Chapter 9 is up! Aduh..aku malu sekali, banyak review bagus yang masuk, tapi sendirinya telat ngeupdate. Terakhir kali kulihat, ternyata sudah sampai 3 bulan tidak ada kabar apa-apa! Hebat, kan?*kepala dijitak bata* Apa boleh buat, tugas di sekolah, mana mata lagi sakit karna kebanyakan di komputer (saran : jangan begadang sambil di depan komputer, ya…) menyebabkan writer's block. Ah, maafkan aku ya… langsung saja kita lanjutkan cerita banyol ini. Nah, kali ini kuizinkan seseorang yang memulai disclaimer.
Aokiji : zzzzz……
Shoojo : Hei! Kok malah tidur…bangun! Ucapkan disclaimer!
Aokiji : Ngghhh… *mengusap mata* ah, kau.
Shoojo : 'Ah, kau' apanya! Kau 'kan yang minta mengucapkan disclaimer! Nah, sekarang cepat!
Aokiji : Ohh…baiklah. Orang jelek dengan penname Shoojo yang pemalas, tukang tidur, nggak laku-laku ama cewe, suka dimarahin guru, dan malas ngeupdate ini bukanlah pemilik One Piece. Sekian. *tidur lagi*
Shoojo : *gerutu marah* Kau cuma mau mengejekku, kan?
Cerita sebelumnya :
Usopp dan lainnya berhasil kabur dari penjara, Luffy berhadapan dengan Smoker, sementara itu, Tashigi akan menghadapi lawan yang tak terduga…
xxxxxxxxxxx Kita Kabur! Tashigi vs Vivi xxxxxxxxxx
Vi…Vivi!?
Zoro hanya bisa membatu, melihat gadis berambut biru panjang yang kini di depannya, dengan pedang baru di kedua tangannya, terancung ke depan, ke arah Tashigi yang juga terdiam, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang jelas. Para pelaut yang lain berdiri kaku, seolah berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi, tidak percaya putri kerajaan akan menyerang angkatan laut.
Apa yang ada di pikiran wanita itu? Apa dia gila?
Sekarang situasinya akan rumit. Jika mereka, para angkatan laut, tahu bahwa Vivi sebenarnya tidak diculik, bahwa semuanya sudah direncanakan, bahwa Vivi dan kelompok mereka ada hubungan dekat, maka hal yang selanjutnya akan menjadi lebih mengerikan lagi, terutama buat Vivi. Dan karena Vivi adalah putri kerajaan Arabasta, bisa saja kerajaan itu juga dalam bahaya, karena akan dianggap membantu kelompok bajak laut Mugiwara. Bisa saja mereka diserang pemerintah, rajanya ditangkap, dan segala hal buruk lainnya…memikirkan hal ini membuat Zoro dilanda perasaan bersalah, jika tahu Raja Cobra, ayah Vivi, harus ikut terlibat juga. Entah apa reaksi Vivi dalam menghadapi hal ini…
Dan bukan hanya Zoro saja yang bertanya-tanya maksud tindakan Vivi, tapi juga Tashigi.
"Putri Nevertari Vivi! Apa yang kau lakukan?" tanya Tashigi dengan suara keras penuh tanda tanya.
Vivi hanya terdiam, membatu di tempat. Dia sendiri tidak tahu apa alasan yang mendasari tindakan aneh dan gilanya ini. Yang dia tahu hanyalah bahwa Zoro dalam bahaya, dan dia harus melakukan sesuatu. Dia tidak berpikir apa yang akan terjadi dikarenakan tindakannya ini. Sekarang apa yang harus dikatakannya? Bahwa dia sebenarnya bukan tawanan Mugiwara? Bahwa dia ikut dengan sukarela? Bahwa dia dan si topi jerami ada relasi spesial?
Dia berbalik ke belakang, matanya bertemu dengan mata hitam milik Zoro dengan penuh harap. Matanya menunjukkan ekspresi hampa dan keterkejutan. Kecewa, Vivi menghela nafas, berharap Zoro bisa membantunya sedikit namun sepertinya bushido berambut hijau itu juga tidak ada ide sedikitpun.
Oh, semoga saja keajaiban terjadi agar kami bisa keluar dari masalah ini…batin Vivi memelas.
"GOMU-GOMU BAZOOKA!"
Luffy menyarangkan jurus andalannya ke arah Smoker, namun sia-sia karena Smoker mengubah dirinya menjadi asap. Entah karena keburu nafsu mengetahui nakamanya tidak diketahui keadaannya atau ingin cepat-cepat menyelesaikan pertarungan ini jadi dia bisa mencari Usopp dan yang lain, Luffy langsung menyerang tanpa menyadari lupa kalau Smoker pemilik buah Logia. Baru ketika serangan barusan, dia langsung teringat dan bersiap mengambil ancang-ancang untuk berubah ke Gear 2nd. Namun tiba-tiba dia merasakan ada benda tumpul menusuk perutnya dengan keras, mendorongnya jatuh ke tanah. Dia sontak merasa lemas, kehilangan tenaga, hanya mampu melihat penyerangnya – Smoker – dengan kesal.
