chap 9

DISABLED LOVE

Cast : Yunho, Yoochun, Jaejoong, Junsu, Changmin

Genre : Romance, Hurt, Family

Rating : T

WARNING! THIS IS YAOI/BOYS LOVE FANFICTION. FOR PEOPLE WHO DISLIKE YAOI, PLEASE DON'T READ THIS FANFICTION!


Jaejoong dan Kyunie (Kyuhyun) duduk sambil menunggu seseorang di ruang tunggu. Jaejoong tampak tenang dan melihat ke seluruh penjuru ruang tunggu gedung pencakar langit tersebut. Sekarang Jaejoong dan Kyunie sedang berada di sebuah gedung perusahaan besar di Seoul. Kyunie mengajak Jaejoong kesana untuk bertemu CEO dari perusahaan tersebut. Rencananya Jaejoong akan membintangi iklan sebuah produk perusahaan itu.

Sesosok pria jangkung dengan rambut jamurnya berjalan ke arah Jaejoong dan Kyunie. Kyunie yang menyadari kehadiran orang tersebut langsung menoleh ke arah pria itu dan beranjak dari kursinya, Jaejoong juga melakukan hal yang sama. Jaejoong membulatkan matanya saking tidak percaya siapa orang yang berada di hadapannya.

"Eu! Euu euuuk!" Jaejoong menunjuk-nunjuk pria itu sambil berteriak. Kyunie mengerutkan dahinya karena tidak mengerti dengan sikap Jaejoong. Jaejoong mengambil note kecilnya dan menulis sesuatu.

"Dia orang jahat yang sering aku ceritakan! Kenapa dia ada disini"

Kyunie merasa bersalah pada Jaejoong karena sudah membohonginya. Kyunie sama sekali tidak mengatakan kalau CEO perusahaan ini adalah Shim Changmin, pria jahat yang selalu di bicarakan oleh Jaejoong. Kyunie hanya menampakkan wajah bersalahnya pada Jaejoong.

"Aku kecewa padamu nuna"

Kyunie kaget melihat tulisan Jaejoong. Rasanya sedikit sakit ketika melihat Jaejoong kecewa padanya.

"Maafkan aku"

Kyunie berulang kali menyampaikan maafnya pada Jaejoong dengan bahasa tubuhnya. Jaejoong merasa kasihan pada Kyunie yang berulang kali meminta maafnya. Akhirnya Jaejoong memaafkan Kyunie meskipun sebenarnya ia masih merasa kesal.

Tanpa mereka sadari, seorang pria jangkung yang daritadi berdiri disana memandang mereka berdua dengan tatapan kesal.

"Yaa! Sampai kapan kalian mau berakting di depanku!"

Changmin meninggikan suaranya, meskipun ia tahu kalau Jaejoong tidak bisa mendengarnya. Kyunie langsung menampakkan wajah kesalnya pada Changmin.

"Cepat masuk ke ruanganku!"

Changmin membentak Jaejoong dan Kyunie. Jaejoong yang tidak mengerti hanya memberikan tatapan kesalnya pada Changmin. Sedangkan Kyunie menarik tangan Jaejoong dan menabrak bahu Changmin sebelum masuk ke ruangan Changmin. Dasar kurang ajar, kalau dia tidak berdandan seperti wanita sekarang pasti aku sudah memukulnya, batin Changmin.


Sudah dua minggu ini Jaejoong menjalani karirnya sebagai bintang iklan. Ternyata tidak hanya satu produk saja yang ia bintangi, tapi banyak sekali sampai Jaejoong sendiri lupa berapa jumlahnya. Jaejoong juga menjadi model untuk sebuah merek pakaian, dan membuat Jaejoong harus menghadiri pemotretan setiap harinya.

Jaejoong menyesap kopinya sambil menghela napas panjang. Lelah sekali. Jaejoong benar-benar kelelahan dengan aktivitasnya. Sudah beberapa hari ini Jaejoong berbohong pada Yunho, mengatakan bahwa ia lembur di rumah sakit. Padahal Jaejoong sudah keluar dari pekerjaannya di rumah sakit dan bekerja di perusahaan Changmin.

