Haruno Sakura bahkan tidak menutup matanya, ia menatap mata ruby Karin dengan dingin. Seolah menantang gadis itu. Tapi, sebelum Karin bisa berbuat lebih jauh. Sebuah tangan menghentikan gerakan gadis berambut merah marun itu.

"Berhenti berulah Karin."

Sakura mengerutkan alisnya. Ia menatap sosok di belakang Karin itu dengan heran. Sosok seseorang yang bahkan seharian ini menghindarinya.

Lelaki berambut merah darah, dengan mata jadenya yang kalem, dan juga wajahnya yang rupawan.

Sakura membuka mulutnya. "Gaara-senpai?"

.

.

Arissachin production

Proudly present

Dark Moon © Arissachin

The character belong to Masashi Kishimoto-san

While, The story is pure mine

.

"Aku lahir kembali dalam wujud yang baru,

Bukan sebagai bulan yang lemah. Tapi, menjadi bulan yang kuat."

.

.

.

ACT 9 : Why?

.

"S-senpai…" Tayuya menatap Gaara takut-takut, suaranya bergetar. "A-apa yang senpai lakukan di sini?"

"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kalian lakukan di sini," Gaara berkata dengan nada dingin. Pandangan matanya beralih menatap Karin. "Kau harusnya sadar bahwa kali ini kau sudah sangat keterlaluan Karin."

Karin terdiam, lalu ia mengangkat wajahnya. Mata ruby dan azure milik Gaara saling menatap satu sama lain. Keheningan mendadak menyelimuti koridor ini, tidak ada satupun dari mereka semua yang berani berkata satu kalimatpun. Akhirnya Karin membuang mukanya, ia lalu menatap lantai dengan pandangan kesal.

"Maaf senpai, ini tidak ada hubungannya dengan senpai."

"Tidak ada hubungannya denganku?" Gaara mendecih. "Apapun yang menyangkut Sakura, itu semua berhubungan denganku. Berhentilah mengganggunya Karin. Dan itu berlaku untuk kalian juga. Kalian mengerti bukan?"

Karin kali ini menatap Gaara dengan tatapan kesal, "kenapa? Apa hubungan senpai sampai senpai membelanya begini hah?"

"Dengarkan aku sekali ini, berhenti mengganggunya atau aku tidak akan segan-segan pada dirimu lagi Karin. Walaupun kau itu wanita, aku tidak peduli. Kalian dengar itu? Aku tidak main-main dengan ucapanku," Gaara lalu menarik Sakura bangun. "Cepat bangun."

Sakura seolah-olah masih tidak menyadari keadaan saat ini. Bahkan saat Gaara menarik tangannya, Sakura masih menatap Gaara dengan tatapan heran, dan tatapan itu di acuhkan oleh Sabaku bungsu itu tentu saja.

"Ayo kita pergi," Gaara lalu berjalan seraya menggenggam tangan Sakura. Mereka berjalan menjauhi koridor dan meninggalkan ketiga orang gadis yang menatap kepergian mereka dengan diam.

Sakura diam dan menatap tangannya yang kini ada di dalam genggaman Gaara. Kepalanya mengengadah dan menatap sosok tinggi itu dengan tatapan heran. Ada apa dengan kakak kelasnya ini? Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah dari dingin menjadi seperti ini?

Kakinya menuruni tangga sekolah, ia berusaha mengimbangi langkah Gaara yang lebar.

Tidak ada yang memulai percakapan terlebih dahulu, perjalan keduanya hanya di isi dengan keheningan. Akhirnya Sakura menyadari kemana Gaara akan membawanya.

Akhirnya mereka sampai. Gaara melepaskan pegangannya, ia lalu mengambil sesuatu di sakunya. Setelah itu Gaara menyodorkan sebuah helm pada Sakura.

"Pakai ini."

"Hah?" Sakura masih merasa linglung. Ia menatap Gaara dengan pandangan penuh tanya.

Gaara membuka mulutnya. "Ambil."

Sakura dengan cepat mengambil helm itu dan memakainya. Gaara menaiki motor itu dan menyalakan mesin motor tersebut, ia menoleh pada Sakura. "Naiklah."

Sakura menghela nafasnya. "Ha'i."

Akhirnya Gaarapun akhirnya meninggalkan halaman sekolah dengan kecepatan tinggi. Tanpa mereka sadari, sepasang mata onyx menatap keduanya dari balik kemudinya. Mata tersebut berkilat marah. Pemuda itu mendengus kencang.

"Brengsek," makinya seraya memukul kemudinya dengan keras.

Tunggu, kenapa kalau ia hanya ingin merebut gadis itu dari si kepala merah dirinya merasa sekesal ini?

.

.

Gadis berambut merah jambu itu menatap Gaara dengan ragu, ia membuka mulutnya dan tidak lama menutup mulutnya kembali. Ia lalu menundukan kepalanya, rasa ragu mulai menyergapi dirinya.

