A New Chapter

Harry Potter belong to JK ROWLING

Chapter 9

Sudah dua hari ini Hermione tidak pulang ke rumah, dia tidak ingat terakhir kali pernah lembur sampai tidak pulang. Ramuan yang sedang dia teliti tidak bisa di tinggalkan, apalagi asistennya sedang sakit. Lorong rumah sakit sangat sepi malam hari. Tapi tampaknya dia melihat salah satu temannya.

"Cho!" kata Hermione menyapa temannya.

Cho menegakkan kepala ke atas. "Hermione," jawabnya terkejut. Cho langsung berdiri dan memberikan pelukan. Dia tampak sangat Lelah sekali.

"aku tidak tau bisa bertemu denganmu selarut ini!" katanya tampak lega.

"Kau ada apa malam-malam begini di rumah sakit? Apa Adrian sakit? Anna?" tanya Hermione mulai khawatir.

Cho mengeleng dan tersenyum sedih.

"Bukan mereka. Salah satu temanku. Tapi dia sudah tidak punya keluarga jadi aku kemari menemaninya. Kau baru mau pulang?" tanya Cho memperhatikan Hermione.

Hermione mengangguk, menarik Cho untuk duduk di sebelahnya. "Lalu bagaimana dengan temanmu? Siapa Healer yang menangani?" tanya Hermione.

"Aku tidak begitu tau. Aku dihubungi dan langsung kemari. Sayangnya aku sudah dua jam dan mereka belum juga keluar. Aku jadi mulai cemas," kata Cho. "apa menurutmu dia akan baik-baik saja?" tanya Cho.

"Aku tidak tau," kata Hermione. Sebenarnya mereka tidak begitu akrab saat di Hogwarts tapi sekarang setelah menikah dengan Draco, Hermione menemukan bahwa Cho satu-satunya orang yang bisa dianggap sebagai teman dari teman-teman Draco.

"Bagaimana kabarmu, Draco dan anak-anakmu?" tanya Cho.

"Mereka baik," kata Hermione. Hermione menjadi merasa bersalah karena sudah dua hari tidak pulang ke rumah. Perasaan rindunya kepada anak-anak dan juga Draco menjadi lebih besar dari sebelumnya. Hermione tidak ingat pernah meninggalkan anak-anaknya Bersama Theo sendirian selama ini. Jenna sudah mulai mengurangi untuk tinggal bersama mereka. Jenna mulai membuka toko bunganya lagi, di bagian utara London dekat rumah muggle yang dulu. Hermione tidak begitu mengerti bagaimana Jenna bisa memiliki properti di Inggris, tapi Hermione bisa apa, dia saja baru tau kalau Jenna ternyata adalah seorang Malfoy kan?

"Hermione?" tanya Cho.

"Maaf, Cho. Aku sedikit lelah," kata Hermione terbangun dari lamunan.

"Ya aku bisa melihatnya. Pulanglah. Draco dan anak-anakmu pasti sudah menunggu," kata Cho.

Hermione malah menjadi tidak enak karena Cho malah menyuruhnya pulang. Hermione mengeluarkan kartu pass miliknya. "Ambilah, ini adalah kartu pas untuk keluarga karyawan St Mungo. Ada di lantai 2 ujung Lorong kiri. Kau bisa ke sana untuk istirahat. Kalau sudah tidak digunakan kau bisa mengembalikannya padaku lusa, atau besok bisa kau letakkan saja di resepsionis, okey?"

Cho mengangguk, "Terima kasih," katanya.

Hermione berpamitan dan seakan semakin membuatnya cepat-cepat ingin sampai di rumah. Hermione merasa sangat bersalah. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal ini, seakan-akan dia bukan wanita yang sudah menikah dan memiliki anak-anak. Dia merasa tidak bertanggung jawab. Bahkan dia tidak memberi kabar pada Draco, bagaimana kalau seandainya tadi bukan Cho yang dia temui, bagaimana kalau itu Draco atau Jenna, bagaimana kalau terjadi sesuatu?

