Chapter 9: It is not a Delusion

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rate: M

Pairing: SasuNaru slight ItaKyuu

Warning: AU, Shounen-ai, Typo(s), Abal, A little bit OOC maybe and Blood Scene.

Don't Like Don't Read!

The God of the Death

9th Chapter

It is not a Delusion

.

.

Desiran angin malam tampak begitu menggoyahkan tubuh. Kencangnya tekanan angin terasa begitu menusuk raga. Cahaya temaram sang rembulan tampak begitu anggun dan lembut. Pancaran bak pantulan batu permata itu terasa hangat. Semilir aroma malam yang mencekam mulai menelingkupi sebuah taman kecil yang tampak tak terawat dengan baik. Tampak dua orang bocah sedang berdiri menatap sang rembulan dengan penghalang gumpalan awan tipis. Bocah dengan surai pirang yang memiliki netra biru yang indah itu tampak sedang menggenggam dua lembar foto. Netra langitnya tampak menyiratkan kesedihan yang sangat mendalam.

Matanya menatap sosok di sebelahnya yang tampak sedang tertidur lelap. Mata kelam yang biasa orang itu tampakkan kini tersembunyi dibalik kelopak pucat tersebut. Tangan pucatnya tampak menutupi kedua matanya tersebut. Sosok berambut pirang itu tampak tersenyum dan bangkit dari duduknya. Dia meletakkan dua lembar foto tersebut di tempatnya tadi duduk. Dengan langkah pelan, dia mencoba menjauh dari sosok yang sangat dijaganya akhir-akhir ini.

Derap-derap langkahnya mulai tak terdengar lagi. Hilang ditelan oleh kesunyian malam yang begitu dingin. Mata kelam itu perlahan membuka lebar. Menatap kesunyian malam yang saat ini menemaninya dengan senang hati. Dia tersenyum miris sembari bangkit dari tidurnya. Tangannya bergerak untuk mengambil dua lembar foto yang ada di sebelahnya. Dia merobek foto tersebut dengan pelan, "Tidak adil, bukan? Kenapa orang yang sangat kusayang harus mengambil nyawa orang terdekatku." Ucapnya sembari memperhatikan dua lembar foto yang memperlihatkan dua orang pria dengan mata hitam yang sangat kelam. Yang satu memiliki rambut hitam yang sedikit keriting, sedangkan yang satunya adalah seorang bocah dengan rambut hitam jabrik.

Sasuke tersenyum miris sembari melangkah pergi dari taman tersebut. Matanya menatap jam tangan yang melingkar manis dipergelangan tangan kanannya.

Pukul 01.20 pagi.

'Semoga saja aku dapat merelakan mereka.' Batin Sasuke sembari memakai jubah hitamnya. Matanya menatap bangunan besar yang tak jauh darinya. Dengan pelan dia melangkahkan kakinya menuju bangunan tersebut. Dia tersenyum kecil saat melihat sosok berambut pirang yang sedang duduk di atas sebuah pohon besar. Matanya beralih pada dua orang pria yang sangat dikenalnya yang sedang terduduk dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya. Sekitar sepuluh orang berpakaian serba hitam sedang berdiri mengelilingi dua pemuda tersebut.

"Kau adalah dua orang penghianat yang membantu keluarga Taka, kan? Kami melakukan ini semua atas perintah Madara. Kalian harus mati malam ini juga." Ucap salah satu dari kesepuluh orang tersebut. "Obito Uchiha dan Shisui Uchiha. Penghianatan di dalam sangkar. Kalian tak pantas untuk hidup!"

'BRUAK'

"AKHHHH!" kedua orang tersebut tampak berteriak kesakitan saat dua buah batu berukuran besar dijatuhkan tepat di atas lutut mereka. Bunyi remukkan tulang tampak terdengar jelas di kesunyian malam ini. Tampak salah satu orang yang berjubah hitam tersebut mendekati mereka berdua dengan sebilah pisau di tangannya. Dengan perlahan orang tersebut menggoreskan pisau tajamnya di pipi salah satu pemuda tersebut. Tak ada teriakan yang terdengar. Karena, dua orang temannya tampak menutup kedua mulut pemuda tersebut dengan sebuah kain tebal yang sudah direndam di air raksa.

Lelehan-lelahan daging bibir mereka akibat terkena air raksa tersebut tampak mengotori kain penyumbat mulut mereka. Sementara orang berjubah hitam yang tadi membelah wajah salah satu pemuda tersebut tampak sedang asik menguliti wajah pemuda tersebut. Daging bagian dalam wajahnya tampak terpampang dengan jelas. Tak bisa mati … namun merasakan rasa sakit yang luar biasa. Itulah yang dirasakan pemuda bernama Shisui tersebut. Rambut hitam yang sedikit keriting itu kini mulai basah dengan darah. Sebagian kulit wajahnya telah hilang tak membekas.

Sasuke hanya mampu memejamkan kedua matanya melihat pemandangan tersebut. Ingin rasanya dia menghentikan semua kegiatan tersebut. Namun, tak ada yang bisa dia lakukan jika Madara yang memberikan perintah. Matanya beralih pada sosok yang tampak sedang melihat kejadian tersebut dengan pandangan datar. Namun, dapat Sasuke artikan jika saat ini … orang itu sedang sedih. Sasuke mengerang kesal sembari memukul tembok di sebelahnya. Sepupu macam apa yang tak bisa menyelamatkan satu sama lain.

