I do not own the story!

copyright © 2012 All I Care About by fantasy_seoul (AFF)

translated by Zhen Jian (Oct 31, 2016)

Enjoy~


(*Sehun*)

Hal pertama yang Sehun lihat di pagi hari adalah wajah cantik Luhan tersenyum kepadanya dan Sehun secara otomatis tersenyum kembali. Dia suka terbangun dan menemukan Luhan tepat berada di sisinya. Ini adalah pemandangan kesukaannya saat bangun. Satu-satunya yang membuat bangun di pagi hari menjadi sepadan.

"Pagi Sehun-ah," sapa Luhan, pelukannya mengerat di pinggang Sehun. Anak yang lebih tua tersenyum lebar dari telinga ke telinga. Apa yang membuatnya begitu senang?

"Pagi," Sehun mengintip di belakangnya untuk melihat apakah yang lain sudah bangun. Dan melihat mereka masih tertidur, dia kembalikan perhatiannya pada kekasihnya dan memeluknya lebih erat, mengambil kesempatan untuk menghirup aroma Luhan. Tapi dari pada tercium seperti sesuatu yang manis, kekasihnya tercium seperti...sprei baru?

"Apa tidurmu baik?" yang lebih tua bertanya seraya memainkan rambut Sehun.

"Yeah. Kau?"

"Eh. Tidurku baik."

Sehun mendengus. "Hanya baik?"

Luhan mengangguk, jarinya masih bermain dengan rambut Sehun. "Kenapa? Apa aku harus tidur lebih baik denganmu di sampingku?"

"Duh. Itu adalah alasan mengapa kau datang ke kamarku."

"Benarkah?"

Sehun memutar bola matanya. "Ya, Bambi. Memang itu."

Luhan mengedikan bahu. "Jika kau bilang begitu."

Sehun menangkup wajahnya. "Jangan berakting polos sekarang. Kaulah yang menyelinap masuk tadi malam, mengaku tidak bisa tidur."

Luhan tertawa kecil. "Itu karena dingin di kamar satunya."

"Yah kau bisa saja mengambil selimut. Tidak perlu datang ke kamar lainnya, khususnya kamarku."

"Itu gelap jadi aku tidak tahu ke mana aku pergi tepatnya. Aku hanya mengikuti rasa hangat aneh yang ternyata membawaku ke kamarmu dan di bawah selimutmu." Yang lebih tua berseri. "Kurasa kehangatanmu memanggilku dan aku tidak bisa melakukan apa pun kecuali mengikutinya."

Dan Sehun tertawa keras akan itu. "Kau memalukan."

Anak yang lebi tua tiba-tiba mengerutkan dahi. "Aku serius."

Sehun berhenti dan menatapnya, bertanya-tanya jika yang lebih tua sedang bermain dengannya atau tidak, tapi melihat keseriusan dalam ekspresi Luhan, Sehun memutuskan bahwa mengikutinya adalah yang terbaik. "Benar. Ma'af. Kehangatanku menuntunmu padaku, jadi begitulah kau berakhir tidur denganku. Aku mengerti."

Luhan menaikan alisnya. "Apa kau menjadi sakarstik?" Sehun tertawa lagi. "Yah! Jangan mengejekku!" Dia memajukan bibirnya.

Sehun memberikan Luhan pelukan yang sangat erat karena begitulah dia menangani Luhan yang cemberut. "Kenapa kau sangat imut di pagi hari?"

Luhan mendengus. "Aku imut 24/7."

Sehun terkekeh. "365 hari setahun?"

"Tidak. 364. Aku punya satu hari libur. Tidak bisa menjadi imut setahun penuh –itu melelahkan."

"Bohong. Tanpa usaha pun kau imut."

Pipi Luhan merona merah muda, dan Sehun tersenyum karena Luhan baru saja membuktikan pernyataannya.

"Kau sangat gombal, Sehun-ah." Dia menenggelamkan wajahnya di dada Sehun untuk menyembunyikan pipinya yang memerah.

"Salahkan karena aku bersamamu."

"Jadi kau gombal karena kau mengencaniku?" gumam Luhan pada kain baju Sehun.

"Yeah. Itu satu-satunya penjelasan yang mungkin karena aku tidak pernah seperti ini sebelum kau datang. Aku adalah pria keren yang tidak peduli apa pun. Pria Dingin Sehun."

