Previous Chapter :
"Ini siapa?" Wanita tersebut bertanya pelan, meminta penjelasan.
"Istriku."
Mendengar jawaban tenang dari Gaara, ia terperangah. "Astaga, kenapa kau tidak bilang? Aku jadi tidak enak."
Seakan tidak mendengar, Gaara malah menarik tubuh si pirang yang diikat ponytail agar segera masuk tanpa banyak bicara. "Itu tidak penting, lagipula apa urusannya?"
Setelah mendapat hadiah kecil dari Gaara—yang berupa tabrakan kecil di bahuku saat ia memasuki rumah—dengan sendirinya pandanganku terlempar ke lantai, kedua rahangku yang dari awal sudah tertutup semakin saling menekan.
Kukepalkan kedua tanganku erat-erat lalu menghela nafas berat.
Aku tidak merasa cemburu.
Oh, demi apapun... aku pernah cemburu, dan aku sangat yakin ini sama sekali bukan perasaan sulit tersebut
Hanya saja... ini sedikit menyerupai rasa sesak.
Entahlah.
.
.
Naru's POV
Setelah menghela nafas berat, aku menutup pintu sekalian menguncinya. Dan bukannya langsung ke kamar atau kembali membantu Shizune, aku malah terdiam di tempat. Melamunkan hal yang tidak seharusnya kupikirkan.
Tanganku yang masih di kenop pintu turun dengan gerak berat. Kepalaku tertunduk sampai melihat kakiku yang dialasi sendal rumah berwarna putih.
Kupejamkan mata rapat-rapat, lalu menelan ludah—menelan semua perasaan berat yang sedang kurasakan.
Aku mendongak dan berbalik agar bisa berjalan ke kamar. Rasanya ada sesuatu di dalam diriku yang memerintah untuk tidur cepat.
Setelah di depan kamar, aku sedikit berhati-hati, berharap Gaara tidak memakai kamarku bersama wanita itu. Tapi untunglah, aku segera tau dimana Gaara membawanya karena ada suara seseorang yang menjelaskan.
"Umhh... Ga-Gaara..."
Desahan tadi membuatku sedikit berjengit. Sambil menggigit bibir aku melirik ke asal suara. Lalu sebelum ada bunyi-bunyi aneh yang menyusul, aku segera masuk ke kamar dan menutup pintu. Mungkin ini aneh, tapi aku benar-benar tidak ingin tau apa yang sedang mereka lakukan.
Setidaknya aku sudah cukup senang karena mereka tidak menggunakan kamar yang sering kupakai. Tanpa banyak bicara cepat-cepat kuhempaskan diri ke kasur dan membenamkan wajah ke bantal.
Kalau kalian tanya kenapa aku seperti ini...
Jawabannya... aku sendiri tidak tau.
.
.
.
MISTAKES
Naruto is Masashi Kishimoto's | GaaFemNaru | Fanfiction-net
Genre : Angst, Drama, Tragedy, Romance {?} | Warning : AU, OOC, Typos, Gender Bender, Mature Themes, etc. | A/N : Sebenernya file chap ini sempet ngilang di laptop. Karena kesel aku diemin berminggu-minggu. Untung masih ada mood ngetik ulang ;) | Jika ada kesamaan ide mohon dimaklumi.
[Di sini Gaara ngga punya lingkar mata dan Naru kulitnya jadi putih—bukan tan]
- Naru (16 th) Gaara (21 th)-
MATURE CONTENT—YOU HAVE BEEN WARNED!
.
.
Mistakes no IX. Tantangan
.
.
Di saat aku sudah terlelap di alam mimpi, berjam-jam terlewat begitu saja. Dan semakin lama, aku semakin merasakan tubuhku ringan, seperti sedang tertidur di suatu ruangan yang amat sangat menentramkan.
