"Karena aku mencintaimu," ucapan Akashi lembut penuh cinta kasih. Kise juga dapat merasakan kehangatan didalamnya.

Manik madunya melebar. Ia tak nyaman dengan atmosfir ini. Tiba-tiba berubah drastis. Telapak tangan yang ada di puncak kepalanya turun membelai pipinya.

Manik dwi warna itu menatap dirinya lekat. Sensasi yang aneh. Mata itu seolah dapat menghisap dirinya kedalam kegelapan tak berujung.

Akashicchi...

Tanpa ia sadari, jarak diantara mereka begitu dekat. Hembusan napas Akashi menyapu wajahnya. Gerakannya terhenti ketika jarak wajah mereka tak lebih dari satu inchi.

"Tapi itu cerita lama," Akashi memundurkan wajahnya, kembali ke jarak semula. Dia tersenyum geli melihat ekspresi si pirang.

Ia menyentil kening Kise. Si pirang mengaduh kesakitan. Perlahan suasana kembali normal.

"Aku memang mencintaimu, tapi aku tau tempatku. Aku tidak bisa memilikimu. Kita dua makhluk yang berbeda," Akashi memandang keluar jendela. Sorot matanya menerawang ke masa lalu.

"Tapi mau bagaimana lagi... cinta itu memang buta."

.

.

.

.

.

BLOOD OF INNOCENCE

Chapter 9: Spirited Away

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Story and Cover © Murrue Mioria

Rating: M

Genre: Romance, Supernatural, Fantasy, Horor, Suspense (mix)

WARNING! AU, OOC, Boyxboy, Shounen-ai, yaoi, Typo, kaku, gak jelas, terlalu banyak percakapan

Don't like, don't read!

Pairing: Mainly Aokise, Haikise, NashKise, slight allxkise, pairing lain mungkin akan ditambah

.

.

.

.

.

Nijimura sampai di rumah sekitar pukul dua dini hari. Wajahnya kusut. Bibirnya terus menyerocos penuh kesal.

Kata Shirogane-san, pertemuan itu tidak memakan waktu lama. Namun kenyataannya...? Ia sampai pulang larut begini. Untung dia libur. Fyuh...

Tapi bagai manapun juga, ia tidak menyesal. Nijimura jadi tau kenyataan yang sebenarnya. Ternyata ada makhluk lain menyerupai manusia yang hidup berdampingan dengan manusia itu sendiri. Makhluk itu ada yang baik dan jahat. Adapula yang hidup terikat dan bebas. Tim divisi khusus menyebutnya...

"Demon," ucap Shirogane-san saat itu. Wajahnya begitu serius hingga menciptakan suasana tegang diantara mereka yang ada di ruangan itu.

Mengingat hal tersebut, Nijimura jadi merinding. Hal yang tidak boleh diremehkan—menurut firasatnya.

Ia berjalan menuju pintu depan dan menemukan Shougo tengah duduk di depan pintu. Wajahnya kelihatan mengantuk, namun matanya tetap berusaha terbuka. Pemuda itu mendongak memandangnya.

"Shougo, sedang apa kau disini? Kenapa tidak masuk? Kau kehilangan kuncimu?" Tanya Nijimura.

Haizaki menggeleng pelan. Kepalanya ditundukan, tidak berani melihat si kakak angkat. Agak mencurigakan. Sepertinya ada hal yang disembunyikannya.

"Mana Ryouta?" tanyanya kemudian.

Haizaki diam.

"Sikapmu aneh, Shougo," Nijimura kemudian terdiam. Masih memandangi adiknya curiga. Lalu ia tersentak. Jangan-jangan...

"Jangan-jangan ini soal Ryouta..."

"Aku sudah berusaha!" Haizaki berteriak frustasi.

"Apa yang terjadi?! Shougo!"

Haizaki mendongak. Wajahnya begitu lelah. Entah sudah berapa lama pemuda itu duduk di sini.

"Seseorang membawanya pergi dengan mobil saat aku datang untuk menjemputnya," jelas pemuda bersurai abu-abu itu.

