Disclaimer : I do not own Naruto.

Warning : OOC. SasuIno. Absurd. Rush. Lebay. I warned you. ROMANCE DETECTED! Hati-hati meledak.

Tidak ada unsur kesengajaan jika ada kemiripan ide cerita. Tolong beritahu ketika menemukan kesamaan.

Ditulis untuk hiburan.


THERAPY

- Proximity-

"A-aku tidak mengerti cinta-cintaan. Aku tidak pernah merasakannya. Ha-habis, hatiku masih suci." / "Kalau begitu, kau sudah membuat hatiku sudah tidak polos lagi, Ino."


Jeritan gadis-gadis membuat sore itu berubah sibuk.

Hampir seluruh siswi Konoha Gakuen sengaja untuk pulang telat demi menyaksikan kegiatan klub olahraga paling populer di sekolah. Saat ini mereka sedang mengitari sisi belakang pagar lapangan tempat berlatih klub American Football sambil menjerit-jerit girang.

Seluruh penjuru lapangan sedang dikerubungi para gadis yang kebanyakan menamai dirinya sebagai SasukeSTAN, sebutan bagi fansclub Uchiha Sasuke. Mereka sedang saling berebut untuk bisa mendapatkan perhatian si pemuda tampan dengan berteriak sekencang-kencangnya sambil mengacungkan berbagai macam banner bertuliskan nama dan foto candid sang kapten yang seringkali dicuri secara diam-diam.

Namun sayang, rupanya Sasuke sama-sekali tidak akan peduli pada kebarbaran fans-fansnya tersebut. Menggelikan. Entah apa yang sedang dilakukan para gadis itu sekarang, ini kan bukan konser boyband. Melainkan hanya latihan rutin biasa bagi seluruh anggota klub. Kenapa perlu serusuh itu? Ah, sudahlah. Ini memang pemandangan yang sudah tidak aneh lagi.

Tetapi, ada satu hal yang tidak biasa di sana.

Ada seorang gadis berambut pirang dan bermata biru yang sedang duduk cantik pada sebuah bench kosong yang terletak di dalam salah satu sudut lapangan. Benar. Dengan hak istimewa sang kapten, hanya Yamanaka Ino-lah satu-satunya gadis –selain manajer tim- yang telah mengantongi izin untuk memasuki tempat yang dianggap keramat oleh sebagian besar siswa di sekolah itu.

Bahkan sang pelatih pun membolehkan dengan senang hati. Karena menurut pria berumur 30an itu, atmosfir di sana terasa jauh lebih segar dengan kehadiran sang putri sekolah. Terlebih, keberadaan gadis cantik tersebut dapat menyulut semangat para pemain, terutama sang kapten yang tidak biasanya terlihat sangat ceria dan bergairah. BAH.

Tentu saja keberadaan Ino menimbulkan tatapan envy dari sejumlah besar gadis, juga mengundang sorakan senang dari anggota tim football Amerika tersebut. Tapi Ino sama sekali tidak peduli dengan reaksi yang mereka tunjukkan. Pikirannya sedang disibukkan mencari berbagai cara untuk bisa menyelinap kabur dari tempat itu, dan batinnya juga sedang sibuk mengutuki pemuda yang beberapa hari ini telah resmi menjadi pacarnya.

Safir biru Ino kini tengah menatap sebal ke arah Sasuke yang sedang berdiri di tengah lapangan sambil mengenakan kostum lengkap American Football. Si pemuda baru selesai melakukan high five dengan rekan setimnya karena barusan mereka habis mencetak angka.

Saat itu juga, sorakan di belakang Ino semakin terdengar nyaring membahana. Bukannya Ino sedang mencuri dengar, tapi jeritan-jeritan tersebut memang terdengar sangat jelas di gendang telinganya yang malang. Teriakan yang menyatakan Sasuke terlihat kereeeeeen, tamvan, sempurna sekali, bercahaya bagai peri, husbando material, boyfriend goals bahkan 'makhluk yang pasti bukan manusia'~, katanya. Cih.

Tentu saja Ino berpikiran lain. Dengan muka mencibir ia hanya mendelik malas ke arah sang pacar yang sedang diagung-agungkan tersebut sambil merutuk dalam hati. 'Jersey kotor, lusuh, keringatan, bau badan, udik begitu, apanya yang bagus sih? Idiih.'

Ino jadi heran dengan selera gadis muda zaman sekarang.

Ha. Sebenarnya Ino sendiri lah yang memang otaknya agak mahiwal.

Seharusnya, para pemuda anggota tim American football pasti sedang terlihat seksi dan mengagumkan di mata gadis-gadis normal, terutama sang kapten yang selalu tampak bersinar di tengah lapangan. Pemuda populer itu sedang mengenakan jersey bernomor punggung angka 99 lengkap dengan perlengkapan Protective Gears yang berfungsi untuk melindungi dirinya dari benturan, membuat tubuh Sasuke yang memang sudah tegap dari sananya tampak lima kali lebih gagah sekarang. Seharusnya, wanita manapun akan langsung luluh dan meleleh hatinya hanya dengan sekali lihat.

Sayangnya, Ino punya selera yang sungguh unik dan tidak mainstream di antara kalangan gadis normal, karena para pemain itu –terutama Sasuke- malah sedang terlihat kumuh dan dekil di matanya. Ralat. Sasuke sedang terlihat kotor, lusuh, kumal, kumuh, dekil dan udik di matanya. Euuhh.

