Disclamer: selalu jadi milik Masashi Kishimoto

Rated: T

Pairing: SakuSasu, NaruHina, InoShikaTema

Warning: TYPO, OOC, diksi jelek, CERITA JELEK, AU, BAHASA TIDAK JELAS DSB kekurangan yang lain

REPENT AND CHANGE : BY KURO MIE MI

Selamat membaca

Jangan lupa review yah.


Flashback

Langit berwarna kelabu, jutaan tetes air itu menghantam tanah, bembuat suara-suara kecil khasnya.

Warna gelap mendominasi mereka, wajah penuh duka yang mereka tampilkan kala memandang sebuah batu nisan yang berada di depan mereka.

Setelah mengusap batu nisan itu untuk yang kesekian kalinya, dan menitihkan airmata untuk kepergian orang itu, mereka segera meninggalkan batu nisan itu.

Mereka beriringan memasuki sebuah mobil mewah berwarna hitam.

Payung hitam itu pun menutup saat kaki-kaki itu memasuki mobil berinterior mewah itu.

Tak ada yang berani membuka suara, mereka terlalu larut dalam kesedihan.

Gadis merah jambu yang kira-kira berusia dua belas tahun itu menggengam erat tangan seorang gadis berambut hitam yang dua belas tahun lebih tua darinya.

Gadis merah jambu itu menundukan kepala, ia benar-benar merasa sangat terpukul.

"Sakura, semuanya akan baik-baik saja," gadis berambut hitam itu mengelus-elus pelan rambut Sakura nama gadis merah jambu itu.

Sakura memandang wanita itu, ia mengguk kemudian tersenyum sendu pada kakaknya, "Aku baik-baik saja onee-chan."

Shizune membalas senyum adiknya itu, "Aku yakin Nenek akan bahagia bertemu Ibu dan Ayah disana!"

Gadis merah jambu itu mengguk, ia tak mau berlarut-larut dalam kesedihan karena hal itu akan membuat kedua Kakaknya mengkhawatirkanya, setidaknya itu yang dia pikirkan.

Tapi apa benar mereka akan mengkhawatirkan mu?

"Berhenti tersenyum seperti itu Sakura!" suara berat khas remaja lelaki terdengar.

Gadis merah jambu itu memandang dengan panuh tanda tanya kepada pemuda yang baru saja menegurnya.

"Apa maksut Onii-chan?" tanya Sakura lugu.

Pemuda berambut merah dengan iris coklat itu memandang tajam Sakura.

"Berhenti tersenyum! Aku benci senyuman itu!" bentak pemuda itu.

Kedua iris berbeda warna yang berada disana membelalak.

"Kau! Kau masih bisa tersenyum setelah kejadian ini! Menyebalkan! Kau pikir karena siapa Ne—"

Plak

Sebuah tamparan keras mengenai pipi pemuda berambut merah itu.

Tatapan amarah iris onyx itu mengintimidasi pemuda itu untuk melawan.

"Cukup Sasori!" perintah Shizune, ia memandang kasihan kearah Sakura yang menangis dalam diam.

Tangan lembutnya merengkuh tubuh mungil yang bergetar itu, mengusap pudak kecil itu, memberinya ketenangan.

"Tak apa Sakura, ini bukan salahmu, ini memang sudah ditakdirkan," bisiknya lembut.

Pemuda berambut merah itu memalingkan wajahnya, tak ingin melihat pemandangan itu.

Setelah beberapa menit berlalu, mobil yang mereka tumpangi telah memasuki pekarangan rumah yang terlihat sangat luas.

Pintu otomatis itu terbuka dengan sendirinya.

Sasori segera saja keluar dari dalam mobil itu, diikuti dengan Shizune dan Sakura dibelakangnya.

Tak jauh didepan mereka telah berdiri seorang lelaki tua dengan seorang pemuda berambut hitam klimis.

Pemuda itu tersenyum kerarah mereka bertiga.

Sakura, Sasori, dan juga Shizune berhenti tepat di depan kedua orang itu.

Shizune membungkuk memberikan hormat pada lelaki tua itu.

Sedangkan Sasori dan Sakura memandang bingung kedua orang itu.

"Lama tak bertemu Kakek Danzo!" sapa Shizune pada lelaki tua itu.

Danzo tersenyum pada Shizune, "Shizune yah? Kau sudah jauh lebih dewasa dari terakhir kali aku bertemu dengan mu!"

