A/N : Yeaah I know for once more it's late. My Mac was collapse. So, I can't write this story. Btw, Happy Eid Mubarak, pals! (I know I know it's so so so late)
I own nothing, unless Andriana. has!
Chapter 9
I count the ways I let you down
On my fingers and toes but I'm running out
Clever words can't help me now
I'd grip you tight but you're slipping out
(Beautiful Goodbye – Maroon Five)
Keheningan amat terasa di ruangan itu. Suasana yang sempat menegang kini kembali tenang. Terlalu tenang sampai jarum jam yang berdetak bisa terdengar. Andriana tampak tengah menyeka air matanya yang sedari tadi menyeruak, sementara Draco hanya berdiri menyandar di sudut ruangan dengan segelas Whisky di tangannya. Tak ada lagi yang dapat ia utarakan pada Andriana. Begitu juga dengan wanita itu. Pernyataan bahwa Draco mencintai istrinya sudah cukup menjadi pukulan yang sangat telak baginya. Tak terbayang betapa sakit hatinya saat mendengar pengakuan Draco tadi. Dia sudah mengantisipasi hal terburuk yang akan diucapkan oleh Draco. Andriana lebih memilih dimaki-maki daripada harus mendengar pengakuan cinta untuk wanita lain dari pria yang selama ini ia cintai.
Andriana kembali menyeka air matanya dengan sapu tangan yang ia keluarkan dari tas tangannya. Maskara dan segala macam hiasan wajahnya luntur secara perlahan akibat gempuran air matanya. Wajah cantiknya kini terlihat sendu. Ia terlihat bangkit dari tempatnya. Dengan sedikit gemetar ia mendekati Draco. "Pulanglah," ucap Draco pelan sambil menatap Andriana.
Bukan tatapan cinta ataupun iba. Tatapan Draco dipenuhi dengan kasih sayang. Bagaimanapun juga wanita di hadapannya ini pernah mengisi relung hatinya. Andriana-lah yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kali. Walaupun kini semua sudah berubah, tak lantas menjadikan Draco hilang simpati padanya. Draco masih menginginkan mereka dapat berteman seperti dahulu. Seperti saat mereka sama-sama berumur belasan tahun. Saat hanya ada kesenangan yang menghiasi dunia mereka. Saat permasalahan dewasa tak pernah datang untuk membayanginya.
"Pulanglah," sekali lagi Draco mengulangi ucapannya.
Andriana mengangguk lemah. "Aku akan tetap mencintaimu," ujarnya dengan senyum yang dia usahakan semaksimal mungkin.
"Aku tahu," balas Draco pelan "sekarang pulanglah dan tenangkan dirimu. Aku yakin kau akan menemukan pria yang berkali-kali lipat bisa mencintaimu."
Lagi-lagi Andriana berusaha tersenyum. "Aku pasti akan menemukan pria yang berkali-kali lipat lebih tampan darimu, berkali-kali lipat mencintaiku, dan berkali-kali lipat lebih sukses darimu. Dan aku akan memastikan kau menyesal karena menolakku," kekeh Andriana.
Draco menyeringai saat mendengarnya lalu menganggguk. "Pastikan kau menikahi orang seperti itu. Bahagialah. Dan buat aku iri terhadap kebahagiaanmu," ujar Draco yang terdengar seperti akan melepas teman lamanya untuk pergi ke medan perang.
"Aku akan memastikan itu," balas Andriana .
Kemudian ia berbalik arah dan menghilang dari hadapan Draco. Draco yang masih merasa syok dengan semua kejadian yang baru saja ia hadapi itu kini kembali menuangkan Whisky ke dalam gelasnya dan menenggaknya cepat-cepat. Ia tak ingin menemui Hermione sekarang. Emosinya benar-benar sedang kacau. Bertemu dengan Hermione adalah pilihan buruk baginya. Ia akan merasa bersalah karena telah membohongi istrinya selama ini.
