Characters ;

- Lee Jeno of NCT

- Na Jaemin of NCT

- Huang Renjun of NCT

- Mark Lee of NCT

Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.

WARNING! Kalau tidak suka, tidak perlu membaca. Kalau suka, terimakasih banyak~

Selamat membaca!


Sudah hampir 3 tahun berlalu semenjak Na Jaemin memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Jepang.

Seharusnya, lelaki tersebut kembali ke Korea Selatan setelah 2 tahun. Tetapi, Ibu Jaemin meminta putranya untuk menyelesaikan pendidikan SMA-nya sampai tuntas di Jepang.

Alasan Ibu Jaemin—karena mengurus perpindahannya pasti sangat merepotkan.

Ayah Jaemin tidak bisa membantu putranya. Jaemin ingin protes tetapi Ibunya akan berubah menjadi nenek sihir lokal kalau ia membantah kata-katanya.

Lee Jeno hanya bisa menghela nafas, lalu berkata kepada Na Jaemin yang sedang melakukan video call bersamanya—"Mau bagaimana lagi."Ucap Jeno pasrah.

Dibalas dengan tawa Jaemin yang terdengar kaku.

Sejak keduanya menjadi murid SMA—tidak banyak yang berubah.

Kalaupun ada yang berubah, mungkin itu adalah Na Jaemin yang tidak memasuki SMA yang sama dengan Lee Jeno,

Tidak berangkat ataupun pulang sekolah bersamanya,

Atau Lee Jeno tidak lagi terkenal sebagai pangeran sedingin es karena sikapnya sudah melunak,

Membuat lelaki tersebut menjadi idola di sekolah barunya.

Setiap ada perempuan yang menyatakan perasaannya kepada Lee Jeno, ia akan menjawab, "Maaf, aku sudah menyukai seseorang dan aku sedang menunggu orang itu."

Walaupun murid-murid di SMA Jeno sudah mengetahui tentang 'Lee Jeno menyukai seseorang dan setia menunggunya'—pernyataan cinta tidak pernah berhenti menghujani lelaki tersebut.

Hampir semua murid di angkatan Jeno berasal dari SMP yang sama dengan dirinya.

Mayoritas dari mereka berusaha untuk mencari tahu, siapa 'perempuan' beruntung yang bisa meluluhkan hati Lee Jeno.

Dan tidak sedikit dari mereka berasumsi bahwa perempuan tersebut adalah Gong Hina.

Tetapi yang mengetahui identitas perempuan beruntung sesungguhnya itu hanya Lee Jeno seorang, Huang Renjun dan Mark Lee.

Karena kejadian yang terjadi diantara Na Jaemin, Lee Jeno dan Huang Renjun saat kelas 3 SMP, kini Jeno menjalin hubungan baik dengan Renjun maupun Mark—karena ia bersahabat dengan Renjun.

Ketiganya juga mendaftar di SMA yang sama, membuat mereka sering menghabiskan waktu bersama.

Tanpa terasa, kelulusan SMA pun sudah didepan mata.

.

.

"Lee Jeno—bagaimana hubunganmu dengan Nana? Kau sudah cerai?" Tanya Huang Renjun, ketika ia, Lee Jeno dan Mark Lee tengah bersantai diatap sekolah.

Jeno melemparkan tatapan membunuh ke arah Renjun, "Memangnya kenapa? Kau ingin merebut Na Jaemin lagi dariku?"

"Kok tahu?"

"Aku sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan ini."

Mark Lee yang sedari tadi hanya sibuk membaca komik menoleh ke Jeno, "Jeno—selama 3 tahun ini kau tidak pernah bertemu Na Jaemin, kan?"

Jeno menghela nafas singkat, "Iya. Jaemin tidak mau bertemu denganku."

Renjun bersiul mendengar perkataan Jeno, "Kenapa? dia sudah muak denganmu ya?"

Jeno mencibir, "Tentu saja tidak. Ini semua adalah ujian untuk kami berdua."

"Hah? Ujian?" Mark dan Renjun sama-sama memiringkan kepala.

Jeno mengangguk, "Iya—ujian. Kalian tidak perlu tahu."

Mark menutup komik miliknya, "Tetapi kau tetap contact dengannya kan?"

"Aku selalu video call bersama Jaemin setiap malam." Ucap Jeno seraya tersenyum puas.

Renjun menggembungkan kedua pipi, "Curang! Aku juga mau video call dengan Na Jaemin!"

"Tidak boleh." Jeno membentuk tanda silang dengan kedua jari telunjuknya.

"Oh, ya—rencana kalian setelah lulus SMA bagaimana?" Tanya Mark kepada kedua temannya.

"Rencana setelah lulus SMA, ya? Kebanyakan dari kita akan memdaftar perguruan tinggi, kan?" Ucap Huang Renjun sambil memijit dagunya, "Kalau aku sepertinya bakal mendaftar perguruan tinggi swasta—kalian bagaimana?" Lanjut Renjun.