"Luffy!" teriak Sanji dengan panik, nalurinya menuntunnya untuk mengayunkan kakiknya yang membara ke arah tongat batu laut yang bersarang di perut kaptennya. Sayangnya Smoker sudah menyerang Sanji telebih dahulu. "White Blow!" tinju asap putih mengenai Sanji telak.
"Kalian terlalu lemah, apa kalian meremehkan angkatan laut?" ejek Smoker. Sementara itu, Hina menonton dengan senang dan tertarik. 'Tampaknya si asap ini tidak akan menemui banyak kesulitan,' batinnya.
Setelah bisa berdiri, Sanji bermaksud menyerang lagi, namun terhenti ketika mendengar suara melengking dari belakang "Menyingkir, Sanji!"
Dia mengenali suara itu, dan berbalik ke belakang, melihat Nami bersiap dengan Perfect Clima Tact miliknya. Sanji hanya menurut, tahu kalau Nami bermaksud melancarkan serangan.
Melihat Sanji sudah menyingkir, Nami langsung melancarkan serangannya. "Cyclone Tempo!" Dua bilah silinder besi berbentuk X itu terbang disertai hembusan angin kencang. Smoker langsung terbawa angin tersebut beserta tongkatnya.
"Nami-swan, kau hebat sekali!" puji Sanji bersemangat.
Luffy langsung bangkit berdiri dan menuju rekannya segera setelah dia lepas dari Smoker. "Wow, Nami. Bagaimana kau tahu kalau dia bisa diserang dengan angin?" decak Luffy kagum.
"Gampang. Pengetahuan dasar seorang ahli cuaca. Asap pasti akan terbawa oleh angin." kata Nami bangga.
Sementara itu, Smoker yang berdiri dengan susah payah, merasa kesal, buruannya bisa lolos lagi. Kemudian dia mendengar cekikikan kecil, yang berasal tidak lain dan tidak bukan dari Hina. "Tampaknya aku harus turun tangan, ya…" katanya, nada cemoohan tampak dari suaranya.
"Kau tidak usah ikut campur!" bentak Smoker, sangat terganggu dengan Hina.
Mendengar balasan Smoker, Hina hanya mendengus. "Kau memang sinting, masih saja mau mempertahankan harga dirimu." Lalu dia maju, menghadap ke arah Luffy dan yang lain.
Nami dan Sanji melihat wanita berambut pirang keputihan dengan baju hitam di depan mereka dengan waspada. "Hati-hati, tampaknya yang satu ini juga berbahaya." kata Sanji memperingatkan.
"Kita belum tahu apa kekuatannya, apa dia pemilik kekuatan buah iblis juga atau tidak," tanggap Nami, "tapi kelihatannya dia berpangkat sama dengan Smoker, jadi dia juga pasti hebat."
Sanji mengawasi lagi, bersiap akan serangan yang akan datang. "Kita lebih baik jangan menyerang dulu, terlalu berbahaya. Luffy, kau me-"
"Aku tidak peduli! Kalau dia musuh serang sekarang juga! GOMU-GOMU PISTOL!!!"
Nami menundukkan kepalanya, tampak murung dan kesal melihat kelakuan kaptennya. Sanji menepuk dahi. Kapan si idiot ini belajar untuk bersabar sedikit?
Melihat lengan kanan Luffy meluncur ke arahnya, Hina mengelak dengan cepat ke samping. Ketika lengan itu berada di hadapannya, dia segera mengangkat kaki kanannya ke arah lengan Luffy, menghantam lengan itu. Namun alih-alih terkena lengan Luffy, kaki Hina tampak memisah begitu mengenai lengannya, dan segera membentuk cincin hitam di lengan Luffy, dan kakinya kembali ke bentuk semula.
Luffy, Nami dan Sanji melihat peristiwa itu dengan terkejut dan penuh horor dalam mata mereka.
"Jadi dia pemilik kekuatan buah ibils!?" teriak Nami.
"Buah apa itu?" tanya Sanji kebingungan.
"Mana kutahu! Yang penting lepaskan benda ini!" teriak Luffy panik. Dia menarik kembali lengannya dan mencoba melepaskan 'benda hitam' yang melingkari tangannya, tapi tidak bisa.
"A-ada masalah, Luffy!?" tanya Sanji, melihat usaha Luffy.
"Ugh…i-iya…benda ini –ugh- susah sekali dilepas…" balas Luffy sambil terus berusaha membebaskan tangannya.