Ketukan kembali terdengar dari pintu ganda ruangannya. Draco melirik saat Isobel melangkahkan kakinya masuk dengan nampan bundar di tangannya. Ia terlihat mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan Draco, tapi tak menemukan apa yang ia cari. "Aku rasa aku tak pernah memintamu membawakanku secangkir teh," ujar Draco.
Isobel dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Mr. Malfoy, dimana Mrs. Malfoy?"
Draco mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat yang baru saja di lontarkan oleh Isobel tadi. "Apa maksudmu? Kenapa kau harus mencari istriku?"
"Tadi Mrs. Malfoy datang dan menyuruhku membuatkannya teh."
"Lalu dimana istriku sekarang?" Draco bertanya dengan nada seperti singa yang sudah siapa menerkam buruannya.
Isobel tampak ngeri mendengarnya. Ia tahu pasti akan ada masalah yang akan melanda bos-nya ini. "Aku tak tahu," jawabnya gugup "terakhir aku melihatnya ia sudah berada di depan pintumu," tambahnya lagi dengan lega karena sanggup menyelesaikan kalimatnya.
"Sudah berapa lama?"
"Sekitar setengah jam yang lalu."
Pikiran Draco kembali pada setengah jam yang lalu. "Shit!"
Tanpa mengambil mantel yang tergantung di samping kursinya ia langsung menghilang di perapian.
ooo
Tergesa-gesa. Tanpa lagi memikirkan kandungannya Hermione berlari menaiki tangga kediamannya. Dengan kasar ia membuka pintu ruangan kerja suaminya. Bukan hanya berlari seenak hatinya, bahkan tadi ia ber-Apparate. Hal yang sudah ia hindari sejak mengandung. Hilang akal. Atau lebih tepatnya terkungkung emosi. Hermione berusaha membuka pintu yang menghubungkan ruang kerja Draco dengan kamar gelap miliknya. Hermione membenci gelap, tapi entah setan apa yang merasukinya dengan segenap cara ia berusaha untuk membuka kamar itu. Cara konvensional. Ia berusaha membuka kenop pintu itu tidak berhasil juga. Saat itu juga ia mengeluarkan tongkat sihirnya dan merapalkan mantra. "Alohomora."
Tak ada yang terjadi. Pintu itu masih terkunci dengan rapat. Dengan wajah yang sangat kencang ia mundur beberapa langkah dan kembali mengacungkan tongkat ke arah pintu itu. "Bombarda maxima."
Terdengar suara ledakan dan pintu terbuka. Secepat angin ia masuk ke dalam. Ruangan itu tidak besar. Cenderung sempit, tapi panjang. Benar-benar gelap. Lebih cenderung terlihat seperti ruang bawah tanah berparit tempat para vampir tidur di sepanjang siangnya. Ada begitu banyak tali yang terhubung dengan foto-foto terjepit di tubuhnya. Hermione memerhatikan segalanya. Memerhatikan dengan sekasama. Gelap. Akhirnya lagi-lagi ia merapalkan mantra. Cahaya datanng menyinari ruangan ini. Ia sudah tahu apa yang akan ia temui di dalam ruangan ini. Tetapi, hal ini tetap saja mengguncang batinnya. Ada begitu banyak foto yang masih terjepit di tali-tali yang terbentang di sepanjang ruangan ini. Hampir semua foto itu memiliki objek yang sama. Andriana.
Andriana tertawa. Andriana tersenyum. Andriana menguap. Andriana tertidur. Andriana memberungut. Andriana dan bukunya. Andriana di pantai. Andriana di kathedral. Semuanya serba Andriana. Beberapa foto menangkap kebersamaan antara Draco dengan wanita itu. Ada juga foto yang mengabadikan mereka semua, Blaise, Theo, Draco, Pansy, dan tentunya Andriana.
