Disclaimer
Naruto milik Masashi Kishimoto
DLDR
Aku Pulang
Chapter 8
.
.
.
.
.
Dari depan pintu aku sudah menemukan sepatu wanita. Sepertinya Sakura sudah datang dan melihat mobil Suigetsu belum terparkir, sepertinya Sarada dan Boruto belum pulang. Aku melangkahkan kaki ke ruang tamu tetapi tidak ada siapapun disana.
"Tuan Sasuke, Nyonya Sakura sedang minum teh di kolam belakang," Juugo menghampiriku dan mengambil tasku dengan sigap, "Tuan mau mandi sekarang atau nanti?"
Aku mengangkat tangan, "nanti saja Juugo, aku akan menemui Sakura dulu."
Aku segera menyadari keberadaan merah muda berbalut bikini mini. Isi perutku seakan hilang saat itu juga. Entah Sakura menyadarinya atau tidak, tapi keadaan dia yang sekarang lebih dari sekedar menggoda. Mungkin lebih kepada siksaan batin untukku.
Sekeras apapun aku ingin Sakura keluar dari pikiranku, ia selalu punya cara sendiri untuk masuk. Apa mungkin akulah yang sebenarnya tidak ingin ia pergi? Ini memberi rasa sakit yang berbeda setiap kali melihat istriku itu. Oh ya, jangan remehkan jaringan Uchiha. Aku tau dia masih belum menyerahkan surat perceraian itu ke pengadilan meski sudah kutandatangani. Boleh kah aku berharap? Yang Sakura lakukan itu karena dia masih belum mampu untuk menghilangkan aku sepenuhnya?
Wanita itu menunduk saat berusaha meuruni tangga kolam renang dan mataku menangkap sekelebat sudut gelap diantara atasan bikini putih yang ia kenakan. Oh sial. Bahkan aku harus menjepit sesuatu yang bereaksi di balik celana. Aku menggigil dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan angin yang berhembus. Ini daerah tropis, angin yang berhembus cukup hangat. Dingin yang aku rasakan ini jelas berasal dari dalam. Bukan salah Sakura ia memakai pakaian yang membuat hormon lelaki ku tiba-tiba naik, bukan?
Bibirku bergetar, berusaha mengatakan sesuatu tetapi tidak ada satupun kalimat yang keluar. Setelah beberapa kali menghembuskan napas akhirnya aku bisa berkata.
"Boleh aku bergabung?!"
Yang kemudian langsung aku sesali. Aku menuntutnya menjawab dengan segera. Harusnya aku bisa menahan emosiku. Ya ampun. Kali ini bolehkah aku menyalahkan bikini putih sialan itu?
.
.
.
.
.
Sarada sudah datang. Ia langsung menghampiri Mama-nya dan berceloteh tentang bagaimana memalukannya Boruto yang tidak semahir dirinya bermain selancar air.
"Aku baru pertama kali menaiki ombak Sarada. Tentu saja tidak akan selincah kamu yang sudah sering," Boruto mengerang, harga dirinya dipertaruhkan disini.
"Oh ya? Aku saja saat pertama mencoba langsung bisa kok! Benarkan Papa?"
Aku hanya mengangguk. Saat ini moodku jadi memburuk. Terlebih sekarang wajah Sakura membuatku semakin merasa bersalah. Ia hanya menimpali dengan kata "Hn" dan "Un" saja kepada Sarada. Senyumnya pun hanyalah senyum palsu yang ditarik dengan sangat terpaksa. Aku terus mengamatinya, tapi sepertinya dia benar-benar tidak tertarik untuk melihat kearahku barang sedetik saja.
"Sarada, cepat kemasi barangmu. Mama sudah terlalu lama menunggumu, kau tau?" ujarnya dengan nada sedingin es.
"Eh? Kita langsung pergi ke hotel? Tidak bisakah kita menginap disini saja Mama? Kumohon…" bagus Sarada! Tahan Mama-mu disini lebih lama lagi!
"Tidak. Besok kita harus berangkat pagi-pagi ke bandara," kata Sakura tegas.
"Mama…" Sarada mulai merengek, "ayolah… kita menginap disini saja ya…"
"Sarada!" Sakura membentak dan Sarada terdiam. Haruskah aku ikut kedalam perdebatan ini? Ya Tuhan, sejak keluar dari kolam renang kepalaku bukannya dingin tetapi malah tambah berat. Seolah semua air itu aku serap melalui pori-pori tubuhku dan sekarang aku bahkan tidak dapat berpikir dengan baik.
"Anu Bibi Sakura," suara remaja laki-laki mengalihkan perhatian kami, "diperjalanan pulang tadi kami membeli beberapa kembang api. Kalau boleh setelah kembang api saja kalian kembali ke hotelnya. Sarada juga pasti ingin memperlihatkan kembang api kepada Bibi…" ujar Boruto sambil tersenyum.
"Benar Sakura, tidak ada salahnya untuk makan malam dulu sebentar dan bermain kembang api," ucapku kemudian.
Sarada menatap mata Mamanya dengan pandangan memelas. Aku melihat Sakura memejamkan mata dan menarik napas, ia menghembuskannya keras-keras sebelum akhirnya mengangguk.
"Hanya sampai kembang api itu habis!" katanya tegas.
"Terimakasih Mama!"
Sarada berlari memeluk Mamanya. Aku bahagia melihat cengiran Sarada. Seandainya aku bisa melihatnya setiap hari… Huft, Penyesalan memang selalu datang belakangan.
"Eh, tunggu, Boruto, kau masih menginap di rumah Paman kan?" aku hampir lupa dengan anak ini, bukankah dia juga harusnya ikut pulang besok?!
"Iya. Tapi besok juga aku harus pulang. Ke bandaranya bagaimana ya, naik taksi saja kali ya…" anak dari sahabatku itu berpikir dan berbicara sendiri.
"Besok aku akan mengantarmu ke bandara…" ujarku.