Luhan menjadi diam setelahnya. Sehun mencolek perutnya untuk memastikan apakah dia masih sadar.

"Apa kau pernah berharap untuk menjadi keren lagi?" kekasihnya berbisik pelan.

"Apa maksudnya? Apa kau berkata aku tidak lagi keren?" goda Sehun.

"Kupikir itu adalah fakta yang terlihat?" balas Luhan, sekarang mendongak ke arah Sehun dengan kenakalan di matanya.

"Tutup mulut. Aku masih keren. Hanya tidak di dekatmu." Aku bagai orang bodoh yang jatuh cinta di dekatmu.

Luhan tersenyum. "Sehun-ah, seberapa banyak kau mencintaiku?"

Sehun menaikan alis, terkejut betapa sentimentil percakapan ini.

Dia berdeham. "Sangat banyak. Sangat amat banyak."

"Seberapa banyak banyaknya itu?"

"Cukup untuk membuatmu melakukan apa pun –seperti membiarkanmu menanyakan pertanyaan-pertanyaan menggelikan jam 8 pagi."

"Dan kau membiarkanku karena..." Luhan menatap matanya seperti dia menunggu Sehun untuk mengatakan sesuatu. Untuk mengatakan hal yang benar.

Ini aneh. Cara Luhan menatapnya membuat Sehun merasa dia tertangkap basah melakukan hal yang salah. Untuk beberapa alasan, Sehun merasa dirinya sedang di interogasi. Dan walau pun dia tahu jawabannya dengan sangat jelas, Sehun merasa sulit untuk mengatakannya.

"Ya?"

"Uh. Um. Karena aku mencintaimu."

Luhan memiringkan kepalanya ke samping. "Itu terdengar seperti sebuah pertanyaan."

Sehun menggelengkan kepalanya. "Tidak."

"Kau yakin?"

Dia menghela napas. "Ya, aku yakin."

"Kenapa?"

"Kenapa?" ulang Sehun, kebingungan terlihat jelas di wajahnya.

"Ya. Kenapa kau mencintaiku?"

Kupikir jawabannya sudah jelas...

"Karena aku mencintaimu. Aku tidak mempunyai alasan –"

Luhan mengerutkan dahi.

"Aku punya sejuta."

Mata kekasihnya menjadi cerah. "Sungguh? Apa saja?"

Sekali lagi, Sehun mengintip ke balik bahunya untuk memeriksa jika teman satu timnya bangun dan apakah mereka mendengarkan semua hal ini. Untungnya, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak.

"Apa aku harus menyebutkan semuanya?"

Luhan mengangguk. "Ya."

"Ini akan membutuhkan sepanjang hari," keluh Sehun. Atau mungkin lebih.

"Aku menunggu.."

"Baik." Sehun berdeham, pikirannya masih mencari cara agar dia terbebas dari situasi itu. Luhan menatapnya intens, menunggu jawabannya, terlihat tak sabar.

"Aku suka namamu. Mudah untuk dilafalkan, mudah untuk ditulis, dan aku menyukai bagaimana rasanya saat diucapkan di lidahku. Walau pun kita belum mengenal lama satu sama lain, rasanya aku sudah mengucapkan namamu sepanjang hidupku. Aku suka bagaimana cocoknya itu denganmu, walau pun Bambi paling cocok kedua." Sehun sedikit menyeringai.

"Lanjutkan..."

"Aku suka bagaimana rambutmu menggelitik bawah daguku. Aku suka mata doe polosmu. Mereka berkelip kapan pun kau senang akan sesuatu dan aku kehilangan napasku setiap waktu. Aku suka karena walau pun kau tertua kedua di rumah, aegyomu bisa mengalahkan milik Tao hyung. Aku suka betapa kecilnya dirimu."

