Air mukanya berubah seketika setelah kalimat terakhir yang diucapkan Taeyong seakan- akan mengambil atensinya. Semuanya berubah drastis, senyuman manisnya luntur, lalu tubuhnya melemas seketika. Taeyong bilang Yuta sudah meninggal, lalu siapa sosok yang ada di ambang pintu?
Semuanya mendadak sunyi, Taeyong diam, sama seperti Ten saat ini. Lelaki kecil bermarga Lee itu terdiam dengan tatapan lurusnya ke arah Ten, sedangkan yang dilakukan Ten tetap diam dengan pandangan lurus ke arah pintu.
"Kau lihat siapa?"
"Yuta Hyung…"
Dahinya mengerut seketika, pikirannya melayang jauh ke arah lain atas perkataan Ten yang di anggap agak aneh ditelinganya. Begitu pandangannya mengarah ke ambang pintu, ia terdiam. Tak ada siapa pun disana, lalu apa maksud perkataan sahabat kecilnya itu?
"Kau ini bicara apa? Yuta sudah tidak disini. Jadi berhenti membahas orang yang sudah meninggal. Mungkin saja kau masih sakit, jadi berpikiran yang bukan-bukan. Istirahatlah agar pikiranmu bisa kembali lurus."
Ya, mungkin saja pikirannya memang sedang kacau.
.
.
.
Sudah 3 jam lamanya, hanya ada keheningan malam yang terdengar di sana. Semuanya sepi, Taeyong bahkan tak kembali lagi setelah 30 menit lamanya. Lelaki yang sedikit lebih tinggi itu sempat datang untuk memastikan apakah ia sudah tidur atau belum, tapi yang dilakukan oleh Ten saat Taeyong datang adalah langsung memejamkan kedua matanya sambil bergelung dalam selimut tebalnya, dan Taeyong akan pergi setelah itu.
"Kalau Yuta Hyung sudah meninggal lalu yang tadi itu siapa?"
Suara khas miliknya terdengar, ia menggumam tak jelas di atas ranjang sambil terus memperhatikan foto Yuta yang dibawanya dari atas sofa. Wajahnya sama, senyuman manis yang ada di dalam foto juga sama persis dengan senyuman yang tadi ia lihat di ambang pintu, bahkan saat ia menyebut kata "Yuta Hyung", maka lelaki berambut abu-abu itu akan tersenyum padanya.
Suasananya mulai berubah. Keheningan yang semula mendominasi justru berubah menjadi suara gonggongan dari anjing tetangga yang tiba-tiba saja bersuara. Jujur Ten takut, ia takut dengan semua yang berbau mistis, apalagi suara anjing di tengah malam punya arti kalau hewan itu melihat hantu di dekatnya.
"Taeyong Hyung..."
Bantal yang ada dalam pelukannya berubah posisi dengan cepat untuk meredam suara gonggongan anjing yang masih terdengar hingga detik itu. Tubuh kecilnya semakin di tenggelamkan ke dalam selimut tebal miliknya lalu matanya terpejam erat. Hawa dingin tiba-tiba saja mendominasi di dalam kamarnya, lalu yang dilakukan Ten justru membuka matanya dengan cepat begitu suara deritan jendela terdengar di telinganya. Kepalanya terangkat untuk memastikan, lalu ia menolehkan kepalanya. Sepi, tak ada siapapun. Hanya saja jendela yang semula tertutup itu jadi terbuka sedikit dengan hembusan angin malam yang masuk melalui celah jendela. Penerangan dikamarnya hanya sedikit. Lampu meja di samping ranjangnya menyala, tapi lampu yang jauh lebih terang di atas langit-langit di matikan oleh Taeyong. Suara deritan jendela itu terdengar lagi, lalu hawa dingin di sekitarnya kembali terasa. Kali ini lebih terasa di dekatnya hingga membuat ia merinding.
"Taeyong Hyung?"
Hening.
Lalu suara hembusan angin yang lebih kencang itu membuatnya panik, ia tak mau menoleh ataupun melakukan hal-hal lain yang membuatnya semakin takut. Bola matanya tak bisa diam, selimut tebalnya di remas kuat, lalu detak jantungnya mendadak meningkat drastis.
"Taeyong Hyung?"
Tapi lagi-lagi tak ada jawaban.
5 menit setelahnya rasa takutnya masih mendominasi, tapi ia ingin pergi dari kamarnya. Paling tidak ke kamar Taeyong untuk tidur bersama di bandingkan tidur sendirian dengan suasana horor seperti sekarang. Selimut tebalnya di sibak perlahan, tapi kedua matanya masih tertutup rapat. Kedua kakinya mulai turun dari atas ranjang, lalu suasana dingin yang berasal dari lantai keramik di bawah kakinya seakan memberikan sambutan. Ia bangkit, dengan mata terpejam lalu kedua tangan yang terulur untuk mencari jalan. Ia takut, maka dari itu ia tak mau membuka matanya di tengah-tengah kegelapan seperti ini. Justru kalau ia membuka matanya di tengah kegelapan dan juga suasana menyeramkan seperti sekarang, maka itu akan lebih menakutkan.
"T-Taeyong Hyung..."
BRUK!
Lalu setengah tubuhnya membentur meja belajar di dalam sana. Rasanya sedikit nyeri, terlebih lagi karena bagian bawah tubuhnya sedikit terkena ujung meja yang lumayan tajam. Kedua matanya terbuka lebar untuk memastikan, tapi yang dilihatnya justru orang lain. Wajahnya pucat, dan sosok itu berdiri di hadapannya.
"Huwaa!"
BRAK!
Dan tubuhnya terhuyung hingga akhirnya jatuh tersungkur di lantai. Lelaki kecil itu panik setengah mati saat sosok Yuta berada persis di hadapannya. Senyuman simpulnya terlihat, sedangkan ia mulai mendekat. Suasananya masih gelap, terlebih lagi kondisinya sedang menyeramkan seperti ini. Detak jantungnya kembali berpacu dengan cepat, lalu yang dilakukan Ten adalah memundurkan tubuhnya dengan cepat saat Yuta semakin mendekat ke arahnya.
"J-Jangan dekati aku!"
Tapi yang lebih tinggi justru semakin mendekat.
"Jangan mendekat! Aku takut! Tae-Taeyong Hyung!"
Tapi pergerakannya terhenti begitu punggung sempit miliknya mengalami benturan dengan tepian ranjang. 5 Detik setelahnya, sosok berambut abu-abu itu telah berada persis di hadapannya. Yuta disana, dengan posisi berjongkok dan wajah yang berhadapan langsung dengan wajah milik yang lebih kecil.
"Yuta Hyung jangan dekati aku!"
Suaranya melengking dengan keras, lalu matanya terpejam dengan erat. Hawa dingin yang di klaim sebagai milik Yuta itu terasa jelas di wajahnya.
Lalu suara lembut itu menyapa indera pendengarannya.
"Ten.. buka matamu"
"Tidak mau!"
"Ten.."
"Aku bilang tidak! Pergilah, aku takut!"
"Aku tidak akan menakutimu, jadi kumohon buka matamu.."
"Tidak! Taeyong Hyung!"
CKLEK!
"Ten? Kenapa?"
Lampunya menyala dengan cepat, diikuti dengan suara khas milik Taeyong yang mendominasi kamar berukuran sedang itu. Kedua matanya langsung terbuka dengan perlahan, lalu sosok Yuta benar-benar pergi dari hadapannya. Hanya ada Ten dan juga Taeyong di dalam ruangan yang sama, hanya saja dengan kondisi yang berbeda. Cengkeraman tangan Taeyong pada bahu miliknya membuat lelaki kecil itu tersadar dari kondisinya semula.
"Y-Yuta Hyung! Tadi ada Yuta Hyung!"
