Dumped Princess

Chapter 9

GS! EXO OFFICIAL COUPLE

MONARCHY CONSTITUTIONAL! AU

HUNHAN AS MAIN COUPLE

. . .

Luhan diusir dari rumahnya ketika pemilihan Putri Mahkota Korea Selatan akan dilaksanakan. Pilihan yang diberikan Xi Hangeng—ayahnya hanyalah masuk ke istana atau keluar dari rumah selamanya. Luhan yang bingung tak tau harus bagaimana. "UJIAN TAHAP PERTAMA DIMULAI!" TENGGG! Suara gong kerajaan berbunyi! Putra Mahkota yang duduk disinggasana yang tertutup tirai hanya menatap semua calon Putrinya.

. . .

Oh Sehun as Crown Prince Oh Sehun

Xi Luhan as Crown-Princess-to-be Xi Luhan

Wu (Oh) Yifan as Crown Prince's Brother

Oh Yunho as South Korea King

Kim Jaejoong as South Korea Queen

Tan (Xi) Hangeng and Kim Heechul as Luhan's parents

. . .

FujoAoi present…

. . .

Luhan terduduk tak berdaya disamping altar peristirahatan orang tuanya di ruangan duka yang berada di istana. Dua figura foto orang yang meninggal itu dihiasi pita hitam. Sehun, Yunho dan Jaejoong mewakili Luhan untuk menyambut tamu yang datang, dan mewakilu Luhan sebagai keluarga Luhan. Mata Luhan sudah berubah menjadi hitam, sama seperti hanbok yang ia pakai.

Ketika ia mendapat berita meninggalnya orang tuanya, jantungnya bagai dicabut dari badannya kemudian diinjak hingga hancur hingga rasanya ia tak dapat bertahan hidup lagi. Kekuatannya saat ini hanya tinggal Sehun dan keluarga kerajaan. Namun, kekuatan dari Heechul dan Hangeng tak akan pernah ia dapatkan lagi. Senyuman tulus Heechul, teriakan khasnya dan bulu-bulu kucing yang menempel di pakaiannya mungkin tak akan ia temukan lagi. Begitu pula dengan nada tegas dan kekeras kepalaan Hangeng yang ia warisi.

Sehun duduk disamping Luhan dan kemudian memeluk istrinya dengan erat. Entah kenapa semuanya terjadi begitu cepat. Mertuanya itu meninggalkan istrinya yang masih butuh kehangatan orang tuanya dalam secepat ini. Mereka sukses membawa anaknya ke dalam satu tempat paling aman di Korea Selatan. Berada di bawah lindungan Putra Mahkota langsung. Tapi, berhasil membuat putri mereka menangis meraung dengan kesedihan luar biasa yang melingkupinya.

Sehun mendengar isakan dari tubuh Luhan yang semakin kencang. Sudah berapa kali Luhan menangis sejak 12 jam lalu. Setelah Luhan bangun dari pingsannya, Luhan segera mencari orang tuanya. Luhan meraung ketika mendengar kabar duka yang kembali disampaikan oleh tuan Hong. Entah bagaimana lagi Sehun harus membuat Luhan tenang.

"AYAH… IBUUUU!" raung Luhan dalam dekapan Sehun. Raungan itu terdengar memilukan. Sehun menitikkan air matanya mendengar betapa menyedihkannya Luhan memanggil orang tuanya yang telah pergi.

"Aku ingin ibu dan ayah… Ah… Hua… Huks… Ibu… Ayah…"

Jaejoong kemudian merengkuh tubuh Luhan dan mengelus kepalanya. "Tenang… Kau pasti kuat Luhan… Kami selalu disini bersamamu…" ucap Jaejoong. Jaejoong menarik dan menghela nafas panjang agar dia tak menangis. Memilukan. Beberapa tamu bahkan berulang kali mengucapkan bela sungkawa kepada Luhan yang masih terisak sambil meletakkan bunga lili di depan altar kedua orang tua Luhan.

. . .

Pemakaman berlangsung khidmat. Abu orang tua Luhan dikuburkan di perkuburan keluarga kerajaan. Sekarang Luhan berada di kamarnya dengan hanbok hitam dan rambut yang acak-acakan. Sehun masuk ke dalam kamar setelah berbicara dengan beberapa duta besar yang mewakili negara masing-masing untuk menyampaikan bela sungkawa pada istri calon pemimpin Korea Selatan.

