.

ANYEONG YEOROBEUN

HOPE YOU ENJOY TO READ IT

NO FLAME | NO BASHING | PLEASE COMMENT

.

Title

Fifty Shade of Grey 9

Length

N - chapter

Rating

PG-18 (M)

Genre

ROMANCE, ANGST, SMUT, YAOI, BOYXBOY

(DON'T LIKE, DON'T READ)

Author

RUKA17

Main Cast

JUNG DAEHYUN, YOO YOUNGJAE

Disclaimer

THIS FANFICTION IS MINE!

Warning

DIRTY TALK! Tidak patut dicontoh!

Bukan bacaan untuk bocah. Ini serius! Under 18 must be not read it!

.

.

.

.

THE BEGINING

Backsound : The Scientist - Coldplay

.

.

.

Dia sudah pulang. Eomma tertidur dan aku melihat ia mabuk lagi. Aku bersembunyi dan meringkuk kecil di bawah meja kayu di dapur. Melalui sela-sela jemariku, aku dapat melihat eomma. Ia tertidur di sofa. Tangannya di atas karpet hijau yang lengket, dan dia memakai sepatu bot besarnya dengan gesper mengkilap dan berdiri diatas eomma sambil berteriak padanya. Dia memukul eomma dengan ikat pinggangnya.

"Bangun! Bangun! Kau perempuan jalang sialan. Kau perempuan jalang sialan. Kau perempuan jalang sialan. Kau perempuan jalang sialan. Kau perempuan jalang sialan. Kau perempuan jalang sialan."Eomma membuat suara terisak-isak.

Berhenti. Tolong berhenti. Eomma sama sekali tidak menjerit. Eomma meringkuk kecil. Aku menaruh jari-jariku di telingaku, dan menutup mataku. Suara itu berhenti. Dia berbalik dan aku bisa melihat sepatu botnya saat dia melangkah menuju ke dapur. Dia masih memegang ikat pinggang. Dia mencoba untuk menemukanku. Dia membungkukkan badan dan menyeringai. Dia bau dan itu sangat memuakkan. Bau rokok dan minuman.

"Di situ kau ternyata, bajingan cilik."

.

.

.

Sebuah ratapan dingin membangunkanku. Ya tuhan! Aku bersimbah keringat dan jantungku berdebar sangat kencang. Apa-apaan ini? Aku duduk tegak di tempat tidur dan menaruh kepala di tanganku. Ia kembali. Suara berisik itu ternyata aku sendiri. Aku mengambil napas dalam memantapkan diri, mencoba untuk menenangkan pikiranku dan kembali untuk beristirahat.

.

Tiba-tiba aku mendengar suara klik pintu dibuka. Oh tidak dia ke sini. Dia menempatkan sesuatu di atas meja di samping tempat tidur, dan tempat tidurku terasa bergerak saat ia berbaring di belakangku. Dia mengambil nafas, dan aku ingin menarik diri darinya, pindah ke sisi lain tempat tidur, tapi aku seperti lumpuh. Aku tak bisa bergerak dan berbaring kaku, tak bisa digerakkan sama sekali.

"Jangan menolakku, Youngjae-ah, kumohon," bisiknya. Dengan lembut, dia menarikku ke dalam pelukannya, membenamkan hidungnya di rambutku, mencium leherku.

"Jangan membenciku," dia bernafas lembut di kulitku, suaranya terdengar sangat sedih. Hatiku membeku dan menangis terisak. Dia terus menciumku dengan lembut, penuh kasih, tapi aku tetap menjaga jarak dan waspada.

Kami berbaring bersama seperti ini, tidak berkata apa-apa hingga lama. Dia hanya memelukku, dan

perlahan-lahan aku menjadi tenang dan berhenti terisak. Fajar telah datang, dan cahaya lembut terang menyambut pagi, dan kami masih berbaring dengan tenang.

"Aku membawakan obat untukmu," katanya setelah lama dalam diam.

Aku berbalik sangat pelan-pelan dalam pelukannya hingga aku bisa berhadapan dengannya. Kepalaku

bertumpu di lengannya. Matanya abu-abu keras dan hati-hati.

Aku menatap wajah yang tampan. Dia memberi jarak, tapi matanya terus menatapku, hampir tidak berkedip. Oh, dia terlihat begitu mendebarkan. Dalam waktu singkat, dia menjadi begitu terlihat sangat sayang padaku. Aku mengulurkan tangan, membelai pipinya dan menjalankan ujung jariku ke dagunya. Dia menutup matanya dan sedikit menghembuskan napas.

"Maafkan aku," bisikku.

Dia membuka matanya dan menatapku bingung.

"Untuk apa?"

"Untuk apa yang sudah aku katakan."

"Kau tak mengatakan apapun yang tak aku tahu." Dan matanya melunak lega. "Maaf aku menyakitimu."

Aku mengangkat bahuku. "Aku yang minta." Dan sekarang aku tahu. Aku menelan ludah. Ini dia. Aku perlu mengatakan bagianku. "Kupikir aku tak bisa menjadi segalanya seperti yang kau inginkan," bisikku. Matanya melebar sedikit dan ia berkedip, ekspresi ketakutan kembali.

"Kau adalah segalanya yang aku inginkan." ujarnya

Apa maksudnya?

"Aku tak paham. Aku bukan seorang yang patuh, dan kau pasti sangat yakin bahwa aku tak akan membiarkanmu melakukan itu lagi padaku. Dan itu sesuatu yang kau butuhkan, bukankah itu benar?"

Dia menutup matanya lagi, dan aku bisa melihat segudang emosi melintasi wajahnya. Saat ia membuka

matanya kembali, ekspresinya suram. Oh tidak.

"Kau benar. Aku seharusnya membiarkanmu pergi. Aku tak baik untukmu."

Kulit kepalaku seperti ditusuk-tusuk karena setiap helai rambut di tubuhku berdiri minta perhatian,

dan dunia seperti jatuh menjauhiku, meninggalkan semuanya, menyisakan lubang yang dalam bagiku.

Oh tidak.

"Aku tak ingin pergi," bisikku. Sialan - ini dia. Seperti bermain poker, bayar atau mainkan. Air mata keluar dari mataku sekali lagi.

"Aku juga tak ingin kau pergi," ia berbisik, sedikit menggeram. Dia meraihku dan dengan lembut membelai pipiku dan mengusap air mataku dengan ibu jarinya. "Aku menjadi hidup sejak aku bertemu denganmu." Ibu jarinya menelusuri kontur bibir bawahku.

"Aku juga," bisikku. "Aku jatuh cinta padamu, Daehyun-ah." Matanya melebar lagi, tapi kali ini, terkejut, benar-benar ketakutan.

"Tidak," dia bernafas seolah aku mendorong udara keluar darinya. Oh tidak. "Kau tak bisa mencintaiku, Youngjae. Tidak ... ini salah."

Dia ketakutan.

"Salah? Kenapa salah?"

"Lihat lah dirimu. Aku tak bisa membuatmu bahagia." Suaranya sedih.

"Tapi kau membuatku bahagia." Aku mengernyit.

"Tidak pada saat ini, tidak melakukan apa yang ingin aku lakukan."

Ya ampun. Inilah faktanya. Inilah intinya ketidakcocokan dan semua yang ada didalam pikirannya.

"Kita tak akan bisa melewati itu, ya kan?" Bisikku, kepalaku berdenyut ketakutan.

Dia menggeleng muram. Aku menutup mataku. Aku tak sanggup melihatnya.

"Yah ... lebih baik aku pergi," bisikku, mengernyit saat aku duduk.

"Tidak, jangan pergi." Suaranya seperti panik.

"Tak ada gunanya aku tinggal." Tiba-tiba, aku merasa lelah, benar-benar kelelahan, dan aku ingin pergi sekarang. Aku turun dari tempat tidur, menahan sakit disekujur badanku dan ia mengikutiku.

"Aku akan berpakaian. Aku ingin sedikit privasi," kataku, suaraku datar dan kosong saat aku meninggalkan dia berdiri di kamar tidur.

Aku menuju ke lantai bawah, melirik ruangan besar, berpikir bagaimana hanya beberapa jam sebelumnya

aku menyandarkan kepala di bahunya saat ia memainkan piano. Begitu banyak yang terjadi sejak itu.

Aku membuka mataku dan melihat sekilas sejauh mana pikirannya dan sekarang aku tahu dia tidak sanggup mencintai seseorang, tidak mampu untuk memberi atau menerima cinta. Ketakutan terburukku kini telah terwujud. Dan anehnya, itu sangat melegakan. Rasanya sangat menyakitkan hingga aku menolak untuk mengakuinya. Aku merasa mati rasa.

Aku mandi, setelah itu aku mengeringkan diri dengan cepat kemudian berpakaian di kamar mandi. Aku mengambil jeansku dan t-shirt dari koper kecilku. Jeansku terasa melukai pantatku, tapi terus terang, aku menyambut rasa sakit itu untuk mengalihkan pikiranku dari patah hatiku. Aku membungkuk untuk menutup koperku, dan bungkusan hadiah untuk Daehyun menarik perhatianku. Pesawat model kit glider Blahnik L23, aku harus merakit dulu. Sudah lama aku ingin memberikannya hadiah karena ia pasti tidak akan mau hadiah-hadiah yang diberikannya padaku selama ini dibayar. Air mataku mengancam. Oh tidak. Seharusnya aku bahagia, lepas darinya karena sudah tidak ada lagi harapan lebih untukku.

Aku mengetahui bahwa aku perlu memberikan ini padanya. Segera, aku merobek sepotong kertas kecil dari notebookku, buru-buru menulis catatan untuknya, dan membiarkannya di atas kotak.

.

Aku akan selalu mengingat saat-saat bahagia kita bersama.

.

.

.

.

.

Aku berhasil bertahan selama seminggu setelah berpisah dari pemilik Jung Corp, Jung Daehyun, dan sekarang hari pertamaku kerja. Ini bisa mengalihkan perhatianku. Waktu bergerak cepat tak jelas oleh banyaknya wajah baru dan pekerjaan yang harus dikerjakan. Kim Chanyeol, senior sekaligus atasanku, dia tersenyum padaku, mata haselnya berbinar, saat dia membungkuk di mejaku. "Kerja yang sangat bagus, Youngjae. Kupikir kita akan menjadi tim yang hebat." Entah bagaimana, aku berhasil melengkungkan bibirku keatas, menyerupai senyuman. "Aku akan pulang jika kau tidak keberatan," bisikku. "Tentu saja, ini sudah jam 20.30. Sampai bertemu besok." "Selamat malam, Chanyeol-hyung." "Selamat malam, Youngjae." Aku mengambil tas, memakai jaket dan berjalan menuju pintu keluar.