Luhan baru akan membuka mulutnya, mungkin untuk membantah bahwa dirinya tidak kecil, tapi Sehun melanjutkan, "setidaknya dibandingkan diriku. Ini seperti kau dibuat agar pas denganku. Seperti sarung tangan. Seperti potongan puzzle yang hilang. Tapi kadang-kadang aku berharap kau cukup kecil agar bisa disimpan dalam kantungku, supaya bisa membawamu ke mana pun aku pergi. Dan aku tahu mengatakan hal itu membuatku seperti kekasih yang posesif, tapi aku tidak bisa membantu selain khawatir kapan pun kau di luar jangkauan. Aku terus-menerus memikirkanmu, bahkan jika kau hanya berada di kamar sebelah. Terkadang ini membuatku merasa menyedihkan, tapi seringnya itu membuatku lebih menghargaimu saat kau bersamaku."

Luhan mengangguk seakan mengerti bagaimana rasanya.

"Apa aku benar-benar harus melanjutkan?"

"Ya. Aku menyukainya." Anak yang lebih kecil tersenyum lebar. Tentu saja kau suka.

"Aku suka kau terus terang, tapi masih mampu membuatku menebak-nebak. Aku suka obsesimu soal mengambil fotoku, tapi aku juga berharap kau akan berhenti muncul entah dari mana, khususnya ketika aku mandi."

Bukannya merona, Luhan terkekeh, seakan puas akan dirinya sendiri. Sehun memutar bola matanya. Kurasa sudah waktunya untuk sedikit menggodamu.

"Aku juga suka bagaimana telingamu menjadi merah kapan pun kau bersemangat atau gugup atau –" Sehun menyelipkan tangannya ke dalam kaus Luhan, jemarinya menelusuri kulit halus kekasihnya, kulit yang bebas dari noda. Mata Luhan melebar akan sentuhan Sehun, telinganya tiba-tiba berubah menjadi berbagai tingkat warna merah yang lucu –efek yang Sehun harapkan.

"Atau kapan pun aku menyentuhmu seperti itu," Sehun menyelesaikannya dengan sebuah seringaian.

"Yah!"

Sehun tertawa dan mengeluarkan tangannya, senang karena dia bisa membuktikannya. "Aku suka bagaimana kau tetap malu-malu walau pun kita sudah melakukannya –"

"Sudah! Kau tidak perlu melanjutkannya lagi. Aku mengerti."

"Apa? Ini yang ingin kau dengarkan –hal-hal yang aku sukai tentangmu. Dan aku mengatakan aku suka wajah tidak-lagi-malumu ketika kita –"

"Oke! Sehun-ah. Cukup," sela Luhan, warna pipinya sekarang menyamai telinganya.

Sehun terkekeh. Sekarang ini menjadi asyik. Menghiraukan protes Luhan, Sehun melanjutkan, "Aku mengagumi caramu memanggil namaku. Tapi khususnya ketika wajahmu semuanya merah, mendesahkan Sehun –"

Luhan langsung menutupi mulutnya, memotongnya. "Kau bisa berhenti sekarang," desis Luhan.

Dia melirik ke arah anak-anak di belakang Sehun dan mendesah lega ketika dia melihat mereka masih tertidur.

"Jadi apa kau puas?"

"Ya. Kau menyukai semua tentangku."

"Benar." Sehun tersenyum lebar. Dia menarik anak yang lebih tua lebih dekat dan menggesekan wajah mereka, senang rona di wajah Luhan belum menghilang.

Luhan menarik diri untuk menatapnya. "Kau harus memberitahuku lebih sering tentang apa yang kau rasakan."

Sehun menatapnya penuh tanda tanya. "Tapi kau tahu bagaimana perasaanku..?"

"Yeah, tapi tidak menyakitkan untuk mendengarkannya untuk sekarang dan kedepannya." Luhan memberikannya senyum malu-malu. "Aku suka mendengarkan pengakuan cintamu."

"Haruskah aku mengatakannya setiap hari?"

"Setiap jam," kata Luhan dengan senyuman lebar.

Sehun tertawa. "Apa itu yang kau mau?"

"Uh huh."

"Mulai kapan?"

"Sekarang." Luhan menggigit bibir bawahnya, matanya bersinar-sinar.

Sehun tersenyum. "Aku mencintaimu, Bambi. Aku sangat mencintaimu." Sangat sampai terkadang sakit.

Jarinya secara insting menemukan pipi kekasihnya, membelainya. Luhan menyandar pada sentuhannya, tersenyum cerah.

"Aku juga mencintaimu, Sehun-ah."

Sehun mendekat, bibirnya bertemu dengan bibir Luhan. Dia mencium Luhan...