"Hei kau ini bicara apa? Yuta tidak disini, jadi berhenti memikirkan itu."
"Tapi yang tadi itu—"
"Hentikan, kau perlu istirahat. Berhenti memikirkan Yuta, dia sudah meninggal. Paham?"
Sedangkan sosok yang sejak tadi di bicarakan itu masih disana. Tengah berdiri di dekat jendela sambil menatap keduanya dengan seulas senyuman tipis. Well, Yuta tak menampik kenyataan pahit yang di alaminya ini. Ia tahu persis jika ia memang bukan lagi manusia, ia hanyalah arwah penasaran yang selalu berada di rumah ini sejak 2 tahun yang lalu. Lalu ia muncul dalam mimpi lelaki kecil itu, bukan sebagai hantu melainkan sebagai malaikat pelindung untuk Ten. Ia punya alasannya sendiri kenapa dirinya mau jadi malaikat pelindung seperti itu. Dan tepat setelah Ten tersadar, perjalanannya berakhir. Ia pikir ia akan pergi dari dunia ini sepenuhnya, tapi kenyataan memukulnya dengan keras. Ia masih disini, entah karena apa ia juga tak tahu apapun. Dan yang lebih hebatnya lagi Ten bisa melihat dirinya dan juga mengingat dirinya. Jangan tanya apa alasannya karena ia sendiri tak tahu apapun. Yuta hanya ingin punya teman, terlebih lagi saat ia tahu kalau Ten bisa melihatnya, ia tak bisa untuk tidak mendekat. Lelaki asal Thailand itu sudah jadi sahabatnya sejak mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dan Ten tergolong sahabat yang menyenangkan dan juga menggemaskan karena sifat kekanakannya. Tapi sekarang mungkin berbeda. Seperti perkataan Taeyong barusan. Untuk apa memikirkan orang yang sudah meninggal? Semuanya tak berguna, tapi itu menyakitinya. Ia bukan orang yang keras kepala dan sulit menerima kenyataan. Semua sudah takdirnya, sekalipun pada awalnya ia tak bisa menerimanya.
.
.
.
A Lot Like Love
A Story by Prince Yuta
Pairing: Johnny Seo x Ten Chittaphon (JohnTen)
Other Cast: Jung Jaehyun, Lee Taeyong.
Genre: Romance, BL, Friendship, Drama.
Summary: Ketika Johnny harus dihadapkan dengan kepolosan Ten yang keterlaluan. Namun dibalik kepolosan itu semua punya rahasianya sendiri, entah itu Ten atau bahkan Johnny sendiri. Dan semuanya punya alasan , tentang apa yang terjadi pada lelaki kecil itu. Dan apa yang membuat Johnny bertanggung jawab penuh untuk mengembalikan semua ingatan Ten./JohnTen/JaeYong/
Rated: T
WARNING: FF ini agak sedikit horor, jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau agak bikin parno :v. Ada pemberitahuan sedikit biar gak salah arti. Kata yg italic khusus untuk Yuta yang notabene adalah roh. Kata bold+italic untuk potongan² ingatan dari cast. Tanda ' dalam percakapan Yuten digunakan saat Ten bicara dengan Yuta lewat pikiran. Jangan salah arti. Yg jelas gitu ah. Ribet.. :v
###
.
.
Pintu kamarnya tertutup perlahan, lalu kedua kakinya melangkah menghampiri ranjang single miliknya. Perasaannya masih tak enak, bayangan tentang munculnya Yuta kembali terlintas di pikirannya. Ia terdiam, kemudian mendudukan bokongnya di atas ranjang. Pandangannya terus menyusuri setiap sudut ruangan dengan seksama untuk memastikan, dan hasilnya nihil. Yuta tak ada disana, atau mungkin memang tak terlihat lagi di matanya. Punggungnya bersandar pada hard board ranjang dengan kaki yang diluruskan, bantal putih di samping tubuhnya langsung beralih dalam pelukannya.
"Yang semalam itu mungkin cuma mimpi"
Lalu tirai putih yang terpasang di jendela berhembus searah dengan angin. Matanya melirik dengan cepat ke arah jendela, dan ia tak menemukan apapun. Tapi detak jantungnya justru bertambah dengan cepat. Hawa dingin itu kembali menyelimuti penjuru ruangan. Suasananya berubah tegang, tapi Ten justru berusaha untuk bersikap biasa saja. Pelukan eratnya pada bantal putih itu semakin mengerat, tapi entah karena apa, pandangannya langsung tertuju ke samping tubuhnya. Ten terdiam, tapi kepalanya berputar karena rasa penasaran dalam dirinya mendadak muncul.
1 detik.. 2 detik.. 3 detik..
Dan untuk yang ke sekian kalinya tubuh kecil itu refleks menegang, tubuh kecinya langusng merangkak mundur untuk menjauh begitu sosok Yuta lagi-lagi muncul. Lelaki asal Jepang itu tengah duduk persis di sampingnya dengan mata terpejam, dan itu membuatnya kaget setengah mati.
"Tidak usah berteriak"
"K-Kenapa kau ada disini?"
Lalu kedua matanya terbuka sambil memicing ke arah yang lebih kecil.
"Tidak boleh ya? Memangnya kau tidak senang bertemu denganku?"
Hening. Dan lagi-lagi Yuta yang bicara.
"Setelah sekian lama akhirnya kita bertemu lagi, aku pikir setelah kau sadar kita tidak bisa bertemu lagi. Tapi ternyata tidak ya? Kita bertemu lagi, dan hebatnya kau tahu siapa aku.."
"K-Kau bicara apa?"
"Kau tidak ingat tentang mimpi itu?"
"Mimpi apa?"
"Kau dan juga Johnny, apa kau lupa?"
"John...ny?"
"Baiklah, aku percaya kalau kau memang tidak ingat. Tapi apa sekarang kau masih takut denganku?"
"Tidak sih, Yuta Hyung memang tidak menakutkan. Tapi waktu aku tahu kalau Yuta Hyung sudah meninggal aku malah takut"
"Kenapa? Tidak percaya ya? Kau ini memang selalu takut dengan hantu, dari dulu tidak berubah"
"Dari dulu? Yuta Hyung tahu dari mana?"
"Kita ini kan teman, aku kau dan juga Taeyong kan teman."
"Teman?"
"Tapi disini ada dua gelang, sedangkan disini ada tiga gelang. Yang satu lagi punya siapa"
'Apa mungkin gelang yang satunya lagi punya Yuta Hyung?'
"Gelang apa?"
"Heol! Kau bisa tahu apa yang aku pikirkan?!"
"Kenapa? Aku kan sudah mati, jadi aku bisa saja. Oh iya Ten, maaf soal yang semalam"
"Itu menyeramkan! Aku tidak suka!"
"Maaf, aku terlalu senang karena kau bisa melihatku. Aku disini butuh bantuan darimu, aku juga butuh teman."
"Kau butuh bantuan apa?"
"Aku mau tahu kenapa aku masih ada disini"
"Itu saja? Kenapa tanya padaku?"
"Kau kan temanku. Jadi mungkin saja kau tahu kenapa."
"Aku saja tidak tahu tentang kehidupanku lalu bagaimana bisa aku tahu kehidupanmu?!"
###
Sosok jangkung itu masih berada di dalam kamarnya dengan berdiri di depan cermin sejak 10 menit yang lalu. Pakaiannya sudah rapi, tatanan rambutnya juga jauh lebih rapi dari sebelumnya. Sweater turtle neck dengan coat berwarna abu-abu itu telah melekat sepenuhnya pada tubuh jangkungnya, lalu Johnny tersenyum simpul melihat pantulan dirinya di dalam cermin…"
"Perlu ku tinggal? Kau terlalu lama Hyung…"
Suara husky Jaehyun tiba-tiba saja terdengar dari ambang pintu, dan persis setelah Johnny menoleh ke samping, ia menemukan kepala Jaehyun yang menyembul dari balik pintu. Tatapan matanya datar, lalu senyumnya menghilang begitu saja setelah mendengar kata-kata menyebalkan yang Jaehyun berikan untuknya.