Diluar aku menghirup dalam-dalam udara sore kota Soul. Aku menghirup napas panjang, tidak langsung mengisi kekosongan dalam dadaku, kekosongan yang sudah ada sejak seminggu yang lalu, rasa hampa ini sangat menyakitkan, mengingatkan rasa kehilanganku. Aku berjalan menuju halte bus dengan menunduk, menatap kakiku dan merenungkan mobil lama kesayanganku ... atau Audi merah? Aku segera menutup pikiran itu. Tidak. Jangan berpikir tentang dia. Tentu saja, aku bisa membeli mobil, mobil baru yang bagus. Aku curiga dia terlalu dermawan dengan pembayarannya, dan pikiran itu meninggalkan rasa pahit dimulutku, tapi aku menolaknya dan mencoba untuk menjaga pikiranku yang mati rasa dan mungkin juga kosong. Aku tak boleh memikirkan dia. Aku tak ingin menangis lagi, apalagi di jalan.

Apartemen kosong. Aku merindukan Kyungsoo, dan aku membayangkan dia berbaring di pantai Hawaii sambil minum koktail dingin. Ya, dia sedang berlibur disana. Aku menyalakan televisi layar datar, jadi ada suara untuk mengisi keheningan dan memberikan suasana bahwa aku ditemani, tapi aku tak mendengar atau menontonnya. Aku duduk dan menatap kosong pada dinding. Aku mati rasa. Aku tidak merasakan apa-apa selain rasa sakit. Berapa lama aku harus menahan rasa ini? Bel pintu mengejutkanku dari kesedihan, dan jantungku berdebar-debar. Siapa itu? Aku menekan interkom. "Pengiriman untuk tuan Yoo Youngjae." Sebuah suara seperti bosan menjawab, dan rasa kecewa langsung pecah dalam diriku. Dengan lesu aku menuruni tangga dan menemukan seorang pemuda mengunyah permen karetnya dengan berisik, membawa kotak karton yang besar, dan bersandar di pintu depan. Aku menandatangani paketnya dan membawa ke atas. Kotaknya sangat besar yang membuatku heran. Di dalamnya terdapat dua lusin mawar putih dan sebuah kartu.

.

Selamat atas hari pertamamu di tempat kerja.

Aku harap berjalan dengan lancar.

Dan terima kasih untuk glidernya. Itu sangat bijaksana.

Dengan bangga aku meletakkan di atas mejaku.

Jung Daehyun

.

Aku terpaku menatap kartu yang diketik, lubang di dadaku semakin membesar. Tak diragukan lagi, pasti asistennya yang mengirim paket ini. Mungkin sedikit sekali campur tangan Daehyun untuk urusan ini. Terlalu menyakitkan untuk dipikirkan. Aku melihat mawar itu, mereka sangat indah, dan aku tak sampai hati membuang ke tempat sampah. Dengan patuh, aku berjalan ke dapur untuk mencari sebuah vas. Dan kembali terbentuk sebuah pola: bangun, kerja, menangis, dan tidur. Yah, berusaha untuk tidur. Aku bahkan tidak bisa melarikan diri darinya dalam mimpiku. Mata abu-abunya yang membakar, rasa kehilangannya, rambutnya yang mengkilap dan terang, semua menghantuiku. Dan musik, begitu banyak musik, aku tak tahan untuk mendengar suara musik. Aku berhati-hati untuk menghindari semua jenis musik. Bahkan musik iklan membuatku bergidik. Aku tidak bicara dengan siapapun, bahkan ibuku atau kyungsoo. Aku tidak punya kemampuan untuk mengobrol sekarang. Tidak, aku tak ingin satupun mengetahuinya. Aku ingin pergi ke pulau terpencil. Sebuah daratan yang rusak akibat dilanda perang di mana tak ada tumbuhan dan cakrawalanya suram. Ya, itulah aku. Aku hanya bisa berinteraksi secara profesional di tempat kerja, tapi itu saja. Jika aku bicara dengan ibuku, aku tahu, aku akan hancur lebih jauh lagi dan aku tidak punya apapun yang tersisa untuk dihancurkan. Aku merasa kesulitan untuk makan. Saat makan siang, aku hanya bisa minum secangkir yoghurt, dan itulah makanan pertama kali yang kumakan sejak 3 hari yang lalu. Aku bertahan dengan meminum kopi latte dan cola. Kafein yang mengisi penuh perutku, tapi itu membuatku senang.

Aku duduk dan mulai memilah tumpukan surat yang ditujukan untuk atasanku, dan aku senang bisa mengalihkan perhatian dengan pekerjaan sepele ini. E-mail-ku berbunyi, dan aku cepat-cepat memeriksa untuk melihat itu dari siapa. Ya ampun. Sebuah e-mail dari Daehyun. Oh jangan, jangan lagi.

.

Dari: Jung Daehyun

Perihal: Besok

Untuk: Yoo Youngjae

Maaf mengganggumu. Apa kau sudah menerima bunga dariku? Aku ingat bahwa besok pembukaan galeri temanmu, dan aku yakin kau belum sempat membeli mobil baru, dan yang ku tahu itu adalah perjalanan yang sangat jauh dari Seoul ke Busan. Aku merasa sangat senang untuk bisa mengantarmu. Jika kau mau. Kabari aku.

Jung Daehyun CEO, Jung Enterprises Holdings Inc.

.

Air mata berlinang di mataku. Pamerannya Jaebum. Ya ampun. Aku sudah lupa semua tentang itu, dan aku berjanji padanya bahwa aku akan datang. Sial, Daehyun benar, Naik apa aku ke sana? Aku memegang erat dahiku. Mengapa Jaebum tidak menelepon? Mencoba memikirkan hal itu, mengapa tak ada seorangpun yang menelepon? Aku begitu pelupa, aku tak menyadari bahwa ponselku tidak berbunyi. Sial! Aku seperti orang idiot! Sial. Ponsel lamaku tertinggal diapartement Daehyun. Dia pasti sudah menerima panggilan teleponku kecuali dia sudah membuang ponselku. Seketika aku kembali perpikir. Bisakah aku bertemu dengannya lagi? Bisakah aku menanggung rasa sakit ini? Apa aku ingin melihatnya lagi? Aku memejamkan mata dan memiringkan kepalaku kembali karena kesedihan dan kerinduan yang menusukku. Tentu saja aku menginginkannya. Mungkin, mungkin aku bisa mengatakan padanya bahwa aku sudah berubah pikiran. Tidak, tidak, tidak. Aku tak bisa bersama seseorang yang memperoleh kesenangan dengan menyakitiku, seseorang yang tak bisa mencintaiku. Kenangan menyiksa tiba-tiba masuk ke dalam pikiranku – gliding, pegangan tangan, ciuman di bathup, kelembutannya, humornya, dan kegelapannya, geramannya, tatapan seksinya. Aku merindukannya. Sudah seminggu penuh penderitaan terasa seperti sangat lama. Aku memeluk tubuhku sendiri, memeluk diriku erat-erat, menahan diriku bersama-sama. Aku merindukannya. Aku benar-benar merindukannya. Aku mencintainya. Sangat sederhana. Aku menangis sampai tertidur di malam hari, berharap aku tidak meninggalkannya, berharap dia bisa berubah, berharap bahwa kami bersama-sama. Berapa lama perasaan yang luar biasa mengerikan ini berakhir? Aku merasa seperti di neraka!

Yoo Youmgjae, kau harus kuat, tapi aku ingin pergi ke pemeran Jaebum dan dalam hati, sifat masokis di dalam diriku ingin melihat Daehyun. Mengambil napas dalam-dalam, aku kembali membuka laptopku.

.

Dari: Yoo Youngjae

Perihal: Besok

Untuk: Jung Daehyun

Hai Hyung. Terima kasih untuk bunganya, bunganya sangat indah. Ya, aku sangat senang menerima tawaranmu. Terima kasih.

.

Aku segera menghubungi Jaebum. "Hai, Jaebum-ah."

"Halo, orang asing." Nada suaranya begitu hangat dan ramah hampir mendorongku menangis lagi.

"Aku tidak bisa bicara lama. Besok jam berapa aku harus ada di sana untuk pameranmu?"

"Kau masih mau datang?" Dia terdengar bersemangat.

"Ya, tentu saja." Aku tersenyum, senyum tulus pertamaku dalam tujuh hari saat aku membayangkan senyumnya yang lebar.

"Tujuh lewat tiga puluh."

"Sampai ketemu lagi. Selamat tinggal, Jaebum."

"Bye, Youngjae."

.

Dari: Jung Daehyun

Perihal: Besok

Untuk: Yoo Youngjae

Jam berapa aku harus menjemputmu?

Jung Daehyun CEO, Jung Enterprises Holdings Inc

.

Dari: Yoo Youngjae

Perihal: Besok

Untuk: Jung Daehyun

Acara Jaebum dimulai pukul 7:30. Menurutmu baiknya jam berapa?

.

Dari: Jung Daehyun

Perihal: Besok

Untuk: Yoo Youngjae

Busan agak jauh. Aku akan menjemputmu jam 17.30. Aku tak sabar bertemu denganmu lagi.

Jung Daehyun CEO, Grey Enterprises Holdings Inc

.

Dari: Yoo Youngjae

Perihal:

Untuk: Jung Daehyun

Sampai ketemu lagi.

.

Oh. Aku akan bertemu Daehyun, dan untuk pertama kalinya setelah tujuh hari ini, sebagian semangatku terangkat dan aku membiarkan diriku ingin tahu bagaimana dia sekarang. Apakah dia merindukanku? Mungkin tidak seperti aku merindukannya. Apakah dia sudah menemukan seorang submisif baru dari mana pun mereka berasal? Pikiran itu sangat menyakitkan, aku segera menghentikannya. Aku melihat tumpukan surat, aku perlu memilahnya untuk atasanku. Aku mencoba untuk mendorong keluar bayangan Daehyun dari pikiranku sekali lagi. Malam ini di tempat tidur, aku berguling ke kanan ke kiri, mencoba untuk tidur. Ini pertama kalinya aku tidur tidak menangis. Dalam benakku, aku membayangkan wajah Daehyun terakhir kali aku melihatnya saat aku meninggalkan apartemennya. Ekspresinya yang tersiksa menghantuiku. Aku ingat bahwa dia tak ingin aku pergi, sangat aneh. Mengapa aku harus tinggal ketika masalahnya sudah mencapai kebuntuan? Kami masing-masing berputar-putar dengan masalah kita sendiri. Ketakutanku terhadap hukuman, tentang rasa takutnya. Apa? Apa rasa takutnya? Apakah itu soal Cinta?

Aku berbaring miring, memeluk bantalku, penuh dengan kesedihan. Dia pikir dia tak layak untuk dicintai. Mengapa dia merasa begitu? Apa ada hubungannya dengan cara pengasuhan ibunya? Pikiran itu menggangguku sampai dini hari hingga akhirnya aku ketiduran, gelisah karena kelelahan.