Ketika dia sudah sampai di halaman rumah tempat khusus untuk ber-apparate, rasanya senang sekali melihat kembali rumah yang sekarang sudah gelap karena tampaknya penghuninya sudah tidur, atau mungkin? Hermione pelan-pelan naik ke lantai dua, memasuki kamar anak-anaknya, dan merasa sangat lega ketika melihat anak-anaknya sudah tertidur nyenyak.

Hermione menciumi jidat Alexander dan Louise, rasanya ingin memeluk mereka namun takut membangunkan. Agak lama Hermione memandangi anak-anaknya itu, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dengan mengendap-endap Hermione memasuki kamarnya, dan langsung saja dia terkaget mendengar suara Draco yang mengarung ketakutan. Dengan sigap Hermione mendekati suaminya itu. Pelipisnya yang penuh dengan keringat membuat surai rambutnya lepek dan jelek.

Hermione mengerakkan bahu Draco mencoba untuk membangunkannya. Suara Draco hampir teriak, dia baru menyadari ternyata kamar itu dimantrai agar tidak terdengar dari luar. Apa Draco memang tahu bahwa dia akan mengalami mimpi buruk? Tapi kenapa dia tidak pernah menyadarinya.

"Draco…." Teriak Hermione mengulurkan tangan agar bisa membangunkannya, Hermione mengguncangkan bahunya sedikit. Namun reaksinya sangat cepat. Tiba-tiba saja dia sudah menarik lengan Hermione dan memintingnya sehingga dia berada di atas, menimpanya. Mata Draco menyala ketakutan, juga hampir seperti menahan air mata kemarahan. Matanya melebar ketika dia menyadari siapa wanita yang membangunkannya. Dan Hermione bisa melihat sedikit kelegaan di matanya yang biru dengan surai keperakkan itu. Dan ini mengingatkannya akan awal bagaimana mereka mulai dekat.

"Hermione," katanya menghela nafas.

"kau mimpi buruk," kata Hermione.

Draco bangun dan mengambil posisi duduk menyender di kepala dipan, Hermione ikut duduk di sebelah.

"Apa masih sering terjadi?" Tanya Hermione.

Draco menengok kepadanya, dan tiba-tiba dia teringat oleh Draco versi mudanya, versi Draco dimana dia jatuh cinta kepadanya.

Draco mengangguk.

"Kenapa aku tidak menyadarinya?" Tanya Hermione pada diri sendiri. Dia merasa kecil, bagaimana mungkin dia tidak pernah menyadarinya.

Draco mengambil tangannya, membawanya kepangkuannya. "Karena aku tidak pernah mimpi buruk jika bersamamu," jawab Draco.

Hermione memandangnya lagi, dia tidak mengerti harus menjawab apa. Dia juga tak yakin kenapa namun kemudian Hermione memelukknya.

"Hermione," kata Draco bingung.

"Harusnya kau memberitahuku," kata Hermione.

Draco mengeratkan pelukkannya.

Hermione merasa tidak berdaya. Dia adalah seorang penyembuh. Dia sudah sering berurusan dengan orang yang mengalami trauma. Tapi bahkan dia tak bisa mengenali hal itu terhadap suaminya sendiri.

"Aku merasa bersalah padamu, harusnya aku tau," jawab Hermione.

"Aku tidak pernah mengalami mimpi buruk jika bersamamu, jadi tentu saja kau tidak tau," kata Draco. "Lagipula aku sudah terbiasa," kata Draco sambil mencoba tertawa.

Hermione memukulnya. "Kau tau itu tidak lucu," kata Hermione memarahi.

"Maaf," kata Draco menatapnya.

Mereka saling menatap dan entah kenapa terasa sangat canggung. Draco mengambil tangannya dan mendekapnya dengan erat.