Kyunie menghampiri Jaejoong yang sedang bersantai. Ia pun membuka laptopnya dan memulai pembicaraan dengan Jaejoong di aplikasi chatting-nya.

Kyunie : Kau pasti lelah sekali

Jaejoong : ^^

Kyunie : Maafkan aku

Jaejoong : Tidak apa-apa, aku baik-baik saja nuna ^^

Kyunie : Menjadi model sangat melelahkan, kenapa kau tidak memutuskan untuk keluar dari sini?

Jaejoong : Itu… aku melakukannya untuk Yunnie ^^

Kyunie : Untuk Yunnie?

Jaejoong : Iya… waktu itu aku membaca sebuah artikel, ada seseorang yang menderita penyakit seperti Yunnie dan ternyata dia bisa sembuh dengan cara operasi. Aku sedang menabung untuk biaya operasi Yunnie

DEG

Ternyata perasaan cinta mampu membuat orang melakukan apapun agar orang yang di cintainya bisa hidup dengan nyaman.

Kyunie : Memangnya Yunnie sakit apa?

Jaejoong : Gangguan saraf di otak depannya, membuat penglihatannya terganggu

Kyunie : Semoga ia bisa sembuh dan bisa melihat kembali…

Jaejoong : Terimakasih nuna ^^

Seseorang menepuk bahu Jaejoong dan menyuruhnya untuk kembali melakukan pemotretan. Jaejoong memberi salam pada Kyunie sebelum meninggalkannya.

"Apa yang dari tadi kalian bicarakan?"

Kyunie tersentak kaget mendengar suara Changmin yang berada di belakangnya. Ia langsung menatap Changmin sinis.

"Mau tahu saja"

Kyunie menjawab dengan ketus, tidak perduli dengan Changmin yang sudah duduk di sebelahnya. Kyunie menghela napas panjang sambil melihat Jaejoong yang sedang bergaya di depan kamera. Cantik sekali. Meskipun memakai pakaian pria, tapi kecantikkannya sama sekali tidak tertutupi.

"Aku merasa kasihan dengan Jaejoong, kenapa nasibnya begitu malang"

Kyunie manatap Jaejoong dengan prihatin. Changmin melipat kedua tangannya di depan dadanya.

"Makanya aku tidak suka dia menikah dan hidup bersama Jung Yunho itu!" ucap Changmin dengan ketus.

"Benar sekali…" Changmin tersenyum kecil mendengar Kyunie setuju dengan perkataanya.

"Tapi aku tidak akan sudi melihat Jaejoong menikah dengan orang bodoh sepertimu!"

Changmin membulatkan matanya. Kyunie meskipun pendiam, tapi kata-katanya sangat menusuk. Apalagi dengan penampilannya yang seperti perempuan membuat Changmin merasa sedang disindir oleh ibunya sendiri.


Hening

tik tok tik tok tik tok

Hanya suara detik jam yang memecah kesunyian apartemen Yunho. Sudah dua minggu ini Yunho hanya sendirian di apartemennya. Jaejoong bilang sekarang rumah sakit sedang ramai dan membuat Jaejoong harus bekerja lebih sering dari biasanya. Jaejoong juga mengambil beberapa pekerjaan paruh waktu yang kadang harus membuatnya lembur tiap hari. Padahal bukan uang yang Yunho inginkan.

Yunho hanya menginginkan kehadiran Jaejoong, itu saja. Terkadang Yunho ingin mencegah Jaejoong untuk bekerja, tapi ia tidak tega karena Yunho tahu itu keinginan Jaejoong sendiri. Dan karena Yunho tidak ingin Jaejoong melihatnya mengeluh dengan sakit di kepalanya yang semakin parah tiap harinya.

Yunho menghela napas panjang. Waktunya tidak lama lagi. Ia harus segera memberitahu Jaejoong tentang penyakitnya. Tidak, tidak bisa. Ia tidak ingin melihat Jaejoong bersedih saat mengetahui penyakitnya semakin parah.

Meninggalkan Jaejoong…

Mungkin itu salah satu caranya. Pada akhirnya, ia akan benar-benar meninggalkan Jaejoong selamanya kan?