"Baiklah akan saya siapkan makan malam sekarang tuan," Juugo yang dari tadi hanya memperhatikan dalam diam akhirnya melangkahkan kaki menuju dapur.
"Aku akan membantumu menyiapkannya Juugo," ujar Sakura sambil melepaskan pelukan Sarada.
"Kau tau Nyonya Sakura, anda boleh melakukan apa saja di rumah anda tapi tidak malam ini," kata Suigetsu, "Juugo, siapkanlah panggangan barbeque di kebun belakang! Kita akan akan pesta daging malam ini!"
"Uoh! Paman Sui memang yang terbaik!" Sarada dan Boruto berlarian keluar menuju kebun belakang diiringi Juugo.
"Ini bukan rumahku, Sui. Aku hanya ingin membantu Juugo…" kata Sakura sambil mengerutkan dahi.
"Oh ayolah Sakura. Haruskah kau selalu mengoreksi setiap perkataan semua orang setiap saat? Lagipula Sui benar. Rumahku adalah rumahmu juga," aku berjalan di samping Sakura meski dia terlihat tidak nyaman dengan kedekatan ini.
"Benar Nyonya. Selama anda belum berpisah secara resmi, semua harta Tuan Sasuke adalah harta anda juga. Di pengadilan harta kalian akan menjadi harta bersama dan dibagi berdua menjadi harta gono-gini bukan? Eh, itu juga kalau kalian sebelumnya tidak melakukan perjanjian pra-nikah yang menyatakan semua harta terpisah. Jadi kalian melakukan perjanjian pra-nikah tidak waktu sebelum menikah? Atau kalian tidak perduli pada hal-hal seperti itu ya?"
"Diamlah Sui! Kau merusak momen, kau tau?" aku mendelik kearah Suigetsu. Mulut orang ini benar-benar…
Saat kami sampai di kebun belakang Sarada sedang mengipasi panggangan dengan api yang masih menyala. Tungku barbekyu Stanislav yang besar dengan cahaya orange mengeluar dari sana.
"Belum jadi ya bara api nya?"
"Sulit sekali Papa, apinya tidak mau padam," ujar Sarada sambil terus mengipas.
"Berjuanglah!"
"Apakah ini tidak terbalik huh Boruto?" Sakura mengambil bangku taman dan berduduk disamping Boruto, "Sarada membuat api dan kau mengupas sayuran?"
"Sarada yang memaksa, Bibi," Boruto memutar bola matanya, "katanya 'kenapa wanita harus selalu berurusan dengan sayur dan daging? Wanita juga bisa membuat api!'. Jadilah aku yang…" Boruto mengangkat tangan nya, tangan kanan dengan pisau dapur dan kiri paprika hijau yang sudah dibuang bijinya.
"Hahahaha, anak Papa ini seorang feminis huh?"
"Apa itu buruk Papa? Aku hanya tidak ingin wanita dianggap lemah!"
"Tidak buruk juga. Wanita bisa menjadi apapun yang dia inginkan. Papa juga kenal wanita yang kuat dan bisa melakukan apapun sendiri," ujarku sambil melirik kearah Sakura. Sakura menyadarinya tapi pura-pura tidak tau.
"Benarkah? Menurut Papa wanita yang seperti itu tidak buruk? Kata Boruto laki-laki suka wanita yang lembut dan lemah, membuat laki-laki ingin melindunginya,"
Baruto mendengus, sebal karena diadukan.
"Ya, selera orang macam-macam sih. Tapi menurut Papa wanita yang kuat itu sexy…"
"Kyaa… Papa pervert!" Sarada menutup wajahnya.
"Bahahaha… Sasuke! Dengar ya, bagi anak seumur Sarada kata sexy adalah kata yang bermakna negative kau tau?! Buahahahahaha…" Suigetsu tertawa dengan liar. Aku memilih kata yang salah ya… Bahkan Juugo dan Sakura menahan tawa. Sedangkan Boruto menundukkan kepalanya malu.
"Sial. Maksudnya bukan dalam arti yang buruk Sarada. Maksud Papa sexy yang…"
Wajah Sarada semakin memerah. Dia membelalakan matanya seolah aku sedang membicarakan hal yang sangat jorok.
"Buahahaha sudahlah Sasuke… Lebih baik sekarang kau pergi dari sini dan membeli six pack saja sana! Semakin kau menjelaskan akan semakin buruk bagi Sarada dan Boruto…" Suigetsu melemparkan kunci mobil.
"Kau ingin bir?" tanyaku.
"Daging itu harus dengan bir! Benarkan Juugo, Nyonya Sakura?" ujar Suigetsu. Juugo mengangguk sementara Sakura hanya diam saja.
"Baik baik akan ku belikan…"
.
.
.
.
.
Kami berenam duduk mengitari meja, hampir tak mampu mengangkat potongan daging, kentang, bawang bombai, dan paprika juga wortel yang menggunung di piring-piring kami, tapi juga tak mampu menolaknya. Boruto merendahkan kepala ke piringnya dan mengisap saus barbekyu diatas dagingnya. Sarada cekikikan dengan mata terbelalak, memandangi kemudian memberikan kaleng jus jeruk yang tadi ku beli untuk mereka.
Boruto menggeleng, menolak kaleng jus itu dan menunjuk kaleng bir.
"Mau mati ya?" ujar Sarada.
"Aku penasaran bagaimana rasanya," kata Boruto dengan seringaian yang entah kenapa menggemaskan.
"Nih," Juugo memberikan kaleng miliknya kepada Boruto.
"Eh? Tidak apa-apa nih?" disodorkan begitu, mau tidak mau Boruto gugup juga.
"Cepat!"
Glek. Boruto meminumnya seteguk dan langsung menyerahkannya kembali kepada Juugo.
"Fuah! Tidak enak! Sangat tidak enak!" Boruto menarik paksa kaleng jus jeruk yang tadi ditolaknya dari Sarada dan berkumur-kumur dengannya.
"Nah! Kau ingat-ingatlah rasa tidak enak itu saat ada teman yang mengajakmu minum nanti!" ujar Juugo dengan wajah datar.