Hari yang menjemukan dan sangat menjemukan. Aku memutuskan akan belanja pakaian saat gaji pertamaku keluar. Pakaian yang kupakai tampak lebih longgar, tapi aku pura-pura tidak memperhatikan. Akhirnya, tepat jam lima lewat tiga puluh, dan aku mengambil jaket, mencoba untuk meredam kegelisahanku. Aku akan bertemu dengannya! "Apa kau punya kencan malam ini?" Tanya Chanyeol saat berjalan melewati mejaku dalam perjalanan keluar. "Ya. Tidak. Tidak juga." Dia menaikan alisnya, terlihat jelas sangat berminat. "Pacar?" Mukaku memerah. "Tidak, hanya teman. Mantan pacar." "Mungkin besok kau mau datang untuk minum sepulang kerja. Kau memiliki minggu pertama yang hebat, youngjae. Kita harus merayakannya." Dia tersenyum dan emosi tak kukenal terlihat di wajahnya, membuatku gelisah. Menempatkan tangan di sakunya, dia keluar melalui pintu ganda. Aku mengerutkan kening mundur di belakangnya. Minum dengan bos, apa itu ide yang bagus? Aku menggelengkan kepala. Aku punya malam yang harus aku lewati dengan Daehyun dulu. Bagaimana aku akan melakukan ini? Aku bergegas ke kamar kecil untuk merapikan lagi disaat menit-menit terakhir. Di cermin besar yang menempel dinding, aku menarik napas panjang, mengamati wajahku dengan teliti. Seperti biasa mukaku pucat, lingkaran hitam mengelilingi mataku. Aku terlihat kurus, menyeramkan. Astaga, Aku berharap aku tahu bagaimana memperbaiki wajahku. Aku mencoba memakai pelembab dan mencubit pipiku, berharap membawa sedikit warna merah. Merapikan rambutku agar terlihat lebih rapi, aku menarik napas panjang. Aku harus bisa melakukan ini. Dengan gugup aku berjalan melalui lobi dengan tersenyum dan melambaikan tangan pada Hyosung di meja resepsionis. Aku pikir dia dan aku bisa menjadi teman.

Chanyeol sedang bicara dengan Jieun saat aku menuju pintu. Tersenyum lebar, dia bergegas membukakan pintu untukku. "Silakan," bisiknya. "Terima kasih." Aku tersenyum. Di tepi jalan, Jongup asisten pribadi sekaligus sahabat dari pemilik Jung Corp sedang menunggu. Dia membuka pintu belakang mobil. Aku melirik ragu-ragu pada Chanyeol yang mengikutiku keluar. Dia memandang ke Audi SUV dengan kaget. Aku berbalik dan naik ke belakang, dan di sana duduk - Jung Daehyun - mengenakan setelan abu-abunya, tanpa dasi, kemeja putih dengan kerah terbuka. Mata abu-abunya bercahaya. Mulutku kering. Dia terlihat sangat tampan kecuali dia cemberut padaku. Oh tidak! "Kapan terakhir kali kau makan?" Bentaknya saat Jongup menutup pintu belakang. Sialan. "Halo, Daehyun-hyung. Ya, senang bertemu denganmu juga."

"Aku tak ingin mendengar mulut pintarmu sekarang. Jawab aku." Matanya menyala. Sialan. "Mm...Aku minum yogurt saat makan siang. Oh dan pisang." "Kapan terakhir kali kau makan dengan layak?" Tanya dia dengan masam. Jongup masuk dan duduk di kursi pengemudi, menyalakan mesin mobil, dan mengemudikan menuju jalan raya. Aku melirik ke atas dan Chanyeol melambai padaku, meskipun aku tidak tahu apa dia bisa melihatku melalui kaca gelap. Aku balas melambai. "Siapa itu?" Bentak Daehyun. "Bosku." Aku mengintip ke arah pria tampan di sampingku, dan mulutnya ditekan menjadi garis keras. "Nah? Makan terakhirmu?" "Hyung, sebenarnya ini bukan urusanmu," bisikku, merasa sangat berani.

"Apa pun yang kau lakukan itu jadi urusanku. Katakan padaku."

Tidak, itu bukan urusanmu. Aku merintih karena frustrasi, memutar mataku keatas, dan Daehyun menyipitkan matanya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku ingin tertawa. Aku berusaha keras untuk menahan tawaku. Wajah Daehyun melembut. Aku berjuang menjaga wajahku tetap datar dan aku melihat jejak senyum dibibirnya yang terukir sangat indah. "Yah...katakan padaku." Ia bertanya, suaranya lebih lembut.

"Pasta bologanaise, hari yang lalu," bisikku. Dia menutup matanya, wajahnya seperti marah dan mungkin juga menyesal. "Aku paham," katanya, suaranya tanpa ekspresi. "Kau terlihat seperti kehilangan lima pound, mungkin lebih sejak saat itu. Tolong makan, Youngjae-ah," tegurnya. Aku menatap jari tersimpul di pangkuanku. Mengapa ia selalu membuatku merasa seperti seorang anak kecil yang bersalah? Dia bergeser dan menghadap aku.

"Apa kabar?" Tanya dia, nadanya tetap lembut. Yah, aku benar-benar sial. Aku menelan ludah. "Jika aku menjawab baik-baik saja, aku bohong." Dia menarik napas dengan tajam. "Aku juga," bisiknya, meraih dan menggenggam tanganku. "Aku merindukanmu," tambahnya. Oh tidak. Sentuhannya. "Daehyun-ah, aku-" "Youngjae-ah, kumohon. Kita harus bicara." Aku akan menangis. Tidak. "Daehyun-ah, aku...kumohon...Aku sudah begitu banyak menangis," bisikku, berusaha untuk mengendalikan emosiku supaya stabil. "Oh, sayang, tidak." Dia menarik tanganku, dan tahu-tahu aku sudah berada diatas pangkuannya. Dia memelukku erat, dan mencium rambut. "Aku sangat merindukanmu, Youngjae-ah," dia mengambil nafas. Aku ingin keluar dari pelukannya, untuk menjaga jarak tertentu, tapi tangannya memelukku sangat erat menekan kedadanya. Aku meleleh. Oh, disinilah tempat yang kuinginkan.

Aku menyandarkan kepala padanya, dan dia mencium rambutku, berulang kali. Rasanya seperti pulang ke rumah. Wangi pelembut bajunya, sabun mandi, dan bau favoritku – Jung Daehyun. Untuk sesaat, aku membiarkan khayalanku bahwa semua akan menjadi baik-baik saja, dan itu menenangkan jiwaku yang rusak. Beberapa menit kemudian Jongup memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, meskipun kami masih di dalam kota.

"Ayo"Daehyun bergeserku dari pangkuannya, "kita turun di sini." Apa? "Helipad ada di atas gedung ini."Daehyun memberi penjelasan sambil melirik gedung itu." Jongup membuka pintu dan aku bergeser keluar. Dia memberiku senyuman hangat, seperti senyum seorang teman yang membuatku merasa aman. Aku membalas senyumnya. "Terima kasih, Jongup-ah." Mukaku kembali memerah saat Daehyun mengitari mobil mendekatiku dan menggenggam tanganku. Dia tampak bingung melihat Jongup yang menatap tanpa ekspresi padanya, tak mengungkapkan apapun. "Jam sepuluh?" Kata Daehyun padanya. "Yes, Sir." Daehyun mengangguk, ia berpaling dan menuntunku menuju pintu ganda masuk lobi yang megah. Aku merasa sangat senang dia menggenggamku. Aku merasa tarikan yang sangat akrab. Aku seperti Icarus yang ditarik menuju matahari. Aku sudah terbakar, namun di sinilah aku sekali lagi. Sampai di lift, dia menekan tombol. Aku mengintip ke arahnya, dan dia tersenyum kecil penuh teka-teki. Saat pintu terbuka, ia melepaskan tanganku dan menyuruhku masuk. Pintu menutup dan aku mengambil risiko mengintip kearahnya. Dia melirik ke arahku, mata abu-abunya menyala, dan kami seperti berada di udara, tarikan listrik itu. Sangat jelas. Aku hampir bisa merasakan itu, berdenyut di antara kita, menarik kita bersama. "Oh," aku terkesiap sesaat aku merasa senang dengan intensitas daya tarik primif yang mendalam. "Aku juga merasakan," katanya, matanya berkabut dan intens. Gairah gelap menyatu dan melampaui pangkal pahaku. Ia meremas tanganku dan ibu jarinya mengelus buku-buku jariku, dan semua ototku mengepal erat, nikmat, di dalam diriku. Ya ampun. Bagaimana dia masih bisa melakukan ini padaku? "Kumohon jangan menggigit bibirmu, Youngjae-ah," bisiknya. Aku menatapnya, melepaskan bibirku. Aku menginginkan dia. Di sini, sekarang, di dalam lift. Bagaimana mungkin? "Kau tahu apa pengaruhnya terhadapku," bisiknya. Oh, aku masih mempengaruhinya. Batinku langsung menari-nari setelah dia merajuk selama seminggu.

Tiba-tiba pintu terbuka, menghapus mantra diantara kita, dan kami berada di atap. Anginnya kencang, dan meskipun aku memakai jaket hitam, aku masih merasa kedinginan. Daehyun memeluk bahuku, menarikku ke sisinya, dan kami bergegas menyeberang di mana Angel parkir tepat di tengah helipad dengan baling-baling yang berputar perlahan-lahan. Seorang pria tinggi, pirang, dengan rahangnya persegi dengan setelan gelap melompat keluar dan merunduk, berjalan ke arah kami. Berjabat tangan dengan Daehyun, ia berteriak bersaing dengan suara baling-baling. "Siap berangkat, Sir. Dia milikmu sepenuhnya!" "Semua pemeriksaan sudah dilakukan?" "Yes, Sir." "Kamu akan membawa kembali sekitar jam sembilan lebih tiga puluh menit?" "Yes, Sir." "Jongup menunggumu di depan."

"Terima kasih, Tuan Jung Semoga aman selama penerbangan ke Busan, Tuan." Dia memberi hormat padaku. Tanpa melepaskan aku, Daehyun mengangguk, menunduk kebawah, dan membawaku ke pintu helikopter.

Begitu di dalam helikopter ia mengaitkan dengan kuat harnessku, dengan mudah mengetatkan talinya. Dia menatapku penuh arti dan memberikan senyum rahasia. "Ini akan membuatmu tak bisa bergerak," bisiknya. "Aku harus mengatakan, aku menyukai kau memakai harness ini. Jangan menyentuh apa pun." Mukaku semakin merah padam, dan ia menjalankan jari telunjuknya menuruni pipiku sebelum menyerahkan headsetnya padaku. Aku juga ingin menyentuhmu, tapi kau tak mengijinkanku. Aku cemberut padanya. Selain itu, dia menarik tali erat-erat, aku hampir tak bisa bergerak. Dia duduk di kursinya dan mengikat dirinya sendiri, kemudian dia mulai menjalankan semua prosedur preflight-nya. Dia begitu kompeten. Sangat memikat. Dia memakai headset-nya dan membalik sebuah saklar dan kecepatan baling-baling bertambah cepat, memekakkan telingaku. Berbalik, dia menatap ke arahku. "Siap, sayang?" Suaranya menggema melalui headset. "Ya." Dia menyeringai dengan senyum kekanak-kanakan. Wow aku sudah lama tidak melihat senyum menawan itu.