Berbagai pertimbangan muncul di kepalanya. Ia merasa ragu untuk melanjutkan perkataannya. Ia memiliki ketakutan, bahwa senpainya itu barangkali malah akan semakin marah jika ia bertanya. Akhirnya ia memutuskan untuk diam. Biarkan saja senpainya itu yang membuka pembicaraan terlebih dahulu. Toh, Gaaralah yang menarik tangannya untuk beranjak ke motor merah kesayangan Gaara dan membawanya ke kafe ini.

Gaara meminum capuchinonya dengan pelan. Ia lalu menaruh cangkir putih itu dan akhirnya ia menatap Sakura dengan mata Azurenya, "ada yang ingin kau katakan?" Tanyanya dengan suara huskynya. Tepat pada sasaran.

Haruno Sakura menggigit bibirnya pelan. Beratus-ratus kali pikirannya mempertimbangkan apa yang akan ia tanyakan, akhirnya ia malah memilih pertanyaan paling dasar, "senpai… "

"Ya?"

"Apa kau marah padaku?" Ujar Sakura dengan suara pelan.

"Kenapa aku marah padamu?" Tanya Gaara balik.

Sakura menutup matanya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Akhirnya gadis itu menghela nafasnya dengan berat, "senpai, jika memang kau marah. Katakan saja, kau tahu sendiri aku tidak suka jika keadaan menjadi berbelit-belit seperti ini," Sakura menghela nafasnya lalu melanjutkan perkataannya, "kumohon, jangan seperti ini."

"Kau tidak menyukainya?" Ujar Gaara dengan matanya dingin seolah mengolok-olok Sakura. Lelaki itu lalu menatap Emerald Sakura dengan dingin.,"aku selalu memperhatikan apa yang kau sukai dan tidak kau sukai. Tapi, pernahkah kau memperhatikan apa yang aku sukai dan tidak kusukai?" Tanya Gaara dengan nada datar.

Sakura tertegun. Ia tidak pernah menyangka bahwa lelaki keturunan Sabaku itu akan mengatakan hal seperti ini. Lelaki yang selalu bersikap lembut padanya, apakah lelaki dihadapannya ini masih orang yang ia kenal dulu?

Lelaki ini membuatnya menyadari satu hal.

Ia adalah gadis paling egois.

Sakura membuka mulutnya, ia lalu menutupnya lagi. Dengan pelan, ia menggigit bibirnya, "senpai –"

"Sudahlah lupakan. Kita pulang," potong Gaara cepat. Ia mengeluarkan dompetnya dan menaruh beberapa lembar uang, "ayo."

Lelaki itu lalu dengan ringan menaruh tasnya di bahu dan berjalan dengan ringan keluar dari kafe. Mungkin antara menyadarinya dan tidak. Secara tidak langsung, Gaara nyaris melanggar janjinya sendiri. Karena, ia nyaris membuat adik dari Sasori itu menangis.

Gadis berambut merah jambu itu dengan cepat berjalan mengikuti Gaara. Dadanya berdebar, perasaan tak nyaman menjalar ke perutnya, rasa mual mulai hadir dalam dirinya.

Ia mungkin pernah mengira akan marah padanya, tapi tidak seperti ini. Bahkan sejak awal ia membuat rencana ini ia sudah memperkirakan Gaara akan marah padanya. Paling tidak membentaknya, tapi ini… rasanya malah membuat dirinya semakin merasa bersalah. Padahal dirinya tidak perlu berfikiran seperti itu.

"Senpai,"

Gaara memasang helmnya, ia lalu menyodorkan gadis itu helm berwarna putih. Gaara bahkan tidak menjawab panggilan Sakura. Ia memilih berpura-pura tidak mendengar apapun. Rasanya, kepalanya sudah akan meledak saking marahnya.

Mungkin ia bersikap sedikit berlebihan mengingat siapakan status dirinya disini.

Ia bukanlah kekasih dari gadis itu, ia tidak memiliki hak apapun untuk memarahi dan menyuruhnya menjauhi Sasuke. Sebagaimanapun besarnya ia tidak menyukai perilaku Sakura yang berdekat-dekat dengan Sasuke, tetap saja ia masih belum berhak. Ya, belum.

"Pegang erat-erat," ujar Gaara pelan.

Motor berwarna putih itupun melesat meninggalkan jalanan dengan cepat. Gaara memfokuskan dirinya membawa motornya. Tapi, ada sesuatu yang tidak bisa keluar dari pikirannya.

Ia tidak akan membiarkan gadisi ini sampai jatuh cinta lagi pada si brengsek Uchiha.

Tidak akan pernah.

.

.

"Jadi, Gaara marah padamu?"

Sakura memutar pensilnya dengan gugup, "ia tidak marah, tapi juga tidak tidak marah."

"Apa maksudmu sih? Ya ampun, apa nii-chan harus pulang untuk menjemputmu kembali ke Amerika hah? Kalau kau melakukan sesuatu lakukan dengan sepenuh hati jangan setengah-setengah seperti ini."