"Aku berusaha mengejar, tapi tidak sanggup. Tidak ada yang tau kemana perginya dan siapa yang membawanya. Manajernya pun tidak tau apapun. Aku kehilangan jejak," tambahnya. Nadanya frustasi dan seperti ingin menangis. Ini pertama kalinya bagi Nijimura melihat adik angkatnya begitu putus asa.

"Shougo—"

RRRR...

Ponsel Haizaki bergetar. Nama Akashi tertera di layar. Cepat-cepat ia mengangkat telepon masuk tersebut.

"Akashi—"

"Aku sudah menemukannya," ucap Akashi di sebrang sana. Suaranya tenang dan kalem. "Kami sedang dalam perjalanan menuju rumahmu. Jangan khawatir, Ryouta baik-baik saja..." jeda sebentar lalu kembali melanjutkan dengan volume lebih kecil, "Sepertinya."

Haizaki merasakan adanya keragu-raguan di balik kata terakhir itu. Sangat langka sekali Akashi ragu begini.

"Aku mau biacara dengan Ryouta!"

"Ryouta sedang tidur sekarang. Dia kelelahan. Kau bisa bicara dengannya nanti."

Nijimura yang sedari tadi berdiri disana, langsung merebut ponsel itu. "Akashi..."

"Oh, Nijimura-san," sahut Akashi santai.

"Ryouta baik-baik saja kan?"

"Ya." Jawaban yang sangat singkat. Lalu telepon ditutup.

"Ah— Eeehh?! APAAN INI?! TELEPONNYAA DITUTUP! NGGAK SOPAN!" Nijimura mencak-mencak. Ponsel diremas kuat-kuat sampai remuk.

"Nii-san! Itu ponselku!" Haizaki langsung merebut ponselnya. "Kalau mau meres sampai remuk, peras saja ponselmu sendiri!" Haizaki pun masuk kedalam.

.

.

.

Tiga puluh menit kemudian, Akashi tiba bersama Kise di belakangnya.

Si model pirang itu berjalan agak sempoyongan. Wajahnya sangat mengantuk. Namun, begitu dirinya melihat sahabat kecilnya membukakan pintu, matanya terbuka lebar.

Dengan cepat ia berlari ke arahnya dan memeluknya erat, "Shougo-kun!"

Haizaki mencoba menyeimbangkan diri—terlalu kaget dengan terjangan si pirang. Tangannya memeluk balik tubuh ramping si model. Tubuhnya gemetar hebat ketakutan. Tak perlu bertanya apakah Ryouta baik-baik saja, sudah pasti jawabannya adalah tidak.

"Siapa yang telah membawamu pergi, Ryouta? Katakan padaku," Haizaki memelukna erat, membenamkan wajahnya di perpotongan leher si pirang. Jelas, ia merasakan aura Kise sangat berbeda dari biasanya.

"Pakaianmu? Kau pakai baju siapa?" tanya Nijimura ketika menyadari si pirang memakai baju olahraga yang kekecilan.

"Soal itu, aku yang akan menjelaskannya," Akashi angkat bicara sebelum Kise menjawab. "Bisa kita bicara sebentar, Nijimura-san?"

"O-oh... kalau begitu kita akan bicara di dalam." Nijimura melirik adiknya, "Shougo, antar Ryouta ke kamarnya."

Haizaki mengangguk lalu menggiring Kise—yang mulai menangis—menuju kamarnya.

"Ini buruk," Akashi kembali membuka suara setelah memastikan Haizaki dan Kise sudah tidak terlihat.

Nijimura menoleh, "Apa maksudmu?"

"Ryouta sudah terikat dengannya."

"Terikat?" Nijimura masih agak bingung.

"Dengan orang itu. Sex," Akashi mngepalkan tangannya erat. Mencoba menahan amarahnya yang mulai membeludak.

"APA?! KURANG AJAR!" Nijimura menarik kerah baju pemuda bersurai merah itu. "Beritahu aku siapa dia?!"

"Aku ingin kau tenang dulu, Nijimura-san." Akashi melepas cengkraman pria raven itu dari kerah bajunya. "Namanya Nash Gold Jr. Mungkin kau mengenalnya jika sering menonton tv atau membaca koran dan majalah."

"Ya aku tau. Dia sangat terkenal," ucap Nijimura.

"Dia adalah pria bertopi hitam yang mengejar Ryouta dan dia bukan manusia," jelas si surai merah.