Tapi bukan penampilan kotor para pemain atau sorakan gaduh para fangirl yang membuat Ino merasa sebal sekarang, melainkan si gadis sedang dongkol karena melihat kelakuan Sasuke yang saat ini sedang berlari-lari ceria di tengah lapangan.

Benar. Ia kesal karena melihat Sasuke yang sedang tampak sehat-sehat saja. Malah kelewat enerjik begitu.

Ino menggeram. Alasannya?

Baru saja siang tadi si pemuda memaksa minta disuapi oleh Ino saat makan siang, dengan alasan tangannya cedera akibat jatuh dari pohon saat mereka kencan kemarin malam. Merasa bertanggung jawab karena tubuhnya lah yang menjadi penyebab cedera si pemuda -karena sudah menindih Sasuke saat jatuh dari pohon-, Ino jadi terpaksa mengiyakan permintaan konyol tersebut dengan hati yang sama sekali tidak rela. Ia juga terpaksa menemani Sasuke selama kegiatan klub ini. Sekali lagi, karena ia merasa bersalah.

Tapi apa yang sedang dilihatnya sekarang? Ternyata Ino sudah dibohongi mentah-mentah.

Lihatlah apa yang sedang dilakukan pemuda tampan itu saat ini. Sasuke sedang bergerak lincah di tengah lapangan saat mengejar bola yang sedang dibawa lari lawan.

Jadi, bagian mana dari diri Sasuke yang sedang cedera? Otaknya? Atau, mentalnya barangkali?

Rugi sudah rasanya Ino percaya bualan Sasuke mengenai kedua tangannya yang konon sedang terluka. Mana pasangan paling hitz di sekolah itu tadi sempat menjadi pusat perhatian seluruh kantin yang heboh menontoni adegan suap-suapan mereka, dengan sangat excited melihat adegan penuh kemesraan pasangan tersebut. Scene yang terbilang langka, bahkan tak pernah terjadi sebelumnya.

Kini batin Ino sedang sibuk merapalkan serangkaian sumpah serapah untuk mengutuki si pemuda. Ia sudah dipermainkan.

Gadis itu masih memandangi Sasuke yang kini sedang tertawa riang gembira sambil kembali meng-high five beberapa rekan satu timnya dengan antusias, karena dirinya sudah berhasil mencetak angka lagi. Padahal Sasuke memang sedang caper saja karena sadar sedang diperhatikan gadisnya. Fufu.

Ino menjadi tambah kesal. Apa perlu ia benar-benar mematahkan sepasang tangan kekar milik pemuda Uchiha itu?

Si gadis mendengus.

Merasa tidak tahan lagi ingin meluapkan kejengkelan, Ino meraih sebuah pelindung kepala yang sedang tergeletak nganggur di atas bangku di sampingnya, dan melempar keras benda malang itu ke tanah lapang di depannya.

GRATAAAKK!

Kaget, teriakan gadis-gadis di belakang Ino sontak mereda. Beberapa pemain cadangan yang berdiri di dekat sana sempat menoleh.

Bunyi gelindingan helm yang terdengar nyaring tersebut sukses membungkam jeritan para fangirl. Mereka langsung diam untuk beberapa saat, dan refleks menatap ngeri ke arah Ino. Dengan memasang raut bersalah di muka, mereka menggigit bibir sekaligus menelan ludah secara serentak. Hm, rupanya para fangirl itu sedang salah mengira.

Bahwa Ino marah akibat mereka menjerit-jeritkan nama sang pacar. Ternyata, Ino bisa posesif juga? Ah, padahal bukan begitu kenyataannya.

Hening beberapa saat.

Ino hanya mengerjap saat sadar ia sudah kelewatan. Dengan polosnya, ia beranjak bangkit dari kursi untuk memungut helm tersebut. Sebelum kembali mendudukkan diri, Ino sempat menengok ke arah gadis-gadis yang sedang tercengang, lalu memberi senyuman super manis tanpa dosa.

Uuuuhhhh. Segera saja khal layak kembali riuh, kali ini jatuh pada pesona kecantikan sang putri sekolah yang memang tiada tandingannya. Sama-sama mereka bersorak lagi, tapi kali ini malah meneriaki nama Ino.

"AAAAA CANTIK SEKALI!" / "INO-SENPAAAAIIII, I HEART YOUUUUUU!" / "INO-SAAAAAAN~"

Para fanboy yang tiba-tiba muncul entah dari mana ikutan nimbrung tak mau kalah, "INO-CHAAN~" / "INO-SWAAAN~~" / "MARRY ME PLEASEEE!"

"BARBIE IS LOVE! BARBIE IS LIFE!" kedua fandom beda gender itu menjeritkan yel-yel bersamaan. Nah, begitu dong. Peace is treasure, no fanwar please.

Ino tidak merespon, masih duduk kalem. Ia hanya menyapu dahinya dengan punggung tangan sambil mendesah pelan. Ah, lama-lama lelah juga mentalnya.

.

.

Mentari di penghujung sore itu mulai tertelan kegelapan petang.

