Disclaimer: I don't own Digimon
Author's note: Hikari POV

Chapter 9

Pagi hari yang cerah terhampar luas di jendela kamarku, aku sangat tidak bersemangat walaupun cuaca diluar sangat indah. Mungkin, jika Takeru masih berada disini aku akan mengajaknya bermain ke taman di hari cerah seperti ini. Namun sayang sekali, ia telah pergi ke dunia digital. Waktu sangat cepat berlalu, bukan begitu? Namun setidaknya, aku telah menyatakan perasaanku padanya begitu juga ia mengatakan kalau ia mencintaiku. Aku katakan pada diriku sendiri bahwa aku adalah gadis yang beruntung, aku sangat senang ketika mengetahuinya. Sedikit lucu, kalau kami memiliki perasaan yang sama namun kenapa tak pernah salah satupun dari kami yang mengatakannya? Sepertinya aku telah melupakan alasan utama, karena aku tak mengetahui isi hati Takeru. Sekarang, segalanya telah berbeda. Aku dan dirinya tetaplah sahabat, dan kami akan terus melangkah. Akupun masih merasakan manisnya kecupan Takeru di bibirku, rasa itu seperti tak ada yang dapat menggantikannya. Dapat dikatakan, first kiss ku adalah pengalaman yang sangat berarti. Aku tak akan pernah dapat melupakannya. Hari itu aku terduduk di dalam kamar, bahkan sampai dirumah tadi aku belum mengisi perutku dengan apapun. Walaupun aku tak merasakan lapar, namun melewatkan waktu sarapan adalah hal yang tidak baik. Aku mencoba berdiri, namun entah kenapa diriku sangat lemas. Namun aku harus tetap bertahan, karena seorang anak terpilih tak seharusnya menjadi lemah. Aku melangkah keluar kamar, dan menghampiri meja makan. Disana masih tersisa beberapa lembar roti tawar dan selai, sepertinya kakakku sengaja membiarkan beberapa untukku. Aku mengambil satu potong roti, dan mengoleskan selai cokelat ke atasnya. Perlahan namun pasti, aku menikmati bagaimana selai itu menutupi seluruh bagian roti yang kuoleskan. Namun, aku sepertinya mengingat sesuatu tentang ini. Namun ini sudah cukup lama, aku mengingat kalau Takeru sangat menyukai roti bakar dengan selai cokelat. Masa kecil kami dihiasi dengan banyak hal menyenangkan, diantaranya menjadi anak-anak terpilih. Aku tidak keberatan untuk menjadi seseorang yang berbeda, namun ternyata aku tak hanya sendiri. Semenjak aku pergi ke dunia digital, entah mengapa aku merasakan kalau Takeru dan aku adalah pasangan yang telah ditakdirkan. Bukannya aku terlalu percaya diri, namun hanya saja.. apakah sebuah kebetulan kami memiliki digimon malaikat Angemon dan Angewomon? Jika itu tak dapat membuktikannya, baiklah. Crest Harapan dan Cahaya, mereka adalah satu-satunya yang dapat sesuai satu sama lain. Dengan artian lain, aku tidak berpikir itu adalah suatu kebetulan.

Perlahan aku mulai menggigit tepi dari roti yang telah kuberi selai. Aku tidak mengerti, selai cokelat seharusnya terasa manis. Namun perasaanku melawannya, hampir segalanya kini terasa pahit. Aku menaruh kembali roti itu, dan meneguk segelas air. Aku merasakan air mineral itu mengalir dalam tubuhku, paling tidak aku masih dapat melihat dunia. Tidak peduli itu hanya berwarna abu-abu kelam. Aku menyatukan dagu dengan lenganku yang disilangkan diatas meja, aku merenung. Bahkan sudah cukup lama aku seperti ini. Padahal, belum satu hari dari kepergian Takeru dan aku sudah kembali merindukannya. Disaat aku sedang menatap lurus, aku merasakan seseorang menyentuh bahuku. Ketika aku melihatnya, ternyata itu adalah Onii-chan.

