A/N : Mungkin Sasori akan lebih disorotnya dichapter depan, dan rahasia satu-persatu akan terkuak dichapter depan dan berikutnya yang akan lebih menjelaskan posisi Sasori kenapa dia di incar juga. Dan nikmati saja dulu alurnya hehehehe. Sebelumnya saia kasih warn di genre ini ada tragedy (yang kemungkinan akan terjadi hal yang tidak baik hohohoh *dikeplak*). Tapi tenang, saia akan berusaha menghindari kematian chara disini. Yah, selamat membaca dan maaf bila banyak typo(s).


Warning : T rate, tokoh minor Naruto, OC (dislike it? Click back tab ^^).

Genres : Action/Adventure/Romance/Humor/Mystery/Tragedy.

Pair : SasoriXSakura (in his memories)/KaoruXMarie.

Disclaimer : Semua tokoh Naruto milik Masashi Kishimoto.

Dedicated to all readers and silent readers.

For adventures lover, pelase enjoy this chapter.

.

Neverland Side Story

Chapter 7

(Tears and Pain)

.

.

"Sebenarnya apa tujuan kalian? Kenapa kalian ingin menculik Joker?" tanya Marie yang merasa ini sudah saatnya untuk menanyakan semuanya, kenapa kedua orang yang notabene adalah NPC itu bersikeras ingin menculik Joker.

"Ini adalah perintah dari Alice-sama. Selain itu kami ada tugas lain, membunuh Sasori." Kurotsuchi menjawab sambil menyeringai menyeramkan ke arah Marie.

"Apa kau bilang? Alice? Ja-jangan-jangan dia adalah… !" Marie sepertinya mengetahui sesuatu. Terlihat dari wajahnya yang menjadi pucat setelah mendengar nama Alice disebut.

"Sudah cukup bicaranya!" Aoi tiba-tiba saja langsung melancarkan serangan. Marie yang menyadarinya dengan cepat bergerak menghalangi serangan itu dengan payungnya, tapi gadis itu terdorong ke belakang dan menabrak pagar besi pembatas di belakangnya. Dari arah yang lain Kurotsuchi melayangkan pedang panjangnya ke arah Marie. Untungnya serangan itu dapat dihindari, Marie segera berputar mengelak ke samping.

Srinnnnnng…

"Tch… " Kurotsuchi sedikit berdecak kesal karena serangannya tidak mengenai Marie tapi malah membentur pada pagar besi pembatas tersebut. Dia mencoba menghunuskan pedangnya itu pada Marie, tapi dengan sigap Marie menahanya dengan payung.

Zinnnnngg…

Dari arah samping Aoi menembakkan sinar laser ka arah Marie, tapi gadis itu dengan cepat segera merunduk. Marie dengan cepat mendorong Kurotsuchi dan menghantamkan ujung payungnya ke perut gadis itu. Kurotsuchi yang masih penasaran akhirnya kembali melancarkan serangan. Dia menyerang Marie dengan menyilangkan pedangnya dari arah bawah ke atas, tapi Marie berhasil menghentakkan tangan Kurotsuchi dari bagian bawahnya dengan cukup keras sehingga pedang yang dipegangnya terlempar ke atas.

HAP!

TAP!

Marie segera melompat dan berhasil mengambil pedang tersebut dan mendarat di atas besi pembatas tersebut.

Set…

Marie sekarang mengarahkan pedang tersebut ke arah Kurotsuchi. Gadis berambut pendek itu hanya bisa terdiam sambil menatap kesal pada Marie.

"Kurang ajar!" desis Aoi yang berusaha untuk menyerang Marie dengan payungnya. Pemuda itu mengembangkan payungnya dan mengarahkannya pada Marie. Aoi memutar-mutarkan payungnya dengan cepat dan dari payungnya itu terlihat ada jarum-jarum kayu yang cukup besar melesat ke arah Marie.

Tang Tang Tang Tang Tang Tang!

Jarum-jarum kayu itu ditangkis dengan pedang yang berada dalam genggaman Marie. Jarum-jarum kayu itu berjatuhan ke bawah dan tak ada satupun yang berhasil mengenai Marie.

"Heh… Kena kau!" tiba-tiba saja Aoi menyeringai aneh pada Marie. Seketika Marie dapat merasakan hal buruk yang akan terjadi selanjutnya. Dia mengeratkan pegangan pada pedang dan payungnya bersiap menanti serangan berikutnya.

WUUSSHHH!