Mata Nijimura melebar, "Dia demon?!"

"Kau tau demon? Tidak banyak orang yang tau tentang hal itu."

"Aku sendiri baru tau itu setelah dipindahkan ke divisi khusus kepolisian."

"Ah, begitu rupanya..." Akashi mengangguk paham.

Mereka terdiam sejenak.

"Kau... juga demon kan?" tanya Nijimura ragu.

Selama sepersekian detik manik dwi warna Akashi menyala, lalu kembali normal. Nijimura berkedip-kedip mungkin tadi cuma perasaannya saja. "Ya. Tapi tenang saja, aku berbeda. Aku adalah demon yang terikat sebuah kontrak," Jelas Akashi.

"Kontrak?"

"Sebenarnya sudah sejauh mana kau mengenal demon?" tanya Akashi.

"Hanya dasar."

"Kalau begitu, aku akan menjelaskan."

.

.

.

Kise tidak mau melepaskan genggamannya dari lengan Haizaki. Ia masih ketakutan. Walaupun sudah ada dirumah, ia masih merasa tak aman.

Telinganya penuh dengan suara bisikan-bisikan aneh. Ada banyak suara. Kise tidak tau apa yang dikatakan bisikan itu. Tidak jelas dan sangat berisik. Membuat kepalanya pening.

"Ryouta, kau baik-baik saja?" Haizaki mendudukannya di tempat tidur.
"Ada suara... sangat berisik..." Kise terisak sambil menutup kedua telinga.

"Aku akan menetralisirnya," Haizaki menutup telinga si pirang. Dari tangannya itu mengalir energi positif dan memperbaiki aura Kise yang tadinya sempat meredup.

Suara bisikan itu perlahan lenyap dan tergantikan dengan kehangatan dan kenyamanan. Kelopak mata Kise membuka dan memandang manik silver milik Haizaki.

"Sudah merasa lebih baik?" tanya Haizaki perhatian. Kise mengangguk. Ia kemudian melepas tangannya dari telinga si pirang.

"Sebaiknya kau mandi dan ganti baju," suruhnya.

"Aku ingin bertemu Aominecchi..."

"Kau bisa bertemu dengannya besok, sebaiknya—"

"Orang itu sudah menyentuhku!" Kise kembali menangis. Ia membuka baju olahraganya, memperlihatkan tubuh putih mulus miliknya yang terselimuti oleh beberapa bekas cumbuan kemerahan.

Haizaki bungkam. Ia menahan amukannya. Berani sekali orang itu menyentuh tubuh polos milik Ryouta. Tidak bisa dimaafkan!

"Apa saja yang dia lakukan padamu?!"

Awalnya Kise tak berani, namun akhirnya ia menjawab, "Dia... sex..." Kise menangis. "Aku bahkan masih merasakan cairan miliknya berada di dalam diriku..."

"Ryouta..." Haizaki memeluknya erat. "Maafkan aku... Aku terlambat... Maaf..."

Mereka berpelukan hingga tangisan si pirang mereda. Jauh dilubuk hatinya, Haizaki merasa gagal. Ia gagal melindungi sahabatnya ini. Seharusnya ia datang lebih cepat. Dengan begitu, hal ini tidak akan pernah terjadi.

"Jangan salahkan dirimu. Kau sudah berusaha, Shougo-kun," Kise tersenyum lembut lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Haizaki.

"Ryouta..." Haizaki mengepalkan tangannya.

.

.

.

Usai mandi dan berganti pakaian, Kise menceritakan apa yang terjadi malam itu. Bagaimana ia bisa kabur dari Nash. Juga pertemuannya dengan Takao.

"Dia membunuh Ogiwaracchi dan memakan jantungnya," Cerita Kise sambil mengingat kejadian. "Shougo-kun, kau kenal dia kan? Asisten fotografer yang pernah kukenalkan dulu, Ogiwara Shigehiro."

"Ogiwara? Hmm... mungkin aku lupa," Haizaki mencoba mengingat. Tidak biasanya ia lupa nama dan wajah orang.