"Luhan…" panggil Sehun yang kemudian berlutut di depan Luhan dan mengusap wajah Luhan yang akhirnya mau menatapnya walaupun dengan tatapan yang menyiratkan kesakitan. "Ayah dan ibu sudah tenang disana. Kita hanya perlu berdoa dan menyelidiki penyebab semua ini. Kau harus bertahan demi mereka hingga penyelidikan selesai dan kau bisa melihat hukuman pada pelaku kejadian ini," ucap Sehun.

Luhan terisak. "Ka-Kalau begitu… Hiks… Aku boleh menyusul mereka setelah semuanya selesai… Benar?" tanya Luhan. Sehun menggeleng. "Ayah dan Ibu tidak akan setuju, sayang," ucap Sehun. Luhan menggeleng. "Mereka akan selalu bersamaku, Sehun… Bagaimana jika aku tak menyusul mereka?" tanya Luhan.

Sehun tau Luhan mulai melantur karena kondisi fisik dan psikisnya agak terganggu atau terguncang. Akhirnya Sehun mencium bibir Luhan agar tangisan Luhan bisa ia redam sedikit. Luhan akhirnya sedikit tenang setelah Sehun mengelus punggungnya lembut. "Istirahatlah…" saran Sehun. Luhan mengangguk dan kemudian membaringkan badannya.

Pagi harinya, badan Luhan sedikit panas, ia menggeliat pelan dan tetap menggumam kecil. Itu membuat Sehun panik. Bagaimana jika Luhan tiba-tiba jatuh sakit? Pernikahan mereka yang kurang dari satu bulan bisa diusik oleh para tetua, bisa saja jika keadaan memburuk posisi Luhan akan dengan sangat terpaksa dikosongkan. Sehun tak ingin itu terjadi pada istrinya ini. Luhan sudah cukup sedih kehilangan orang tua kandung saja, tidak dengan keluarganya yang baru.

"Uh… Ibu… Ayah…" igau Luhan dengan mencoba mencapai-capai sesuatu dan itu membuat Sehun semakin kasihan. Sehun menggenggam tangan Luhan dan menciumya lembut. "Bertahanlah," ucap Sehun yang kemudian pergi ke luar paviliun dan menyuruh seorang dayang memanggilkan dokter.

Sehun kembali masuk dan membantu Luhan untuk berganti pakaian dengan pakaian yang lebih pantas karena Sehun tidak ingin orang lain melihat miliknya. Tak lama, pintu kamar diketuk dan Sehun membukakan pintu untuk doktr tersebut. "Sepertinya beliau kelelahan, Yang Mulia," diagnosa dokter itu sebelum memeriksa.

Sehun mengangguk mengerti. Dokter kemudian memeriksa Luhan dengan penuh ketelitian. "Dugaan kita benar, Yang Mulia. Beliau juga sedang demam. Bolehkah, kami membawa tim kami ke dalam paviliun anda agar bisa merawat beliau, Yang Mulia?"

Sehun mengangguk tanpa berbicara. Sebenarnya di hatinya ia tidak begitu setuju, hanya saja, ini demi kebaikan Luhan dan posisi Luhan saat ini. Ia tidak ingin semua kemungkinan terburuk itu terjadi. Biarkan Luhan tetap disisinya agar dia bisa melindungi Luhan dengan baik hingga maut memisahkan mereka.

. . .

Sehun melihat pergerakan tangan Luhan saat ia sedang mengelap badan Luhan dengan telaten. "Uhhh… Pusinghhh…" keluh Luhan. Sehun segera memasangkan Luhan dengan sebuah kaus yang longgar.

"Selamat pagi, sayang," sapa Sehun. Luhan tersenyum dan kemudian mencium bibir Sehun singkat. "Aku pusing," ucapnya. Sehun mengelus kepalanya lembut dan membuat Luhan memejamkan matanya, merasakan kenyamanan yang diberikan Sehun. Luhan kembali menitikkan air mata tanpa suara. Ia masih sedih. Siapa yang tidak sedih kehilangan orang tua ditengah-tengah kebahagiaan yang ada saat ini?

