan Ratu Penyihir Jipanggu karena kemampuan sulapnya yang jenius, sangat mustahil dilakukan menggunakan trik apapun. Orang-orang mengatakan Grup Ohara memelihara iblis untuk mendapat kekuatan dan ketenarannya. Gara-gara sebutan itu jugalah mereka dibenci banyak orang. Nico Robin hidup terpisah dari ibu dan kakeknya dan dirawat oleh saudara jauh ibunya sampai ia berumur delapan belas. Ia baru bergabung dengan Grup Ohara di umur dua puluh, setelah kakek dan ibunya meninggal. Ketika dia muncul pertama kali, Grup Ohara sempat heboh karena mengira ia adalah Olivia yang hidup kembali.
Yah… setidaknya kemampuan 'sihir' itu merupakan suatu kode untuk kemampuan yang hanya bisa dilakukan oleh keluarga utama Grup Ohara—pikir Chaka. Dan kurasa, 'sihir' itu berupa gabungan dari ilmu pengetahuan, sejarah, dan teknologi, bukan ilmu sihir dalam arti harfiah.
Chaka menatap punggung anggota kelompok Topi Jerami sambil tersenyum. "Yang penting Nona Besar dan Putri Vivi bahagia," katanya pelan. Lalu Chaka pun mengambil telpon genggamnya dari saku dan mulai memencet nomor telpon markas besar Grup Ohara untuk menyebarkan pesan dari bos bahwa mereka akan berperang malam itu.
OoooZxSoooO
"Ace, kau yakin jalannya ke arah ini? Bukannya seharusnya kita belok ke kanan, tadi?" tanya Sanji dengan ekspresi curiga karena sekarang Ace terlihat bingung, mencari-cari sesuatu.
"Tadi aku meninggalkan tanda di sini, kok," kata Ace dengan wajah cemberut karena dicurigai begitu oleh Sanji. "Ya kan, Brook? Tadi kau juga lihat, kan?" Ace menoleh ke arah Brook.
"Eeh, jangan-jangan yang tadi pakai korek api?" tanya Brook dengan wajah berkeringat.
"Korek api?" Sanji memandang Ace dengan tatapan tak percaya.
"Bodoh! Kalau pakai korek api, ya jelas saja bakal hilang! Barang kecil begitu, kena angin sedikit bisa terbang kan? Lagipula berapa banyak orang yang tadi lewat sini. Mungkin saja koreknya tertendang dan hilangt entah ke mana," kata Franky dengan tampang konyol, merasa bodoh karena mempercayai Ace begitu saja.
Sanji menutup wajahnya dan menghela nafas panjang dengan lemas. Brook tertawa salah tingkah, sedangkan Franky masih mengomel ke Ace dan si trouble maker itu hanya bisa menunduk, merasa sedikit bersalah.
"Ya sudah, kita kembali saja ke tikungan sebelumnya. Rasanya aku ingat kita belok ke kanan, dan bukan ke kiri," kata Sanji sambil membalikkan badan. Brook dan Franky setuju saja dan hampir mengikuti langkah Sanji ketika mereka mendengar suara-suara di depan mereka, di balik tikungan yang satu lagi.
"Ada yang datang—!" seru Brook dengan suara berbisik, agak panik.
"Duh, sudah sampai sini? Cepat sekali—, tak ada tempat buat sembunyi, nih—!" Sanji jadi ikut-ikut panik.
"Bodoh, kenapa harus sembunyi? Hajar saja," kata Franky dengan ekspresi heran.
"Benar, benar, hajar saja," kata Ace setuju sambil bersiap-siap.
"Jangan! Mereka itu perempuan, Franky! Ace juga! Kuhajar kalian, kalau sampai melukai para lady itu!" teriak Sanji dengan wajah berang.
Tuh, kan… Sanji pasti jadi begitu…—pikir Franky dan Ace bersamaan, sedangkan Brook tengah mengagumi sifat ksatria Sanji yang teramat lembut terhadap wanita.