Tapi sesuatu terasa aneh.

Sehun menarik diri, alisnya bertaut kebingungan. "Kau terasa berbeda."

Luhan berkedip padanya. "Itu karena aku sebuah bantal."

"Apa-"

Sehun terbangun, dan tentu saja wajahnya tertanam ke bantalnya. Itu menjelaskan wangi sprei barunya. Dia menggosok matanya.

Tunggu...SEMUA ITU MIMPI?!

Sehun menolehkan kepalanya di mana Luhan seharusnya berada, tapi dia tidak di sana. Dia menoleh ke arah lain, di mana teman-temannya berada, berpikir bahwa mungkin Luhan secara ajaib berguling ke sana tanpa sepengetahuannya, tapi anak laki-laki itu juga tidak ada di sana. Sehun mengkerutkan dahi. Di mana dia?

Dia berjalan menuju kamar Tim B. Membuka pintunya sedikit, dia melihat ke sekeliling, langsung mengerutkan dahi ketika dia tidak melihat kepala dengan rambut cokelat madu yang ia kenali. Apa dia di dapur?

Tepat ketika dia akan belok untuk memasuki dapur, dia mendengar tawa riang yang hanya dimiliki oleh kekasihnya. Dia berjalan masuk dan yakin benar, Luhan sedang duduk di meja, kakinya mengayun ke depan dan belakang, menggenggam segelas kopi, tapi dia tidak sendirian...

Hongki ada di sana –tertawa bersama dengan anak yang lebih tua, menggenggam gelas yang sama. Pemandangan itu terlihat polos, tapi tidak bisa menghentikan cemberut di wajah Sehun karena melihatnya.

"Pagi," sapa Sehun dengan suara pahit yang muncul.

Luhan berputar akan suaranya. Anak yang lebih tua melompat turun dari meja dan baru akan mendekati Sehun, tapi dia berhenti di tengah jalan.

Sehun bohong jika dia mengatakan tidak kecewa bahwa Luhan tidak mendatanginya.

"Pagi," balas Luhan. Sehun meringis karena itu bukan suara pagi hari kekasihnya yang biasa. Itu sangat tidak bersemangat. Sehun mengekerutkan alisnya seraya mereka menatap satu sama lain. Udara di sekitar mereka lebih berat dari biasanya...seperti mereka baru berkelahi semalam.

Tidak mungkin.. aku tidak ingat berdebat dengannya...Apa aku menendangnya sewaktu tidur atau apa?

Hongki, terjebak di antara mereka berdua, perlahan mulai berjalan mundur, berharap untuk tidak mencampuri apa pun yang sedang terjadi di antara mereka.

"Kau tidak merasa pusing? Ingin minum sesuatu?" Luhan bertanya padanya, sudah berjalan ke arah lemari pendingin. "Apa yang kau inginkan?"

"Aku mau yang sama denganmu," jawab Sehun, duduk di salah satu meja dapur.

"Oh. Hongki membuatkanku kopi. Ini sangat enak," kata Luhan. Dia menoleh ke arah Hongki, yang sedang mencoba kabur dari dapur, dan menariknya masuk kembali. "Bisakah kau membuatkan Sehun kopi?"

"Uhhhh.." Hongki melirik melewati Luhan, dan menyadari tatapan tajam dari Sehun, dia menelan ludah. "Aku-uh kurasa aku bisa."

"Tidak apa-apa. Aku tidak ingin kopi," kata Sehun seraya bangun dari tempatnya dan membuka lemari pendingin, mencari sesuatu untuk di makan, atau lebih baik mencari sesuatu untuk mendinginkan bagian dalam dirinya karena sesuatu di dalam dirinya mulai mendidih.

Dia tidak berpikir itu adalah efek setelah meminum alkohol. Dia pikir itu ada hubungannya dengan kenyataan bahwa Luhan masih menggenggam pergelangan tangan Hongki.

ooo

(*Luhan*)

"Oh oke." Luhan melepaskan Hongki dan mengucapkan tanpa suara "Ma'af" sebelum keluar dari dapur. "Hey!"

Merasa dihiraukan, dia berbalik untuk menemukan Sehun menatapnya lurus, matanya tajam –seperti laser.