Pemuda itu mengibaskan payungnya ke tanah mengakibatkan hembusan angin yang begitu kuat dan kencang. Seketika jarum-jarum kayu yang tadinya berjatuhan berdiri kembali. Lalu Aoi sekali lagi mengibaskan payungnya kali ini ke arah kiri, dan jarum-jarum kayu itu secara serentak mengarah ke arah Marie dengan begitu cepat.

Set… Set… Set… Set… Set… Set!

Jarum-jarum itu menyerang Marie lebih cepat dari sebelumnya, dia mencoba untuk menghalaunya dengan menggunakan payung miliknya. Tapi sayang payung itu sendiri tertembus oleh jarum-jarum itu dan langsung melesat ke arah tubuh Marie.

"AAAHHH!" jarum-jarum itu melukai tubuh Marie dan gadis itu terhempas ke belakang dan terjatuh dari pagar besi tersebut.

.

"Hey lihat! Ada yang terjatuh dari atas atap gedung!" teriak Koyuki yang baru saja tiba di depan gerbang dan sudah mendapati pemandangan mengerikan itu. Dia menunjuk ke arah Marie yang sedang terjatuh itu.

"Itu, kan… Marie… " Kaoru segera melihat ke arah gadis itu yang ternyata adalah Marie. Entah mengapa saat melihat gadis itu dalam keadaan tak berdaya seperti itu membuat hatinya terasa sakit. Dia merasa ngeri membayangkan tubuh gadis itu kalau sampai membentur tanah di bawah.

'Aku harus menyelamatkannya,' ucap batin pemuda itu. Kemudian dia segera berlari dengan cepat ke arah gadis itu, entah apa yang ada di dalam pikiran Kaoru saat itu, yang menjadi tujuan utamanya saat ini hanyalah untuk menyelamatkan Marie bagaimanapun caranya.

"Apa yang dilakukan Kaoru disana?" Aoba menunjuk ke arah pemuda berambut putih itu yang sekarang sedang berlari dengan cepat ke arah Marie. Dan terjadi hal di luar dugaan, karena pemuda itu berlari menaiki gedung tersebut tanpa menggunakan alat bantuan apapun. Kaoru terus berlari menaiki gedung itu dan warna matanya seketika berubah menjadi biru senada dengan batu aquamarine. Bahkan mahasiswa-mahasiswa yang melihatnya sampai mengedipkan mata mereka beberapa kali untuk meyakinkan penglihatan mereka kalau mereka benar-benar tidak salah melihat.

.

DAP!

Kaoru berhasil menangkap tubuh Marie yang terjatuh dan menahannya dengan tangan kirinya. Keduanya terdorong ke belakang secara perlahan.

"Joker… " Marie cukup terkejut dan tak menyangka kalau Kaoru datang menolongnya. Gadis itu menoleh ke arah Kaoru sambil sedikit tersenyum karena merasa senang.

"Rupanya dia datang menolong gadis itu! Akan kubuat mereka benar-benar terjatuh!" Kurotsuchi menatap dari arah atas dengan tatapan marah melihat Marie ditolong oleh Kaoru. Gadis itu menggeram dengan marah.

"Hentikan Kurotsuchi! Kau tidak boleh membunuh Joker!" Aoi berusaha memperingati Kurotsuchi untuk tidak bertindak di luar perintah, tapi sayang gadis itu sudah terlanjur melompat ke atas. Dengan satu hentakan kaki dia melompat tinggi ke udara, kemudian dengan cepat dia meluncur ke arah Marie dan Kaoru. Dia mengarahkan pedangnya pada Kaoru.

"Awas, dia datang!" Marie memperingati Kaoru dengan kedatangan Kurotsuchi yang datang menyerang mereka berdua.

Set…

Begitu gadis berambut pendek itu sudah mendekat, Kaoru mengeluarkan sebuah kartu dari tangannya.

Srinnnngggg…

Dengan kartu itu dia menahan serangan pedang dari Kurotsuchi dan terjadi gesekan antara kartu yang dipegang Kaoru dengan pedang milik Kurotsuchi.

'Kurang ajar! Dia menahanku hanya dengan sebuah kartu!' geram Kurotsuchi yang kesal dan merasa diremehkan.

"Take this!" kemudian Kurotsuchi mengeluarkan bola asap dari mulutnya yang langsung menghantam Kaoru dan Marie membuat mereka berdua kali ini benar-benar terjatuh. Kurotsuchi langsung tersenyum puas begitu melihat dua lawannya terjatuh, dan dia menghilang dari balik kepulan asap, begitu juga dengan Aoi yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menghilang juga dari sana.

