CATCH ME. If You Wanna!
Sherry Kim
.
.
.
"Kau tidak membawa apapun untuk di lelang hari ini?"
Mata bambi Changmin menyipit, pemuda itu membenturkan dahinya dengan dahi Jaejoong cukup keras lalu mendorong pemuda itu mundur dari hadapanya.
Ketika yang lain sibuk di stand mereka masing masing menata barang barang yang akan mereka lelang dan hasil lelang hari ini akan di sumbangkan kepada yayasan yatim piatu. Tetapi apa yang di lakukan pemuda bermata kucing itu di stand Changmin?
"Kembali ketempatmu kucing nakal, atau aku akan menendang bokongmu agar kau pergi." Ancaman itu tidak berpengaruh kepada Jaejoong.
Pemuda itu berkacang pinggang memasang wajah garang, atau itulah yang ia anggap sedang ia lakukan saat ini.
"Aku akan menjewer kupingmu." ancam Jaejoong balik. "Suka suka aku mau dimana."
Changmin tidak ingin berdebat di pagi hari yang indah ini, ia punya senjata lain untuk mengalahkan Jaejoong tanpa bersusah payah membuat tenggorokannya kering. Dengan santai ia mengikat tangan di depan dada, duduk di kursi yang terdapat di setiap stand. "Kau tahu, liburan kemarin sangat menyenangkan. Sayang kau tidak ikut bersama kami ke Jeju."
Benar saja. Wajah Jaejoong berubah muram, bibir bawah pemuda itu mencebil lucu dan menghentakkan kaki sebelum kembali stand miliknya, yang hanya bersebelahan dengan stand Changmin.
Dasar penghianat. Grutu Jaejoong. Sahabatnya itu mengatakan tidak akan pergi jika Jaejoong tidak ikut liburan ke pulau Jeju.
Kenyataanya apa. Changmin pergi tanpa pamit, meninggalkan Jaejoong sendirian di Seoul sepanjang liburan semester mereka selama seminggu penuh. Ke pulau Jeju bersama teman teman lainya. Termasuk si cantik She Kyung, gadis yang ia kagumi.
Menghela nafas. Jaejoong melempar diri ke kursi dan mengamati barang barang yang akan ia lelang. Bibirnya mengerucut imut. Sebagian barang itu memang bukan miliknya, milik ke enam kakaknya yang kemarin malam ia rampok. Karena semua barang barang miliknya tidak ada yang tidak terpakai.
Dari sudut mata, Jaejoong melihat Changmin yang memperhatikan dirinya dari stand pemuda itu. "Apa lihat lihat. Belum pernah melihat pemuda setampan Jongie." Bentaknya.
"Astaga, perlukah aku memukulmu untuk menyadarkanmu bahwa kau itu jauh dari kata tampan." Bibir tebal pemuda itu menyerigai. "tepat cantik, Jongie sayang."
Mata Jaejoong menyipit penuh dendam. Ia benci di bilang cantik. "Tiang listrik, perut karet, dasar pembohong."
Baiklah. Changmin mengalah. Kembali diam, ia menghela nafas lelah. Sahabatnya itu masih marah tentang liburan kemarin. "Kau seperti kekasih yang di tinggal selingkuh."
"Aku tidak seperti itu, dan aku bukan kekasihmu. Tidak akan pernah!" Pemuda itu berdiri dan berkacak pinggang. "Ya Tuhan, aku kasihan kepada siapapun yang bersedia menjadi kekasihmu, gadis malang itu pasti akan miskin dadakan."
Balas menatap galak Jaejoong, Changmin juga berkacak pinggang. "Tidak ada gadis manapun yang mau menjadi kekasihmu karena kau lebih cantik dari mereka."
"Pujian yang menyenangkan." Sahut Jaejoong dongkol. Demi apa, ia tidak akan memaafkan sahabatnya itu.
"Kalian bertengkat."
Choi Seung Hyun muncul di antara mereka. "Tidak biasanya kalian bertengkar."
"Kami tidak bertengkar." Jaejoong dan Changmin menjawab serempak.
Kedua alis pemuda tinggi itu menyatu karena menggeryit. "Tapi kakian bicara terlalu keras, sampai kami semua mendengarnya."
"Aku takut Changmin tuli sehabis naik pesawat dari Jeju." Jaejoong menjawab asal, mengabaikan Changmin yang menggerutu.