Kegiatan klub sudah usai sedaritadi dan kebanyakan siswa telah bubar. Kini hanya Ino yang tersisa sedang menunggui Sasuke yang masih akan berganti pakaian. Rupanya pemuda tampan itu sengaja membiarkan anggota timnya untuk berbenah terlebih dahulu karena tadi ia sempat berbincang dengan pelatih klub. Konon, kapten memang harus selalu mengalah.

Ah, padahal semesta juga tahu itu hanya modus Sasuke saja. Agar bisa berduaan dengan Ino.

Si gadis kembali merutuk.

Kenapa ia mau-maunya menemani pemuda itu sih? Ngeri juga kan maghrib-maghrib begini Ino masih gentayangan di sekolah. Apalagi cuma berduaan dengan Sasuke saja. Duh.

Sekarang ia sedang duduk di salah satu bangku markas tim football yang sudah kosong itu. Ino tengah menunggui Sasuke yang sedang berganti baju di ruang loker tak jauh dari tempatnya berada. Lima menit kemudian pemuda itu muncul dari balik loker di sebrang sana.

Ebuset, cepat sekali! Pikir Ino sambil mengernyitkan kening. "Kau tidak mandi dulu?" gadis pecinta kebersihan itu refleks bertanya.

"Kenapa harus mandi segala kalau ujung-ujungnya akan pulang ke rumah?" pemuda itu membalikkan.

Euhh, untung tampan.

Saat Sasuke nyaris menghampiri tempat Ino, gadis itu segera berdiri dan refleks melangkah mundur. Si pemuda menaikkan alis.

"Diih dasar jorok!" gerutu Ino sambil meleos pergi.

Tapi langsung ditahan oleh Sasuke. "Kau tahu kan gerakanku terbatas karena sedang cedera? Harusnya kau membantuku . . mandi." dalihnya. Seringaian jahil mengintip dari balik mulutnya.

Hah, dia sedang minta dimandikan? Okey, Ino bisa membuatnya bermandikan darah.

Ino mendengus sambil melayangkan kepalan tangannya ke depan, sebagai gerakan mengancam. "Tak usah berakting lagi deh, kau ingin kubuat cedera betulan?"

Sasuke malah merespon dengan tawa, membuat Ino semakin sebal. Hanya melihat seringaian songong di muka si pemuda saja, yang seakan menyiratkan ekspresi 'Duh, mau dong dicederain~' sudah membuat Ino ingin nampol pakai pantat gayung.

Tapi karena ia tak menemukan keberadaan benda tumpul dan keras disana, kali ini Ino benar-benar bermaksud untuk melancarkan tinju ke rahang pemuda yang masih menyeringai gemas itu. Namun gagal, karena Sasuke segara menangkap lengan si gadis dan menggenggamnya erat.

Si pemuda masih terkekeh sambil onyxnya menatap intens aquamarine si gadis. Lalu sambil melempar seutas senyum maut dan menepuk pelan kepala Ino, Sasuke berkata, "Terimakasih sudah menemaniku latihan." Bisiknya lembut sambil menarik lengan gadis berambut pirang itu untuk menuntunnya pergi ke luar dari ruangan.

GAAHH SASUKE TAHU SAJA KALAU DIAM-DIAM INO SUKA KEPALANYA DITEPUK SAYANG BEGITU!

Ino sempat tercengang. Matanya melebar karena hampir tidak percaya karakter Sasuke bisa berubah menjadi selembut itu jika si gadis tidak menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Sial. Sasuke makin sering dan semakin berani menggodainya seperti sekarang.

Entah sampai kapan imannya, eh, androphobianya akan bertahan.

"Ayo kuantar pulang." Pungkas Sasuke, masih menggandeng tangan gadis itu mesra.

Baaaaaahhh Ino merasa sebaaaaaal karena entah mengapa rasanya ia tidak bisa berbuat apa-apa sekaraaaaaaang!

Lama-lama Ino bisa tidak kuat iman. Bisa goyahlah pula kepolosannyaaaa, yalord.

x x x

Beberapa hari berlalu dan Sasuke masih saja lengket menempeli Ino seperti perangko. Si gadis merasa disiksa pelan-pelan.

Satu-satunya waktu dimana gadis itu bisa terbebas dari jeratan si pemuda adalah selama jam pelajaran memasak, karena Sasuke tidak mengambil mata pelajaran itu. Haha. Makanya Ino harus menikmati jam-jam sakral itu dengan sebaik-baiknya.

Namun sayang, hal-hal yang menyenangkan selalu berakhir cepat.

Bel istirahat berdering nyaring. Ino merasa malas meninggalkan ruang memasak yang masih ditempatinya sekarang. Sakura yakin sahabatnya itu tidak akan pergi jika ia tidak mengeluarkan paksa si gadis pirang dari ruangan berbau harum kue tersebut.

"Seharusnya kau bersyukur Ino, karena sekarang kau sudah punya bodyguard pribadi." Ucap Sakura. Kini mereka sudah berjalan menyusuri koridor, hendak pergi ke kelas untuk menyimpan barang bawaan mereka.

Ino menyikut pinggang gadis berambut pink itu, membuatnya memekik. "Kau tidak lihat aku tersiksa begini?" ujarnya mendramatisir keadaan.

Sakura menatapnya datar, lalu membuang napas. "Sepertinya kau tidak sadar kalau keadaanmu sudah mengalami banyak kemajuan."

