Title : Rhythm of the Heart

Chapter : 9

Author : Daiichi

Rating : M

Genre : Yaoi (bagi yg gak suka yaoi gak perlu memaksakan diri membaca :D) incest, Fluff, Angst, crack pair

Fandom : Saga X Uruha, the GazettE, Alice Nine, Sugizo, OC, OOC

Disclaimer : They are mine...*ditabok paha Uru*

Note : Bosen aja ma pairing yang udah umum. Gw lagi pengen pairingin 2 swamiku yang sama2 sekseh, jadi dilarang keras protes :D

Jika ada perubahan nama untuk penyesuaian aja ^^;

=0=

"Bau pohon bambu", ucap Saga sambil menghirup pelan udara segar yang bertiup menebarkan bau khas bambu. Senyuman tipis terulas di bibirnya. Sementara matanya terlihat berkaca-kaca.

Saga berdiri dibawah pepohonan bambu sambil mendengarkan alunan nada dedaunan dan gesekan antar dahan yang bergoyang tertiup angin. Ia bisa mencium bau harumnya, dan melihat bagaimana daun-daun bambu itu berguguran seperti jarum-jarum yang meluncur dengan anggun dari atas sana. Meliuk-liuk dengan pelan, kadang vertikal, kadang horisontal, mengikuti arah angin yang menerbangkannya kemudian menghujam ke bumi dengan lembut.

"Takashi, kau harus segera memakai kostum dan make-up. Hayaku! Nanti kalau terlambat kau bisa dimarahi sutradara," teguran Tora membuat Saga tersadar dari lamunan.

"Hmm..wakatta..."

Saga kemudian menuju ruang wardrobe yang berada di belakang bangunan tempat dilakukan syuting. Hari ini tempat syuting berbeda dengan sebelumnya. Saat memasuki ruangan tersebut, Saga mencari-cari seseorang yang mengurusi masalah kostumnya.

"Sugihara-san, ikutlah aku!," kata seorang gadis pada Saga.

"Hai," jawab Saga singkat.

Gadis itu mengajak Saga ke ruangan yang terpisah dari pemain lain. "Duduklah disini! Sementara kau di make-up, aku akan menyiapkan kostummu," katanya lagi.

Tak lama kemudian seorang gadis yang lain mulai bekerja pada wajah dan rambut Saga, sementara gadis itu memilih-milih beberapa baju lalu menyerahkannya pada Saga setelah selesai.

"Ini! Aku akan membantumu memakainya agar lebih cepat", katanya kemudian.

Dengan cekatan gadis itu membantu Saga melepas baju dan mengenakan kostum tanpa sungkan. Saga mengamatinya. Sejak hari pertama syuting, gadis itu selalu bersama Saga, tapi mereka tidak pernah berbicara kecuali hal-hal penting yang berhubungan dengan kostum dan make-up untuk syuting. Itupun hanya sepatah atau dua patah kata. Gadis itu berwajah cantik. Bibir mungil dan mata bulat dengan rambut pendek diatas bahu membingkai wajahnya yang bulat telur.

"Siapa namamu?," tanya Saga.

"Inoue Kawamura. Panggil saja Inoue," gadis itu tersenyum sambil masih merapikan kostum Saga yang terdiri dari beberapa lapis.

"kau sudah lama bekerja seperti ini?"

"Hampir 5 tahun ini. Biasanya kau sangat pendiam. Baru kali ini aku bicara lebih panjang denganmu," gadis itu tersenyum manis.

"Seperti itu. Aku memang jarang berbicara kecuali jika sudah kenal dekat dengan orang tersebut. Ehm..kau boleh memanggilku Takashi," Saga sedikit tersipu karena gadis itu berkata terlalu jujur tentangnya.

"Begitu ya? Hei, sebenarnya aku pernah melihatmu bermain di Teater Nasional Tokyo. Sangat mengagumkan. Aku jadi menyukaimu. Ternyata aslinya kau terlihat lebih tampan hahahaha," Inoue tertawa renyah.

"Hontou ka? Domo arigato," Saga tersenyum tulus. "Apa kau dari Tokyo?," tanya Saga lagi.

"Ie. Sebenarnya aku berasal dari Osaka, cukup dekat dari Kyoto. Tapi sejak lulus SMA aku langsung pindah ke Tokyo mengambil kuliah Desain. Sudah sejak lama aku memimpikan ini," pandangan mata gadis itu berbinar-binar ketika bercerita.

"Oh..."

"nah..selesai! Sempurna...," Inoue memandang puas.

Saga memandang refleksi dirinya di cermin. Ia kini telah mengenakan pakaian khas samurai jaman dahulu.

"Boleh kita foto bersama?," tanya Inoue.

"Tentu..," jawab Saga sambil tersenyum.