"Apa tidurmu baik semalam?" tanya Sehun, duduk. Dia meneguk dari botol jus jeruknya.

"Uh ya." Jawab Luhan, duduk berhadapan dengan Sehun.

Dia berbohong.

Dia tidak tidur dengan baik sama sekali. Bukan. Dia tidak berbalik dan berguling seperti yang ia lakukan di kamar aslinya sebelum datang ke kamar Sehun, tapi Luhan pikir lebih baik dia berbalik dan berguling dari pada menghadapi mimpi buruknya semalam –mimpi buruk yang ada Sehun dan klub presiden di dalamnya. Dan tidak, dia tidak ingin mengingat detail dari mimpinya. Sekali saja cukup.

Ya, dia tahu Sehun tidak akan pernah melakukan hal untuk menyakitinya. Dan ya, dia tahu Sehun mencintainya.

Tapi tak satu pun dari itu bisa menghentikan mimpinya menjadi lebih tidak menakutkan.

Ketika dia bangun pagi itu, dengan dahinya yang basah penuh keringat, Luhan menengok melihat sisi Sehun dan menemukan anak itu tersenyum, memeluk bantalnya. Itu terlihat seperti dia mempunyai mimpi yang bagus, dan Luhan bertanya-tanya tentang apa itu.

Merasa gelisah, Luhan meninggalkan Sehun dan berjalan menuju dapur, berharap untuk membuat dirinya sendiri kopi untuk menjernihkan kepalanya, dan dia menemukan Hongki duduk sendirian di meja dapur. Mereka mengobrol dan Hongki menawarkan untuk membuatkannya kopi, mengaku bahwa dia pernah sekali diajari oleh salah satu barista terbaik Seoul. Luhan tidak percaya padanya, jadi anak itu menunjukannya dan membuatkannya secangkir kopi terbaik yang pernah Luhan punya (dan tentu saja diakui karena dia bekerja di toko kopi). Mereka mengobrol tentang banyak hal –seperti apa yang akan mereka lakukan hari ini, apa hobi mereka, dan bahkan Luhan mengetahui bahwa Hongki menyukai salah satu gadis di klub mereka. Dia membatin untuk mencari tahu siapa dia dan mungkin membantu mereka bersatu. Luhan harus mengakui bahwa bersama dengan Hongki membuat pikirannya jauh dari hal-hal lain dan untuk itu dia bersyukur.

Luhan meminum kembali kopinya, gagal menyadari kecemasan di wajah Sehun.

"Selamat pagi teman-teman! Wow aku tidak mengira kalian berdua bangun pagi!" Si presiden tersenyum pada mereka saat dia masuk.

Ini tidak lagi pagi yang bagus, pikir Luhan seraya melihatnya berjalan ke lemari pendingin untuk mengambil sebotol jus jeruk. Matanya menembak ke botol jus jeruk yang Sehun genggam di tangannya. Aku lihat mereka berdua menyukai jus jeruk. Luhan menunduk melihat gelas kopinya, berpikir bahwa dia harus mengambil jus jeruk juga.

Si presiden klub mengambil tempat duduk di antara mereka, matanya bergantian melihat Luhan dan Sehun. Luhan, bagaimanapun, menghindari tatapannya, menolak untuk melihat apa pun selain cairan gelap dalam cangkirnya. Sehun, di sisi lain, matanya menempel pada Luhan.

"Jadi um apa yang kalian berdua rencanakan untuk dilakukan hari ini?"

Luhan mendongak, akhirnya membuat kontak mata dengannya. "Uhh. Aku ingin pergi mendaki nanti." Dia mengatakan "aku" karena dia tidak yakin Sehun mau ikut. Lagi pula, mereka tidak mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan hari ini.

"Yeah, kami akan pergi mendaki hari ini," Sehun bicara. Luhan menoleh untuk menatapnya, terkejut. "Pasti menyenangkan," tambah Sehun, matanya masih menempel pada Luhan.

"Uh yeah," respon Luhan, menggigit bibir bawahnya. Bayangan Sehun dan dirinya bergandengan tangan sambil mendaki sepanjang jalan di gunung muncul di pikirannya, membuat Luhan merasa pening keseluruhan. Sekarang dia benar-benar menantikan saat mendaki.

