Desclaimer : Masashi Kishimoto
Arigatou buat yang uda nyemoetin review :
#Fujoshi Girl : salam kenal balik :-D sasodei? Nggg…nggak tau yak XD tapi ntar kalo kebanyakan figuran capek juga hwehehe dan soal itachi…hohoho rahasia dong XD #dibunuh. Btw, makasih read reviewnya…
#Guest : hehew makasih banyak XD kayak permen aja thx for read n review :-D
Makasih juga buat yang uda nyempetin log in :
Calico Neko, , Arisu Amano, tsunayoshi yuzuru, Vianycka Hime, melmichaelis, kkhukhukhukhudattebayo, and ReDevil10. Makasih banyak read reviewnya :-D
.
.
.
Chapter 9 : Decision
.
.
.
"A-apa? Memangnya siapa yang merindukanmu? Aku Cuma menelfon karena aku bilang aku akan mengembalikan uangmu!"
Dan si rambut blonde itu tampak cengengesan saat mengamati cowok bersurai orange gelap itu sedang blushing sendiri saat berbicara di telefon.
"Aku bilang aku tetap akan mengembalikan uangmu!" cowok bersurai orange gelap itu masih bersikeras. "Kapan aku bisa menemuimu?"
Si pirang itu secara diam-diam mendekati si surai orange.
"Su-sudah kubilang aku bukannya ingin bertemu denganmu! Aku Cuma ingin—ah, sudahlah!" si surai orange menutup telfon masih dengan wajah blushingnya, dan tiba-tiba…
"HWAAA…!"
"GYYAAAAAAAAA…"
Si surai orange gelap langsung melompat kaget saat si pirang mengejutkannya.
"Na-ru-to!" geramnya pada si surai pirang.
"Hahahahahaha e cie cie yang telfon telfonan sama Itachi-nii. Ternyata Kyuubi-nii sudah jadian ya…makan-makan dong…" goda Naruto yang seketika membuat Kyuubi blushing.
"Si-siapa yang jadian! Berisik kau Naruto, pergi sana," Kyuubi mendorong punggung Naruto keluar dari kamarnya. "Daripada mengurusiku, urusi saja pacarmu si Sasuke itu, bweee…" dan Kyuubi menutup pintu di depan Naruto.
"A-apa? Sasuke bukan…Aaaaarrgghhh…" Naruto mengacak rambutnya sendiri lalu kembali ke kamarnya. Ia duduk di meja belajarnya, menatap plan book club antigay di hadapannya. Entah mengapa matanya memancarkan sedikit keraguan. Tengah termenung, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara dering ponselnya.
"Hallo…" Naruto mengangkat telefonnya.
"Dobe, tadi kepala sekolah menelfonku," sambut suara dari ujung telefon.
"Sa-Sasuke-teme? Hng…terus?"
"Besok kita disuruh menemui beliau di kantornya."
"Oh, oke Teme. Terimakasih infonya."
Ia menutup telfon, tapi lalu menatap ke layar ponselnya cukup lama, dimana ada fotonya bersama member club antigay yang tentunya Sasuke juga ada di foto itu.
"Sasuke…" lirih Naruto. Mungkin ini yang membuat Naruto mulai resah, mungkin ia mulai menyukai Sasuke, tapi dia adalah leader club antigay, bagaimana bisa ia malah berubah gay? Tapi…kalau melihat Kyuubi tadi, sepertinya hubungannya dengan Itachi sudah semakin dekat, dan harus Naruto akui, dia juga ingin hubungannya dengan Sasuke semakin dekat.
"Aaaarrggghhh…apaan sih!" kesal Naruto pada diri sendiri. "Guh, aku akan mencari udara segar di luar," Naruto menyambar jaketnya dan bergegas ke ruang keluarga, meminta izin pada orang tuanya untuk pergi keluar. Malam memang belum larut, matahari belum terlalu lama kembali ke peraduannya, jadi orang tua Naruto mengijinkan Naruto pergi sendirian.
Naruto melangkahkan kakinya ke convenient store, berniat membeli minuman sebelum duduk entah dimana nanti untuk melamun. Hingga saat ia mau mengambil minuman kaleng, seseorang hendak mengambil minuman yang sama. Naruto langsung menoleh sengit, berhubung minuman itu tinggal satu-satunya. Tapi deathglare nya lenyap saat melihat siapa orang itu.
"Sa—suke…?"