"Sampai dewasa pun aku tidak akan mau minum itu lagi! Huek, rasanya seperti kencing kerbau saja!" ujar Boruto bergidik. Aku, Sakura dan Suigetsu terkikik.
"Memangnya kau pernah minum kencing kerbau?" Sarada mengerutkan keningnya.
"Tidak. Tapi menurutku pasti seperti itu," Boruto kembali meminum jus jeruk, kali ini dengan banyak.
"Jadi mau main kembang api tidak?" Juugo melambai-lambaikan kantung plastik yang berisikan bermacam-macam jenis kembang api.
"Tentu saja!" teriak Sarada bersemangat. Juugo membawa Sarada dan Boruto menjauh dari meja menuju tanah yang agak lapang dan tidak dekat dengan pohon manapun. Mereka menghidupkan lilin dan memulai dengan kembang api lidi.
"Aku tidak ingat kita pernah melakukan pesta barbekyu waktu Sarada masih kecil," kataku pelan.
"Itu karena waktu Sarada kecil kita memang tidak pernah melakukannya," ujar Sakura yang duduk persis disampingku.
"Oh,"
"Tidak apa-apa kok," kata Sakura, "Dulu kau sibuk."
"Sampai sekarang Sasuke itu sibuk!" ujar Suigetsu menimbrung dalam percakapan kami.
"Sui!"
"Benarkan? Malam ini kau harusnya mengerjakan laporan dan menyiapkan presentasi," katanya sambil memandangku penuh arti.
"Sui, bisakah kau hentikan? Aku berjanji tidak akan mengecewakan pada presentasi besok, lihat, aku bahkan tidak minum bir sama sekali," aku menggoyang-goyangkan kaleng jus yang ku pegang.
"Kalau kau sesibuk itu seharusnya kau tidak perlu menyiapkan pesta barbekyu seperti ini segala Sasuke," wajah Sakura merah padam. Ia sedang bersandar di kursinya, dan kelihatannya sewaktu-waktu akan terjembap ke belakang.
"Kurasa yang sedang dicoba disampaikan oleh Sasuke adalah, dia bukanlah laki-laki yang mengejar karir sampai lupa dengan keberadaan keluarga lagi, aku tidak keberatan, begitu juga semua orang di kantor. Hanya saja orang yang paling Sasuke inginkan mengerti tidak juga menyadari itu," Suigetsu melirik kearah Sakura, berharap wanita itu mengrti apa maksud perkataannya.
Tentu saja Sakura mengerti. Dia bukan wanita bodoh.
"Jangan memaksakan pikiranmu Sui!" seruku, sambil melirik gugup ke arah Sakura.
"Aku tidak mengerti," kata Suigetsu, masih bersikap cuek, "Kalau masih cinta ya pertahankan dan coba realisasikan perasaan itu. Kalau sudah tidak saling cinta ya bercerai saja, cukup sekian saja. Kalau menggantung, apa tujuannya? Maju ke depan, itulah yang selalu kukatakan. Naik…"
"Naik ke atas, aku tau," aku berdiri, sangat sadar dengan Sakura yang duduk diam seribu bahasa di sampingku. Begitu marahnya aku kepada Suigetsu yang berusaha ikut campur hingga tak bisa mengontrol suara dan yang keluar adalah teriakan, "Sui, aku serius, biarkan aku sendiri! Kami sudah selesai! Done! Kami akan bercerai dan tidak akan pernah kembali bersama!"
Sakura melonjak berdiri, membuat kursinya terjatuh. Ia baru membungkuk untuk mengambilnya. Tapi kemudian merengut dan berjalan keluar dari pintu kaca, membiarkannya terbuka sementara ia berjalan menyebrangi isi rumah ke arah pintu depan.
"Lihat apa yang kau lalukan Sui!"
"Tidak," kata Suigetsu, "Kau yang melakukannya."
Aku tidak tahan lagi dan meminta Juugo mengawasi anak-anak sementara aku keluar dan mencari Sakura. Mobil-mobil masih terparkir dengan rapi, membuatku bernapas lega. Tapi bisa saja ia menelpon taksi atau mencari tumpangan untuk pergi ke hotel. Baru beberapa menit sejak Sakura pergi, mungkin ia masih menyusuri jalan. Aku berlari kecil, berharap Sakura masih disekitar lingkungan ini.
"Sakura," panggilku. Kelebat rambut warna merah muda itu tidak mungkin orang lain.
Buru-buru aku menghampirinya, tapi ia tidak mengangkat kepalanya, kelihatannya seperti tidak mendengarku.
"Sakura," kataku, waktu aku sudah cukup dekat dengannya.
Ia tersentak kemudian tersenyum kecil, setidaknya cukup untuk bisa membuatku bernapas kembali.
"Luar biasa sekali udara di sini."
"Apa yang kau lakukan? Mengapa tidak masuk?"
"Aku hanya perlu waktu," katanya, "menjernihkan pikiranku. Apakah semua baik-baik saja? Sarada?"
"Sarada masih bermain kembang api bersama Boruto dan Juugo. Dengar, aku benar-benar menyesal dengan Suigetsu. Ia memang suka berlebihan, dan seringnya ia melewati batas."
Sakura menggeleng dan menengadahkan kepalanya ke atas. "Tidak apa-apa," katanya, "yang dikatakan Sui tidak menggangguku."
"Oh ayolah, bersikaplah jujur Sakura. Kau melompat dan meninggalkan rumah. Jangan bilang kau tidak terganggu dengan ucapannya."
"Oke, Sasuke, kau ingin aku jujur?" Sakura berhenti melihat ke langit dan menatap mataku lekat-lekat. "Apa yang dikatakan Sui tidak menggangguku. Apa yang kau katakanlah yang menggangguku."
"Sakura," kataku memulai, "Aku tau kami memang atasan dan bawahan, tapi kami juga teman, adu mulut diantara kami…"
"Aku tidak sedang membicarakan adu mulut. Aku sedang membicarakan apa yang kau katakan, bahwa kita tidak akan kembali bersama."