Seung Hyun menahan senyum, ia tidak mau membuat Jaejoong semakin marah. Jadi, ia bertanya kepada Changmin. "Aku tidak melihat benda apapun yang akan kau lelang, Changmin?" ia mengalihkan pembicaraan.
"Karena benda yang akan aku lelang tidak mungkin aku taruh di atas meja."
"Benda apa itu?" Beberapa sahabat lain mengerumuni mereka. "Apakah itu sesuatu yang mahal, indah atau... "
Mengangkat tangan Changmin melirik Jaejoong misterius. Mencondongkan tubuh ke arah Jaejoong ia bekata lantang. "Rahasia."
Jaejoong tidak suka dirinya terlihat seperti orang bodoh berdiri disana sementara murit murit lain sibuk mengerumuni Changmin, bertanya benda apa yang akan pemuda itu lelang. Dasar sok keren.
Penasaran, tentu saja! Tetapi ego seorang Kim Jaejoong mengalahkan segalanya. Menghela napas kasar untuk kesekian kali dalam pagi ini, duduk dengan kedua lengan bertumpu pada meja, Jaejoong menompang wajah dengan gaya malas.
"Kau akan kehilangan sebagian kebahagiaanmu jika terus menghela napas seperti itu, Jongie."
Dua sosok pemuda berseragam sekolah lain menjulang tinggi berdiri di hadapan Jaejoong. Leeteuk dan Hankyung. Murit sekolah Saphire, dari Anyang.
"kalian," Melompat berdiri Jaejoong memutari meja untuk menerjang kedua kakak kelasnya dengan pelukan yang membuat mereka sesak seperti biasa.
"Bagaimana kabarmu Jongie?"
"Baik. Bagaimana kalian bisa di sini?"
Menjentikan jemari, Hankyung menunjuk murit lain yang di belakang mereka, di kerumuni siswi sekolahan Shinki. "Siwon juga datang."
Sorot mata Jaejoong mengintimindasi. Kalau ia tidak salah, tentu ada hubunganya dengan putra pemilik sekolah Saphire itu. "Kalian memanfaatkan kekuasaan Siwon untuk bisa kabur ke sini?"
Hankyung mengambil salah satu boneka dari stand meja Jaejoong. "Memanfaatkan terdengar mengerikan. Kami meminta ijin kepada kepala sekolah untuk bergabung dalam acara amal ini dan... "
Dengan santai Jaejoong meneruskan kata kata pemuda China itu. "... seperti biasa, kalian mengajukan Siwon untuk meminta ijin." sudah Jaejoong duga.
"Sebenarnya kali ini dia sendiri yang mengusulkan ide ini."
"Jangan lupa. Acara seperti inilah yang paling di minati Siwon." tambah Leeteuk. Dan bagaimana Jaejoong bisa lupa.
"Hai Jongie." Lesung pipi Siwon terlihat ketika pemuda yang lebih tinggi darinya itu tersenyum. "Kau masih kurus seperti biasa." Jaejoong memekik seperti gadis saat Siwon mengangkat tubuhnya dan memutar sekali putaran.
"Ya tuhan." Berpura pura pusing, ia memukul dada Siwon. "Jongie tidak kurus!"Dan dengan suara yang lebih tegas ia berkata. "berhenti memperlakukan Jongie seperti Jongie ini gadis manja."
"Ngomong ngomong dimana Changmin?" Jari telunjuk Jaejoong menunjuk Changmin yang entah sejak kapan sudah bersama Kyuhyun, murit Saphire. "Aku tidak melihat dia datang. Dan kenapa dia tidak menyapaku." Seakan tahu sedang di bicarakan, Kyuhyun melambai ke arah Jaejoong.
"Suruh anak buahmu membeli semua barangku." Perintah Jaejoong, Siwon tahu pemuda itu tidak ingin di bantah jadi ia tidak ingin membantah, dan karena inilah mereka datang kemari.
"Mereka bukan anak buahku, dan hanya ini barang barangmu?" Pemuda tampan idola di Saphire Scholl itu mengerjap. "Ya Tuhan, aku semakin yakin jika kau di takdirkan sebagai seorang gadis, kalau tidak kau tidak akan memiliki boneka berwarna pink."
"Itu punya kakak Jongie."