"Mou! Bagaimana kau bisa lupa?! Padahal kalian sangat dekat!" Kise membuka ponselnya, mencoba mencari kontak Ogiwara untuk menunjukan foto kontak Ogiwara pada si pemuda berambut abu-abu tersebut. "Ogiwara... Ogiwara... Eh?! Tidak ada?!" Kise terperanjat tak percaya.

"Ada apa?" tanya Haizaki heran.

"Aku tidak menemukan kontak Ogiwaracchi dimanapun. Di chat pun tidak ada..." kali ini Kise membuka galeri ponselnya. Seingatnya ia masih menyimpan fotonya sedang selfie bersama Ogiwara. Namun, berapa kalipun ia mencari, foto-foto tersebut tak pernah ditemukan.

Kemana perginya semua itu? Tiba-tiba napasnya sesak. Rasanya ingin menangis. Nama Ogiwara seolah hilang ditelan bumi dan tak ada satu orang pun yang ingat padanya kecuali Kise seorang.

Tunggu! Masih ada mangernya. Mungkin Kiyoshi-san ingat dengan pemuda brunet itu. Jemari Kise dengan lincah mencari kontak managernya dan mulai menelepon.

"Ogiwara Shigehiro? Siapa dia? Setauku tidak ada asisten fotografer yang bernama Ogiwara Shigehiro di agensi. Mungkin kau salah orang, Kise-kun," sahut Kiyoshi di telepon.

Jemarinya lemas. Ponsel terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Tidak mungkin. Ini pasti mimpi.

"Ryouta?" Haizaki makin khawatir.

"Tidak mungkin... Ogiwaracchi..." Kise langsung bangkit dan lari keluar. Haizaki langsung mengejar.

"Akashicchi!" Kise berteriak, berlari menuju ruang tengah. Teriakannya mengagetkan Akashi dan Nijimura yang masih mengobrol di sana.

"Ryouta, kenapa kau berteriak? Apa yang terjadi?" tanya si kepala merah.

"Ogiwaracchi, temanku... Nash membunuhnya... memakan jantungnya... lalu... lalu..." tubuhnya lemas. Ia jatuh berlutut dan air mata mengalir deras. "Tak seorangpun yang ingat padanya... hiks... Shougo-kun dan menager ku bahkan tidak ingat padanya... Dia seperti tak pernah ada... hiks... aku sedang tidak berhalusinasi kan? Dia benar-benar ada kan? hiks... Akashicchi..."

"Ryouta..." Akashi mendekat dan berlutut di depannya. Tangan mengelus surai pirangnya lembut untuk menenangkan. "Kau sedang tidak berhalusinasi. Aku akan memberi tahumu satu hal..." jemarinya menyeka air mata di pipi. "Manusia yang dimakan olehnya, jiwanya akan terjebak selamanya di dunia ini. Tidak bisa pergi ke surga ataupun ke neraka. Dan sosoknya akan dilupakan oleh orang yang mengenalnya. Jejak-jejak kehidupannya akan terhapus. Ryouta, harusnya kau juga akan lupa. Tapi sepertinya kau sangat spesial. Maaf, untuk yang ini aku tidak bisa membantumu." Dengan berat hati ia mengucapkan kalimat terakhir itu.

Ogiwaracchi... Tangisan Kise makin menjadi. Ini semua salahnya. Jika saja Ogiwara tidak menemaninya waktu itu, mungkin dia tidak akan mati.

Haizaki yang berdiri sedari tadi di sana hanya mengepalkan tangannya. Jika saja ia ingat orang yang bernama Ogiwara itu, apakah ia akan menangis seperti Kise? Apakah orang itu sangat penting baginya juga? Tapi Kise bilang, mereka sangat dekat.

Tetesan air mata itu mengalir turun di sebelah matanya. Haizaki tertegun. Aku... Menangis? Entah kenapa hatinya terasa pedih. Kesedihan akan hilangnya orang terdekat. Mungkin pikirannya lupa, namun hatinya tidak. Rasanya sangat sakit. Kakinya ia langkahkan menuju si pirang lalu memeluknya dan menangis bersama.

Sementara itu Akashi dan Nijimura hanya saling berpandangan. Mereka membiarkan keduanya menangis hingga puas.

.

.

.

Keesokan harinya. SMA Teikou. Pukul 06.00 pagi.