"Dobe," ucap Sasuke dan mengambil minuman itu saat Naruto lengah.
"Arrghh…kau curang Teme, aku mau mengambilnya duluan," Naruto mengejar Sasuke yang berjalan ke arah kasir.
"Dan aku yang mendapatkannya duluan," Sasuke tak mau mengalah dan segera membayarnya ke kasir.
"Argh…Teme!" Naruto mengikuti langkah Sasuke keluar toko, dan berpapasan dengan Itachi. Mereka langsung berhenti, begitu juga Itachi.
"Ooke," dan entah berpikir apa, Itachi menyerahkan sebuah kunci pada Sasuke. "Aku tiba-tiba ada urusan mendadak yang entah apa aku pun tak tahu. Dan kalau kau butuh kamar hotel, itu kuncinya. Aku akan keluar, tenang saja," ucapnya dan langsung pergi.
"Itachi-nii!" kesal Sasuke yang mengerti maksud aniki-nya. Dia memang bersama Naruto, tapi itu kan kebetulan, bukan berarti mereka sedang kencan atau apa!
~OooooOooooO~
Naruto dan Sasuke duduk di bangku taman dalam diam. Sasuke menenggak minumannya, sementara Naruto yang dengan bodohnya tidak membeli minuman lain karena minuman pilihannya direbut Sasuke, hanya bisa merengut kesal.
"Jadi…sedang apa kau disini?" Naruto akhirnya membuka suara. Dia memang paling tidak tahan dengan kesunyian. Berkebalikan dengan Sasuke.
"Menemani aniki kerja," jawab Sasuke.
"Jadi…menginap di hotel sekitar sini?"
Sasuke mengangguk, dan entah kenapa Naruto merasa Sasuke sempat meliriknya dengan tatapan…mes—…err, mungkin itu Cuma perasaannya. Tapi kalau benar iya?
Blush…
Tiba-tiba saja Naruto memerah karena pikirannya sendiri.
"Kau kenapa Dobe?" heran Sasuke.
"Ti-tidak apa-apa. Aku Cuma masih kesal kau merebut minumanku," Naruto mengalihkan pembicaraan.
Sasuke mendesah malas, lalu menyodorkan minuman kalengnya ke hadapan Naruto. Dan Naruto malah diam saja memandangi kaleng itu. Tunggu, kalau dia meminumnya, bukankah sama saja dengan ci-ci-ciuman…tidak langsung…?
Gluk!
Naruto menelan ludah berat. Perlahan, ia mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar untuk meraih kaleng minuman itu dan…
Seet!
Sasuke menarik kembali kaleng itu dari hadapan Naruto.
"Kalau tidak mau ya sudah," dengus Sasuke.
"A-apa? A-aku mau kok, sini minumannya," Naruto merebut kaleng itu dari tangan Sasuke, tapi Sasuke mengelak.
"Penawaranku sudah habis," Sasuke menenggak minumannya, tapi Naruto merebut kaleng itu. Alhasil, Sasuke tersedak dan sebagian minumannya membasahi baju Sasuke.
"Dobe!" kesal Sasuke.
"Huh, habis salahmu sih. Kan aku sudah bilang mau minumannya, kan jadi indirect ki—…" Dan Naruto sontak menghentikan ucapannya. Apa? Apa yang mau dia ucapkan!
"Bu-bu-bu-bukan seperti yang perkirakan," Naruto salah tingkah sendiri sambil menyilang-nyilangkan tangannya di depan dada. Tapi ia terbelalak saat tiba-tiba Sasuke menarik tangannya, mendekatkan jarak di antara mereka dan menciumnya, tepat di bibir. Tidak terlalu lama, tapi cukup untuk membuat mata Naruto masih membola meski ciumannya sudah terlepas.
Sasuke menatap Naruto yang diam saja.
"Maaf," ucapnya seraya memalingkan wajah. Dan Naruto bisa menangkap ekspresi kekecewaan di wajah Sasuke. Tapi kenapa?
Ia ingin tahu…
"Sa-Sasuke…"
Ia harus menanyakannya…
"Sasuke…Sasu—…"
Dan kata-kata yang sudah di ujung lidahnya batal ia ucapkan saat sosok raven itu berdiri.
"Mumpung belum terlalu malam, bagaimana kalau jalan-jalan sebentar," ucapnya lalu melangkah pergi.
Naruto hanya bisa menatap sayu, lalu tersenyum kecil.