"Diamlah, aku juga sudah selesai. Tunggu saja di luar, aku akan menyusul."
"Terserah, ku beri waktu 10 menit dari sekarang atau ku tinggal"
"Hei! Berani kau tinggalkan aku jangan harap bisa pulang kerumah!"
Jaehyun merengut, kemudian melemparkan tatapan malas kea rah Johnny lalu melangkah pergi. Johnny memang menyebalkan, bahkan jauh lebih menyebalkan dari semua orang yang pernah bertemu dengannya.
5 menit setelahnya, Johnny telah keluar dari dalam kamar dengan keadaaan yang benar-benar rapi. Aroma parfum khas Johnny menyeruak begitu yang lebih tinggi berjalan melewati Jaehyun yang menunggunya di luar kamar.
"Cepatlah, kau terlalu lambat Jay"
'Sialan..'
.
.
.
"Taeyong Hyung…"
Suara lelaki kecil itu terdengar di penjuru kamar, kepalanya beralih ke arah pintu, dan ia menemukan Ten yang tengah berdiri di dekat pintu dengan pakaian kebesaran yang ia temukan di dalam lemari.
"Bajumu…."
"Hng? Ini? Aku menemukannya di dalam lemari. Punya siapa? Aku belum pernah lihat pakaian ini, punya Taeyong Hyung? Tapi kelihatannya ini terlalu besar"
"Itu bukan punyaku.."
"Lalu punya siapa?"
Yang sedikit lebih tinggi terdiam untuk beberapa saat kemudian tertawa renyah.
"Itu punya Jaehyun, dia meminjamkan itu padaku, tapi waktu aku mau mengembalikan ini dia malah menolak.."
"Jaehyun? Kok bisa?"
Langkah kaki kecilnya langsung terarah ke atas ranjang empuk milik Taeyong. Sosok kecil itu kemudian mendudukan bokongnya di atas sana, tapi sosok Yuta yang tiba-tiba saja muncul langsung melompat ke atas ranjang hingga menimbulkan guncangan kuat dan suara deritan ranjang yang mengalihkan perhatian Taeyong dari lemari.
"Hei, apa itu?"
"Bu—bukan apa-apa.. itu aku"
"Oh, oke.. tapi ingat Ten. Kakimu masih belum sembuh benar, jangan melompat-lompat"
Air muka Ten langsung berubah begitu ia yang jadi sasaran Taeyong. Semua ini bukan salahnya, ini salah roh sialan yang sekarang sedang menertawakan dirinya. Perhatian Taeyong kembali beralih pada lemari kayu dihadapannya, sedangkan yang lebih kecil langsung mengalihkan pandangannya ke arah Yuta dengan tatapan tajam.
'Jangan lakukan itu!'
"Maaf, aku tidak sengaja. Kau tidak tahu bagaimana senangnya aku saat kembali lagi kemari."
'Kau menyebalkan..'
"Kau bisa bantu aku tidak? Cari tahu apapun yang kau tahu tentang aku, aku mohon…"
Yang lebih kecil terdiam, kemudian menatap lurus ke arah wajah manis Yuta yang tengah tersenyum manis ke arahnya. Matanya mengerjap pelan. Tapi Ten masih tak memberikan jawaban.
'Kau yakin mau tahu asal-usulmu?'
Lalu lelaki asal Jepang itu memberikan anggukan pelan dengan senyuman yang lebih manis dari sebelumnya.
'Yuta Hyung tidak takut?'
"Takut apa?"
'Kau tidak takut menghilang setelah aku cari tahu informasi mengenai dirimu? Aku pernah baca di internet, kalau roh yang masih tinggal di dunia manusia itu karena mereka punya masalah yang belum diselesaikan. Dan kalau roh tahu asal-usul mereka atau masalah mereka sudah selesai, mereka akan menghilang.'
Hening.
Yuta tak menjawab setelahnya, air mukanya langsung berubah tanpa ekspresi, senyuman manisnya luntur sepenuhnya setelah semua kata-kata itu terdengar di telinganya. Kalau ia menghilang, bukankah itu artinya ia tidak akan lagi melihat dunia ini? Ia tak akan lagi melihat tingkah menggemaskan dari lelaki kecil dihadapannya ini? Dan ia juga tidak akan bisa lagi melihat wajah tampan Taeyong setiap harinya?
'Yuta Hyung?'
Lalu perhatiannya kembali terfokus pada sosok Ten dihadapannya.
"Aku tidak ingin menghilang… tapi aku bisa apa? Kalian punya kehidupan sendiri, lalu aku juga unya kehidupan sendiri. Aku tidak bisa memaksakan kehendak Tuhan. Kalau aku memang harus menghilang maka aku tidak apa-apa.."
'Kau yakin?'
"Tentu saja! Tapi sebelum aku menghilang dari hadapan semua orang, kau harus bantu aku untuk cari masalahnya, dan kau juga harus ajak aku melihat-lihat sekitar sebelum aku pergi.."
'Baiklah! Itu masalah mudah! Kita cari tahu semuanya, setelah itu kau bisa kembali dengan tenang.'
"Kau janji?"
'"Ahaa… aku janji!"
Lelaki kecil itu kemuidan menjulurkan jari kelingkingnya ke hadapan Yuta dengan sebuah senyuman mais, lalu yang sedikit lebih tinggi ikut tersenyum kemuidan mengaitkan jari kelingkingnya untuk membuat sebuah janji.
"Janji ya?"
"Janji!"
Dua lelaki dengan dunia yang berbeda itu saling tersenyum satu sama lain dengan jari telunjuk yang terkait. Lalu sosok Taeyong yang sejak tadi masih berada diruangan yang sama langsung terdiam sambil memperhatikan bagaimana lelaki kecil itu tersenyum lebar dengan jemari kelingking yang dijulurkan ke arah hard board ranjang.
###
Taeyong tak tahu apapun untuk hal yang satu ini. Tapi ia ingat jelas bagaimana Ten tersenyum manis entah pada siapa, yang jelas ia tak bisa lihat apapun. Semuanya terasa aneh, ia tak pernah lihat hal seperti ini sebelumnya, kecuali setelah kejadian beberapa hari lalu. Yaitu tepat dimana Ten berteriak keras di dalam kamarnya dengan mimik ketakutan yang luar biasa. Sekali lagi Taeyong katakan kalau ia tak tahu apapun, ia tak bisa lihat apapun dan juga mendengar apapun. Pikiran normalnya mengatakan jika Ten hanya berhalusinasi karena ia baru sembuh dari koma, tapi pikiran anehnya mengatakan jika lelaki kecil itu melihat sesuatu yang mungkin tak bisa ia dengar atau ia lihat. Taeyong juga anak yang penakut, dan ia juga tak percaya dengan hantu atau hal gaib yang akan menakuti dirinya dan juga orang lain.
Perhatiannya sejak tadi terfokus pada sosok Ten yang tengah berbaring di atas karpet berbulu sambil mengusap lembut tubuh gemuk milik Jungie. Ia tak memperhatikannya dari arah dekat, yang Taeyong lakukan hanya memperhatikan dari arah dapur agar lelaki kecil kesayangannya itu tak melihatnya. Dan sama seperti sebelumnya, Taeyong menemukan banyak kejanggalan yang ada saat ia melakukan pengamatan selama kurang dari 10 menit. Ten akan tertawa kecil dengan pandangan ke arah lain. Ten juga akan berbicara sendiri ke arah yang sama, lalu bicara pada Jungie seolah olah untuk meyakinkan kucing kecil itu jika ucapannya tidak salah.