Pandangannya kini beralih pada sebuah kotak kayu di atas meja panjang. Diatasnya tepatri inisial A. C. A. Hermione tersenyum sarkastik saat melihatnya. Dia membuka kotak itu secara perlahan. Ada beberapa barang yang ada di dalamya. Sarung tangan bewarna emerald, sebuah novel, plaster luka, origami bangau, dan foto Draco serta Andriana dengan latar laut biru.
Air mata langsung membanjiri matanya. Tanpa perlu repot untuk menutupnya, Hermione meninggalkan kotak itu yang masih terbuka dan segera keluar dari ruangan yang terasa bagai neraka banginya. Dia duduk lemas di sofa ruang kerja Draco dengan tatapan hampa. Dia menangis sekaligus menertawakan dirinya sendiri yang terlihat begitu lemah menghadapi situasi seperti ini. Seharusnya ia bisa menghadapi hal kecil seperti ini. Demi Merlin beserta antek-anteknya! Hermione pernah menghadapi situasi lebih berat serta gila dari sekadar masalah hati dan perasaan seperti ini. Dia menertawai dirinya yang terlihat seperti seorang remaja yang mengetahui bahwa dirinya hanya dianggap sebagai cadangan saja. Dia tertawa karena merasa lemah. Seharusnya ia bisa mengatasi hal ini dengan mudah. Toh dari awal mereka menikah dengan tujuan bercerai, bukannya memiliki anak dan hidup berbahagia selama-lamanya.
Terdengar derap kaki yang menaiki anak tangga menuju lantai dua kediaman mereka. Hermione sadar bahwa sosok itu adalah Draco. Tak ada hal yang terlintas di pikirannya. Apa ia harus marah? Sedih? Berteriak? Tapi untuk apa? Toh sejak awal kebersamaan mereka bukan hanya karena saling suka, melainkan rasa saling membutuhkan yang mendekat ke arah memanfaatkan. Hermione hanya duduk lemas di sofa ruang kerja Draco. Dengan mengerahkan seluruh kekuatannya ia berusaha mengatur semua emosinya. Perlahan-lahan ia mengusap perutnya meredakan kontraksi yang sedari tadi terjadi pada si kembar di perutnya. Ia juga berusaha menenangkan pernapasan yang memburu tak menentu.
"Hermione," suara itu akhirnya sampai di telinga Hermione.
Sekarang bulan Januari, notabene cuaca di London sedang sangat dingin, tapi lihat sosok yang berdiri di ambang pintu ruangan ini. Draco hanya mengenakan kemeja hitam yang sudah kehilangan dasinya dengan beberapa kancing terbuka dan celana panjang bahan. Tanpa menggunkan selembarpun jubah atau mantel. Napasnya terdengar sedikit terengah-engah. Perlahan ia berjalan mendekati Hermione yang masih duduk bergeming di sofa dengan tatapan kosong ke bawah. Dia berlutut tepat di hadapan istrinya.
"Hey," sapa Draco pada Hermione.
Diam. Tak satupun kata yang terlontar dari mulut istrinya itu. Dia masih duduk memandang kosong ke bawah. "Kata Isobel tadi kau ke kantorku? Kenapa tidak masuk?"
Lagi-lagi ia hanya diam.
"Hermione, katakan sesuatu , love."
Hermione tersenyum kecut mendengar sapaannya. "Ada apa sebenarnya?" Draco bertanya untuk kesekian kali.
"Jadi, Andriana, huh? Ooh aku salah, Charlotte? Atau masih ada nama lain lagi?" ucap Hermione yang masih tak mau menatap pria yang tepat berlutut di hadapannya.
Draco menaikkan sebelah alisnya. "Kau bicara apa?"
Hermione langsung menepis tangannya saat Draco ingin memegang bahunya. "Hentikan sandiwaramu. Aku tahu Charlotte adalah Andriana atau Andriana adalah Charlotte atau apalah itu," jawab Hermione yang menyeka air mata yang kembali meleleh.