Krieeet

Tap tap tap tap

Seseorang masuk ke apartemen Yunho dan langsung memeluknya. Pria cantik itu tersenym senang di bahu pria yang sedang di peluknya. Pria yang di peluknya hanya tersenyum hangat sambil membalas pelukan pria cantik itu. Pria itu berusaha menahan air matanya yang sejak tadi ingin keluar. Ia tidak ingin membuat pria cantiknya itu bersedih. Ia hanya ingin melihat pria cantik itu tersenyum, untuk yang terakhir kalinya.

Jaejoong melepaskan pelukannya dari Yunho. Ia memperhatikan wajah Yunho yang makin kurus. Jaejoong membelai pipi Yunho yang tirus dan semakin tirus itu. Apa Yunnie tidak makan dengan baik, tanya Jaejoong dalam hati.

"Aku merindukanmu" ucap Yunho dengan jelas. Ia berharap Jaejoong bisa membaca bibirnya.

"Aku juga merindukan Yunnie" tulis Jaejoong di tangan Yunho. Sejenak Jaejoong menggenggam tangan Yunho yang besar dan hangat.

Maafkan aku Jae, maaf…

Drrt drrt

Handphone Jaejoong bergetar, membuat pemiliknya langsung merogoh sakunya dan mengambil handphonenya itu. Ia membaca pesan yang baru saja masuk ke handphonenya.

"Haah…" Yunho bisa mendengar helaan napas Jaejoong. Se-lelah itu kah Jaejoong? Jika saja Yunho bisa menggantikan posisi Jaejoong, ia pasti akan sangat senang. Yunho tidak tega melihat Jaejoong bekerja keras demi menghidupi dirinya.

"Yunnie maaf aku harus pergi, ada pekerjan mendadak" Jaejoong buru-buru membereska tasnya dan beranjak dari sofa.

Selalu saja begitu, batin Yunho.

Ia sendiri sama sekali tidak tahu apa yang di kerjakan Jaejoong sampai harus meninggalkannya di rumah sendirian setiap hari. Padahal dulu Jaejoong selalu menyempatkan diri untuk membuat makan siang dan malam. Tapi sekarang, kadang Yunho tidak mendapati Jaejoong berada di sampingnya saat bangun tidur.

Yunho ikut melangkah ke pintu apartemennya bersama Jaejoong. Saat Jaejoong baru saja membuka pintu apartemennya, Yunho langsung menarik tangan Jaejoong dan memeluknya. Damai, perasaannya damai sekali. Biarkan Yunho tetap seperti ini untuk sementara. Biarkan ia merasakan kedamaian ini untuk yang terakhir kalinya.

Jaejoong merasa ada yang aneh dengan sikap Yunho. Tapi ia hanya membalas pelukan Yunho. Mungkin Yunho merasa kesepian, begitu pikirnya.

Yunho memeluk Jaejoong dengan sangat erat. Ia sudah menampakkan wajah ingin menangis. Jujur ia sangat ingin menangis karena ini terakhir kalinya ia akan bersama Jaejoong. Kemudian, ia membayangkan wajah Jaejoong yang tersenyum. Tidak, Yunho tidak ingin melihat wajah itu ikut menangis bersamanya.

Yunho memantapkan hatinya. Ya. Yunho tidak akan menangis. Ia akan melepaskan pelukan ini dan tersenyum di hadapan Jaejoong.

Yunho pun melakukan apa yang sudah di janjikannya. Perlahan ia melepas pelukannya dan memberikan senyum termanisnya sambil melambaikan tangannya ke arah Jaejoong.

Jaejoong melihat Yunho tersenyum manis dan melambaikan tangan ke arahnya. Jaejoong pun membalas lambaian Yunho meski ia tahu Yunho tidak akan bisa melihatnya, tapi ia yakin Yunho bisa merasakannya.


Suasana hening kembali menyelimuti Yunho. Ia meraba sofa yang sedang ia duduki. Sofa yang dulu selalu ia duduki bersama ibunya, bersama Jaejoong. Yunho beranjak dari sofanya menuju pintu apartemennya. Ia meraba dinding dalam rumahnya.

"Apartemen ini, perjuanganku dan Ibu, saksi bisu pernikahanku dan Jaejoong. Kau harus menjaga Jaejoong dan ibu, karena mereka yang nanti akan merawatmu. Maafkan aku…"

Yunho berbicara pada apartemennya seolah benda mati itu bisa mendengar Yunho.