Shizune hanya tersenyum, kemudian ia memandang kedua adiknya bergantian.

"Beliau ini adalah Shimura Danzo, orang yang dulu sering membantu keluarga kita saat dalam kesulitan, kita banyak berhutang padanya." ujar Shizune.

"Ah kau terlalu berlebihan Shizune," kilah danzo.

Ia menatap kedua anak yang berada di depanya bergantian.

"Perkenalkan aku Danzo, wali kalian setelah ini, dan ini-" Danzo menunjuk pemuda yang berada di sampingnya.

"Cucukku Shimura Sai!"

Sai menjulurkan tanganya pada Sasori, sedangkan Sasori menepis tangan itu dan melewati mereka begitu saja.

"Sepertinya ini sangat berat untuknya," ujar Shizune tak enak.

Danzo dan Sai tersenyum maklum.

"Sebaiknya kita bicara di dalam!" ajak Shizune pada Danzo, dan merekapun meninggalkan Sakura dan Sai di tempat itu.

Sai mendekati Sakura, "Namamu, Sakura yah?" tanyanya pada gadis itu.

Sakura mengguk mengiyakan pertanyaan dari pemuda yang usianya sekitar enam tahun diatasnya itu.

Pemuda itu mengusap kepala merah jambu milik gadis itu, seraya memberikan senyum tulus, tentu senyum yang sangat berbeda dari senyum yang biasanya ia tunjukan pada orang lain.

"Nama yang sangat cocok untukmu!" lanjut Sai.

"A-Arigatou!" Sakura bersemu merah, gadis itu menundukan kepala malu.

"Kita akan menjadi saudara mulai sekarang! Tak usah sekaku itu, panggil aku Onii-chan"

Sakura mendongakan kepala,"O—onii-chan!" ucap gadis itu.

Sai tersenyum dan bergumam pelan menyahuti panggilan itu.

'—ra!'

'—kura!'

End flashback

"Sakura!"

Gadis itu mengerjapkan emeraldnya beberapa kali, menyadari dirinya melamun tadi.

"Sebenarnya kau kenapa? tadi dikelas juga kau melamun memandangi Sai-sensai, apa kau mengenal orang itu?" tanya gadis berambut blonde pada Sakura.

Mereka kini telah berada di kamar asrama yang menjadi tempat tinggal mereka bertiga.

Sakura mendengus pelan, "Aku hanya, em maksutku hanya pernah melihanya di suatu tempat," bohongnya.

Hinata mendudukan dirinya di ranjang ungu miliknya, "Tentu saja Sakura-chan pernah melihatnya, dia kan yang menyelamatkanmu waktu itu!"

"Hah? Be-benarkan?" kedua emerald itu membelalak mendengar hal yang baru saja dikatakan oleh salah satu sahabatnya itu.

"Eh? Sakura-chan benar tidak tahu ya?" tanya Hinata heran.

"Oh iya, dia pemuda pucat yang waktu itu, pantas wajahnya familiar," timpal Ino yang kini tengkurap di ranjang miliknya.

Hinata menggelengkan kepala heran menatap Ino.

Kemudian kedua lavender itu segera saja berpaling pada gadis berambut hitam disana, "Kau harus berterimakasih padanya nanti Sakura-chan!" ujar ujarnya pada gadis itu.

Gadis itu terdiam, tidak ia sedang memikirkan sesuatu.

Detik berikutnya kepala hitam itu menggeleng, kemudian ia membaringkan tubuhnya pada ranjang miliknya, 'Apa Sai-nii mengenaliku yah?' batinya.

Memori lampau kembali berputar di kepalanya.

Flashback

Sakura, kelopak merah muda itu berjatuhan, membuat nuansa tersendiri disana.

Hal itu tentunya tak disia-siakan oleh seorang seniman, langsung saja seniman muda itu mendudukan dirinya di tempat yang menurutnya cocok.

Tangan itu dengan cekatan mempersiapkan alat-alat yang dia perlukan.

Tak perlu waktu lama, perlengkapan untuk memulai kegiatanya kini telah seesai ia persiapkan.

Mulai dangan sebuah goresan kecil pada kanfas putih itu, kemudian satu goresan lagi, dan lama kelamaan goresan itu membentuk sebuah karaya indah dengan nuansa damai di dalamnya.