"Aku tidak bisa menunggu lagi. Bagaimana putus asanya aku. Bagaimana aku bertingkah seperti- aku tau aku berengsek, tapi aku belum menyerah, aku pikir aku bisa menyerah, tapi tidak. Aku tidak bisa berhenti mencintaimu. Bahkan ketika aku ingin berhenti, dan percayalah aku berpikir beberapa kali sebelumnya akan mudah jika aku menyerah saja. Aku keras kepala, tapi aku mencintaimu. Aku tau aku bilang akan menunggumu sampai kau menerimaku dan aku akan melakukannya. Tapi belakangan ini aku merasa bahwa kau sudah bisa menerimaku. Tapi aku takut untuk berasumsi lebih jauh, Hermione. Jadi kalau apa yang aku pikir ini tidak benar, kau beri aku isyarat sesuatu apapun sehi-"

Kepala Hermione berdenyut sakit. Seakan memori kembali berangsur-angsur seperti ketika dia menggunakan pembalik waktu. Bersamaan dengan perasaanya pada pria ini luar biasa meluap. Dan tanpa berpikir lebih jauh, Hermione menangkupkan kedua tangannya ke pipi Draco dan menciumnya. Draco tampak terkejut, sebelum membalas ciuman itu. beberapa hari belakangan mereka sudah mulai berciuman, tapi itu tidak lebih seperti kecupan dibandingkan ciuman. Tapi ini berbeda. Ini sungguh sensual, dan nostalgia. Dia tak bisa menggambarkannya tapi begitu dalam dan tampak nyata. Bukan sekedar godaan dan fantasi.

"Apa aku berpikir ini seperti yang aku pikir?" tanya Draco melepaskan ciuman mereka. Mereka saling menarik nafas kehabisan oksigen.

"Oh, diamlah!" jawab Hermione kembali menarik Draco untuk menciumnya lagi. Kali ini lebih agresif dan meminta. Draco menindihnya. Dan mereka berciuman dalam bentuk horizontal yang eksplosif.

"Maksudmu ini belum seperti yang aku pikir?" tanya Draco ragu.

"Tidak kah kau mendengarku untuk diam," jawab Hermione sambil tertawa. "Aku minta maaf karena terlalu keras kepala. Kau tau aku sungguh malu," kata Hermione menunduk.

"Jangan," kata Draco meletakkan kedua tangannya ke leher Hermione. Menjaga agar Hermione menatapnya. "Aku yang bersalah. Semua ini tidak akan terjadi kalau aku bisa jujur terhadapmu. Kau tidak tau betapa sulit untukku menerima bahwa kau tak ingin berurusan denganku lagi. Bagaimana kau memeberiku bahu yang dingin dan melenggang pergi dengan angkuh seakan aku tidak berarti apapun. Sulit bagiku menjadi orang baik Hermione, tapi entah karena apa aku mendapatkan sesuatu yang sangat baik," kata Draco mengelus rahang Hermione penuh sayang. "Kau perlu menamparku, memarahiku, memakiku, tapi jangan pernah tinggalkan aku lagi, please," kata Draco menariknya dalam pelukan dan kembali menciumnya.

Ciuman itu semakin mendalam dan Hermione mengeluarkan suara erangan yang membuat anggota tubuh Draco yang lain mengeras. Tangan Draco melaju ke bagian pingul. Ketika Hermione kembali mengeluarkan suara erangan lagi Draco menarik diri.

"Walaupun aku tau kita sudah dalam jalur yang kita inginkan. Aku rasa kau belum siap untuk tahap berikutnya." tanya Draco terengah-engah.

"Kenapa kau takut? Karena sudah terlalu lama?" tanya Hermione balik sambil tersenyum mengejek.