"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan Ten.. Tapi aku merasakan hal yang aneh.."
Lelaki bermarga Lee itu hanya memberikan gumaman pelan dari kejauhan, kepalanya terlalu pusing untuk memikirkan hal tak masuk akal seperti ini. Jadi Taeyong punya inisiatif sendiri untuk melangkah mendekat ke arah Ten yang masih berbaring di atas karpet dengan wajah setengah mengantuk.
"Ten..."
Suara milik Taeyong terdengar jelas di telinganya hingga membuat Ten refleks terbangun dengan kepala mendongak, sama halnya dengan Yuta yang ikut memperhatikan Taeyong dengan wajah bingungnya.
"Sebenarnya kau ini—"
TING TONG~
Tapi suara bel pintu itu menghancurkan semuanya. Taeyong tak jafi menanyakan secara langsung oada lelaki kecil itu. Bahkan hanya dengan mendengar suara bel pintu saja perhatian Ten telah teralihkan dengan cepat kemudian langsung berlari ke arah pintu tepat setelah lelaki kecil itu berteriak.
"Biar aku yang buka pintunya!"
Tubuh kecil itu menghilang sepenuhnya, yang Taeyong tahu, sebesar apa pun usianya Ten sekarang, sosok manis itu tetap sama seperti dulu, selalu kekanakan tapi sangat menyenangkan. Itulah kenapa Taeyong selalu menyukai sifat manis itu sekalipun lelaki kecil itu memang tidak menyukainya sedikitpun.
Senyuman tipis Taeyong terbentuk setelah ia memikirkan semua hal lucu tentang sahabat sejak kecilnya itu. Tapi bagaimanapun Taeyong tak bisa memaksakan apapun, terlebih lagi untuk memaksa Ten menyukainya seperti yang ia inginkan. Setidaknya Taeyong sadar, kalau kita harus mencintai seseorang yang juga mencintai kita. Bukannya mencintai seseorang yang bahkan tak punya ketertarikan pada kita.
Lalu sosok Yuta yang masih berdiri tepat di samping Taeyong terdiam dalam posisinya. Apa yang Taeyong pikirkan memang benar, dan Yuta dengar semuanya. Taeyong memang benar, tidak ada gunanya kita menyukai seseorang yang tidak menyukai kita. Bukankah itu memang benar? Tapi kenapa sekarang hatinya serasa diremas kuat karena pemikiran Taeyong barusan. Bahkan hanya dengan melihat wajah tampan Taeyong saja ia ingin menangis dengan sendirinya. Dan semua itu terjadi setiap kali Yuta memperhatikan Taeyong dengan waktu yang lama dan jarak yang sangat dekat.
.
.
.
.
Pintu kayu itu terbuka lebar begitu salah satu tangan milik Ten menarik gagang pintu dengan kuat hingga orang yang sejak tadi menunggu itu sempat tersentak begitu pintunya terbuka lebar dan menampilkan sosok lelaki kecil itu disana.
"Jaehyun ya?"
Lalu lelaki bersurai hitam itu memberikan anggukan cepat dengan sebuah senyuman simpul yang menampilkan deep dimple kebanggaan Jaehyun.
"Halo Ten Hyung.. Bagaimana keadaanmu? Hyung sudah sembuh?'
Lalu lelaki kecil itu memberikan anggukan pelan dengan mata membesar.
"Taeyong Hyung mana?"
"Ada di dalam, Taeyong Hyung sedang di kamar.."
"Benarkah? Kalau begitu aku masuk duluan.."
Langkah kaki Jaehyun segera masuk ke dalam rumah dengan gerakan cepat, meninggalkan sosok Johnny dan juga Ten yang masih berhadapan di depan pintu.
"Tidak mau menyuruhku masuk?"
Suara bass itu terdengar di telinganya hingga yang lebih kecil sedikit mengangkat kepalanya. Ten tak memberikan respon, hanya ada keheningan yang berlangsung selama beberapa detik sebelum akhirnya yang lebih kecil membuka suaranya.
"Memangnya kita mau kemana?"
"Kenapa? Tidak mau ikut?"
"Beritahu aku dulu kita mau pergi kemana, dengan begitu aku bisa putuskan untuk ikut atau tidak."
"Tidak kemana-mana, aku dan Jaehyun Cuma mau kesini untuk berkunjung."
"Kenapa?"
"Hei, sampai kapan kau akan bertanya padaku terus? Biarkan aku masuk, jangan bertanya terus seperti anak kecil."
"Aku bukan anak kecil! Aku sudah besar!"
"Benarkah? Siapa yang bilang?"
"Taeyong Hyung bilang aku sudah besar, jangan panggil aku anak kecil! Ugh Johnny Hyung menyebalkan"
"Mau sebesar apapun kalau tingkahmu masih seperti anak kecil itu sama saja bohong. Aku tidak peduli, di mataku kau tetap anak kecil."
Ucapan yang Johnny lontarkan barusan membuat Ten mencebilkan bibirnya dengan cepat dengan sebuah dengusan pelan.
"Aku tidak suka dengan Johnny Hyung..."
Yang lebih kecil terkekeh pelan kemudian melangkah maju ke hadapan yang lebih kecil.
"Benarkah? Lalu kalau aku menyukaimu bagaimana?"
"Eh?"
Ten terdiam dengan kepala mendongak ke arah yang lebih tinggi. Rona merah di pipinya muncul seketika begitu ucapan itu keluar dari bibir kissable milik Johnny. Yang lebih tinggi kembali tertawa kecil melihat bagaimana wajah lucu itu langsung berubah drastis setelahnya. Sebelah tangannya terulur ke depan dengan cepat lalu mendarat di atas surai hitam legam itu lalu memberikan usakan gemas.
"Kau lucu, maka dari itu aku menyukaimu. Jangan cepat dewasa ya.. Tetap seperti ini saja supaya aku bisa terus menyukaimu tanpa henti."
.
.
.
"Taeyong Hyung tunggu aku!"
Langkah kakinya semakin di percepat begitu sosok Taeyong telah berada dalam posisi yang lumayan jauh dari dengan dirinya. Ten mulai menyamakan langkahnya dengan Taeyong setelah pengejarannya berhasil. Ten melakukan semua ini bukan karena ia tak mau hilang di jalan, tapi Ten punya alasan sendiri yang bisa di bilang agak aneh.
"Kau kenapa? Jangan lari-lari terus, kau mau kakimu kembali cedera karena ini?"
"Hehe, maafkan aku Hyung.. Hanya saja..."
Lalu kepalanya langsung menoleh ke arah belakang dengan cepat lalu kembali lagi dengan gerakan cepat. Lelaki jangkung itu sempat tersenyum manis dengan mengedipkan sebelah matanya pada yang lebih kecil. Jadi alasan kenapa Ten memilih mengejar Taeyong adalah karena ia tak mau berada dekat dengan Johnny. Itu menyebalkan, dan ia tak suka. Ditengah keramaian seperti ini kenapa Johnny harus menjahilinya terus. Lelaki blasteran Amerika itu seringkali mencubit pipinya secara tiba-tiba sejak mereka baru tiba di area taman kota yang cukup bersih dan juga cukup bagus untuk di kunjungi.
Ada banyak orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri, atau sibuk dengan pasangan, sahabatnya dan juga keluarganya sendiri. Sama halnya dengan apa yang empat orang itu lakukan. Rerumputan hijau yang terbentang itu jadi tempat untuk mereka semua mengistirahatkan kaki masing-masing. Jaehyun bahkan tak segan untuk berbaring di atas sana tanpa peduli dengan kotornya rumput yang ia tempati sekarang. Lalu Taeyong masih perlu berpikir untuk melakukan hal yang sama dengan Jaehyun. Ingat saja kalau ia penderita Mysophobia, jadi Taeyong tak bisa asal berbaring di atas rumput yang bahkan belum tentu bersih itu.