Dirinya belum sempat berbagi kebahagiaan kepada kedua orang tuanya. "Sebentar lagi kita harus ke mansion memberi salam pagi ke ayah dan ibu, kemudian memberi salam pagi kepada orang tuamu juga," ucap Sehun mengingatkan. Luhan mengangguk. "Iya. Aku tau. Aku hanya ingin seperti ini sebentar lagi. Sebentar saja," bujuk Luhan.

Sehun mengeratkan pelukannya kepada Luhan. "Sayang, aku disini. Selalu bersamamu. Apapun yang terjadi akhirnya nanti," ucap Sehun yang mencoba menenangkan Luhan. Luhan kemudian melepaskan pelukan Sehun. "Aku akan mandi."

Sehun berjalan menuju ruang tamu paviliun demi membaca berkas penyelidikan yang belum rampung. Luhan belum boleh tau siapa yang diduga adalah dalang yang membuat nyawa orang tuanya melayang. Luhan bisa terbawa emosi dan jika hal itu tersebar ke media, posisi Luhan dalam bahaya.

Setelah menyelesaikan untuk membaca berkas penyelidikan, Sehun memasukkan berkas-berkas tadi ke sebuah laci tersembunyi di dalam lemari kecil yang ada di ruang tamu.

Sehun kembali ke dalam kamar dan mengecup leher Luhan yang akan memasang branya. "Kau wangi," pujinya. Luhan merona. "Tunggu aku disini," ucap Sehun sebelum akhirnya menghilang di dalam kamar mandi.

SKIP TIME…

Luhan dan Sehun memberikan salam pagi kepada orang tua Luhan di sebuah kuil kecil yang dibangun di dalam lingkungan istana. Luhan memejamkan matanya untuk menahan air matanya. 'Tuhan, cukup. Aku tak sanggup untuk bangkit lagi jika kau mengambil hal lain dariku. Aku ingin orang tuaku tenang disana,' batin Luhan.

"Luhan, ayo kita ke mansion. Pasti masakan ibuku sudah siap," ajak Sehun. Luhan mengangguk. Mereka belum memberi salam kepada raja dan ratu karena Jaejoong memberitahu Sehun bahwa dia akan ke dapur istana sebelum Sehun dan Luhan datang.

Sehun menggandeng tangan Luhan dan mengelusnya pelan. "Kau tau, aku suka berjalan di lingkungan istana yang asri. Sendirian. Dan itu dulu. sekarang, aku bisa berjalan dengan seseorang yang ku cintai di sepanjang jalan yang indah ini."

Luhan tersipu malu. "Sayang sekali, disekitar apartementku tidak banyak hal indah dan kita belum pernah kesana setelah menikah," ucap Luhan sedih. Sehun menghela nafasnya. "Kau tidak boleh sedih lagi! Ini perintah suamimu, Luhan! Kau harus menaatinya seperti isi nasihat ayah dan ibumu ketika pernikahan kita."

Nasihat Sehun membuat Luhan sadar dengan tindakannya yang kekanakan. "Benar, itu nasihat ibu dan ayah yang harus kujalankan dengan baik," kata Luhan. Sehun dan Luhan terus bergandengan hingga menuju mansion.

Jaejoong sibuk menata makanan di meja berwarna kuning emas yang terletak di ruang makan. "Luhan, Sehun! Mari makan!" ajak Jaejoong. Yunho melipat korannya dan memberikannya kepada seorang dayang.

Sehun dan Luhan duduk di kursi yang disediakan. Luhan mengambil mangkuk sup yang belum dibagikan, tapi, Jaejoong malah mencegat tangannya. "Tanganmu ini akan ibu gigit jika membantu!" ucap Jaejoong.

Luhan terkikik. "Ayolah, Yang Mulia. Itu keterlaluan. Yang Mulia sudah terlalu sering melayaniku!" ucap Luhan. Jaejoong menggeleng. "Tak apa. Cepat, habiskan saja!"

Luhan menyendokkan nasi dan sup hangat ke mulutnya. "Enak sekali!" puji Luhan. Jaejoong tersenyum dan tersipu malu ketika masakannya dipuji menantunya. "Kalau begitu, habiskan saja," ucap Jaejoong.

Luhan dan Sehun makan dengan baik karena pelayanan oleh ibu negara Korea Selatan. Hingga akhirnya mereka selesai makan. Jaejoong menyuruh seorang dayang membawa sebuah amplop berwarna merah. Jaejoong menerima amplop itu dan memberikannya kepada Luhan.

