MOANA
.
.
.
Aku ingin pergi...
"..."
Semua yang mendengarnya bergumam langsung hening seketika.
A-apa?
Maui sendiri bahkan nyaris tidak bisa berbicara.
Kau ingin pergi?
Apa maksudmu Moana?
Kemana kau akan pergi?
"Moana?" Tui memanggil lagi.
Perlahan-lahan Moana membuka matanya dan melihat orang tuanya, Maui serta Alelo sedang mengerumuni dirinya. Moana bisa melihat raut panik dan cemas yang terpancar masing-masing di wajah mereka.
"K-kalian?"
Maui hanya bisa diam, melihat ibunya langsung memeluk putri satu-satunya dan Moana pun tak bereaksi apapun.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Tui menghela nafas ringan. "Moana, kau tidak bermimpi apapun kan?"
"A-apa maksud... uhuk! ayah...?" tanya Moana.
"Kau... tidak menyadari apa yang kau katakan tadi?" tanya Maui.
Tapi Moana hanya menggeleng "Tidak"
"Sungguh?"
"Memangnya... tadi aku mengatakan apa?"
Ternyata Moana sendiri tak menyadari kalimat yang baru saja dia ucapkan, mungkin dia hanya bermimpi atau sedikit menggigau.
"Nah, Kepala suku, sebaiknya kau kembali tidur. aku akan terus memerhatikan kondisimu seharian penuh" kata Alelo.
"Jadi... apa Moana harus berbaring sepanjang hari di kamar?" tanya Maui pada sang tabib desa.
Alelo mengangguk pelan. "Iya"
Moana tidak mengatakan apapun kecuali harus membiarkan tubuhnya kembali berbaring di atas tikar. kepalanya sangat berat untuk di angkat, tangan dan kakinya seperti sulit tak bisa bergerak, yang hanya bisa ia lakukan untuk hari ini adalah berbaring dan bernafas.
Moana perlu bernafas karena paru-parunya terasa berat.
"Ugghh…" Moana mulai mengerang kesakitan.
Sina menempatkan tangannya di atas dahi putrinya, wajahnya menampakkan ekspresi agak terkejut.
"Demamnya datang lagi"
Maui tak bisa melihat keadaan kawannya seperti ini, makanya dia langsung memilih keluar dari fale.
"Maui?" panggil Tui, tapi si dewa angin dan laut tersebut sudah keburu pergi.
Dengan hati yang berat, Maui terpaksa meninggalkan Fale-nya Moana.
"Tidak bisa, aku tidak bisa melihat Moana kesakitan begitu. aku tidak bisa..."
Maui hanya bisa pasrah di dalam hatinya, andai saja dia adalah dewa kesembuhan, dia sangat pasti akan menyembuhkan Moana dari Kohi. tapi sial sekali, mengapa dirinya seorang dewa yang di agung-agungkan seluruh mahluk tidak mampu menyelamatkan temannya dari sebuah penyakit?
Itu cuma penyakit! kenapa kau tidak bisa menyelamatkan, Moana?
Maui menggeleng, bahkan batinnya sendiri memarahinya.
Mini-Maui hanya bisa memasang wajah sedih dan kasihan untuk tuannya, Maui tahu, tato kecil di dadanya ini juga temannya Moana. dia selalu tahu apa yang dirasakan hati Maui saat ini.
"Aku tahu kawan kecil, aku tak bisa berharap banyak"
Tapi Mini-Maui menunjuk-nunjuk ke Mini-Moana yang ada disebelahnya. Maui agak heran, tapi Maui baru menyadari bahwa warna tato Mini-Moana di dadanya mulai pudar.
"A-apa!?"
Tato Mini-Mo di dadanya hampir pudar?
"Mini-Mo? kau baik-baik saja?" tanya Moana pada tatonya.
Mini-Moana memasang raut wajah sedih, sebagian tubuhnya, perahunya, berwarna hitam pudar. Maui mulai takut, pudarnya tato Mini-Mo di dadanya bisa menandakan bahwa sebentar lagi Moana akan...
"TIDAK!" teriaknya, membuat Mini-Maui sampai terkejut.
"Moana tidak akan mati! bagaimanapun keadaan dia, akan ku pastikan jantungnya masih berdetak dan dia masih bernafas!" jawabnya.
Moana sudah berjanji bahwa dia akan terus hidup kan?
Janji itu harus di tepati!
Ingin rasanya Maui mencengkram kepalanya sendiri. penuh emosi, rasa sedih, tak bisa ia bendung lagi...
"Maui?"
Tui memanggil, Maui langsung menoleh ke arahnya.
"Tui?"
"Kenapa kau langsung lari dari fale?" tanya dia.
Maui tak menjawab, matanya tetap menatap pantai di depan.