"Iya, ayo jalan-jalan, aku punya tempat bagus untuk bersenang-senang," ucapnya seriang mungkin.
"Hn…" gumam Sasuke.
"Bagaimana kalau ke game center? Kemarin ada yang baru buka, masih ada diskon loh…"
"Hn…"
"Yosh, ayo pergi!" semangat Naruto yang seenaknya mengartikan 'hn' Sasuke sebagai iya.
~OooooOooooO~
"Hyaaaww…ayo ayo…" Naruto bersemangat memainkan game nya. Battle Game dengan Sasuke. Meski terlihat bersemangat, pikiran Naruto melayang ke arah lain. Ia memikirkan ciuman Sasuke tadi, Sasuke seolah menciumnya tanpa ragu.
Naruto Cuma berpikir…apakah Sasuke pernah mempertimbangkan hal yang sama?
Mereka sama-sama berada di club anti-gay, lalu jika mereka sendiri yang malah berubah menjadi gay…? Apa mereka harus rela mengibarkan bendera putih dan mengatakan menyerah pada club gay? Lalu bagaimana dengan anggota lain yang sungguh-sungguh mengikuti club itu? Atau dengan para gadis yang masuk club anti-gay demi mendapatkan Sasuke, apa mereka akan kecewa kalau ternyata pujaan hati mereka malah berubah menjadi gay?
Begitu banyak pertimbangan yang memenuhi otak Naruto. Tapi jika melihat tadi, bukankah Sasuke seolah tanpa keraguan? Apa Sasuke sudah memutuskan untuk membuang segala pertimbangan yang Naruto pikirkan tadi? Atau malah dari awal Sasuke memang tak pernah ragu dan tak pernah mempertimbangkan apa yang akan dilakukannya?
"Aaaarrgghh…" Naruto mengerang kecewa saat ia kalah dalam game itu. "Kau curang Teme! Kau pasti pakai cara licik ya?" tuduh Naruto.
"Hn, kau saja yang terlalu bodoh," sahut Sasuke sekenanya.
"Apa?! Tapi aku sudah jago dengan game ini. Kau kan baru pertama mencobanya!"
"Aku juga sudah biasa main game, Dobe!"
"Tapi kan bukan game ini!" Naruto menggembungkan pipinya kesal.
"Hn."
"Ah, sudahlah. Aku tidak mau main lagi," Naruto ngambek dan segera meninggalkan game center itu dengan Sasuke mengekor tepat di belakangnya.
"Ne~ ne~ Sasuke, kita main kemana lagi nih?" sepertinya mood Naruto sudah membaik lagi.
"Kau yakin belum mau pulang?" Sasuke malah balik tanya.
Naruto menatap jam digital di ponselnya. Rupannya sudah pukul 11.08 p.m.
"Hah? Sudah semalam ini? Ugh…tapi aku belum mau pulang. Di rumah malas…" celoteh Naruto.
"Mau ke taman Yabuuki?" tawar Sasuke.
Dengan senyum lebar, Naruto langsung mengangguk mengiyakan. Taman Yabuuki adalah taman yang selalu ramai, begitu banyak orang jalan-jalan, dan tentu saja banyak stand makanan dan permainan di sana sini. Tempat itu juga dimanfaatkan oleh para pasangan kekasih untuk berkencan. Sasuke memang tidak suka keramaian, tapi sepertinya Naruto suka, jadi dia mengikuti kemauan pemuda bersurai pirang itu.
"Sasuke Sasuke, aku lapar. Traktir takoyaki dong," celoteh Naruto seraya menarik-narik baju Sasuke.
"Hn."
"Itung-itung sebagai ganti rugi kau mengambil minumanku," alasan Naruto dan langsung memesan lima porsi takoyaki. Mereka lalu duduk di salah satu bangku taman di bawah pohon. Tak jauh dari mereka, ada stand ramen yang cukup ramai.
"Tumben tidak pesan ramen," ucap Sasuke.
"Lagi nggak pengin makan berat, Teme. Nyam…" Naruto memakan takoyaki nya tanpa menawari Sasuke. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan seseorang yang ia kenal. "Loh, itu Itachi-nii kan?" ucapnya seraya menunjuk dengan tusuk takoyaki.
Sasuke mengikuti arah tatapan Naruto dan melihat aniki-nya yang tampak mengobrol dengan seseorang. Tapi orang itu tertutup kerumunan sehingga Naruto tak bisa melihatnya.