"Sini, biar kucoba." Sanji berusaha melepaskannya, namun juga gagal.
"Sial! Kalau begitu…Gear 2nd!"
Asap langsung muncul dari tubuh Luffy yang mulai berubah jadi merah panas. Sanji segera menyingkir, tahu bahwa kaptennya bermaksud menyerang, dan lebih baik jangan mengganggunya. Dia dan Nami bersiap di belakang, kalau-kalau ada serangan tiba-tiba. Luffy langsung maju menerjang ke depan dengan kecepatan supernya, ke arah Hina. Kepalan di tangan kanannya, yang dilingkari cincin hitam, mengepal dengan erat-erat dan keras.
Sementara itu, Hina hanya berdiri, bingung dengan perubahan tubuh Luffy.
"Apa itu?" tanyanya, lebih ke dirinya sendiri, namun sebelum ada jawaban dia telat bereaksi dari serangan yang datang.
"Gomu-Gomu Jet Pistol!" Pukulan cepat dan kuat itu tepat menghantam pipi kiri Hina, melemparkannya ke belakang dengan jarak yang cukup jauh.
Sanji dan Nami tidak dapat menyembunyikan kesenangannya melihat lawan mereka dijatuhkan oleh kapten mereka. Luffy berdiri di tempat sebelumnya Hina berada, matanya menunjukkan tantangan ke Hina lagi.
"Ugh..!" Hina berhasil berdiri lagi, kini menatap ke arah Luffy, matanya menunjukkan kemarahan.
"Maju…" tantang Hina, ada nada kekejaman dalam suaranya.
"Ayo!" balas Luffy sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dadanya.
--------- di kapal angkatan laut ---------
"Hei! Kalian dengar itu?" tanya Franky, berusaha mempertajam pendengarannya.
"Ya, kami juga dengar." jawab Chopper. "Seperti suara pertarungan…ada yang berteriak…suara ini…rasanya kukenal…Luffy!"
Muka Usopp langsung kesenangan. "Ha ha…berarti Luffy dan yang lain berusaha menyelamatkan kita!"
"Yohoho! Aku tahu mereka pasti mau menyelamatkan kita!" kata Brook kesenangan.
"Itu berarti kita harus cepet-cepat ke luar dan membantu mereka bertarung." saran Robin kepada kawan-kawannya.
"Tentu saja!" Franky bersiap melepaskan sarung kulit di kepalan tangannya kanannya, Brook mengeluarkan pedangnya, Chopper mengambil Rumble Ball, dan Usopp mengeluarkan Kabuto milik Sogeking…
"Tunggu, Usopp! Itu, kan punya Soge King! Darimana kau dapat?" tanya Chopper penuh keheranan melihat senjata di tangan Usopp.
"Eh!?" Usopp lebih heran lagi mendengar pertanyaan Chopper. Untung Franky menjelaskan, dengan suara pelan agar Chopper yang menggendong Robin tidak dapat mendengarnya.
"Si topi jerami dengan si gorila itu masih belum tahu soal kau adalah Sogeking, hidung panjang. Lebih baik kau cepat pergi dan pake topeng konyolmu itu."
"Hei! Topeng ini bukan topeng konyol! Biar kujelaskan. Topeng ini dibuat dengan arsitektur yang dapat menjaga kenyamanan pemakainya karena dibuat dari bahan-"
"Cepat pergi sana, bodoh!"
Melemparkan pandangan ejekan ke Franky, Usopp langsung menjawab pertanyaan Chopper. "Err…ini memang punya Soge King…tunggu! Aku lupa bilang kalau dia akan sampai di sini membantu kita! Lebih baik aku pergi memberikan senjatanya ini. Sudah ya!" Lalu Usopp pergi ke arah berlawanan dengan yang lain, meninggalkan Chopper yang kagum sambil berbisik, "Wah, Soge King mau datang!" serta Robin yang cengingiran dan Franky yang geleng-geleng kepala. Sedangkan Brook, yah…acuh tak acuh seperti biasa.
---------- pelabuhan ----------
"Gomu-Gomu Jet Bazooka!"
Kali ini Hina, yang sudah memperhatikan gerakan Luffy, membungkuk dengan cepat. Ketika kedua lengan Luffy berada di atasnya, dengan segera dia menjulurkan tangannya, mengikat kedua lengan Luffy dengan cincin hitam yang sama.
"AAAHH! Dasar sial!" teriak Luffy, segera menarik kembali kedua tangannya yang terikat. Dia menghentikan mode Gear 2nd, kehabisan tenaga.
Sanji dan Nami yang tahu Luffy ada masalah, segera maju membantunya.
"Luffy!!" teriak keduanya, tapi tiba-tiba ada asap putih berbentuk ular yang menangkap Sanji dari samping kanan, lalu melemparnya ke belakang.