Tok tok tok

Yunho beranjak membukakan pintu apartemennya. Ia tahu siapa yang datang, ia sudah menunggunya sejak tadi.

"Hyung kau sudah siap? Aku akan membawa barang-barangmu, Yoochun akan segera naik ke sini, aku masuk ya?" Yunho hanya tersenyum sambil mengangguk, membiarkan Junsu masuk ke dalam apartemennya dan mengambil baju-bajunya.

Tak lama kemudian Yoochun masuk ke dalam apartemen Yunho. Yoochun menghampiri Yunho yang masih duduk di sofanya, sedangkan Junsu sedang memasukkan baju-baju Yunho ke dalam tas besar.

"Hyung, kau sudah memberitahu Jaejoong?" Yoochun bertanya dengan sedih. Sedih sekali melihat pasangan yang menjadi 'panutan' nya ini harus berpisah dengan cara seperti ini.

Yunho menggelengkan kepalanya.

"Yoochun, tuliskan surat untukku" Yoochun bergegas mengambil pulpen dan kertas dan mulai menulis apa yang di ucapkan Yunho.


-Flashback-

Tok tok tok

Yunho membuka pintu apartemennya. Apa Jaejoong kelupaan membawa sesuatu? Padahal Jaejoong baru saja pergi bekerja.

"Hyung apa kau sendirian? Kami ingin menjengukmu" Suara nyaring Junsu membuat Yunho tersenyum. Pria yang menurut Yoochun imut ini selalu saja membuatnya tersenyum atau tertawa saat mendengar kelakuannya.

"Jaejoong baru saja pergi bekerja, dan aku tidak sakit" Ucap Yunho pura-pura kesal. Sesaat kemudian mereka tertawa lepas. Tapi ternyata kebahagiaan itu hanya sebentar.

Yunho kembali merasakan sakit yang amat teramat pada kepalanya. Tuhan, kenapa ia harus merasa kesakitan di depan Yoochun dan Junsu. Ia tidak mau Yoochun dan Junsu tahu tentang penyakitnya yang semakin parah. Oh, sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak pada Yunho.

Yunho pun pingsan di depan Yoochun dan Junsu.

Yunho membukan matanya. Gelap seperti biasanya.

"Hiks hiks… Hyung… Hiks…"

Yunho mendengar Junsu dan Yoochun sedang menangis. Tidak, suara tangisan Junsu lebih dominan. Ya, memang lambat laun sepasang kekasih ini memang harus tau tentang penyakitnya.

"Hiks.. kata dokter umur hyung tidak lama lagi… hiks… dokter bohong kan hyung? dia bohong kan? hiks.. hyung jawab aku!"

Junsu menarik kemeja putih Yunho seolah meminta penjelasan. Yoochun hanya bisa menangis sambil mengepalkan tangannya. Ia tidak sanggup untuk menanyakan apapun.

"Semua itu benar Su… Hyung akan segera mati… hiks" Yunho ikut menangis dengan Yoochun dan Junsu. Junsu pun semakin mengeraskan tangisannya ketika Yunho membenarkan apa kata dokter.

Setelah berusaha meyakinkan Yoochun dan Junsu, Yunho akhirnya di perbolehkan tinggal di apartemen Yoosu. Junsu memang sama sekali tidak keberatan, tapi Yoochun merasa sangat kasihan pada Jaejoong dan tidak tega memisahkan dua sejoli itu.

"Ku mohon, aku tidak ingin Jaejoong tahu tentang keadaanku…"

Akhirnya Yoochun pun menyetujuinya. Meskipun ia tidak tahu harus bilang apa pada Jaejoong jika mereka bertemu nanti.

-Flashback end-


"Haah…"

Jaejoong memasuki pintu apartemen Yunho dan melepaskan sepatunya. Ia merasa sangat lelah hari ini. Pria jahat bernama Changmin benar benar mempekerjakannya seperti sapi perah. Bagaimana tidak, ia berangkat kerja jam tujuh pagi dan kembali jam sebelas malam. Yunho pasti sangat sedih ia tinggalkan sendirian di rumah. Ngomong-ngomong soal Yunho, Jaejoong sama sekali tidak melihat Yunho di dalam apartemennya. Apa Yunnie sudah tertidur ya, batin Jaejoong.