Mendadak ada tangan seseorang yang menyentuh bahuku, mengguncang pelan agar aku tersadar. Tapi saat aku membuka kelopak mata, hanya suasana gelap yang terlihat. Persis seperti kamar tanpa penerangan di tengah malam.
Apa karena mataku yang belum terbuka atau saking gelapnya ruangan ini?
"Naru..."
Sontak kutepis tangan tersebut lalu mengeliat mundur. Aku kaget. Suara anak perempuan yang tadi muncul begitu tiba-tiba. Wajahnya memang tidak terlalu tampak di kegelapan, tapi dapat kuyakini bahwa dia adalah anak kecil—kuketahui dari ukuran telapak tangannya yang sempat menyentuhku.
Disana ia tidak mendekat dan juga tidak menjauh. Ia terdiam.
"K-Kau... siapa?" Tanyaku waspada.
"Aku?" Terdengar ciri suara tawa yang khas. "Apa Gaara tidak pernah membicarakanku?"
Aku berpikir sebentar, berusaha mencerna kalimatnya. Lalu sesudah beberapa detik kemudian, aku terbelalak. Aku tau siapa dia!
"Kau—!?"
"Ah... kau sudah mengingatku?"
Dia...
Orang yang Gaara cintai...
"Ya, aku tau..." Kutelan paksa ludahku untuk melanjutkan kalimat. "Kau mau apa? Lagipula... sekarang aku ada di mana?"
"Kamu tau ruangan ini kok." Ia mulai berjalan mendekatiku yang sedang menunduk. Namun, aku tidak lagi menghindar.
Dapat kurasakan tangan mungilnya membelai pipiku, lalu ia berbisik. "Dan aku ke sini hanya ingin membantumu."
Aku membeku di tempat.
"Tapi, untuk sebelumnya... aku mau minta tolong."
"A-Apa?" Tanyaku tidak sabar.
"Tolong buat Gaara jangan selingkuh."
Brukh!
Kudorong tubuhnya kencang-kencang sampai ada suara seseorang terjatuh di lantai. Ia meringis pelan, tapi tidak mengeluh ataupun membalasku dengan bentakan kasar.
"Kenapa kau menyuruhku seperti itu!" Emosi yang meluap membiarkanku berteriak. "Aku lebih memilih Gaara yang sekarang dibandingkan Gaara yang dulu! Dia memang selingkuh! Tapi tidak apa! Malah aku merasa senang dia tidak lagi menyentuhku! Dan kau ingin membuat Gaara tidak selingkuh untuk kembali menyiksaku, hah!"
Tidak ada suara yang kembali keluar dari bibir anak itu. Tidak kaget, sedih ataupun marah. Hanya terdengar helaan nafas berat.
"Bila kau melakukannya, aku yakin kau akan mendapatkan cahaya di kehidupanmu yang suram ini..." Katanya sambil mencoba bangkit, dia tepuk pakaiannya yang terkena debu di lantai. "Tapi aku tidak tau hal itu berlaku tetap atau sementara—"
"BOHONG!" Aku jadi ingin menangis mendengar harapan palsunya. Mataku memberat dan akhirnya menjatuhkan tetesan air mata saat aku kembali tertunduk. "Se-Seandainya kau masih hidup... a-aku tidak akan mungkin ikut campur kehidupan Gaara..."
"Ya, memang 'seandainya', kan?" Ia tertawa getir, tapi dengan seketika menggantinya ke ceria. "Tapi kalau aku ada di posisimu, aku akan mencintai Gaara."
"DIAM!" Kututup kuping serapat-rapatnya. Air mataku terus mengalir.
Aku? Mencintai Gaara? Jangan bercanda!
"Kau tidak tau apa yang kurasakan!"
"Jangan salah." Suara serius tadi terucap. "Aku tau semuanya."
Hening.
"Dengar, ini kalimatku yang terakhir. Kumohon dengan sangat, buatlah Gaara tidak selingkuh. Aku yakin kau akan bahagia nantinya. Aku janji."
