Dangerous Midgar
Cloud telah menemukan kunci dalam sebuah lubang di dasar lautan. Key of Ancients. Bugenhagen bilang dia bisa menjelaskan yang selanjutnya dengan kunci itu. Butuh waktu yang sangat lama untuk menemukannya. Petunjuk-petunjuk di dasar laut sangatlah sulit. Kapal selam kembali ke pelabuhan Junon. Ketika keluar, Helarin langsung dihampiri kedua temannya.
"Helarin! Meriam Junon dibawa ke Midgar!" Teriak mereka panik.
Dahi Helarin berkerut tidak mengerti, "dibawa? Maksud kalian?"
"Lihat di sana…" Salah satu temannya menunjuk ke arah atas Junon, tempat meriam berada.
Meriam yang amat sangat besar itu menghilang, meriam yang telah sukses menembak sebuah Weapon. Kedua teman Helarin menjelaskan kalau meriam itu mulai diangkut tepat saat kapal selam kalian menghilang ke bawah air. Meriam itu dibawa untuk menjadi senjata dengan kekuatan maha dasyat yang menggunakan tenaga reaktor Mako di Midgar.
"Apa!?" Cloud sangat terkejut, "apa tujuannya?"
"Kami tidak tahu…." Jawab salah satu prajurit, "tidak ada info yang lebih lanjut selain itu."
"Kurasa akan berbahaya," ujarmu, "lekas kita kembali ke City of the Ancients dan segera mendapatkan penjelasan dari Bugenhagen.
Kalian kembali ke Highwind dan segera terbang kembali ke Bone Village. Cloud, Tifa, Barret, dan Bugenhagen masuk ke dalam kota Ancient. Kamu hanya ikut sampai Bone Village karena ingin mengecek kotak harta yang ada di sana.
Sesuatu yang bagus, yah, sesuatu yang sangat bagus sampai rasanya kamu ingin mengeluh. Sebuah mop dengan benang dan gagang terbaik yang pernah ada. Merk terkenal perusahaan yang sudah tutup sepuluh tahun lalu. Perusahaan itu selalu membuat barang-barang rumah tangga yang bertahan sangat lama. Saking lamanya, perusahaan itu bangkrut karena barang yang ia buat terlalu awet sehingga konsumen tidak membeli barang dari sana lagi. Untuk apa membeli lagi kalau belum rusak. Tidak heran kalau bangkrut.
Kamu hanya bisa menghela napas dan kembali ke Highwind. Di anjungan Cait Sith terlihat bingung dan panik, moogle-nya bergoyang-goyang tidak jelas.
"Kau kenapa?" Tanyamu sambil menenteng mop dibahu seakan-akan kamu tukang bersih-bersih.
"Ingat Junon Cannon menghilang?"
"Tentu.. Itu kan baru saja terjadi.." Kamu menurunkan mop dan memainkannya.
"Rufus memindahkannya karena ia ingin menghancurkan Sephiroth dengan meriam itu. Huge material akan mendukung kekuatan meriam begitu juga.. Mako.." Kucing hitam putih itu terlihat depresi.
"Mop apa ini?" Cid menyambar mop-mu, ia melihat-lihat mop itu lalu mengayunkannya seakan-akan itu adalah spear. "Hyaaah!!" lalu ia tertawa, "hei, ini mop yang keren! Buatku saja!"
"Oke.." Kamu tersenyum, lalu beralih lagi pada Cait Sith, "kupikir nanti akan jadi kejadian yang buruk… Cepat hubungi Cloud.. Kita harus ke Midgar."
"Ya…!" Cait Sith mengeluarkan PHS dengan tergesa-gesa lalu menghubungi Cloud.
Kamu berjalan keluar dan menuju geladak. Ketika melihat ke bawah, terlihat Cloud yang sudah kembali bersama yang lainnya. Baru saja ia akan naik tangga, bumi mulai bergetar, tanpa peringatan dengan gempa kecil, gempa yang sangat besar membuatmu harus berpegangan railings geladak.
"Apa-apaan!!?" Kamu dapat mendengar Cloud berteriak, "cepat naik!!"
"Cloud!? Apa yang terjadi?" Tanyamu.
"Tidak tahu! Lekas ke anjungan!"
Semua orang berkumpul ke anjugan. Lampu alarm merah berkedap-kedip.
"Ada apa?" Tanya Cid pada pilot.
"Sinyal yang aneh!" Pilot itu kebingungan.
"Dari mana?" Tanya Cid lagi.
Pilot memandang Cait Sith dengan ragu dan menunjuknya, "dari orang ini…er.."
"Wow! Hei!" Cait Sith kontan melakukan tarian aneh sementara lamput terus berkedip. Ia berhenti, "kaget, kendalinya jadi kacau tadi. Bahaya… Weapon keluar dari laut dan langsung menuju Midgar."