Nami panik melihat Sanji diserang. "Sanj-" tiba-tiba ada asap di sekelilingnya, dan detik berikutnya dia terbaring di tanah dengan asap mengikat pinggang dan tangannya.
"Jangan ganggu pertandingan mereka…" desis Smoker yang berdiri di samping Nami. "Sebenarnya aku malas membantu wanita itu, tapi daripada kalian melakukan hal tak terduga…"
Sementara itu Luffy masih bergulat dengan lengannya, tampaknya dia tidak mendengar Sanji ataupun Nami. "Kalau begini tidak dapat menyerang, bagaimana cara melepaskannya…oh ya! Kalau lenganku kuperbesar dengan Gear 3rd, mungkin cincin ini bisa retak…baiklah! Hone Fusen!"
Luffy langsung menggembungkan lengan kirinya, tapi alhasil…malah udara di lengannya terhambat oleh cincin. Yah, Luffy kan otaknya lamban, jadi tidak bisa menduga yang beginian terjadi.
"Ughh!! Cepat masuk!" Setelah berusaha mencoba, udara akhirnya lolos ke lengan atasnya, meski meninggalkan rasa nyeri, namun entah kenapa, udara itu malah lolos lewat mulutnya, membuat Luffy terbang kesana-kemari. Nami dan Sanji sweatdrop melihat hal ini, sementara Hina hanya tertawa terbahak-bahak.
"Nah, selanjutnya kalian, bocah-bocah bajak laut…" Hina maju ke arah Nami yang diikat, namun tiba-tiba ada delapan tangan yang muncul dari tubuhnya.
"Ocho Fleur…Clutch!"
Tangan-tangan itu mengikat Hina dengan erat dan menjatuhkannya ke tanah. Dia, Nami, Sanji dan Smoker melihat ke arah suara, yaitu Robin yang digendong Chopper dan Franky dan Brook yang berlari di sampingnya.
"Chopper! Robin! Franky! Brook!" teriak Nami senang. Sementara itu, Hina menggeram kesal.
"Kalian…bagaimana kalian bisa lolos?" tanya Hina dengan nada kekesalan yang tinggi.
"Ha ha…jangan meremehkan kelompok bajak laut Mugiwara!" teriak Franky bangga.
Tanpa mereka sadari, mata Smoker menatap mereka sejak mereka datang – lebih tepatnya menatap Robin.
"Jadi, kalian…serahkan Nico Robin! White Snake!" Smoker menjulurkan ular putih dari tangan kanannya, mengarah ke Chopper dan Robin.
"Uwaaa….!!! Dia pemilik kekuatan buah iblis!" teriak Brook histeris.
"Sial! Rumble Ball!" Chopper segera menelan pil kuning kecil dari tangannya, lalu memindahkan Robin di belakangnya ke tangan kirinya. "Pegangan, Robin." kata Chopper. Robin mengangguk. Lalu Chopper mulai menghindar. "Jumping Point!" Mereka meloncat tinggi, menghindari serangan Smoker.
"Bagus!" teriak Franky senang melihat Chopper dan Robin berhasil lolos. Lalu dia mendengar teriakan Nami.
"Franky! Serang Smoker dengan angin! Itu kelemahannya!"
Franky bengong sejenak, namun dia segera mengerti maksud pesan Nami. "Haha…kalau begitu, ini keuntunganku." Dia menjulurkan kedua lengannya ke depan, menyatukannya, membentuk silinder misil di antara kedua lengannya.
Smoker melihat Franky bersiap mengarahkan serangannya, tapi dia tidak tahu apa itu. "Apa yang ingin dilakukannya?" tanyanya.
Franky tersenyum menandakan kemenangan. "Bersiaplah, marine asap…Coup de Vent!"
Peluru udara dengan kecepatan tinggi menerjang ke arah Smoker, melemparkannya jauh ke belakang. Nami, yang berada di samping Smoker, hampir saja kena.
"Hei! Aku hampir saja kena, tahu!" teriak Nami marah.
"Sori." jawab Franky simpel, lalu segera menghampiri dia dan Sanji, begitu pula yang dilakukan Chopper dan Robin begitu mereka menginjak tanah.
"Nami, kau tidak apa-apa?" tanya Chopper, mulai memeriksa badan Nami jika ada luka.
"Tidak, aku tidak apa-apa, tapi lebih baik kalian lihat keadaan Sanji dan Luffy…"
"Tidak apa-apa, Nami-swan, aku baik-baik saja…"
Semua mata tertuju ke Sanji, yang menerima lebam biru di mukanya dan sedikit goresan luka, namun selebihnya tidak ada luka lain. Nami menghela nafas lega.
"Lalu? Luffy di mana?" tanya Robin, yang kini digendong Chopper dalam Human Mode di belakang.