"Aku tak ada hubungan apapun dengannya," Draco mencoba menjelaskan yang langsung mendapat tanggapan sinis dari Hermione.
Wanita hamil itu bangkit dari sofa. Wajahnya datar. Tak ada amarah atau ekspresi lain di wajahnya. "Tak ada masalah bila kau memiliki hubungan dengan wanita manapun. Termasuk Andriana. Lagipula, beberapa bulan lagi kita bercerai. Tetapi, aku minta kau sedikit bersabar untuk tidak bermesraan di depan publik seenaknya, aku masih dalam pengawasan migrasi."
"Hermione," Draco menaikan suaranya.
"Yaa," jawabnya "apakah aku salah bicara? Tentu tidak, aku rasa."
"Kita sudah tak memiliki kontrak lagi! Kau dan aku adalah pasangan suami istri normal," Draco berujar dengan amarah yang kembali meluap.
Hermione tersenyum sarkas saat mendengarnya "Kau bau alkohol. Pikiranmu sekarang pasti tidak jernih," jawabnya pelan dan lambat "pikirkan semua itu. Aku masih memiliki salinan kontrak kita. Perceraian akan segera kita lakukan secepat mungkin," tambahnya lagi kemudian berjalan pelan untuk keluar dari ruangan itu.
Air matanya bagaikan sungai yang tak sanggup terbendung lagi. Tetapi, ia berusaha menyembunyikannya. Dia wanita kuat, bukankah begitu? Dia sangat kuat sebelum bertemu dengan Draco. Suaminya yang terdiam pongo mengejarnya keluar. "Berhenti, love."
Hermione berbalik untuk menghadapnya "Berhenti memanggilku seperti itu. Aku bukan Charlotte-mu."
"Sudah berapa kali aku katakan, dia bukan Charlotte. Yang kupunya adalah kau. Hermione Jean Malfoy. Kau," Draco mendekati Hermione yang mematung dihadapnnya.
"Hanya kau, Hermione. Wanita dari calon anak-anakku."
"Hentikan sandiwaramu, Mr. Malfoy. Kau tahu? Aku mual melihatmu seperti ini," balasnya dingin seraya berbalik kemudian berjalan meninggalkan Draco.
"Demi Merlin, Hermione! Aku mencintaimu!"
Langkah Hermione terhenti saat mendengar kalimat itu. Ia kembali berbalik untuk menghadap Draco. Darah seakan-akan mendidih dikepalanya saat mendengar hal itu. Manik wajahnya berubah seketika. Ia melihat Draco sama bencinya saat ia melihat Voldemort saat itu. "Semudah itu kau mengucapkannya padaku," ujar Hermione tak percaya saat berada di hadapannya.
"Aku mencintaimu," Draco kembali mengatakannya "sangat mudah mengatakannya padamu. Karena aku benar-benar mencintaimu."
"Sama mudahnya dengan kau mengatakan hal itu pada Andriana?" suara Hermione meninggi.
Draco menatap bingung pada pernyataan Hermione tadi "Aku tak pernah mengatakan itu padanya."
Lagi-lagi Hermione tersenyum sarkas pada Draco "Kau amnesia atau bodoh? Atau ini efek dari alkohol yang tadi kau minum? Aku mendengarmu tadi. Sangat jelas! Bahkan aku yakin manusia dengan kepintaran di bawah rata-rata akan mengerti maksud dari ucapanmu tadi!"
Draco berusaha menenangkan Hermione yang berteriak dihadapannya "Lepaskan tanganmu," saat Draco mencoba memegang bahunya "aku sempat gila karena berpikir hubungan kita akan berhasil!"