Ino menoleh malas ke arah gadis bermata hijau itu. Sambil menaikkan satu alis, ia bertanya, "Ha? Kemajuan apa?"

"Kuperhatikan, kau sudah bisa bermesraan dengan Sasuke-kun tanpa perlu ada masalah lagi sekarang." jawab Sakura polos.

Ino tersedak. BERMESRAAN? Ia langsung menggeplak kepala si sahabat dengan spontan. "ASTAGA JIDAT LEBAR! Jangan mengatakan hal yang bisa membuatku mati keselek begitu dong!"

Sakura yang baru selesai mengaduh langsung menimpali, "JANGAN BERKELIT LAGI INO-PIG! Kenyataannya dia sudah menyembuhkan androphobiamu kan?!"

"HUH?" Ino terjengkang. "Apa maksudmu?!"

"Tanpa kau sadari kau sudah berhenti mual-mual sekarang Ino! Sepertinya phobiamu sudah hampir sembuh!" Keukeuh Sakura. "Apa jangan-jangan kau sudah . ."

"Hah?" Manik biru Ino melebar. Ia baru sadar.

Dipikir-pikir, Ia memang sudah jarang merasa mules mual ingin muntah saat melihat Sasuke sih. INO YAKIN INI KARENA PENGARUH DARI OBAT MUJARAB PENGHILANG RASA MUAL YANG DIKONSUMSINYA BELAKANGAN INI. Ia juga sudah berhenti menggelinjang saat disentuh oleh pemuda itu. INO YAKIN IA HANYA SUDAH TERBIASA DENGAN SASUKE. INO YAKIN IA HANYA SUDAH TERBIASA DENGAN SASUKE. INO YAKIN IA HANYA SUDAH TERBIASA DENGAN SASUKE. Batinnya terus mengulang kalimat itu sampai 10 kali. "Tapi-"

BRUK.

Karena sibuk mengobrol, dua gadis itu sampai tidak sadar bahwa mereka terus berjalan tanpa melihat ke depan, sampai Ino menabrak seseorang.

"Duh,"

Tubrukan yang lumayan keras itu membuat Ino nyaris terpental. Tubuh gadis berambut pirang itu hampir jatuh terjengkang ke belakang.

Heee?

Ino yang sadar tubuhnya sedang oleng, segera membelalakan mata.

Greb.

Beruntung, seseorang yang tadi ditabrak oleh gadis itu segera menangkap lengannya. Ino memekik saat melihat seorang pemuda yang ternyata ia kenal, kini sedang menahan tangannya agar tubuhnya tidak jatuh.

Yang ternyata adalah kapten tim basket putra, Gaara.

Pemuda berambut merah itu ikut terkesiap saat melihat siapa gadis yang kini sedang dibantunya. "Yamanaka Ino?" Kagetnya. Entah mengapa lelaki stoik itu mendadak terlihat langsung berblushing ria sekarang. Um, disini Gaara bisa manis juga ternyata.

Bukannya segera menarik Ino untuk menegakkan tubuh gadis itu, Gaara malah sibuk tercengang menatap kecantikan Ino sambil tetap menggenggam tangan mulus si gadis. Alhasil, kini mereka sedang saling tatap-tatapan dengan mata yang sedang sama-sama melebar.

Di samping mereka, Sakura hanya berkedip-kedip menyaksikan adegan 'tahan-menahan supaya tidak jatuh' yang tampak seperti salah satu scene di film-film. Ah, gadis bermanik emerald itu tiba-tiba merasa seperti sedang menonton drama korea saja.

Ino mengerjap. Ia sadar tangannya sedang digenggam sekarang. Oleh Gaara. Seorang lelaki. Jika benar androphobianya sudah mulai sembuh, maka seharusnya efek dari phobianya tidak akan timbul lagi kan? Seharusnya gadis itu sudah bisa dipegang-pegang oleh lelaki, begitu?

Tapi Ino salah besar. Phobianya masih bekerja. Segera saja setelah ia berpikir demikian, Ino merasa sengatan lisrik bervoltage cukup tinggi sedang menyetrum tangannya, dan hawa dingin kutub utara mendadak menghantamnya, membuat ia menggigil.

"Aaakh!" Ino menjerit dan langsung menarik tangannya. Menyebabkan tubuhnya benar-benar akan jatuh karena sudah tidak ada lagi yang menahan.

Gaara terkesiap, ia hendak kembali menangkap Ino namun gadis itu jelas-jelas menampik lengannya. Ino memejamkan mata. Lebih baik ia jatuh menyakitkan daripada harus disentuh oleh lelaki -mental seorang pengidap androphobianya kembali-. Ino yakin sebentar lagi pantatnya akan mencium permukaan keras lantai. Gadis itu meringis, menyiapkan diri.

Blugh.

Tapi tidak jadi. Ino merasa pundaknya direngkuh dari belakang dan punggungnya menabrak dada seseorang. Gadis itu melongok dan menemukan Sasuke lah yang sedang menahan tubuhnya dari belakang. Hero always comes, yah.

"Sasuke-kun?" gumamnya.

Sasuke menunduk dan langsung melempari gadis itu dengan tatapan tajam setajam silet. "Sedang apa kau?"

"Ha?" Ino mengernyit, menyadari ekspresi jengkel yang dipasang oleh si pemuda.