"Dia…" Muka Nami dan Sanji tertunduk lesu, menunjuk ke arah Luffy terjatuh sehabis mengeluarkan udara dalam jumlah besar dari mulutnya.
Franky pergi ke arah yang ditunjuk, dan kembali dengan Luffy kecil yang diangkat dari kaosnya.
"Hehe…gagal sih melawannya, tapi setidaknya bisa lepas dari cincin itu…" kata Luffy dengan polos tak berdosa, tangan di belakang kepala.
"Tapi tetap saja bahaya tahu! Kau ini ada otak tidak, sih!?" teriak Nami jengkel, memukul kepala kecil Luffy keras-keras, memunculkan erangan "ADUH!" dari mulut kapten.
Tiba-tiba Hina berdiri lagi, karena lengan-lengan Robin lenyap. Semuanya memandang ke arahnya, lalu dengan marah dia berkata, "Jangan pergi dulu, urusan kita belum se-"
"Atlas Suisei!" teriak suara dari atas kapal. Lalu empat peluru, membentuk siluet kumbang badak, menerjang ke arah Hina, membuatnya jatuh tak berdaya.
Yang lein keheranan, lalu melihat ke arah atas kapal. Berdiri di sana, seseorang dengan jubah merahnya yang berkibar, topeng kuning yang dikenal, ketapel besat di tangan kirinya.
"Soge King!" teriak Luffy dan Chopper histeris.
"Uso-Soge King!?" Sanji dan Nami kaget melihat sosok alter ego dari Usopp.
"Tenang saja, Soge King akan selalu datang menyelamatkan kalian, karena aku adalah pahlawan dari pulau Sogeki…" lalu Soge King mulai menyanyikan lagu themenya dengan bangga, membuat Luffy dan Chopper tambah terpesona saja. Dasar orang-orang bodoh.
"Hei, kalau sudah, cepat turun ke sini, kita harus kabur sebelum marine asap itu datang." teriak Franky memperingatkan.
"…dijuluki raja penembak ulung-Apa? Turun? Oke." Soge King mengambil langkah ke depan, namun ketika melihat ke bawah, langsung gemetaran karena tingginya.
"Ada masalah, Soge King?" tanya Chopper.
"B-ba…bagaimana…caranya turun??" tanyanya ketakutan.
Sanji menepuk dahinya. "Dasar orang bodoh…"
"Loncat saja ke bawah!" teriak Brook.
Soge King terperanjat mendengar jalan yang diberikan Brook. "Lo-loncat!? Kau gila? Dari tempat setinggi ini!? Aku 'kan bukan kau yang seringan tulang!"
"Tenang saja, aku akan membantumu." kata Robin.
"Membantu? Bagaimana ca-AAAHHHHH!" Tanpa diduga, tangan besar yang dibentuk dari berpuluh-puluh lengan muncul di belakang Soge King, mendorongnya jatuh ke bawah. Luffy dan Chopper melihat dengan horor bagaimana 'idola' mereka dijatuhkan begitu saja.
"Apa yang kau lakukan, Robin?" teriak keduanya panik.
"Tenang saja. Cien Fleur…Wing!" Kedua sayap dari ratusan lengan muncul dari belakang Soge King, memperlambat kecepatannya, dan membantunya turun ke tanah dengan selamat. Soge King hampir kehilangan kesadaran, walau sudah tiba di tanah, masih syok dengan 'sensasi' jatuh bebas begitu saja.
"Bagus. Sekarang kita kabur!" teriak Luffy. Semua anak buahnya mengikuti.
"Tunggu. Bagaimana dengan Zoro, Vivi dan Karu?" tanya Chopper. Nami langsung merasa perutnya tertohok mendengar kata 'Zoro' dan 'Vivi'.
"Tenang saja. Kalau kita beruntung kita akan bertemu dengan mereka di tengah jalan. Kan ada Zoro." Luffy meyankinkan nakamanya.
Tashigi mulai ragu-ragu mengayunkan pedangnya, takut jika salah bergerak, akan mengenai Vivi. Sementara itu di lain pihak, Vivi memegang pedangnya dengan kedua tangannya yang gemetar. Dia belum pernah terlibat adu pedang yang sesungguhnya, sepanjang latihan hanya diajarkan dasar-dasar pedang. Dalam hati dia agak menyesal tidak menggunakan Kujaku Slasher saja. Apa karena sudah berkawan dengan pedang membuatnya jadi otomatis menggunakan pedang sebagai senjata?
"Putri Nevertari Vivi," Tashigi berhasil menemukan suaranya, "tolong jelaskan apa maksud anda melindungi bajak laut."
Gulp! Ini dia yang ditakuti Vivi. Berbeda dengan Tashigi, suaranya masih tercekat di tenggorokannya, susah keluar. Otaknya masih berusaha mencari kata-kata yang bagus sebagai alasan.