"Pergilah," ucap Jaejoong. "Itu adalah tiket untuk bulan madu kalian. Sebenarnya memang agak tidak sopan jika ada kerabat yang baru meninggal, kita malah pergi jalan-jalan. Tapi, Luhan butuh penyegaran sedikit. Kau mau kan, Luhan?" tanya Jaejoong.

Luhan diam. Dia tidak melanjutkan makannya. "Kalau kau tidak suka, tidak apa-apa. Kami mengerti kau belum ingin jauh dari abu orang tuamu." Jaejoong membujuk Luhan untuk makan kembali. Tapi Luhan akhirnya mengangguk. "Aku setuju. Kapan kami pergi, Yang Mulia?" tanya Luhan yang membuat senyuman cerah terkembang di wajah Jaejoong.

"Esok lusa. Semua keperluan akan disiapkan dayang kalian." Sehun memegang tangan Luhan dengan erat. Luhan tersenyum kepada Sehun. Mungkin ini saatnya dia mempercayakan hidupnya kepada keluarga kerajaan yang telah bersedia melindunginya dan merawatnya saat ini.

. . .

Yifan memegang surat penangkapan kepada keponakan Jung Tae Chan. Yifan yakin, semua ini ada kaitannya dengan keluarga Jung itu. Entah kenapa Yifan merasa sangat kesal dan amat marah ketika mendengar berita kematian agen terbaiknya, Xi Hangeng. Bedebah kecil seperti Tae Chan dan Daeun harus dimusnahkan.

Yifan turun dari mobil hitam SUV-nya dan berjalan masuk ke dalam rumah Tae Chan. "Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu, Yang Mulia?" tanya pelayan di rumah Tae Chan dengan tenang. "Aku datang bersama surat perintah kerajaan untuk membawa Jung Daeun untuk dibawa ke istana. Kami akan menggeledah rumah ini. Jadi, sebaiknya kau minggir," kata Yifan yang mendorong pelayan itu pelan.

"GELEDAH SEMUA SUDUT. JANGAN BIARKAN SATU SUDUT PUN TERLEWAT. KELUARKAN SEMUANYA DARI TEMPATNYA. TIDAK PEDULI GUDANG HINGGA VAS, KELUARKAN SEMUA BARANG AGAR KITA MENEMU—"

"Tidak perlu seperti itu. Aku akan menyerahkan diri. Anda hanya membuat pelayanku ketakutan, Yang Mulia," ucap Daeun sambil membungkukkan badannya. "Kau…" ucap Yifan. "Kenapa? Kau marah? Kau tidak akan bisa membawaku ke dalam ruang penyiksaan itu Yang Mulia. Percayalah. Bahkan posisi adik iparmu bisa aku gantikan sekarang," ucap Daeun lagi. Yifan menggeram.

"Tutup mulutmu! Orang hina sepertimu tak pantas menghina seorang Putri Mahkota!" bentak Yifan.

"PANGERAN!" bentak seseorang dari balik badan Yifan.

Seorang tetua bernama Lee Ki Hyo datang bersama beberapa pejabat lain. Pria muda itu diangkat sebagai tetua karena Yunho memberikan wewenang kepadanya karena ia terkenal sebagai seseorang yang memiliki hubungan dengan anggota keluarga kerajaan Inggris—negara yang sama seperti Korea, menganut konstitusi monarki dan seorang akuntan terkenal. "Seorang pangeran tak pantas berkata seperti itu!" bentak Ki Hyo. "Anda tidak perlu ikut campur," balas Yifan kesal. Ki Hyo berdecih. "Aku ini tetua yang membuat posisi pangeranmu itu tetap kukuh. Kau bisa saja dicampakkan ke luar negeri jika kau macam-macam dengan Daeun! Ingat itu!"

Yifan bingung. Apa yang sebenarnya terjadi diantara Daeun dan Ki Hyo. "Tapi, Yang Mulia Raja memerintahkan kami, badan inteligen negara untuk membawa Jung Daeun demi penyelidikan kematian orang tua Putri Mahkota!"

Ki Hyo menyuruh dua orang body guardnya untuk melindungi Daeun dengan isyarat. "Kau boleh membawanya, asal tidak ada luka di badan Daeun. Ingat itu!"