"Sugihara-san. Sutradara memanggilmu. Sebentar lagi syuting dimulai," seorang kru film memanggilnya.

"Ah.. aku akan segera kesana," ujar Saga. "Gomen. Aku harus syuting dulu," pamit Saga pada Inoue.

"Baiklah," sahut Inoue maklum. "Takashi-san!," panggilan Inoue membuat Saga menoleh.

"Ya?"

"Ganbatte-yo..," Inoue memberi semangat. Bibir mungilnya mengulas senyum tulus.

"Arigato."

=0=

"Cut! Akting macam apa itu? Ini sudah ke-10 kalinya kita mengulang! Apa kau tidak bisa sedikit serius?," tegur Uruha pada Saga karena tidak puas dengan akting yang ditunjukkan Saga.

"Gomenasai… Kali ini aku akan berusaha sebaik mungkin," pinta sang aktor utama pada sutradara.

Saga berusaha memohon diberi kesempatan. Matanya hanya menatap ke bawah. Sudah dua minggu ini syuting film telah dilaksanakan. Beberapa hari sebelumnya Saga jarang melakukan kesalahan. Tapi entah kenapa hari ini banyak kesalahan yang dilakukannya sehingga membuat Uruha sang sutradara merasa gusar karena harus mengulang pengambilan adegan berkali-kali yang tentu saja menghabiskan waktu dan tenaga.

"Sudahlah, kita break dulu 1 jam. Setelah itu kita lanjutkan lagi," Uruha nampak gusar.

"Takashi..minumlah!," Tora menyerahkan sebotol air mineral pada Saga.

"Arigato," Saga meraih botol minuman itu dan segera meneguknya hingga tinggal setengah.

"Kau harus sedikit relaks. Jangan terlalu tegang," Tora menepuk bahu Saga.

"Hahahaha.. Kau benar. Aku memang sedikit gugup karena ini pertama kalinya berakting di depan kamera." Saga tertawa kecil.

"kau mau kemana?," tanya Tora ketika Saga beranjak menuju ke tempat lain.

"Hanya perlu udara segar. Jangan khawatir aku akan kembali sebelum syuting dimulai," jawab Saga sambil beranjak pergi. Sementara Tora hanya memandangi punggungnya hingga sosok itu menghilang.

Tak lama kemudian Saga sampai di ruangan wardrobe pribadinya. Ia mencari-cari sosok sang penata kostum. Hari ini Saga butuh seseorang untuk menghiburnya. Suasana hatinya sedang buruk. Selama berhari-hari berdekatan dengan Uruha membuatnya tertekan. Wajah yang selalu dirindukannya selama bertahun-tahun ada di depan matanya, namun ia tak dapat menyentuhnya. Semua ini membuatnya merasa sakit.

"hei...bukankah kau seharusnya syuting?," wajah Inoue keheranan.

"Ya..tapi sedang break selama 1 jam," Saga melangkah masuk lalu duduk di kursi panjang yang menghadap meja rias.

"Daijobu ka? Wajahmu sedikit pucat," Inoue mendekat lalu menyentuh pipi Saga.

" desu. Sedikit lelah saja," Saga memijit-mijit pelipisnya.

"Kuambilkan minum," ujar gadis bernama Inoue itu.

"Aku sudah minum," sahut Saga pelan sambil tetap memijit pelipisnya.

"kalau begitu obat?," tawar Inoue lagi.

"Arigato. Kau baik sekali. Temani aku saja." Saga menahan Inoue dan menarik tubuhnya mendekat lalu memeluk pinggang rampingnya.

"Takashi….," ucap Inoue lirih.

Inoue lalu melepas pelukan Saga. Menatap wajah itu dengan intens. Terlihat rapuh dan polos. Gadis itu bisa melihat kesedihan di kedua bola mata Saga. Tanpa sadar Inoue mendekatkan wajahnya. Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Saga yang membuat pemuda itu sedikit terkejut.

"Gomenasai aku hanya... hanya ingin menghiburmu saja," sahut Inoue salah tingkah.

Sebenarnya Inoue hanya ingin memberi semangat pada pemuda di hadapannya karena sosok itu tampak rapuh. Ia tak memberikan ciuman yang disertai nafsu, hanya rasa kasih sayang saja.

Tapi entah apa yang sekarang berkecamuk di dalam pikiran Saga. Tanpa berpikir lebih jernih lagi, Saga kemudian meraih wajah Inoue. Menyentuhkan bibirnya dengan bibir gadis itu. Ia kemudian menarik tubuh mungil Inoue hingga terjatuh di pangkuannya, menempelkan sekali lagi bibirnya pada bibir ranum gadis itu dan menekan tengkuknya untuk lebih memperdalam lagi ciuman mereka tanpa memberi kesempatan Inoue untuk berpikir lagi karena kecupan itu menjadi ciuman yang mendalam penuh nafsu, dan sentuhan jemari Saga telah menyusuri tubuh indah yang masih terbalut pakaian itu. Sentuhan itu bagaikan aliran listrik yang menjalari setiap jengkal nadi. Membiarkan tubuhnya menerima setiap desiran hasrat yang semakin tak terbendung ketika Saga menidurkan dirinya diatas kursi panjang, menelanjanginya, menyentuh kulitnya dan memasuki tubuhnya hingga kedua insan tersebut mencapai klimaks.