Aomine berdiri di depan gerbang menanti kedatangan si model—orang tercintanya. Haizaki memberitahunya kalau ia dan Kise selalu berangkat lebih pagi. Jadi, pemuda tan tersebut akan berangkat lebih pagi lagi. Ini demi Kise. Kise yang sangat dicintainya.

Kedua pemuda abu-abu kuning itu tiba lima menit kemudan. Mata Aomine berjengit kesal, lantaran mereka berjalan bergandengan tangan. Seperti orang berpacaran. Mulutnya komat-kamit mengelurkan sumpah serapah. Haizaki kurang ajar! Harusnya aku yang bergandengan dengannya!

Sementara itu...

"Kenapa kau jadi penakut lagi, Ryouta?" desah Haizaki sambil menyeret pemuda pirang disebelahnya. Tadi Ryouta menolak untuk sekolah lagi, jadi dengan terpaksa Haizaki langsung menyeretnya ikut dengannya ke sekolah.

"Duh, mataku..." Gara-gara menangis semalaman bersama si pirang, matanya jadi bengkak. Uhh...

Ketika sudah dekat sekolah, Haizaki mendapati Aomine berdiri di depan gerbang sekolah. Mata birunya menatap dirinya penuh kebencian.

"Daiki? Kenapa dia menatapku seperti itu?" gumam si rambut abu-abu. Apa aku buat masalah dengannya?

"Aominecchi...?" seketika Kise melepas genggaman tangannya dari Haizaki dan lari memeluk pemuda tan di depannya. "AOMINECCHI!"

"W-whoaaahh! Kise!" Aomine berusaha menyeimbangkan diri. Entah kenapa rasanya ada yang aneh. Ia melirik Haizaki penuh tanya, tapi pemuda itu tak menjawab.

"Selanjutnya aku serahkan padamu," ucapnya menepuk bahu Aomine, lalu pergi.

"Aominecchi..." Kise menatapnya. Tangan masih bergelayut di leher Aomine dan matanya berkaca-kaca menahan tangis.

Hanya dari sorot mata itu, Aomine segera tahu bahwa hal buruk telah terjadi pada pemuda pirang dihadapannya.

.

.

.

Kise membawanya ke halaman belakang sekolah. Tempat lain yang nyaman untuk berbicara berdua saja selain atap sekolah. Apalagi sekarang masih pagi.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya si pemuda berkulit tan. Raut wajahnya khawatir.

Manik madu Kise tak berani menatapnya. Ia berpikir harus memulai dari mana. Setelah lama berpikir, akhirnya ia berkata, "Umm... tidak jadi..."

"KISE!" Aomine menggenggam kedua sisi wajahnya, memaksa Kise untuk menatapnya. "Katakan padaku apa yang terjadi semalam?!"

Kise menggigit bibirnya menahan tangis. Air mata mulai mengalir deras. Setelah mendapat tatapan yang sangat intens dari si pemuda bluenette, akhirnya tangisan itu pecah.

Pada akhirnya Kise tetap tak mengatakan apapun. Ia hanya menangis dan memeluk pemuda bluenette di hadapannya. Pelukannya erat—lebih erat dari sebelumnya—seolah itu adalah nyawanya sendiri.

Aomine tak mengerti, jadi ia hanya membalas pelukan si pirang. Berusaha memberikan rasa nyaman dan aman untuk pemuda pirang yang dicintainya.

Mungkin ia harus benar-benar bertanya pada Haizaki.

.

.

.

"Rape? Entah itu bisa disebut rape atau tidak..." itu jawaban dari Haizaki. Saat ini mereka berada di toilet di tengah jam pelajaran. "Kukira tadi pagi dia cerita padamu."

Aomine menggeleng, "Dia cuma menangis."

Haizaki diam. Jadi Ryouta tidak berani bercerita.

"Tapi Kise bilang ia ingin bicara padaku lagi saat istirahat nanti di atap sekolah..."

"Berdua saja?"

"Ya."

Hening sejenak.

"Oohhh..." Haizaki tersenyum-senyum sendiri. Seperti ada sesuatu yang lucu. "Hmmm... begitu ya..." Ia kemudian menepuk-nepuk bahu Aomine. Sambil menahan tawa, dia berkata, "Semangat ya."