Napasku tertahan dan kusipitkan mataku menembus kegelapan padanya. Kuberanikan diri selangkah lebih dekat.
"Maksudmu, kau jengkel karena kubilang aku tidak ingin kembali bersamamu?"
Sakura menggembungkan kedua belah pipinya. "Aku kesal karena tadi sore kau besikap seolah menginginkanku. Dan ternyata itu hanyalah permainan bagimu. Kau hanya ingin menggodaku."
"Itu tidak benar!"
"Lalu kenapa kau berteriak kepada Suigetsu seperti itu?"
"Aku bilang begitu karena tidak ingin kau merasa tertekan. Aku tidak ingin teman-teman ku membuatmu merasa harus menerimaku karena aku sudah banyak berubah dimata mereka, Sakura" aku mengerang tertahan.
Kepercayaan. Sakura pasti akan menggunakan kata itu, kata dari mulut indahnya, saat menuduhku tidak punya cukup komitmen untuk memperbaiki hubungan kami. Maka akupun, akan menggunakan kata itu juga untuknya.
"Kurasa kau tidak punya kepercayaan yang cukup akan diriku, tidak akin bahwa aku sudah berubah," ujarku.
"Tidak, Sasuke, aku bisa melihat bahwa kau sudah berubah."
"Mungkin kau tidak punya rasa percaya bahwa keadaan bisa berbeda bagi kita berdua dan keluarga kita."
"Aku tak tau," ujarnya. "Baru sebentar sekali aku ada di sini, dan rasanya masih aneh."
"Tapi sepanjang kau di sini," kataku, "apakah perasaanmu sudah berbeda dari perasaanmu padaku dahulu? Kebencianmu, apakah sudah memudar?"
"Ya," Sakura mengakui.
"Kalau begitu rasanya aku sudah membuktikan padamu bahwa aku bisa berubah dan bahwa hubungan kita akan berbeda."
"Kita belum sungguh-sungguh menjadi pasangan lagi," kata Sakura pelan.
"Apa maksudmu kau ingin aku pergi?"
"Tidak."
"Kalau begitu pesan yang kau sampaikan adalah kau sudah kehilangan kepercayaanmu akan keluarga kita."
"Tidak tepat seperti itu," ujarnya.
"Lalu apa Sakura?" aku memejamkan mataku, "Dengar, aku tidak ingin mendesakmu. Tidak perlu buru-buru. Aku ingin kau mengambil sebanyak apapun waktu yang kau perlukan untuk mengetaui apa yang kau inginkan dengan hubungan kita. Dan apapun keputusanmu akan aku hargai. Tapi bisakah kau juga mempertimbangkan diriku yang sekarang?"
Sakura nampak berpikir sebentar dan kemudian tersenyum hambar. "Ya. Tapi itu berarti aku menggantungkan hubungan kita lagi dan itu menyakitimu."
Aku mendengus, "Itu bahkan tidak setimpal dengan rasa sakit yang dulu pernah aku lakukan padamu, Sakura."
"Kau mengakuinya? Bahwa aku benar-benar sakit karena perbuatanmu?"
"Ya. Percayalah aku menyesalinya setiap hari," aku menoleh kearahnya, "should we go back in?"
"Aku ingin di luar sini sebentar lagi. Mau ke mini market di depan jalan dan membeli beberapa kaleng bir."
"Kupikir kau sudah meminum banyak bir Sakura. Malam ini kau harus kembali ke hotel dan besok kau akan naik pesawat selama tujuh sampai delapan jam. Sebaiknya kau urungkan saja niatmu itu," terkadang sebagai dokter Sakura bisa ceroboh juga.
"Ck, kubilang aku ingin bir, Sasuke. Mengenai brang-barangku di hotel dan urusan bandara, bukankah seharusnya aku memanfaatkan calon-mantan-suamiku yang seorang pengusaha kaya itu untuk memikirkannya?"
"Begitukah Sakura? Kau akhirnya akan menjadi wanita yang memanfaatkan laki-laki demi kepentinganmu?" ujarku sambil menahan tawa.
"Ya, kenapa tidak? Dia tidak akan menolak jika aku meminta tolong bukan?"
"Hah, baiklah. Belilah bir mu itu, aku akan kembali ke rumah dan mengambil mobil lalu mengambil barang-barang kalian di hotel. Kalian menginap saja di rumah biar besok pagi aku mudah mengurus check in dan sebagainya."
"Roger!"
.
.
.
.
.
"Kau tidur saja di rumah. Biar aku yang mengambil barang-barang di hotel," ujarku sambil mengemudi di high way yang sudah sepi.
"Dan membiarkanmu melihat pakaian dalam kotorku? Hell No!" Sakura kembali meneguk birnya. Ini sudah kaleng ke dua sejak ia membeli six pack nya sendiri.
"Ck, keras kepala!"
"Aku belajar dari ahlinya. Kau mungkin mengenalnya," kata Sakura sambil terkekeh oleh sarkasmenya sendiri.
"Apa Sarada bertanya tentang kita?" lanjut Sakura setelah berhenti tertawa.
"Tidak. Dia sudah tertidur. Anak itu bermain tanpa henti sejak kemarin. Wajar saja jika kelelahan begitu…"
Tidak berapa lama kami sudah sampai di hotel yang disediakan oleh panitia penyelenggara seminar. "Wow, kalian para dokter cukup dimanjakan juga ya sampai di sewakan hotel yang cukup mewah ini."
"Sponsornya perusahaan farmasi sih," jawab Sakura seraya membuka pintu mobil, "Sedang apa kau?" tanyanya ketika melihatku melakukan hal yang sama.
"Membantumu membawakan barang-barang. Apa lagi?"
"Apa? Tidak. Aku kan sudah bilang kau hanya bertugas mengantar. Itu hanya dua koper kecil, milikku dan Sarada, kau tidak perlu repot-repot."
"Oh ya ampun. Setidaknya biarkan aku menemanimu kedalam," ujarku dengan nada yang sangat rendah.