"Maui?"
"Maaf, aku tidak sopan" jawab Maui.
"Moana meminta maaf padamu, sepertinya dia merasa bersalah telah membuatmu sedih seperti ini" jelas Tui, berdiri di sebelahnya ikut menatap pantai.
"Dia tidak perlu minta maaf, dia tidak salah. tapi... penyakitnya yang salah"
"Dia tidak ingin kau menemuinya dulu selama seminggu kedepan"
Maui tetap diam.
Tui menepuk bahu si dewa angin dan laut tersebut, memasang tatapan yang sulit ia ekspresikan untuk hari ini. "Maafkan aku, kau boleh menyalahiku karena telah memisahkan kalian untuk sementara, tapi ini demi Moana. dia bilang tidak ingin kau ikut tertular"
"Aku tidak akan tertular, aku ini dewa"
"Aku tahu" Tui mengangguk. "Sekali lagi, aku meminta maaf padamu"
Jangan, jangan minta maaf padaku...
Untuk apa harus meminta maaf? ini bukan salahnya kan?
"Baiklah, aku memahamimu" kata Maui. walau ia harus pasrah menerima permintaan
Moana.
Ah, pasti dia akan sangat merindukannya.
Dua minggu kemudian...
Sesuai permintaan, Maui tidak menemui Moana semenjak hari itu.
Moana sudah sakit selama dua minggu. dia tidak pernah keluar dari kamarnya, Maui hanya bisa mengandalkan kabar dari mulut ke mulut untuk memastikan kondisi Moana. kadang dia bersyukur Moana masih baik-baik saja, tapi terkadang dia hampir panik mendengar penyakitnya makin memburuk.
Maui sangat tersiksa. dia kesepian, sehari-hari yang ia lakukan hanya berjalan di tepi pantai. mengajak HeiHei dan Pua bermain, mendongeng untuk anak-anak, atau sekedar mengubah dirinya menjadi Elang dan terbang mengelilingi pulau Motunui.
Sesekali, Maui melihat ibunya Moana keluar dari fale, mengambil sedikit buah-buahan yang di titipkan tetangganya, lalu kembali lagi masuk kedalam. sepertinya Sina menghabiskan waktunya menemani Moana didalam kamar sepanjang hari. atau terkadang, ada beberapa orang datang menjenguk kesana.
Maui penasaran, apa maksud kalimat Moana yang di ucapkan dua minggu lalu itu?
Aku ingin pergi...
Kalimat itu... maknanya dalam, penuh arti. Maui menduga itu bisa jadi kalimat terakhirnya Moana sebelum ia meninggal, tapi syukurlah, Dewa masih berbaik hati memberinya kesempatan untuk hidup.
Mungkin dia bisa menanyakan itu kalau keadaan Moana sudah pulih.
"Pasti sepi ya rasanya tanpa Kepala Suku?"
"Iya"
"Biasanya pagi-pagi begini, Kepala suku sering membantu para nelayan untuk pergi keluar karang mencari ikan. tapi sekarang tidak lagi"
"Untungnya, Moana sudah mengajari kami cara berlayar yang benar"
"Jadi, kami tidak perlu merepotkan dia lagi"
Maui menangkap pembicaraan mereka dari tempatnya ia duduk di pasir pantai, ya... Maui punya pendengaran yang tajam. ia tahu apa yang mereka bicarakan, intinya, Motunui merindukan kehadiran sang Kepala suku mereka berdiri di antaranya.
"Maui"
"Hm?"
Alelo datang menghampiri si dewa tersebut ke pantai.
"Alelo, bagaimana keadaan Moana?" tanya Maui.
Alelo nampak diam, tapi dia berusaha untuk berbicara. "Ayo, ikut aku ke Fale Tele, para dewan dan tetua berkumpul disana. Tui juga ada disana..."
"Eh?"
Maui agak heran, kenapa dirinya harus ikut ke Fale Tele?
"Memangnya ada apa?"
"Ini penting, para dewan juga memerlukanmu untuk berbicara"
Maui penasaran, makanya ia putuskan untuk menurut saja.
"Baiklah... aku akan kesana"
Ada apa ya? aku mulai khawatir...
Bahkan, tabib macam Alelo saja pun mesti ikut ke dalam pertemuan di Fale Tele desa. tapi Maui berharap ia mendapat berita baik lewat pertemuan tersebut. mungkin mengenai kejadian perginya Malelo dan bawahannya dari Motunui karena takut penyakitnya Moana.
Hari ini, Moana sedang apa ya?
TO BE CONTINUED
AN : Wahh mohon maaf, ini pendek banget XD, tapi minggu dpn update agak panjang kok, makasih udah nunggu guys!
satu lagi, selamat berpuasa!