"Mereka berdua akan terjatuh! Cepat ambil sesuatu untuk menahan mereka!" perintah Anko menyuruh beberapa mahasiswa untuk mengambil apapun untuk menahan mereka yang sedang meluncur cepat ke bawah.

'Apa yang harus kulakukan?' batin Kaoru yang bingung harus melakukan apa. dia melirik ke arah Marie yang memejamkan mata sambil mendekap tubuhnya. Saat melihat Marie yang seperti itu dia seperti melihat sebuah flashback dimana dia melihat ada seorang clown yang tengah bersimpuh di depan seorang putri. Putri itu tersenyum bahagia. Kaoru menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk menepis bayangan aneh itu. Kemudian dia mengulurkan tangannya ke arah depan.

Zreeeeeeeeeeet…

Seketika dari tangannya itu muncul kartu yang langsung bertebaran dan kemudian seperti membentuk rantai yang panjang. Kartu-kartu itu membentuk seperti rantai yang terjulur panjang ke arah atas dan membelit besi pembatas di atap gedung tersebut. Kartu-kartu itu terus bertambah panjang seiring dengan semakin jauhnya posisi Kaoru dan Marie dari atas gedung.

Greb…

Kaoru memegang kartu-kartu itu dan berhenti pada posisi tinggal dua meter lagi. Semua yang melihatnya langsung bernapas lega Karena keduanya tidak jadi terjatuh. Perasaan lega bercampur takjub dengan kejadian yang baru saja mereka lihat.

"Pertunjukan sulap yang bagus untuk penyambutan." Koyuki malah mengira apa yang baru saja dilihatnya adalah sebuah pertunjukan sulap yang sengaja ditampilkan untuk menyambut kedatangan mereka sebagai tamu kehormatan.

Prok Prok Prok Prok Prok!

Semua yang ada disana malah teprok tangan heboh, malah ada yang bersiul-siul segala.

GUBRAKH!

Kaoru dan Marie akhirnya jatuh berdua tapi untungnya mereka berdua tidak terluka.

"Kalian berdua tidak apa-apa?" tanya Anko yang langsung menghampiri kedua mahasiswa itu.

"Aku tidak apa-apa, tapi sepertinya Marie terluka… " jawab Kaoru yang langsung mengkhawatirkan keadaan Marie. Dia dapat melihat ada beberapa luka goresan di tubuh gadis itu.

"Aktingmu sangat bagus! Mau bergabung dengan perusahaan entertainment kami? Ini kartu nama perusahaan kami." Haruna langsung menghampiri Kaoru dan memberikan kartu nama miliknya kepada pemuda itu.

"Tidak usah, terima kasih." Kaoru dengan cepat menolak kartu nama tersebut dan langsung membawa Marie ke ruang kesehatan.

-ooo-

Akhirnya acara itu berlangsung juga dengan Koyuki dan Haruna sebagai pemilik acara, juga Gaara, Rei dan Nathan beserta Sasori sebagai tamu undangan yang juga diminta untuk menjelaskan dari game Neverland yang akan dibuka di Sunagakure.

Koyuki dan Haruna akan menjadi pemimpin dari perusahaan Kazahana yang akan menaungi game Neverland. Sasori disana juga menjelaskan mengenai asal-usul game Neverland dan menjelaskan konsep dari game tersebut. Gaara, Rei dan Nathan juga ikut membantu Sasori dalam menjelaskan. Mereka juga mendemonstrasikan game Neverland offline di sebuah layar besar, setelah itu barulah game Neverland online-nya diperlihatkan.

Tiga jam berlalu akhirnya acara itu selesai juga. Semuanya berjalan dengan baik dan lancar tanpa adanya halangan sedikitpun. Dan kelihatannya semua yang menghadiri acara itu menyambut game Neverland dengan baik dan sepertinya akan sukses. Koyuki dan Haruna juga merasa puas dengan sambutan yang mereka terima dengan acara yang mereka adakan ini dan membuat mereka semakin bersemangat untuk membawa game itu ke Sunagakure secepatnya.

"Baiklah, terima kasih semuanya. Kami berharap agar pembukaan beta Neverland akan berjalan dengan sukses nantinya." Koyuki berdiri sambil mengakhiri acara tersebut. Tepuk riuh berkumandang dari orang-orang yang hadir. Setelah itu Koyuki dan Haruna bergegas keluar kampus dengan digiring oleh beberapa pengawal setelah acara selesai.

.

.