"Putri paman Song?" Jaejoong melupakan rahasia itu, jadi ia mengangguk.
"Berapa semuanya?" Siwon mengeluarkan dompetnya yang terlihat tebal. Sepertinya pemuda itu sudah mempersiapkan banyak persediaan untuk acara ini. "Apakah seratus ribu won cukup?"
Bulu mata lentik Jaejoong yang panjang bergerak gerak cepat. "Cukup, semua untukmu." Ia merebut lembaran yang di sodorkan Siwon secepat kilat. "Terima kasih Siwon. Jongie tidak perlu berpanas panasan di sini untuk melelang semua itu. Dan ini lebih dari cukup untuk membeli semuanya." Dengan gaya rentenir kaya ia menjilat jari telunjuk sebelum menghitung lembar demi lembar.
"Dia seperti wanita, sangat menyukai uang." Hankyung berkata dengan logat korea yang masih kurang fasih.
"Jangan lupa dia penggila pernak pernik dan apapun bernama, cantik." Leeteuk terdiam sejenak. "Tapi aku tidak yakin Jaejoong menyukai gadis cantik."
"Bukan dia tidak suka, tapi para gadis tidak mau tersaingi oleh kecantikan yang di milikki Jaejoong." Changmin meralat. Pemuda itu sudah berdiri di sisi Jaejoong dan menggeleng. "Dasar kucing mata duitan."
Melirik Changmin sadis, Jaejoong berkata. "Jaga dompetmu dari kucing centil yang sebentar lagi akan berubah menjadi kucing garong ini." Ancamnya.
.
.
.
"Kemana kau akan mengajakku pergi, tidak biasanya? Terutama di siang hari." Yunho melempar pertanyaan kepada sahabat terbaiknya, Yoochun. Biasanya pria satu ini hanya akan mengajaknya keluar di malam minggu -yang selalu ia tolak-
"Pakai sabuk pengamanmu pak tua, aku akan ngebut atau kita akan terlambat."
"Terlambat?" Tanpa aba aba Yoochun menginjak pedal gas begitu dalam, sampai Yunho tersentak kebelakang. "Ya Tuhan, tidak perlu seburu buru itu bukan?"
"Perlu." Mobil Yoochun melaju mulus di jalan raya. "Aku harus sampai di sana dan melihat apa yang akan di lakukan keponakan nakalku itu."
"Shim Changmin?" Dialah satu satunya keponakan Yoochun. "Ada apa denganya?"
"Bocah nakal itu mengancamku agar datang ke acara amal di sekolahan, sebenarnya lelang barang barang yang sudah tidak terpakai dan hasilnya akan di sumbangkan."
Mata Yunho berbinar terang. Bukankah itu berarti Jaejoong juga di sana, di mana ada Changmin, di situ ada Jaejoong. mereka bagaikan kopi dan gula. Tunggu, tapi Yunho sendiri lebih suka kopi di tambah gula.
Persetan. Syukurlah ia tidak meolak sahabatnya ini barusan, meskipun ia sibuk di kantor.
Sudah seminggu lebih Yunho tidak bertemu dengan Jaejoong sejak terakhir kali ia mengantar pemuda itu kembali ke kediaman Song.
Syukurlah Mrs. Song sudah tidak marah kepada Jaejoong saat ia mengantar Jaejoong pada ke esokan harinya. Jaejoong tertidur di dalam mobil sampai matahari menunjukan kuasanya. Yunho tidak ingin mengganggu pemuda itu dan membiarkan Jaejoong bangun dengan sendirinya.
Berterima kasihlah kepada ke enam putri Mrs. Song karena menyambut Jaejoong dan Yunho, meyakinkan mereka bahwa semua akan baik baik saja sampai Yunho merasa aman meninggalkan pemuda itu di tangan ke enam gadis gadis keluarga Song.
Jaejoong tidak menghubungi Yunho sejak saat itu, bahkan pemuda manis itu tidak mengangkat telfon saat Yunho berniat mengembalikan dompet Jaejoong. Pemuda itu juga tidak terlihat di Moldir setiap kali ia pergi kesana untuk urusan bisnis -atau itu hanya sekedar alasan yang ia gunakan untuk berkunjung- .