Beberapa anggota klub mereka masuk ke dapur, dan presiden mengumumkan bahwa mereka akan membagi tugasnya –dengan Tim A mencuci piring, sedangkan Tim B membuat sarapan. Syukur, banyak anggota tim Luhan yang mempunyai pengalaman dalam membuat sarapan, jadi prosesnya tidak terlalu buruk. Mereka menghabiskan waktu yang lumayan di dapur karena mereka tidak serajin Kyungsoo atau pun sebakat dia. Ketika akhirnya mereka menghidangkan untuk semua orang, dan melihat bagaimana anggota lainnya tidak mengeluh tentang rasanya, Luhan menganggapnya sukses.

Sehun duduk di sebelahnya, terkadang memberi Luhan potongan telurnya karena dia tahu seberapa banyak Luhan menyukai telur. Memakannya, Luhan langsung memutuskan telur dari Sehun adalah yang terbaik. Luhan berterima kasih padanya dengan menuangkannya segelas jus jeruk yang baru, yang mana Sehun terima, mengerutkan mulutnya seperti dia mencoba untuk menyembunyikan senyumannya.

Setelah sarapan, Luhan menunggu Sehun untuk menyelesaikan bersih-bersih dan mencuci piringnya jadi mereka bisa pergi mendaki, tapi sayangnya, mereka (tim Luhan) meninggalkan banyak panci dan wajan, jadi tim Sehun membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya untuk selesai.

Memeriksa jamnya, Luhan mengkerutkan dahi karena ini tiga puluh menit sebelum tengah hari. Dia pernah mendengar dari Hongki bahwa lebih baik untuk menikmati pemandangan dari puncak gunung saat tengah hari. Jika tim Sehun masih terus bersih-bersih dan berjalan bolak-balik, Luhan rasa mereka tidak akan tepat waktu.

"Kita harus pergi sekarang," kata Hongki saat dia masuk ke ruangan, berpakaian untuk mendaki. Di belakangnya beberapa dari tim B, semuanya terlihat siap untuk mendaki.

Luhan melirik Sehun, yang masih mengeringkan piring dengan handuk. "Sehun-ah."

"Aku hampir selesai," kata Sehun, buru-buru mengeringkan piring-piringnya.

"Hongki, kenapa kau tidak membawa timmu lebih dulu? Jika kalian menunggu kami, aku ragu kalian akan tepat waktu untuk mencapi puncak sebelum tengah hari. Kami akan menyelesaikan bersih-bersihnya di sini. Aku akan membawa timku besok pagi sebelum kita pulang," saran si presiden.

Apa?! Besok?! Itu berarti aku tidak bisa pergi dengan Sehun... Luhan memajukan bibirnya. Sehun menangkap kekecewaan di wajah Luhan, tapi dia tidak mengatakan apa pun.

"Kurasa itu tidak apa-apa. Oke, ayo Luhan, kita pergi." Hongki memberikan Sehun tepukan canggung di punggungnya sebelum meninggalkan ruangan.

"Karena kau tidak pergi, aku bisa tetap di sini," bisik Luhan.

Sehun menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kau sangat ingin pergi, jadi pergi saja. Itu akan baik-baik saja."

Walau pun Sehun benar, dia benar-benar ingin pergi mendaki, tapi dia ingin pergi dengan Sehun. Luhan merasa sedih oleh kenyataan bahwa Sehun tidak mau dirinya tinggal karena jika mereka bertukar posisi, Luhan akan membuat Sehun tinggal. Mungkin aku kekasih yang egois. Luhan mengerutkan dahi atas pemikirannya.

"O-oke. Aku akan pergi," kata Luhan lemah. Berbalik untuk pergi, Luhan merasakan tangan kuat menggenggam pergelangannya. "Sehun?"

"Hanya...Hati-hati oke? Pastikan kau membawa ponsel denganmu –jaga-jaga jika sesuatu terjadi."

"Oke. Akan kulakukan."

Sehun memberi pergelangannya tekanan lembut sebelum melepaskannya. "Bersenang-senanglah."

"Yeah." Luhan melambaikan kekasihnya sampai jumpa sebelum keluar dan bergabung dengan yang lain yang menunggunya di luar pintu depan.

"Ayo, Luhan! Ini akan menyenangkan!" Hongki mendekat dan menariknya bersama.