Tashigi agak mulai kehabisan kesabaran, dia berkata lagi, "Baiklah, untuk jelasnya kuganti pertanyaannya. Anda tawanan…atau anggota kelompok Mugiwara?"
Vivi terhenyak mendengar pertanyaan Tashigi. Dia tentu tidak ingin rahasia mereka ketahuan secepat ini. Tapi…apa memang hal ini bisa terus dijaga? Bahwa sebenarnya sekarang dia adalah anggota Mugiwara? Sebaik apapun rahasia dijaga, pasti akan ketahuan. Seharusnya dia sudah tahu resiko seperti apa yang akan dihadapi jika mau bergabung dengan Luffy dan kawan-kawan. Dan dia tidak bisa menyalahkan mereka, karena ini memang keputusannya sendiri. Dialah yang meminta untuk ikut. Dan walaupun memang dari awal kelompok Mugiwara yang mengajak mereka, tapi bisa saja dia menolak, kan?
Sekarang harus bagaimana? Tidak ada gunanya lagi berbohong, ketika secuil kebenaran sudah tampak di permukaan. Hanya ada satu jalan…
Yaitu…
"Putri Nevertari Vivi!" Teriakan Tashigi mengagetkan Vivi dari pikirannya. Dia menatap ke wanita berambut biru gelap di depannya dengan mata yang tidak biasa, ada keberanian yang luar biasa di dalamnya. Mereka berdua diam sejenak, semilir angin berhembus di antara keduanya meningkatkan tensi ketegangan.
"Jadi, kau mau jawaban?" tanya Vivi pelan, memecahkan keheningan.
Tashigi memandang heran putri kerajaan Arabasta di depannya. Dia tidak mengerti apa maunya. "Ya," jawabnya segera, "jadi apa?"
Diam sejenak lagi, dan secara tidak terduga, Vivi melakukan hal yang sama mengejutkannya dengan yang dilakukannya pertama kali.
Kedua pedang beradu di udara, tangan-tangan yang menggenggam gagang pedang mengepal erat-erat, kedua pendekar wanita saling menatap, tidak ada keraguan dalam mata mereka, sebaliknya adalah pandangan menantang. Rambut biru mereka berkibar oleh angin ketika mereka bergerak, yang satu rambutnya biru gelap dan sepanjang bahu, yang seorang biru muda panjang yang diikat membentuk ekor poni.
"Jadi, ini jawabanmu?" tanya Tashigi dingin, dan dijawab dengan nada sama oleh Vivi.
"Ya…" Semua perwira di situ hanya menganga di tempat.
Mereka saling mendorong pedang, membuat keduanya terlempar ke belakang. Tashigi kemudian bertanya lagi hal yang sejak tadi di pikirannya, "Kenapa kau bergabung dengan mereka? Kenapa kau melindungi bajak laut itu dari angkatan laut?"
"Aku tidak bisa menjawab kenapa aku bergabung dengan mereka. Yang jelas," Vivi memandang ke arah Zoro di belakangnya, yang berusaha bangun dari jatuh akibat serangan Tashigi sebelumnya, "mereka adalah nakamaku. Aku tidak bisa diam saja melihat salah satu dari mereka ditangkap."
"Itu buaklah alasan bagus bagi seorang putri kerajaan untuk membantu bajak laut!" Dan dengan selesainya kata-katanya, Tashigi maju menyerang dengan pedangnya. Vivi terlambat bereaksi. Meskipun dia bisa menangkis serangan Shusui, Vivi terlempar ke belakang, pedangnya hampir terlepas dari tangannya. Tashigi berdiri di tempat, pedangnya tetap terancung ke arah Vivi.
"Cara memegang pedangmu tampak kaku. Apa kau memang bisa bermain pedang atau hanya amatiran?" tanya Tashigi dengan sedikit mengejek.
"Memang aku amatiran, tapi apa masalahnya?" Vivi membalas, matanya tetap menatap tajam. Dia berdiri lagi, kedua tangannya menggenggam erat-erat pedang di tangannya.
"Jadi kau masih mau melawanku dengan kemampuanmu itu?" Tashigi tidak percaya ada putri senekat ini.
"Tentu saja!" Vivi bersiap maju. Matanya hanya fokus pada Tashigi, sehingga tidak menyadari pendekar berambut hijau yang berdiri di sampingnya….
THUD!
Vivi merasakan rasa sakit luar biasa di perutnya. Sebuah tangan, mengepal kuat, berada di atas perutnya. Dia menatap ke arah penyerangnya.
"Zo–Zoro…" Lalu dia pingsan. Lengan Zoro menahan tubuh Vivi yang tak sadar sebelum dia jatuh ke tanah.
Tashigi dan perwira yang lainnya hanya terdiam di tempat. Tashigi menurunkan pedangnya. Entah kenapa, tapi otaknya berkata kalau Zoro tidak ingin bertempur.