Terdengar suara langkah yang berjalan menjauh, menyisakan isakanku yang masih terdengar memenuhi ruangan.
"A-Apa maksudmu!?" Aku yang terkejut langsung berdiri, mengulurkan tangan panjang-panjang, tidak ingin orang itu pergi begitu saja. "Tunggu! Hei! Jangan pergi!"
Langkah kaki diakhiri dengan decitan pintu yang terbuka. Sinar yang ikut terlihat dari luar memang sangat menyilaukan, tapi berkat itu aku dapat melihatnya.
Orang yang disayangi Gaara adalah... seorang gadis kecil bermata sapphire dengan rambut pirang sepinggang yang dibuat terurai.
Sebelum aku dapat mendeskripkan lebih lama, pintu tertutup. Mengembalikanku sendiri di kegelapan.
. . .
Sontak, mataku terbuka. Kurasakan peluh memenuhi tubuhku yang terbalut pakaian saat tidur. Dengan nafas tersenggal aku mencoba bangkit dan menghapus tumpukan keringat yang sudah menimbun.
kusisihkan poni ke belakang sekaligus menjambak helaian rambut kencang-kecang seperti orang frustasi. Aku bimbang—sangat amat bimbang. Apalagi setelah kalimat yang terdengar dari mimpi barusan kini terbayang-bayang di otakku.
.
Kumohon dengan sangat, buatlah Gaara tidak selingkuh. Aku yakin kau akan bahagia nantinya. Aku janji."
.
Ya, khusus di kalimat itu.
Apakah kata-kata 'dia' bisa dipercaya...?
Sebenarnya aku tidak mau.
Tapi, ia membuatku menginginkan satu hal.
Aku... juga ingin bahagia.
.
.
: mistakes | sanpacchi :
.
.
Normal POV
Sewaktu angin malam berhembus, Shizune menatap cemas Naru yang memakai mantel tebalnya. Ia memegang erat-erat tangan si penyandang marga Sabaku yang hendak berjalan menuju mobil Gaara di parkiran depan rumah.
"Naru-sama, lebih baik Anda jangan melakukan ini. Saya takut Gaara-sama akan marah..."
"Tidak apa-apa, Shizune-san. Aku bersumpah tidak akan kabur, aku hanya ingin ikut Gaara ke suatu tempat..."
Shizune masih tidak percaya. Ia tetap menggeleng dan terus menahan Naru agar tidak ke mana-mana. "Demi apapun, Gaara-sama akan marah besar bila Anda kabur. Dan saya tidak bisa membayangkan hukuman buruk apalagi yang akan anda terima..."
Naru tersenyum pahit. Walaupun ada di pihak Gaara, Shizune sangat peduli padanya.
"Jadi, kumohon... jangan berbuat yang aneh-aneh..."
"Aku tau." Sudah jelas Naru tau apa yang akan dilakukan Gaara padanya kalau ia kabur. "Dan Aku berjanji padamu untuk tidak kabur."
Ia mengajak kelingking Shizune bertautan dan mencoba tersenyum. "Pinky swear!"
"Shizune..." Panggilan mendadak yang terdengar dari dalam rumah membuat Shizune tersentak dan melepaskan tangan mereka. Dengan gelagapan Naru langsung berlari ke belakang mobil merah milik Gaara, bersembunyi agar tidak ketahuan.
Setelah Shizune berbalik, ia langsung dikagetkan oleh sesosok pria berambut merah marun yang sudah berjalan mendekat padanya. "A-Ada apa, Gaara-sama?" Tanyanya takut-takut.
"Seperti biasa, aku akan pulang larut." Tanpa wajah curiga Gaara berjalan melewati Shizune, menuju ke mobil sambil menekan tombol buka di kunci otomatisnya. Tapi setelah mesin mobil berbunyi, secara mendadak pria berambut merah itu berbalik. "Ck, dompet."