Sakura menghela napasnya. Sasori sebenarnya merupakan orang terakhir dari daftar orang yang ingin ia telefon. Tapi, ia tetap merasa paling nyaman saat bercerita kepada Sasori. Well, sebenarnya Sasori tidak terlalu kaget saat ia bercerita tentang bagaimana rencana adiknya untuk membalas semua kelakuan bocah Uchiha itu."

Ia malah berkata, "well, aku memang sudah mengira inilah alasan kenapa kau ingin ingin ingin sekali pulang ke Jepang waktu itu."

Kakaknya merupakan orang yang sulit di tebak, padahal ia sudah menyiapkan kemungkinan bahwa kakaknya akan mengamuk dan mungkin menyeretnya pulang ke Amerika lagi, "nii-chan terkadang sulit di tebak ya," kata Sakura pelan.

"Lalu kau mau aku bagaimana? Memarahimu? Kau terkadang aneh sekali adik kecil," suara Sasori menunjukan bahwa ia tengah tertawa kecil. Suara dentingan gelas terdengar di ujung sambungan telefon Sakura, "sekarang rencanamu bagaimana Sakura?"

Sakura menggelengkan kepalanya dengan lambat, "aku tidak tahu kak."

"Dasar anak aneh, hei bagaimana kalau kau pulang ke Amerika saja?" Sasori terdengar begitu lembut kali ini, "aku tidak mau sampai terjadi yang tidak-tidak lagi Sakura."

"Aku tidak mau kabur lagi. aku sudah lelah kak untuk pergi terus menerus. Dan, siapa itu yang tengah mendesah?" Sakura bertanya tiba-tiba.

Sasori terdengar tertawa kecil, ia lalu berteriak pada temannya barang kali. Suaranya terdengar sayup-sayup, "maaf, itu suara Freddie dan Alexa, mereka memang seringkali bercinta tanpa kenal tempat, tapi hey! Itu bukan untuk konsumsi bocah sepertimu."

"Nii-san aku ini sudah besar."

"Bagiku kau tetap saja adik kecilku," Sakura bersumpah ia merasa bahwa di sebrang sana pasti Sasori tengah tersenyum.

Sakura lalu mendecih, ia berkata dengan sebal, "kau sama sekali tidak memberi aku solusi."

"Baiklah, dengarkan aku," Sasori memberi jeda lalu dengan cepat melanjutkan perkataannya, "lebih baik jauhi bocah Uchiha itu. Walaupun aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba membenci Sasuke, tapi melihat kadar kebencianmu. Jauhi dia, aku tahu sekali kau ini orangnya gegabah. Dan, hentikan permainan balas dendammu yang menyedihkan itu, itu tidak akan berjalan. Kaukan tahu bagaimana bebal dan juga idiotnya pacar kecilmu –"

"Dia bukan pacar kecilku," potong Sakura dingin.

Sasori mendengus, "ya ya ya, terserah kau. Pokoknya jauhi dia dan, jangan berani-berani kau melanjutkan permainan idiotmu itu."

"Tapi kalau aku berhenti, aku akan –"

"Jadi, kau meminta solusiku untuk apa? Kalau kau sudah memiliki keputusan mutlak seperti ini, you're such a idiot little girl," gerutu Sasori. Terdengar jeda beberapa waktu. Baik Sakura maupun Sasori terdiam. Tapi, akhirnya Sakura bisa mendengar suara kakaknya kembali. "Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu Sakura-chan," Sasori menghela nafasnya. Ya, ia akan bertanya. "Jujur saja padaku Sakura, apa kau yakin sudah tidak menyukai Sasuke lagi?"

Ekspresi Sakura mengeras, "ya aku yakin."

"Sakura, aku itu tahu kau luar dan dalam. Kau adikku satu-satunya. Kau sangat menyukai Sasuke bukan? Walaupun itu dulu, tetap saja kau menyukainya sekali dulukan."

"Kak, jangan bicarakan hal itu…" Sakura berkata pelan. "Jangan bicarakan masa lalu, berhenti…"

Sasori menghela nafasnya lagi. "Aku sama sekal tidak tahu apa-apa tentang apa masalahmu dengan Uchiha itu. tapi, kuharap kau menyadari bahwa semua yang kau lakukan saat ini sia-sia…"

"Kenapa? Kenapa nii-chan berkata seperti itu?"

"Sakura, apa kau selalu memikirkan Sasuke selama ini? Tentang bagaimana jika Sasuke melakukan hal itu, atau bagaimana jika Sasuke melakukan hal ini? Apa reaksinya jika begini, atau apapunlah," suara Sasori terdengar pelan.

Sakura mengangguk pelan. Ia berjalan ke arah ranjangnya dan melempar dirinya ke atas ranjang, "iya. Kenapa memangnya?"

"Percaya atau tidak, walaupun kau berkata bahwa kau membenci Sasuke atau apapunlah terserah. Dirimu tetap tidak bisa melupakannya, dirimu tetap memikirkannya, segalanya hanya Sasuke Sasuke dan Sasuke. Kau tidak pernah berhenti menyukainya Sakura, kau harus mengakui hal itu. Aku mengenalmu, tidak semudah itu kau bisa membohongiku," ujar Sasori dengan lembut. Ia lalu menambahkan, "cobalah jujur terhadap dirimu sendiri imotou."