Dia lalu pergi meninggalkan Aomine yang masih terbengong-bengong.

Apa maksudnya barusan?

.

.

.

Jam istirahat.

"Kise-kun, ayo kita ke kantin," ajak Kuroko.

"Ok ssu!" Kise bangkit dari kursinya dan berjalan beriringan keluar kelas.

Setelah makan siang nanti, ia sudah menjadwalkan dirinya untuk bicara dengan Aomine di atap sekolah. Jantungnya berdebar-debar. Apa reaksi Aominecchi nanti setelah mendengarnya? Pipi tannya akan bersemu merah. Pasti sangat lucu. Ia rasanya ingin tertawa.

"Yo, Kise-kun!" tiba-tiba Imayoshi muncul di ambang pintu kelas, menghalangi mereka. "Mau ke kantin ya?"

"I-imayoshi senpai... uh... ya..." sahut Kise tak yakin. Mendadak perasaannya tak enak.

Pemuda raven itu menyeringai lalu melirik pemuda bluenette di sebelah si pirang. "Kuroko-kun, aku pinjam Kise-kun mu dulu ya~"

"Tapi makan sia—"

"Tenang saja, dia akan makan siang bersamaku," ia langsung menarik Kise pergi bersamanya. "Bye~"

Sementara itu si pirang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menoleh menatap Kuroko dengan pandangan meminta maaf. Sepertinya kali ini tidak bisa menemui Aominecchi.

Kedua pemuda raven dan pirang itu sempat melewati kelas I-B—kelas Aomine. Pemuda tan itu tak ada ditempatnya. Mungkin dia sudah menunggu di atap sekolah.

Namun bukannya Aomine, mereka justru berpaspasan dengan Haizaki. Pemuda abu-abu itu segera menarik pergelangan tangan Kise, menghentikan pergerakan mereka.

"Hei, hei, hei. Ada apa Haizaki-kun~?" ucap Imayoshi dengan seringai.

"Kau mau membawa Ryouta kemana?"

"Ke ruang bimbingan," jawab pemuda raven berkaca mata itu. "Harasawa sensei memintaku untuk membimbingnya karena ada banyak materi yang tertinggal selama Kise-kun tidak masuk. Itu saja. Ada masalah?"

Haizaki masih memandangnya curiga. Namun dengan berat hati, ia melepas genggamannya dari pergelangan tangan sahabatnya itu.

"Ck!" Haizaki mendecih.

Imayoshi terkekeh lalu menarik Kise lebih dekat dengannya. "Aku pinjam teanmu dulu~" mereka pergi meninggalkannya.

Selama itu Haizaki dan Kise hanya saling berpandangan. Sorot manik madunya meminta tolong. Tapi Haizaki tidak bisa melakukan apapun. Keduanya terus seperti itu hingga si pirang menghilang dibalik tikungan lorong.

Haizaki mendecih kesal.

Hal yang paling dia benci adalah ketika firasat buruk itu muncul lagi.

.

.

.

Sementara itu di atap sekolah. Sesuai yang di minta Kise sebelumnya, Aomine menunggu disana. Bersandar di pagar pembatas sambil mendongak menatap langit berawan.

Sebenarnya apa yang ingin Kise bicarakan? Apa soal yang tadi? Tapi dari reaksi Haizaki sebelumnya, pasti sesuatu yang lain.

"Ryouta tidak akan datang," seseorang datang mendekat dan bersender di sebelahnya. Tanpa melihat, Aomine tau dia Haizaki. "Sayang sekali."

Aomine menoleh padanya. Alisnya terangkat penuh tanya.

"Imayoshi membawa Ryouta lagi. Kali ini alasannya karena disuruh Harasawa sensei untuk membimbing Ryouta mempelajari materi pelajaran yang sempat tertinggal," jelasnya sambil menyedot susu kotak rasa strawberry. "Alasannya sangat logis hingga aku tidak bisa mencegahnya."

Pemuda berambut perak itu berdiri dan beranjak pergi. "Aku kesini hanya ingin bilang itu saja. Dahh~"

Seperginya Haizaki, Aomine mendesah panjang. Orang itu lagi—Imyoshi.

.

.

.