"Yeah."

ooo

(*Sehun*)

Sehun mencoba sebisanya untuk mempercepat semuanya, tapi ada terlalu banyak hal-hal yang perlu dibersihkan karena tim Luhan sudah meninggal kekacauan besar. Dia memeriksa jam di dinding –hampir tengah hari. Dia melirik Luhan, yang sedang menunggunya, dan tiba-tiba merasa tidak enak. Kekasihnya bahkan sudah memakai sepatu boot untuk mendaki. Jika mereka bisa mempercepat langkah mereka, mereka mungkin bisa menyelesaikannya tepat waktu, dan dia serta Luhan bisa pergi kencan mendaki (walau ada yang lain bersama mereka juga).

"Kita harus pergi sekarang," kata Hongki sambil memasuki dapur, berpakaian dengan perlengkapan mendakinya. Sehun menahan keinginan untuk melemparkan handuk kotornya kepada wakil presiden.

Luhan melihat ke arahnya. "Sehun-ah."

"Aku hampir selesai." Dia menggosok piringnya bersih dengan kecepatan penuh. Aku akan pergi mendaki dengan Bambi sialan!

"Hongki, kenapa kau tidak membawa timmu lebih dulu? Jika kalian menunggu kami, aku ragu kalian akan tepat waktu untuk mencapi puncak sebelum tengah hari. Kami akan menyelesaikan bersih-bersihnya di sini. Aku akan membawa timku besok pagi sebelum kita pulang," saran si presiden.

Sehun hampir menjatuhkan piring yang dia pegang saat ia mengatakannya. Apa?! Besok?! ARGH TIDAK! Dia melirik dan melihat Luhan yang cemberut, dia tahu bahwa dia mungkin memikirkan hal yang sama. Dia tahu Luhan merasa kecewa karena anak itu menantikan untuk pergi bersama.

"Kurasa itu tidak apa-apa. Oke, ayo Luhan, kita pergi." Hongki memberikan Sehun tepukan di punggungnya sebelum meninggalkan ruangan. Itu adalah sebuah tepukan canggung. Sehun tidak tahu jika dia menepuknya karena dia merasa tidak enak tim Sehun tidak bisa datang, atau dia membawa Luhan pergi darinya.

"Karena kau tidak pergi, aku bisa tetap di sini," bisik Luhan.

Sehun menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kau sangat ingin pergi, jadi pergi saja. Itu akan baik-baik saja." Aku tidak mau menjadi alasan kenapa kau tidak bisa pergi...

Walaupun dia lebih memilih untuk mempunyai Luhan tetap di sana, dia tidak mau egois. Dia harus menjadi kuat dan membiarkan Luhan pergi karena jika mereka bertukar posisi, Luhan akan membiarkannya pergi. Sehun bisa menangani beberapa jam mencemaskan kekasihnya (dia mempunyai banyak pengalaman). Di sisi lain, dia tidak merasa Luhan bisa menangani melewatkan kesempatan yang menyenangkan.

"O-oke. Aku akan pergi," kata Luhan lemah. Ketika Luhan berbalik untuk pergi, Sehun dengan cepat menggenggam pergelangan tangannya –jantungnya berdetak secara tidak teratur sekarang atas pikiran Luhan di gunung entah di mana tanpanya. Pikiran itu menakutkan. Dia tahu bahwa Luhan akan bersama dengan yang lain, jadi tidak ada hal berbahaya yang bisa terjadi, tapi Sehun masih merasa gelisah. Bagaimana jika di sana ada singa gunung? Beruang? Mereka akan menyerang Bambi lebih dulu'kan?

"Sehun?"

"Hanya...Hati-hati oke? Pastikan kau membawa ponsel denganmu –jaga-jaga jika sesuatu terjadi."

"Oke. Akan kulakukan."

Sehun memberi pergelangannya tekanan lembut sebelum melepaskannya. "Bersenang-senanglah." Dia bersungguh-sungguh.

"Yeah." Luhan melambai sampai jumpa dan pergi untuk mengikuti yang lainnya.

Untuk sisa hari itu, Sehun memiliki waktu yang sulit mendorong bayangan seekor singa gunung mengejar rusa polos keluar dari kepalanya. Pada satu waktu, dia memikirkan dia pernah sekali melihat dua singa berkelahi memperebutkan bayi rusa, keduanya merobek binatang lemah itu menjadi beberapa bagian. Dia merinding atas pemikirannya. Aku harus berhenti menonton saluran binatang.