Ketika Gaara memasuki rumah, cepat-cepat Naru membuka pintu belakang yang sudah tidak terkunci dan bersembunyi di sana tanpa meninggalkan jejak yang mencolok.
"Di mana Naru?" Lagi-lagi Shizune harus dikagetkan oleh Gaara yang muncul mendadak bersama dompet di tangannya. Tapi kali ini ia tidak bisa menyembunyikan gemetar serta keterkejutan ketika mencerna isi pertanyaan tadi.
"Sa-Saya kurang yakin, namun sepertinya ia masih tertidur di kamar." Di dalam hati Shizune hanya bisa memohon pada Tuhan agar Gaara belum memeriksa kamar Naru yang sebenarnya kosong melompong.
Terdengar gumaman pelan tanda Gaara percaya dan dilanjutkan oleh ia yang memasuki mobil. Saat roda berputar pelan, Shizune hanya menghela nafas pasrah.
Tapi, sewaktu Gaara sedang menyetir di tengah jalan. Jade-nya sedikit melirik ke kaca untuk melihat bangku bagian paling belakang. Lalu tanpa disadari oleh 'seseorang di sana', ia menyeringai.
'Lihat saja kalau kau sampai mau kabur, Naru...' Batinnya sembari menginjak gas sampai melewati batas aman di speedometer.
.
.
: mistakes | sanpacchi :
.
.
Sudah hampir setengah jam setelah Gaara mematikan mesin mobil dan keluar—yang ternyata dugaanya benar bahwa pria itu ke klub malam. Dan di saat itulah Naru muncul dari persembunyiannya. Pertama ia melihat lingkungan dari jendela, apakah ada Gaara di sekitar atau tidak.
Ketika ia rasa aman, Naru keluar dari mobil. Namun sebelum menutup pintu, ia lepaskan dulu mantel yang dipakai dan dia lemparkan ke jok paling belakang. Kini, bersama tubuh indahnya yang hanya terbalut pakaian minim menggoda, dia lenggangkan kakinya memasuki ke tempat yang ia kira Gaara berada.
Tapi, tanpa ia sadari pria bermata jade mendengus geli. Ternyata ia masih menyender pada salah satu sisi mobil seseorang yang letaknya hanya beberapa rangkap dari letak mobilnya diparkirkan. Bibir yang sudah terselip rokok itu hanya menyeringai. Ia buang abu serta putungnya lalu mulai berjalan mengikuti Naru dari belakang.
. . .
Saat Naru menginjakan kakinya ke dalam, ia ingat persis beberapa kejadian bulan lalu yang pernah terjadi padanya. Di mana ia mengikuti Gaara—yang dulu masih ia puja-puja—ke sini, dan juga kehadiran dua orang mengerikan sampai akhirnya Gaara lah sosok pahlawan yang datang menyelamatkannya.
Tapi di hari itu pula ia mendapatkan masa depan yang seperti sekarang.
Naru benci tempat ini. Tapi karena Gaara sudah sangat jarang meluangkan waktu di rumah, ia harus melakukan rencana 'permohonan' tersebut di luar rumah.
Cepat-cepat ia kembali fokus ke sekitar, memperhatikan setiap wajah yang ada untuk menemukan Gaara—masih belum tau kalau orang yang ia cari malah sudah membuntutinya.
Ia menerobos ke kerumunan orang yang ada di dance floor. Tempat orang menari dengan segila-gilanya, tapi ia tidak masuk ke sana untuk ikut menikmati lagu yang menghentak. Di saat pencarian, yang ia temukan di tengah lautan manusia itu malah sepasang manik ungu dari kejauhan. Naru terkesiap. Itu Hidan, pria yang dulu pernah memaksanya. Sambil berlari tak kenal arah ia tubruk semua orang yang menghalangi, berusaha menghindar.
Brukh!