Rasanya Yunho ingin sekali menerobos masuk ke kediaman Song Il Gook untuk bertemu dengan pemuda pujaan hatinya itu, andai saja ia tidak memikirkan konsekuensi yang akan terjadi. Tidak mungkin ia pergi kesana dan mencari Jaejoong, bukan.
Alasan apa yang akan ia katakan kepada Mr. Song dan istrinya. bahwa dia menyukai pemuda yang bekerja di rumahnya, tidak! Ia harus meyakinkan Jaejoong terlebih dahulu, menjadikan pemuda itu milik Yunho seutuhnya baru memberitahu mereka bahwa Kim Jaejoog milik Jung Yunho seorang. Ia sudah tidak sabar untuk hal itu.
Jaejoong menyukainya, Yunho yakin! Pemuda itu membalas ciumanya, napas Jaejoong juga tercekat dan dalam gelapnya malam, ia mampu melihat rona samar di kedua pipi Jaejoong. Sialnya, Jaejoong mendiamkan dirinya sepanjang perjalanan ketika Yunho mengantar pemuda itu pulang pagi harinya.
Ya Tuhan, Yunho merasa dirinya yang sekarang bukanlah Yunho yang semua orang kenal. Dan apakah cinta mampu merubah seseorang seperti ini?
Yunho tidak menyadari ia melamun sampai mobil Yoochun berhenti di parkiran sekolah Shinki.
Selama itukah ia melamun?
"Waow, ramai sekali" Yoochun keluar dengan Yunho mengikutinya. Pria itu terlihat seperti akan melompat untuk secepatnya pergi mencari Jaejoong dan meminta penjelasan kepada pemuda itu.
"Aku akan menelfonmu jika nanti." Berjalan cepat, Yunho menjauh dari Yoochun. Ia tidak ingin membuat sahabatnya itu curiga tentang perasaanya kepada pemuda itu, tanpa Yunho tahu Yoochun memang sudah mencurigainya sejak lama.
"Ya, Dude. Bukankah kau yang mengatakan untuk tidak terburu buru, sekarang kita lihat siapa yang teburu buru." teriak Yoochun.
Keramaian saat memasuki lapangan membuat Yoochun melambankan langkah, Yunho sudah jauh di depan dan dirinya kesusahan untuk menghindari beberapa orang yang mulai mengenalinya. "Permisi, permisi ... ya aku memang artis itu." Memasang senyum mempesonanya, Yoochun tidak memungkiri ia menyukai situasi ini, di mana banyak gadis gadis mengelilingnya.
"Maaf, apakah kalian melihat Shim Changmin?"
Salah seorang gadis menunjuk ke arah tengah lapangan, dimana tenda tenda tinggi dengan panggung kecil sudah di penuhi oleh kerumunan murit dan beberapa orang tua murit.
Yoochun melupakan bahwa acara ini memang di buka secara umum. Tidak heran keponakanya itu memintanya datang, tepatnya mengacamnya untuk datang. Tunggu...
Langkah Yoochun terhenti saat otak pintarnya menangkap sesuatu kelicikan keponakanya itu. Changmin tidak akan melelang salah satu barang yang ia kenakan seperti tahun kemarin bukan, yang tentu saja mendapat harga tinggi karena benda itu milik Park Yoochun, artis papan atas yang terkenal.
Sial. Semoga Tuhan menolongnya, karena ia tidak membawa benda apapun kecuali pakaian yang ia kenakan, bahkan tidak juga kaca mata yang biasanya ia pakai kemanapun ia pergi.
"Samcon."
Yoochun mengerang. Changmin melihat keberadaanya dan memanggilnya melalui pengeras suara di atas panggung.
Di lain sisi changmin bersyukur. Beruntunglah karena pamanya itu artis terkenal karena Changmin dapat mengetahui kedatangan pamanya dengan sangat mudah, dimana pamanya berada disitulah keributan yang di timbulkan oleh paman tampanya. Changmin tertawa bangga.
Matahari sudah berada di atas kepala dan paman datang terlambat dari waktu yang sudah di janjikan. Waktu lelang hanya tersisa tiga puluh menit dan ia tidak bisa melakukan apapun sebelum pamanya itu datang. Tepatnya bukan sang paman yang ia butuhkan, sahabat pamanya yang super duper kaya itulah incaran Changmin kali ini.
Mata bambi Changmin mengamati sekeliling, pemuda itu tidak melihat Mr. Jung di mana mana. Apakah paman datang seorang diri?