Sakurapun terdiam menatap langit-langit kamarnya. Tidak ada satupun kalimat yang meluncur dari bibirnya. Perkataan kakaknya berusaha ia resapi.

Apakah ia masih menyukai Sasuke?

"Aku tidak akan menyukai lelaki yang sudah merusak hidupku kak," ujar Sakura ragu-ragu. Entahlah, ia masih meras bingung. "Aku yakin."

"Aku merindukan adik kecilku yang manis," bisik Sasori pelan. Mungkin ia mengira bahwa Sakura tidak mendengarkannya. Namun, Sakura mendengar hal itu.

"Kak?"

"Sakura-chan, berjanjilah…"

"Apa?" alis gadis berambut merah jambu itu mengkerut.

"Sesudah semua ini berakhir, tersenyum lagilah. Berhenti bersikap dingin seperti ini, aku menginginkan dirimu yang dulu. Bisakah?" ujar Sasori lembut.

Sakura menutup matanya, ia mengusap wajahnya berulang-ulang. Perasaan sesak yang tiba-tiba saja muncul membuat dirinya nyaris ingin menangis saat itu juga. Kakaknya, adalah orang yang paling menyayanginya. Sasori peduli pada dirinya. Sakura tahu itu.

Bertahun-tahun ini ia selalu saja membuat Sasori repot.

"Entahlah…"

Sakura sendiri ragu, apakah ia masih bisa tersenyum kembali. Kejadian itu sudah merubah dirinya secara keseluruhan. Mimpi buruk yang akan selalu menghantuinya selamanya.

.

.

Suara dentuman musik di lantai dansa terdengar kencang. Namun, ruangan khusus milik Uchiha Sasuke ini membuat suara itu bahkan nyaris tidak terdengar. Mata hitam kelamnya menatap gelas berisi minuman alkohol miliknya. Sesekali ia menggerak-gerakan tangannya.

"Hey teme, kau mau ikut tidak ke lantai dansa sana? Banyak gadis cantik di bawah sana!" Naruto berseru kepadanya. Lelaki berambut pirang itu terlihat menatap Sasuke dengan tatapan cerianya. Melihat tidak ada respon yang di berikan oleh orang yang ia ajak bicara, Naruto mengangkat bahunya dan meninggalkan sahabatnya di ruangan itu.

Sasuke tersenyum tipis, ingatan tentang kemarin malam cukup membuat moodnya bagus sebenarnya. Namun, tiba-tiba kelebatan gadis Haruno yang pergi di seret oleh si kepala merah itu membuat dirinya jengkel.

Ya, Sasuke melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Sabaku Gaara menyeret Sakura dan membawanya pergi dengan motor sialannya.

Cemburu akan Sakura eh?

Tidak, Sasuke tidak pernah dan tidak akan pernah cemburu. Ia tidak akan pernah cemburu dengan hal-hal berbau gadis Haruno itu. Ia hanya kesal bahwa Gaara dengan seenaknya menarik Sakura.

Tanpa ia sadari, sepasang mata aquamarine menatapnya dengan tatapan penuh harap. Melihat lelaki dingin itu membuat sang wanita menggeram kesal. Ia kesal, kenapa mesti Sakura? Kenapa si Haruno bodoh itu datang kembali sih?

Gaun ungu yang panjangnya hanya mencapai setengah pahanya membuat wanita itu semakin kian menggoda. Kaki jenjangnya sengaja ia pertontonkan, membuat beberapa lelaki yang tadi kedapatan tengah memerhatikannya meneteskan air liur.

Yamanaka Ino lalu duduk dengan ringan di samping Uchiha Sasuke. Tangannya terulur dan melingkar di tangan Sasuke. Ino lalu menyenderkan kepalanya ke bahu milik Uchiha bungsu itu, "Sasuke-kun, aku kangen…"

"Hn," Sasuke lalu menaruh gelasnya di meja. "Kenapa?" Sasuke memutar kepalanya dan menatap ke dalam mata Ino.

"Tidak, aku hanya kangen saja sama Sasuke-kun," Ino lalu mencium rahang Sasuke, dan mulai bergerak menuju pipinya. Perlahan bibir tipis wanita itu mulai menjelajahi wajah Sasuke sebelum akhirnya ia menemukan tempat yang di rasakannya tepat. Yap, bibir menggoda milik Uchiha Sasuke. "Sudah lama sejak aku menciummu Sasuke-kun…"

Bibir Ino mulai melumat bibir Sasuke dengan agresif, tak ada yang mau mengalah keduanya saling mendominasi. Ino lalu bergerak hingga akhirnya kini ia berada di pangkuan Uchiha muda itu. Kedua kakinya kini melingkar pada pinggang Sasuke. Entah bagaimana caranya hingga akhirnya Ino bisa berada di atas Sasuke.