"Yah, belum tentu perempuan, kan? Yang kami hajar tadi semua lelaki, kok," kata Franky kemudian.
"Bagus kalau ada lelaki yang bisa kuhajar. Rasanya ingin menumpahkan kekesalan pada sesuatu, nih…!" kata Sanji dengan kaki gatal ingin menendang sesuatu yang solid. Lebih bagus lagi kalau bisa membuat sesuatu itu berdarah-darah dan babak belur.
"Hahaha, seperti biasa, kau tak ada ampun untuk lelaki, Sanji-san…," Brook berkomentar sambil tertawa salah tingkah. Ace dan Franky sampai berkeringat di belakangnya.
"Ya sudah, kita lari saja ke depan kalau memang itu perempuan. Kalau lelaki, kita hajar berempat, lalu kita kembali ke lorong sebelumnya," usul Ace. Sanji dan yang lain mengangguk, setuju.
Lalu keempat orang itu menanti dengan wajah serius ketika suara-suara itu mendekat. Makin dekat, Sanji dkk dapat mengenali suara-suara itu milik lelaki. Mereka sudah memasang wajah senang karena bisa menghajar mereka sepuasnya saat mereka bisa mendengar dengan lebih jelas.
"Belok ke kanan saja, kita kan dari kiri tadi," kata salah seorang dari suara-suara di tikungan dan Sanji kenal dengan suara dengan nada bosan dan cuek itu.
"Itu Zoro!" Ace berteriak girang sebelum Sanji bisa berkomentar apa-apa.
Lalu benar saja, beberapa detik kemudian Zoro muncul di tikungan.
"Zoro, itu kan ke arah kiri! Gimana, sih, kamu buta arah, ya?"disusul suara Luffy yang kedengaran konyol yang sosoknya juga muncul sedetik kemudian.
"Itu yang disebut tak punya kompas internal, ya?" lalu suara Smoker juga muncul, nadanya terdengar heran, sesaat sebelum sosoknya juga muncul di hadapan Sanji dan yang lain.
"Luffy! Zoro! Sersan Smoker!" Ace berteriak kegirangan melihat teman-teman mereka dan segera lari ke arah mereka.
"Ace!" Luffy kontan menyerbu Ace saat melihat kakaknya berlari ke arahnya, menubruk dan memeluknya erat-erat sebelum dia melihat ke belakang dan matanya jadi berbinar lebih terang melihat sosok Sanji, Brook, dan franky. "Sanji! Kau selamat! Brook dan Franky juga di sini! Yaaah, Ace memang hebat! Kakakku memang keren! Kau bisa langsung menemukan Sanji!" puji Luffy dengan wajah sangat senang.
"Luffy-san!" Brook juga terlihat senang dan berlari ke arah Luffy.
"Luffy!" disusul Sanji dan Franky di belakangnya yang juga segera berlari ke arah Luffy.
"Haha, kita bisa langsung berkumpul dengan mereka tanpa susah-susah mencari," Smoker menepuk pundak Zoro sebelum dia juga bergabung dengan keramaian di depannya.
Zoro masih belum bisa melepaskan pandangannya dari Sanji yang sekarang sedang dipeluk Luffy. Sanji tertawa senang saat Luffy menggelitiknya dengan tangan yang ingin mengecek apa dia benar-benar baik-baik saja atau tidak. Buntutnya Sanji menendang Luffy dengan sebal karena bocah hiperaktif itu sangat keras kepala dan tak mau lepas darinya.
Zoro masih belum bergerak dari tempatnya. Dia sedikit bingung harus bagaimana. Tentu dia sadar bahwa dia berhutang maaf pada Sanji, tapi di saat seperti ini, hati kecilnya berkata bahwa minta maaf bukan ekspresi yang tepat. Perasaannya pada Sanji saat ini… kalau saja dia bisa jujur saat ini saja… pasti…
Lalu Zoro teringat akan kejadian di luar tadi. Tiba-tiba saja tubuhnya bergerak sendiri. Ia berjalan… tidak, ia berlari ke arah kerumuman di depannya, ke arah Sanji. Ia tak melepaskan pandangan dari Sanji dan tepat saat Luffy melepaskan Sanji dari pelukannya, tiba-tiba Zoro sudah ada di depan Sanji, mengejutkan kakak tirinya.
