disclaimer. Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime.
Terima kasih telah menemani saya sampai di sini, chapter ini hanya epilog sederhana o/
Sekali lagi terima kasih atas segalanya dan sampai jumpa di lain kesempatan~
{sembilan. "Teori Presipitasi Hanji"}
"Saatnya pulang, ketika waktu lekang."
"Levi."
"Hn?"
"Leeeeviiii."
"Kau mau kujatuhkan dari kursi rodamu hah, bodoh?"
Mereka berdua selalu menghabiskan waktu di taman belakang rumah sakit, di mana rumah bagi beberapa kupu-kupu endemik juga flora-flora pemanja bagi siapapun yang menyapa. Kala Levi datang, ia akan membawa dirinya dan Hanju berjalan menelusuri setapak demi setapak lajur yang bersahabat bagi pasien rumah sakit; memang, menurut Erwin, taman itu dibuat khusus untuk mengusir kejenuhan, juga sebagai sedikit terapi bagi mereka yang membutuhkan kebahagiaan.
Hanji dalam masa penyembuhan, harus mendapatkan pengawasan dari Erwin selama beberapa bulan, Levi berada di sana hanya sebagai pengamat, pemerhati, orang ketiga yang tak bergerak.
"Kau tahu Levi bunga ini namanya—"
"... Bougainvillea spectabilis—Bugenvil."
"Lalu bunga ini—"
"Hibiscus rosa-sinensis—Kembang Sepatu."
"Bunga yang ituuuu—"
"Pelargonium odoratissimum—Geranium."
"Wah Levi hafal ya!"
"Karena kau setiap hari menyenandungkannya, bodoh!" kerut di dahi Levi bertambah. "Jadi urusanmu mengajakku kemari itu apa?"
Alih-alih menjawab, Hanji Zoe di sana menoleh dengan senyum penuh rahasia.
"Kita nikmati saja saat ini," ujarnya.
Levi bisa menghitung berapa kali ia mendecih karena kalimat Hanji sungguh tidak mengenakan—antara memiliki banyak makna, atau sia-sia—baginya.
Hanji tak ia rasa menarik lengan kemeja putih yang ia pakai, ketika mereka nyaris bertemu dengan pagar tinggi yang dihiasi oleh tanaman-tanaman hijau dengan nama yang berbeda yang memiliki fungsi sebagai akar pelekat dan sulur. Di sana, semak-semak belukar tidak terasa tumpang-tindih karena keberadaan bunga berwarna merah dan putih menyelingi.
Rosa hybrida. Mawar. Bunga lokal yang ada di mana-mana lagi memiliki arti yang dwimakna.
Levi menaikkan alis, ia tidak yakin Hanji mengajaknya ke sana melihat mawar-mawar itu.
"Lihat ini," Hanji menunjuk tepi sulur-sulur di mana terdapat bunga berwarna merah keunguan mekar, sekilas terdapat titik-titik air, berkas dari anugerah dan karunia Tuhan yang jatuh melapisi dunia. "Aku ingin ini."
.
.
.
Alisnya berkedut.
.
.
.
Pekerjaannya bukanlah menghafal tumbuhan, ia hanya membaca buku untuk mengimbangi teori-teori Hanji.
.
.
.
Bibirnya yang mengendur menjadi naik.
.
.
.
[Antigonon leptopus Hook et. Arn—Air Mata Pengantin]
.
.
.
Saat itu, Levi terperanjat.
Niatnya menuju ke tempat itu hari itu ternyata ketahuan.
Ia tertangkap basah.
"Ayolah Levi, kaupikir aku tidak tahu kau menyembunyikan sesuatu?"
Senyum si mata empat itu kelewat bahagia.
Levi berdehem, menyembunyikan seringai kecil yang tergambar di bibirnya seraya ia merogoh kantong celana hitamnya, tempat sebuah kotak berwarna bening bak berlian menyembunyikan sesuatu yang akan merubah hubungan mereka untuk selamanya.
("Maukah kau
mengasihiku dengan hujanmu
dan menjadikanku abadi?")
[end.]