Tapi sewaktu merasakan telah menabrak sesuatu sampai dirinya sendiri oleng, ia berhenti.
"Hei! Kau punya mata tidak sih!?"
Awalnya, ia kira orang yang barusan ia tabrak adalah wanita, karena dari suaranya yang menjelaskan. Tapi, ia malah menemukan dada bidang seorang pria berambut oranye dengan wajah penuh tindikan. Saat ia melirik ke sisi kanannya, Naru melihat wanita berambut biru. Mungkin yang sempat membentaknya tadi adalah pacar orang tersebut.
Sewaktu permintaan maaf dari Naru akan terlontar, bibir pria itu sudah bergerak, membentuk suatu kalimat yang membuatnya terpaku.
"Kau harus melihat ini—"
Dia memberi jeda sebentar, mengizinkan wanita yang ada didekapannya melemparkan tatapan ke sebelah. Ketika ia ikuti pandangan tadi, Naru terbelalak.
"—Itachi."
Mata onyx serta wajah orang yang hampir menyerupai mantan kekasihnya, Sasuke, terpampang jelas di depan.
"Kau..." Tubuhnya yang mungil bergetar ketakutan. "I-Itachi-nii..." Saat ia menyebut nama orang itu, kakinya otomatis bergerak mundur.
Itachi—yang ternyata ada di sebelah mereka—membagi senyuman sinisnya. "Ternyata kau masih berani menyebut namaku, hn?"
"Bu-Bukan maksudku..."
Brakh!
Dicengramnya bahu Naru lalu ia tabrakan ke meja bar sampai pinggangnya terasa nyeri. "Tidak kusangka akan menemukan bocah sialan sepertimu di sini."
Wajah angkuh Itachi semakin mendekat, terlihat sangat mengerikan. "Kau pikir kau itu siapa? Apa kau senang telah membunuh Sasuke yang dulu pernah menolongmu?"
Naru mati kutu. Matanya selalu memanas kalau Itachi sudah mengungkit-ungkit masa lalunya bersama Sasuke yang tidak pernah ingin ia ingat kembali.
"Sudahlah, jadikan dia 'makanan penutup' untuk kita." Pria dengan wajah penuh tindikan itu menyeringai penuh arti.
Cepat-cepat Naru melangkah ke samping, berniat menghindar dan memperjauh jarak. "D-Di sini aku mencari seseorang... jadi..."
"Siapa? Orang yang telah membayar tubuhmu?" Itachi mendengus meremehkan. Naru menelan ludah. Sungguh, ia tidak suka cara pandangan juga nada bicara yang ia keluarkan padanya, tapi mau bagaimana lagi.
Itachi membencinya. Ya, ia pun sudah tau dari dulu, sejak ia mengenal keluarga Uchiha.
Tapi klimaksnya sudah pasti karena kematian Sasuke. Entahlah dia diceritakan apa oleh orang-orang. Yang pasti dia menjadikan Naru sebagai pihak yang paling wajib disalahkan.
Tidak kuat akan topik permasalahan yang dibahas, tanpa aba-aba Naru mendorong tubuh kakak dari Sasuke itu sampai tercipta ruang untuknya menjauh. Untung Itachi tidak mengejar.
Ia biarkan dirinya kembali berlari. Terus begitu sampai tidak peduli sudah berapa luka yang diciptakan karena memakai sepatu hak tinggi. Namun, sebelum benar-benar keluar, seseorang memeluk tubuhnya dan menyeret Naru menyingkir dari kerumunan.
"Mau apa kau ke sini?"
Naru nyaris lupa akan kemampuan bernafas saat ia mendapati mata Gaara ketika mendongak. Ternyata posisinya dengan pria itu sudah sampai sedekat ini, dan hebatnya lagi, ia baru menyadarinya.
"..."