"Roronoa, kau…"
"Dia adalah putri yang bodoh, selalu bertindak untuk orang lain, biarpun itu membahayakan nyawanya. Kau setuju, kan?" Zoro mengangkat Vivi, meletakkannya di punggungnya, kedua lengan Vivi melingkari lehernya. "Walaupun itu tindakan bodoh, tapi jarang sekali ada putri kerajaan seperti ini. Mungkin dia bisa menjadi orang hebat suatu saat…"
Tashigi terdiam saja. Zoro kemudian sedikit memutar badannya ke kiri. "Kau bisa menjaga rahasia ini, kan? Nasib kerajaan Arabasta kini ada di tanganmu. Kau memberitahu kebenaran soal Vivi, sama saja dengan kau membahayakan kerajaannya. Kalau tidak, mungkin kau akan dikeluarkan jika ketahuan menyembunyikan rahasia ini. Pilih yang mana?"
Mendengar perkataan Zoro, Tashigi terkejut. Yang mana yang harus dipilih? Sebagian dirinya berkata kewajiban angkatan laut adalah menangkap bajak laut, tidak peduli dia putri atau bukan. Tapi sebagian lainnya berkata bahwa…kerajaan Arabasta akan menerima hukuman dari pimpinan dunia. Dan juga, kelompok Mugiwara tampaknya bisa dipercaya menjaga Vivi tanpa ada maksud jahat, terlepas status mereka sebagai bajak laut.
Diam sejenak, Tashigi berkata, "A–aku akan menyembunyikannya, tapi apa kau–"
Tiba-tiba sebuah pedang bersarung putih terlempar ke arahnya. Tashigi buru-buru menangkapnya. Dia mengenali pedang itu, sebagai pedang yang diburunya sejak lama dari pria di depannya.
Tashigi menatap heran ke arah Zoro, yang tersenyum. "Kau boleh memegangnya." katanya. "Itu adalah lambang perjanjian kita, anggap saja begitu. Kau menjaga rahasia ini, aku menyerahkan pedang itu. Pedang itu sudah patah. Jaga baik-baik. Itu hartaku yang berharga. Suatu saat aku akan mengambilnya kembali dalam pertarungan…" Lalu dia berbalik, kepalanya memegang belakang kepala Karu, menadakan mereka bersiap pergi. Karu menurut, menghadap ke majikannya yang sekarang digendong lalu pergi, meninggalkan Tashigi dan perwira angkatan laut yang terus membatu…
"Tashigi! Dari mana saja kau?" tanya Hina ke Tashigi dan pasukannya ketika mereka sampai di pelabuhan.
"Kami mengejar kelompok Mugiwara yang tersisa."
"Lalu?"
"Kami…kehilangan mereka…" kata Tashigi pelan, menundukkan kepalanya.
Hina menggeram kesal. Tiba-tiba matanya tertuju ke pedang di tangan kanan Tashigi. "Pedang itu…rasanya pernah kulihat. Darimana kau–"
"Maaf, aku mau istirahat." Lalu Tashigi pergi meninggalkan Hina dan pasukannya, pergi menuju kapal.
"Ah! Luffy!"
"Zoro! Karu! Hei, kenapa kau menggendong Vivi? Ada apa dengannya?" Luffy, yang sudah kembali ke ukurannya semula, bertemu dengan Zoro, Vivi dan Karu di jalan sepi.
"Ah! Marimo!!! Apa yang kau lakukan dengan Vivi-chwan tersayang? Kubunuh kau!" Sanji bersiap melancarkan serangan kakinya ke Zoro, tapi dihentikan oleh Soge King dan Franky. Zoro dan Sanji kini saling beradu mata.
"Hei, lebih baik kita cepat kembali ke kapal, siapa tahu angkatan laut mengejar kita." Chopper memperingatkan mereka.
"Yohoho. Betul sekali." tanggap Brook.
"Ayo!" seru Luffy. Mereka lalu mulai berlari. Sepanjang perjalanan, Nami mencuri-pandang ke arah Vivi yang digendong Zoro, dan setiap kali itu pula, dia merasa dadanya seolah-olah ditusuk benda tajam.
----------- Thousand Sunny, laut lepas ----------
"Bagaimana keadaannya?" tanya Sanji melihat Vivi yang belum sadar juga di ranjang ruang dokter. "Akan kubunuh angkatan laut yang berai melukainya!"
Zoro hanya terdiam. Dia menceritakan cerita bohong mengenai pingsannya Vivi dan juga pertarungan mereka, karena dia tidak ingin mereka tahu soal pertarungan Vivi dan Tashigi, sebab itu hanya akan membuat mereka khawatir. Ketika ditanya kenapa Wadou Ichimonji hilang, dia menjawab simpel, "Dicuri angkatan laut." dan tentu saja ditanggapi dengan ledekan dari Sanji dan pandangan tidak percaya dari rekan-rekan sisanya.