"Zoro…?" Sanji melihat dengan heran Zoro yang masih sedikit terengah-engah dan memandangnya dengan tatapan yang… aneh, Sanji tak bisa membaca ekspresi dan emosinya. Namun, sebelum dia sempat melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba saja tangan Zoro maju ke depan, meraihnya; dan sebelum Sanji sadar apa yang terjadi, Zoro sudah mendekapnya erat-erat.
Sanji melebarkan matanya dengan ekspresi sangat kaget, sedangkan Zoro hanya memejamkan matanya dan membenamkan wajahnya di pundak Sanji. Satu tangannya melingkar melewati lengan ke punggung Sanji, tangan yang lain melingkar di leher dan bersandar di rambut pirang Sanji. "Syukurlah…," bisik Zoro dengan suara lirih yang terdengar sedikit bergetar.
Saking shoknya, Sanji sampai membeku di tempat, tak tahu harus berbuat apa. Beberapa detik serasa bagai setahun bagi Sanji, dan keheningan yang tiba-tiba menyelimutinya seolah-olah membuat di dunia itu hanya ada dirinya dan Zoro. Sanji sampai menahan nafas karena kejadian itu begitu mengejutkan, akal sehatnya sampai tak bisa mengikuti perkembangan ini.
"A…," begitu Sanji menemukan suara dan dirinya lagi, wajahnya langsung meledak merah padam. "A—! Apa yang kau lakukan, Zoro!?" teriak Sanji panik dan berusaha mendorong adik tirinya supaya melepaskannya. Namun, entah kenapa, semakin Sanji berontak, makin kencang pula pelukan Zoro. Ditambah lagi wajah Zoro yang dipundaknya itu! Dari balik kemeja orensnya yang tipis, Sanji bisa merasakan kehangatan nafas dan bibir Zoro di kulitnya yang sensitif. Memikirkannya membuat wajah Sanji makin merah dan panas!
Bo… ini pasti bohong! Zoro memelukku! Dia memelukku! Benar-benar MEMELUKKU! Yang benar saja—!?
Sanji sampai pusing karena shok. Wajahnya sangat panas bagai terbakar. Dia tak tahu kenapa dia bereaksi begini. Padahal Luffy atau Chopper juga sering memeluknya, tapi dia tak pernah merasa seperti itu. Dia bingung kenapa tiba-tiba saja jantungnya berdegup-degup sangat kencang seolah mau meledak keluar dari tulang iganya. Tenaganya hilang dan lututnya jadi lemah. Dia jadi sulit bernafas dan pandangannya jadi kabur dan berputar.
Tunggu! Kenapa aku bereaksi seperti anak perempuan di komik shoujo!? Jangan bikin merinding, dong!—seketika itu akal sehat Sanji kembali dan dia bisa menggunakan kekuatannya seperti semula.
"Zo-Zoro!" kali ini Sanji berteriak lebih tegas dan mendorong badan Zoro kuat-kuat sampai ia benar-benar terlepas DARI pelukan mematikan itu.
Zoro berkedip sekali dan melihat wajah Sanji dengan wajah heran. "A-apa?" tanyanya.
"Apa bagaimana!? Kenapa kau tiba-tiba memelukku!?"—Lagipula kau nyaris mencium leherku dengan wajah menempel di pundak begitu!—protes Sanji masih dengan wajah merah padam dan kaget karena wajah Zoro terlihat bingung.
"Hah? Bukannya itu normal untuk saudara?" tanya Zoro benar-benar bingung sekarang.