Kemudian, Sasuke menegakkan kepala dan memandang lelaki di depannya. Ia berdecak kesal, lalu tanpa ada aba-aba, satu tangan Sasuke melingkari pinggang Ino dan langsung memanggul tubuh si gadis dalam satu ayunan.

"Whaa!" Ino refleks menjerit. Saat sadar, kini tangannya sedang menangkup punggung pemuda berambut hitam itu. Rupanya, Sasuke telah memanggul tubuh Ino di pundak lebarnya seolah gadis itu tidak ada beda dengan karung beras saja. Spontan, si gadis langsung memukul-mukul punggung pemuda itu.

"Apa yang kau lakukan?! Turunkan akuuu!" Ino meronta. "Hmph!" dan langsung memekik ketika ia merasakan satu tangan Sasuke yang lain sedang menangkup pahanya. "Hey!"

Padahal, Sasuke hanya sedang menghalau rok pacarnya itu supaya tidak terbuka lebar dan menjadi konsumsi lelaki serigala bermata panda di depannya itu.

Sekali lagi, Sasuke melempari Gaara dengan tatapan sedingin es antartika, lalu memutar tubuhnya untuk memunggungi sang kapten klub basket dan segera berjalan pergi menjauh dari sana. Maka, tubuh bagian depan Ino -yang sedang nangklok sempurna di pundak Sasuke- kini sudah berputar menghadap ke arah Gaara dan Sakura. Sambil memasang raut miris, Ino mengulurkan satu tangannya ke depan dan menggumamkan rintihan untuk meraih dan memanggil nama sahabatnya, meminta pertolongan. "Sakuraaaaa~" lirihnya.

Tapi sang sahabat tidak bisa melakukan apapun. Ia dan Gaara belum juga bereaksi, karena masih sibuk tercengang melihat kelakuan pasangan kekasih itu.

Sungguh posesif dan protektif sekali.

.

.

Ino berjongkok sambil masih menangkupkan kedua tangan untuk menyembunyikan wajahnya. "Kau tidak perlu memanggulku begitu kan!" Jerit Ino untuk ketiga kalinya. "Bikin malu saja!" keluhnya lagi. Sepanjang jalan tadi mereka berhasil menjadi tontonan siswa-siswi yang haus kasih sayang.

Kini Sasuke dan Ino sedang berada di lantai paling atas bangunan sekolah, yaitu atap gedung. Si pemuda sengaja membawa Ino pergi ke sana, agar tidak ada lagi yang bisa mengganggu mereka.

Sasuke mendudukan diri dan menyenderkan punggungnya ke dinding, tidak jauh dari tempat si gadis berada. "Kau malu karena digendong pacarmu tapi tidak malu saat terang-terangan selingkuh di depan umum?" timpalnya geram.

"Ha?" Ino langsung menurunkan tangannya, "Siapa yang selingkuh? Kau pikir aku perempuan rendahan?!" jeritnya tidak terima.

"Lalu adegan tarik-tarikan tangan tadi itu apa? Kalian sedang main india-indiaan?" Rupanya Sasuke melihat adegan itu.

Kepala Ino kejengkang. "Kau tidak lihat tadi aku hampir jatuh? Gaara-kun hanya menolongku!" Sangkalnya, sambil satu tangan meninju lantai atap.

Lagian, kenapa pula Ino merasa ia harus meluruskan kesalahpahaman ini? Seharusnya ia tak usah repot dengan sangkaan Sasuke kan, toh mereka pacaran juga bukan berdasar pada perasaan. Jika mereka berakhir putus juga semesta malah akan senang. Ino mendengus. Gadis itu yakin dirinya hanya sedang membersihkan namanya saja.

Sasuke mendecak saat nama mantan rivalnya itu disebut. Tapi sedetik kemudian, ia membuang napas panjang. "Aku sudah lelah hubungan kita terus diisi dengan pertengkaran anjing dan kucing yang tidak berguna seperti ini."

Ha? Ino dibuat keheranan saat Sasuke tiba-tiba saja mencurahkan isi pikirannya.

"Apa kita tidak bisa berpacaran dengan wajar seperti orang-orang?" Sasuke melanjutkan.

Ino mengernyit. "Jika kau ingin punya hubungan normal seharusnya kau pacaran saja sama gadis normal sana! Kenapa juga musti repot-repot memaksa orang yang punya androphobia untuk jadi pacarmu, ha?"

Jleb. Benar juga.

"Jadi sekarang kau mengaku kau tidak normal, huh?"

Euh.

"Enak saja! Maksudku, kau bisa pilih gadis mana pun untuk dipacari, tapi kenapa aku? Sudah tahu aku benci-"

"Tapi hanya kau yang aku sukai." Potong Sasuke. "Sudah kubilang kan, aku menyukaimu, Ino." Lanjutnya.

Safir biru Ino melebar, lalu ia segera memalingkan muka. "J-jangan bercanda dengan muka datar seper-"

"Aku tidak sedang bercanda. Kau tahu itu." sahut Sasuke. Ia bergeser lalu menyondongkan tubuhnya ke arah si gadis sambil satu tangannya menangkup dagu Ino, untuk membuat gadis itu kembali menatapnya. "Jadi bagaimana jawabanmu?"

Sontak Ino menghempaskan tangan Sasuke dari wajahnya. "Hm?" Dengan polosnya ia balik bertanya, "Jawaban apa?"