Masih dengan wajah yang merah padam dan napas yang berderu Hermione meninggalkan Draco lalu menghambur masuk ke dalam kamar mereka. Draco terpaku di tempatnya. Hubungannya terlihat tak memiliki harapan sama sekali. Ia tahu isi otak dari Hermione. Tak mungkin dengan secepat kilat ia akan dimaafkan. Namun, apapun yang terjadi dalam hati Draco masih berharapa segalanya akan seperti semula. Ia kembali masuk ke dalam ruang kerjanya. Mata tertambat pada lubang besar di dinding ruangan itu. "Shit!"
Dia langsung masuk ke dalam rauangan kecil itu. Ia tahu mengapa Hermione bisa semarah itu padanya. Ia sadar bahwa Hermione berhasil masuk ke dalam ruangan itu dan menemukan semua hal yang selama ini ia sembunyikan. Kotak kayu yang berinisial nama Andriana sudah ternganga di hadapannya. "Aaaargh!" Draco melempar kotak itu ke lantai yang menimbulkan suara debum keras.
Ia bergegas menuju kamar mereka. Ia harus berbicara dengan istrinya sekarang. Perceraian bukanlah hal yang diinginkannya sekarang. Atau untuk selamanya. Ia sama sekali sudah mengubur kata-kata itu di hidupnya. Demi Merlin! Ia tak ingin bercerai dengan Hermione. Calon ibu dari anak-anaknya. Dia berdiri tepat di hadapan pintu ganda kamar mereka. Terkunci. Ia mencoba mengetuk , tapi tak ada jawaban. Ia menempelkan telinganya di pintu itu. Tak ada suara apapun. Draco sempat berpikir Hemione merapalkan mantra pengedap suara, tapi setelah ia periksa ternyata tidak. Draco bersandar di pintu itu. Hampir satu jam tak ada tanda-tanda dari Hermione. Panik mulai melanda dirinya. "Hermione," panggilnya sambil mengetuk pintu itu.
Tak ada jawaban. Sekali lagi Draco mengetuk pintu kamarnya. Tetap tak ada jawaban dari istrinya. Draco mundur beberapa langkah dan merapalkan mantra. Pintu kamarnya sontak terbuka. Hermione duduk di atas ranjang mereka dengan mata terpejam dan napas yang terlihat sangat tidak teratur.
"Love," Draco langsung menghampirinya.
Tatapan horor langsung menghiasi manik wajah Draco saat melihat apa yang terjadi pada istrinya. Seprai putih mereka kini telah kehilangan warnanya. Hermione seperti sedang duduk di atas hamparan darah. Cairan merah segar sudah membanjiri ranjang mereka. Hermione sudah tak sanggup membuka matanya.
"Hermione. Love," Draco berujar panik sambil terus menepuk-nepuk pipi istrinya yang sudah tak memberikan respon sama sekali.
"Hermione, bangunlah. Hermione," tedengar lebih seperti berteriak.
Draco hilang akal. Ia langsung membopong tubuh istrinya dan ber-Apparate ke St. Mungo.
ooo
Hermione sudah berada di dalam ruangan yang para Healer sebut dengan ruangan penanganan khusus. Draco masih berdiri mondar-mandir di depan ruangan itu. Perasaannya kacau. Banyak sekali darah yang keluar dari tubuh istrinya tadi. Satu per satu Healer berdatangan ke dalam ruangan itu. Suasana di dalam terlihat kacau balau. Draco semakin panik. Seorang Healer keluar dari ruangan itu.
"Mr. Malfoy?"
"Ada apa? Bagaimana kedaaan istriku? Anakku?" Draco membombardir Healer itu dengan berbagai macam pertanyaan.
"Tenanglah, Sir."
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan," ujarnya tak sabaran dengan manik panik.
Healer itu menghela napasnya "Kami tak tahu apakah kami akan sanggup menyelamatkan nyawa Mrs. Malfoy serta anak kalian. Jadi, kami ingin memastikan pada Anda untuk siapa yang menjadi prioritas utama untuk kami selamatkan."