"Aku memang mabuk, sedikit, tapi tidak bodoh Sasuke."
Aku mengernyit, "Hah?"
"Ini sudah malam, aku setengah mabuk dan berduan saja di dalam kamar hotel denganmu? No sir. Kau dan aku tau apa yang akan terjadi selanjutnya dan kita berdua akan menyesalinya keesokan hari!"
"Apa? Aku bahkan tidak berpikir sampai ke sana. Ya ampun kau ternyata memikirkan aku sampai seperti itu ya Sakura. Tidak ku sangka…" aku tersenyum patah, senyum seksi yang aku banggakan sejak dulu. Oke baiklah aku berbohong aku tidak memikirkannya. Tentu saja aku menginginkan Sakura. Sakura-ku. Dan terkutuklah bikini tadi sore yang tidak mau hilang dari sel-sel otakku.
"Oh, come on. You are a good kisser and I cant resist it! Itu akan jadi tidak baik. Tunggulah di sini!"
"Ah! Kau mengakuinya bukan? Kau mengakuinya kalau kau tidak bisa menolakku," aku terlampau gembira dan menaikkan volume suaraku tanpa sadar.
"Saat ini aku sedang sedikit mabuk dan tidak bisa mengendalikan diri dengan baik. Jadi aku tidak yakin bisa mengontrol diriku sendiri jika terjadi sesuatu seperti di kolam renang tadi sore," Sakura menutup pintu mobil dan berteriak, "tunggu saja di sini, aku tidak akan lama!"
Aku duduk diam lama sekali di dalam mobil. Hatiku bimbang dan pikiranku sibuk mempertimbangkan apakah menyusul Sakura adalah merupakan langkah yang bijaksana. Ia masih ingat bagaimana mata Sakura melotot memperingatkannya untuk menunggu di sini sampai ia kembali dengan koper-koper itu. Tapi, ada sesuatu yang mendorongnya dengan kuat agar masuk ke dalam lobi hotel itu sekarang. Pasalnya ini sudah terlalu lama untuk sekedar mengambil barang di kamar. Sudah lebih dari tiga puluh menit.
Apa sebaiknya aku menelpon Sakura?
The number you are calling is not active…
Tentu saja. Inikan luar negeri. Pasti dia mengganti dengan nomor lokal. Baiklah aku coba menelpon lewat aplikasi chat saja.
"Tuan Uchiha, saya Ayame dari hotel tempat Nyonya Uchiha Sakura menginap," jantungku berdegup kencang dan keringat dingin membasahi tanganku. Aku tau ini adalah pertanda buruk.
"Ya? Bagaimana bisa telepon genggam istri saya ada ditangan anda?"
"Saya… Tuan Uchiha, yang harus saya sampaikan ini sulit. Nyonya Uchiha Sakura mengalami kecelakaan. Well, lebih tepatnya beliau tiba-tiba pingsan di depan lift dengan dua buah koper di sampingnya. Saya sedang di rumah sakit, menungguinya sekarang…"
"Aku tidak melihat ada mobil hotel keluar dengan istriku di dalamnya. Aku berada di parkiran luar hotel sekarang. Tepat menghadap lobi!" aku berusaha tidak kehilangan akal. Mungkin saja ini adalah penipuan atau semacamnya.
"Kami tidak tau anda juga ada. Nyonya Uchiha Sakura menginap atas namanya dan menurut keterangan beliau tidak bersama siapapun kecuali anak remaja, itupun hanya saat beliau check in. Kami mengangkutnya lewat gerbang belakang hotel Tuan, jadi mungkin anda tidak melihatnya. Kami sudah menghubungi panitia seminar yang menjadi sponsor dan mereka sedang dalam perjalanan kemari."
Sarada menginap di rumahku jadi mungkin mereka mengira Sakura hanya sendirian. Aku memacu mobil menuju rumah sakit umum sambil tak henti-hentinya memikirkan Sakura. Setiap obrolan lewat telepon, setiap perjumpaan, semua terkenang begitu jelas di benakku dan kini berputar kembali mirip sebuah film. Kenapa lagi sekarang ya Tuhan…
Wanita yang aku cintai itu telah banyak mengalami penderitaan dalam hidupnya, begitu banyak kesedihan dan kepedihan, begitu banyak kejadian yang membutuhkan keberanian luar biasa untuk menghadapinya. Mustahil musibah yang lebih berat lagi menimpa wanita merah jambu itu sekarang. Sungguh tidak adil bagi Sakura. Ya Tuhan aku mohon semoga Sakura tidak kenapa-napa.
Aku langsung menuju ke meja piket ruang perawatan intensif, dan ketika itu seorang wanita dengan rambut coklat muda memperkenalkan diri sebagai Ayame membawaku ke tempat Sakura berbaring.
"Tuan Uchiha?" aku menoleh ketika mendengar suara Ayame, "anda sangat cepat sampai kesini. Taksi yang anda tumpangi pasti sudah sangat hafal jalanan di kota ini bahkan dimalam hari seperti ini ya. Bahkan panitia yang saya hubungi belum datang juga…"
"Aku tinggal disini jadi bukan turis," mataku beralih pada sosok merah muda yang terlihat begitu rapuh dengan selang infus yang terpasang, "Bagaimana keadaan istriku?"
Aku merasa lemas ketika melihat keadaan Sakura. Dengan berjingkat, aku melangkah masuk dan duduk di kursi kodong di samping pembaringan Sakura, lalu membelai-belai lembut rambutnya yang berwarna seperti gula-gula kapas di karnaval sementara Ayame berdiri menyaksikan.
"Masih seperti tadi. Dia hanya memiliki kadar elektrolit yang tidak seimbang. Begitulah kata dokter tadi. Perubahan cairan dalam tubuh secara tidak langsung bisa menyebabkan aliran darah di dalam tubuh dan juga menyebabkan tekanan darah. Tidak ada yang perlu dikhawatirnya," ujar Ayame sambil tersenyum.