"Hah?" Sanji memasang muka paling aneh sedunia saat ini. Wajah bodohnya sangat komikal sampai-sampai orang-orang yang melihat mereka dengan wajah penuh minat tertawa terbahak-bahak, yah, kecuali Smoker. Si pak polisi hanya berusaha mati-matian menahan tawa dengan menutupi mulut dan hidungnya dengan dua tangan.
Sanji melotot ke arah para penonton yang masih tertawa itu dengan pelototan mematikan. "Kalau kalian tertawa terus, kutendang, nih!" ancamnya yang kontan membuat para komedian yang tergelak-gelak itu menutup mulut mereka. Yah, meskipun mereka tetap terkekeh-kekeh pelan sampai menangis saking lucunya adegan di depan mereka saat itu.
"Pak Smoker yang mengatakannya. Memeluk keluarga itu hal yang wajar, seperti yang dilakukan Luffy dan Ace," kata Zoro dengan wajah serius. "Aku belum pernah melakukannya selain dengan ibu, jadi aku tak tahu caraku benar atau tidak. Kalau kau merasa tidak nyaman, apa kau akan mengajariku cara memeluk yang benar?" tanyanya dengan tatapan lurus tanpa cela, membuat Sanji jadi lebih salah tingkah lagi.
"Bi-biasanya… bukannya ti-tidak sampai sekencang itu… memeluk…, maksudku…-" Sanji sampai terbata-bata saking paniknya dengan kelurusan Zoro. "Ace dan Luffy itu memang sedikit…. Eh? Ini ulah Pak Smoker, ya!?" Ia langsung berteriak berang saat sadar apa yang terjadi. Ia tak menyangka Smoker akan mengatakan hal yang begitu menyesatkan pada Zoro yang masih polos itu… ugh, coret itu. Zoro dan polos itu kombinasi yang teramat ANEH!
Akhirnya Smoker tak kuat menahan tawanya dan meledak tertawa. Ia tak menyangka Zoro akan menganggap serius ucapannya tadi. Ace dan Luffy kontan kembali terbahak-bahak mengetahui kenakalan Smoker. Pak polisis bisa juga bercanda begitu. Franky dan Brook juga kembali tertawa melihat wajah Sanji yang merah padam itu meskipun mereka tidak tahu duduk perkaranya. Sejujurnya mereka tak peduli, yang jelas ekspresi Sanji itu begitu tak ternilai dan itu membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal.
Awas kalian nanti…!—Sanji bersumpah dalam hati kalau dia bakal membalas para pelawak gagal itu berlipat-lipat setelah semuanya selesai. Dan untuk Zoro…
Sanji melirik Zoro yang masih menatapnya dengan tatapan sedikit bingung, tapi sepertinya dia tak sadar sudah dikerjai Smoker. Ternyata ada juga orang yang secuek Luffy… mungkin lebih cuek daripada bayangannya. Yah, Sanji sadar sih. Waktu gosip tentang Sanji dan si marimo mulai merebak, Zoro juga tak menunjukkan reaksi apapun. Apa dia betul-betul tak peduli dengan pandangan orang di sekelilingnya tentang dirinya?
Aku iri karena dia berpikiran begitu simpel… Sanji sampai menangis secara harfiah memikirkannya.
"Tidak salah kok," kata Sanji kemudian. "Apa kau khawatir, Marimo?" tanya Sanji sambil meringis, masih sedikit bersemu merah, tapi dia kelihatan lebih senang meski masih canggung.
Zoro agak terkesiap dengan perubahan ekspresi tiba-tiba dari Sanji, tapi ia lebih terkejut lagi karena senyum Sanji membuat perasaannya cerah dan lega. "Tentu saja," jawab Zoro sambil menyunggingkan senyum kecil yang tulus. "Kita kan, saudara," lanjutnya.
I—, imut!—pikir semua orang berbarengan, termasuk Sanji yang hanya bisa menatap Zoro dengan tampang bodoh.
"Tu-tunggu, Zoro! Yang barusan itu imut banget! Terlalu imuuut!" kata Luffy sampai berguling-guling di lantai saking gemasnya sambil menuding wajah Zoro. Semuanya mengangguk mengiyakan tanpa sadar.