Ki Hyo pergi dari rumah Tae Chan bersama pejabat-pejabat yang ia bawa bersamanya. Sial!

"Bawa Daeun ke mobil. Kita kembali ke istana sekarang!" perintah Yifan.

. . .

Daeun diam di dalam ruang interogasi nan gelap. Ia menutup matanya dan mengingat semua pelakuan yang ia terima dua malam lalu. Semuanya mengerikan. Ia masih mengingat ketika tangan pria kotor itu menyentuh tubuhnya.

Flashback…

Daeun menutup matanya ketika kejantanan dari Ki Hyo sudah akan masuk ke dalam kehormatannya. Harga dirinya terkoyak bagaikan sebuah kertas coretan tak penting. Bagaimana mungkin dia mengangkangkan pahanya kepada seorang lelaki hidung belang seperti Ki Hyo? Membiarkan Ki Hyo mengisi setiap senti rahimnya dengan spermanya.

Ki Hyo mendesah nikmat mana kala mulut Daeun tertutup oleh kain agar tak menimbulkan desahan. Daeun tak bisa menangis. Ini perintah pamannya. Selagi ibunya sedang di Amerika, pamannya menawarkan dirinya kepada seorang tetua agar bisa melindungi Daeun dari kejaran Yifan dan Yunho.

Ki Hyo mengeluarkan spermanya di dalam tubuh Daeun yang kelelahan. Ki Hyo menyeringai. "Tubuhmu nikmat sekali. Tae Chan bodoh itu… Benar-benar!" Ki Hyo tertawa menggelegar mengingat bagaimana Tae Chan meminta padanya dengan nada angkuhnya.

. . .

Sehun kembali menerima berkas hasil penyelidikan di siang nan tenang kala Luhan tengah tertidur lelap karena Sehun baru saja membantai Luhan habis-habisan di ranjang. Sehun mengeringkan rambutnya dan kembali duduk di ruang tamu dengan bertelanjang dada.

Sehun memejamkan matanya membaca profil terduga pelaku pembunuhan mertuanya. Bagaimana Daeun, mantan calon ibu negara ini melakukan hal sekejam dan sekeji ini? Walaupun dia seorang mantan calon ibu negara, Sehun tetap harus bertanggung jawab akan masalah ini. Kalau dia melakukan satu saja kesalahan saat seleksi dulu, sudah pasti dia menikah dengan perempuan keji seperti ini.

Tak lama, seorang dayang memberitahukan kedatangan Yifan ke kediamannya. Sehun segera berdiri dan membiarkan Yifan duduk di tempat yang lebih terhormat. Yifan duduk dan melepaskan jasnya kemudian melonggarkan dasinya yang seakan-akan mencekik lehernya karena tekanan pekerjaan.

"Gadis gila!" umpat Yifan. "Dia melawan kami. Bahkan, dia menatap sinis ibu. Untung saja ibu tidak dalam keadaan yang buruk. Kau tau, dia dibela oleh Ki Hyo," ucap Yifan dengan menggebu-gebu.

Sehun kaget. "Ki Hyo? Maksudmu Lee Ki Hyo, akuntan terkenal dari istana paling muda?" tanya Sehun.

Yifan mengangguk. "Entah apa motifnya menolong Jung Daeun…"

Sehun mengangguk paham. "Berarti penyelidikan menjadi semakin sulit karena Daeun dilindungi oleh orang sepertinya. Baiklah, aku sendiri yang akan ke sana sendirian." Keputusan Sehun didukung penuh oleh Yifan. "Aku setuju."

Sehun kembali membaca berkas yang dia terima tadi. Tapi, pintu kembali terbuka dan Luhan masuk menggunakan kemeja Sehun. "Sehun~~~ Kenapa kau tidak tidur?" tanya Luhan dengan mata mengantuk. Yifan menyeringai ngeri ke arah Sehun.

"Kau juga bermain di siang hari, Putra Mahkota?" tanya Yifan yang khawatir pada Luhan. Sehun menyuruh Yifan diam dan memberi isyarat untuk menyembunyikan berkas penyelidikan. Yifan mengerti dan membiarkan Sehun membawa Luhan kembali ke kamar.