"Selamatkan ketiganya. Istriku dan si kembar," balas Draco dingin.
"Sir, kami tak tahu hal itu bisa dilakukan atau tidak. Keadaan mereka kritis."
"Selamatkan ketiganya! Berapapun biayanya, selamatkan ketiganya!"
"Ini bukan masalah biaya, Sir. Ini lebih kepada masalah istri dan anak kembar Anda. Istri Anda kehilangan banyak darah, sementara pasokan oksigen ke anak-anak Anda semakin menipis. Putuskan sekarang juga, sebelum Anda kehilangan mereka semua," emosi Healer itu akhirnya ikut tepancing.
Draco membeku. Ia tak dapat membayangkan hidup tanpa Hermione. Ia tak dapat membayangkan hadir di pemakaman wanita yang baru saja akan memberikannya kebahagiaan. Sementara ia tak mungkin membiarkan Hermione menderita karena kehilangan si kembar. Ia sangat yakin Hermione akan memilih nyawa anak mereka daripada nyawanya sendiri. Tetapi, semua keputusan sekarang ada padanya. Tak peduli apa yang dipikirkan Hermione nanti. Ini adalah keputusannya.
"Selamatkan ibunya. Selamatkan istriku."
"Baik, Sir," Healer itu langsung kembali masuk ke dalam ruangan dimana Draco harus merelakan salah satu dari kebahagiaanya.
ooo
Wajah Draco terlihat seperti zombie. Ada kantung hitam di bawah matanya. Rambutnya acak-acakan. Setelah lima jam tak ada kabar dari dalam ruangan itu, akhirnya Haler tadi keluar dari dalamnya. "Sir, istri Anda sudah kami pindahkan ke ruang perawatan normal."
"Terima kasih."
Istrinya selamat. Hermione selamat. Sekarang dia hanya berjalan gontai dan terus berpikir keras untuk mencari cara bagaimana cara menyampaikan kabar buruk ini pada istrinya. Ia sampai di sebuah lorong rumah sakit. Kamar 708. Draco berdiri tepat dihadapannya. Tubuhnya bergetar. Seharusnya tak ada yang perlu terlalu disesali. Ia tak kehilangan apapun miliknya. Ia masih akan melihat wajah Hermione. Karena hanya Hermione-lah yang ia miliki secara nyata saat ini. Ia menganggap si kembar merupakan kado yang belum beruntung sampai di tangannya. Jadi, seharusnya tak ada yang perlu disesali karena secara harfiah ia dan Hermione belum sepenuhnya memiliki si kembar. Bukankah seharusnya kita mensyukuri apa yang kita miliki bukan menyesali apa yang belum ada pada kita? Ia terus menerus memikirkan hal itu. Tetapi, tetap saja ia merasa sangat sedih terlebih lagi ia merasa sangat bersalah. Karena dirinyalah semua ini terjadi.
Helaan napas. Entah sudah berapa kalinya ia menghela napas panjang di depan pintu itu. Dengan ragu ia membuka kenop intu itu dan kembali terpaku melihat apa yang ada di dalamya. Hermione masih terpejam di atas ranjanganya. Hal yang membuatnya terpaku adalah saat melihat dua orang Healer dengan seragam bewarna merah muda tengah menimang masing-masing bayi ditangannya. Disamping ranjang istrinya terdapat dua ranjang mungil.
"Mereka selamat?" tanya Draco tak percaya saat melihat apa yang ada di hadapannya.
Kedua Healer itu mengangguk bersamaan. Draco tetap terpaku di tempat. Tatapannya sungguh takzim saat menyadari apa yang dilihatnya sekarang. Ada binar kebahagiaan yang tak dapat ia lukiskan. Seperti seorang suci saat berhasil menginjakkan kakinya di Jerusalem atau Vatikan.
"Kemarilah, Sir," ajak seorang Healer.