"Eh?" Zoro malah kaget dengan itu. Ia kelihatan bingung.
Bu… bukan cuma aku yang berpikir begitu—pikir semuanya lagi berbarengan saat sadar mereka baru saja mengakui pendapat Luffy tanpa sadar, merasa agak lega. Bahkan Smoker yang bingung dan heran kenapa dia bisa sesaat beranggapan seperti itu tentang Zoro juga berpikiran demikian. Padahal tak ada satupun dari fisik Zoro yang bisa disebut imut atau manis. Mungkin karena ekspresi yang tadi itu sangat jarang dipertunjukkan olehnya.
"Tunggu, di mananya dari aku yang kelihatan imut?" tanya Zoro makin heran saja. Jangan-jangan mata mereka semua sudah rusak.
"Mu-mungkin itu karena kau jarang tersenyum, Zoro," kata Sanji mencoba mengambil alih kontrol suasana. Dia sendiri juga masih bingung kenapa perasaannya jadi campur aduk dan kacau begitu. Ia harus banyak berpikir dan merenung nanti untuk mencari cara mengatasi luapan emosi aneh yang mulai mengacaukan akal sehatnya itu.
"Tersenyum...?" tanya Zoro heran. "Biasanya aku juga tersenyum, kok," lanjutnya.
"Bukan seringai yang biasanya, Zoro, tapi senyum. Senyum tulus yang tadi itu terlihat sangat bagus. Kau harus lebih sering tersenyum seperti itu," kata Sanji sudah mulai tenang lagi.
"Oh…," Zoro sadar dan mengangguk, meskipun sebenarnya dia masih bingung tentang senyum macam apa yang baru saja dia tunjukkan dan apa bedanya dengan yang biasanya.
"Yah, terima kasih sudah datang dan mengkhawatirkanku, Zoro," kata Sanji sambil tersenyum lagi, kali ini senyumnya natural dan ia terlihat betul-betul senang.
Sekarang giliran Zoro yang sedikit memerah. "Sudah sewajarnya," kata Zoro mencoba berlagak cool.
"Sok cool, dasar marimo," kata Sanji sambil menggetok kepala Zoro ringan, tapi dia masih meringis dengan humor yang nyaman.
"Aduh, manis sekali persaudaraan mereka," kata Franky dengan terharu.
"Anak muda memang harus begitu, yohoho," lanjut Brook.
"Bagus kalau mereka bisa akrab," kata Smoker dengan tatapan senang.
"Padahal mereka lebih seru kalau sedang adu mulut," Luffy terkekeh ringan.
"Hus, Luffy. Jangan begitu. Sudah bagus mereka bisa baikan, kan? Kau juga tak suka bertengkar lama-lama denganku, kan, Luffy?" tanya Ace sambil mengacak-acak rambut Luffy.
"Heheh, iya, maaf, Ace," kata Luffy sambil menjulurkan lidah.
"Alis papan dart," balas Zoro.
"Lumut busuk,"
"Alis keriting,"
Tiba-tiba ada keheningan sejenak sebelum Sanji dan Zoro saling menyipitkan mata dengan pembuluh vena bermunculan di atas alis mereka.
"Alga hijau!" teriak Sanji dengan wajah sebal.
"Koki genit!" balas Zoro tak kalah sebalnya.
Nye…nyebeliiiin!—pikir Sanji dan Zoro berbarengan dengan wajah teramat kesal dan sengit.
Lalu, seketika itu juga, perang mulut kedua saudara tiri itu pecah kembali.
"Persaudaraan indah…," Franky melihat kedua saudara yang perang mulut itu sambil menangis bodoh sekarang, Brook tertawa salah tingkah sambil menepuk bahunya.
"Ahahaha! Memang mereka paling seru kalau lagi berantem!" Luffy langsung tertawa terbahak-bahak melihat perang mulut antara Sanji dan Zoro.