Glek. Sasuke merasa ditoyor.

"Tentu saja jawaban atas pengakuanku seminggu lalu! Kubilang aku menyukaimu kan, bahkan sudah kukatakan sepuluh kali sampai barusan. Tapi kau belum juga menjawab apapun. Ini sudah seminggu, Ya tuhan. Asal kau tahu, itu pertama kalinya aku menyatakan perasaan tahu!"

Ino mengerutkan dahi. "Terus? Aku harus ngapain? Bilang WOW sambil koprol, gitu?"

Eergh, YAELAH! Gadis ini benar-benar . . minta dicium.

Flashback. Sebelumnya, di kencan pertama mereka, Sasuke telah mengakui perasaannya pada Ino dengan cara yang bisa dibilang sangat . . romantis. Si pemuda tersenyum lembut pada si gadis sambil membelai sayang pipi gadis itu, sembari membisikkan kata hatinya dengan suara super halus yang bisa membuat bulu kuduk wanita mana pun berdiri. Siapa coba yang hatinya tidak akan berhasil diluluh-lantah dan diporak-porandakan saat diperlakukan demikian? Oleh pemuda tampan lagi.

Ah, tapi sayang. Hanya gadis normal saja yang akan menganggap kejadian itu romantis. Bukan gadis semacam Ino. Karena bagaimana pun, dari kacamata nona Yamanaka itu, si pemuda malah dianggap telah memilih posisi, kondisi dan waktu yang 'nggak banget' untuk menyatakan perasaan.

Yaiyalah, masa KTC sambil tiduran di atas tanah taman kota, sesaat setelah jatuh dari pohon, dan di malam jumat pula? Lengkap sudah 'nggak banget'nya. Bye.

Pelipis Sasuke mulai berkedut. "Setidaknya, bilang kek, kalau kau juga menyukaiku."

"Apa? Kenapa kau mempermasalahkan hal sepele seperti itu disaat kita sudah pacaran? Jangan seperti bocah ABG yang baru tahu cinta-cintaan dong!"

Jleb. Sekali lagi jantung Sasuke terasa disemat ratusan tusuk sate.

"Lagipula, sudah kubilang kan aku membenci-"

GRAB.

Sasuke menangkap kedua lengan Ino. Ia sedang bertumpu di lutut, sambil semakin menyondongkan tubuhnya ke depan, ke arah gadis itu. "Benar juga." Sasuke menyeringai, membuat Ino merinding. "Kalau kita sudah pacaran, berarti aku boleh menyukaimu sesuka hati dong?"

Ino terkesiap. Ia melebarkan matanya lagi. "A-apa-"

"Bukannya kau ingin phobiamu disembuhkan?" Sasuke menatap Ino tajam, membuat si gadis menelan ludah. "Jika begitu . . Bagaimana kalau aku mulai memberimu terapi spesial sekarang?" lanjutnya, semakin maju mendekati Ino.

"Hah?" Ino merasa tubuhnya tiba-tiba tidak bisa digerakkan. "Ah, er . ." Rasanya gadis itu mendadak dilanda gugup. Kenapa? Pasti karena Sasuke sedang menatapnya sedekat itu, sambil tubuhnya sendiri pelan-pelan dipojokkan ke tembok. Tapi Ino tak juga meronta. Apa yang salah dengannya? Aaaaaa. Ia tidak paham.

"A-apa yang akan kau lakukan?" Ino mulai bicara terbata. Aquanya melebar sambil bergerak acak ke berbagai arah. ia tahu apa yang akan dilakukan Sasuke, karena pemuda itu terus mendekatkan wajah tampannya ke arah wajahnya sendiri. Tapi ia tetap saja bertanya. "A-aku bi-bisa kambuh la-"

Sasuke menggeleng, lalu kembali tersenyum. "Kau sudah tidak apa-apa saat dipegang olehku sekarang."

Kali ini Ino yang menggeleng, karena ngeri. "I-itu karena kau yang memaksa pegang-pegang," ucapnya, menelan ludah.

"Kalau begitu, yang seperti ini juga harus dipaksa."

Ergh, Ino mengernyit. "Ta-tapi-"

"Ayo kita coba." Putus pemuda itu sepihak. "Hentikan aku saat kau sudah tidak sanggup lagi." Bisik Sasuke.

"A-aa. ."

Sasuke mendekat.

Keringat dingin mulai mengucur di dahi Ino. "U-uum."

Pemuda itu semakin dekat.

Ino mulai bergerak tidak nyaman.

Tambah dekat.

Sasuke melepas satu tangan Ino, lalu membelai lembut rambut pirangnya, sebelum akhirnya menangkupkan tangan di sebelah pipi gadis itu, dan mengelus-elusnya.

Aaaaaa. Si gadis merasa napasnya tercekat.

"Jangan lupa bernapas," bisik Sasuke, mengingatkan. Tapi tetap saja gadis itu merasa susah menghela napas.

Ino mulai gemetar.

Jarak mereka tinggal . . Lima sentimeter, keduanya bertatapan.

Deg.

Empat sentimeter, wajah mereka berdekatan.

Deg.

Tiga sentimemeter, bibir mereka mulai berdekatan.

Deg. Deg.