"Merlin, aku bersumpah, aku tetap akan memuaskanmu walaupun sudah lama aku tidak melakukannya. Tapi kau tampak lelah, Hermione. Kita punya banyak waktu, tidak perlu terburu-buru," kata Draco menyampirkan rambut Hermione yang tergulai.

Hermione tersenyum. Dia memang sangat lelah sebenarnya. Tapi bukankah ini sangat sayang kalau di lalui begitu saja.

"Dan berhentilah berfikir. Otakmu juga perlu istirahat," kata Draco.

"Terima kasih. Telah sabar denganku, dan maaf karena membuatmu bingung," kata Hermione.

"Kau tidak tau, bahwa akulah yang paling bahagia karena kau mau memberiku kesempatan," kata Draco mengembalikkan badan ke posisi sebelumnya.

Hermione mendengus. Dia membuka kemejanya dan roknya. Menarik selimut, Draco menerimanya dengan tangan terbuka. Dan mereka saling tidur berdekapan seakan-akan itu hanya hari biasa yang melelahkan.

.

.

Hermione terbangun di pagi hari, canggung dipeluk dengan tubuh hangat. Dia menatap ke langit-langit dan membenarkan posisinya. Dia terlentang dengan salah satu lengannya melengkung. Draco meringkuk dengan kepalanya beristirahat di pundak Hermione. Dia ingat pernah berada di posisi seperti ini sebelumnya. Tapi dia akan berpura-pura tidur sebelumnya sampai Draco akan bangun terlebih dahulu.

Hermione tidak sadar kalau jari-jarinya berlari ke rambut pirang putih Draco. Draco bersenandung lembut dan Hermione berbalik menatapnya sekali lagi, menyadari lagi, bahwa dia membelai rambut Draco, dia berhenti tiba-tiba sehingga tidak membangunkannya.

"Mm, jangan berhenti," gumam Draco mengantuk dengan senyum damai di wajahnya. Hermione membalas senyum dan membelai rambut Draco lagi, memutar-mutar di jarinya saat mencapai ujung. Senyum Draco mengembang, dia membaui Hermione dan tangannya meliuk-liuk di bagian tengah Hermione. Kepala Draco juga mulai perlahan ke bagian bawah mengecup bagian atas buah dadanya.

Hermione merasa bahwa suhu badannya naik secara tidak normal. Tapi kemudian terdengar suara gaduh dari luar kamar dibarengi dengan suara Xander dan Louise yang tampaknya bangun dari tidur lelap.

Draco mengerang protes. "Kau tau," Draco berbisik, menempatkan kepalanya kembali dan tangannya di perut Hermione. "Aku tidak pernah benar-benar baik dalam berbagi."

"Kau tau, untuk beberapa alasan, itu tidak mengejutkanku," Hermione terkekeh pelan. "Tapi, aku takut kau harus belajar melakukannya. Mereka putraku."

"Putraku, juga dan aku tidak masalah berbagi kasih sayang dengannya. Tapi di tempat tidur aku ingin kau untukku sendiri," kata Draco, menempatkan ciuman lebut di lehernya.

"Dan hanya apa yang ingin kau lakukan dengan ku ketika kau memilikiku sendiri di tempat tidur?" Hermione tersenyum nakal.

"Aku tidak bermaksud seperti itu," Draco mengerutkan dahi. Dia tidak suka di salah pahami.

"Aku tau kau tidak.. tapi aku iya," kata Hermione tersenyum puas.

"Kau ingin aku mengatakan padamu apa yang akan aku lakukan denganmu?" Draco menyerigai. Tanganya berpindah dari perut ke pinggul dan dia membaui hidungnya ke sisi payudara Hermione.

"Papa!" teriak Alexander mengetuk pintu kamar mereka, lebih tepatnya memukulnya

Hermione dan Draco terkejut dan saling berpandangan. Kemudian Draco mengekek. "ternyata ini rasanya menjadi seorang ayah," katanya.

"Maksudnya?" tanya Hermione bingung.