"Bersama dengan sia—…" dan ucapan Naruto terhenti saat kerumunan itu bergeser dan menampakkan orang yang bersama Itachi. "Sai?" kejutnya.
Itachi dan Sai tampak mengobrol dengan akrab, dan bahkan terliat Itachi menyuapkan cotton candy pada Sai, dan dengan jahilnya, Sai terlihat meminta Itachi untuk menggigit ujung sebelahnya. Dan yang membuat Naruto tercengang adalah Itachi yang melakukan apa permintaan Sai, namun saat wajah mereka sudah dekat, Itachi langsung menarik wajahnya.
"…" Naruto tersenyum tipis melihat itu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah harapan semoga Kyuubi tidak melihat ini. "Itachi-nii itu selalu baik sama semua orang ya…" lirih Naruto.
"Yeah," jawab Sasuke. "Terlalu baik."
Naruto melanjutkan makannya dalam diam sampai seseorang memanggil namanya.
"Naruto."
Naruto menoleh dan mendapati Kyuubi menghampirinya.
"Kyuu-nii? Sedang apa disini?" tanya Naruto.
"Mencarimu. Tou-san mu khawatir karena ini sudah malam, ternyata malah sedang kencan. Pantas saja," goda Kyuubi.
"Be-berisik! Kami Cuma kebetulan bertemu," bela Naruto dengan wajah memerah.
Kyuubi hanya tersenyum simpul lalu menatap Sasuke.
"Dia tidak bersamaku kalau kau tanya," ucap Sasuke, merujuk pada Itachi.
"Yeah, aku tahu," jawab Kyuubi pahit. "Aku sangat tahu."
Dan saat itu Naruto sadar kalau Kyuubi mungkin saja malah sudah melihat Itachi dan Sai.
"Jadi, kau mau pulang sekarang atau tidak?" tanya Kyuubi.
"Ng…aku masih ingin main," jujur Naruto.
"Terserah saja, nanti kusampaikan pada Tou-san mu kalau kau bersama Sasuke. Kurasa dia tidak akan khawatir."
Jawaban Kyuubi cukup membuat Naruto yakin kalau Kyuubi sudah melihat Itachi dan Sai. Hell, Kyuubi yang biasa mana mungkin menurut begitu saja? Setidaknya dia pasti akan membantah dan mencoba menyeret Naruto pulang.
Dan saat Kyuubi baru mau melangkah menjauh, mimpi buruk Naruto terjadi.
"Hei, Kyuu? Dan Sasuke dan Naruto juga," ucap Itachi seraya menghampiri mereka, bersama Sai tentunya. "Tak kusangka kalian disini juga."
"Y-yeah…" Naruto mencoba bersikap santai. "Kau bersama Sai, Itachi-nii?"
"Yeah, kami tadi kebetulan bertemu," senyum Itachi seperti biasa. Ia lalu menatap Kyuubi yang masih membelakangi mereka karena tadi bersiap untuk pergi. "Oi, Kyuu, kau kenapa?"
"Tidak apa-apa. Tadinya aku mau menjemput Naruto, tapi sepertinya dia belum mau pulang," jawab Kyuubi, masih tidak mau membalikkan tubuhnya.
"Hng, kebetulan karena kita sudah berkumpul, bagaimana kalau ke café untuk minum dulu?" tawar Itachi bersemangat.
Kyuubi jelas diam saja, Sai tersenyum seperti biasa, lalu Sasuke tampak menggeram kesal dan Naruto sendirian yang berusaha bersikap normal. Padahal biasanya dialah yang paling tidak normal di antara mereka.
"A-ahaha…boleh juga, aku mau. Kau gimana Teme?" ucap Naruto.
Sasuke tak menjawab, sibuk menatap aniki-nya tajam.
"Aku setuju saja," tambah Sai.
"Baguslah, kalau begi—…"
"Aku pas. Kalian pergi berempat saja," Kyuubi memotong ucapan Itachi lalu melangkah, tapi lalu terhenti saat dirasakannya tangan Itachi merangkul pundaknya.
"Ayolah Kyuu, kan jarang-jarang bisa begini. Sudah berapa lama sejak kita pergi bersama-sama?" rayu Itachi.
Kyuubi hanya bisa terdiam, tertunduk dengan wajah sedikit memerah. Di jarak sedekat itu ia bisa mencium aroma tubuh Itachi, dan ia tak pernah tak menyukainya.