.

.

.

Akhirnya kami sampai dan turun dari helikopter. Kini kami berada dalam mobil, duduk dalam keheningan saat sopir mengendarai mobil menuju galeri. Aku kembali merasa sangat gelisah. Daehyun tampak tenang dan merenung, terlihat agak gelisah malah, suasana hati kami yang sebelumnya lebih ringan telah hilang. Ada begitu banyak yang ingin aku katakan, tapi perjalanan ini terlalu pendek. Daehyun merenung menatap keluar jendela. "Chanyeol hanya seorang teman," gumamku. Daehyun menoleh dan menatapku, matanya gelap dan berhati-hati, tidak menjawab apa-apa. Bibirnya..oh bibirnya sangat mengganggu, dan tanpa diminta. Aku teringat bibirnya sudah pernah menyentuh seluruh permukaan tubuhku. Kulitku memanas. Dia bergeser di kursinya dan mengerutkan kening.

"Mata yang cantik terlihat menawan di wajahmu, Youngjae-ah. Aku mohon berjanjilah padaku kau akan makan." "Ya, hyung, aku akan makan," aku menjawab spontan, seperti sebuah kata yang sudah basi. "Aku serius." "Apa kau peduli sekarang?" Aku tak bisa menyimpan kebencian keluar dari suaraku. Jujur, kelalaian pria ini yang sudah menempatkanku seperti di dalam neraka selama beberapa hari terakhir. Tidak, itu salah. Aku telah menempatkan diriku sendiri dalam neraka. Tidak. Itu dia. Aku menggeleng, bingung.

"Aku tidak ingin bertengkar denganmu, Youngjae. Aku ingin kau kembali, dan aku ingin kau sehat," katanya lembut. Apa? Apa artinya itu? "Tapi tidak ada yang berubah." Kau masih fifty shades. "Nanti kita akan bicara dalam perjalanan pulang. Kita sudah sampai." Mobil itu berhenti di depan galeri, dan Daehyun keluar, meninggalkan aku terdiam. Dia membuka pintu mobil untukku, dan aku merangkak keluar. "Mengapa kau melakukan itu?" Suaraku lebih keras dari yang kuharapkan. "Lakukan apa?" Daehyun terkejut. "Mengatakan sesuatu seperti itu kemudian berhenti." "Youngjae, kita sudah sampai. Di mana kau ingin kesini. Ayo kita masuk dulu setelah itu kita bisa bicara. Aku tak ingin membuat keributan di jalan."

Aku memerah dan melirik sekeliling. Dia benar. Ini terlalu umum. Aku menekan bibirku bersama-sama saat dia melotot ke arahku. "Oke," gumamku cemberut. Mengambil tanganku, ia membawaku masuk ke dalam gedung. Kami berada dalam gudang yang sudah direnovasi - dinding bata, lantai kayu warna gelap, langit-langit warna putih, dan pipa dicat putih. Tempatnya luas dan modern, beberapa orang sudah berada di dalam galeri, minum anggur dan mengagumi karya Jaebum. Untuk sesaat, masalahku langsung mencair saat aku paham bahwa Jaebum telah mewujudkan mimpinya. Bagus sekali, Jaebum-ah!

"Selamat malam dan selamat datang di acara pembukaan pameran Tuan Im."

Seorang wanita muda mengenakan gaun hitam dengan rambut sangat pendek warna cokelat, lipstik merah terang, dan anting-antingnya besar menyambut kami. Dia memandangku sebentar, lalu menatap Daehyun jauh lebih lama, kemudian berubah kembali memandangku, berkedip dengan muka memerah. Keningku berkerut. Dia milikku atau pernah jadi milikku? Aku berusaha keras untuk tidak cemberut padanya. Saat matanya kembali fokus, ia berkedip lagi. "Oh, ternyata kau, Youngjae. Kami ingin kau juga mengambil semua ini." Sambil menyeringai, dia memberiku brosur dan mengarahkan aku ke sebuah meja yang dipenuhi dengan minuman dan makanan ringan. Bagaimana dia tahu namaku? "Kau kenal dia?" Daehyun mengerutkan kening. Aku menggeleng, sama-sama bingung. Dia mengangkat bahu, bingung. "Apa yang ingin kau minum?" "Aku ingin segelas anggur putih, terima kasih." Alisnya mengkerut, tapi ia tidak komentar dan berjalan menuju bar.

"Youngjae-ah!" Jaebum datang melewati kerumunan orang-orang. Ya ampun! Dia mengenakan jas. Dia terlihat tampan dan tersenyum padaku. Dia memelukku dengan keras. Dan semua itu bisa aku lakukan, jangan sampai menangis. Temanku, satu-satunya temanku disaat Kyungsoo sedang pergi. Air mata menggenang di mataku. "Youngjae, aku sangat senang kau bisa datang," bisiknya di telingaku, kemudian berhenti sebentar dan tiba-tiba melepas pelukannya, menatapku sambil tetap memegang bahuku. "Apa?" "Hei, apa kamu oke? Kau terlihat baik, aneh. Oh Tuhan, apa kau kehilangan berat badanmu?" Aku berkedip menahan tangisku. "Jaebum, aku baik-baik saja. Aku sangat senang bertemu denganmu." Sial bukan hanya dia. "Selamat atas pameranmu." Suaraku agak ragu-ragu saat aku melihat kepeduliannya terukir di wajahnya yang familiar itu, tapi aku harus bisa menahan diriku. "Naik apa kau bisa sampai ke sini?" Tanya dia. "Daehyun mengantarku," kataku, tiba-tiba gelisah.

"Oh." wajah Jaebum langsung berubah dan dia melepasku. "Dimana dia?" Ekspresinya menjadi gelap. "Di sana, sedang mengambil minuman." Aku mengangguk ke arah Daehyun dan melihat dia berbasa-basi dengan seseorang yang sedang mengantri. Daehyun menatapku saat aku melihatnya dan mata kami langsung saling mengunci. Dan dalam waktu yang singkat, aku merasa lumpuh, menatap pria tampan, seperti mustahil menatap padaku dengan beberapa emosi tak bisa diduga. Tatapannya panas, membakar ke dalam diriku, dan kami tersesat sejenak menatap satu sama lain. Astaga pria tampan ini menginginkan aku kembali, dan jauh dilubuk hatiku, kebahagian yang manis perlahan mengembang seperti keagungan dini hari.

"Youngjae!" Jaebum mengalihkan perhatianku, dan aku diseret kembali ke sini, sekarang. "Aku sangat senang kau datang, dengar... aku harus memperingatkanmu ..."

Tiba-tiba, nona Rambut Sangat Pendek dan Lipstik Merah menghentikan omongan Jaebum. "Jaebum-ah, wartawan dari Single Magz sudah disini dan ingin bertemu denganmu. Ayo." Dia memberiku senyum dengan sopan. "Bagaimana kerennya ini? Popularitas." Dia menyeringai, dan aku tidak bisa tidak tersenyum kembali. Dia begitu bahagia. "Sampai nanti, Youngjae." Dia mencium pipiku, dan aku melihat dia berjalan menemui fotografer, seorang wanita muda tinggi semampai.

Foto Jaebum dipajang di mana-mana, bermacam-macam gambar, dicetak ke kanvas besar. Ada dua macam, hitam putih dan berwarna. Berbagai macam pemandangan yang indah. Salah satunya diambil dekat danau di Ulsan, waktu senja dan awan berwarna pink terpantul diatas air yang tenang. Sejenak, aku terbawa oleh ketenangan dan kedamaian itu. Ini benar-benar menakjubkan. Daehyun bergabung denganku, dan aku menarik napas dalam-dalam dan menelan ludah, mencoba untuk memulihkan keseimbanganku. Dia memberiku segelas anggur putih. "Apa ini seperti lukisan?" Suaraku terdengar lebih normal. Pandangannya aneh saat melihatku. "Anggur." "Bukan. Event seperti ini jarang ada. Cowok itu cukup berbakat, ya kan?" Daehyun sedang mengagumi foto danau. "Kau pikir kenapa aku memintanya untuk mengambil fotomu?" Aku tak dapat menahan rasa bangga dalam nada suaraku. Matanya melihat tanpa ekspresi dari foto itu berpindah kearahku.

"Tuan Jung Daehyun?" Fotografer dari Single Magz mendekati Daehyun. "Bisakah saya mengambil foto anda, Sir?" "Tentu." Daehyun menyembunyikan cemberutnya. Aku berusaha menjauh, tapi ia meraih tanganku dan menarikku ke sisinya. Fotografer tidak bisa menyembunyikan kekagetannya saat melihat kami berdua. "Tuan Jung, terima kasih." Dia mengambil dua kali jepretan.

"Tuan.. " Tanyanya. "Yoo, Yoo Youngjae," aku menjawab. "Terima kasih, Tuan Yoo." Dia segera meninggalkan kami.

"Aku mencari fotomu berdua dengan teman kencanmu di Internet. Ternyata tak ada satupun." Mulut Daehyun berkedut sambil tersenyum. "Tidak, aku tak pernah berkencan, Youngjae-ah. Aku melakukan itu hanya denganmu saja. Kau tahu itu." Matanya membara terlihat tulus.

"Jadi kau tak pernah mengajak..." aku melirik sekeliling dengan gugup untuk memeriksa tak ada yang bisa mendengar kami... "sub-mu keluar?" "Kadang-kadang. Bukan berkencan. Belanja, kau tahu." Dia mengangkat bahu, tatapannya tetap tertuju padaku. Oh, jadi hanya di Red Room of Pain dan apartemennya saja. Entah aku merasakan apa itu. "Hanya kau, Youngjae-ah," bisiknya. Aku tersipu malu dan menunduk menatap pada jari-jariku. Dengan caranya sendiri, dia peduli padaku. "Tampaknya temanmu seorang fotografer profesional, bukan amatir. Ayo kita lihat yang lainnya." Dia mengulurkan tangannya padaku, dan aku menerimanya.