"Diganggu oleh anak-anak," jawab Draco tersenyum memandang pintu. "Tidak bisa menikmati morning sexs," kata Draco melirik Hermione dengan senyum nakal.

"Papa!" teriak Louise ikutan.

"Papa, bangun, kau mengunci pintu," Teriak Alexander.

"Sebentar," jawab Draco beralih mengambil tongkat sihirnya untuk membuka pintu. Hermione dengan sigap mengenakan kaos Draco semalam untuk menutupi tubuhnya.

Alexander dan Louise langsung masuk dan berlari ke arahnya. Menaiki ranjang dan memeluknya.

"Kau di rumah!" teriak Alexander. Draco membatu Loiuse yang kesulitan untuk naik ke ranjang, dan kemudian si kecil juga ikut memeluk ibunya.

"Aku kangen sekali," kata Hermione.

"Mummy, tidak kerja hari ini kan?" tanya Alexander.

Hermione menggeleng. "Hari ini, Hari untuk Xander, Louise dan Papa," jawab Hermione mencium mereka satu persatu.

"Ibu kalian lelah, biar Mummy mandi. Sementara papa akan membuat sarapan untuk kalian, kalian mau apa?" tanya Draco pada anak-anak.

"Aku mau omelet seperti kemarin," jawab Alexander.

"Kau membuat sarapan untuk mereka?" tanya Hermione sedikit terkejut.

"Tentu," kata Draco.

"Benarkah?" tanya Hermione.

"Nope. Henry yang membuatnya, Mum," kata Xander.

"Hei, Henry hanya membantu. Aku kokinya," kata Draco pura-pura cemberut.

"Papa can't," kata Louise ikut bicara.

"Yeah, papa can't," Draco tertawa sambil mengusap kepala Louise.

.

.

"Jenna!" teriak Hermione memanggil Jenna.

Wanita setengah baya itu sedang menyirami bunga-bunga di depan tokonya. Belum ada sebulan Jenna membuka toko bunganya, tapi toko bungannya terlihat seperti toko bunga yang sudah lama. Hermione jadi curiga kalau mungkin Jenna sebenarnya punya ilmu sihir untuk membuat bunga-bunganya bisa tumbuh cantic dan segar.

Xander dan Louise berlari ke arah Jenna, dimana wanita itu menyambut mereka dengan tangan terbuka.

"Aku rindu pada kalian, anak-anak manis," kata Jenna memeluk mereka. "Kau sedang libur?" tanya Jenna pada Hermione.

Hermione mengangguk. "Aku sengaja membiarkan mereka tidak sekolah hari ini. Dan kami akan mengunjungi Draco di kantor. Tapi sambil menunggu makan siang tiba-"

"Kalian mengunjungi ku?" tebak Jenna.

Hermione nyengir sambil mengangguk.

"Kami juga rindu kau, Jenna," kata Alexander membujuk.

"Tentu, bagaimana mungkin kalian tidak merindukanku. Ayo kalian masuk," kata Jenna.

Hermione berkeliling toko bunga itu, sementara Jenna menawarkan kue untuk Alexander dan Louise. Toko itu tidak terlalu besar seperti toko bunga Jenna sebelumnya. Tapi cukup besar dibandingkan toko bungga biasa. Hermione melihat bunga mawar yang selalu ada di sana.

"Toko bunga ini sangat…. Sangat dirimu Jenna," kata Hermione. Pernyataan ini adalah perasaan senang dan juga sedihnya. Senang karena Jenna kembali menemukan hidupnya lagi. Hermione hampir yakin bahwa Jenna menyerah terhadap toko bunga nya karena keadaan Theo yang memburuk. Sedih karena sepertinya Jenna akan segara meninggalkan keluarga mereka, memang tidak benar-benar meninggalkan, tapi pasti akan berbeda.