"Ya ya ya?" rayu Itachi lagi yang masih tanpa jawaban dari Kyuubi. "Baiklah, ayo pergi," ia memutuskan dan melangkah pergi dengan Kyuubi tetap berada di pelukannya.
Naruto melirik Sasuke takut-takut, pasalnya, saat ini Sasuke tengah menatap aniki-nya dengan tatapan membunuh. Tapi entah kenapa, Naruto lebih merinding lagi saat melihat ekspresi Sai. Tanpa ekspresi memang, tapi itulah yang membuat Naruto semakin bergidik.
"Ano, Itachi-san," ucap Sai dan segera menyamakan langkah dengan Itachi. "Aku tahu café yang bagus," dan dengan terang-terangan, Sai menggandeng tangan Itachi yang satu lagi, lalu menariknya menjauh sehingga pelukannya pada Kyuubi terlepas.
"Ne ne~ Sasuke," Naruto berbisik pada Sasuke. "Apa kau yakin ini akan berjalan de—…" gulp! Dan Naruto batal meneruskan ucapannya saat melihat aura membunuh makin menguar dari tubuh Sasuke.
~OoooOoooO~
Mereka baru saja memesan minuman mereka setelah duduk di salah satu meja kosong. Lalu dengan tak banyak bicara, Sasuke menyeret aniki-nya ke toilet. Dan bukannya mau mengintip atau menguping, Naruto juga pergi ke toilet karena dia memang harus memenuhi panggilan alamnya. Dan karena mendengar pembicaraan Sasuke dan Itachi, Naruto tidak jadi ke toilet dan berhenti di depan pintu, mencuri dengar sekaligus mengintip.
"Baiklah, kau ini sedang pura-pura bodoh atau apa?" ucap Sasuke sedikit kasar.
"Apa maksudmu?" tanya Itachi santai.
"Jangan pura-pura. Tentu saja soal Kyuubi dan Sai!"
"Ha? Memangnya mereka kenapa?"
Sasuke tampak melotot tak suka.
"Hei, ayolah? Memang apa yang salah? Aku Cuma mengajak kalian hang out. Bukannya seru kalau ramai?"
"Kau tidak peduli pada perasaan mereka?"
"Tentu saja aku peduli."
Dan jawaban cepat Itachi membuat Sasuke bungkam.
"Karena aku peduli, makannya aku memperlakukan mereka dengan perlakuan yang sama," tambah Itachi dengan wajah serius.
"Kau…" geram Sasuke. Tapi sebelum Sasuke menambahkan ocehannya, Itachi sudah memotongnya duluan.
"Daripada itu, kenapa kau tidak menceritakan padaku tentang Naruto. Kau sudah jadi menembaknya?"
Deg!
Mau tak mau Naruto merona mendengar ucapan Itachi.
Sasuke bungkam. Mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu tapi batal.
"Jadi kau belum mengatakannya?" tanya Itachi.
"Belum menemukan waktu yang tepat," jawab Sasuke pada akhirnya. Dan jawaban Sasuke itu sudah cukup bukti bagi Naruto kalau Sasuke memang akan menyatakan perasaan padanya. Dan bukannya senang, Naruto malah merasa ragu. Alhasil, dia meninggalkan tempat itu, tak ingin mendengar kelanjutan obrolan mereka.
.
.
.
"Kalian lama sekali," komentar Sai saat Sasuke dan Itachi kembali ke meja. Itachi hanya tersenyum, Sasuke tak menjawab, hanya celingukan.
"Mana Naruto?" tanya Sasuke.
Kyuubi mengangkat bahunya.
"Katanya ke toilet," jawab Sai.
Sasuke mengerutkan dahi. Ia tadi tak melihat Naruto di toilet. Berniat mencari, tapi Naruto muncul sedetik kemudian dengan cengirannya yang biasa.
"Hehe maaf, tadi aku salah masuk toilet, jadinya berputar-putar nyari toilet yang benar," cengirnya lalu duduk.
"Dasar super bodoh," celoteh Sasuke.
"Berisik kau Teme!" Naruto menggembungkan pipinya kesal, tapi lalu tersenyum lebar kembali saat pesanan mereka datang. Naruto langsung menngambil minumannya bahkan sebelum pelayan itu meletakkannya di meja, ia lalu meminumnya dengan rakus.