"Hikari, daijoubu ka?" tanya kakakku. Disaat-saat seperti ini, untuk mengeluarkan suara sepertinya cukup sulit. Maka aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Kakakku kemudian mengambil tempat duduk tepat di sebelahku, perlahan ia meraih pergelangan tanganku. Aku tak mengerti apa maksudnya, dan ketika aku menatap wajah kakakku. Ia tersenyum.

"Onii-chan?"

Aku tidak mengerti, namun sepertinya kakakku mencoba untuk memberiku semangat. Ia memang seperti itu, tak akan berhenti sampai aku kembali ceria. Ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tiba-tiba terdengar suara seseorang didepan menekan bel. Kakakku kemudian beranjak untuk membukanya, aku menatap keluar dan menemukan seseorang yang kukenal baik. Seseorang dengan kacamata milik kakakku, ia adalah Daisuke. Aku bertanya-tanya ada apa dirinya datang kesini, karena jarang sekali ia mengunjungiku atau Onii-chan. Sekilas, ia seperti sedang mengobrol dengan kakakku.

"Senpai, dengarkan aku dulu.." ujar Daisuke.

"Baiklah, Daisuke. Aku mendengarkan." suara kakakku terdengar sampai tempat dimana aku duduk. Sementara, aku tak memperdulikan mereka. Karena akupun memiliki masalah tersendiri, dimana cukup sulit bagiku untuk menghadapinya. Saat itu juga, Onii-chan kembali menghampiriku dan berkata Daisuke ingin bertemu denganku. Sedikit terkejut, namun tak ada salahnya jika seorang teman ingin berkunjung bukan? Maka aku beranjak perlahan menuju pintu. Disana, Daisuke tengah menungguku dan memperlihatkan raut muka khawatir ketika melihatku. Apa mungkin aku semurung itu?

"Daisuke-kun?" aku mencoba untuk tersenyum padanya.

"Hikari-chan, aku.." Daisuke terlihat sedikit ragu dan sesekali melihat kearah kakakku. "Aku memiliki sesuatu untuk dibicarakan denganmu." gumamnya.

"Tentu, Daisuke-kun. Katakanlah.." terkadang, aku harus menjadi seseorang yang mendengarkan cerita atau sekedar ia curhat padaku. Entah itu karena ia lupa belajar semalam, atau sekali lagi ketika aku berada didekat Takeru.

"Namun, aku tak bisa bercerita disini." Daisuke berhenti sejenak, ia menelan ludah. "Ikutlah denganku."


Entah mengapa, aku sedikit kesal pada Daisuke. Tidak kah ia dapat melihatku dalam kondisi seperti ini dan ia mengajakku untuk pergi keluar? Sungguh, bahkan aku sekarang mengerti mengapa kakakku adalah seorang yang over-protektif. Namun ketika aku menatap pada Onii-chan, ia tersenyum dan mengangguk. Aku tertegun, tak biasanya Onii-chan memberikanku izin semudah ini. Daisuke tersenyum dan meraih pergelangan tanganku. "Ayo, Hikari-chan.." ia menarik tanganku dengan semangat, tak sebanding dengan apa yang sedang terjadi pada diriku. "Jangan pulang terlambat, Hikari." kakakku melambaikan tangan dan masuk ke ruangan. Hari itu, aku mengikuti Daisuke kemanapun ia melangkah. Sesekali ia mengajakku berbicara tentang suatu hal, namun aku merespon tidak lebih dari anggukan kepala.

"Hikari-chan, kau tidak harus murung seperti ini.." ujarnya sambil melangkah di sisiku.

Aku menatapnya, terlihat jelas jika Daisuke khawatir padaku. Aku seharusnya senang memiliki teman yang perhatian seperti dirinya, namun entah mengapa aku tak bisa. Kehilangan adalah kehilangan, aku tak dapat melawan sendiri ketakutanku atas kehilangan seseorang. Memikirkan tentang hal ini, secara tak sadar aku merasakan linangan air mata.