Sasuke menggigit bibir bawah Ino dengan perlahan, seolah meminta ijin untuk masuk dan mengeksplorasi apa yang terdapat di dalam sana. Ino dengan senang hati membuka bibirnya. Kedua lidah saling beradu, kemahiran keduanya akan berciuman membuat mereka sama-sama berimbang. Ciuman mereka semakin lama semakin panas.

Udara di sekeliling Sasuke semakin panas, dan saatnya tiba saat mereka terpaksa harus menyudahi ciuman mereka karena pasokan udara yang semakin menipis. Ino mengengadah menatap mata Sasuke. Onyx dan aquamarine saling menatap satu sama lain. Tak lama, Ino segera menghabiskan jaraknya dan Sasuke.

Ia mencium rahang Sasuke, erangan rendahpun terdengar dari tenggorokan si pemuda Uchiha.

Tangan Ino kini bergerak turun dan mulai membuka kancing kemeja Sasuke. Kancing pertama, kedua, dan saat kancing ketiga hendak ia buka, sebuah tangan besar memegang tangan putihnya.

"Hentikan Ino…"

Suara baritone rendah itu terdengar oleh Ino. Suara milik Uchiha Sasuke yang menghentikan dirinya. Kenapa? Pikir Ino. Ia lalu menggelengkan kepalanya, lalu ia mulai melanjutkan menjelajahi lekuk milik Sasuke. Ia mencoba mencium lelaki itu kembali, namun Sasuke sudah terlebih dulu memalingkan wajahnya.

"Kubilang berhenti, kau mendengarnya bukan." Sasuke berkata tajam.

Ino akhirnya membeku dan terdiam. Ketika tangan kekar milik Sasuke memindahkan dirinya yang awalnya berada di pangkuan Sasuke ke sofa di samping tubuh Sasuke, air mata milik Ino menetes tanpa ia bisa kendalikan.

"Kenapa?" lirih Ino.

Matanya menampakan rasa sakin yang amat sangat. Sasuke menatap Ino dengan tatapan datarnya, sebersit rasa bersalah timbul di hati Sasuke. Bagaimanapun juga Ino adalah salah satu dari sedikitnya wanita yang bisa bertahan lama di sisi Sasuke.

"Kenapa?" ulang Ino sekali lagi. Air mata mulai membanjiri wajah cantiknya. "KUBILANG KENAPA? KENAPA? KENAPA? KENAPA? " Ino berteriak tanpa kendali.

"Aku tidak bisa Ino," ujar Sasuke pelan. Tangannya bergerak dan mulai mengkancingkan kemejanya lagi. Sasuke membuang wajahnya.

"KENAPA? KENAPA TIDAK BISA? JAWAB AKU BRENGSEK! JAWAB UCHIHA!" maki ino. Kini ia mulai memukuli bahu Sasuke sekeras yang ia bisa. Walaupun bagi Sasuke itu tidak ada apa-apanya, namun tetap saja ia tetap ingin melampiaskan rasa kesalnya.

Sasuke dengan cepat menangkap pergelangan tangan Ino. Ia menatap ke dalam mata Ino. "Aku tidak tahu ok? Aku sama sekali tidak tahu kenapa aku tidak bisa Ino! Sesuatu berkata bahwa aku harus berhenti," ujar Sasuke dengan tenang.

Sebuah tawa sarkastik terdengar keluar dari bibir Ino. Ia tertawa seraya menangis, sebuah pemandangan menyedihkan. Yamanaka Ino yang biasanya terlihat tegar dan kejam kini tampak seperti wanita biasa. Seperti seorang wanita yang patah hati.

"Sakurakan? Aku tahu! Penyebabnya wanita jalang itukan! Akui itu Sasuke! Akui bahwa kau sebenarnya memiliki perasaan untuk perempuan sialan itu! Perempuan –"

"Jaga omonganmu tentang Sakura, Yamanaka." Ujar Sasuke dengan tajam.

Tangis Ino semakin kencang. "Aku tahu itu! Walaupun kau berkata bahwa kau tidak menyukainya kau itu sebenarnya sangat menyukainya! Ah tidak, kau mencintainya! DASAR PENDUSTA!" maki Ino.

"Aku tidak menyu–"

"Jangan bercanda!" Ino tertawa sarkastik. "Kalau kau tidak menyukainya kenapa kau menolak bercinta denganku berkali-kali hah? Kenapa kau bahkan tidak menyentuh gadis manapun semenjak kepulangan perempuan jalang itu? Kenapa…. Uchiha Sasuke, kenapa kau bahkan menolak untuk menciumku!"

"Itu tidak membuktikan apa-apa, aku memang sedang –"

Ino memotong perkataan Sasuke kembali. "Kau membohongi perasaanmu sendiri! Kau pendusta Sasuke! Aku tahu kau mencintai si gadis brengsek itu! Aku tahu itu sejak awal! Sejak pertama kali aku berteman dengan Sakura! Kau kira kau aktor yang baik hah! Aku tidak bisa kau bohongi Uchiha! Berhenti bersikap bodoh! Berhenti menyangkal!" teriak Ino.