Sakura, gadis yang sedari tadi memperhatikan seniman itu dari kejauhan kini berjalan menghampiri seniman itu.

Tanganya membawa nampan kecil yang berisi segelas air berwarna bening.

"Onii-chan!" sapanya pada pemuda itu.

Sai seniman muda itu mengengokan kepala, menatap seorang gadis yang setengah tahun ini menjadi adik itu, tak lupa dangan sebuah senyum di wajahnya.

"Minum dulu!" gadis itu menyodorkan gelas itu pada Sai.

Sai menyempatkan diri untuk meneguk air tersebut, kemudian menaruh gelas itu di atas sebuah meja kecil yang tak jauh darinya.

Mereka kini berada di sebuah taman kecil yang berada di pekarangan rumah mewah milik klan Haruno.

Kedua Emerald milik gadis itu menatap kagum karya sang kakak.

"Lukisan yang sangat indah Nii!" pujinya penuh bangga.

"Ini belum seberapa!" kilah pemuda itu.

Sakura menggeleng pelan, "Ini sudah sangat sempurna."

Mereka sudah bersama-sama sejak enam bulan yang lalu, menjalin hubungan kakak-adik yang sangat akrab.

"Hahah, kau ini!" ujar Sai.

"Aku ingin bisa lebih baik dari ini!" tangan itu masih terus menambahkan beberapa warna pada kanfas itu.

"Makanya aku masih harus belajar, mencari ilmu kemana pun!" lanjutnya.

Sakura hanya diam mendengarkan celoteh kakaknya.

"Termasuk keluar kota!"

Emerald itu serentak menengok, "Keluar kota?" ulangnya.

Sai mengguk, "Iya, mungkin bulan depan, aku dapat beasiswa masuk sekolah seni tapi di Iwa"

Gadis emerald itu menunduk, "Kenapa? Kenapa tidak di Suna?" gumamnya pelan

"Beasiswanya di Iwa Sakura!" jawabnya.

Gadis itu mendongakan kepala lagi, "Lama tidak?" tanyanya.

Sakura memang sudah sangat dekat dengannya, baginya Sai adalah sosok kakak yang sangat ia sayangi, ia tak ingin jauh dari orang yang ia sayangi, sebisa mungkin ia ingin bersama-sama dengan orang itu terus.

"Sepertinya cukup lama," jujur pemuda itu.

Sakura menggelengkan kepala, emeraldnya kini berair.

"Sakura jangan menangis—" Sai mengusap pelan kepala Sakura.

"Onii-chan nanti sering main ke sini kok!" lanjutnya.

Gadis merah muda itu mengelap airmatanya, tak ingin terlihat cengeng didepan kakaknya, biar bagaimanapun ia tak ingin menyusahkan kakaknya, dan ia ingin kakaknya mendapatkan apa yang kakaknya inginkan, ya walaupun ia harus kehilangan orang yang berharga lagi.

End flashback

Sakura mendudukan posisinya lagi, "Kalau dipikir-pikir sudah lama juga aku tak bertemu dengannya!" gumam gadis itu

sontak kedua sahabatnya yang sedang asik mengobrol ria memandangnya heran.

"Sudah lama tak bertemu dengan siapa?" tanya Ino.

"Eh? It-u Onii-chanku!" jawab Sakura gagap.

Hinata dan Ino saling bertukar pandangan—merasakan sesuatu yang aneh.

Gadis indigo itu menatap dalam dalam kedua Emerald Sakura "Sakura-chan pasti sangat merindukan Onii-channya yah," gadis itu mendekat kemudian memeluk tubuh Sakura.

Ino ikut memeluk Sakura, tanganya mengusap-usap pelah rambut hitam itu.

Perlakuan ini membuat Sakura bingungung, ia bingung sebenarnya mengapa kedua sehabatnya ini terlihat sedih saat ia membicarakan kakaknya, "Em ano, kalian sebenarnya kenapa?" tanyanya lugu.

"Tak apa Sakura, kami sebagai sahabat mengerti, jadi menangislah!" ucap Ino lembut.

Sakura semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan kedua gadis itu, disisi lain ia merasa sangat senang mendengar perkataan mereka, ia yakin kedua gadis ini tulus menjadi temanya.

"Onii-chanmu, pasti selalu mengawasimu di alam sana"

Dor.