"Taeyong Hyung ~~"
Suara khas lelaki kecil itu terdengar merengek manja ke arah Taeyong dengan wajah di buat buat. Perhatian Taeyong lalu teralihkan begitu saja ke arah Ten yang masih tetap pada ekspresi wajahnya.
"Aku mau beli es krim..."
"Es krim?"
"Aku juga mau kue cokelat..."
What the hell..
"Kenapa baru bicara sekarang Ten? Kau bisa bilang sebelum kita masuk lebih jauh ke sini kan?"
"Aku belum memikirkan itu, tapi aku mau es krim dan kue~ Taeyong Hyung ayo antar aku beli semuanya, ayo Hyung~"
"Baiklah, ayo kita—"
"Tidak usah Hyung... Biar Johnny Hyung saja yang antar Ten Hyung".
Sial, kenapa harus Johnny?
"A-apa?!'
"Kenapa? Ayolah, Ten Hyung pergi dengan Johnny Hyung saja yaaa.. Aku masih mau mengobrol dengan Taeyong Hyung. Pergilah.. Ayo Johnny Hyung cepat antarkan Ten Hyung ya, cepat cepat!"
Lelaki jangkung yang jauh lebih tua itu menatap tajam ke arah Jaehyun dengan wajah malasnya. Ia bangkit dari posisi duduknya, lalu menghampiri yang lebih kecil di ujung sana.
"Ayo.."
Ten mendongak ke atas dengan cepat saat salah satu tangan panjang itu terulur ke hadapannya dengan gerakan cepat. Lalu yang Ten temukan setelah itu adalah tatapan lurus Johnny yang mengarah ke wajahnya dengan bibir menekuk.
"Cepatlah.. Sebelum aku berubah pikiran dan es krim yang kau tidak akan datang"
Sambutan yang terkesan kasar itu Johnny peroleh saat lelaki bertubuh kecil itu menerima uluran tangannya dengan sedikit kuat hingga tubuh besar milik Johnny hampir terhuyung ke depan.
"Ayo cepat! Aku mau es krim!"
lebih kecil melangkah lebih dulu dengan kedua kaki menghentak keras ke tanah.
"Hei! Jangan cepat-cepat.. Nanti kalau kau hilang bagaimana?!"
Dan beberapa langkah setelahnya, kedua orang itu mulai menjauh dari tempat semula, meninggalkan Jaehyun dan Taeyong yang masih sibuk . masing-masing.
Senyuman simpul di wajah Jaehyun tak henti-hentinya terukir sudut bibirnya setiap kali wajah manis Taeyong memasang ekspresi lucu atau yang lainnya. Sejak tadi, yang lebih tua terus saja bicara panjang lebar pada yang lebih muda.
"Taeyong Hyung pernah menyukai seseorang?"
Kedua mata besar itu kemudian terbuka lebar dengan wajah terkejut miliknya.
"Kenapa?"
"Ahh.. Tidak sih, aku Cuma mau tanya saja. Hyung pernah punya pacar? Atau menyukai seseorang?"
"Ya, aku tidak pernah pacaran sih, tapi aku pernah menyukai seseorang waktu aku kecil."
"Oh yang benar? Sekecil apa? Ayo cerita Hyung ~"
"Aku? Cerita apa?"
"Hyung pelit.. Ayo beritahu aku siapa orang yang Hyung suka!"
Eh?
Orang yang Taeyong suka? Apa tidak ada pertanyaan lain? Taeyong tak siap dengan pertanyaan yang satu ini. Mungkin ini sangat mudah, hanya saja untuk mengatakan semuanya Taeyong masih butuh nyali yang besar.
"Aku tidak mau beritahu, ku ceritakan yang lain saja bagaimana?"
"Ah menyebalkan, aku tidak mau dengar ah. Taeyong Hyung sama dengan Johnny Hyung."
"Sama apanya?"
"Johnny Hyung juga tidak mau beritahu nama orang yang ia sukai padaku"
"Johnny suka dengan siapa? Kapan?"
"Aku tidak tahu jelas. Johnny Hyung Cuma cerita yang lain tapi tidak mau beritahu siapa orangnya. Itu sudah lama sih.. Sekitar 9 tahun yang lalu waktu Johnny Hyung tinggal di daerah Jongno."
"Jongno? Hei Johnny juga pernah tinggal disana? Kami juga pernah tinggal di Jongno sejak kecil"
"Kami siapa?"
"Aku, Ten dan juga—"
Hening.
Tak ada suara Taeyong pada detik selanjutnya.
"Dan juga siapa?"
"Temanku.."
"Oh benarkah? Kalian tinggal bersama? Dimana?"
"Di panti asuhan.."
"Panti asuhan? Kalian anak panti asuhan?"
Sepasang mata besarnya lalu mengerjap dengan memberikan anggukan cepat.
"Kalau tidak salah Johnny Hyung juga tinggal di dekat panti asuhan, tapi aku lupa namanya.. Kalau tidak salah Chingu.. Chingu apa ya? Chingu.."
"Chingudeuli Jib?"
"Oh! Itu dia, aku lupa.. Dulu rumahnya Johnny Hyung di dekat sana. Dia bilang dia juga punya teman di panti asuhan."
"Teman? Siapa?"
"Aku tidak ingat benar, tapi Johnny Hyung pernah bilang kalau disana anak-anaknya sangat baik. Waktu itu Johnny Hyung bertemu anak kecil di dekat mini market di ujung jalan. Johnny Hyung bilang anak itu punya wajah yang lucu, tapi karena anak itu sedang lapar, Johnny Hyung beri kue cokelat yang ia beli dari mini market. Lalu setelah itu Johnny Hyung mengantar anak itu ke panti asuhan, dan setiap harinya Johnny Hyung sering datang kesana dengan kue cokelat. Johnny Hyung bahkan punya nama panggilan sendiri untuk anak itu, tapi aku tidak tahu. Dia bilang wajahnya sangat lucu, dan Johnny Hyung bilang dia suka dengan anak itu. "
"Benarkah? Aku seperti pernah lihat yang seperti ini.."
"Siapa?"
.
.
.
.
"Johnny Hyung aku mau kue yang disana!"
Teriakan cempreng itu terdengar menyebalkan di telinganya. Beberapa orang bahkan sampai mengalihkan perhatiannya ke arah sosok kecil di sebelahnya kemudian berbisik-bisik untuk beberapa saat.
"Ten, jangan membuatku malu.."
"Aku mau kue!"
"Sabarlah, Kau pikir tempatnya dekat hah? Ikut saja daripada aku meninggalkan anak kecil sepertimu di tempat ini"
"Aku sudah bilang kalau—hmmphhh"
Suara teriakan cempreng itu hampir saja keluar kalau saja Johnny tidak bertindak cepat untuk membekap mulut besar itu dengan sebelah tangannya. Lelaki kecil itu terus memberontak keras untuk dilepaskan, tapi yang Johnny lakukan adalah semakin membekap mulutnya hingga membuat Ten bertindak lebih agresif dari sebelumnya.
KRAK!
"AAAKKKHHHHH!"
Telapak tangannya baru saja digigit oleh sosok bertubuh kecil itu dengan kuat hingga bekapan di mulutnya terlepas dengan sempurna. Johnny masih sibuk dengan mengibaskan sebelah tangannya yang baru saja tergigit. Ada jejak deretan gigi milik Ten disana, lalu telapak tangannya memerah karena gigitan yang Ten berikan di tangannya secara tiba-tiba.
"Hei! Sakit! Aku mau bawa ini ke Rumah Sakit untuk di visum. Gigimu tajam! Sama seperti ikan piranha!"