Mark mengangkat tangan kanannya, "Aku juga mendaftar perguruan tinggi swasta."

Renjun melirik ke arah Jeno, "Kalau kau, Lee Jeno?"

"Sama seperti kalian." Jawab Lee Jeno singkat. "Tetapi aku ada rencana lain juga." Tambahnya.

"Oh?" Renjun merangkul bahu Jeno, "Rencana apa itu?"

"Rahasia."

.

.

"Uwah~ perasaan baru saja kemarin aku memberikanmu bucket bunga kelulusan saat SMP—" Huang Renjun memberikan Lee Jeno dan Mark Lee masing-masing satu bucket bunga, "—Hari ini aku harus mengeluarkan uang lagi untuk memberikan kalian bertiga sebuah bucket bunga!"

Jeno menjulurkan lidahnya, "Aku tidak memintamu untuk memberikanku ini—ngomong-ngomong, terimakasih."

Renjun mendengus, "Hanya terimakasih, Lee Jeno? Kau serius?"

Mark Lee meraih tangan Renjun dan memberikannya dua bungkus permen lollipop, "Selamat atas kelulusannya Huang Renjun—dan selamat sudah diterima di perguruan tinggi yang kau impikan."

Renjun menggelengkan kepala tidak percaya, "Teman-temanku ini kenapa miskin sekali sih hanya memberikan aku permen lollipop dan ucapan terimakasih?"

Mark menepuk bahu Renjun berkali-kali, "Setidaknya aku memberikanmu sesuatu. Tidak seperti seseorang." Ia melirik Lee Jeno.

Yang dilirik hanya membuang muka.

"Oh?" Mark teringat sesuatu, "Kau tadi bilang—memberikan kami bertiga bucket bunga? Siapa satunya?"

Renjun menyengir lebar, "Akhirnya kau bertanya!" Ia pun menunjuk sebuah pohon besar yang terletak didekat gerbang sekolah mereka, "Kau tidak perlu bersembunyi lagi—keluarlah!"

Lee Jeno dan Mark Lee segera menoleh ke arah sebuah pohon besar yang ditunjuk oleh Huang Renjun.

Seorang lelaki dengan paras tampan dan rambut cokelat almond berjalan menghampiri Jeno, Renjun dan Mark dari balik pohon besar tersebut.

Jeno membulatkan kedua matanya begitu melihat sosok tersebut.

Sosok tersebut—Na Jaemin, tersenyum manis.

"Halo semua." Ia melambaikan tangan kanan. "Apa kabar—"

Belum menyelesaikan sapaannya, Lee Jeno langsung memeluk tubuh Na Jaemin.

"Na Jaemin, aku sangat merindukanmu." Ucap Jeno pelan.

Wajah Jaemin seketika memerah seperti kepiting rebus. Ia membalas pelukan Jeno, "Aku juga—aku juga merindukanmu Lee Jeno."

Jeno mengeratkan pelukannya, "Jaemin—ini Na Jaemin-ku, kan?"

Jaemin tertawa kecil mendengar ucapan barusan. Ia menenggelamkan wajahnya pada bahu Jeno, "Tentu saja."

"Ehem!" Huang Renjun berdeham dan memisahkan keduanya, "Tolong, ya—jangan bermesra-mesraan disini!" Renjun berkacak pinggang.

Jeno kembali memeluk Jaemin, tetapi kali ini ia memeluknya dari belakang, "Kalau kau cemburu bilang saja."

"Aku memang ceburu—! Sudah, sudah, bubar!" Ia berusaha menarik Jaemin menjauh dari Jeno, tetapi Jeno tidak gampang menyerah. Sedangkan yang ditarik-tarik hanya bisa pasrah dengan kelakukan keduanya.

Mark menggelengkan kepala melihat tingkah teman-temannya, "Semuanya—kalau kalian mau ribut tolong jangan ditempat ini karena kalian semua memalukan." Ucap Mark dengan tampang datar.

Keempat lelaki tersebut memutuskan untuk merayakan kelulusan SMA mereka bersama-sama pada hari itu—

Sekaligus merayakan kepulangan Na Jaemin ke Korea Selatan.

Disaat ada kesempatan, Lee Jeno sempat membisikkan sesuatu ke telinga Na Jaemin, "Selamat datang kembali, my love."

.

Tbc

.

[ Halo! ーーヽ(*'▽)ノ Part kesembilan dari fanfict 'love, pain, patience' akhirnya keluar! Aku ingin memberitahu untuk para pembaca fanfiction ini bahwa chapter selanjutnya akan menjadi chapter terakhir dari fanfiction ini! Aku benar-benar menikmati menulis fanfict berchapter walaupun sangat melelahkan! (人・㉨・) Jangan lupa untuk vote dan leave comment ya! Terimakasih banyak! (⁼̴̀ .̫ ⁼̴́ )✧ ]