"Weapon!!?" Kamu mengguncang-guncangkan Cait Sith, "itu berbahaya!!"
"Mana aku tahu~~!!" Cait Sith pusing.
"Senjata baru itu akan menghentikannya bukan?" tanya Cloud berusaha tidak panik.
Kamu melepaskan Cait Sith dan kucing itu terlihat ragu, "aku tidak tahu senjatanya sudah siap atau belum…"
Barret langsung menghambur ke hadapannya, "hei! Apa yang akan terjadi pada Marlene!?"
"Jangan cemas," Cait Sith mengibaskan tangannya, "Marlene ada di tempat yang aman, dia bersama ibu Aerith."
Barret menggaruk dahinya dan berbalik menjauh. Cait Sith mengomel, "Barret!! Kenapa kau hanya menggaruk saja!? Sepanjang Marlene aman, kau tidak peduli apa lagi yang terjadi kan!?" ia terlihat kecewa, "aku sudah lama ingin bilang padamu soal ini!" ia melambai-lambaikan tangan dengan penuh amarah. "Saat kau akan meledakkan Midgar No.1 kau pikir berapa banyak orang yang mati!?"
"…." Barret menunduk, "itu demi kehidupan planet. Beberapa korban jiwa tidak bisa dihindarkan."
"Beberapa?" Cait Sith berbalik menjauh, "Apa maksudmu, beberapa? Mungkin yang beberapa bagi kalian adalah segalanya bagi mereka yang tewas… Lindungi planet. Hah! Kalian semua pandai bicara! Tak aka nada yang menentang kalian. Jadi kalian kira kalian bisa melakukan apa saja sesuka kalian!?"
Barret berbalik untuk menghadapinya, "aku tidak mau dengar ini dari siapapun dari ShinRa…" lalu ia berbalik ke jendela sementara Cait Sith tidak berdaya.
Kucing itu mengeluh, "…..aku tidak bisa melakukan apa-apa soal itu…."
"Hentikan!" Teriak Cloud.
Tifa melangkah mendekat, "Cait Sith.. Barret, Barret tahu apa yang dia lakukan. Apa yang kita lakukan di Midgar tidak bisa dilupakan, apapun alasannya. Benar kan? Kita belum lupa, kan?" dia menghadap Cait Sith, "aku memaklumimu. Kau tidak bisa berhenti dari perusahaan karena kau mencemaskan orang-orang di Midgar, kan?" lalu menghampiri Cloud, "….Cloud?"
"Sekarang permasalahannya bukan orang yang akan tewas, sudah tewas, atau sebagainya" kamu mengeluh, "sekarang bagaimana dengan Weapon-nya?"
Cloud terlihat berpikir lalu mengadahkan kepalanya dengan cepat seperti mendapat ide yang brilian, "OK! Ayo kita pergi! Kita akan kalahkan sendiri, Weapon!"
Kontan semua orang yang ada di sana memandangnya dengan wajah aneh.
"Hei Cloud……." Cid membuka suara, "menurutmu, kita bisa menang melawan monster itu?" ia terlihat sangsi, "Kita punya peluang untuk menang kan?"
"Bagaimana aku tahu? Tapi itu bukan alasan bagi kita untuk melepaskannya!" Kata Cloud dengan bersemangat.
"…Memang… tapi bukan hal senekat itu juga…" keluhmu, "kau serius, eh?"
"Tentu saja!" Cloud mengangguk mantap, "Kita akan ke Midgar dan melawan Weapon! Ayo, kita bergerak!"
Dengan keluhan semua orang, akhirnya Highwind lepas landas menuju Midgar dengan kecepatan penuh. Dari jendela anjungan kamu dapat melihat Weapon yang terus bergerak perlahan menuju kota. Weapon yang sangat besar dan berwarna putih, makhluk itu meraung dengan garau.
"Whoa.. Kau benar-benar yakin, Cloud?" Yuffie melompat-lompat.
"Siapa yang ingin melawannya ikut aku!" Cloud berjalan keluar anjungan.
"Aku ikut.." Red XIII berlari menyusul.
"Tunggu!" Tifa mengejarnya.
"Dasar anak muda!!" Kali ini Cid, ia membawa mop yang kau berikan.
"Heh!?" Kamu mengejar Cid, "jangan rusak mop itu! Edisi terbatas!"
"Shaffira jangan gegabah!" Vincent mengejarmu.
Yuffie melompat, "jangan tinggalkan aku di pesawat yang memabukkan ini!"
Barret mengamuk, "hei! Kalian ingin bertarung tanpa aku!?" ia keluar.
"Eh, tunggu tunggu!!" Cait Sith mengejar.