Kedua emerald itu membelalak, tangan mungil itu melepaskan pelukan dari kedua gadis berbeda gen itu.

Ia menatap kedua iris lain warna itu bergantian "Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya dengan nada bingung.

Ino, dan Hinata bertukar pandangan—bingung.

"Ka-kami hanya menghibur Sakura-chan yang sedang merindukan onii-chanmu," jawab Hinata.

"Kami tahu dari Anko-sensei kalau kau sudah tidak punya keluarga, jadi kau pasti merindukan mereka, makanya kami menghiburmu," lanjut Ino.

Sakura berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

Cuplikan ingatan saat ia pertama kali masuk ke sekolah ini pun terputar dikepalanya.

'Lalu kau tinggal dengan siapa di suna?'

Gadis berambut hitam itu menggaruk pipinya, memikirkan sesuatu.

'Aku tinggal sendiri, tak punya keluarga,' jawabnya.

'Bingo!, jadi kerena itu mereka aneh' batinya.

Sakura menatap Ino dan Hinata bergantian, "Terimakasih, aku sudah lebih baik."

"Yakin suadah tak apa?" tanya Ino khawatir.

"Iya, Sakura-chan, sudah tak apa?" timpal Hinata.

Dan untuk kesekian kalinya Sakura merasa sangat bersyukur memiliki sahabat sebaik mereka.

Sakura menggeleng pelan, "Aku mau keluar sebentar yah!"

Sepasang aquamarine, dan lavender masih memandang khawatir emerald itu.

"Ingin kami temani?" tanya mereka berbarengan, dengan nada berbeda tentunya.

Gadis itu menggeleng, "Terimakasih."

Kemudian ia membangunkan dirinya, berjalan menuju sebuah pintu, dan memutar knopnya, keluar dari ruangan itu.

Entah kenapa ia ingin berjalan-jalan mengingat sekarang masih sore.

Ia sedikit berlari menuruni tangga itu, membuat t-shirt putihnya bergoyang, tak lupa sepatu kets merah muda itu menimbulkan gema pada saat menyentuh tanah.

Dibukanya pintu berkaca bening itu, membawanya melihat pemandangan hijau di sekitarnya.

Emeraldnya memandang lagit yang berwarna oranye—hanya beberapa detik—kemudian memandang jalan di hadapanya.

Ia berlari kecil menuju sebuah gerbang besar, gerbang yang dulu juga pernah ia lewati saat pertamakali masuk ke sekolah ini, gerbang yang saat itu menjadi tempat Ia berkumpul dengan teman-teman barunya.

Brak

Tubuh mungil itu terduduk, kepalanya menegadah seketika menatap tajam sang penabrak.

"Salahmu sendiri melamun!" ucap pemuda itu dingin.

Siapa lagi kalau bukan.

"Ayam!" Sakura membangunkan posisinya, menepuk pelan bokongnya, menghilangkan debu yang menempel di celananya "Kau kalau jalan pake mata dong!" semprotnya pada pemuda itu.

Uchiha Sasuke—pemuda yang dipanggil ayam—memutar bolamatanya bosan, "Sudah kubilang, itu salahmu sendiri melamun!" desisnya, kemudian melewati gadis itu begitu saja.

Sakura menatap sebal punggung pemuda itu, kemudian berjalan di belakangnya "Bukanya kau harus memintah maaf?"

"Untuk apa?" tanya pemuda itu dingin.

"Karena menabrakku tadi!" ujar gadis itu kesal, "Harusnya kau minta maaf kan! Aku menunggu mu, cepat minta maaf!" lanjutnya.

"Tak mau!" sebuah serigai tipis terpasang di wajah pemuda itu, Sakura tak menyadarinya karena Sasuke memunggunginya.

Seketika perempatan muncul di dahi Sakura, ia benar-benar merasa kesal sekarang "Minta maaf ayam!" perintahnya.

"Tak mau, kau yang menabrakku, kau yang minta maaf" balas pemuda itu sengit.

Kini beberapa perempatan lain muncul di kepala gadis itu, Sakura mengurut dadanya pelan 'Tak akan ada hasilnya berdebat dengan pemuda ini' batinya.

Emeraldnya menatap sekeliling, tempat yang terasa asing untuknya, "Ini dimana?" gumam gadis itu, tapi masih dapat di dengar oleh Sasuke.

"Taman!"