"Aku tau, Hermione," jawab Jenna tersenyum sedih padanya, seakan mereka bisa saling mengerti satu sama lain. "Apa kalian membawa bekal untuk Draco?" tanya Jenna mengalihkan.

Hermione mengangguk. "tapi-" Hermione memberi isyarat kepada Alexander.

"Kami membawakan ini," kata Alexander berlari kea rah Hermione dan menarik keranjang yang dibawanya. Hermione dan Jenna tertawa.

Mereka mencoba cupcake buatan mereka untuk Jenna, sambil mengobrol saling meng-update kabar masing-masing. Jenna dengan kesibukannya dan Hermione dengan kesibukannya.

"jadi kau meninggalkan mereka dua hari hanya dengan Draco?" tanya Jenna agak terkejut. Jenna tidak pernah ingat Hermione bisa meninggalkan kedua anaknya sendiri dengan Theo, walaupun Jenna sendiri mengerti alasanya.

Hermione mengangguk.

"Dan yang paling membuatku terkejut adalah, kau menitipkan anak-anakmu pada Narcissa sebelum Draco menjeput mereka!" katanya.

Hermione mengeleng. "Draco meninggalkan mereka pada Andromeda."

"Yap, dimana Nana Cissa bisa mendatangi mereka," kata Jenna jenaka, mengikuti Alexander dengan memanggil Nana Cissa.

"Kau tau, aku tidak pernah punya masalah dengan Narcissa. Aku juga tidak berkeberatan kalau mereka berhubungan dengan Narcissa," kata Hermione.

"Nana Cissa, selalu membawa kamera. Lihat dia memberikan aku ini," kata Alexander menunjukan figuran foto. "Nana memintaku untuk memajangnya di kamar, tapi aku ingin menunjukannya padamu," kata Alexander menunjukkan foto dirinya, Louise dan Narcissa Malfoy.

"Ini foto yang sangat bagus, Hermione bolehkah kau menduplikatinya," kata Jenna memberikan figura itu kepada Hermione.

Hermione mengambil tongkat sihirnya dan menduplikasi foto itu, Jenna mengambilnya dan menaruhnya di salah satu buffet yang memajang foto-foto berharganya. Disitu juga ada foto pernikahannya dengan Theo, dan yang membuat Hermione agak terkejut adalah ada juga foto pernikahannya dengan Draco.

Hermione mendekati buffet itu, Hermione menatap pernikahannya dengan Draco. Dalam foto itu, Hermione terlihat tersenyum sedih, sedangkan Draco menatapnya dengan kesedihan yang sama.

"Bagaimana hubunganmu dengan Draco?" tanya Jenna.

"Membaik," jawab Hermione.

"Aku tau, cepat atau lambat kalian akan berbaikan. Aku melihat cinta diantara kalian," kata jenna.

Hermione mendengus. "Mungkin kau tidak percaya, tapi aku bisa melihat dengan jelas. Draco memang akan sulit untuk tumbuh, dengan latar belakang keluarganya. Tapi Malfoy akan selalu berkembang menjadi hebat," kata Jenna menjelaskan.

Hermione bisa melihat bahwa bagaimanapun Jenna adalah seorang Malfoy juga dan ada kebanggaan tersendiri menyandang nama itu.

"Mungkin kau ragu, tapi aku tidak. Kau harus berhati-hati Hermione, bukan karena siapa Draco sekarang. Tapi akan menjadi apa dia nanti," kata Jenna.

"Maksudmu?" tanya Hermione binggung.

"Hermione, apa kau tidak pernah menanyakan apapun mengenai apa yang di kerjakan oleh Draco. Dan apa kau tidak pernah melihat perkembangnya sekarang? apa perbedaannya Draco sekarang dengan beberapa bulan lalu sebelum kau menikahinya?" tanya Jenna tersenyum menggoda.