"Salahnya Hyung! Aku bilang aku mau kue! Ini sudah sangat lama dan aku mau kue!"
"Tidak bisakah kau berhenti berteriak?!"
"Johnny Hyung juga sama saja! Berhenti berteriak!"
Lalu keadaan berubah hening setelahnya. Kedua orang itu berjalan dengan sedikit jarak dan wajah masam. Toko kue itu berada persis di hadapan keduanya, dan saat pintu kaca itu terbuka, dering lonceng di atas sana berdering hingga mengalihkan perhatian yang lebih kecil untuk berhenti disana dengan kepala mendongak, tak peduli dengan Johnny yang sudah melangkah lebih jauh ke dalam toko.
.
.
"Hei, aku ambil yang—Ten?!"
Kepala milik Johnny langsung menoleh kesana kemari begitu lelaki keci yang sejak tadi mengocehinya itu mendadak hilang dari pandangannya. Langkah kakinya mau tak mau harus kembali ke posisi awal, lalu kemudian ia benar-benar menemukan Ten yang masih memainkan lonceng kecil di atas sana.
Tring Tring~
Dan beberapa detik setelahnya yang Ten rasakan dengan jelas adalah sesuatu yang menyentuh pipinya dengan tiba-tiba. Benda empuk berlapis plastik itu terus menyentuh pipinya dengan cepat hingga mau tak mau Ten harus mengalihkan pandangannya ke arah pipi kanannya, dan ia menemukan Johnny di sampingnya dengan sebungkus kue cokelat kesukaannya.
"Apa bagusnya lonceng itu sih?"
Kepala milik Johnny mendongak sekilas ke arah lonceng kemudian menatap Ten yang masih berada di hadapannya dengan kue cokelat yang entah sejak kapan sudah tergigit dibagian ujung.
"Kenapa suka kue coklat?"
"Karena ini enak.."
"Itu saja? Tidak bermutu.."
Kedua kaki panjang milik Johnny kemudian mengambil beberapa langkah untuk menjauh, tapi ucapan yang Ten keluarkan setelahnya membuat lelaki bermarga Seo itu menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya kembali pada lelaki yang lebih kecil.
"Karena kue cokelat mengingatkan aku pada seseorang. Dia memberiku kue cokelat waktu aku kelaparan.. Makanya aku suka"
###
Wajah manis itu masih berada di hadapan cermin sejak beberapa menit yang lalu. Hoodie abu-abu favoritnya kembali di kenakan pada tubuh kecilnya itu. Pantulan bayangannya di cermin membuat Ten terus tertahan disana hanya untuk merapikan rambut dan juga penampilannya. Ia memang tak pergi kemanapun, hanya saja kalau Taeyong melihatnya dalam keadaan berantakan seperti ini maka ia harus bersiap untuk menerima celotehan panjang lebar dari Taeyong.
Hembusan angin itu kembali muncul secara tiba-tiba sekalipun jendelanya tertutup rapat. Jangan tanya siapa yang datang, Ten sudah hafal betul caranya sosok Yuta datang ke kamarnya seperti ini.
"Aku datang lagi.."
Suara lembutnya terdengar di indera pendengaran milik lelaki kecil itu, kedua obsidian hitamnya yang pada awalnya fokus pada pantulan wajahnya di cermin langsung berputar ke belakang untuk memastikan. Dan ia menemukan Yuta yang telah duduk manis di atas ranjang dengan kepala bersandar pada kedua lututnya yang ditekuk.
"Selamat datang Hyung.."
Kepalanya terangkat dengan cepat setelah itu kemudian ia tersenyum simpul.
"Sepertinya memang benar bahwa hanya Ten saja yang bisa melihatku.."
Yang lebih kecil langsung mengalihkan pandangannya ke arah Yuta yang masih duduk di hadapannya dengan wajah penasaran.
"Benar hanya aku?"
"Ya, aku yakin memang hanya kau saja."
Pandangannya masih tetap pada sosok di hadapannya itu dengan tatapan penasaran hingga membuat Yuta mengernyitkan keningnya dengan cepat.
"Kenapa?"
"Uhmm..itu. Kalau permintaan Hyung terkabul semuanya, apa Yuta Hyung benar-benar akan menghilang?'
Senyuman di kedua sudut bibir Yuta kembali terangkat, menciptakan senyuman manis kemudian belah bibirnya kembali terbuka.
"Aku tidak tahu.. Tapi kalau aku memang menghilang, jangan lupa padaku ya?"
Hanya ada anggukan pelan dari yang lebih kecil.
"Oh iya, apa Taeyong mau membantu ya?"
"Ah, soal itu.. Biarkan saja Taeyong Hyung. Lagipula hanya aku yang bisa melihat Yuta Hyung kan?"
Hening.
Senyuman di sudut bibir Yuta sedikit terkikis dengan perkataan Ten barusan. Yang dilakukan oleh Yuta setelah itu adalah membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil menatap ke arah Ten yang ada didepannya.
"Iya, ini sama saja seperti bermain petak unpet. Meskipun Taeyong tidak akan bisa menemukanku, lebih baik biarkan saja.."
Dan tubuh milik Yuta berbalik arah membelakangi yang lebih kecil.
"Kalau adik kesayanganku Ten sudah menemukanku.. Itu saja sudah cukup."
Tapi hatinya justru berkata lain. Hanya karena Ten bisa melihatnya saja ia sudah sangat bahagia, tapi kalau Taeyong bisa menemukannya juga maka ia akan jauh lebih bahagia.
"Karena tidak ada cara lain... Aku akan cari tahu permintaan Yuta Hyung sendiri dan mengabulkannya."
Yuta kembali tersenyum lembut sekalipun kedua matanya sudah hampir menangis karena perkataan dari Ten barusan. Ia bangkit dari posisinya kemudian memberikan pelukan erat pada adik kesayangnnya itu sekalipun ia bukanlah manusia. Karena setidaknya Ten masih bisa merasakan sentuhan Yuta sekalipun mereka berbeda kehidupan.
"Terima kasih..."
"Ahaa, sama-sama Hyung.."
.
.
.
"Taeyong Hyung?"
Kepala miliknya langsung menyembul dari balik pintu kamar milik Taeyong, tapi sosok yang dicari olehnya itu tak ada disana. Kamar dengan dominasi warna hitam dan putih itu kosong, Taeyong tak ada di tempat biasanya. Di jam seperti ini biasanya Taeyong akan menghabiskan waktu di dalam kamarnya dengan membereskan kamar atau berada di dapur untuk memasak makanan apapun yang bisa di konsumsi. Kedua kaki kecilnya melangkah masuk ke dalam kamar Taeyong dengan air muka penasarannya. Kepalanya terangkat sedikit, memeriksa seluruh penjuru kamar hingga pada detik selanjutnya pandangan matanya tertuju pada kotak berukuran sedang di atas lemari yang terlihat tak asing di matanya itu.
"Itu kotak apa Hyung?".
"Ini? Aku juga tidak ingat jelas, tapi sepertinya ada beberapa barang lama disini. Dan aku mau merapikannya lagi. Mungkin ada yang bisa dipakai kembali"
"Oh! Kotak yang waktu itu!".
Pergerakannya langsung berubah dengan cepat. Sosok bertubuh kecil itu dengan cepat mengambil kursi di depan cermin rias kemudian memposisikan kursi kayu itu di depan lemari. Kedua kakinya dengan cekatan menaiki kursi itu dengan cepat, kemudian kedua tangannya terulur ke atas lalu membawa kotak itu turun dengan sangat hati-hati. Lelaki asal Thailand itu langsung mendudukan bokongnya di atas kasur empuk milik Hyungnya itu. Jari jemari lentiknya mulai membuka penutup kotak dengan cepat lalu memeriksa beberapa barang yang ada di dalam sana satu persatu.