"Hikari-chan.." gumamnya.

Suara Daisuke membuatku tersadar, segera aku menghapus air mata dan tersenyum padanya. Aku tak dapat seperti ini, bahkan Takeru akan kecewa padaku. Aku harus melawannya, bagaimanapun atau sesulit apapun itu. Aku pernah menghadapi kegelapan, aku tak mungkin menyerah hanya karena kesedihanku tentang kehilangan.

"Daisuke-kun, kau tadi berkata ingin bercerita padaku.." aku mengubah arah pembicaraan kami.

Ia terdiam sebentar, dan kemudian melihat ke sisi lain jalan. Kebetulan disana terdapat suatu tempat yang terlihat seperti cafe. Aku tidak tau mengapa, namun aku merasakan jika Daisuke akan menarik ku ke tempat itu. Walaupun sebelumnya ia sempat merogoh saku terlebih dahulu, namun benar saja ia kemudian menggenggam lagi pergelangan tanganku dan mengajak kesana.

"Chotto, Daisuke-kun." aku menghentikannya sebelum kami dapat masuk ke dalam cafe. Ia melihatku heran, "Aku tak membawa uang sepeserpun." ujarku.

"Daijoubu, aku akan membayar semuanya." Daisuke tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya, ini adalah suatu keajaiban ketika Daisuke dengan semangatnya berkata ia akan membayar untuk semua yang akan kami pesan. Ini adalah kali pertamanya, percayalah.

Sesaat kemudian, kami sudah duduk dan menunggu pesanan kami di suatu meja. Daisuke sendiri memilih untuk didekat jendela, aku merasakan tiupan angin kecil mengenai wajahku. Setidaknya suasana ini telah membawaku sedikit lebih tenang, walaupun keheningan terjadi diantara kami. Sesekali Daisuke memperhatikanku, dan kemudian melihat lagi keluar jendela. Ia melakukan itu sampai lebih dari lima kali, dan seseorang menghampiri kami dengan nampan. Ia menaruh secangkir coffe latte dihadapanku, dan satu lagi pada Daisuke. Pelayan itu terlihat ramah, ia tersenyum sambil membungkuk dan kemudian berlalu.

"Hikari-chan.." suara Daisuke kini memecah keheningan. "Aku minta maaf soal kepergian Takeru menuju dunia digital, berat untukmu bukan?" tak kuduga jika ia akan langsung mengatakan tepat menuju apa yang sedang aku rasakan. Jikalau pun aku memiliki waktu senggang bersamanya lagi suatu waktu, aku akan mengajarinya berbasa-basi. Namun untuk sekarang, paling tidak ia sudah menyinggungnya.

"Begitulah, kau tau.." Aku sempat mengalihkan perhatianku sampai akhirnya aku kembali menatap Daisuke, ia sudah tidak lagi meletakkan tangannya di posisi semula melainkan menggenggam cangkir coffe latte itu dan meneguknya seperti ia meminum jus jeruk. Karena bagaimanapun secangkir coffe latte panas bukanlah untuk diminum seperti itu. Aku menatap kesal padanya, dan mengambil sendok teh yang berada di meja.

"Daisuke-kun!" aku berteriak padanya seraya mengembalikan cangkir itu pada tempatnya, aku melihat sudah satu per tiga habis. "Bukan seperti itu caranya, kau ini." aku mengambil sesendok kecil, dan kemudian mendekatkannya pada mulut Daisuke. Jika kau melihatnya, maka aku seperti sedang menyuapinya.