Dasar bocah…—pikir Ace dan Smoker berbarengan dengan wajah kram, bingung harus tertawa atau melempar sesuatu ke kepala kedua pria pirang dan hijau yang bertingkah seperti anak TK itu.
"Kita tinggalkan saja mereka dan keluar dari sini," kata Smoker dengan wajah sebal.
"Setuju," jawab Ace tanpa pikir panjang.
"Tunggu, Ace! Aku ikut!" Luffy menyusul, begitu pula Franky dan Brook. Sanji dan Zoro juga hampair mengikuti mereka meskipun masih saling berteriak.
"Tidak secepat itu, anak-anak," tiba-tiba saja ada suara wanita yang mengejutkan Luffy dan kawan-kawan. Sesaat kemudian, beberapa anak perempuan menyerbu ke lorong itu dari dua sisi, menutup jalan lari mereka!
"Sial! Aku lupa kita masih berhadapan dengan mereka!" Brook terlihat panik lagi melihat wanita-wanita itu.
"Kita hajar?" tanya Luffy.
"Jangan, Luffy! Mereka anak perempuan, tahu!" teriak Sanji mencegah.
"Terus bagaimana!?" Franky minta ide.
"Diam saja pun kita yang akan diganyang," kata Ace dengan keringat dingin di wajah.
Smoker diam saja, tapi menatap para wanita itu dengan waspada, mencoba mengkalkulasi jalan keluar yang terbaik dari masalah mereka saat ini. Dia tak ada masalah sih, mengasari wanita, terutama jika mereka penjahat, tapi Sanji sepertinya tak akan tinggal diam kalau dia pakai kekerasan. Itu yang merepotkan. Dia tak mau berbuat sia-sia dengan bertarung dulu dengan Sanji sebelum bisa menghajar perempuan-perempuan itu. Tindakan itu tak efektif dan buang-buang energi. Belum lagi kekuatan tempur Sanji itu termasuk yang top-class di anggota kelompok Topi Jerami. Bisa-bisa malah dia yang babak belur duluan. Dia tak akan kalah, sih…
Terus… bagaimana ini!?
Bersambung…
Catatan (semua istilah kali ini ditulis sambil melihat One Piece Wikipedia):
1)Nitoryu: Jurus aliran dua pedang
2)Taka Nami: Gelombang Rajawali; tambahan, dalam Bahasa Inggris, Taka Nami diterjemahkan "Hawk Wave." Dalam "Hawk Eyes," Hawk diterjemahkan 'elang,' tapi sebetulnya itu kurang tepat karena bahasa Inggris 'elang' seharusnya adalah "eagle."
3)Sai Kuru: Badak Berputar; dalam bahasa Inggris diterjemahkan "Circling Rhino." Nama jurus Zoro tuh lucu-lucu ya… ^^;
4)Gomu-gomu: karet-karet; kemarin lupa dijelaskan. Gomu artinya karet, "rubber" dalam bahasa Inggris. Karena jadi aneh kalau diterjemahkan, jadi dibiarkan memakai nama aslinya saja.
5)Muchi: cambuk
6)Nana Jyuu Ni Pound Hou: 72 Pon Kanon—kalau diterjemahkan dari huruf Furigana; kalau dari Kanji, terjemahannya jadi 'Phoenix 72 Hasrat Dunia' dalem banget deh…
A/N: Iya, luna tau kalian mau protes… kenapa capter ini pendek sekali? Soalnya kalian bakal nunggu lebih lama kalau luna panjangin lagi. Luna nggak mau itu, jadi terpaksanya ya… dipotong di sini dulu, ok? Jangan ngambek dunk, kan ada porsi ZoSan yang imut di sini… ya? Yang capter lanjutannya luna bikin lebih rame deh… pertarungannya, juga ZoSan-nya, bener deh, janji. Makanya, silakan masukan pendapat kalian ke review, ocre? Luna tunggu loh~ XDD
Dengan cinta,
Lunaryu~~~