"Hah… Jadi ini karena bir yang diminumnya ya…" aku bisa bernapas lega sekarang. Aku pikir, aku pikir…hal yang buruk akan terjadi pada Sakura-ku…
"Iya," Ayame mengangguk, "Nyonya Uchiha Sakura harus memenuhi kebutuhan elektrolit tubuh dengan minum air putih yang banyak dan istirahat jika tubuh sudah terlalu letih saat melakukan kegiatan atau pekerjaan," jelas Ayame panjang lebar.
"Halo, manis," aku menyentuh pipi Sakura dengan sebelah tangan, lalu duduk mengamatinya lama sekali. Ayame sendiri sudah keluar dari ruangan dan hanya menyisakan aku dan Sakura yang masih terpejam.
Hati ku tidak dapat berhenti bertanya, kemungkinan besar Sakura kelelahan dan bahkan memaksakan diri bekerja di rumah sakit serta universitas. Dan sekarang lihatlah dia. Malah dia sendiri yang terbaring tak berdaya. Sudah satu jam aku berada di sini. Pihak panitia sudah menjenguk dan berkata akan menjadwal ulang tiket pesawat Sakura serta memintakan izin kepada rumah sakit Konoha serta Universitas bahwa Sakura masih akan di sini karena sakit.
Aku mengambil ponsel Sakura yang tadi sudah diserahkan Ayame. Mengecek nomor ponselku sendiri di kontaknya. Uchiha Sasuke Papa Sarada. Huh, tidak buruk. Setidaknya dia tidak mengganti dengan panggilan yang mengisyaratkan kebencian padaku.
"Ada perubahan?"
Perawat yang bertugas mengecek menggeleng. Temperaturnya agak naik lagi. Tapi aku tidak beranjak dari tempat duduk dan perawat tidak menyuruhku keluar. Aku meminta Juugo membawa anak-anak ke rumah sakit saat mereka bangun pagi nanti. Aku tidak ingin membangunkan mereka hanya untuk memberikan kecemasan. Sedangkan Suigetsu saat kutelpon mengerang karena harus menggantikanku presentasi dan menyelesaikan laporan hari ini. Apa boleh buat…
Kendati suhunya sudah turun, Sakura belum bergerak sedikit pun. Aku melihat petugas memeriksa dan berkata jangan terlalu khawatir karena kondisi Sakura sudah membaik dengan bergeming. Aku tetap membelai helaian rambut Sakura, mengamati bulu mata lentiknya.
Dahulu keadaan Sakura lebih parah. Saat dia sangat lemas karena rahimnya harus di kuret. Didalam ruangan dengan tabung kaca Sakura terbaring tidak bergerak sedikitpun, dalam balutan perban dan gips karena terjatuh dari tangga dalam keadaan hamil. Dengan berbagai slang yang dihubungkan ke mesin-mesin yang mengitari. Cahaya tuang perawataan saat itu entah mengapa terang menderang. Dan Sakura terbangun hanya untuk merima takdir bahwa anak yang dikandungnya sudah tiada. Sedangkan aku tidak pernah memikirkan keadaan Sakura, hanya memikirkan diriku sendiri dan perasaanku.
Matahari sudah hampir muncul ketika kahirnya Sakura bergerak. Aku bingung, tidak tau apa artinya gerakan itu. Tapi Sakura kemudian membuka mata dan melihat kesekelilingnya. Kelihatannya dia heran saat matanya melihat wajahku. Lalu ia seperti tertidur lagi. Tidak lama. Aku ingin membunyikan bel, memanggil perawat. Tapi tidak berani bergerak. Jangan-jangan tadi hanya mimpi. Namun Sakura lalu membuka matanya lagi. Kali ini menatapku lama sekali.
"Sasuke?" suaranya lebih lirih dari bisikan.
"Selamat pagi."
"Aku dimana?" suaranya lemah dan serak. Ia seperti kebingungan, tidak bisa memahami yang dilihatnya. Aku tersenyum sambil menggenggam tangannya.
"Di rumah sakit! Lama betul kau tidur, Sakura."
"Hah?"
Aku lalu menjelaskan keadaannya sambil tertawa. "Kalau kelelahan dan sangat butuh istirahat dokter Sakura. Bukan malah meminum alkohol sampai pingsan dan kekurangan elektrolit tubuh!"
Sakura meringis. "Aku khawatir setengah mati," aku mengucapkannya dengan bisikan. "Tolong jangan memaksakan diri lagi…"
Sakura tersenyum samar, "aku tau," ujarnya, "aku tau kau khawatir. Wajah khawatirmu seperti orang yang menahan pup, kau tau?"
Aku tersenyum sambil terus mengusap kepala Sakura.
"Selama ini aku selalu merasa bersalah karena perasaanku kepadamu, Sakura. Karenanya beberapa taun belakangan aku menghindarimu."
"Kenapa?"
"Entahlah… kupikir perasaan ingin memilikimu padahal sudah membuatmu sakit hati itu salah. Tidak adil terhadap dirimu…tidak juga terhadap Sarada," Sakura menatapku dalam-dalam. "Maafkan aku, Sakura."
"Aku sudah memaafkanmu. Kau memang brengsek. Tapi aku memaafkanmu…"
"Dan aku mencintaimu, Sakura. Maukah kau tetap menjadi istriku?"
Sakura menggeleng. Dua butir air mata bergulir mengaliri pipi Sakura dan ia pun terbatuk ketika menangis. Aku mengecupnya, lalu menempelkan wajahku ke wajah Sakura.
"Ssst, jangan menangis, Sakura… aku tak bermaksud membuatmu sedih. Aku tau aku memang keparat yang tidak tau diri…" Jadi, Sakura memang sudah tidak mencintaiku sama sekali. Rasanya aku jadi ingin ikut menangis. Namun aku hanya mampu membelai-belai rambut Sakura sementara Sakura berusaha mengembalikan kontrol dirinya.