Sehun menggendong Luhan menuju kamar dan meletakkan Luhan kembali di atas ranjang. "Tidurlah lagi sayang. Besok kita harus pergi dan menghabiskan waktu bersama. Dan dirimu apalagi, rusa manis…" ucap Sehun sambil mencubit kecil ujung hidung Luhan dengan gemas. "Kau juga harus melayani serigala ini kapanpun dia mau."

"MESUM!"

. . .

Ki Hyo bertemu dengan Tae Chan yang menggunakan seragam nara pidana di ruangan yang disediakan. "Sesuai permohonanmu, aku sudah membantunya dan melindunginya. Sekarang, apa lagi yang kau inginkan dan apa lagi yang kau tawarkan? Ingat, aku ahli sekali dalam menghitung kesetaraan sebuah permintaan dan tindakan," ucap Ki Hyo dengan seringaian penuh kesombongan.

Tae Chan berdeham kecil. "Aku tau itu. Tanpa harus kau katakan," balas Tae Chan.

"Aku tak punya banyak waktu berurusan dengan orang bodoh sepertimu," ucap Ki Hyo. Tae Chan tertawa kecil. "Permintaan nomor dua, buat kemungkinan Daeun dapat naik ke posisi Putri Mahkota," ucap Tae Chan.

Ki Hyo memicingkan matanya. "Maksudmu?"

"Coup De'Etat,"

"KAU GILA?! Segila-gilanya aku, aku tidak akan menempuh resiko sebesar itu. Pangeran bodoh itu pasti sudah melaporkanku kepada Raja Yunho. Sekarang kau mau aku dieksekusi dan kepalaku di pajang di tengah halaman istana? Hah?" bentak Ki Hyo yang kesal.

Tae Chan tertawa melihat Ki Hyo yang marah dengan wajah memerah. "Kau tau kalau Yang Mulia Yunho menyayangimu di istana," kata Tae Chan enteng. Ki Hyo menggeleng. "Aku tak akan melakukakannya!"

"Kalau begitu, aku akan menyebarkan semua berkas bukti-bukti pengelapan yang kau lakukan terhadap pajak, bisnis prostitusi yang kau jalankan, dan yang paling penting, rekaman video seksmu dengan Daeun versi editan akan ku sebarkan malam ini. Bagaimana?" tawar Tae Chan.

Ki Hyo menggeram marah, "Baiklah. Asalkan kau memberikan semua bukti itu kepadaku kembali," tawar Ki Hyo balik. Tae Chan menggeleng. "Bisnis mengajarkanku, sebelum permintaan diberikan, jangan berikan uang. Nah, sekarang, aku harus kembali ke sel ku. Maaf!"

Tae Chan berdiri dan meninggalkan Ki Hyo terdiam. "SIAL!"

Sedangkan Tae Chan menyeringai mengerikan.

. . .

TBC

. . .

Halo-alo-halo!

FujoAoi membawa chapter 9 dari Dumped Princess yang udah lama pakai banget nggak update. Maaf, Aoi lagi ngestuck banget sekarang. Tugas makin banyak dan tuntutan untuk update SYNG yang banyak juga.

Kurang greget kan? Ya iyalah. Aoi kan suka bikin kurang greget.

Omong-omong, yang nonton EXOLUXION kemarin, selamat ya nak. Anda beruntung banget hidupnya. Bisa ketemu obba-obba ganteng asoy. Tapi, yang nonton, aye juga prihatin karena kalian digrepe sebelum masuk venuenya kan? Aoi tau karena di FB full kabar EXOLUXION.

Ada yang streaming di dreamersradio gak? Kalau ada, sama dengan Aoi dong. Khikhikhi ! Mungkin kita jodoh nak !

Oh, Aoi mau nanya, ada yang suka nonton Descendants of The Sun gak? Kalau ada, samaan dong. Keren banget ceritanya. Aoi sukanya alur ceritanya sama bagian Song Joong Ki topless. Maklumi otak yang kepingin nyentuh abs oppa ini.

So, cuap-cuap gak penting udah selesai. Aoi belum tau next updatenya apa. Jadi, tetap rahasia ya. Sebenarnya, ini traktiran Aoi karena Aoi baru aja ulang tahun sekitar dua minggu lalu masuk 17 tahun di koriya.

Terima kasih untuk yang udah review, fav, dan follow, kalian sangat-sangat terbaik. Maaf kalau ada typo karena gak sempat edit.

Now, it's time to say…

REVIEW JUSEYYO!