"Sayangnya tidak," jawab Hermione. "Tapi aku akan mulai memperhatikannya," kata Hermione. Baru semalam dia benar-benar berbaikan oleh Draco dan Hermione merasa malu, bagaimana mungkin dia tidak pernah menanyakan atau mengetahui apa yang dilakukan Draco selama ini.

"Malfoy akan menjadi hebat, tapi bagaimana kita melihat kehebatan itulah perbedaannya," kata Jenna.

"Apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri?" tanya Hermione menggoda.

"Tidakkah kau merasa aku orang yang hebat?" tanya Jenna jenaka. "Aku juga Malfoy, bukan?"

Hermione mendengus.

.

.

Hermione memasuki Gedung perkantoran di daerah pinggiran London. Dari luar memang tampak biasa saja, tapi ketika mereka memasukinya, tampak perbedaan yang sangat mencolok. Gabungan antara modern dan juga kuno khas dunia sihir. Hermione memang belum sempat mengunjungi kantor Theo di London, tapi Hermione tidak ingat bahwa perusahaan Theo semewah ini, walaupun Hermione membandingkannya dengan kantor Theo di Perancis.

Resepsionis dibagian depan langsung menyambutnya dengan senyuman ramah. "Mrs Malfoy!"

"Hem, Miss Alice Briton," jawab Hermione membaca name-tag di dada.

"Bisa aku bantu," tanya resepsionis itu dengan ramah.

"Aku ingin bertemu suamiku," kata Hermione.

"Baik," jawab Alice, dia mengambil gagang telpon dan kemudian menelpon tampak sepertinya sekertaris Draco. Mereka membicarakan sesuatu sambil mengangguk-angguk kecil. "Oke. Terima kasih."

"Mrs Malfoy, silahkan naik ke lantai 5," kata Alice ramah.

"Terima kasih," jawab Hermione mengandeng ke dua anaknya menuju lift.

"Apa Papa tau kita akan datang?" tanya Alexander.

"Sepertinya mereka memberitahunya," jawab Hermione.

"Surprise," Louise terbata menimpali.

"Ya, semoga saja mereka tidak memberitahunya," kata Hermione.

Sesampainya mereka dilantai lima, Hermione dikejutkan dengan kesibukan suasana di kantor ini dilengkapi dengan computer dan beberapa telpon.

"Mrs Malfoy," sapa Daniella Lupilato, wanita 40-tahunan namun cukup cekatan dan sedikit darah spanyol sepertinya.

"Ya," jawab Hermione.

"Saya sekertaris Mr Malfoy. Beliau sedang ada rapat, tapi beliau memberitahu bahwa anda dan keluarga adalah prioritas utama, namun kalau kiranya anda tidak begitu terburu-buru apakah anda mau menunggu di ruangannya atau perlukah saya memanggilnya dan menyelesaikan rapatnya?" tanya sekertaris Draco dengan bijak.

Hermione menyukainya seketika. Wanita ini cerdas dan bisa di andalkan.

"apakah rapatnya masih lama?" tanya Hermione.

"Kalau sesuai dengan jadwal harusnya 15 menit lagi selesai, dan waktu jam makan siang," jawabnya lugas.

"Biar kami menunggu di ruangannya saja, tapi kalau sampai jam makan siang belum juga selesai, kau bisa melapor kalau kami menunggunya," kata Hermione.

"Baik. Mari saya antar ke ruangan," kata Daniella.

Hermione di ajak ke ruangan Draco, ruangan itu lurusan dari lift. Mereka melewati beberapa ruangan yang Hermione yakin adalah ruangan rapat dimana Draco berada saat ini. Setelah mengantar Hermione ke ruangan dan menawarkan akan membawa minuman untuk mereka, Daniella keluar dari ruangan meninggalkan mereka bertiga sendiri.