Dengan ragu Draco melangkahkan kaikinya. Dua orang bayi yang terlihat sangat sehat tengah tertidur di gendongan para Healer. Dia langsung mengenali Alexander dan Alexandria-nya. Healer yang memegang Alexander langsung menyodorkan bayi itu padanya. Perlahan ia menerima. Sedikit rikuh ia menerima bayi mungil itu. Matanya terpejam dengan napas yang begitu teratur. Usia mereka baru memasuki pertengahan delapan bulan di kandungan ibunya, tapi mereka terlihat begitu sehat dan sangat menggemaskan. Draco beralih pada Alexandria, putri kecilnya. Pipinya yang kemerahan dengan tangan yang terkepal dan bibir yang melengkung membentuk 'o' membuatnya semkin takjub kepada makhluk kecil yang berada di hadapannya. Rambut mereka pirang. Cetak biru dirinya. Tetapi, ciri khas Hermione juga sudah melekat di bayi perempuan mereka. Alexandria memiliki rambut yang ikal berombak.
"Bagaimana keadaan isrtiku?"
Healer yang sudah kembali menggendong Alexander tersenyum "Ia sedang tidur. Besok pagi pasti sudah sadar. Kami sengaja memberikannya ramuan untuk tidur agar kesehatannya cepat kembali."
"Terima kasih," jawab Draco
"Sebaiknya Anda tidur juga, Sir. Si kembar akan kembali kami bawa ke ruang bayi."
Draco mengernyitkan dahinya "Mereka tidak tidur diruangan ini?"
"Ruangan ini kurang hangat bagi mereka. Mereka adalah bayi prematur, kehangatan suhu ruangan harus dijaga agar tidak terjadi hipotermia mendadak."
Draco megangguk "Baiklah," dengan berat hati ia menyerahkan Alexandria pada Healer satunya. Lalu mereka hilang di balik pintu.
Draco menarik kursi agar dapat duduk di samping istrinya yang masih tertidur. Ia mengelus pipi Hermione yang terasa dingin. Ia mengenggam tangan istrinya itu. "Kejutan sudah menunggumu, love."
Kemudian ia terlelap tepat di samping istrinya.
ooo
Sinar matahari menembus sela-sela mata Draco yang tertutup. Ia dapat merasakan badannya seakan remuk. Punggungnya begitu pegal. Saat membuka mata, ia baru sadar bahwa semalaman ia tertidur dengan posisi duduk di samping ranjang istrinya. Tetapi, dimana Hermione sekarang? Ranjanganya kosong. Draco langsung bangkit dan mengedarkan pandangannya di ruangan itu.
Hermione sedang berdiri menatap ke jendela. Masih dengan jubah putih khas rumah sakit dan rambut yang sedikit acak-acakan. "Kau sudah bangun?" sapa Draco.
"Sudah, beberapa jam yang lalu. Kau seperti orang mati. Aku tak mungkin membangunkanmu."
Draco tersenyum saat mendengarnya. "Si kembar akan di bersihkan dan segera di antar kesini," ujar Hermione takjub.
"Hermione."
"Tak ada yang berubah Draco, kita akan tetap bercerai," jawabnya santai.
"Hermione."
"Hey, lihat si kembar datang," Hermione langsung menghampiri Healer yang mendorong ranjang berisi kedua anak mereka.
"Selamat Mrs. Malfoy bayi kalian sangat sehat."
"Terima kasih."
Healer itu kemudian meninggalkan mereka. "Hermione."
Si empunya nama masih sibuk menimang salah satu dari si kembar. Sama sekali tak menghiraukan Draco yang memanggilnya.
"Aku tak ingin kita bercerai."
"Tapi, aku ingin kita bercerai," balas Hermione datar.
"Hermione, lihat aku."
"Bersandiwaralah, Harry dan yang lainnya sebentar lagi sampai," balas Hermione seperti tidak terjadi apa-apa.