Kami berkeliling melihat hasil fotonya lagi, dan aku memperhatikan dua orang mengangguk ke arahku, tersenyum lebar seolah-olah mereka mengenalku. Pasti ini karena aku bersama Daehyun, tapi seorang pemuda terang-terangan menatapku. Aneh. Kami berbalik melihat ke pojok, dan aku jadi tahu mengapa orang-orang memandangku dengan aneh. Tujuh potretku yang sangat besar tergantung di dinding. Aku menatap kosong fotoku, terpana, darah mengalir dari wajahku. Gambarku: cemberut, tertawa, mengerutkan dahi, serius, kegelian. Semua super close up, semua hitam-putih. Sialan! Aku ingat beberapa kesempatan Jaebum bermain-main dengan kameranya pada saat ia sedang berkunjung dan kupikir saat aku bepergian dengan dia dan asisten fotografer sebagai sopir, aku tak sadar dia mengambil fotoku. Aku melirik Daehyun, yang sedang terpana memandang setiap fotoku secara bergantian. "Sepertinya aku bukan satu-satunya," dia bergumam penuh teka-teki, mulutnya membentuk garis keras. Aku pikir dia marah. Oh tidak. "Sebentar," katanya, sejenak dia mengunciku dengan tatapan mata abu-abunya yang cerah. Dia berbalik dan menuju meja resepsionis. Apa masalahnya sekarang? Aku mengawasi dengan terpesona saat ia berbicara penuh semangat dengan Miss Rambut Sangat Pendek dan Lipstik Merah. Dia mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu kreditnya. Ya ampun. Dia membeli salah satunya. "Hei. Kau yang merenung itu. Foto-foto yang luar biasa." Seorang pemuda dengan rambut pirang terang yang tampak kaget mengejutkanku. Aku merasa tangan di sikuku dan Daehyun sudah kembali. "Kau seorang pria yang beruntung." Pemuda itu menyeringai pada Daehyun, yang membalasnya dengan tatapan dingin. "Ya," ia bergumam dengan muram, saat ia menarikku ke sampingnya. "Apa kau baru saja membeli salah satunya?" "Salah satunya?" Dia mendengus, tidak mengalihkan pandangannya dari foto-fotoku. "Kau membeli lebih dari satu?" Dia memutar matanya. "Aku membeli semuanya, Youngjae-ah. Aku tak ingin beberapa orang asing memelototimu di dalam rumah pribadi mereka."

Keinginan pertamaku adalah tertawa. "Kamu lebih suka itu kau sendiri?" Kataku menyindir. Dia melotot ke arahku, aku pikir dia terkejut oleh keberanianku, tapi dia berusaha menyembunyikan rasa gelinya. "Terus terang, ya." "Mesum," Aku menggigit bibir bawahku supaya tak tersenyum. Mulutnya menganga, dan sekarang rasa gelinya tampak jelas. Dia mengusap dagunya sambil berpikir "Aku tak bisa membantah atas penilaianmu, Youngjae," Dia menggeleng, dan matanya melembut dengan humor. "Aku akan membahasnya lebih jauh denganmu, tapi aku sudah menandatanganinya." Dia mendesah, menatapku, dan matanya bertambah gelap. "Apa yang pantas aku lakukan untuk mulut cerdasmu," gumamnya. Aku terkesiap, menyadari sepenuhnya apa yang dia maksudkan. "Kau sangat tidak sopan." Aku mencoba untuk terdengar kaget dan berhasil. Apa dia tak memiliki batasan? Ia menyeringai padaku, geli, kemudian dia mengernyit. "Kau tampak sangat santai dalam foto itu, Youngjae. Aku jarang melihatmu seperti itu."

Apa? Tunggu dulu! Perubahan subjek pembicaraan yang tidak relevan, dari main-main menjadi serius. Mukaku memerah dan menatap jari-jariku. Dia mengangkat kepalaku kembali, dan aku menghirup tajam pada jari-jarinya yang menyentuhku. "Aku ingin kau yang santai denganku," bisiknya. Semua jejak humornya telah pergi. Dalam diriku menggeliat lagi dengan senang. Tapi bagaimana ini bisa terjadi? Kami memiliki masalah. "Kau harus berhenti mengintimidasiku jika kau menginginkan itu," bentakku. "Kau harus belajar untuk berkomunikasi dan memberitahuku bagaimana perasaanmu," dia balas membentak, matanya menyala.

Aku menghela napas dalam-dalam. "Daehyun, Kau menginginkan aku sebagai submisif. Di situlah letak masalahnya. Kau pernah mengirim e-mail padaku sekali mengenai definisi submisif." Aku berhenti sejenak, mencoba mengingat kata-katanya. "Aku akan mengulangi sinonimnya, 'selalu tunduk, lentur, setuju, pasif, patuh, pasrah, sabar, penurut, jinak, lembut.' Aku tidak seharusnya menatapmu. Tidak boleh bicara denganmu kecuali kau memberiku izin untuk melakukannya. Apa yang kau harapkan?" desisku padanya.

Dia berkedip, dan dahinya berkerut semakin dalam saat aku melanjutkan lagi. "Sangat membingungkan saat bersamamu. Kau tidak ingin aku menentangmu, tapi kau suka 'mulut cerdas'-ku. Kau ingin ketaatan, kecuali jika kau tak suka, sehingga kau bisa menghukumku. Aku hanya tak tahu jalan mana yang aku pilih saat aku bersamamu." Dia menyempit matanya. "Pendapat yang bagus seperti biasa, Tuan Yoo." Suaranya dingin.

"Ayo, kita pergi makan."

"Kita berada di sini hanya setengah jam."

"Kau sudah melihat fotonya, kau sudah bicara dengan pria itu."

"Namanya Jaebum."

"Kau sudah berbicara dengan Jaebum... terakhir kali aku bertemu dengan pria itu saat kau berusaha menolaknya karena dia mencoba mendorong lidahnya masuk ke dalam mulutmu disaat kau sedang mabuk dan mual," dia menggertak.

"Dia tak pernah memukulku,"

Daehyun memandang marah padaku, amarahnya terpancar pada setiap pori-porinya. "Itu suatu penghinaan, Youngjae," bisiknya mengancam. Mukaku memerah, dan Daehyun mengacak-acak rambutnya, tampangnya nyaris penuh kemarahan. Aku membalas dengan melototinya. "Aku akan membawamu untuk makan sesuatu. Aku melihat kau telah kehilangan berat badanmu. Cari pria itu, ucapkan selamat tinggal." "Tolong, bisakah kita tinggal lebih lama?" "Tidak. Pergi. Sekarang. Ucapkan selamat tinggal." Aku memelototi dia, darahku mendidih. Tuan Jung-Gila-Kontrol-Brengsek-Daehyun. Marah lebih baik daripada menangis. Aku berbalik darinya dan melihat sekeliling untuk mencari Jaebum. Dia sedang berbicara dengan sekelompok cewek. Aku berjalan menghampirinya dan meninggalkan daehyun. Hanya karena dia mengantarku kesini, Aku harus melakukan apa yang dia katakan? Sialan dia pikir dia itu siapa? Cewek-cewek itu sangat antusias mendengarkan setiap kata Jaebum. Salah satunya tersentak saat aku mendekat, tak diragukan lagi mereka mengenaliku dari foto-fotoku.

"Jaebum-ah."

"Youngjae. Permisi sebentar." Jaebum menyeringai pada mereka dan memeluk bahuku, dan pada tingkat tertentu aku merasa geli akan semua kepolosan Jaebum, membuat para wanita terkesan. "Kau terlihat marah," katanya.

"Aku harus pergi," gumamku terlihat bodoh.

"Kau baru saja sampai di sini."

"Aku tahu, tapi Daehyun harus kembali. Foto-foto yang fantastis, Jaebum-ah... kau sangat berbakat." Dia berseri-seri. "Sangat senang bertemu denganmu." Jaebum memelukku erat-erat, mengangkat dan memutarku jadi aku bisa melihat Daehyun. Dia menatap marah, dan aku menyadari itu karena aku dalam pelukan Jaebum. Aku segera memindahkan tanganku ke leher Jaebum. Aku pikir Daehyun sudah menjadi mantanku. Tatapannya bertambah gelap cukup menakutkan, dan perlahan ia berjalan ke arah kami.

"Terima kasih atas peringatannya tentang fotoku," gumamku.

"Sial. Maaf, Youngjae. Aku seharusnya mengatakannya padamu. Apa kau menyukai foto-fotomu itu?" "Mm. . . Aku tidak tahu," jawabku jujur, sejenak keseimbanganku hilang oleh pertanyaannya.

"Yah, semuanya sudah terjual, seseorang menyukai foto-fotomu. Bagaimana keren kan? Kau seorang muse." Dia masih memelukku erat saat Daehyun sudah sampai sambil menatap tajam ke arahku sekarang, untungnya Jaebum tidak melihat. Jaebum melepaskan aku. "Jangan menjadi orang asing, Youngjae. Oh, Tuan Jung, selamat malam."

"Tuan Im Jaebum, sangat mengesankan. " Nada suara Daehyun terdengar beku tapi sopan. "Maaf kami tak bisa tinggal lebih lama, kami harus kembali lagi ke Seoul, Youngjae?" Saat dia menekankan kata 'kami' dengan halus, dia meraih tanganku.

"Bye, Jaebum. Sekali lagi selamat." Aku memberinya ciuman cepat dipipinya, sebelum Daehyun menyeretku keluar gedung. Aku tahu dia diam dengan kemarahan yang mendidih, tapi aku juga. Jelas dia ingin cepat-cepat keluar kemudian berjalan ke kiri dan tiba-tiba menyeretku ke sebuah gang samping, mendorongku ke dinding. Dia meraih wajahku dengan kedua tangannya, memaksaku untuk menatap matanya yang penuh gairah. Aku terkesiap. Dia langsung menciumku dengan keras. Sebentar gigi kami saling beradu, lalu lidahnya masuk kedalam mulutku. Hasrat langsung meledak di seluruh tubuhku dan aku membalas ciumannya, menyesuaikan gairahnya, tanganku meremas rambutnya, menariknya, keras. Dia mengerang, suaranya pelan dan seksi yang keluar dari dalam tenggorokannya, dan tangannya bergerak ke bawah tubuhku ke bagian atas pahaku, jari-jarinya mencengkram keras diatas tuxedoku. Aku mencurahkan semua kegelisahan dan patah hati beberapa hari terakhir melalui ciuman kami, mengikat dia untukku, dan itu menyentuhku - disaat gairah yang menyilaukan - dia melakukan dan merasakan hal yang sama. Dia menghentikan ciuman, terengah-engah. Matanya berkilau penuh hasrat, membakar darahku yang sudah panas yang mengalir kencang dalam tubuhku. Mulutku terbuka karena aku mencoba mengambil udara untuk mengisi paru-paruku.

"Kau. Adalah. Milikku," ia mengeraman, menekankan setiap kata. "Apa kau menginginkan dengan fotografer itu, Yougjae-ah? Jelas dia memiliki perasaan padamu."

Aku menggelengkan kepala. "Tidak Dia hanya seorang teman."

"Aku telah mencoba untuk menghindari emosi yang ekstrim. Namun kau . . kau membawa keluar perasaan yang ada dalam diriku yang benar-benar asing. Ini sangat..." Dia mengernyit, menggantung kata-katanya. "...Mengganggu. Aku suka mengontrol orang, Youngjae, dan aku suka berada didekatmu ..." dia menatapku sangat intens sambil melambaikan tangannya samar-samar, lalu mengacak-acak rambutnya dan mengambil napas dalam-dalam. Ia meremas tanganku. "Ayo, kita perlu bicara, dan kau perlu makan."