"Aku harap ada hal yang jadi petunjuk untuk Yuta Hyung.. Kalau saja ingatanku sudah kembali, aku tidak harus begini. Oh! Apa ini?!"
Telapak tangannya terasa bersentuhan dengan sesuatu berukuran sedang di dalam sana. Wajahnya langsung mendekat masuk ke arah kotak lalu meraih sebuah buku harian yang sempat tersentuh olehnya tadi.
Buku harian berwarna biru itu sudah terlihat usang, bahkan berdebu. Mustahil kalau anak yang punya rasa ingin tahu seperti Ten tidak penasaran dengan isi tulisannya. Ia bahkan tak tahu itu milik siapa, cover bukunya kosong, bahkan buku harian itu terkunci jadi ia tak bisa lihat apa isinya.
"Sial..kenapa harus di kunci? Memangnya serahasia apa buku ini hah?"
Lelaki kecil itu meletakkan buku biru itu di atas pangkuannya kemudian kedua tangannya mulai mengotak-atik isi kotak, tapi tak ada tanda-tanda kunci yang terletak disana.
"Ini punya Taeyong Hyung atau Yuta Hyung? Kalau aku tidak mungkin.. Aku mana punya buku seperti ini kan?"
Kepalanya menoleh ke atas kasur di sekitarnya untuk mencari lebih dalam lagi, tapi ia tak tahu apapun. Lalu kenapa tidak panggil Yuta saja, itu akan lebih mudah.
"Baiklah.. Yuta Hyung?!"
Tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Yuta di sana.
"Yuta Hyung ini penting!"
1 detik.. 2 detik.. 3 detik..
Lalu hembusan angin ringan itu jadi tanda kedatangannya. Sosok dengan kemeja abu-abunya itu berada persis di samping Ten dengan raut penasaran yang tersirat dari wajah tampannya itu.
"Ya?"
"Oh Hyung! Aku temukan buku ini, tapi. Bukunya terkunci jadi aku tidak bisa membaca isinya. Kau tahu dimana kuncinya?"
"Kunci?"
Lalu yang lebih kecil memberikan anggukan dengan mata membesar.
"Aku menaruhnya di gelangku.."
"Gelang?"
"Ahaa, aku taruh di gelang supaya tidak hilang"
Ten mulai kembali fokus pada keadaan, obsidian hitamnya dengan cepat tertuju ke arah gelang-gelang yang sama dengan yang Taeyong tunjukan padanya hari itu. Sebelah tangannya meraih ketiga gelang itu dengan cepat kemudian mulai memeriksa satu persatu untuk dapat kuncinya.
"Kau menemukannya?"
"Ya! Aku dapat kuncinya."
Ten tak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan detik saja gembok kecil yang terpasang di buku itu terlepas dengan sempurna, dan itu membuat Ten puas. Lembar demi lembar ia buka lalu membacanya satu persatu, dan ia sudah tahi jelas kalau buku biru itu adalah milik Yuta, dan ia beruntung. Hanya saja..
"Ten?! Apa yang kau lakukan di kamarku?!"
Entah bagaimana caranya Taeyong bisa kembali secepat itu dan di waktu yang kurang tepat.
"Ah, Taeyong Hyung... A-aku hanya—"
"Dan apa yang kau lakukan dengan kotak itu Ten? Kau mengacaukan isinya!"
"Ak-aku cuma mau ambil sesuatu saja.."
"Ten, aku tahu kau berbohong. Katakan padaku apa yang sedang terjadi?"
"A-apa?"
"Kau bertemu dengan Yuta kan?"
Hening.
Dua orang disana saling membisu satu sama lain dengan tatapan berbeda. Sama halnya dengan Taeyong dan juga Ten, Yuta bahkan jauh lebih terkejut karena ini. Ia bahkan tak pernah berpikir kalau Taeyong akan mengetahui kehadirannya di sekitar mereka sekalipun Yuta sendiri tak tahu bagaimana Taeyong bisa tahu semuanya.
"Tae-Taeyong Hyung.. Aku—"
"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini? Aku tahu semuanya, aku tahu kalau kau bertemu dengan Yuta. Aku tahu itu.."
Lalu air muka Taeyong berubah begitu saja. Semuanya tampak berbeda, atmosfernya sangat gelap seperti apa yang sedang Taeyong alami sekarang, tapi tetap saja Ten tak paham situasinya.
"T-Taeyong Hyung—"
SRET!
Pergelangan tangannya di tarik dengan kuat hingga yang lebih kecil langsung bangkit dari posisinya. Masih dengan cengkaraman kuat dari tangan Taeyong. Tatapan matanya berubah tajam, tapi ada bayangan tersendiri di balik sikap kasar Taeyong pada hari ini. Lelaki bermarga Lee itu bahkan langsung menangis begitu saja sambil mencengkeram tangannya dengan kuat.
"H-Hyung.."
"K-Kau bertemu Yuta, ya?"
Tapi yang lebih kecil tak memberikan jawabannya.
"Aku..ingin bertemu dengannya.."
Lalu butiran bening itu menetes begitu saja tanpa bisa di cegah.
"Taeyong Hyung—"
"Ta-Tapi... hiks..Tapi kenapa hanya kau saja yang bisa melihat Yuta?! Apa kau tidak takut?!"
Suara tangisan Taeyong justru semakin menjadi sejak beberapa detik yang lalu. Cengkeraman tangan Taeyong masih tak di lepaskan. Yang Ten lakukan hanya diam tanpa memberi jawaban. Obsidian hitannya masih fokus oadaw wajah Taeyong dan juga air mata milik Taeyong yang masih terus menetes keluar tanpa henti. Lalu Yuta masih ada disana, menatap kedua orang itu tanpa bicara sepatah katapun sambil meremas ujung kemeja yang di pakainya.
"Itu.. Mungkin karena Yuta Hyung punya masalah yang belum—"
"Karena itu! Huks.. Harusnya dia datang kepadaku!"
Suara teriakan Taeyong menggema di dalam kamar milik sosok yang masih menangis itu. Cengkeraman tangannya mulai mengendur, tapi isakan Taeyong semakin terdengar menyakitkan bagi Ten dan juga Yuta.
"Hari itu.. Hiks... Kalau aku tidak bicara seperti itu..."
-Flashback On
2 tahun lalu, semuanya mungkin terlihat baik-baik saja. Tak ada masalah yang terjadi di antara Yuta, Ten dan juga Taeyong. Semuanya berjalan normal seperti biasanya. Hanya saja untuk hari itu semuanya mungkin tak seperti yang biasa terjadi. Lelaki bertubuh kecil itu baru saja pergi dengan Yuta sekitar 30 menit yang lalu. Tidak ke tempat yang jauh, hanya ke danau buatan di lingkungan mereka yang hanya berjarak 1 Km saja dari rumah.
Rerumputan hijau itu jadi tempat untuk melepas penat setelah berjalan kaki dari rumah hingga ke sana, pepohonan lebat yang tumbuh disana mendominasi suasana rindang yang sangat terasa di sekelilingnya. Dan hanya dalam 2 menit saja, obrolan ringan itu muncul. Lalu beberapa menit setelahnya semuanya mulai berbeda. Yuta bahkan tak tahu kenapa ia ingin bertanya semuanya pada sosok yang lebih muda darinya itu, tapi ia tetap saja. Belah bibirnya langsung terbuka dengan cepat, lalu mengatakan sesuatu yang sangat ia ingin ketahui sejak lama.
"Ten.. Apa kau suka dengan Taeyong?"
Tapi yang lebih kecil memberikan sebuah senyuman simpul dengan sebuah gelengan pelan.