Pada akhirnya semua orang keluar pesawat.
"Eh… Kita keroyokan nih?" tanyamu dengan bingung.
Cait Sith menari-nari, "kenapa semua orang malah keluar…?"
"Baguslah.. Kita bisa mengalahkan Weapon dengan cepat…" Cloud menarik pedangnya.
Kamu menghela napas lelah, "yah… sepertinya."
"SERAAAAAAAAAAAAAAANG!!!"
Semuanya menyerbu Weapon. Cloud melompat ke bahu Weapon dan menghajar dengan pedangnya, Barret di bawah menembak dan menembak, Tifa berkonsentrasi pada materia dan menyerang dengan sihir, Vincent melompat ke bahu Weapon dan menembak ke sekitar mata, Yuffie melompat-lompat di tubuh Weapon sambil melempar senjatanya, Cait Sith berputar-putar entah apa yang dia lakukan, Red XIII melompat ke sana ke mari mencoba untuk menyerang, Cid memakai mop untuk menyerang, sementara kamu berteriak agar Cid tidak merusak mop itu.
"Whoa!!" Kamu melompat menghindar ketika Weapon hampir saja menginjakmu, "dasar makhluk besar…" Kamu berkonsentrasi pada materia, "makhluk besar harus dilawan dengan makhluk besar…. Bahamut SIN!!" Dari tanganmu keluar sinar biru dan menembakkannya ke atas langit yang kemudian terpecah dan keluar naga besar dari sana.
"Semuanya, menyingkir dari Weapon!!" teriakmu.
"Hah!? Memang ada apa!?" tanya Barret.
Tersadar ada raungan yang berbeda, Vincent mengadahkan kepala dan melihat naga hitam besar yang muncul dari awan. Ia langsung beralih pada Cloud yang juga sedang mengadah. "Cloud, kita harus pergi dari sini.."
Cloud mengangguk, ia dan Vincent turun dari Weapon. Diikuti yang lainnya setelah mereka sadar dan melihat langit.
"Apa itu, Shaffira?" tanya Tifa yang mendarat ke sebelahmu.
"Bahamut SIN, summon.." jawabmu santai.
"Materia yang waktu itu kau pinjamkan pada Cloud?" Vincent menghampiri.
"Yeah.."
"Naga yang terlalu kuat.." keluh Cloud.
Kalian melihat Bahamut menyerang Weapon itu dengan Flare-nya. Ledakan yang sangat dasyat terjadi, namun tidak merobohkan Weapon. Bahamut SIN menghilang dan Weapon masih berdiri tegak.
"Hei… apa makhluk itu tidak bisa mati..?" Yuffie bertanya-tanya.
Kamu mengangkat bahu, "entah.. tapi lihatlah.. Dia kembali ke laut.."
Weapon yang sudah babak belur berbalik dan dengan langkah yang menggetarkan bumi dia melangkah menuju lautan. Akhirnya semua kembali ke pesawat satu per satu, namun Cloud masih memandangi kepergian Weapon.
"Ada apa?" tanyamu, "ada sesuatu yang ganjil?"
"…..ya.. aku merasakan sesuatu…. Ya, Weapon merasakan hawa pembunuhan."
"Pembunuhan?" kamu mengulangnya.
"Lekas kembali ke pesawatku," sambar Cid.
Kamu dan Cloud mengangguk, baru saja akan berlari ke pesawat, PHS Cloud berdering, ia menjawabnya.
"Cait Sith bilang ada sesuatu yang sangat besar… Tapi mungkin lebih karena ia terdengar sangat panik," kata Cloud.
Semua telah berkumpul di geladak sambil memperhatikan Weapon yang berjalan menuju laut. Kamu melihat ke arah Midgar dan melihat cahaya hijau berkumpul dari masing-masing reaktor lalu mentransfernya ke Meriam Junon yang sudah di pasang di sana.
"Weapon menyerang!"
Pekikan Yuffie membuatmu menoleh ke arah Weapon. Makhluk itu mengangkat plat yang ada di tubuhnya dan memperlihatkan banyak sekali lubang di mana peluru-peluru energi mulai ditembakkan menuju Midgar.
"Ke mana Weapon itu akan menyerang?" tanya Tifa dengan was-was.
"Midgar!" kata Red XIII.
Semua berlari mendekat jendela untuk memandangi Midgar kecuali Cait Sith. Meriam Junon yang kini disebut dengan Sister Ray, begitulah kata Cait Sith, ditembakkan ke arah Weapon. Highwind terbang memutar untuk menghindari ledakan yang terjadi antara tembakan Sister Ray dan Weapon yang bercampur baur. Ledakan dari meriam itu menyerang Weapon tepat di dadanya hingga makhluk putih itu terlembar ke belakang saat seluruh panjang tembakan menembus tubuhnya. Highwind terbang di sekitar atas Weapon untuk melihat ia terluka, sedikit bercahaya dengan sinar ungu, lalu jatuh ke tanah dan tidak bergerak lagi.