Changmin menggeram, padahal ia sudah mengatakan kepada pamanya itu untuk mengajak Yunho ikut serta.
Pucuk di cinta ulampun tiba. Suara yang tidak asing memanggilnya dari bawah panggung.
"Di mana Kim Jaejoong?" Jung Yunho berdiri di sana dengan sangat mempesona. Bagaimana pria itu bisa terlihat sangat mempesona dengan tubuh tinggi dan ketampanan yang membuat Changmin iri, tidak bisakah Mr. Jung muda itu membagi sedikit ketampanan pria itu untuk orang lain, agar Changmin tidak merasa tersaingi.
Hah. Changmin menghela napas. Tidak heran kucing nakal yang bereformasi menjadi kucing garong itu menyukai pak tua ini.
Lihatlah dirinya, Changmin mulai berpikir ngawur. "Dia akan datang sebentar lagi." ujarnya kepada Yunho.
Beralih ke arah kerumunan murit sekolah Saphier, Changmin berteriak keras. "Yah, kucing garong." Jari telunjuknya menunjuk Jaejoong yang duduk manis di bangku stand bersama yang lain. Telunjuk Changmin mengisyaratkan agar pemuda itu untuk mendekat.
"Apa maksud bocah itu? Apa dia pikir aku benar benar kucing yang akan menurutinya hanya dengan jentikan jari." Jaejoong menggerutu.
Sekali lagi teriakan Changmin terdengar lebih keras dan lebih tidak sabar. Mau tak mau Jaejoong balas berteriak. "Yah, dasar kepala udang, suaramu akan meruntuhkan gedung meski tanpa mic itu, jadi jauhkan mic itu dari bibir monyongmu." Seakan tuli, Changmin berteriak berulang kali menggunakan mic memanggil nama Jaejoong. Bahkan dengan nada lagu yang pemuda itu buat sendiri.
Semua menggeram. "Astaga, seluruh gedung benar benar akan roboh jika kau tidak segera menghampirinya Jongie." Ujar Hankyung.
Kaki Jaejoong menghentak keras, hatinya dongkol setengah mati kepada sahabatnya itu.
Changmin menghela napas. "Akhirnya." Ia mendesah lega melihat Jaejoong menuju ke arahnya. "Aku membutuhkan bantuanmu." ujaranya kepada Jaejoong saat pemuda itu menaiki panggung. Ia memperhatikan penambilan Jaejoong dari atas ke bawah. "Kau cukup rapi." Jari telunjuk Changmin mengacak surai poni yang menutupi sebagian mata pemuda itu.
Seluruh kerumunan memusatkan perhatian ke arah panggung untuk mendengar pidato Changmin. "Aku akan melelang sesuatu yang akan membuat kalian tertarik." Ucapan yang di banggakan itu tentu saja menarik perhatian.
"Jika devil bisa lebih tampan, maka Changmin salah satunya. Kau bisa melihat saat bibir pemuda itu terangkat sebelah." Yoochun sudah bergabung bersama Yunho, tidak jauh dari panggung, namun juga tidak terlalu dekat. "Astaga apa yang akan di lakukanya kali ini?"
Yunho sendiri masih berdiri tenang di sana memperhatikan Jaejoong yang belum menyadari kehadiran pria itu. "Acara ini apa boleh melelan seseorang?" Ia bertanya.
"Maksudmu?" sepertinya Yoochun mampu memahami apa yang di pikirkan Yunho. "Astaga, dia tidak akan melakukanya." Yoochun mengumpat. Melihat serigai jahat Changmin ia tahu pemuda itu bisa melakukanya.
Kerumunan semakin bertambah dengan adanya pengumuman itu, mereka penasaran barang apa yang akan di lelang pemuda yang terkenal evil se antero sekolah bersama sahabat pemuda itu yang super duper manis, Kim Jaejoong.
"Terima kasih sudah mau bergabung, pelelangan akan di mulai dengan harga dua puluh ribu won."
Harga yang cukup tinggi untuk sebuah barang.
"Barang apa itu?" Suara seorang murit.
"Kami ingin melihat barangnya Changmin." suara lain bertanya.
Siwon dan kawan kawan sudah berdiri tidak jauh dari panggung.