Dua jam dan kelompok itu belum kembali juga. Sehun semakin cemas. Si presiden, menyadarinya, memberikannya tepukan menenangkan. "Jangan khawatir. Mereka akan sampai sebentar lagi."

Yeah. Dia akan baik-baik saja. Dia akan kembali –utuh. UGH INI TIDAK MEMBANTU!

Sehun duduk di dekat jendela dan mulai berselancar di internet di ponselnya, mencari tahu area di mana mereka tinggal –untuk memeriksa apa di sana ada laporan pernah melihat singa gunung. Dia menelan ludah ketika sebuah artikel berita muncul, menyatakan bahwa di sana pernah dilaporkan soal babi liar. Babi liar?!

Ketakutannya semakin menjadi ketika kelompok itu kembali, dan dia melihat ke sekeliling, matanya tidak berhasil melihat kekasihnya dari kelompok itu.

"Di mana Luhan hyung?" tanya Sehun.

Hongki datang kepadanya tapi menjaga jarak sejauh dua meter. "Sehun, dengarkan apa yang harus aku katakan sebelum kau panik."

Mata Sehun melebar, jantungnya berdetak sangat cepat. Dia menelan ludah, tidak menyukai ke mana pembicaraan ini.

"Di mana Luhan?" ulang Sehun.

"Dia baik-baik saja." Hongki memberitahunya, merentangkan lengannya, seolah itu akan menghentikan Sehun dari kemungkinan untuk menyakitinya. "Setelah turun dari jalan, kami bermain dan aku secara tidak sengaja –aku tidak bermaksud untuk –"

"Kau apa?!" Sehun menggeretak. "Katakan!"


fantasy_seoul: APA YANG TERJADI DENGAN LULU?! Sedikit menggantung. LoL. Oke, aku tahu bahwa aku mengatakan pada bagian ini, kita akan melihat Luhan menenangkan si presiden, tapi aku memutuskan untuk menambahkan bagian pertama dahulu karena kita semua membutuhkan fluff Hunhan ^_^ seberapa banyak dari kalian yang sedikit kecewa karena itu hanya sebuah mimpi? Lol. Ma'af :P Aku merasa itu perlu bagi Sehun untuk memilki mimpi seperti itu –itu seperti Luhan berkomunikasi dengannya, mengatakan hal-hal yang tidak akan pernah dia katakan pada Sehun ketika dia sadar, dan seperti itulah (semua orang tahu betapa enggannya Sehun membicarakan soal perasaannya). Kupikir mimpi itu sudah menjelaskan betapa Sehun begitu peduli untuk Luhan dan seberapa banyak dia mencintainya (SANGAT AMAT BANYAK!) Dan walau pun kita semua tahu dia begitu mencintai Bambinya, masih menyenangkan untuk melihatnya secara verbal mengekspresikan perasaannya...walau pun itu cuma mimpi...dengan sebuah bantal. LOL. Ah yah :) Mungkin dia akan memberitahu Luhan suatu hari nanti? Juga Sehun yang cemas atas singa gunung dan babi liar itu lucu! Lol. Overprotective. Sehun selamanya khawatir soal Lulu.

Dan untuk konfrontasi antara Luhan dan presiden, jangan khawatir –itu akan terjadi! Bagian berikutnya! Pasti!

Terima kasih sudah subscribing dan membaca! Aku sangat mengapresiasikan komentar kalian. Mereka membuatku senang :) Oh, dan aku melihat ceritaku masuk daftar rekomendasi EXO fanfics di tumblr dan aku hanya ingin mengatakan OMGGGGGGGG. TERIMA KASIH!

Z.J: Sehun romantis...di mimpi :P Ketawa sendiri waktu terjemahinnya. Dan kalian berdua harusnya bisa saling cerita perasaan satu sama lain DX... Bayangan Sehun sampai segitunya soal singa gunung, beruang, sampai babi liar... Dan oooohhh, Lulu kenapa sama Hongki?! Hahaha... update lagi lain waktu kalau Jian nggak terlalu stress... Selamat membaca~