Namun, hal itu ternyata telah membawa malapetaka bagiku. Tanpa kusadari, seseorang tengah berdiri tak jauh dari tempatku. Bukan itu yang sebenarnya kupermasalahkan, seseorang itu adalah Sora. Ia tersenyum padaku, dan kemudian melambai. Hal terburuknya, ia tengah melangkah mendekat. Karena bagaimanapun kelihatannya, aku terlihat seperti berkencan dengan Daisuke.

"Wah, wah. Aku tidak percaya jika menemukan kalian disini." Sora tertawa kecil, sejak dulu ia memang sangat ramah. Kami menyadari kehadiran Sora, dan menyapanya. "Sora-san? A-apa yang kau lakukan di-disini?" aku sedikit terbata-bata karena bahkan aku tak dapat menarik kembali tanganku. Ia hanya tersenyum melihat aku dan Daisuke. "Aku terbiasa kesini." gumamnya.

"Nah, nikmatilah kencan kalian." Sora berlalu, dan aku kemudian berpandangan pada Daisuke.

"Daisuke-kun.." gumamku dan tersenyum kesal padanya. "Apa kau, ingin pulang bersamaku?"

Daisuke terdengar tertawa ketakutan, dan kemudian ia menunjukkanku dua tiket. Aku sempat tertegun dengan itu, sesuatu yang digenggam Daisuke adalah hal yang aku dan Takeru rencanakan sebelum akhirnya ia mendapat panggilan menuju dunia digital. Setidaknya, ia berhasil mengalihkan emosiku.


Digital World

Sementara itu di sisi lain dunia, Takeru sedang duduk menikmati alam dunia digital. Ia dan Patamon sedang berjalan di suatu padang rumput indah nan luas, mereka merasakan sinar matahari yang menyegarkan. Ditambah dengan melewati pohon-pohon rindang, Takeru tak merasakan jika ada yang salah pada dunia itu. Bahkan, ia seperti kembali pada zaman kejayaan anak-anak terpilih. Dengan Patamon berada di kepalanya, ia terus saja menyusuri jalan setapak yang dikelilingi hamparan rumput hijau.

"Patamon, kemana kita selanjutnya?" Takeru menatap pada digivice hijau miliknya itu, ia tak memiliki petunjuk apapun. Bahkan sampai berada di dunia digital pun, ia masih tak memiliki apapun untuk dilakukan. Seakan percuma bertanya pada digimonnya, Patamon pun hanya menggerakan kepalanya tanda tidak tau.

Takeru menghembuskan napas seraya ia melanjutkan langkahnya, "Inikah dunia digital tanpa yang lain?" keluhnya. Patamon tertawa kecil, ini memang perjalanan pertamanya menuju dunia digital seorang diri. Karena sekalipun mereka pergi ke dunia digital tanpa anak terpilih lainnya, saat itu karena Hikari sedang terjebak di laut kegelapan. Patamon yang sejak tadi berada diatas sana, kini membentangkan sayapnya dan terbang ke hadapan Takeru. "Jangan menyerah, Takeru!" seru Patamon sambil tertawa kecil. Mereka tertawa bersama selagi mengarungi dunia digital yang luas.

Langkah demi langkah Takeru jalani dengan semangat, ia bersama Patamon merasakan kekuatan yang teramat besar. Bahkan ia sempat melupakan apa alasan sebenarnya ia berada disana, namun itu tak lama sampai muncul sebuah batu mengingatkan Takeru akan tugasnya. Ia sangat mengingat kalau batu itu adalah semacam benda aneh yang pernah mengirim pesan dari Gennai secara virtual.

"Patamon, itu.." Takeru menunjuknya dan kemudian mendekati benda tersebut. Keluarlah cahaya menjulang ke langit berasal dari batu yang ada dihadapannya, juga.. Gennai. Kali ini yang dilihatnya adalah seorang pemuda dengan postur tubuh tegap dan memakai jubah putih. Takeru tak pernah melihat lagi sosok Gennai yang dulu sejak saat itu.