"Tembakan langsung menembus Weapon........." Red XIII berusaha untuk tenang.
"Arah tembakannya..." Vincent menggumam.
"Aku mengerti!" sahut Cloud, "mereka mengincar Sephiroth! Di Norhten Crater!"
"....Untuk..?" kamu bertanya-tanya kemudian paham sendiri, "ah, menghancurkan dinding energi itu ya.. Tapi bisakah?"
"Tidak tahu...." kata Cloud, ia beralih pada pilot, "tolong terbangkan kami ke Northen Crater." Ia bergumam, "Sephiroth... Northen Cave... Ayo kita lihat apa yang terjadi di sana."
Highwind kembali terbang dengan kecepatan penuh menuju Northen Crater. Penghalang energi kini telah menghilang, dan kalian bisa melihat ke lubang di bawahnya. Lubang yang sangat dalam dan di dalamnya ada sebuah cahaya, entah apa itu.
"Penghalang energi Sephiroth menghilang," Cloud kembali bergumam.
Barret beralih pada Cait Sith, "Yo, Cait Sith! Sekarang apa?"
Baru saja akan menjawab, Cait Sith sedikit tersentak, ia memperhatikan satu arah seperti sedang fokus, "tunggu!" pintanya. Lalu dari tubuhnya terdengar suara-suara.
Kamu yang mengenali sebagian besar suara-suara yang menyebalkan itu dan langsung mengomel, "Heidegger, Scarlet!? Satu lagi.. Reeve?"
"Dengarlah..." kata Cait Sith.
Heidegger: "Aneh. Aku tidak bisa menghubungi Presiden."
Kamu berpikir apa yang telah terjadi pada Rufus, namun segera menyingkirkannya dan kembali mendengarkan dengan seksama.
Reeve: "Output Reaktor meningkat dengan sendirinya!"
Scarlet: "Tu, tunggu sebentar. Itu tidak bijaksana! Output Reaktor harus dingin selama 3 jam atau tidak akan berfungsi. Reeve, matikan mesinnya!"
Reeve: "Seseorang telah memindahkan kontrolnya ke mainframe operation! Kita tidak bisa mengoprasikannya dari sini. Hei, hubungi mainframe!"
Heidegger: (terdiam sesaat) "Hah? Kenapa kau yang memerintah?"
Reeve: "Aku tidak peduli soal itu sekarang!!" (diam beberapa saat) "Hojo, STOP! Meriamnya, bukan, seluruh Midgar bisa hancur!"
"Hojo!!!" Semua yang mendengarkan terkejut.
"Apa yang terjadi!?" Tifa cemas.
Terdengar suara Hojo yang gemerisik, mungkin karena dari alat komunikasi.
Hojo: "Ha, ha, ha..... Satu atau dua Midgar? ....Kerugian yang nggak seberapa."
Reeve: "Hojo! HOJO........!!"
Hojo: "Tunjukan padaku.... Sephiroth. Sebentar lagi... Ha, ha, ha... Lampauilah kekuatan ilmu pengetahuan... Di hadapanmu, ilmu pengetahuan tidak berdaya... Mengecewakan, tapi aku akan menerimanya. Biarkan aku menyaksikannya... Ha, ha, ha..."
Lalu tidak ada suara lagi. Kamu memaki-maki di dalam hati. Keadaan makin runyam.
"YO!" Barret panik, "lakukan sesuatu! Kucing besar!"
Cait Sith tampak lemas dan berjingkat pelan-pelan mendekati Barret, "kita tamat. Ini ulah Hojo," kemudian ia tersadar kalau semua anggota party mendekatinya. "..? H, huh!?"
"Kau tidak bisa mencegah mereka, Reeve!?" Amuk Barret.
"Bukan mencegah, tapi hentikan!" kata Cloud.
Cait Sith menggeleng lemas, "......kita tidak bisa menghentikannya."
"Kita datang jauh-jauh kemari. Sebaiknya kau jangan khianati kami sekarang!" teriak Cid.
"Tunggu!!" kamu berdiri di depan Cait Sith untuk membelanya, "bukannya dia tidak peduli atau apa. Jika kita matikan reaktor semua akan jadi kacau!" kamu terdiam sejenak untuk menarik napas, "bisa saja kita matikan katupnya, tapi reaktor menciptakan keluarnya energi dari bawah tanah. Begitu kau buka, tidak mungkin untuk menutupnya dan semua akan melimpah, benar kan, Reeve!?"
Cait Sith mengangguk, "dan kalau kita tidak bisa berusaha mencegah energi menyembur keluar...."