Sasuke hanya memperhatikan Naruto dalam diam.
Manis…
Kata itulah yang melintas di benak Sasuke. Ia lalu melirik beranda café. Sepertinya tempat yang bagus untuk melihat pemandangan malam.
"Dobe," panggil Sasuke. "Mau ke beranda?"
Deg!
Hati Naruto berdesir tak nyaman. Sasuke pasti ingin menembaknya. Lalu, dia harus bagaimana? Naruto bersiap menolak, tapi…
"Yeah, kelihatannya memang bagus," komentar Itachi. Sudah pasti ia mendorong Naruto untuk pergi bersama Sasuke. Naruto hanya bisa mengangguk, lalu menuju beranda café bersama Sasuke.
"Iya, pemandangannya indah ya…" ucap Naruto, sebisa mungkin mengalihkan perhatian.
"Dobe," panggil Sasuke lagi, ia berdiri sedekat mungkin dengan Naruto. "Soal—…"
"Eh, Teme, menurutmu Itachi-nii itu suka pada Saia tau Kyuubi-nii ya?" lagi, Naruto mengalihkan perhatian. Ia membalikkan badannya dan menatap ke mejanya tadi dimana Sai tampak mengobrol dengan Itachi, sementara Kyuubi hanya diam saja dengan muka kesal.
"Mana kutahu, bukan urusanku," jawab Sasuke. Ia sudah hampir berucap lagi saat Naruto mengerang melihat Kyuubi meninggalkan café dengan langkah lebar.
"Argh, apa yang terjadi," Naruto bergegas kembali ke meja, menghampiri Itachi yang tengah menyambar jaketnya, bersiap mengejar Kyuubi. "Itachi-nii, Kyuu-nii kenapa?"
"Entahlah, mungkin aku salah bicara?" Itachi melangkah pergi, tapi lalu berhenti sejenak. "Ah, Sasuke, nanti kau antar Naruto pulang ya. Aku yang akan antar Kyuu," ucapnya lalu melanjutkan langkah.
Naruto terdiam sesaat, lalu menatap Sai yang masih duduk santai disana.
"Apa yang terjadi?" tanya Naruto.
"Tidak terjadi apa-apa," senyum Sai seperti biasa. Ia lalu bangkit. "Aku duluan," pamitnya lalu meninggalkan Naruto dan Sasuke.
"Geez, sebenarnya mereka kenapa sih," dengus Naruto.
"Entahlah," Sasuke menatap jam tangannya, sudah pukul 01.56 a.m. ternyata, waku berjalan dengan cepat. "Dobe, ayo kuantar pulang."
Naruto mengangguk. Mereka berdua lalu berjalan keluar café, udara sudah berubah dingin.
"Brrr…dingin…" Naruto menggigil, dan detik itu juga, jaket Sasuke sudah mendarat di mukanya. "Temeee, apaan sih," omel Naruto.
"Berterimakasihlah padaku," ucap Sasuke.
"Puh," manyun Naruto, tapi lalu memakai jaket Sasuke.
"Hey Dobe, bisa bicara sebentar?" tanya Sasuke saat mereka melewati sebuah taman yang sudah pasti sepi karena sudah menjelang fajar.
"Ng…ka-katakan saja Teme," jawab Naruto.
"Sebaiknya jangan disini," Sasuke lalu menarik Naruto ke taman itu, membawanya ke salah satu bangku taman, tapi Naruto menolak.
"Ka-katakan saja Teme, kenapa harus kesini sih? Kau kan tahu aku takut ha-hantu…" Naruto berusaha mencari alasan, dan ia sama sekali tak mau menatap Sasuke.
"Perasaanku saja atau kau memang menghindari berduan denganku?"
Deg!
Naruto bungkam.
"Jadi kau sudah tahu apa yang mau kukatakan huh?"
"A-apa maksudmu Teme…" Naruto masih tak menatap Sasuke.
Grr…
Piss off. Sasuke langsung menarik lengan Naruto dan menciumnya dengan ganas.
"Sasu—mmmmpphh…agh, apa yang mnnn—hh…" Naruto memberontak sia-sia. Apalagi saat Sasuke meraih belakang kepalanya untuk memperdalam ciuman, yang membuat Naruto akhirnya pasrah dan menerima ciuman itu. Cukup lama, hingga Sasuke melepaskan ciuman mereka.
Naruto terengah dengan sisa saliva di bibirnya, wajahnya bersemu.