Hermione agak terkejut melihatnya. Ruangan itu sangat modern, sesuatu yang dia tidak ingat bahwa Draco memiliki selera interior seperti itu. Hermione memutar ke bagian meja kerja Draco. Ada Laptop yang terbuka disana. Hermione mencoba membukanya, tapi ada password yang diminta. Hermione melihat ada beberapa foto yang di pajang disana. Salah satunya adalah foto dirinya dan Louise dan Alexander, di dalam foto itu mereka sedang tertawa di tepi danau di rumah, Hermione ingat bahwa Jenna lah yang mengambil foto itu sedangkan satu foto lagi adalah foto Narcissa sendiri, duduk di kursi berlengan Panjang.

Hampir di tengah meja ada pot bunga, bunga mawar. Hermione tidak ingat bahwa Draco suka mendekor dengan bunga, tapi kembali lagi dia menanyakan pada dirinya sendiri apakah dia benar-benar mengenal pria itu.

"Mom, dulu ini ruangan Daddy bukan?" tanya Alexander lugu.

Hermione mengangguk, tapi tidak yakin karena dia hanya pernah datang kemari satu kali saat Theo baru akan pindah.

"Tapi ini berbeda sekali," kata Alexander.

"Berbeda seperti apa?" tanya Hermione penasaran.

"Hem.. berbeda," kata Alexander lugu.

Hermione tertawa mendengarnya. "Ayo kita tata makanan yang kita bawa," kata Hermione berjalan ke arah sofa di ruangan itu. Mereka membuka bekal makanan, rencananya mereka ingin mengajak Draco untuk piknik di taman, tapi tampaknya tidak bisa karena Draco tampak sibuk. Hermione jelas bukan koki yang hebat, tapi hasil masakannya cukup enak, dan karena Henry juga membantu.

Melihat anak-anaknya sudah kelaparan, Hermione membuka makanan Louise dan menyiapkan makanan Alexander. Saat mereka sedang makan, tiba-tiba pintu terbuka agak kasar, tampak yang membuka terburu-buru. Draco tampak ngos-ngosan.

"Kalian tidak bilang akan datang?" tanya Draco berjalan ke arah mereka.

Hermione tidak tau apa yang membuatnya melakukan itu, tapi tiba-tiba saja dia berdiri dan berlari ke arah Draco dan menjatuhkan dirinya di pelukan pria itu, dan menciumnya.

Draco membalasnya.

"Kangen?" tanya Draco.

Hermione mengangguk.

"kenapa tidak bilang dari tadi, aku bisa menyelesaikan rapat lebih cepat?" kata Draco.

Hermione mengeleng. "Kau kan sedang bekerja, aku tidak ingin menganggu," jawab Hermione.

"Tentu saja tidak,"

"Ya, tapi kan bukan sesuatu yang urgensi, jadi kami bisa menunggu," kata Hermione.

"Tidak, buktinya kalian makan duluan," kata Draco cemberut.

"H'ry," jawab Louise yang membuat mereka tertawa.

Draco mengambil telpon di mejanya, "Dani, apa jadwalku selanjutnya?" tanya Draco dengan sekertarisnya.

"Oke, semua laporan itu bisa kau berikan nanti, atau besok saja ku cek,.. hem… oke, kabari jika urgensi," kata Draco.

"Kau tidak perlu mengosongkan jadwalmu seharian, kami hanya datang makan siang," kata Hermione.

"Iya, tapi aku tak bisa diganggu, bukan begitu Xander?" tanya Draco mengusap kepala anaknnya.

Alexander mengangguk.

"Jadi mana makananku?" tanya Draco menjulurkan mulutnya.

Hermione mengelengkan kepala tidak percaya dan menyuapinya sup cream dengan tuna asap yang di bawanya.

.

.

AN/

Hai… angkat kepala dan kemudian menunduk. Sorry…..

Aku.. tak bisa berkata-kata. Tapi aku masih hidup teman-teman.

Oke untuk chapter ini aku mau buat sesuatu yang manis dulu sebelum sesuatu yang rumit muncul. Bagaimana menurut kalian? Hem….