"Haaah… Akhirnya selesai juga!" kata Nathan yang merasa lega karena acaranya sudah selesai. Tiga jam duduk disana tanpa berbuat apa-apa benar-benar membuatnya bosan. Dia tidak seperti Gaara yang sudah terbiasa dengan urusan formalitas, atau Sasori yang terlihat anteng dan kalem sambil menebar senyum, atau Rei yang bisa berubah menjadi diam seperti itu. Saat ini dia benar-benar ingin cepat pulang dan ganti baju karena udara sudah mulai panas.

"Ayo pulang!" sambar Rei sambil berjalan menuju depan gerbang kampus yang disusul oleh Gaara dan juga Nathan.

Tapi begitu ketiganya berjalan sudah menjauhi kampus mereka dihadang oleh tiga orang yang waktu itu pernah menyerang Rei dan Nathan.

"Mau apa kalian?" tanya Gaara dengan datar sambil melirik ke orang-orang yang sekarang sedang berdiri mengelilingi mereka.

"Serahkan tas itu pada kami!" kata Dosu sambil menunjuk tas yang berada dalam rangkulan Gaara.

Dengan sedikit mendengus Gaara menyerahkan tas itu tanpa perlawanan. Dosu mengambil tas itu dengan kasar dari tangan Gaara. Kemudian pemuda itu langsung mengacak-acak isi tas Gaara, membuat sang pemilik tas mengernyit heran dengan kelakuan rampok di depannya ini.

'Bagus, ketemu!' pemuda itu mengambil kepingan kaset dari dalam tas Gaara yang sebenarnya itu merupakan kaset lagu milik Gaara.

"Ayo pergi!" Dosu menyuruh dua anak buahnya untuk pergi dari sana dan melempar tas Gaara ke tanah begitu saja.

"Aneh… Kenapa mereka malah mengambil kepingan kaset?" tanya Nathan dengan heran melihat sikap tiga orang perampok tadi yang bukannya merampok uang atau benda berharga tapi malah mengambil kepingan kaset.

"Sepertinya mereka salah sasaran… " sambar Gaara yang merasa kalau ketiga rampok itu sebenarnya mengincar kaset Neverland offline yang saat ini ada pada Sasori bukan padanya.

"Salah sasaran gimana maksudmu?" tanya Nathan setengah bingung dengan ucapan Gaara barusan.

"Kurasa kita harus kembali lagi ke kampus dan menemui Sasori." Gaara tidak menjelaskan ucapannya pada Nathan. Dia hanya bilang untuk menemui Sasori dan pemuda itu segera memutar arah menuju kampus kembali. Nathan dan Rei tanpa banyak bicara hanya bisa mengikuti Gaara dari belakang.


Di dalam ruangan kesehatan…

.

.

Di ruangan itu tampak Marie yang sedang terbaring di atas tempat tidur dengan tubuh yang terluka oleh beberapa luka goresan. Sedangkan Kaoru berusaha mencari obat untuk luka-luka Marie. Dia mengambil sebuah kapas dan alkohol, kemudian dengan hati-hati dia membersihkan luka-luka yang ada pada tangan gadis itu.

"Jangan… Jangan pergi! Kumohon… Jangan pergi!" Marie tampaknya mengigau dalam tidurnya, tapi tak berapa lama gadis itu terbangun dengan wajah pucat dan terlihat air mata menetes dari bola mata sapphire-nya yang indah.

"Marie… ? Kau kenapa?" Kaoru segera menghentikan aktifitasnya dan menghampiri gadis itu lebih dekat hanya untuk memastikan keadaan Marie.

"Joker… Joker kumohon jangan pergi!" tiba-tiba saja gadis itu memeluk Kaoru dengan erat. Tangan itu bergetar saat memeluk pemuda di depannya ini.

"Kenapa kau terus memanggilku Joker? Marie, kau bilang kau tau sesuatu, kan? Kumohon katakan padaku, aku tidak bisa terus-menerus hidup dengan penuh kebingungan seperti ini… Kumohon… " Kaoru melepaskan pelukan Marie dengan pelan, kemudian dia memohon pada Marie untuk mengatakan semua yang dia ketahui tentang jati dirinya.

"Kurasa sudah saatnya aku memberitahu semuanya padamu… " Marie sedikit mendesah pelan. Dia memutar tubuhnya ke samping hanya untuk berhadapan lebih dekat dengan pemuda itu. Kemudian dia menghela napas panjang dan mulai bercerita.

.