Jaejoong mengedarkan pandangannya di ruang tengah, tempat Jaejoong dan Yunho bercengkrama. Ia sama sekali tidak melihat Yunho. Ia hanya melihat secarik kertas di atas meja.

Tunggu, secarik kertas?

Jaejoong membuka kertas itu dan mulai membacanya. Perlahan matanya semakin bulat, dan tak lama kemudian bulir-bulir airmata Jaejoong membasahi pipinya. Tangan Jaejoong terlihat bergetar saat memegang kertas itu. Tangannya yang satu lagi ia genggam dengan sangat keras.

"Heuk… Heuk… Yun…nie… Heuk"

Jaejoong menangis histeris sambil meremas kertas yang barusan ia baca. Sakit, sakit sekali. Dadanya terasa sakit saat menerima kenyataan ini. Kenapa Yunnie-nya melakukan ini, kenapa. Kenapa Yunnie-nya tega meninggalkan Jaejoong sendirian, kenapa.

Tidak tahukah Yunho, betapa Jaejoong merasa sakit hati ditinggalkan seperti ini. Kenapa Yunho tidak langsung menemui Jaejoong dan mengatakan yang sebenarnya. Kenapa harus dengan cara yang menyakitkan seperti ini.

Kenapa aku harus mencintaimu Yunnie?

TBC


Huaah... terlalu cepatkah alurnya? ._. mian ne kalau tidak memuaskan...

hmm kemungkinan chap depan adalah chap terakhir... karena aku gak pingin ceritanya telalu bertele-tele...

untuk Aoi Ko Mamoru : Soal penyakitnya Yunho, aku sendiri antara lupa atau emang gak baca dengan jelas di cerita aslinya, tapi aku sama sekali gak tau ._. tapi menurut yang aku pelajari (?) Yunho disini menderita gangguan otak bagian depan. Jadi cuma itu yang aku tahu... mian.. jeongmal mianhae...

untuk Himawari Ezuki gomawo sudah memperhatikan tulisanku ^^ tapi selama ini aku udah berusaha menulis dengan gayaku sendiri...apa ada kalimat yang belibet kah? aku akan berusaha lagi^^ Ganbatte!

Untuk Vic89 ya Changmin ceritanya terobsesi dengan Jaejoong, tapi Changmin sendiri bingung dia itu sebenernya jatuh cinta sama Jaejoong apa nggak. Hmm kira-kira Jaejoong akan selalu sama Yunho gak yaaa... hheehehe

Untuk indah yunjae betuuul sekali ^^ itu arti dari lirik LeeHi-Rose ^^ thanks sudah suka sama fic ini ^^

And finally, thanks untuk semua readers ^^ terimakasih banyak sudah bersedia membaca fic ini dan memberikan readers.. sekali lagi terimakasih banyak ^^


Karena author gak mau kasih bocoran chap depan (jahatnyaaa) hahaha jadi author kasih tau isi surat Yunho ke Jaejoong aja ne ^^ author gak mau kasih bocoran chap depan supaya readers penasaran...kira2 sad ending atau happy ending, atau gantung (?)

Isi suratnya author ambil dari cerita aslinya (dengan perubahan soalnya YunJae gak punya peliharaan) ^^

Untuk Jaejong,

Jaejoong, maafkan aku yang tiba-tiba menghilang

Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama dan ini tidak bisa di hindari. Kita sudah berusaha yang terbaik untuk hidup bersama dan kita sudah sampai sejauh ini, tapi aku tidak berpikir bahwa ini adalah hal yang benar.

Kita harus bertemu dengan orang lain yang bisa membantu kita dengan lebih baik.

Jaejoong bisa menemukan orang yang lebih baik, Yunnie yakin akan hal itu.

Dan aku akan melakukan hal yang sama. Jangan merasa sakit hati karena hal ini, hiduplah dengan senang. Handphoneku tidak aktif sampai aku mengganti nomorku, jadi jangan berusaha untuk menghubungiku.

Aku berterimakasih untuk semuanya hingga sekarang, dan...

Berbahagialah...