"Maafkan aku…," tiba-tiba aku mendengar Sakura bersuara lagi. "Aku juga mencintaimu, Sasuke…" Sakura menatap mataku, dan tanpa sadar air mata menggeliding pelan membasahi pipiku.
"Aku mencintaimu lebih dari yang bisa aku katakan, Sakura…"
"Tapi Sasuke. Kita tidak akan bisa menjadi seperti dahulu saat masih baik-baik saja…" Sakura berkata lemah, "Bukan karena apa-apa… Tapi aku akan sibuk dan kau akan sibuk… Kita bahkan tinggal di negara yang berbeda… Kita akan…"
"Aku tidak akan menuntutmu seperti istri konvensional Sakura. Aku bisa pulang ke rumah sebulan sekali atau sebaliknya, kau yang kesini," aku memelas.
"Oh entahlah…"
"Dengar, mungkin ini mustahil bagi orang lain. Jika hubungan jarak jauh serta kepercayaan kita bahwa hati kita selalu terhubung, tidak mengapa tidak berhasil pada orang lain, tetapi jika itu tidak masalah bagi kita kenapa harus khawatir?"
Ruangan hening cukup lama. Suara udara yang keluar dari air conditioner terdengar keras. Aku menahan napas menanti jawaban dari Sakura.
"Ya, hubungan jarak jauh itu hanya akan terjadi selama setaun sih… Aku akan pensiun dan mendirikan perkebunan di sebelah klinik sosial," lanjutku memecah keheningan.
"Yang memberikan tanah untuk klinik sosial itu kau, Sasuke?" tanya Sakura dengan wajah yang sulit diartikan.
"Hn."
"Kenapa?"
"Aku selalu ingin memiliki kebun apel, serta makan tomat segar yang baru dipetik di pagi hari. Ya, dan tidak buruk juga memberikan sebagian yang kita miliki untuk orang yang tidak berpunya."
Sakura membuka mulut, kemudian mengantupkannya dan menggeleng, "Itu tidak benar. Kau melakukannya karena ingin aku menerimamu kembali."
Aku tidak mengelaknya karena itu sebagian besar memang benar.
"Because I don't want somebody. I want you, Sakura. I need you…"
Sakura masih memandangiku, sepertinya sedang menimbang kata-kataku, kemudian mencondongkan tubuhnya dan menciumku, ciuman lembut yang hanya menggunakan bibir, yang bisa saja disebut ciuman persahabatan, atau ciuman perpisahan. Tapi karena aku sudah mengatakan yang sebenarnya, pertahananku luruh dan sentuhan bibirnya langsung menyentuh inti diriku. Tanpa berpikir, aku menghela diriku dan memeluknya, menekan dadaku ke payudaranya, menciumnya seakan inilah kesempatan terakhir yang kumiliki. Dan aku takut memang inilah kesempatan terakhirku.
"Aku menginginkanmu seutuhnya, apa kau tidak bisa melihatnya?" seruku, semua pertahanan diriku lenyap, konsep cool yang melekat pada diriku jelas-jelas hilang dihadapan wanita dengan bola mata hijau teduh ini.
"Apa kau tidak tau, aku akan bercinta denganmu di sini, sekarang juga, kalau kau mengizinkannya?" Sakura berbisik ditelingaku dengan suara parau yang sangat seksi.
Saat itu Sarada, Boruto dan Juugo masuk. Mereka berhenti, tertegun di ambang pintu, melihat wajah kami begitu dekat satu sama lain. Dengan lembut Sarada mengetuk pintu, lalu ia masuk. Entah bagaimana bentuk wajah aku dan Sakura yang sama-sama sedang menangis.
"Aku tadinya sangat khawatir Mama. Tapi sepertinya ini bahkan lebih membahagiakan daripada kelihatannya. Apa aku salah?"
"Benar," aku menjawab, "kami baru saja menikah lagi."
"Boleh lihat cincinnya?" matanya berbinar.
Sakura salah tingkah. Dia yang melemparkan cincin pernikahan kami.
"Ini, Papa baru akan memasangkannya," kataku sambil merogoh kantung celana.
Sakura tampak terkejut. "Aku selalu menyimpannya. Well, lebih tepatnya selalu membawanya," aku tersenyum dan memasangkan cincin itu di jari manisnya.
.
.
.
.
.
Sakura sudah sangat sehat. Seharian dia hanya istirahat dan Sarada juga Boruto mengurusnya dengan baik sementara aku pergi ke kantor. Dua hari lagi baru dia akan pulang kembali dan kami akan menjalani kehidupan long distance relationship selama setaun. Perusahan ini akan dijalankan oleh Suigetsu dan Juugo, mereka orang-orang kepercayaanku yang sangat setia. Aku bisa tenang jika mereka yang memegang kendali. Ayah dan Ibu berkata aku bisa melakukan apapun asal aku dan keluargaku bahagia. Terutama agar Sarada bahagia. Cukup sudah semua drama dalam kehidupan percintaan kami menyakiti anak gadis kami satu-satunya.
Didalam rumah ada momen dimana aku dan Sakura menjadi ragu. Terlalu takut untuk kembali saling menyakiti, saling tersakiti. Menghadapi bayang-bayang masa lalu yang pahit, tapi kemudian aku tersadar semua itu sudah takdir yang harus kami lalui. Semua titik-titik momentum itu mengantarkan aku kesini, saat ini. Dan aku tidak peduli. Kami berhak bahagia.
Waktu Sakura sedang mengambil ancang-ancang untuk menaiki tangga aku meraih tangannya dan menuntunnya menuju kebun belakang. Anak-anak sudah tidur. Aku sudah mulai menarik t-shirt dari kepalaku, membuka ritsleting celana, mengulurkan tangan ke ikat pinggang.
"Apa-apaan Sasuke," katanya. Sakura mundur menjauhiku dan duduk.
"Aku ingin berenang," kataku, "Kau ingin ikut?"
Sakura tersenyum, "tunggu dulu ya, aku ganti pakaian renang dulu." Ia mengenakan bikin biru tua sederhana. Ketika Sakura keluar, aku sudah berada di kolam.