Gadis itu menatap beberapa orang yang sedang duduk di sebuah kursi di taman itu "Kau mau kemana?" tanyanya.

Pemuda itu memberhentikan langkahnya, ia baru sadar kalau gadis itu terus mengikutinya, dan itu tidak boleh.

"Bukan urusanmu, dan jangan ikuti aku!" ucapnya dingin kemudian kembali melanjutkan langkahnya.

Perkataan atau bisa disebut perintah itu tak diindahkan oleh Sakura, ia terus membuntuti pemuda itu, karena sebuah alasan, ia tak mengenal tempat itu dan ia tak tahu jalan untuk kembali ke sekolah.

Menyadari Sakura masih mengikutinya, Sasuke berhenti seketika, "kenapa masih mengikutiku?" ia membalikan badan, kemudian menatap tajam gadis dihadapanya.

Gadis itu bersemu merah, malu juga mengakui bahwa ia tak tahu jalan pulang, tapi mau bagaimana lagi, itu memang sudah kenyataannya.

Ia menggaruk belakang kepalanya seraya tersenyum canggung "Em, aku ta-tak tahu jalan pulang!" ucapnya gagap.

Sasuke mendengus, 'Merepotkan' gerutunya dalam hati, bisa repot juga kalau gadis ini hilang.

"Baiklah, kau boleh ikut!" ujarnya kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

Merepotkan tapi kau ijinkan juga eh Sasuke?

Sakura diam-diam tersenyum senang, kemudian ia kembali mengekori Sasuke.

Tak perlu waktu lama untuk mereka sampai pada tempat tujuan Sasuke, mengingat jarak dari bangunan itu dengan taman tadi terlampau dekat.

'Tsuki Houspital' itu yang tertulis pada bagunan berwarna putih itu.

Sakura mengenali tempat itu, itu dalah rumah sakit dimana waktu itu ia dirawat, emeraldnya memandang heran Sasuke, 'Untuk apa dia kesini?' batinya.

"Kau tunggu disini, aku hanya sebentar!" perintah Sasuke.

Sakura mengagguk menyetujui, detik berikutnya pemuda itu melesat masuk kedalam rumah sakit itu.


Xxx


Sasuke, memasuki sebuah lift, kemudian menekan tombol lima yang berada di samping pintu silver itu.

Setelah pintu silver itu terbuka tepat di lantai yang ia inginkan, segera saja pemuda itu keluar, menyusuri koridor berwarna putih itu, menuju sebuah ruangan dengan pintu putih gading.

Dibukanya pintu itu.

Kosong

Tak ada siapapun diruangan itu.

Segera saja ia melesat mencari dimana gerangan orang yang seharusnya ada di ruangan itu.


Xxx


Gadis berambut hitam itu mengering bosan, pasalnya sudah hampir lima belas menit gadis itu menunggu di depan pintu kaca tersebut.

Sakura—gadis itu—memutuskan masuk ke dalam rumah sakit itu.

Prang

Baru selangkah kaki jenjang itu memasuki tempat yang didominasi warna putih itu, terdengar suara benda jatuh.

Disusul dengan beberapa teriakan.

Langsung saja gadis itu berlari menuju sumber suara.

"Wanita itu gila!" beberapa orang berteriak panic disekitarnya.

"Kenapa pasien tidak waras ada di rumah sakit ini!" gerutu seorang pemuda pada dokter berambut putih dengan kaca mata bulat bertengger di hidunganya.

Sakura kenal dengan dokter itu, ia menghampirinya, bermaksut untuk bertanya sebenarnya apa yang terjadi.

"Dokter Kabuto!" sapanya pada dokter itu.

Kabuto menengok menatap Sakura "Kuroi-san?".

"Ada apa ini?" tanya Sakura sedikit panik, emeraldnya menatap prihatin seorang wanita berambut hitam panjang yang duduk di kursi roda, wanita itu memegang pisau dan menatap tajam pada semua orang yang berada di sana, beberapa suster tampak berusaha menenangkanya disana.

Kabuto menggeleng, "Salah satu pasien kami mengamuk," gumamnya pelan, "kami sudah berusaha menanganinya! Tapi dia hanya bisa tenang kalau bersama anaknya!" lanjutnya.

Keadaan semakin panik, saat wanita itu kini menodongkan pisau itu kesembarang arah.

"Kyaa!"