=0=

Saat Saga melewatinya, Uruha menyadari hal itu. Ia memperhatikan kemana Saga pergi. Setelah sosok Saga tak tampak lagi, Uruha pun mengikutinya. Saga tak pernah lagi mengajaknya berbicara semenjak malam dimana ia datang ke rumah Uruha. Kecuali urusan pekerjaan, Saga menjauh, bahkan tak pernah menatapnya.

'Apa yang dilakukannya disini? Bukankah ini ruangan wardrobe dan make-up?,' Uruha bertanya-tanya dalam hati.

Laki-laki berambut pirang madu itu menghentikan langkahnya di depan pintu tempat Saga masuk. Walau pintu ruangan tu tidak terlalu rapat ditutup tapi Uruha tak begitu jelas mendengar percakapan di dalam. Tapi tak lama kemudian terdengar suara-suara yang membuatnya berpikiran lain. Mata Uruha membulat lebar ketika melihat yang terjadi di dalam sana. Ia melihat Saga dan Inoue yang sedang bercumbu dengan penuh hasrat. Selama beberapa lama Uruha hanya bisa terpaku. Serasa bagai ribuan jarum yang menusuk ke jantungnya. Begitulah yang dirasakan saat itu. Dengan langkah tergesa bahkan setengah berlari, ia kemudian meninggalkan tempat tersebut.

"Takashima-san, kau kenapa? Wajahmu pucat begitu," tanya seorang laki-laki berlesung pipi yang merupakan asisten sutradara.

Uruha tidak menjawab. Tangannya gemetar ketika memegang botol air mineral. Uruha lupa bahwa dirinya tak boleh melakukan aktivitas berat atau akan mengganggu kerja jantungnya. Karena terlalu shock, ia tadi berlari.

"Kouyou...," laki-laki berlesung pipi yang bernama Kai itu memanggil namanya ketika Uruha akhinya terduduk lemas dan tak sadarkan diri.

=0=

'Uruha, cepatlah bangun...,' mohon Saga dalam hati. Sudah seharian ini Uruha belum juga sadarkan diri.

Saga memandang lekat tubuh Uruha yang terbaring tak berdaya di sebuah kamar Rumah Sakit. Meskipun Saga ingin memeluk dan memegang tangan Uruha, tapi pada kenyataannya ia hanya bisa memandang dari balik pintu karena di samping Uruha telah ada Ryoko yang menunggu dengan setia.

Betapapun sakitnya karena perasaan cinta pada Uruha, namun Saga merasa lebih sakit saat ini ketika melihat orang yang dicintainya menderita. Ia tahu sejak lahir Uruha menderita sakit jantung bawaan. Sebuah keajaiban jika Uruha mampu bertahan hidup hingga sekarang. Bahkan dokter mengatakan bahwa Uruha memang memerlukan donor jantung jika ingin hidup lebih lama lagi.

"Takashi, ayo kita pulang," panggilan Tora menyadarkan Saga dari lamunan.

Saga menoleh pada Tora dan mengangguk lemah lalu mengikutinya keluar dari Rumah Sakit.

"Apa dia orang itu?," tanya Tora sambil berjalan beriringan dengan Saga.

"hah?," Saga sdikit tersentak dengan pertanyaan Tora.

"Orang yang selalu kau tunggu", Tora menghentikan langkahnya dan menatap tajam kearah Saga.

"Kau bicara apa?," Saga sedikit salah tingkah. Ia tak mengerti bagaimana Tora bisa mengetahuinya.

"Setelah bertemu dia, sikapmu menjadi aneh. Caramu memandangnya. Matamu tak bisa berbohong, Takashi. Walaupun kau pura-pura tak mengenal dia atau tak menunjukkan ekspresimu, tapi sikapmu yang seperti ini semakin memperjelas perasaanmu. Kau seperti orang mau mati saja saat melihatnya tak sadarkan diri."

Saga terdiam. Ia kemudian melangkah pergi mendahului Tora.

"aku benar bukan?," Tora berusaha mengejar Saga dan menghentikan langkahnya.

"Bisakah kau biarkan aku sendiri?," Saga menatap kosong kearah Tora.

"Gomenasai..," Tora akhirnya melepaskan tangan Saga dan membiarkannya pergi.

TBC