"Sebuah ledakan!!" potong Barret.
"Ledakan ini akan jauh lebih kuat daripada ledakan reaktor no.1!" lanjut Cait Sith.
Barret berbalik menjauh, "brengsek....!" umpatnya.
"Lupakan itu........" Cait Sith mengadahkan kepala, "MERIAM! Kita harus ke Midgar! Itu yang terpenting!"
"Harus hentikan Hojo.. dulu," kata cloud.
"Sepertinya Cloud dan lainnya dalam perjalanan kemari. Jangan halangi mereka!" Terdengar suara Reeve dari Cait Sith.
"Tidak!" kamu mengguncangkan Cait Sith, "Reeve dalam bahaya!! ...Ah..!" Kamu mendengar suara tawa, "Heidegger!!!"
"Ghaa haah hah hah! Jangan mengigau! Presiden sudah tewas! Sekarang aku memakai caraku! Ghya haah hah hah!"
Kamu terkejut dan berhenti mengguncangkan Cait Sith, 'Rufus... tewas...? Astaga....'
"Kyaa,ha,ha,ha." Kali ini Scarlet. "Heidegger! Sekarang aku akan gunakan senjata baru!"
Lalu terdengar suara pintu dibuka dan suara orang masuk.
"Hei!! Tunggu!!...." Reeve terdengar panik. "Cloud, semuanya! Maaf... Tapi!!" Ia berteriak, "Tapi!! Tapi kau akan datang, kan!?"
"Reeve!" teriakmu.
"Aku mengerti!" kata Cloud, disusul oleh anggukan semuanya.
Highwind terbang kembali ke Midgar, lalu terbang di atasnya.
"Bahkan kalau kita sampai di sana, Midgar diatur hukum perang! Tidak mungkin bisa menyusup ke dalam area Slum." Kata Barret.
"Hei, hei, kalian kira untuk apa kita punya Highwind? Kita sekarang di mana!?" omel Cid.
Barret bingung, "huh? Di mana kita....?"
"Jika lewat darat nggak bisa... kita akan lewat udara!" kata Cid lagi.
Cloud mengangguk mengerti, "baiklah! Kita akan terjun payung ke Midgar!!"
Semua bersiap ke ruang operasional,kru pesawat telah menyiapkan peralatan terjun payung. Kamu memakainya dengan hati-hati, ini bukan yang pertama kalinya tapi karena saat pertama kali kamu gagal dan mematahkan tanganmu kamu lebih memperhatikan segalanya.
"Jangan sampai tali ini melilit tubuhmu," ujarmu pada Tifa dan membetulkan tali pengait yang ada di bawah lengannya, "bahaya.."
Tifa mengangguk dan tersenyum, "terima kasih."
"Yo! Kita ke geladak sekarang! Terjun bebas!! Uh.. kuharap aku tidak akan takut.." kata Barret lalu berlari keluar.
Highwind terbang memutari Midgar dan merendah ke daerah yang sepertinya aman. Satu per satu semua terjun. Kamu mendarat di suatu tempat seperti sebuah gang. Setelah melepas semua peralatan terjun, kamu berlari mencari yang lain lalu menemukan Barret dan Red XIII di gang lainnya.
"Mungkin aneh aku bilang begini... tapi kembali ke Midgar rasanya seperti pulang ke rumah. Bikin kangen," kata Barret menggaruk kepalanya.
Red XIII mendengus, "aku punya dendam lama dengan Hojo, jadi cepat kita pergi!"
Kamu mengangkat bahu, "lekas cari yang lain.."
Setelah bertemu dengan anggota lainnya, kalian semua mengikuti Cait Sith. Moogle-nya menari dengan riang dekat sebuah pintu bawah tanah di ujung gang.
Cait Sith menunjuk-nunjuk, "masuk lewat sini. Kumohon! Cepat masuk ke Meriam Mako!"
"Kita terlalu banyak..." keluhmu.
Cloud menghentak-hentakkan kakinya pelan dan berpikir, "baiklah... kita bagi tiga kelompok.. Yang lainnya tolong selamatkan Reeve dan mencari jalan yang lebih cepat. Aku akan mengejar Hojo dengan..."
"Bawa aku!!" kamu menatap Cloud dengan tatapan amarah.
"...Aku juga..." Vincent menghampiri Cloud dengan tatapan datar namun penuh dendam.
"....Oke..." Cloud tidak bisa berkata apa-apa begitu pula dengan yang lain. "Jadi aku akan bersama Shaffira dan Vincent."
"Ayo cepat..." ujarmu tidak sabar.
Kalian bertiga masuk melewati pintu tersebut, berlanjut ke jaringan pipa yang licin, gang besi yang lembab, tangga yang rumit, dan ruang mesin yang berisik. Pada akhirnya sampai di sebuah subway Midgar. Baru saja kalian akan melintas, kamu mendengar suara di belakang.