"Selamat datang, Takeru.." Gennai menyapa anak terpilih harapan itu dengan ramah, begitupun Takeru. Ia membalas sambutan seorang pemuda yang telah memanggilnya itu dengan senyuman. Bahkan tak ada rasa keberatan di hatinya untuk melanjutkan langkah di alam dunia tempat Takeru memiliki masa kecilnya yang indah ini. Dimulailah perbincangan ditengah mereka, seperti halnya menemukan kawan lama.

"Uhm, Takeru. Lebih baik kita lanjutkan saja nanti, aku minta kau untuk pergi ke rumahku sekarang." ujar Gennai pada laki-laki rambut pirang dihadapannya, walaupun ia tak melihatnya langsung namun itu bukan masalah. Tanpa keraguan di wajahnya, Takeru mengangguk.


Terputuslah sambungan dengan Gennai, kini yang harus dilakukannya adalah kembali mencari rumah di dasar danau itu. Walaupun sedikit aneh, namun hal nyata itu telah dialaminya saat berumur delapan tahun. Ketika itu Takeru masih mengingat seberapa kagumnya ia dengan ikan-ikan yang berenang mengelilingi halaman rumah Gennai. Bahkan mungkin, saat ini pun ia masih ingin kembali melihat ikan-ikan itu.

Takeru menginjakkan langkahnya dengan pasti mengikuti arah yang telah ia ketahui, cahaya yang menjulang ke langit adalah petunjuknya menuju rumah Gennai. Ia seperti kembali ke usianya dulu, namun kali ini tanpa kakaknya Yamato. Ia mungkin akan menangis saat itu juga kalau kini adalah petualangan pertama mereka, ia pun pernah diceritakan oleh Yamato seberapa sulit menghiburnya ketika Takeru mulai menangis. Kadang itu membuatnya ingin tertawa, dan juga sekilas mengingat kenangan masa lalu mereka.

"Takeruu.. bukankah akan lebih cepat jika aku ber-armor shinka?" Patamon merunduk dan menatap Takeru dari atas kepalanya. Hal lain yang disukai Patamon tentang berada diatas sana adalah, selain nyaman ia dapat melihat Takeru dengan wajah terbalik.

"Aku hanya ingin menikmati keindahan duniamu, Patamon. Sudah lama sejak kita tak kesini lagi bukan? Namun jika kau ingin melakukannya, aku pun tak memaksa." Takeru merogoh digivice pada celana selutut hijaunya itu.

"Tak usah, Takeru. Sebenarnya aku juga menikmati ini.." gumam Patamon dengan ceria. Ia mendengungkan nada-nada yang sering didengarnya ketika Takeru sedang memutar musik di kamar. Bahkan ia sempat menghafal beberapa lirik dari lagu yang paling sering diputar. Alunan musik yang halus itu selalu membuat Patamon tak ingin meninggalkan tempat dimana ia berada. Mendengar hal itu, Takeru menyanyikannya bersama dengan Pat amon. "Bokura no Dejitaru Waarudo.." ia mengingat lagu ini adalah lagu rekaman dari semua anak-anak terpilih. Ketika itu mereka berencana merayakan kepulangan mereka ke dunia nyata sekaligus dunia yang telah sekali lagi diselamatkan.

"Takeruu.." Patamon tiba-tiba berhenti dan memanggilnya.

"Hm? Ada apa teman?" tanya Takeru sambil mendongak keatas. Namun Patamon tidak kunjung kembali bersuara, ia hanya menatap Takeru dengan raut muka kebingungan. Namun rasa penasaran Patamon melebihi ketidakyakinannya dalam bertanya.

"Takeru, bagaimana rasanya ketika kau mencium Hikari?" dengan polosnya Digimon berbentuk hamster bersayap itu bertanya. Spontan, ia tertawa kecil melihat wajah Takeru yang kian memerah.