.

.

.

.

.

Dia mengajakku ke sebuah restoran kecil yang sangat intim. "Di tempat ini kita akan bicara dan makan," Daehyun menggerutu. "Kita tak punya banyak waktu." Restoran ini terlihat nyaman bagiku. Kursi terbuat dari kayu, taplak meja linen, dan warna dindingnya merah tua sama dengan ruang bermain milik Daehyun, cermin kecil berbingkai emas ditempatkan secara acak, lilin warna putih, dan vas kecil berisi mawar putih. Suara Christina Perri mengalun lembut menyanyikan lirik tentang cinta. Ini benar-benar romantis. Seorang pelayan mengarahkan kami ke meja untuk dua orang di sebuah ruangan yang kecil, dan aku duduk dengan gelisah dan bertanya-tanya apa yang akan dikatakannya.

"Kami tidak punya banyak waktu," kata Daehyun pada pelayan saat kami duduk. "Kami masing-masing pesan sirloin steak yang dimasak setengah matang, kalau ada dengan saus béarnaise, kentang goreng, dan sayuran hijau apapun yang koki punya, dan bawakan aku daftar anggurnya."

"Yes, Sir." Pelayan itu terkejut dengan penampilan Daehyun yang keren, tenang, efisien, tidak berbelit-belit. Daehyun menempatkan Iphone-nya di atas meja. Astaga, aku tidak disuruh memilih menu?

"Bagaimana kalau aku tak suka daging?" Dia mendesah. "Jangan mulai, Youngjae."

"Aku bukan anak kecil, Hyung."

"Yah, berhentilah bertingkah seperti itu." Dia seakan menamparku. Aku berkedip padanya. Jadi akan seperti ini? Pembicaraan menjadi sangat menjengkelkan, meskipun diatur dalam suasana romantis tapi jelas tidak ada hati. "Aku seorang anak kecil karena aku tak suka steak?" Gumamku mencoba untuk menyembunyikan sakit hatiku.

"Untuk sengaja membuatku cemburu. Itu adalah tindakan yang kekanak-kanakan. Apa kau tidak mempedulikan perasaan temanmu, seolah-olah kau memberi harapan padanya?" Daehyun menekan bibirnya bersama-sama menjadi garis tipis dan merengut saat pelayan kembali memberikan daftar anggur. Aku merona. Aku tak memikirkan itu. Tentu saja aku tidak ingin memberi harapan padanya. Tiba-tiba, aku merasa malu. Daehyun memang benar, tadi itu adalah tindakan yang ceroboh. Dia melihat daftar anggur. "Apa kau ingin memilih anggurnya?" Tanyanya, mengangkat alisnya padaku menunggu jawabanku, dengan arogannya. Dia tahu aku tak tahu tentang anggur. "Kau yang pilih," jawabku, ingin cemberut tapi kutahan. "Tolong, Dua gelas Chateau Lafite Rothschild Vintage."

"Er... kami hanya menjual anggur dengan botol, Sir."

"Kalau begitu satu botol," tegas Daehyun.

"Yes, Sir." Dia mundur, menunduk, dan aku tak menyalahkan dia. Aku mengerutkan kening pada Daehyun. Apa yang dia makan? Oh, mungkin karena aku, dan di suatu tempat di kedalaman jiwaku, batinku terbangun dari tidurnya, meregangkan tubuhnya, dan tersenyum. Dia sudah tertidur untuk sementara waktu. "Kau sangat pemarah." Dia menatap ke arahku tanpa ekspresi. "Aku ingin tahu mengapa itu?"

"Yah, ada baiknya mengatur nada yang sesuai untuk suasana yang intim ini dan berdiskusi dengan jujur tentang masa depan, Bukankah itu yang kau katakan?" Aku tersenyum padanya dengan manis. Mulutnya menekan ke dalam garis keras, kemudian dengan enggan, bibirnya dibuka, dan aku tahu dia berusaha untuk menahan senyumnya. "Maaf," katanya. "Permintaan maaf diterima, dan aku senang untuk memberitahumu karena aku belum memutuskan untuk menjadi vegetarian sejak terakhir kali kita makan." "Sejak terakhir kali kau makan, aku pikir itu pendapat yang perlu diperdebatkan." "Kata itu lagi, yang perlu diperdebatkan." "Diperdebatkan," mulut dan matanya melembut dengan jenaka. Dia mengacak-acak rambutnya, dan serius lagi.

"Youngjae, terakhir kali kita bicara, kau meninggalkan aku. Aku agak takut. Aku sudah mengatakan padamu, aku ingin kau kembali, dan kau... tidak mengatakan apa-apa." Pandangannya sangat intens dan keterbukaannya benar-benar melumpuhkanku. Sial, apa yang bisa kukatakan untuk masalah ini?

"Aku merindukanmu...benar-benar merindukanmu, Daehyun. Beberapa hari yang lalu sudah menjadi sangat sulit." Aku menelan ludah, dan benjolan di tenggorokanku membengkak saat ingat aku sangat menderita dan putus asa sejak aku meninggalkannya. Minggu lalu telah menjadi hal yang paling buruk dalam hidupku, rasa sakitnya hampir tak bisa digambarkan. Tak ada yang mendekati itu. Namun kenyataan yang ada, membelitku.

"Tidak ada yang berubah. Aku tak bisa menjadi apa yang kau inginkan." Aku menekankan kata-kata yang keluar melewati benjolan di tenggorokanku.

"Kau seperti inilah yang aku inginkan," katanya, suaranya pelan dan tegas.

"Tidak, Daehyun, aku bukan yang kau inginkan."

"Kau marah karena kejadian terakhir kali itu. Aku bertindak sangat bodoh, dan kau...Begitu pula denganmu. Mengapa kau tidak menggunakan kata aman, Youngjae?"

Nadanya berubah menjadi menuduh. Apa? Wow perubahan arah pembicaraan. Mukaku memerah, berkedip padanya. "Jawab aku."

"Aku tidak tahu. Aku merasa kewalahan. Aku berusaha untuk menjadi apa yang kau inginkan, mencoba untuk mengatasi rasa sakit, dan itu diluar dari perkiraanku. Kau tahu...aku lupa," aku berbisik dan mengangkat bahu meminta maaf. Astaga, mungkin kita bisa menghindari semua rasa sakit hati ini.

"Kau lupa!" Ia mendesah dengan ngeri, meraih sisi meja dan memelototiku. Aku langsung mengkerut di bawah tatapannya. Sial! Dia marah lagi. Lihat, kau membawa semua ini untuk dirimu sendiri! "Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" Katanya, suaranya rendah. Pelayan datang membawa anggur kami saat kami duduk saling menatap, mata biru dengan mata abu-abu. Kami berdua dipenuhi kata-kata yang tak terucap saling menuding, sementara pelayan membuka tutup gabus dan menuangkan sedikit anggur ke gelas Daehyun. Secara otomatis Daehyun menjangkau dan minum seteguk. "Tidak masalah." Suaranya singkat. Dengan hati-hati pelayan mengisi gelas kami, meletakkan botol diatas meja, lalu buru-buru meninggalkan kami. Tidak sedikitpun Daehyun melepas tatapannya padaku. Akulah yang pertama kali memutuskan kontak mata itu, mengangkat gelasku dan meneguk banyak-banyak. Aku nyaris tak bisa merasakannya. "Aku minta maaf," bisikku, tiba-tiba merasa bodoh. Aku pergi karena kupikir kami tidak cocok, tapi dia mengatakan bahwa aku bisa menghentikannya?

"Maaf untuk apa?" Katanya agak cemas. "Tidak menggunakan kata aman." Dia menutup matanya, seakan lega. "Kita mungkin bisa menghindari semua penderitaan ini," gumamnya.

"Kau tampak baik-baik saja. Bahkan lebih dari baik. Kau terlihat seperti biasanya."

"Penampilan bisa menipu," katanya pelan. "Aku sama sekali tidak merasa baik. Aku ibaratnya matahari telah terbenam dan tidak terbit selama seminggu, Youngjae. Aku seperti berada di kegelapan malam yang kekal di sini." Aku merasa kehabisan napas mendengar pengakuannya. Ya, seperti halnya denganku. "Kau bilang kau tak akan pernah pergi, namun karena keadaan menjadi buruk dan kau akhirnya meninggalkanku." "Kapan aku bilang aku tak akan pernah pergi?"

"Dalam tidurmu. Itu adalah hal paling menyenangkan yang pernah kudengar sekian lama, Youngjae. Itu membuatku rileks." Hatiku menegang dan aku mengambil anggurku. "Kau bilang kau mencintaiku," bisiknya. "Apa sekarang itu dalam bentuk lampau?" Suaranya pelan, bercampur dengan kegelisahan.

"Tidak, Daehyun, itu tidak." Dia menatap ke arahku, dan dia terlihat begitu rentan saat ia mengembuskan napas. "Bagus," bisiknya. Aku terkejut dengan pengakuannya. Pikirannya telah berubah. Saat aku mengatakan padanya bahwa aku mencintainya sebelumnya, dia sangat ketakutan. Pelayan itu datang lagi. Dengan sigap dia meletakkan piring di depan kami dan segera meninggalkan kami lagi. Ya ampun. Makanan. "Makanlah," perintah Daehyun.

Dalam hati aku tahu aku lapar, tapi sekarang, perutku seperti kejang. Duduk berhadapan dengan satu-satunya pria yang pernah kucintai dan memperdebatkan masa depan kami yang tidak jelas, tidak bisa mendorong nafsu makanku. Aku merasa enggan melihat makananku. "Tolong aku ya Tuhan, Youngjae, jika kau tidak makan, aku akan menempatkanmu di lututku di sini, di restoran ini, dan ini tak ada hubungannya dengan kepuasan seksualku. Makan!" Astaga. Alam bawah sadarku menatapku dengan memincingkan matanya. "Oke, aku akan makan." Dia tidak tersenyum, tapi terus menatapku. Dengan enggan aku mengangkat pisau dan garpuku, memotong steak-ku. Oh, ini bisa membangkitkan nafsu makanku. Aku merasa lapar, benar-benar lapar. Aku mulai mengunyah dan dia tampak rileks. Kami makan malam tanpa bicara. Musiknya telah berganti. Nyanyian lembut seorang wanita terdengar samar-samar, liriknya menggema didalam pikiranku. Aku melirik daehyun. Dia makan sambil mengawasiku. Kelaparan dan kerinduan dan kegelisahan digabungkan dalam satu tatapan yang panas.

"Apa kau tahu siapa yang menyanyi ini?" Aku mencoba untuk melakukan percakapan normal. Daehyun berhenti dan mendengarkan. "Tidak. . . tapi suaranya bagus, siapapun dia."