"Ino, berhenti! Kau mabuk!"

"Aku tidak mabuk! Dan kau –mau kemana kau! Uchiha Sasuke aku belum selesai berbicara!" pekik Ino ketika melihat Sasuke bangkit dari sofa. Melihat Sasuke yang mulai berjalan menjauh, Ino dengan cepat melepaskan high heels sebelah kanan miliknya dan melemparkannya pada Uchiha Sasuke. Dan, sepatu berhaknya itu tepat mengenai punggung si Uchiha muda. Itu membuat Sasuke berhenti sejenak.

"Aku tahu aku bodoh untuk mengatakan hal ini, untuk menyadarkanmu, tapi kau harus tahu bahwa kau memang mencintai Sakura! Gadis jalang yang sudah menghancurkan duniaku! Akui itu! Aku tahu itu Sasuke! Jangan menutup matamu dan beranggapan bahwa semuanya adalah hal bodoh!" pekik Ino.

Sasuke memutar tubuhnya, "kau berisik." Perlahan Sasuke memutar tubuhnya dan membuka pintu ruangan itu, lalu ia pun mulai berjalan keluar.

Ino menatap pintu tersebut dengan pandangan tidak percaya.

Dirinya, Yamanaka Ino. Gadis yang selalu di elu-elukan oleh tiap laki-laki baru saja menerima penghinaan semacam ini. Siapa ia sampai bisa melakukan hal ini pada seorang Yamanaka Ino! Tidak ada satupun lelaki yang berhak melakukan hal itu.

Dada Ino terasa sesak. Entahlah, perkataannya barusan bisa di katakan berasal dari hatinya. Itu merupakan kenyataan. Ia tahu, ia tahu bahwa Sasuke memang sudah mencintai Sakura dari awal. Hanya saja hatinya selalu menolak mengatakan hal itu. Ia lebih memilih membuat Sasuke menjadi seperti orang yang bodoh dan tidak menyadari apa-apa.

Ia tidak mau kalau sampai lelaki itu bahagia dengan Haruno Sakura. Gadis yang selalu membuatnya iri. Ia benci perasaan ini. Kenapa mesti Sakura? Gadis itu memiliki hidup yang bahagia, keluarga yang bahagia, teman-teman yang menyayanginya. Ia memiliki segalanya!

Sementara Ino?

Ia tidak lebih dari seorang sidekick seorang Haruno Sakura yang terkenal itu. Ia tidak pernah sekalipun lebih menonjol dari putri manja itu, walaupun dirinya menjabat sebagai kapten dari cheerleader, namun tetap saja itu tidak bisa membuatnya lebih bersinar dibandingkan Sakura.

Ia iri! Ia sangat iri! Kenapa harus Sakura?

Ia ingin merebut segalanya dari Sakura. Ia selalu ingin menjadi nomer satu, ia tidak mau menjadi pilihan kedua untuk orang-orang. Ia ingin memiliki keluarga yang bahagia, teman-teman yang memujanya, dan tentunya si lelaki idaman tiap orang. Uchiha Sasuke.

Uchiha Sasuke merupakan orang yang paling ia inginkan dibandingkan apapun juga. Ia menginginkannya! Apapun ia lakukan agar lelaki itu menjadi miliknya, bahkan ia sampai rela menyerahkan keperawanannya untuk pemuda Uchiha itu.

Namun, rupanya itu masih tidak cukup untuk membuat lelaki itu membuka matanya dan melihat bahwa ada dirinya di sini.

Walaupun dari dulu Sasuke terlihat tidak peduli pada Sakura, namun semua orang tahu betapa besarnya lelaki itu menyayangi Sakura. Betapa seringnya lelaki itu melindungi gadis itu tanpa sepengetahuan Sakura.

Ino ingat, pernah suatu kali ketika segerombolan gadis yang iri pada Sakura menenggelamkan kepala gadis itu di wastafel, kemudian mereka menyiramkan air berbau busuk ke arah Sakura membuat gadis itu basah kuyup. Tidak tanggung-tanggung, mereka lalu mengunci Sakura seharian di toilet sekolah. Gadis Haruno itu bahkan sampai menggigil kedinginan, dan pingsan.

Tidak ada satu orangpun yang berani melawan perintah si gadis berambut coklat yang merupakan otak dari aksi bengis itu. Kecuali pangeran tampan kita, Uchiha Sasuke.

Lelaki itu lalu menyuruh orang-orang suruhannya untuk membawa Sakura ke rumah sakit, dan membereskan gadis-gadis yang menyiksa Sakura. Semua orang mengetahui bahwa Sasuke menyuruh pengawalnya untuk mengikat kedua tangan gadis-gadis itu dan menutup mata juga mulut mereka, dan memerintahkan mereka semua untuk berlari mengelilingi Konoha Gakuen.