Si pemilik mata yang berkaca-kaca itu hanya terdiam. Jantungnya masih berdetak tak menentu, akibat rasa panik yang tadi mengenainya. Naru memang datang ke sini untuk menemui Gaara, orang yang kini ada di hadapannya. Tapi, setelah kejadian barusan... entahlah, ia malah ingin segera pulang dan tertidur di rumah.
"Tolong jangan memelukku seperti ini..." Ia sedikit meronta, tapi Gaara tidak melepaskan. Malahan pria itu menarik pinggang Naru sampai bahu mungilnya mendempet ke dada Gaara yang berlapis kemeja hitam.
Dia tundukan kepalanya untuk mencium tulang hidung Naru sekaligus berbisik. "Kau ingin mencoba 'melakukannya' di luar, eh?"
Serentak niat awal Naru kembali terngiang di benaknya. Benar, kalau ia langsung membatalkan rencana yang sudah ia buat, untuk apa ia sampai repot-repot mengikuti Gaara?
Naru yang tidak menjawab hanya pertemukan pandangan mereka, dan kemudian tangannya meraih kain kemeja Gaara untuk diremas pelan.
Tak ada lagi yang bersuara. Tidak Gaara dan tidak Naru. Mereka hanya saling berpandangan serta membagi nafas yang saling terhembus menerpa wajah mereka masing-masing.
Posisi mereka sangat dekat, nyaris bersentuhan. Menyadari sudah sangat lama saling membagi tatapan di pojok ruangan remang seperti ini, arah mata Naru mulai turun sedikit, menjelajahi lekuk wajah Gaara. Pertama hidung lalu berhenti di bibirnya.
Apa harus dia yang melakukan ini?
Remasan di kemeja Gaara kian mengencang, ditandai dari kusutan yang semakin banyak tercipta. Ia kembalikan pandangannya ke manik hijau disana dan berbisik lirih. "Gaara..."
Ia berjinjit, menyentuh bibir Gaara dengan kepunyaannya. Sekilas, tapi cukup membuat si jantung berdebar kencang—karena inilah momen pertamanya mencium Gaara tanpa dipaksa.
Saat ia sudah melepaskan sentuhan, sekarang giliran Gaara yang menunduk dan kembali mencium bibir Naru yang merah merekah.
Tubuh Naru bergetar, matanya terpejam. Ia tidak tau harus melakukan apa untuk selanjutnya. Apa karena ciuman Gaara yang tengah menutut bibirnya terbuka ataupun tangannya yang kini mulai menyusup ke balik rok yang ia kenakan.
Tapi, kali ini bukannya menolak seperti biasa, Naru malah mengadahkan wajah, lalu membuka mulut untuk merespon ciuman. Apalagi tangan halus itu sudah merangkak naik ke pipi Gaara.
Gaara sedikit membuka mata, lumayan heran dengan kelakuan berbeda darinya. Tapi ia memejamkan lagi bersamaan dengan gerak tangan kanannya yang menekan tengkuk Naru agar ciuman mereka semakin dalam.
Naru tidak tau kenapa, tapi saat lidah mereka bersentuhan, saling menarik dan menghisap satu sama lain, ia benar-benar lemas. Di latari suara dentuman musik yang memekakan telinga, ciuman terasa semakin panas. Kecapan demi kecapan terdengar, semakin menyulitkannya untuk bernafas.
Saat akan kehabisan udara, Gaara pun memundurkan wajah, memperlihatkan sekitar bibirnya yang mengkilap akibat pergulatan lidah mereka. Dan dari detik ini Naru baru sadar, kita akan lebih cepat kehabisan nafas bila melawan—karena sudah pasti nafas kita terbuang percuma untuk jeritan.
"Sana pulang." Sebelum Naru akan mengeluarkan sepatah kata, dia sudah terlebih dahulu membalikan badan dan mulai berjalan meninggalkannya.
Si pirang menelan ludah, mengikuti Gaara—yang saat ini sedang berjalan menjauhi kerumunan—dari belakang. "Tidak..."