"Sasuke—…kau…kau apa-apaan…?"
"Apa kau masih perlu bertanya Dobe? Sudah jelas kan, aku mencintaimu! Dan aku ingin menjalin hubungan lebih denganmu!" tegas Sasuke.
"Makanya aku tanya kau apa-apaan!" Naruto membentak.
Apa kau sama sekali tak memikirkan posisi kita di club anti-gay?
"Kau nggak ngerti apa-apa, Sasuke!"
Apa kau nggak memikirkan perasaan orang lain terhadapmu?
"Kau Cuma memikirkan perasaanmu sendiri!"
Padahal aku mati-matian memikirkannya…
"Jangan memutuskan seenakmu sendiri!"
Padahal aku bersusah payah membendung perasaanku, aku bersusah payah untuk memutuskan menyukaimu atau tidak demi club ini. Kenapa—…
"Kenapa…hiks…kau dengan mudahnya…memutuskan…Teme…!"
Pertahananku runtuh, dan hal terakhir yang kuketahui adalah aku menyandarkan kepalaku ke dadamu, seolah menimpakan semua beban yang kurasa di dada itu, dan aku mencengkeramnya erat. Tapi kau—…
"Dobe…"
…—kau malah memelukku erat—…
~OoooOoooO~
Naruto tak bisa tidur hingga pagi, saat matahari mulai menampakkan sinarnya, ia masih membuka mata di atas ranjangnya, mengingat kata-kata Sasuke semalam.
"Aku bukannya seenaknya memutuskan, hanya saja…well, anggap saja aku memang egois karena memikirkan perasaanku sendiri. Dan si egois inilah yang mencintaimu. Dan saat aku menyadari itu, keputusanku langsung bulat dan tak memikirkan apapun lagi…"
…—aku mencintaimu. Sangat—…
Naruto bangkit dari ranjangnya, lalu segera mandi dan berangkat ke sekolah, berjalan dalam diam di bawah matahari pagi. Tatapannya yang sayu kini berubah tegas, lalu ia tersenyum dan ia mulai berlari menuju sekolah. Ia berlari secepat yang ia bisa, hingga langkahnya terhenti saat melihat sosok raven itu tengah menunggunya di gerbang sekolah, Sasuke.
Sasuke berdiri menghadap Naruto, demikian juga Naruto. Dan Naruto tersenyum puas.
"Aku sudah memutuskan…" ucapnya bangga. "Aku mencintaimu…dan aku akan bersikap egois tehadap semuanya…"
Sasuke tersenyum tipis sebagai jawabannya, sementara Naruto tersenyum lima jari seperti biasanya.
"Yeah, by the way, aku menunggumu disini bukan karena itu—toh aku sudah menduga jawabanmu akan seperti ini—kita dipanggil kepala sekolah, kau ingat?" ucap Sasuke.
"Argh, Teme! Kau merusak moment bagusnya," manyun Naruto seraya menghentak-hentakkan kakinya.
"Tch! Urusai Dobe. Ayo cepat!" Sasuke melangkahkan kakinya, Naruto mengekor sambil terus menggerutu.
"Ada apa, Sarutobi-sama?" tanya Naruto begitu mereka berhadapan dengan kepala sekolah.
"Ah, kalian dari club antigay ya? Baguslah kalian datang, aku mau mengatakan hal yang penting," ucap kepala sekolah bersemangat.
Saling tatap sejenak, Sasuke dan Naruto kembali mendengarkan.
"Club kalian berjalan dengan baik, dan tampaknya banyak sekolah lain yang terpengaruh dan membentuk club mereka sendiri di sekolah masing-masing," ucap sang kepala sekolah, "bahkan pemerintah daerah ini memuji club kalian sebagai contoh yang baik dan solusi untuk mengurangi jumlah pasangan sejenis yang kian lama kian banyak saja."
Deg!
Entah kenapa perasaan Naruto merasa tidak enak.
"Jadi begitulah, club kalian akan mendapatkan banyak dana untuk melanjutkan kegiatan. Dan tentu saja, kalian harus terus menjaga supaya di club kalian jangan sampai ada yang menjadi pasangan sesama jenis hahahaha," canda kepala sekolah yang sama sekali tak terdengar lucu di telinga Naruto.
Kenapa—…kenapa tepat di saat Naruto telah memutuskan untuk—…?
.
.
.
~ To be continue ~