"Dokter, Mikoto-sama sudah tak bisa dikendalikan, obat penenang itu tak bereaksi!" ujar suster berambut ungu dengan khawatir.

"Biar aku saja dokter!" Sakura berjalan pelan mendekati wanita itu.

Beberapa teriakan seperti, "Awas nanti kau ditusuk!" atau, "Wanita itu gila!" dan, "Nanti kau bisa mati!" tak digubris olehnya.

Dikepalanya kini hanya berisi, bagaimana cara untuk menenangkan wanita itu, bagaimana caranya!

Iya ingat bagaimana dulu Neneknya menenangkanya—saat hari kematian Ayahnya—ia tak menangis, tak bicara, tak makan, tak melakukan kegiatan layaknya mahluk hidup, dokter bilang dia mengalami syok berat, dan itu hanya dapat disembuhkan dengan terapi.

Namun dokter salah, dia bisa sembuh tanpa terapi dan itu semua karena Neneknya.

Tapi apa itu sama? Apa cara yang dilakukan Neneknya padanya akan berhasil jika dia lakukan pada wanita itu? Dan apa dia bisa?

Gadis itu menggeleng, menghalau semua rasa ragu di hatinya, 'Jika aku ragu sedikit maka semuanya akan berakhir!' batinya.

Gadis itu mulai menggengam pelan tangan wanita paruh baya itu, merengkuh tubuh rapuh milik wanita itu, "Jangan takut! Ada aku!" gumamnya tepat di telinga wanita itu.

Pisau yang digengam wanita itu jatuh begitu saja, menimbulkan bunyi dentuman khas.

Kabuto dan suster lain menatap tak percaya kejadian di depan mereka, pasalnya wanita itu—Uchiha Mikoto—hanya akan tenang bila bersama dengan anak bungsunya.

"Kaa-san!"

'Nah!' seru Kabuto dalam hati, matanya menatap pemuda tampan yang terengah-engah di hadapanya.

Perlahan orang-orang yang sedari tadi menontoni kejadian itu bubar satu-persatu.

Sakura menengok menatap pemuda raven yang kini berjalan mendekat ke arahnya, emeraldnya menatap wanita itu kemudian Sasuke—pemuda raven—bergantian, pantas saja wajah wanita itu tersasa familiar, 'Ternyata Kaa-sannya Sasuke,' batinya.

Sakura mundur sedikit, mempersilahkan pemuda itu untuk mendekati Ibunya, emeraldnya terus menatap apa saja yang dilakukan pemuda itu pada Ibunya, mulai dari mengusap wajah Ibunya dengan penuh kelembutan, kemudian menanyakan, 'Apa yang kaa-san lakukan disini?' dan tersenyum sangat lembut pada wanita itu.

Itu Sasuke yang benar-benar berbeda dari biasanya, tak ada kesan dingin sedikit pun, semua kelembutan yang berbeda, kelembutan khas yang hanya ia berikan untuk Ibunya.

Kemudian pemuda itu berjalan ke belakang kursi roda Ibunya, mendorong pelan benda yang menampung Ibunya itu, sebelumnya ia berhenti dulu sebentar didepan Sakura.

Onyxnya menatap emerald gadis itu, "Arigatou!" gumamnya datar kemudian melewati Sakura begitu saja.

Sakura mematung, kedua pipinya memerah, pasalnya ini pertama kalinya seorang Sasuke berkata terimakasih padanya walau dengan wajah datar seperti biasa, tapi entah kenapa ada sesuatu yang menggelitik perutnya.

Cepat-cepat gadis itu menggeleng, merutuki sebenarnya apa yang dia pikirkan, ditatapnya koridor yang kini kosong tak ada siapapun, 'kemana pemuda itu?' batinya.


Xxx


"Mau minum?"

Gadis itu menyodorkan sebotol air mineral yang beberapa menit lalu ia beli.

"Hn, thanks!"

Tangan kekar pemuda itu mengambil botol air yang dengan sukarela ditawarkan sang gadis, dibukanya segel tersebut, kemudian meminum isinya.

Sementara sang gadis mendudukan dirinya di sisi kosong bangku taman itu.

Langit benar-benar sangat merah, pertanda matahari telah siap turun dari singgahsananya, mengijinkan sang bulan untuk mengisi tempat tersebut nantinya.

Semilir angin sore membelai kulit mereka, sesekali terdengar jejak langkah keci dari bocah-bocah yang sudah puas bermain di sana.