"Kaoru… Kau bukanlah berasal dari dunia ini… Tapi kau berasal dari Neverland, dunia game dan kau disebut sebagai Joker. Keberadaanmu di dunia ini akan merusak keseimbangan batas dimensi dua dunia, kau harus segera kembali ke Neverland," ucap Marie yang menceritakan kebenarannya pada Kaoru dan mengatakan kalau keberadaan Kaoru hanya akan membahayakan bagi keseimbangan dua dunia.

"Apa yang kau bicarakan? Semuanya terdengar tidak masuk akal bagiku! Jangan mempermainkanku!" balas Kaoru yang sepertinya tidak mempercayai cerita Marie dan menganggap gadis itu berbohong padanya.

"Aku tidak mempermainkanmu!" sambar Marie dengan cepat dan sedikit berteriak pada Kaoru. "Kaoru… Kau harus mengingat kembali siapa dirimu, sebab kalau tidak… Killer Bee pasti akan membunuhmu… "sambungnya lagi kali ini dengan nada suara yang terdengar begitu sedih. Marie menatap kaoru dengan tatapan yang begitu menyayat. Kaoru hanya bisa diam tenggelam di dalam tatapan itu, tak berapa lama wajah Marie di depannya berganti menjadi wajah Sakura yang kali ini bisa dilihatnya dengan jelas.

'Wajah itu… ' Kaoru melihat wajah itu lagi yang kali ini tampak begitu jelas. Gadis itu memiliki kulit putih yang bersih, serta manik emerald di matanya dan bersurai merah muda. Kaoru lama terdiam melihat bayangan gadis itu, hingga akhirnya dia dapat mengingat nama gadis itu.

"Sakura… " ucapnya dengan pelan tapi Marie dapat mendengar ucapan Kaoru yang membuatnya kaget karena pemuda itu malah memanggil nama Sakura.

"Kau ingat pada Sakura?" tanya Marie secara reflek yang merasa heran kenapa dari sekian ingatan yang harusnya di ingat oleh Joker, dia malah mengingat Sakura.

"Kau mengenalnya?" Kaoru malah bertanya balik pada Marie dengan wajah yang begitu antusias. "Kau tau, aku sering melihat bayangan gadis itu dan selalu bertanya-tanya siapa dia sebenarnya. Aku meyakini kalau dia adalah orang yang sangat penting dimasa laluku." Pemuda itu malah jadi membahas mengenai Sakura, gadis yang selama ini ada dalam bayangannya. Dia sama sekali lupa dengan tujuan awalnya yang berniat untuk menanyakan jati dirinya pada Marie.

"Kenapa… Kenapa harus Sakura lagi!" tiba-tiba saja Marie kembali berteriak, kali ini terlihat ada pancaran kekecewaan dari raut wajah manisnya. "Kau bodoh!" akhirnya gadis itu lari begitu saja dari sana meninggalkan Kaoru yang kebingungan tak mengerti dengan sikap Marie. Dia keluar begitu saja sampai tidak menyadari kalau ada seseorang dari balik pintu yang mendengarkan pembicaraan mereka barusan.

'Bukan Sakura gadis di masa lalumu, tapi aku... ' gadis itu terus berlari menuruni tangga dan menuju luar gedung sambil membatin dengan lirih.

Ada urusan apa sebenarnya Gaara dengan Sasori? Apa yang ingin dia lakukan? Lalu kenapa ketiga orang itu mengincar kaset yang ada di dalam tas Gaara? Dan siapa orang yang mendengar pembicaraan antara Marie dan Kaoru?

TBC...


Yuki : Ah, ya disini saia berusaha untuk menampilkan beberapa humor ringan saja, semoga bisa jadi refreshing disela-sela seriusnya masalah di dalam cerita ini. Sekalian saia juga sedang mencari ritme humor saia kembali. Soal Fei sama Alvaro mungkin nanti akan dijelaskan hubungannya hehehehe, kebetulan aja bisa dikaitkan. Sebenarnya cerita ini jadi berat antara Kaoru dan Sasori pada akhirnya, menulisnya juga jadi agak berat (dan sedikit tega). Dan, yang liat opening diawal chapter ada adegan Kaoru Vs Sasori, mungkin hal itu akan benar-benar terjadi nantinya.

Yosh, Ide, saran, kritik dan pendapatnya silahkan sharing lewat review atau PM. Dan maaf bila banyak kesalahan dalam penulisan kata-kata dan lainnya, serta terima kasih bagi yang menyempatkan diri untuk membaca cerita ini. Semoga kalian bisa terhibur sejenak.

.

.

"Thanks for reading".