Setelah menemui Aomine di atap sekolah, Haizaki langsung pergi menuju perpustakaan. Ada suatu hal yang ingin diketahuinya. Mungkin dengan mengunjungi perpustakaan, ia bisa mendapatkan beberapa informasi seputar SMA Teikou. Banyak hal mencurigakan di sekolah ini. Mulai dari Osis hingga sang kepala sekolah yang tak pernah terlihat batang hidungnya—hanya wakil kepala sekolah Harasawa yang sering terlihat.

Begitu memasuki perpustakaan, semua mata tertuju padanya. Mungkin terlihat aneh untuk seorang Haizaki memasuki perpustakaan. Dengan tampang tak acuh ia berjalan menuju rak arsip. Arsip-arsip yang ada di perpustakaan ini hanya berisi hal-hal yang umum seperti sejarah, fasilitas, daftar alumni dan lain-lain.

"Haizaki?"

Pemuda abu-abu itu terlonjak kaget, hampir menjatuhkan buku arsip sejarah sekolah di tangannya. Kepala ditolehkan dan dilihatnya seorang pemuda berkacamata dengan rambut hijau.

"Midorima..."

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya pemuda berkaca mata tersebut.

Haizaki melirik kesana-kemari sebelum menjawab. Memastikan tak ada seorangpun yang mendengar.

"Rahasia sekolah," ucapnya berbisik.

Midorima hanya mengangkat alisnya bingung.

"Apa kau tidak merasa sekolah ini aneh? Kepala sekolah tidak pernah kelihatan, bahkan tidak ada yang tau namanya... Osis juga sangat berkuasa," ucap Haizaki lirih.

"Kau benar juga..." sahut Midorima.

"Lalu osis akhir-akhir ini sering mendekati Ryouta. Aku merasa tidak nyaman. Apalagi dengan kondisinya sekarang, membuatku makin khawatir."

"Memangnya ada apa dengan Kise?" pemuda berkaca mata itu penasaran. Sejak pagi ia belum bertemu dengan pemuda pirang tersebut.

Haizaki pun mulai menceritakan kejadian semalam. Menceritakan sedetil yang ia bisa dengan suara kecil agar tidak terdengar oleh siswa lainnya.

Midorima mendengar dengan seksama. Selama mendengarkan, sorot matanya yang tampak datar perlahan-lahan melebar, lalu berubah menjadi sorot mata amarah.

.

.

.

.

.

To Be Continue


Maaf banget super telat lagi /cry

Dan maaf juga chapter ini lumayan pendek. Tapi dari pada updetnya lama, saya post sekarang aja...

lagi sibuk-sibuknya plus sekarang lagi nulis 2 fic lain... jadi waktunya kebagi deh orz
mudah-mudahan yang berikutnya gak lama *tapi saya gak janji ya*

Untuk yang namanya demon, akan dijelaskan di chapter depan aja


Noe Hiruma: sayangnya akashi gak jadi nyium. Ckck… Akashi payah… Iyah haremukekise is best lah! IYA! Saya bikin fic one piece, judulnya The Bird in The Golden Cage, pairnya zosan. Saya post di kok. Kalo minat baca, bisa dicek di profil saya~

Shiroo: saya demennya antagonis yang nganuin kise duluan hahaha /dor saya usahain sampai end ini fic.

Yukiya2: Akakise,Nashkise, haikise,aokise….. dan lain sebagainya~

Midorima Ryouta: Emang Akashi lagi nembak tuh… maaf ya updetnya lelet pake banget orz Midokise nanti ada kok *mungkin* tapi mereka Cuma ttm-an doang

Miya De: sejarah antara nash dan kise memang panjang. Mungkin akan diceritain di chapter-chapter kedepannya *entah chapter yang mana* gara-gara itu, jadi pengen bikin prequelnya setelah ini end

Liciousnam: maaf nunggu lamaaaaa banget orz tenang aja hati kise Cuma buat aomine kok /eaaa Kise manusia kok, akan tetapi….. begitulah….

Allase: hahahahaha (seriusan gak tau mau bales apa xD) saya rela kise dianuin sama nash. Yang penting semenya ganteng lol. tenang kise milik bersama kok~


Terima kasih untuk review, fav dan follownya~

Sampai jumpa di chapter berikutnya!