"Apa kau tidak tau anak kecil sepertimu tidak boleh ke sini?"
Merasa punggungnya terus menjauh seakan menghindar, langsung ia raih kemeja hitamnya agar Gaara terhenti. "Aku mencarimu..."
Bersama dengusan kasar ia tepis tangan Naru yang mencengkram kemejanya sampai terlepas. "Mencariku? Kau bisa melihatku nanti di rumah."
"Kumohon, Gaara..." Lirihan Naru begitu memelas. Dan karena Gaara sudah memasuki tempat yang lebih dalam—menyerupai tempat karaoke, Naru berusaha membalap langkah pria itu dan memegang kedua tangannya sampai Gaara berhenti sempurna.
Ia remas tangan Gaara yang ada di genggamannya dan memohon dengan sungguh. "Jangan selingkuh. Aku me-mencintaimu..."
Untuk kalimat terakhir, arti di dalam kalimat tadi membuat Gaara mengernyitkan kening. Jujur saja, ia cukup kaget mendengar hal tersebut bisa terlontar dari bibir seorang Sabaku Naru.
"Kau mencintaiku?" Tawa sinis keluar dari sela bibirnya. "Orang yang membunuh kekasihmu, memerkosamu dan menyiksamu ini?" Wajahnya mendekat, tidak lupa kedua tangan besarnya yang sudah menangkup kedua sisi pipi Naru.
Lalu saat hidung mereka saling bersentuhan, seperti dugaan Naru, Gaara berdesis. "Dasar murahan."
Walaupun ia sudah tau, rasanya dua kata tadi benar-benar menusuknya.
Bahu Naru bergetar hebat, tidak ada tangis serta isakan yang bisa ia tahan lagi. Kini semuanya pecah. Begitu pula harga dirinya.
Menahan air mata yang sudah tak terbendungi, akhirnya ia menunduk, menghapus sedikit air mata yang yang mengalir dan kembali mengadah. "Aku memang murahan!"
Ia mencengkram kemeja bagian depan milik Gaara. "Aku menyukai sentuhan darimu! Dan aku... aku menginginkannya lagi!"
'Asal ini menjanjikan kebahagiaanku...'
'Aku rela merendahkan diri...'
Gaara terdiam. Matanya masih lurus menatap ke raut wajah yang ditampilkan gadis itu. Wajah Naru memerah, butiran bening pun terus jatuh dari bola mata sapphire-nya.
Ia melepaskan tangan Naru, lalu berjalan memasuki ruangan karaoke kosong dan duduk di sofa paling ujung. Naru tampak keras kepala, ia ikuti Gaara memasuki ruangan tadi. Dan setelah pintu ruangan tertutup sendiri, dipandanginya Gaara yang ada di sana.
Awalnya Naru kira Gaara akan merespon kalimatnya. Tapi pria itu malah mengambil seputung rokok dan ia nyalakan dengan api. Seolah-olah kalimat sulit yang sempat dikeluarkannya adalah sesuatu yang tidak berarti.
"Gaara, kembali padaku..." Naru yang sekarang sudah terisak mengepalkan tangannya erat-erat. "Kumohon..."
"Kalau aku tidak mau?" Ia menyeringai. "Seperti yang kau tau, sekarang aku sudah punya penggantimu."
Iris jade dan sapphire itu bertemu.
"Kalau begitu... sentuh aku, dan tinggalkan dia. Aku lebih bisa memuaskanmu."
Gaara mendengus geli, tanda ia meremehkan. "Kalau kau sendiri yang meminta seperti tadi..." Di sela jeda yang diberikan, ia hisap kembali putung rokok dan membuang asapnya perlahan. Tidak lupa sebuah tatapan menantang yang Gaara berikan padanya. "Layani aku. Buat aku puas dengan tubuh 'murahanmu' itu, Naru."