Luas Konoha Gakuen yang hampir sebesar Tokyo Dome, membuat gadis-gadis itu pingsan di putaran ke 21 mereka. Setelah itu, tidak ada satu orangpun yang pernah bertemu salah satu dari mereka lagi. Ino lupa siapa nama gadis yang menjadi ketua dari penyiksaan itu. Nami? Yuki? Yaku? Entahlah, ia lupa dan ia tidak pernah mau mengingatnya.

Tangisan wanita Yamanaka itu perlahan terdengar lagi.

Selalu, ia selalu bertanya kenapa Tuhan tidak pernah adil? Sakura mendapatkan segala yang ia inginkan, namun kenapa hidup Ino mesti seperti ini?

Ia memijat pelipisnya dengan raut frustasi, lalu ia melepaskan sebelah sepatu hak tingginya dan melemparnya ke sudut ruangan.

"Sial…sial…sial…sial…" Ino bergumam, mengatakan hal itu berulang-ulang.

Mengapa ia begitu bodoh? Ia begitu ngotot ingin memiliki Uchiha Sasuke. Dan, ia bahkan memulai permusuhan dengan Haruno Sakura agar bisa mendapatkan Sasuke. Dulu, bagaimanapun juga Sakura adalah sahabat terbaiknya.

Kenapa ia mesti iri? Kenapa ia tetap bersikeras untuk menggoda Sasuke? Padahal, ia sudah tahu fakta itu dari awal.

Fakta paling memuakan yang pernah ia dengar. Mau tidak mau, iapun harus mengakuinya. Bahwa Uchiha Sasuke memang sudah lama jatuh cinta dengan Haruno Sakura.

"Aku memang sudah kalah dari awal," Ino berkata dengan suara lirih. Air mata terus mengalir di wajah cantiknya. Bahunya bergetar hebat. Ia lalu menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Berkali-kali ia mengusap-usapkan kedua tangannya.

Ia sebenarnya sudah sadar bahwa ia memang tidak akan pernah menang dari Haruno Sakura.

Tawa sarkastik Ino lalu mulai terdengar lagi. Gadis itu akhirnya berteriak dan memukul-mukul sofa dengan raut frustasi. "SIAAAAL!" jeritnya.

Ia benci ini semua.

Kenapa semuanya jadi begini? Dasar takdir brengsek, kenapa ia selalu mempermainkan hidupku hah!

Sebuah tawa pahit terdengar dari bibir Yamanaka Ino, ia lalu menangis kembali. "Kau menang Sakura, kau menang, kau selalu menang ha ha ha…"

.

.

Sasuke memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jalanan kota tidak seramai siang hari. Ia melirik jam tangannya. Pukul 2 malam? Pantas saja kota terlihat sepi.

Hatinya berdebar keras, perkataan Ino tadi membuat pikirannya kacau.

Apa yang dikatakan Ino itu benar? Tidak, ia tidak menyukai Sakura. Selalu, dari dulu gadis itulah yang menyukainya, bukan Sasuke. Sasukelah dari dulu yang membuat Sakura tergila-gila. Membuat gadis itu tidak bisa jauh dari dirinya. Membuat gadis itu putus asa karena menginginkannya.

Apakah ia membohongi dirinya sendiri selama ini?

Apakah ia memang sudah jatuh cinta pada Sakura?

"Aku sudah gila," Sasuke berbisik pelan.

Apa Ino benar, bahwa selama ini Sasuke berpura-pura tidak menyukai Sakura? Tapi, ia memang tidak menyukai gadis itukan? Ia hanya menginginkan kehancuran si kepala merah saingannya. Lewat Sakura tentu saja. Gadis itu hanyalah alat miliknya.

Tiba-tiba saja memori tentang Sakura mengalir begitu saja tanpa ia bisa cegah.

Awal pertemuan mereka, tawa pertama Sakura, wajah Sakura saat memberikan surat cintanya, raut takut Sakura saat gadis itu di kunci di toilet, senyum bahagianya saat Sasuke mengajaknya berkencan, ekspresi kecewanya saat menemukan Sasuke ingkar janji, tingkah kekanakannya, dan…. Tangisnya pada malam itu….

Tangisan pertama Sakura.

Gadis itu tidak pernah menangis. Sepanjang Sasuke mengenal Sakura, ia tidak pernah melihat gadis itu menangis. Saat jatuh, Sakura diam saja. Saat Sakura di sakiti gadis-gadis menyebalkan yang merupakan penggemarnya, gadis itu tetap diam.

Ingatan Sakura kembali ke malam itu.

Entah mengapa rasa sesak tiba-tiba memenuhi rongga dadanya. Malam itu, kedatangan Sakura ke rumahnya. Dan, tiba-tiba saja Sakura meninggalkannya. Sekarang, gadis itu muncul kembali dengan dendam dan juga keinginan untuk membunuh Sasuke.

Apa memangnya yang sudah Sasuke lakukan sampe membahayakan Sakura? Memangnya Sasuke su–

CKIIIIT!