Benar saja. Tak berapa kemudian para sahabat mereka datang. Mereka sangat takjub saat melihat si kembar. Bayi yang begitu cantik dan tampan yang pernah mereka lihat. Perpaduan antara Draco dan Hermione yang sangat sempurna. Tak henti-hentinya mereka mengucapkan selamat. Berbagai macam kado mereka hadiahkan untuk si kembar. Balon, boneka, bunga, dan segala macam pernak-perniknya.
Saat semua sudah pulang, Hermione kembali bersikap dingin pada Draco. Hal yang membuat Draco semakin terpukul bahkan Hermione seperti menganggapnya tak ada.
ooo
Setelah Healer menyatakan bahwa kondisi Hermione sudah benar-benar pulih, mereka diizinkan untuk meninggalkan rumah sakit. Tanpa memedulikan Draco, Hermione berjalan menuju walk-in closet. Dengan sedikit sentuhan sihir barang-barangnya sudah tertata rapi di dalam koper. Begitu juga dengan semua perlengkapan si kembar.
"Kau mau kemana?" tanya Draco dingin.
"Aku akan pindah sementara waktu sampai perceraian kita tiba," balasnya datar.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja. Kau istriku dan disinilah rumahmu."
Hermione tersenyum kecut "Sebentar lagi aku bukanlah siapa-siapamu. Sekarang atau nanti pasti akan sama."
"Hermione! Jangan bertindak bodoh. Kau akan kehilangan kewarganegaraanmu."
"Bahkan aku tak peduli terhadap hal itu. Aku siap dideportasi bila itu memang hal yang terbaik."
Koper-kopernya sudah berada diruang tengah. Si kembar tengah tertidur di stroller-nya. Hermione berjalan cepat menuruni tangga. Berbalik sebentar untuk melihat Draco yang masih berdiri tak berdaya. "Selamat tinggal, Mr. Malfoy."
Hermione ber-Apparate bersama si kembar. Hanya secarik perkamen yang berisi surat pengajuan perceraian mereka saja yang tertinggal.
ooo
to be continued
Pojokan Review
- Maria : haha yes, I have. His name is Ethan (I promote you broh! haha). Unik? yaa masa punya kembaran bisa dibilang unik hehe. Btw,terima kasih sudah review :)
- Mizuumi Yuki : terima kasih sudah review lagi. Hermione sengaja saya buat cengeng. Menurut pengamatan terhadap kakak saya yang pernah hamil, hormon mereka suka meledak-ledak. Bisa tiba-tiba baik, cerewet, pemarah, cengeng dan gejolak hormon lainnya. Iya saya semakin sibuk -_-" program master saya sudah diterima (Praise for God) sekarang sedang dijalankan hehe. Saya tidak pernah bosan dengan bacotan a.k.a review dari kalian kok haha.
- mrs. delacour : hey, salam kenal juga. Saya suka berbagi pengalaman saya saat berkunjung ke berbagai negara :) btw, terima kasih sudah mereview
- GiaMione : Andriana jangan dimatiin, kalau dia ngga ada terus konflik cerita saya apa dong? hehe. Sebenernya sih iya, saya terinspirasi dari kembaran saya juga, iya saya cewe. Nama saya Evangeline, masa cowo -_- haha. Maaf-maaf upadate-nya telat hehe. Semakin kamu cerewet saya semakin senang. Berarti cerita saya di apresiasi banyak orang hehe (saya dok bijak deh). Terima kasih sudah review :)
- sistoel : terima kasih sudah review. Maafkan atas kecerobohan saya. I'd try so hard, but still. It's hard hehe. Iya saya perempuan. Terima kasih sekali lagi loh:)
For once more, thanks for all of your review. Btw, I'm a girl. Just visited my bio. I write about my lil identity in there hehe. Keep read and review guys. Still rock still awesome! Maaf tidak bisa membalas satu per satu :)