"Aku juga menyukainya." Akhirnya dia tersenyum dengan senyuman yang mengandung teka-teki. Apa yang dia rencanakan?

"Apa?" tanyaku. Dia menggeleng. "Habiskan," katanya lembut. Aku sudah menghabiskan setengah makanan di piringku. Aku sudah tak kuat makan lagi. Bagaimana aku bisa menegosiasikan hal ini? "Aku tidak bisa makan lagi. Apa aku sudah cukup makan Sir?" Dia menatapku tanpa ekspresi, tidak menjawab, lalu melirik jam tangannya. "Aku sangat kenyang," tambahku, sambil menyesap anggur yang lezat."

"Kita harus segera kembali. Jongup sudah ada di sini, dan besok pagi kau harus bekerja."

"Begitu juga denganmu." "Jam tidurku jauh lebih sedikit daripada kau, Youngjae. Paling tidak kau sudah makan sesuatu." "Bukankah kita akan kembali dengan Angel?" "Tidak, karena aku sudah minum. Jongup yang akan mengantar kita. Selain itu, dengan cara ini aku bisa bersamamu di dalam mobil untuk diriku sendiri selama beberapa jam, Apa yang bisa kita lakukan selain bicara?" Oh, itu rencananya. Daehyun memanggil pelayan untuk meminta tagihan, kemudian dia mengambil Iphone-nya dan membuat panggilan. "Kami di restoran dekat galery." Dia menutup teleponnya. Astaga, dia kurang sopan berbicara di telepon. "Kau sangat kasar dengan Jongup, sebenarnya, dengan sebagian besar orang-orang."

"Aku hanya menyampaikan maksud dengan cepat, Youngjae."

"Kau belum menyampaikan maksudmu malam ini. Tidak ada yang berubah, Daehyun."

"Aku punya proposisi untukmu."

"Ini dulu dimulai dengan proposisi."

"Sebuah proposisi yang berbeda." Pelayan sudah kembali, dan Daehyun memberikan kartu kreditnya tanpa memeriksa tagihan. Dia menatap ke arahku dengan curiga sementara pelayan menggesek kartunya. Telepon Daehyun berbunyi sekali lagi, dan dia melirik teleponnya. Dia punya proposisi? Sekarang apa? Dua skenario masuk dalam pikiranku: diculik, bekerja untuknya. Tidak, tidak ada yang masuk akal. Daehyun sudah selesai membayar. "Ayo. Jongup sudah diluar."

Kami berdiri dan ia menggenggam tanganku. "Aku tak ingin kehilanganmu, Youngjae." Dia mencium buku-buku jariku dengan lembut, dan sentuhan bibirnya diatas kulitku langsung menjalar keseluruh tubuhku. Di luar Audi sudah menunggu. Daehyun membukakan pintu untukku. Aku masuk dan tenggelam dalam sofa kulit mewah. Dia menuju ke sisi pengemudi, Jongup melangkah keluar dari mobil dan mereka berbicara sebentar. Ini bukan kebiasaan mereka seperti biasanya. Aku penasaran. Apa yang mereka bicarakan? Beberapa saat kemudian, mereka berdua masuk, dan aku melirik, wajah Daehyun tanpa ekspresi saat ia menatap ke depan. Aku membiarkan diriku sejenak untuk memeriksa bentuk tubuh dewa miliknya: hidung mancung, bibirnya penuh, rambutnya jatuh di dahinya. Pria tampan ini pasti bukan ditujukan untukku.

Tiba-tiba musik mengalun lembut terdengar dari bagian belakang mobil, salah satu jenis orkestra yang tidak kukenal, dan Jongup menjalankan mobilnya menuju Seoul. Daehyun bergeser dan memandangku. "Seperti yang aku katakan, Youngjae, aku memiliki proposisi untukmu." Aku melirik gugup pada Jongup. "Jongup tak bisa mendengarmu," Daehyun meyakinkan aku. "Bagaimana?" "Jongup," Daehyun memanggilnya. Jongup tidak merespon. Dia memanggil lagi, masih tidak ada respon. Daehyun membungkuk dan menepuk bahunya. Taylor melepas satu earphone yang tidak aku perhatikan. "Yes, Sir?" "Terima kasih, Jongup. Tidak apa-apa. dengarkan kembali musikmu itu." "Yes, Sir."

"Senang sekarang? Dia mendengarkan iPod-nya. Lupakan dia ada di sini." "Apa kau sengaja memintanya untuk melakukan itu?" "Ya." Oh. "Oke, proposisimu?" Daehyun tiba-tiba terlihat resmi dan menginginkan kepastian. Sialan. Kami sedang menegosiasikan sebuah kesepakatan. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian. "Pertama-tama aku ingin bertanya sesuatu. Apa kau ingin hubungan biasa tanpa seks abnormal sama sekali?" Mulutku menganga. "Seks abnormal?" Aku berteriak pelan. "Seks abnormal." "Aku tak percaya kau mengatakan itu." Aku melirik gugup pada Jongup. "Yah, aku mengatakan itu. Jawablah," katanya tenang. Mukaku memerah. Aku memejamkan mataku sesaat. "Aku suka Seks abnormal-mu," bisikku. "Itu seperti yang kupikirkan. Jadi apa yang tidak kau sukai?" Tidak bisa menyentuhmu. Kau menikmati rasa sakitku, pukulan sabuk. "Ancaman kejam dan hukuman yang tidak biasa." "Apa maksudnya?" "Yah, kau memiliki semua jenis tongkat, cambuk dan sebagainya di dalam ruang bermainmu, dan mereka itu sangat membuatku ketakutan. Aku tak ingin kau menggunakannya padaku." "Oke, jadi dalam hal ini kau tak suka dengan adanya cambuk atau tongkat atau ikat pinggang," ia menyindir. Aku menatapnya dengan bingung. "Apa kau mencoba untuk mendefinisikan kembali batas keras?"

"Tidak seperti itu, aku hanya mencoba memahamimu, mendapatkan yang lebih jelas gambaran dari apa yang kau inginkan dan yang tidak kau sukai." "Pada dasarnya, Daehyun, Kesenanganmu yang menimbulkan rasa sakit padaku, sangat sulit bagiku untuk aku terima. Dan ide bahwa kau akan melakukan hukuman itu karena aku telah melanggar beberapa aturan yang dibuat sewenang-wenang."

"Tapi itu bukan sewenang-wenang, aturannya sudah ditulis." "Aku tak ingin satu set aturan." "Tak ada sama sekali?" "Tidak ada aturan." Aku menggeleng, rupanya hatiku sudah berada di dalam mulutku. Kemana lagi arah pembicaraan ini? "Tapi kau tak keberatan jika aku memukul pantatmu?" "Memukulku dengan apa?" "Ini." Dia memegang tangannya.

Aku menggeliat tak nyaman. "Tidak, tidak juga. Terutama dengan bola-bola perak itu" Syukurlah tapi itu gelap, Mukaku terbakar dan suaraku langsung menghilang saat aku ingat malam itu. Yah. . . Aku akan melakukan itu lagi. Dia menyeringai ke arahku. "Ya, itu menyenangkan." "Lebih dari menyenangkan," aku bergumam. "Jadi kau bisa menerima sedikit rasa sakit." Aku mengangkat bahu. "Ya, kurasa." Oh, kemana lagi arah pembicaraannya? Tingkat kegelisaanku semakin melonjak naik beberapa Skala Richter. Dia mengelus dagunya, berpikir keras. "Youngjae, aku ingin mulai lagi. Melakukan hubungan normal, dan mungkin setelah kau percaya padaku dan aku percaya pada kejujuranmu untuk berkomunikasi denganku, kita bisa melakukan sesuatu yang aku inginkan." Aku menatapnya, tertegun, pikiranku kosong sama sekali seperti komputer yang eror. Dia menatap ke arahku dengan cemas, tapi aku tak bisa melihatnya dengan jelas, sepertinya kita berada di wilayah Oregon yang diselimuti kegelapan. Aku sadar, akhirnya, ini dia. Dia menginginkan cahaya terang, tapi bisakah aku memintanya untuk melakukan ini untukku? Dan bukankah kadang-kadang aku juga menyukai kegelapan? sedikit kegelapan, kadang-kadang. "Tapi bagaimana dengan hukuman?" "Tidak ada hukuman." Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." "Dan aturan?" "Tidak ada aturan." "Tidak ada sama sekali? Tapi kau memiliki kebutuhan." "Aku lebih membutuhkanmu, Youngjae. Beberapa hari terakhir ini seperti berada di neraka. Semua instingku mengatakan padaku untuk membiarkan kau pergi karena aku tak layak untukmu.

"Foto-foto yang diambil cowok itu. . . Aku bisa melihat bagaimana dia melihatmu. Kau tampak begitu santai dan cantik, bukannya kau sekarang tidak cantik, tapi kau duduk di sini. Aku melihat rasa sakitmu. Sedih rasanya bahwa akulah yang menyebabkan kau merasa seperti ini. "Tapi aku pria egois. Aku menginginkanmu sejak kau jatuh di kantorku. Kau sangat istimewa, jujur, hangat, kuat, cerdas, polos, mempesona dan daftarnya tak akan habis. Aku kagum padamu. Aku menginginkanmu, memikirkan orang lain memilikimu rasanya seperti pisau diputar-putar kedalam jiwaku yang gelap."

Mulutku menjadi kering. Sialan. Bawah sadarku mengangguk dengan puas. Jika itu bukan deklarasi cinta, aku tidak tahu apa itu. Kata-katanya yang keluar seperti seperti bendungan yang jebol. "Daehyun, mengapa kau berpikir kau memiliki jiwa yang gelap? Aku tak akan pernah mengatakan itu. Mungkin menyedihkan, tapi kau pria yang baik. Aku bisa melihat itu. Kau sangat dermawan, sopan, dan kau tak pernah bohong padaku. Aku belum mencoba dengan sangat keras. Minggu lalu itu seperti mengejutkan pikiranku. Membangunkan aku dari tidurku. Aku menyadari bahwa kau begitu mudah menerimaku yang mana aku merasa tidak bisa menjadi orang yang kau inginkan. Kemudian, setelah aku pergi, aku baru sadar bahwa rasa sakit fisik yang kau timbulkan tidak separah dengan rasa sakit yang timbul karena kehilanganmu. Aku ingin menyenangkanmu, tapi itu sangat sulit."

"Kau selalu menyenangkanku sepanjang waktu," bisiknya.

"Sudah berapa kali aku memberitahumu tentang hal itu?"