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Sansan's Note :
Pertama, aku minta maaf dulu ya pas aku salah posting di chap 8 kemaren :P Awalnya aku udah posting tuh chap 8, tapi pas mau ngedit, eh malah replace chapter ke chapter 1. Dan hebatnya tanpa cek, aku langsung bobo dan sadar-sadar pas jam 3 pagi.
Eh, pada ngerti kan kenapa Naru kayak gitu? Nih ya, dia pengen Gaara ngga selingkuh (kayak harapan yang dikasih si anak kecil itu loh). Soalnya kalo dia berhasil, ia bakal dijaminin kebahagiaan :D (Readers : Kebahagiaan apa? :/) Wah, mana aku tau haha.
Btw, chap ini ngga ada lemon lohh! :p
.
.
Super Thanks to :
uchihyuu nagisa, J0e, SakuraNomiya, Moeko, Yakuza, Takeru, Vipris, Malas Login, miaw cham, midnight strawberry, Ai Zero Ryuu males login, No n4m3, icha22madhen, Yue Hearthphilia, Vii no Kitsune, yellow-crown, Ruru aika, kyu's neli-chan, naru3, Senju Koori, SkyLiz gwen, Widy Kakitaka, Hittsugaya Ananda Elric, Yuuki - Chan, Aizuki Amakusa, Cha.KACHA, nolgede, Park Minnie, Yashina Uzumaki, Nay Hatake, Nara Hikari, Chicken Ryuu, himawari jasmien 17, fuku-yuki-shiro, DUMBASS CRAZY, devil aye's.
.
.
Frequently Asked Questions :
Endingnya sad aja. Di sini bisa sad dan bisa happy loh. Tergantung mood dan reviewer haha. Cewek yang dibawa Gaara di chap 8 tuh Ino, ya? Iya, tapi lupa dikenalin pas chap kemaren. Jangan buat Naru kesiksa. Beberapa chap ini sampe ke depan udah ngga kok. Di spoiler chap 8, yang ngomong "Sentuh aku, dan tinggalkan dia." Itu bukan Naru, kan? Wah, sayangnya itu Naru beneran. Bukannya tipe-nya Gaara itu kayak Naru? Iya, dari awal Gaara juga nyadar kok. Naru udah suka Gaara? Hmhmhm. Cewek yang disukain Gaara tuh Shion, ya? Oke, kita masukin Shion ke nominasi. Kapan ya ngeliat wajah panik Gaara yang disebabkan Naru? Tunggu aja. Di chap 8 banyak yang ku skip. Sama, aku aja pas nulis & baca ulang juga di skip-skip haha. Apa di sini Sakura dan Kyuubi bakalan muncul? Sakura emang ngga bakal muncul. Kyuubi? Kyuubi tuh siapa? *bayangin monster rubah muncul* Ini mau sampai berapa chap? 20 pas :) Gaara selingkuh buat ngelindungin Naru atau ngebuat Naru makin sakit hati lagi? Silahkan tebak sendiri. Semoga pas ending Gaara udah tobat. Apa, yaa... Gaara belom pernah liat muka cewek masa kecilnya kan? Iya, belom pernah. Dari mana Sansan dapet ide saat buat violence di fict ini? Eng... dari mana ya? Ntar kupikir-pikir lagi deh. Kok di summary tulisannya udah chap 9 pas aku buka masih chap 8. Hahaha itu tandanya aku lagi edit, dan bentar lagi bakal dipublish :p Sansan umurnya berapa? Berapa ya... #ngitung jari.Jujur, aku paling ngeri kalo ditanya beginian. Pokoknya masih di bawah 20 tahun deh =))
.
.
Next Chapter :
"Hanya segitu kemampuanmu memuaskanku, eh?"
"Kau sangat bergairah ya?"
"Hnhh... a-aku masih bisa..."
.
.
I'll pleased if you enter your comment
Mind to Review?
.
.
SANSANKYU