"Oh, tidak! Mereka di sini!"
Kalian berbalik dan menemukan Elena yang menghampiri sambil berlari.
"Apa yang akan kita lakukan!?" ia terlihat bingun, "kurasa tidak apa-apa kita mengabaikan perintah sekarang ini."
Terdengar helaan napas dan Reno muncul di sebelah kiri Elena, "...Elena, jangan bersikap lemah."
"Kita ini Turks," Rude muncul dan berjalan ke sebelah kanan Elena, "Elena."
"...Ya, senior. Kau benar," jawab gadis berambut pirang itu.
"Ayo, kita ada pekerjaan," kata Rude, kaku seperti biasanya.
"Bisakah kalian membiarkan kami pergi?" tanyamu, "sepertinya lebih baik begitu, aku dengar Rufus sudah tewas..."
"Tidak tahu..." Reno menghela napas.
"Kita tidak perlu bertarung, kan?"
"Yeah, aku tidak ingin melakukannya, Shaffira, tapi..." Reno memainkan tongkatnya dengan malas.
"Kami diperintahkan untuk mencari dan... membunuh kalian. Perusahaan kami boleh dalam kekacauan, tapi perintah tetaplah perintah. Itulah kemauan dan semangat orang Turks! Percayalah!" Elena terlihat bersemangat.
Kamu menatap Reno dan Rude secara bergantian, "kalian ini mendidik junior dengan cara apa sampai dia benar-benar bersemangat di tengah kekacauan perusahaan?"
Reno dan Rude menggaruk bersamaan menggaruk kepala mereka dengan sungkan. Sementara Cloud dan Vincent hanya bisa terdiam.
"Kalian sedang apa!? Ayo!" tantang Elena.
Vincent menoleh ke Cloud, "bagaimana?"
"Tidak," Cloud menggeleng pelan, "kita tidak ingin membuang waktu dengan ini sekarang..."
"Kami tidak ingin bertarung Elena.." ujarmu pelan.
Dahi Elena berkerut kesal, "kau pamer belas kasihan!? Jangan anggap Turks itu bodoh!"
"Tunggu, Elena." Reno maju selangkah.
Elena berbalik dan mengomel, "Reno! Kau tidak akan melanggar perintah,..... kan!?"
"ShinRa sudah tamat," kata Reno, "kondisinya sudah begitu."
"Rude...." Elena beralih pada Rude yang tidak berkata apa-apa, lalu gadis itu memalingkan wajah dari keduanya.
Reno tersenyum maklum, "Elena, kau Turks yang baik!"
Elena terdiam, ia tidak membantah dan berkomentar lagi. Wajahnya kecewa namun tidak berkata apa-apa.
"Selamat tinggal," Reno melambaikan tangannya dengan gaya yang cool, "jika kita sama-sama masih hidup nanti.. Jika kita bisa menyelamatkan nyawa kita masing-masing..." ia berbalik dan melangkah. "Tapi jangan mati, ya, Shaffira..."
Elena gemetar dan berbalik menghadap kalian. "Ingat semangat orang-orang Turks!" teriaknya lalu lari menyusul Reno bahkan mendahuluinya.
"Misi kami berakhir..." Rude mengangguk dan berbalik menyusul kedua rekannya.
Pikiranmu buntu, ada sesuatu yang mengganjal, dan langsung teringat akan sesuatu. "Reno! Rude!" teriakmu, "Cecill...." kamu menunduk sesaat lalu mengadahkan kepala untuk mengatakannya dengan tegas, "Cecill masih hidup!!"
Kontan Reno dan Rude berbalik untuk menatapmu dengan mata tercengang mereka.
"Hei.. kau serius?" tanya Reno tidak percaya.
"Dia berada di Junon, dia mengubah namanya, namanya adalah ..." lalu mengumpat dalam hati karena tidak bisa mengingatnya, "aku lupa!!"
Reno langsung tertawa garing dan Rude menatap datar dari balik kacamata hitamnya.
Lalu kamu teringat kalau Cecill tidak pernah menyebut nama barunya. "Tidak, sebenarnya aku tidak tahu.. bukannya lupa! Tapi dia memang ada di sana!! Aku telah bertemu dengannya..."
"Serius..." Reno tersenyum namun matanya seperti ingin menangis, "kalau begitu aku pasti bertahan hidup dari sini..." Ia berbalik lalu menoleh, "tentunya kau juga.." lalu pergi.
Rude menganggukkan kepalanya padamu, "aku yakin sekeluarnya dari sini, Reno akan menarikku menuju Junon..."
"Hati-hati, ok..."
Rude pun berlalu.