Melirik sahabat sejatinya, Changmin tersenyum tanpa dosa. "Kim Jaejoong. Aku melelangnya untuk waktu satu hari, dua puluh empat jam. Terserah mau kalian apakan dia."
Keheningan melanda seluruh lapangan. Hanya ada suara semilir angin untuk beberapa saat. Mereka mencoba memahami apa yang di katakan pemuda itu barusan.
"Apakah dia mengatakan Jaejoong?" Bisik bisik mulai terdengar.
"Kim Jaejoong kita?"
"Jaejoong yang imut itu?" suara pemuda lain terdengar.
"Ya." suara lain menjawab sebelum suara teriakan murit murit pecah dan mereka berebut untuk membeli waktu Kim Jaejoong selama sehari.
Kapan lagi mereka bisa berdekatan dengan pemuda penguasa Shiki itu kalau tidak sekarang. Jaejoong selalu bersama Changmin, dan pemuda itu menjauhkan teman teman yang tidak penting seperti kerang menjaga mutiara.
Mulut Jaejoong menganga mendengar apa yang di ucapkan sahabatnya itu. Demi Jiji dan Hiro. Bagaimana mungkin Changmin melelang dirinya tanpa memberitahu Jaejoong terlebih dahulu. "Kau gila." pekiknya. "Kenapa kau tidak meminta persetujuanku terlebih dahulu?"
"Kau tidak akan menolak, aku tahu. Uang itu akan di sumbangkan, dan kau akan di kenang sebagai pahlawan." Changmin membujuk.
"Aku menolak." Jaejoong berkacak pinggang. "Dan bagaimana mungkin kau melelangku dengan harga yang begitu murah." Doe Jaejoong mendelik lebar.
Demi apa, itu tidak membuat Changmin takut sedikitpun. Malah ia tersenyum tanpa dosa dan merangkul bahu Jaejoong.
"Aku yakin kau akan memiliki harga yang jauh lebih mahal." bisiknya.
Yoochun tertawa terbahak bahak mendengar perdebatan kedua sahabat itu. "Astaga, Jaejoong tidak terima ia di hargai dua puluh ribu won."
Memberenggut, Yunho berkata. "Itu tidak lebih mahal dari harga dasiku."
Yoochun terdiam melihat mata pria itu merah dengan rahang terkatup rapat, Yunho marah. "Ayolah Dude, apa yang membuatmu... "Yoochun terdiam. "Ya Tuhan, jika kau menginginkanya tinggal ajukan harga."
"Seratus ribu won." seseorang telah menawar harga tinggi. Semua mata tertuju ke arah Choi Seung Hyun.
Jaejoong mendelik horor. Ia berbisik kepada Changmin. "Apa yang akan di lakukanya jika membeliku." Ia ngeri membayangkan. "Menjadikanku sasak tinju? Karena aku dan dia sama sama mengejar She Hyung? Atau mengurungku di ruang helap, tanpa makan minum dan... " Jaejoong bergidik ngeri.
"Menurutmu apa yang akan dia lakukan pemuda itu jika berhasil membeli Jaejoong?" Yoochun berbisik. Itu hanya membuat amarah Yunho semakin menjadi.
"Satu juta won." teriak Yunho.
Keheningan kembali melanda. Tidak ada yang bersuara atau bernafas. Semua mata manatap Yunho dengan terkejut. Satu juta won harga yang cukup tinggi.
Di lain pihak, Changmin bersorak girang. "Kau lihat, satu juta won." pemuda itu menggeleng. "Aku heran kenapa aku tidak melelangmu tahun lalu. Kau merupakan aset berharga kau tahu." Itu bukan pujian karena Jaejoong terlihat akan mencekiknya saat itu juga.
Benar saja, Jaejoong merangkul pemuda itu dan mengeratkan lenganya di leher Changmin tanpa belas kasih. "Kau sialan... " Jaejoong merutuk, mengumpat tidak jelas.
Di antara cekikan yang Jaejoong lakukan, Changmin berhasil berkata. "Lelang di menangkan oleh Jung Yunho."
-TBC-
Sumpah aku ngakak nulis ini.
Entah menurut kalian gimana.
Typo bertebaran.
Seperti biasa menerima kritik saran yang membangun, asalkan masih berhubungan dengan ff Sherry.
Terima kasih yang sudah ngasih tahu kesalahan typo dan memberi masukan ~Bow~