"Kau bisa sabar tidak, sih? Ngomong-ngomong mana Soge King?" tanya Chopper, dan semuanya – kecuali Luffy dan Chopper – melihat ke arah Usopp.
"Er…dia baru saja pergi. Tapi dia titip pesan aga kalian memanggilnya jika…"
"Uunghh…" erang Vivi, tersadar dari pingsannya.
"Hei, Vivi sudah bangun!" seru Chopper senang. Semua segera memandang ke arah Vivi.
"Vivi-chwann!!! Bagaimana? Daijobu?" tanya Sanji segera.
"Daijobu, Sanji.." jawab Vivi.
Semua kini melemparkan pertanyaan ke Vivi. Tapi perhatian Vivi tetap tertuju ke Zoro, yang hanya bersandar di dinding dengan tangan terlipat di dada. Zoro menatapnya dengan pandangan hampa, meskipun dia tidak bisa menyembunyikan perasaan lega di wajahnya. Vivi tersenyum melihat hal ini.
Beberapa lama kemudian, semuanya meninggalkan kamar, membiarkan Vivi beristirahat. Tapi Nami tetap tinggal.
"Nami…" tanya Vivi heran, melihat Nami tidak mengikuti yang lain.
"Vivi, ada yang ingin kutanyakan kepadamu." kata Nami tiba-tiba, nadanya sedikit tegas.
Vivi memandangnya heran. Tidak biasanya Nami seperti ini.
"A…ada apa?" tanya Vivi lagi.
"Kau dan Zoro...apa ada yang kalian sembunyikan?"
Vivi terkejut mendengar pertanyaan ini. Dia langsung teringat latihan pedang merka. Zoro belum bilang mereka berhenti, dan mereka baru hari ini latihan. Jadi mungkin tlatihan itu tetap terus jalan. Dia ingin memberitahu Nami, tapi dia takut Zoro akan marah, mengingat dia mau ini tetap rahasia.
"Tidak…tidak ada apa-apa." Vivi berbohong. Nami terus memandangnya. Namun melihat keyakinan di wajah Vivi, dia menghela nafas lega.
"Oke. Maaf menggangu istirahatmu. Selamat tidur…"
Lalu Nami pergi. Vivi memandang ke arah pintu, pikirannya terus dihantui kekhawatiran kalau Nami tahu soal latihan itu.
xxxxxxxxxx bersambung xxxxxxxxxxx
Akhirnya…semoga chapter ini bisa memuaskan kalian. Mungkin chapter ini gaje, karena aku sudah tidak menulis sekian lamanya. Jadi, silahkan saja berikan kritik kalau ada kesalahan penulisan. Itu bisa membantuku dalam mengembangkan kemampuan menulisku lagi. Oya, kalau kalian kesal karena Zoro kehilangan Wadou Ichimonji, jangan khawatir! Bakalan balik lagi ke Zoro kok! Kan Ichimonji itu pedang kesayangan Zoro. Tapi mungkin masih lama. Sabar aja, ya…
Selamat mereview dan menunggu…3 bulan lagi! *ditembak dengan Kabuto*
Review response (per 04-04-2010)
LunaticV : Ide memakai sandera bukan ide Smoker, tapi ide Hina. Maaf kalau ada salah penafsiran. Memang Zoro aneh tanpa Ichimonji, jadi mungkin kau tidak bakalan suka chapter ini dan selanjutnya….sampai Zoro dapat lagi! :P
Monkey D. Cyntia : Siapa bilang Robin tidak bisa "nakal"? Duh, jangan salahin Luffy, dong, kan kasihan…*ngasih daging ke Luffy*
Melody Cinta : Sabar, bakalan banyak ZoVi di chapter selanjutnya, tapi tolong jangan bunuh Vivi, ya, kan kasihan…tenang, akhirnya ZoNa kok…
Mayu : Wow! Pasti ZoNa fanatik, banyak banget kata-kata ZoNa.
edogawa Luffy : He he..Brook ada tapi cuma tampi sedikit, janji deh bakalan banyak ditampilin.
Mugiwara pirates : Mungkin baca dari chapter 4 biar jelas…kenapa Vivi mau belajar pedang. Salam kenal juga!
eleamaya : Ha ha…Zoro memang suka cuek! *ditebas Zoro* lanjut dibaca, ya…
Nar-Ice : Selamat datang! Terima kasih sudah mereview!
Cerita selanjutnya :
Nami, yang curiga hubungan Vivi dan Zoro, mulai menyelidiki rahasia antara mereka berdua. Sementara itu, hati Vivi mulai melihat Zoro tidak hanya sebagai nakama biasa…