"Sudah?" tanya Cloud.
Kamu mengangguk mantap, "ya, mari kita lanjutkan perjalanan.."
Terowongan kereta yang gelap dan suram kalian telusuri sampai sebuah jalan keluar, di tengah kota Midgar, lalu memanjat menara bertanda "59" untuk mencapai jalan atas.
"Kalian mendengar suara debuman dan gesekan besi?" tanyamu.
"....belakang..." kata Vincent.
Sebuah robot besar berwarna merah ada di belakang kalian. Robot dengan dominasi warna merah dan berlengan 4.
"Apaan.. robot ini..." kamu menarik rantaimu.
Pintu di depan robot itu terbuka. Robot mengangkat sebuah tangan kirinya untuk membukanya, lalu terdengar suara familiar yang sangat kamu benci.
"Gyaaa, haaa, haaa!!! Mereka datang!" Heidegger keluar dan menaiki tangan itu. Pria buncit dengan setelan jas hijau itu memandang dengan mata meremehkan, "gyaaa, haaa, haaa!!! Jadi mereka sungguh datang!"
Seorang wanita berambut pirang dengan gaun merahnya keluar, Scarlet berdiri di samping Heidegger. "Kalian tidak berharga, tapi kreasi kebanggaanku jelas berharga." Lalu mengisyaratkan sesuatu dan robot memasukan mereka berdua kembali ke dalam. Pintu menutup saat robot mengayunkan tinju ke bawah untuk menghancurkan tanah dekat kalian.
"Akan kutunjukkan kekuatan penghancur Proud Clod!!" Teriak Scarlet dari interkom robot.
--Battle with Prod Clod—
Climhazzard Cloud memang tidak bisa di tandingi Prod Clod. Tangan robot terbelah dan beberapa serangan merusak kabel sistem. Prod Clod mengeluarkan asap dan percikan listrik, robot itu mogok.
"Tidak!" Scarlet panik, "Ini Prod Clod........!?"
Kalian segera lari menjauh ketika robot itu sudah ada ancang-ancang meledak. Ledakannya menghancurkan jalan dan dinding sebuah gedung. Kalian hanya melihat dengan wajah datar. Cloud berbalik dan mengatakan kalau kalian harus melanjutkan perjalanan secepatnya.
Kamu menatap puing-puing robot yang masih dilalap api lalu berbalik meninggalkannya. 'Selamat tinggal, Scarlet, Heidegger... Semoga kalian berbahagia di neraka...' Dan hujan pun mulai turun.
"Lewat sini, Cloud!!" Terlihat Cait Sith, Barret, dan Yuffie. Mereka memegangi tangga dan mengisyaratkan kalian untuk menyusulnya.
"Kami telah membersihkan jalan ini dari musuh.." kata Yuffie.
Vincent memandang ke arah atas dengan mata penuh amarah. "Sialan! Hojo...!" umpatnya. Baru kali itulah kamu mendengar Vincent mengumpat dengan penuh amarah.
Kalian naik tangga besi yang basah oleh rintik-rintik hujan yang makin deras. Terus, terus , dan terus mencapai puncaknya. Di sana ada sebuah panel instrumen yang besar dan Hojo berada di sana. Profesor sinting itu terburu-buru menekan tombol dan memutar saklar.
"Hojo!" teriak Cloud, "cukup sampai di situ!!"
Tanpa menoleh sedikitpun Hojo menjawab, "oh... si produk gagal."
"Setidaknya ingat namaku! Aku Cloud!"
Hojo berhenti menekan tombol namun tidak menoleh. "Setiap aku melihatmu, aku... Menyakitkan, penilaian ilmiahku dulu kurang sekali..." suaranya terdengar sinis, "Aku gagal mengevaluasimu sebagai proyek gagal. Padahal hanya kau yang berhasil sebagai seorang klon Sephiroth," ia mulai terkekeh aneh, "heh, heh, heh...... Aku bahkan mulai membenci diriku sendiri."
"Itu tidak penting lagi...." kata Cloud, "hentikan omong kosong ini!"
"....omong kosong? Oh, ini?" akhirnya Hojo berpaling pada kalian. Kamu bisa melihat wajahnya yang berkerut dan rambutnya yang lepek karena hujan. Menempel –nempel pada pipinya yang tirus. Pria itu tertawa dengan sintingnya, "ha, ha, ha... Sephiroth sepertinya mengandalkan energi ini. Jadi aku akan membantunya."
"Hentikan!" teriakmu, "kenapa kau lakukan ini!?"
"Berhenti menanyaiku kenapa, dasar bodoh." Hojo berbalik pada panel, "hmn... mungkin dari pada SOLDIER kau lebih cocok jadi ilmuwan.." Ia kembali sibuk pada panelnya, "level energi pada..... 83%. Terlalu lama. Putraku butuh tenaga dan bantuan.... Itu alasan satu-satunya."