"Uhmm, rasanya sangat lembut, manis, lebih manis dari ice cream manapun, dan tentu perasaan hatimu berubah seakan-akan tak ada lagi apapun di dunia kecuali kau dan seseorang yang kau cinta." tutur seorang pemuda dengan rambut pirang yang tengah ia hinggapi kepalanya itu.

Tak terasa canda gurau mereka telah mengantarkannya ke danau dimana rumah Gennai berada, dihadapannya terlihat perairan biru yang cukup luas. Takeru menunggu pintu gerbang dibuka untuknya, dan penantiannya berakhir sesaat setelah ia melihat gelombang di danau itu tak setenang awal. Danau itu terbelah dan memperlihatkan tangga menurun menuju halaman rumah seorang penjaga dunia digital.

Ia menuruninya dengan hati-hati karena tangga itu cukup licin, untuk beberapa alasan ia ingin mengatakan pada Gennai untuk memberikan rel pegangan pada anak tangga itu. Diinjaklah rumput hijau yang tumbuh di pekarangan rumah Gennai, suasana 5 tahun lalu masih dapat ia rasakan. Aroma yang sama pun masih dapat tercium olehnya.

"Selamat datang, malaikat harapan.." gumam seseorang mengejutkannya dari belakang Takeru. Ia berbalik, dan kemudian menemukan Gennai berdiri tepat dibelakangnya. Takeru tersenyum senang dan memeluk Gennai saat itu juga. Jika dapat dikatakan, ia dan Gennai sudah layaknya seperti keluarga dekat. "Arigatou, Gennai-san."

"Suatu kehormatan memilikimu disini, Takeru. Ayo, apakah kau ingin istirahat sebentar?" ajak Gennai mengantarnya masuk ke dalam rumah. Bahkan ruangan itu masih tetap sama sejak terakhir kali Takeru melihatnya. Ketika Gennai menutup pintu, Takeru duduk didekat jendela dan kemudian menyaksikan air di halaman kembali menyatu. Dihadapannya terlihat ikan-ikan yang dibuat oleh Gennai berenang kesana-kemari. "Patamon, lihat!" seru Takeru sambil menunjuk salah satunya.

"Nikmatilah selagi kau bisa.." gumam Gennai dan meletakkan dua gelas teh panas. "Arigatou gozaimasu, Gennai-san." Takeru kemudian beranjak dan duduk dihadapan Gennai, perlahan ia meneguk sedikit demi sedikit minuman yang disediakan untuknya.

"Kau menjawab panggilan ini dengan yakin, apakah ada sesuatu yang membuatmu memutuskannya Takeru?" Gennai memulai pembicaraan ditengah mereka, paling tidak untuk mengisi sore hari sebelum hari itu berakhir dan berganti dengan hari yang baru dimana semua akan berbeda.

Takeru mengangguk. "Aku harus melindungi Hikari.." jawabnya dengan santai namun raut muka yang serius terpancar padanya. Terdengar kata-kata itu telah membuat Gennai tersenyum, bagaimanapun karena crest harapan jatuh ke tangan seorang anak dengan harapan terkuat.

"Hoho, jadi begitu." gumam Gennai singkat, kemudian ia beranjak membuka satu ruangan lain. "Jika kau ingin beristirahat, gunakanlah ruangan ini."

Takeru mengangguk, dan kemudian berterima kasih pada Gennai. Paling tidak, ia memiliki tempat untuk beristirahat malam itu.


Odaiba, Tokyo - 17:11

Hikari POV

Hari itu sungguh menyenangkan, tidak percaya jika pada akhirnya aku akan merasakan kebahagiaan dikala keresahan hatiku yang belum padam. Aku merasa harus berterimakasih pada Daisuke untuk hari ini, karena bagaimanapun ia telah mengubah kesedihanku menjadi keceriaan. Tidak pernah aku merasa sebaik ini ketika bersama Daisuke, dapat dikatakan ini pertama kalinya. Ia mengajakku menonton film, bermain di arena permainan, bahkan ia mendapatkanku sebuah boneka. Takeru memang benar, seorang teman tak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan terpuruk. Namun aku sendiri masih bertanya-tanya mengapa Daisuke tiba-tiba melakukan hal ini.