"Airnya luar biasa," Sakura menyelam lebih dalam.
Samar-samar aku melihat kaki Sakura yang berwarna putih. Dengan mulus akupun ikut menyelam, megikuti Sakura ke dasar kolam. Sakura tersenyum riang, lalu ia menyelam lagi sembari menggelitiki kakiku. Tiba-tiba dengan gerakan mirip ikan lumba-lumba, ia sudah muncul kembali ke permukaan. Aku merengkuh Sakura dan menariknya masuk ke dalam air bersama. Sakura berontak, menarik diri menjauhiku. Aku pura-pura tidak tertarik. Tetapi kemudian mengejarnya. Sepuluh menit berlalu kami bermain kejar-kejaran di dalam air sampai akhirnya Sakura berhenti.
"Apa kau selalu mempunyai energi sebanyak ini setiap habis kerja?"
"Hanya jika aku sedang senang."
"Kau tau, sebagai laki-laki dewasa, tingkahmu mirip anak-anak."
"Terimakasih," ujarku seolah itu adalah pujian, "Kau sangat memesona dengan bikini, Sakura. Tapi pasti lebih menggiurkan kalau tidak pakai apa-apa."
"Jangan berbicara jorok," Sakura berenang beberapa meter, lalu pelan-pelan naik ke tepi kolam. Ia sengaja berdiri memunggungiku ketika sedang melilitkan handuk pada tubuhnya. Aku juga naik mengikuti Sakura.
Ketika Sakura berbalik, kami kembali berpandangan. Kami terdiam beberapa saat, lalu kuberanikan diri melangkah maju dan meraih Sakura ke dalam pelukan. Dengan segenap kelembutan yang tercurah dari jiwa, aku mengecup Sakura, memeluknya dan aku merasakan tubuh Sakura gemetar seperti tubuhku sendiri. Aku tidak tau persis apakah itu akibat timbulnya gairah, atau karena kami kedinginan. Tanpa bisa menjelaskan pada diriku sendiri mengapa, Sakura berdiri diam disana, membiarkanku memeluknya.
Dapat kurasakan bibirnya membalas kecupanku saat kukulum bibir mungilnya. Lama sekali sampai akhirnya Sakura melepaskan diri, berbalik dan melilitkan handuk rapat-rapat pada tubuhnya. "Maafkan aku, Sakura," suara yang kukeluarkan persis suara anak laki-laki kecil.
Sakura masih memunggungiku. Aku bingung, tidak tau harus berkata apa. Aku mendapati diriku sangat menginginkan Sakura beberapa saat yang lalu, dan karenanya kusentuh lembut punggung Sakura.
"Aku menginginkanmu Sakura. Aku mencintaimu…"
Sakura melangkahkan kaki menghampiriku dan memegang wajahku dengan kedua tangannya.
"Aku tidak ingin mempercayai itu."
"Mengapa?"
"Karena, kalau aku benar-benar mempercayai itu," Sakura ragu-ragu, sekujur tubuhnya gemetar walaupun udara malam ini cukup hangat, "dan kubiarkan diriku mencintaimu juga…suatu hari nanti aku takut kita akan terluka lagi. Dan aku tidak ingin itu terjadi."
"Aku tidak akan pernah melukaimu lagi. Sumpah!"
Sakura mendesah, menyandarkan kepalanya pada dada bidangku yang tidak terbalut apapun. "Itu bukan sesuatu yag bisa kau janjikan, Sasuke."
Aku merenggangkan pelukan dan menatap mata Sakura, memaksa Sakura melihat sorot di mataku, persis seperti yang biasa Sakura lakukan jika ia ingin merasa yakin Sarada dapat membaca gerakan bibirnya.
"Kau tidak akan terluka, Sakura. Kita tidak akan terluka. Percayalah padaku," ada keinginan dalam hatiku untuk menanyai Sakura mengapa ia begitu tidak dapat mempercayaiku, tetapi Sakura tidak mampu lagi melawan. Ia membiarkan dirinya kukecup dan kudekap. Sehingga rasanya tidak perlu ada kata lagi yang pantas keluar dari bibirku selain menciuminya.
Tak lama kemudian, aku membopongnya ke kamar. Kami berbaring di ranjang, memadu cinta hingga tengah malam. Kami berdua terbangun bersama-sama paginya. Berdiri berduaan di bawah pancuran, saling mengecup dan tertawa. Sulit rasanya mengingat mengapa selama ini kami berjuang begitu keras dan lama untuk mempertahankan keegoisan dan harga diri masing-masing. Padahal kami saling mengetaui bahwa kami lebih kuat dari sebuah magnet yang berbeda kutub. Saling tarik menarik dan itu sudah sebuah hukum alam.
Aku mengusap lembut kelopak mata Sakura yang terpejam. Aliran air dari pancuran melewati helaian rambutnya yang berwarna sangat unik. Aku merengkuhnya, menenggelamkan kepalaku di perpotongan bahu dan lehernya.
"Tunggulah aku okay?! Paling lama setaun aku membereskan pekerjaan disini. Akan kuusahakan kurang dari itu. Sampai saat itu. Tunggulah aku…"
Sakura mengangkat kepalaku. Menatapku dengan mata sayu dan memajukan wajahnya. Hidung kami bersentuhan.
"Kau akan pulang?"
"Ya. Aku pulang…"
.
.
.
.
.
End
.
.
.
.
.
Author's note
Hai…maaf lama ya… dan tetiba end… hehehe sebenarnya sudah kuputuskan untuk membuat 10 chapter (including prolog dan epilog) jadi masih ada epilog setelah ini…
Maaf jika banyak pihak yang merasa tidak puas dengan cerita ini ya. Tapi aku sudah berusaha… Ini fic ke 2 ku dan kalian sudah sangat baik memberikan review, love serta follow cerita ini… Terimakasih banyak atas dukungannya.
Dan seperti biasa. Epilog akan ada ehm ehm fufufu… aku akan berusaha agar bagus… hehehe