"Tidak, walaupun Taeyong Hyung sangat baik dan perhatian padaku. Rasa cintaku dengan Taeyong Hyung hanya sebatas kakak dan adik, tidak lebih.. Aku masih menunggu seseorang sampai sekarang, dan aku menyukainya."
Perkataan Ten barusan membuat Yuta mencelos. Ada rasa senang dalam hatinya, tapi ada juga rasa kasihan pada Taeyong. Karena yang Yuta tahu Taeyong sangat menyukai Ten sejak lama, dan ia sendiri menyukai Taeyong sejak lama. Tapi semuanya tak berjalan lancar, kenyataan memukulnya keras saat Taeyong mengatakan padanya kalau ia menyukai Ten. Maka Yuta punya inisiatifnya sendiri dengan memilih diam tanpa mengatakan semuanya dan lebih memilih memberi dukungan pada Taeyong dan juga Ten.
Lalu hari itu...
Yuta hanya ingin berbuat baik dengan mengatakan jika Ten tidak menyukai Taeyong selain dalam hubungan saudara saja. Tapi tepat setelah semuanya, Taeyong justru menuduhnya yang bukan-bukan.
"Kau bilang pada Ten kalau aku menyukainya?!"
"Taeyong tidak..aku tidak bilang kalau—"
"Kalau apa? Aku sudah bilang padamu untuk diam. Dan sekarang kenapa kau lakukan ini? Aku tahu kau Cuma berbohong kalau Ten menyukai orang lain. Aku benar kan? Kau mengatakan ini untuk apa? Kau mau merusak hubungan kami? Kau tak tahu apapun, jadi jangan banyak bicara!"
Terkadang berbuat kebaikan demi orang lain memang tak mudah.
Perkataan Taeyong terlalu kasar dan itu menyakitinya. Yuta tak pernah punya niatan buruk, jadi kenapa Taeyong harus mengatakan semua omong kosong itu?
"Maaf.."
-Flasback Off
"Lalu setelah itu.. hiks...Aku tidak...hiks...melihat Yuta lagi dalam satu hari. A-aku pikir dia pergi untuk langsung bekerja di mini market. Ta-tapi..hiks.. Waktu itu kau datang..".
"Taeyong Hyung! Yuta Hyung!"
"Lalu karena..hiks...a-aku lihat kau menangis, aku ikut pergi denganmu waktu itu. Dan di Rumah Sakit..hiks.. Aku pikir aku salah dengar berita buruk itu. Aku pikir aku salah orang, dan aku pikir aku sedang bermimpi.. Hiks.. A-aku..hiks.. Aku lihat pucat.. Hiks.. Semuanya kaku, dan aku pikir itu bukan Yuta.. Aku bilang pada semua orang kalau itu bukan Yuta, tapi.. Hiks..kenyataan berkata lain.. Dokter bilang Yuta meninggal karena tertabrak mobil, tapi aku masih tidak percaya itu..hiks. Aku tidak percaya itu Ten! Itu salahku! Seharusnya aku tidak bicara sekasar itu! Seharusnya aku tidak mengizinkannya pergi! Seharusnya aku tidak menyakitinya! Hiks.. Ini semua salahku! Yuta meninggal karena aku! Aku tidak bisa lagi mendengar suaranya... Huks... Aku tidak bisa lagi mendengar kata-kata menyentuh darinya... Aku juga tidak bisa lagi melihat senyumannya..hikss..Ka-Kalau aku tak melakukan semua itu Yuta pasti ada bersama kita sekarang. Yuta pasti—"
"Yuta Hyung selalu bersama kita Hyung..."
"Eh?".
"Yuta Hyung selalu disini.. Dia ada disini Hyung..".
"Yuta?"
Dan anggukan cepat itu jadi jawabannya. Obsidian hitamnya melirik ke arah Yuta yang melangkah perlahan ke dekat Taeyong. Lalu kemudian tersenyum.
"Dia sekarang ada di dekatmu Hyung.. Yuta Hyung ada di dekatmu dan sekarang dia sedang tersenyum padamu.."
Taeyong segera mengalihkan perhatiannya ke sebelah tubuhnya, tapi ia tak bisa lihat apa pun.
"Yuta.. Kau disini? Maafkan aku, ini semua salahku.. Harusnya aku tidak kasar padamu.. Maafkan aku.."
"Katakan padanya untuk berhenti menyalahkan diri sendiri. Taeyong tak bersalah, jadi tolong jangan bersikap seperti ini.."
"Taeyong Hyung.. Yuta Hyung bilang berhenti menyalahkan diri sendiri, Taeyong Hyung tidak bersalah, jadi jangan seperti ini terus..."
"Tapi ini salahku.. Aku yang membuatmu meninggal, aku yang salah... Aku juga ingin melihatnu, Yuta keluarlah.. Aku mau bertemu denganmu juga.. Ku mohon.."
Tapi yang disebutkan namanya hanya bisa tersenyum lembut sambil mengulurkan kedua tangannya ke hadapan Taeyong.
"Yuta aku ingin bertemu denganmu..huks..aku mohon..aku—"
Lalu ucapannya terhenti persis setelah obsidian hitamnya menangkap siluet seseorang yang tengah berdiri dihadapannya dengan sebelah tangan terulur ke hadapannya.
"Yuta-kun?!"
.
.
.
.
To Be Continued
Astaga.. Udah jam 12 kurang dan yuyut belum tidur :'v siap2 aja bangun kesiangan di hari senin :'v
Maaf kalo yuyut udah bikin nunggu lama banget, hampir sebulan :'v adakah yang masih nunggu?! Ya sama kayak alesan sebelumnya, ingat tugas sekolah jadi maapkeun.
Okat, ini menjelang ending, but sengaja yuyut gantungin biar wow :'v eh yang ada tambah gaje ceritanya :'v oke buat part Yuta gw ambil dari film yg di adopsi dari anime "Ano Hana" udah lama sih, tapi baper anjir :'v ya, intinya ini menjelang chapter akhirnya readers-nim. Maafkan kalo chapter ini bener² buruk dari chapter sebelumnya :'v maaf kalo gak baper, gak bisa bikin soalnya :'v maaf kalo kurang horor, masalahnya yuyut takut banget sama horor :'v
A Big Thanks for..
mtxgdvtzk: Hubungan Jaeyong disini TTM :'v tapi emang Jae aja yg gatel /tampol/ disini kan YuTaeTen itu emang sahabatan dari kecil. Tapi ada benih² toge di dalemnya..eh benih cinta maksudnya :'v
Park Rinhyun-Uchiha: plis deh kak, sakit hati adek.. Di bilang author nyebelin.. -_- ya kan yang namanya umur gak ada yang tau kan? :v
ROXX: Ten kan hobby nya bikin orang jadi stres karena tingkah menggemaskannya :'v emang Ekspektasi apaan yang sempet lu pikirin tapi kebanting jauh sama realita di ff :'v yaa mungkin ini yang termasuk Ekspektasi vs Realita :'v
Elle Riyuu: hehe maaf ya udah bikin horor :'v maapkeun author gila ini. Ini udah pake warning kok :'v
KSYJaeyong: Yuta gak siap yuyut kawinin makanya bunuh diri :'v canda.. Udah di jawab ya.. Yuta ninggal karena ketabrak. Gak bisa jelasin panjang x lebar. Tangan udah keriting ngetik di hp :'v.
Fujosgirl: iya emang agak mirip sama drama itu kan? Tapi di chapter ini gemesnya Ten di ilangin dulu, di chapter depan kayaknya banyak deh Johnten moment nya :'v
Guest: welcome back.. Lama gak liat :'v kasian sama Yuta nya tah? Hehe maad ya, yuyut juga kasian tapi yaaaa.. :'v agak horor gak ini? Atau gak horor sama sekali? :'v
Makasih makasih makasih banyak buat kalian semua..Love you :'v