Disaat berjalan pulang, bersama beberapa ice cream tentunya. Aku memulai berbincang dengan Daisuke, dimulai aku menanyakannya tentang film yang baru saja kami tonton, dan berlanjut dengan beberapa gurau-an lain. Hal ini, memicu-ku untuk bertanya hal tersebut.

"Daisuke-kun.." aku memanggilnya.

Ia tak merespon dengan kata-kata, hanya menatapku. "Daisuke-kun, tak biasanya kau melakukan ini. Ada apa denganmu?" aku tertawa kecil setelah menanyakan hal itu.

Kulihat, Daisuke menelan ludah dan seperti memiliki sesuatu yang tertahan untuk dikatakan. Tak segera menjawab, ia terlihat sangat bingung. Aku tak ingin membuatnya berpikir keras karena ia telah berbuat sebanyak ini , aku akan membantunya untuk mengatakan hal tersebut. Apapun itu.

"Kau tau, ada banyak alasan yang ingin kuketahui tentang teman-temanku yang bersikap tidak biasa. Salah satunya sepertimu, Daisuke-kun. Katakan saja."

"Sebenarnya, Hikari-chan.." akhirnya ia membuka mulutnya, paling tidak aku dapat mendengar suara dari kebimbangannya tadi. Ia mengambil napas panjang, dan kemudian menghembuskannya. "Takeru mengatakan padaku untuk tetap menjagamu selama ia berada di dunia digital. Maka, aku melakukan hal ini supaya kau tidak bersedih karena kepergiannya."

"Be-begitukah?" aku sedikit tak percaya jika Takeru telah berbuat seperti ini, hanya tak ingin aku khawatir tentang kepergiannya menyelamatkan dunia. Aku.. aku sangat senang memiliki seseorang yang kucinta sangat peduli terhadapku, dan.. akupun tak dapat mengecewakannya.

"Hikari-chan, tidakkah aku maupun Takeru selalu ingin melihatmu ceria?" Daisuke tersenyum mengatakannya.

"Kau benar, aku tak dapat selamanya bersedih." ujarku dengan senyum yang kian cerah.

Kami melanjutkan perjalanan pulang, dan kemudian berpisah di depan apartementku, ia berlari menuju arah yang lain sambil melambaikan tangan padaku.

"Terimakasih untuk hari ini, Daisuke-kun!" aku berseru padanya, dan juga melambaikan tangan.

"Sampai nanti, Hikari-chaan!" ia pun berkata demikian, tak lama aku melihatnya menghilang di tikungan. Masih sedikit tak percaya jika Daisuke ternyata memiliki sifat yang sangat menyenangkan, walaupun sebenarnya memang seperti itu. Namun kesehariannya yang suka mendekatiku dengan sedikit berlebihan, kadang membuatku sedikit kesal.

Aku berjalan sambil melompat-lompat bahagia, dan menemukan kakakku telah menunggu di depan pintu apartement. Ia tersenyum melihatku yang juga dalam perasaan yang bahagia. Kulihat ia memakai pakaian yang sama hampir setiap harinya, walaupun sedikit bosan namun aku tak pernah berkomentar itu pada kakakku.

"Bagaimana hari ini, Hikari?"

"Hari ini sangat menyenangkan, Onii-chan." jawabku dan kemudian melepas sepatu. Aku melangkah masuk dan menemui ayahku sedang menonton berita di ruangan tengah. Juga ibuku sedang menyiapkan makan malam, dengan kebahagiaanku yang sekarang ditambah dengan suasana keluargaku yang sangat membuatku nyaman. "Aku pulang.." gumamku. Setelah menyapa kedua orang tuaku, aku beranjak ke kamar untuk bertemu dengan Tailmon. Ah, aku lupa kalau meninggalkannya seharian. Namun sebelum aku melangkah masuk, suara kakakku terdengar memanggilku.