Dua sentimeter, hidung mereka bersentuhan. Ino memekik. Sepasang obsidian hitam dan safir biru milik keduanya masih terbuka. Seolah, tak ada yang mau melewatkan momen ini dan menutup mata duluan.

Dua sentimeter. "He. .mm," Kepala Ino mulai pening.

Satu sentimeter. Mata Ino mulai berputar-putar.

Tinggal sedikit lagi . .

Ah!

BLUGH!

Ino mendorong tubuh Sasuke menjauh. "MA-" Napasnya terengah. "MATI. Aku mati."

"Mati?" Sasuke mematung. "Maksudnya kau menyerah? Sudah tidak sanggup?"

Ino mengangguk cepat, belum juga mengangkat wajahnya.

"Ah," Sayang sekali. Sasuke kecewa. "Hanya segini?" gumamnya, membuat jarak satu sensimeter menggunakan telunjuk dan ibu jarinya, jarak yang tersisa diantara mereka. Tinggal sedikit lagi padahal . .

"He-hentikan ini." lirih Ino, masih menundukkan wajahnya.

"Haaa . ." Sasuke membuang napas. "Oke. Mari lakukan pelan-pelan." Ia menyeringai. Setidaknya Ino sudah benar-benar kehilangan rasa mualnya sekarang.

Sementara Ino masih kesulitan menata napasanya.

"Hey, kau tidak apa-apa?" Sasuke hendak mengecek kondisi gadis itu, tapi Ino malah mendorongnya keras.

"Menjauh dariku!" Jeritnya.

"HA? Kenapa kau malah mengasariku?" Sasuke tidak terima.

Ino segera mengangkat kedua siku tangannya untuk menutupi wajah, "Ja-jangan mendekat lagi," suaranya bergetar.

Sontak onyx Sasuke melebar saat melihat Ino mulai gemetaran. Gadis itu menangis? Segera saja si pemuda meraih kedua tangan Ino dan menurunkannya, berusaha melihat wajah si gadis.

Sasuke jadi panik, langsung merasa bersalah. "Maaf,"

Dilihat si pemuda, Ino masih membekap mulutnya, tapi kali ini Sasuke sudah bisa melihat jelas wajah cantiknya dan ekspresi yang sedang terlukis disana. O'EMJI! Alangkah terkejutnya pemuda itu saat melihat si gadis sedang memasang ekspresi seperti sekarang.

"Rasanya aku . . . penuh dosaaa," rintih Ino, wajah ayunya sedang merona semerah tomat.

Dag.

Dig.

Dug.

DEEEERRR!

Sasuke langsung mengesot mundur satu meter ke belakang dan berputar memunggungi Ino sambil refleks menempelkan punggung lengan di dahinya.

Huf. Huf. Huf. Huf.

D-debaran apa ini?

Jantungnya ini, ulu hati ini, ginjal ini, empedu ini . . mengapa rasanya mendadak sedang berdenyut-denyut cepat?

Ciaaaahhh dag dig dugnya sampai ke ginjal dan empedu segala. Ppftt.

Whoaaa. Apa yang sedang terjadi? Kini napas Sasuke ikutan terengah. Ino sedang tersipu menggemaskan di belakangnya, terlihat manis sekali. Sasuke kembali menoleh ke belakang untuk mencuri-curi pandang.

Saat ini gadis itu sedang memalingkan muka. Dari jauh pun, wajahnya masih tampak merah, satu tangan masih menutup setengah bagian mulutnya. AH, CANTIK, MANIS, IMUT DAN MENGGEMASKAN SEKALI.

Nyuuut. Tangan Sasuke menangkup dadanya yang tiba-tiba terasa berdesir menyelekit aneh. S-sepertinya saat ini . . wajahnya sedang ikutan merona.

Ugh. Sasuke memukul-mukul ubun-ubunnya dengan kepalan tangan. Apa yang sedang terjadi padanya? Sasuke yakin dirinya benar-benar sedang terlihat OOC sekali.

Hah. Huh. Hah. Huh. Tu wa tu wa (satu dua satu dua, maksudnya). Sasuke berusaha keras mengatur kembali napasnya.

"Sasuke-kun,"

Yang dipanggil melonjak. Sasuke langsung menoleh.

"Jam pelajaran baru akan segera dimulai, aku harus pergi." Ucap Ino cepat, Ia segera bangkit berdiri.

HE?

Sasuke ikut beranjak dan . . bukan lagi menahan lengan gadis itu untuk tidak pergi, kini tanpa ragu Sasuke menarik tubuh Ino ke dalam rangkulan. Ino tersentak. "Gyaaaaa!"

"HAHAHAHA."

Eh? Ino mengerjap. Jika ia tidak sedang salah dengar, Sasuke malah sedang . . tertawa sekarang.

"Aku benar-benar menyukaimu, Ino." ucap pemuda itu out of nowhere.

Eeerrgh. Guratan merah kembali muncul di pipi putih Ino. "Ah, uh, umm," Ia tiba-tiba kehilangan kata, dan langsung bergerak tidak nyaman, berusaha melepaskan diri dari dekapan pemuda itu.

"A-aku membencimu." Ucap gadis itu cepat.

Sasuke tertawa lagi, membuat Ino –entah mengapa- menjadi salah tingkah. Sekarang pemuda itu menunduk dan memandangi Ino dengan tatapan intens. "Jangan bohong. Kau sudah balik menyukaiku."