Sasuke membanting kemudinya ke arah kanan. Ia memberhentikan mobilnya dengan tiba-tiba.

Mata Sasuke membelalak ngeri. Kepingan-kepingan memorinya mulai tersusun perlahan-lahan. Potongan ingatan-ingatannya terkumpul sedikit, demi sedikit. Ada yang aneh, malam itu… malam itu ketika Sakura datang kerumahnya. Ada sesuatu yang terlewatkan oleh dirinya.

Dulu, Sasuke tidak begitu ingat atau bahkan menyadarinya. Tapi, ia baru mengingat bagaimana penampilan Sakura malam itu.

Ada sesuatu yang janggal.

Kurang sedikit lagi, tinggal sedikit lagi untuk mengetahui mengapa gadis itu sebegitu membencinya.

Tinggal sebuah kepingan puzzle, dan ia akan mengetahui mengapa sampai Sakura membencinya seperti ini.

"Apa yang terjadi malam itu?" desis Sasuke pelan. "Apa… yang sudah kulewatkan?"

Mata onyxnya lalu menatap ke arah jendela di sampingnya. Kilatan bingung terlihat jelas di wajahnya. Alisnya mengkerut. Ia mencoba keras untuk mengingat apa yang salah. Namun, sekeras apapun ia mencoba tetap saja ia tidak mengerti. Apa? Apa? Apa yang sudah ia lewatkan?

Tingaal sedikit lagi…

.

.

Author Note's:

Bunuh saya, yak! Saya tahu bahwa saya pantas dibunuh.

3 bulan tanpa mengupdate fict ini rasanya saya merasa berdosa! Abisnya, tiba-tiba dapet writer block dan males nulis fanfic ini! Tapi, syukurlah writer block sudah sembuh dan semangat lagi bikin fanfic! Oh ya, fanfic ini bakal tamat paling lama di chapter 26. Di usahakan tamat pada chapter 21 huehehehe. Oh, perhatiin ya si cewek yang Ino certain bakal muncul lagi loh, tapi nanti! Dan, ada beberapa hint ada yang bisa menyimpulkan? #spoiler

Oh ya, makasih yaa reader udah pada setia nunggu! Pokoknya saya usahakan fanfic ini cepat tamat terus cepet update huehehehe. Balesan review non login di bawah ya!

.

REPLY FOR REVIEWER NON LOGIN

ChiiChocolate : chapter ini udah panjang belom? Hueheheheh. Kalo Sasuke…. Kan ketebak banget kalo Sasuke yang datang, terlalu klise wakakakakak =))) updated yaa, kalo berkenan mohon review :D

uchihaharuno prorepeerr : gomeeen! Lama yaa, abis saya kena writer block sih :-p ini udah panjang ko (kata saya) huehehehe. Kalo berkenan mohon review lagi yaa :D

Sichi : Sekarang udah di panjangin kok :D Ini udah ada chapter barunya! Salam kenal juga yaa Sichi-chan! Endingnya… siapaa ya? =))) pokoknya tunggu yaaa, kalo boleh mohon reviewnya dong :ppp

Chini VAN : Sekarang udah panjang belom? :-o salam kenal juga yaa Chini-chan! Makasih yaa udah review! Review lagi boleh gak? :D

AinO SasuSAku : gapapa kok, makasih yaa udah review! Iya nih, Sasukekan jadi Casanova paling sekseeeh x)) Sasuke udah mulai sadar kok dikit-dikit hehehehe :-p updated, kalo boleh review lagi :D

Emerald Cherry : Emang nih Sasuke rese gada dua! Tapi pelan-pelan sikapnya berubah kok! Huehehehehe! Tenang gadianggep flame kok . Updated yaaa, kalo berkenan mohon review lagi!

Sasusaku : makasih udah bersabar nunggu yaaa, updated! Kalo boleh minta review lagi dong yaaa :-p

Arin anasya harahap : hai juga arin-chan! Makasih yaa pujiannya hehehe, jadi maluuu. Pendamping Saskey? Hati-hati dishanaroo Sakura looh! Updated yaa, mohon review lagi kalo berkenan :-p

Mikimichichiro : Maaf yaa ga diupdate" abis saya kena writer block sih heuheehhee #digetok. Secepet mungkin bakal terungkap kok! Di chapter 17 sekian mungkin? Wakakakakak, pokoknya tetap ikutin fanfic ini yaaa! Mohon review lagi yaa :-)

SPECIAL THANK'S

Akari Nami Amane. blackcurrent626. Uchihaiykha. uchihyuu nagisa. d3rin. ChiiChocolate. Tsukiyomi Ayumu Kumiko. uchihaharuno prorepeerr. Mona Rukisa-chan. Sky pea-chan. Tabita Pinkybunny. Sichi. Chini VAN. AinO SasuSAku. Nu-Hikari Uchiha. Emerald Cherry. sasusaku. Akasuna .Arin anasya harahap. Mikimichichiro. Sindi 'Kucing Pink

.

.

xoxo

.

Arissachin