"Ah, Hikari. Ada sesuatu untukmu didalam.." ujarnya dan kemudian bergabung dengan ayah menonton televisi.

"Sesuatu? Untukku?" aku berjalan masuk, dan menutup pintu. Ketika aku menatap ruanganku, disana aku melihat Tailmon yang sedang berbaring di tempat tidurku dan terlihat memikirkan sesuatu. Aku mendekatinya, ia kemudian menyadari keberadaanku dan tersenyum dalam artian tak terima. "Tailmon.." aku memeluknya.

"Hai, Hikari. Kudengar kau baru kembali dari bersenang-senang dengan Daisuke?" gumam Tailmon menebak. Aku sudah menduga, Tailmon selalu mengetahui kemana aku pergi sekalipun aku tak mengatakan padanya.

"Yup.." aku tersenyum padanya, dan kemudian mendapati sesuatu menarik perhatianku. Aku menatap sebuah kotak berwarna merah dengan ikatan pita berwarna silver berada diatas meja belajarku. "Hei, apa ini?" aku menghampirinya. Perlahan aku mulai menarik tali yang menghiasi kotak tersebut, dan membuka bagian atasnya. Hal pertama yang kulihat adalah sebuah pesan yang tertera didalamnya.


Aku membaca perlahan isi dari pesan itu, tertulis..

Untuk sahabat terbaikku,

Hikari Yagami.

Hai, Hikari-chan. Apa kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja. Mungkin saat kau membaca ini, aku sudah berada di dunia digital. Namun jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Hikari-chan, maafkan aku jika telah memutuskan untuk pergi. Aku mengerti jika kau sulit untuk menerimanya, namun aku tak ingin melihatmu bersedih. Kau pun masih memiliki Daisuke-kun dan yang lainnya, bukan? Jangan khawatir, Hikari-chan. Aku hanya pergi untuk sementara, dan aku berjanji padamu akan kembali. Ah, dan juga.. Patamon mengatakan salamnya untuk Tailmon. Aku harap akan cepat bertemu lagi denganmu suatu waktu. Oh ya, aku juga memiliki sesuatu untukmu dengan surat ini. Sudah dulu ya, Hikari-chan. Jangan bersedih lagi, okay?

Aku akan merindukanmu,

Takeru

Aku selesai membaca sampai pada nama yang tertera di akhir surat itu, kemudian aku mengambil kembali kotak dimana aku menemukan surat ini. Seketika, aku tertegun melihat sesuatu yang tertera pada kotak itu. Benda berwarna putih, dan memiliki tali. Aku sangat mengingatnya, dan.. benda ini adalah sesuatu yang sangat berharga bagiku. Itu adalah pluit yang kumiliki ketika kecil. Perlahan, aku meniup pluit itu dan masih terdengar sama seperti saat dimana aku memilikinya. Namun, bukankah aku memberikan pluit ini pada Tailmon? Ah sudahlah..

Aku membawa pluit itu bersamaku menuju teras apartement, dan disana aku melihat langit sore cerah tak berawan. Aku merasakan malam ini akan menjadi malam yang indah dengan bintang yang menghiasi malam.

Setidaknya, apa yang kubayangkan telah terwujudkan malam itu..


Apartement Yagami

20:13

Sudah kuduga malam ini akan menjadi sangat indah dan terang oleh cahaya rembulan. Aku menatap langit di atas sana penuh dengan bintang berkelip. Bahkan aku menginginkan jika malam ini tak berakhir. Seketika, aku teringat Takeru. Aku bahkan bertanya-tanya dalam diriku, apa yang sedang ia lakukan?

"Takeru, lihatlah. Langit malam ini sungguh indah, bukan? Semoga kau melihat langit yang sama.." kataku dalam hati.

"Jagalah dirimu, Takeru-kun.."