Kau terpaku mati. Berdiri tanpa bergerak bahkan berkedip sekalipun. 'Putra...? putra......?'
"Putramu...?" Cloud bertanya-tanya lalu menoleh ke arahmu yang sedang tercengang, "Shaff? Itu benar...?"
"Tidak mungkin........" ujarmu pelan. 'Karena inikah... Vincent tidak membahas lagi tentang ayahku? karena profesor bangsat ini adalah ayahku!?'
"Ha, ha, ha..." tawa Hojo makin tidak enak, seperti penjahat bawah tanah yang sedang menyiksa korbannya, "walau dia tidak tahu," lalu ia tertawa keras sampai ia berhenti dari pekerjaannya. "ha, ha, ha... HA, HA, HA....!! Apa yang akan dipikirkan Sephiroth saat dia tahu aku ayahnya? Dia selalu memandang rendah aku seperti itu... HAHAHAHA....!!!"
"....!" Vincent tidak berkata apa-apa namun amarah terlihat dari wajah dan matanya.
"Sephiroth adalah putramu!?" Cloud masih tidak percaya.
"Ha, ha, ha... Aku menawarkan wanita yang mengandung anakku pada Proyek Jenova milik Profesor Gast. Saat Sephiroth masih dalam kandungan, kami ambil sel-sel Jenova... HA, HA, HA!!"
Kamu terkejut, 'Jadi... Profesor Gast tahu...? Jadi karena itulah dia kaget melihatku dulu.. Tapi dia tidak memberi tahu Hojo... Mungkinkah.. Lucrecia memohon padanya?'
"Kau......!" Vincent mencabut senapannya, ia terlihat marah sekali.
"Teganya kau lakukan itu...." Cloud menggenggam tangannya sampai gemetar, "kekejian luar biasa terhadap Sephiroth..."
Hojo berhenti dan dengan tenang berpaling pada kalian. Saling menatap beberapa saat, Hojo mulai terkekeh, "Hee, hee, hee, hee! Tidak, kau salah! Ini hasratku sebagai ilmuwan! Hee, hee, hee, hee!" ia terdiam sesaat, "aku... dikalahkan oleh hasratku untuk menjadi ilmuwan. Terakhir dulu aku juga kalah." Hojo menari dengan gembira layaknya orang tidak waras, "Aku sudah menyuntikkan sel-sel Jenova ke dalam tubuhku sendiri! Hee, hee, hee! Ini adalah..... Hee, hee, hee!... Hasil-hasilku!" Tiba-tiba ia berhenti karena Vincent telah membidik senapan padanya.
"...... Aku telah salah... Yang seharusnya tertidur adalah kau... HOJO!!" teriak Vincent.
".....Kau..." Kamu sudah gemetaran, terlalu syok untuk menerima semuanya, dengan kasar kamu menarik rantaimu. "Orang gila seperti kau... Orang sinting seperti kau.... Orang tua seperti kau!!!!?" kamu menatap Hojo dengan penuh dendam dan amarah, "tidak sepantasnya hidup!" kamu menyentakkan dan membanting rantaimu ke lantai besi. "Aku tidak akan mengakuimu... Begitu pula dengan Nii-san... Kau.." air matamu keluar dan bercampur air hujan hingga kamu tidak bisa merasakannya, "tidak akan kami akui sebagai ayah kami!!! Matilah!!!" kamu menerjangnya.
--Battle with Hojo--
"Gwah, haw, haw!! Haw... nah sekarang kita lihat... bagaimana jus Mako bereaksi..." Hojo terlihat aneh, lalu ia berubah.
--Battle with Helletic Hojo, and later Lifeform Hojo—
Cloud hanya bisa terdiam melihat tubuh Hojo yang sudah tidak bergerak duduk di atas kursinya dan tubuhnya jatuh ke atas panel kontrol. Inilah akhir dari Hojo. Entah sudah berapa kali kamu mencabik dan membakar tubuhnya dengan sihir, kamu tidak ingin memikirkannya.
"Hojo..." Vincent menyimpan senjatanya dan menundukkan kepalanya, matanya terpejam sejenak, "beristirahatlah dengan tenang...."
Hujan dan angin bertambah deras dan kencang, menutupi suara percikan listrik dan logam yang beradu. Tanganmu menggengam kuat rantai sampai melukai telapakmu sendiri. Air hujan mengalir dari sela-sela rambut turun ke wajahmu. Kamu menangis tapi tidak bisa membedakan air mata dengan air hujan.
'Apakah langit juga menangisiku?' Kamu bertanya-tanya sambil melihat langit yang kelam dan petir yang menyambar-nyambar.