"Em, Ayam?"

Pemuda itu diam tak menanggapi julukan yang diberikan oleh gadis yang ada di sebelahnya.

"Ayam?"

Kini kendutan muncul di dahinya, kesal memang, dia punya nama! Apa tak bisa gadis itu memanggil namanya?

"Ayam!"

"Ck, apa jidat!" kesalnya

Kini kendutan itu pindah pada dahi sang gadis, "Ada apa dengan jidatku? Ayam baka!" kesalnya.

"Tch, sebenarnya kau mau bicara apa?" tanya pemuda itu to the point.

Gadis itu menggaruk pipinya, ragu! Tentu saja ia merasa ragu, sejak tadi pertanyaan ini selalu memutar di kepalanya, namun ia masih ragu apakah menyakanya itu adalah ha yang tepat, mengingat ia belum terlalu mengenal pemuda itu.

"Em itu e—"

"Hn?"

"Apa yang terjadi pa—pada Ibumu?"

Gadis itu penasaran, sangat penasaran, tak perduli apa yang sasuke—pemuda itu—pikirkan tentangnya setelah ini.

"Kaa-san hanya tak bisa menyaksikan sekitarnya, dan mengungkapkan apa yang ia inginkan" jawab pemuda itu

Emerald itu mengerjap duakali, "Maksudmu?" tanyanya bingun

"Tch, bayangkan jika dirimu sedang menonton di bioskop tapi kau tak bisa melihat filmnya karena seorang bertubuh gendut menghalangi pandanganmu, dan kau tak bisa mengungkapkan kalau dia menghalangimu karena sesuatu hal, apa yang kau rasakan?"

Dan terciptalah sebuah rekor kata terpanjang yang pernah diucapkan oleh seorang Uchiha Sasuke, hanya untuk menjelaskan kata 'Tak bisa menyaksikan, dan tak bisa mengungkapkan' pada Kuroi Sakura, selamat untuk Sakura, haruskah kita adakan tumpengan setelah ini?

Sakura—gadis itu—berusaha memahami apa yang pemuda itu katakan, "Terasa menyebalkan!" ucapnya kemudian.

"Hn!" pemuda itu bangun dari posisinya, merapikan kerutan dibajunya, "Ayo!" ajaknya pada Sakura.

Emerald itu mengerjap dua kali, merespon apa yang baru saja pemuda itu katakan 'Tadi dia bilang 'ayo' apa aku yang salah dengar?' batinya tak percaya.

"Cepat atau mau kutinggal!" perintah Sasuke dingin.

Segera saja Sakura berdiri dari kursinya, "Jangan main-main ayam!" celotehnya

Tanpa merespon ucapan Sakura, segera saja Sasuke melangkah santai meninggalkan gadis itu.

Sakura mengembungkan pipinya kesal, "Tunggu, ayam!" ujarnya seraya menyusul Sasuke.

TBC


Yo minna

Gomen lama sangat updatenya m(_ _)m

Lagi kehabisan ide nih, terus bawaanya ngaret terus.

Ditambah lagi ada berbagai macam kesibukan #alah yang gak bisa disebutin, duh..

Oh iya soal abisnya di chapter berapa sih author belom bisa nentuin, tapi kayaknya bakalan lama abisnya, tapi saya harap kalian masih setia pada fic ini.

Oh iya minta pendapat soal chap ini dong, apa typonya makin ancur, atau alurnya kecepetan, atau ceritanya semakin aneh?

Wes keluarkan semua uneg uneg kalian di kolom review.

Oh iya bales review dulu lah.


MaesaSabakuGaara: wah gomen yah lama kemarin uploadnya dan sekarang juga lama ._., makasih atas pujianya, oh, emangnya kamu tadinya dimana? Welcome yah hehe, oh iya jangan lupa review lagi.

adem ayem: udah update noh! hmm, gimanayah, bisa dibilang iya, arigatou riviewnya, dan review lagi yah.

mako-chan: udah tau kan siapa gurunya? Udah update kok, arigatou, dan review lagi yah.


Yang meresa reviewnya belom di bales, periksa PM yah

thanks for: akasuna no ei-chan, linda yukarindha, iSakuraHaruno1, skyesphantom, MaesaSabakuGaara, adem ayem, mako-chan

Arigatou minna

Kuro mie

Review and review