"Aku tak pernah tahu apa yang kau pikirkan. Kadang-kadang kau begitu tertutup. Kau mengintimidasiku. Itu sebabnya mengapa aku diam. Aku tak tahu bagaimana suasana hatimu. Seperti ayunan dari utara ke selatan dalam sekian detik kembali lagi. Sangat membingungkan dan kau tidak membiarkan aku menyentuhmu, padahal aku ingin sekali menunjukkan betapa aku sangat mencintaimu." Dia berkedip padaku dalam kegelapan, waspada kupikir, dan aku tak bisa menahannya lebih lama. Aku melepaskan sabuk pengamanku dan duduk di pangkuannya, membuatnya terkejut, dan menempakan tanganku di kedua sisi kepalanya.

"Aku mencintaimu, Jung Daehyun. Dan kau bersedia melakukan semua ini untukku. Akulah yang tidak layak, dan aku hanya minta maaf bahwa aku tak bisa melakukan semuanya untukmu. Mungkin dengan berjalannya waktu...Aku tak tahu... tapi ya, aku menerima proposisimu. Dimana aku harus menanda tanganinya?" Dia memelukku dengan keras seperti akan meremukkanku.

"Youngjae-ah," dia mengambil nafas sambil membenamkan hidungnya di rambutku. Kami duduk, saling berpelukan, mendengarkan musik suara piano yang menenangkan, mencerminkan emosi yang ada di dalam mobil, hening sangat menenangkan setelah terjadi badai. Aku meringkuk ke dalam pelukannya, menyandarkan kepalaku di lekuk lehernya. Dengan lembut dia membelai punggungku. "Menyentuh adalah batas keras bagiku, Youngjae," bisiknya. "Aku tahu. Aku berharap paham alasannya." Beberapa saat kemudian, dia mendesah, ia menjawab dengan suara lembut, "Masa kecilku sangat mengerikan. Ibu kandungku... dia salah seorang dari mucikari pelacur..." Suaranya menghilang, dan tubuhnya menegang saat dia mengingat kengerian yang tak terbayangkan itu. "Aku bisa mengingat itu," ia berbisik sambil bergidik. Tiba-tiba, jantungku menyempit saat aku ingat bekas luka bakar yg ada dikulitnya. Oh, Daehyun. Aku mengencangkan lenganku di lehernya. "Apakah dia kasar padamu? Ibumu?" Suaraku pelan dan lembut dengan air mata yang tertahan. "Seingatku tidak. Dia hanya ceroboh. Dia tidak melindungiku." Dia mendengus. "Kupikir akulah yang merawatnya. Ketika akhirnya dia bunuh diri, butuh waktu empat hari bagi seseorang menyadari itu dan menemukan kami. Aku ingat itu." Aku terkesiap tak bisa menampung kengerian itu. Sialan. Kemarahan naik di tenggorokanku. "Itu sangat mengerikan," bisikku. Aku menoleh dan mencium lehernya, berusaha menghiburnya saat aku membayangkan, seorang anak laki-laki kecil bermata abu-abu sangat kotor yang tersesat dan sendirian di samping tubuh ibunya yang sudah meninggal. Oh, Daehyun. Aku bernafas diantara aroma tubuhnya. Baunya surgawi, aroma favoritku yang ada di seluruh dunia. Dia mengencangkan pelukannya dan mencium rambutku, dan aku duduk dalam pelukannya saat Jongup menambah kecepatan di kegelapan malam. Saat aku terbangun, kami sudah sampai di Seoul. "Hei," kata Daehyun lembut.

"Maaf," gumamku saat aku duduk dengan tegak, berkedip dan meregangkan tubuhku. Aku masih dalam pelukannya, di pangkuannya. "Aku bisa menontonmu tidur selama-lamanya, Youngjae." "Apa aku mengatakan sesuatu?" "Tidak. Kita hampir sampai di tempatmu." Oh? "Kita tidak ke tempatmu?" "Tidak." Aku duduk dan menatap dia. "Mengapa tidak?" "Karena besok kau kerja." "Oh." Aku cemberut. Dia menyeringai ke arahku. "Mengapa, apa kau punya sesuatu di dalam pikiranmu?" Mukaku memerah. "Yah, mungkin." Dia terkekeh. "Youngjae, aku tidak akan menyentuhmu lagi, tidak sebelum kau memohon padaku." "Apa?!" "Sampai kau mulai berkomunikasi denganku. Lain kali jika kita bercinta lagi, kau harus memberitahuku apa tepatnya yang kau inginkan secara detail." "Oh." Dia menggeserku dari pangkuannya saat Jongup berhenti di depan apartemenku.

Daehyun keluar dan menahan pintu mobil terbuka untukku. "Aku punya sesuatu untukmu." Dia berjalan ke belakang mobil, membuka bagasi, dan mengeluarkan sebuah kotak yang besar dibungkus kertas kado. Astaga apa ini? "Bukalah kalau kau sudah di dalam." "Kau tidak masuk?" "Tidak, Youngjae." "Jadi kapan aku akan bertemu denganmu?" "Besok." "Besok bosku mau mengajakku minum dengannya." Wajah Daehyun mengeras. "Benarkah?" suaranya dicampur dengan ancaman yang terpendam. "Untuk merayakan minggu pertamaku kerja," tambahku dengan cepat. "Dimana?" "Belum tahu." "Aku bisa menjemputmu dari sana." "Oke. . . Aku akan kirim e-mail atau sms untukmu." "Bagus." Dia menemaniku berjalan sampai pintu lobi dan menunggu sementara aku mencari kunci di tasku. Saat aku membuka kunci pintu, dia membungkuk ke depan dan menangkup daguku, memiringkan kepalaku kebelakang. Mulutnya mendekat, dan menutup matanya, ia mencium dari sudut mataku ke sudut mulutku. Sebuah erangan kecil keluar dari mulutku karena bagian dalam tubuhku meleleh dan mengembang. "Sampai besok," dia mengambil nafas. "Selamat malam, Daehyun," bisikku, dan aku mendengar nada keinginan dalam suaraku. Dia tersenyum. "Masuklah," perintahnya, dan aku berjalan melewati lobi sambil membawa bungkusan misteriusku. "Sampai besok, sayang," ia berseru, lalu berbalik dengan anggun, kembali ke mobil. Setelah di dalam apartemen, aku membuka kotak hadiah dan aku melihat laptop MacBook Pro, , dan kotak segi empat lainnya. Apa ini? Aku membuka kertas perak. Di dalamnya ada benda, warna hitam, tipis, Pembungkusnya terbuat dari kulit. Kubuka pembungkusnya, aku menemukan sebuah iPad. Sebuah kartu putih di atas layar dengan pesan tertulis dalam tulisan tangan Daehyun:

.

Youngjae ini untukmu.

Aku tahu apa yang ingin kau dengar.

Musik ini mengatakan tentang perasaanku.

Daehyun

.

Astaga. Aku memiliki koleksi lagu-lagu dari Daehyun di iPad terbaru. Aku menggeleng tak setuju karena semua ini pasti mahal, tapi dalam hati aku menyukainya. Di kantor Chanyeol memiliki satu, jadi aku tahu bagaimana cara memakainya. Aku nyalakan dan terkesiap saat gambar wallpaper muncul: sebuah model pesawat glider yang kecil. Oh. Itu Blanik L23 yang kuberikan padanya, dengan bingkai glass stand yang berdiri diatas meja, aku pikir meja Daehyun di kantornya. Aku melongo. Ia merakitnya! Dia benar-benar merakitnya. Aku ingat sekarang, dia pernah menuliskan itu dikartu kiriman bunganya. Aku terguncang, dan aku tahu saat itulah dia sudah menguraikan banyak yang ada dalam pikirannya pada saat dia mengirim itu. Aku geser panah di bagian bawah layar untuk membuka kunci dan aku terkesiap lagi. Wallpaper-nya ada fotoku dan Daehyun. Foto ini satu-satunya foto kami. Daehyun terlihat begitu tampan dan aku tak tahan untuk tidak tersenyum lebar. Ya, dan dia milikku! Dengan gesekan jariku, ikonnya bergeser, dan salah satu dari beberapa tampilan baru pada layar berikutnya. Aplikasi Kindle, iBooks, apa pun itu. Ya ampun! British Library? Aku menyentuh ikon itu dan muncul menu: KOLEKSI SEJARAH. Kugeser ke bawah, aku pilih NOVEL ABAD 18 dan 19. Kemudian menu yang lainnya. Aku sentuh sebuah judul: THE AMERICAN karya HENRY JAMES. Satu jendela baru terbuka, menawarkanku salinan scan dari buku untuk dibaca. Ya ampun - ini adalah edisi pertama, yang diterbitkan pada tahun 1879, dan itu ada di iPad-ku! Dia membelikan aku dari British Library hanya dengan sentuhan tombol saja. Aku keluar dari aplikasi ini dengan cepat, tahu bahwa aku akan tenggelam di dalamnya untuk waktu yang sangat lama. Aku menyadari bahwa aplikasi ini seperti "makanan yang sangat lezat" yang membuatku memutar mataku dan tersenyum pada saat yang sama, tapi di catatan kartunya tadi menyinggung masalah musik.

Aku kembali ke layar utama, menyentuh ikon iPod dan daftar playlist muncul. Aku menelusuri pilihan lagu-lagunya, dan itu membuatku tersenyum, mendengar sebuah alu mengalun. Aku berbaring di tempat tidur. Apa ini berarti Daehyun akan mencoba? Mencoba dengan hubungan baru? Aku menyerap isi liriknya, menatap langit-langit, mencoba untuk memahami perubahannya. Dia merindukanku. Aku merindukan dia. Dia pasti memiliki perasaan terhadapku. Pasti. IPad ini, lagu-lagu ini, dia peduli. Dia benar-benar peduli. Jantungku membengkak penuh harapan. Lagunya berakhir dan air mata menggenangi mataku. Aku segera menggeser lagu yang lain - "The Scientist" oleh Coldplay - salah satu band favorit Kyungsoo. Aku tahu lagunya, tapi aku belum pernah benar-benar mendengarkan lirik lagu itu sebelumnya. Aku menutup mata dan membiarkan kata-katanya meresap dalam pikiranku. Air mataku mulai mengalir. Aku tidak bisa membendungnya. Jika ini bukan permintaan maaf, lantas apa? Oh, Daehyun. Atau apa ini sebuah undangan? Apa dia menjawab pertanyaanku? Apa aku mengartikan ini terlalu banyak? Aku mungkin mengartikan ini terlalu banyak. Bawah sadarku mengangguk padaku, mencoba untuk menyembunyikan rasa kasihannya padaku. Aku menghapus air mataku. Aku akan mengirim e-mail untuk berterima kasih padanya.

.

.

.

.

.

.

TBC or Delete?

.

.

.

.

.

I'm come back... setelah hiatus berbula-bulan lamanya

Who miss me? Nobody? I Know...Ok Fine

Maafkan author baru bisa update lagi

Sebenarnya sudah tidak ada harapan lagi untuk melanjutkan FF garing ini tapi entah mengapa rasanya tidak tega meninggalkannya terabaikan begitu saja.

Sekali lagi maaf /bow/

and last.. sperti biasa

MIND TO REVIEW?