Gadis itu berjengit. "A-apa?"

Sasuke melonggarkan pelukannya sambil masih terkekeh. Ia menyipitkan mata. "Jantungmu sedang berdegup kencang sekarang. Benar kan?"

BENAR SEKALI DUGAAN ANDA.

Ino menggigit bibirnya. Ia mencoba mendorong tubuh Sasuke lagi, "Lepas-"

"Tak akan kulepaskan sebelum kau mengaku."

Lagian, tidak salah kan kalau seorang lelaki ingin peluk-peluk perempuan yang ia sukai? Khukhu. Sasuke cant help it. Itu Naluriah. Ah, alasan~

Ino kembali berjengit. "Ta-tapi aku tidak tahu." Gumamnya. "Sasuke-kun, lepaskan-"

Tetapi Sasuke malah kembali memeluknya sambil meletakkan kepalanya di pundak Ino segala, membuat gadis itu menjerit lagi. "Kyaaa!" Refleks Ino menutupi wajahnya yang sedang bersemu merah dengan telapak tangan. Ino tidak bohong. Ia tidak tahu dengan apa yang ia rasakan saat ini. seharusnya ia membenci pemuda itu, dan juga benci dipeluk-peluk olehnya, tapi sekarang Ino tidak tahu lagi. Perasaannya sedang campur aduk.

"Kau kenapa? Apa susahnya, kau tinggal mengaku saja. Cepat katakan, aku sudah tidak tahan ingin mendengarnya dari mulutmu." Gumam pemuda itu. Suaranya teredam pundak si gadis. Sasuke mengambil napas dalam. Ia suka aroma harum kue yang masih melekat di baju gadis itu.

Rasanya Ino ingin menangis. Kenapa ia tidak pingsan saja sekalian? Ia yakin kondisinya sedang memalukan sekarang. "A-aku tidak mengerti cinta-cintaan. Aku tidak pernah merasakannya. Ha-habis, hatiku masih suci." Jawab Ino pada akhirnya.

JIAAAHHAHAHAHA.

Sasuke tertawa lagi, kali ini sambil mengangkat kepalanya dan kembali menatap Ino. "Kalau begitu, kau sudah membuat hatiku sudah tidak polos lagi, Ino." Ucapnya. "Kau harus bertanggung jawab."

"A-apa yang kau katakan?" Ino masih berusaha melepaskan diri, meski dengan rontaan yang semakin melemah.

Sasuke tersenyum. "Akan kubuat kau mengucapkannya." Bisiknya, masih bermimik serius. "Kalau kau juga menyukaiku."

QWERTYUIOPASDFGHJKLZXCVBNM! ENTAH MENGAPA RASANYA INO INGIN MELEDAK SAAT ITU JUGA!

Untuk beberapa detik selanjutnya, mereka hanya bertatapan. Sampai . .

KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNGGGGGGGGGGGGG!

Bel masuk jam siang berbunyi keras. Membuat Ino dan Sasuke sama-sama melonjak dan refleks saling melepaskan diri.

Ah, ganggu saja.

Sasuke menengok lagi ke arah Ino, membuat gadis itu refleks memalingkan muka.

"Ingat, kau tidak akan bisa kabur dariku." Deklarasi si pemuda. "Ino."

.

.

.

-TBC-


Hai, jumpa lagi dengan vika. Maaf baru bisa update. Aku sudah jelaskan sedikit alasannya di BLEND X BOND, mohon pengertiannya aja hehe. Pokoknya, hontou ni, gomen ne.

DISINI UDAH KERASA ROMENSNYA KAN YA KAAAAANNNN YAAAAA? AKU PENGEN TAHU PENDAPAT KALIAN READERKU TERSAYAAAAAANG :*

Jangan lupa kasih review, THANKS A LOT~

Salam.

Ps. Jersey no 99 itu punya xiumin EXO dan angka 99 adalah number tag milik Killua Zoldyck.


-Kolom balas review reader yang tidak login-

xoxo : asiiik masih bisa bikin senyum XD

JelLyFisH : emaaang udah melting duluan hahaha itu udah ada getarannya, mungkin bentar lagi ino bakal bilang suka XD entahlah, baca terus aja yaak

inori Uchiha : wah canon yaa? Sebenernya aku belum bisa move on dari canonnya sasu hiks jadi untuk sementara ini belum bisaaa. Aku masih mau ngerampungin cerita2 yg masih tbc dulu, mungkin suatu saat nanti yaa *tapi ga janji maafkaaan*

sasuino23 : senang bisa menghibur hehe disini mereka udah tambah dekaaaat lol wokeeeyyy aku usahakan~

Kiku-chan kawaii : maafin aku yang juga terlambat apdet hiks maaf juga udah bikin jamuran :( chap ini tambah greget ga? Whehe okeey makasih semangatnyaaa

alfan domani : ini udah lanjut yaaa maafin lamaa

Sweetty : makasiiiih hehe chap ini udah sweet belum? XD

Komengtator : haloo ketemu lagi :) makasiiih aku juga dibikin geregetaaaan XD

amayy : okeey cintaa :*

Juwita830 : makasiihh sipooo

domani : ini udah lanjut yaaaa hiks maafkan lama

See you in next chap.


Updated : 01/11/16