'KRAS' 'KRAS'

Tebasan berkali-kali dilakukan pada punggung Obito yang sudah penuh dengan luka yang sangat dalam. Salah satu dari orang-orag berjubah tersebut tampak meyiramkan sebotol alkohol berkadar tinggi pada luka tersebut. Kembali. Tak ada tangis dan teriakan yang memilukan. Terasa begitu sunyi dan tenang. Namun, sesungguhnya teriakan tersebut telah memendam di dalam hati kedua orang tersebut. Sasuke sungguh merutuki kebodohan kedua sepupunya yang dengan gampangnya terjebak ajakan orang-orang sialan tersebut.

Sasuke memandang miris pada tubuh kedua sepupunya yang kini terbalut oleh cairan merah yang sangat kental. Dengan kasar dia melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut.

'SHASSH'

Bunyi kobaran api yang membakar kedua tubuh sepupunya membuat Sasuke memejamkan matanya dengan erat. Tak ada sama sekali niat untuk meilhat kejadian tersebut. Dia tak peduli. Tak peduli dengan apa yang terjadi di belakanganya. Dia hanya fokus pada jalanan yang terasa begitu panjang di hadapannya. Dengan sedikit tertatih-tatih dia berjalan menjauh dari rumah yang sangat menyebalkan tersebut.

Naruto tersenyum tipis sembari turun dari pohon besar tersebut. "Pergilah jika kau tak sanggup." Ujarnya lirih sembari berjalan mendekati dua mayat gosong tersebut. netra biru lembutnya memperhatikan dua jasad tersebut dengan sangat lekat. Perlahan-lahan … bulir-bulir bening itu merembes dari sudut matanya. Naruto tersenyum miris dari balik tudung yang menutupi kepalanya. Tangannya bergerak dengan pelan—mencoba untuk menjangkau kedua puncak kepala jasad gosong tersebut. Mata birunya kini tertutup oleh warna kelam yang begitu dalam. Cahaya biru itu perlahan menelingkupi tubuhnya beserta kedua jasad tersebut.

'PLUK'

Dua buah buku berukuran sedang jatuh di hadapannya. Dengan perlahan dia menunduk dan mengambil buku tersebut. "Sarabada." Katanya sembari membakar buku tersebut—sama sekali tak berniat untuk membacanya. Kaki jenjangnya mulai melangkah menjauhi tempat tersebut. Tak ada niat untuk kembali menengok. Rasa bersalah yang ada pada dirinya terlalu besar. Terlalu besar untuk mengalahkan rasa egoisnya. Dia menatap kedua telapak tangannya dengan sendu, "Sejak kapan aku menjadi lemah seperti ini, huh?" tanyanya pada dirinya sendiri. Rahang itu tampak mengeras menahan emosi yang tiba-tiba membuncah di dalam dirinya. "Bukankah dari dulu kau memang lemah, Naruto?" dia terdiam saat kata-kata tersebut keluar dari mulut manisnya dengan sendirinya.

Mungkin memang benar dia orang yang lemah … sangat lemah. Namun, semua hal yang dia hadapi saat ini benar-benar membuatnya gila. Rasa bersalah yang bertumpuk pada dirinya selalu bertambah dan bertambah. Entah sampai kapan dia akan sanggup menanggung semua beban yang ada di dalam dirinya.

-Rubrum&Niebieski-

.

.

Suasana pagi yang masih terasa dingin begitu menyegarkan. Kabut tipis masih dengan setia menyelimuti biofera yang begitu ramai. Ritme kehidupan masih terasa begitu pasif. Pagi buta yang masih baru dan belum terjamah oleh kepulan-kepulan asap kendaraan bermotor. Alunan kehidupan yang terasa abadi terus merembes menyerap ke dalam lapisan bumi paling dalam. Mengambil panasnya bebatuan yang ada di lapisan terdalam. Membawa rasa hangatnya ke permukaan bumi. Bioritmik yang begitu damai terasa mulai menghangat seiring dengan kembalinya matahari.

Dengkuran halus terdengar mengimbangi dentingan jarum jam yang terdengar begitu lemah. Sosok bocah yang sedang tertidur tersebut tampak sedang memeluk gulingnya erat. Kedua netranya masih bersembunyi dibalik kelopak kecoklatan tersebut.

'TOK TOK TOK'

Ketukan pelan pada pintu kamarnya membuatnya sedikit menggeliat tak nyaman. Erangan kesal tampak meluncur manis dari bibir mungilnya.

'TOK TOK TOK'

"Naru, kau harus sekolah. Kau lupa sudah berapa lama tak menginjak sekolah?" ucap orang yang berada di depan pintu tersebut. Suara nyaringnya tampak terdengar pelan akibat dinding yang mengahalangi suara lantangnya. "Nar—"

"Engh, sebentar lagi aku akan kesana." Jawab Naruto dengan nada malas. Matanya lamat-lamat mulai terbuka lebar. Menampilkan dua pasang netra biru yang begitu indah. Tangannya meraih selimut yang membalut badannya dan melemparnya ke sembarang arah. Dengan sangat perlahan dia bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi yang tersedia di dalam kamarnya. "Gaara-nii, kau masih disana?" tanyanya sembari menengok ke arah pintu kamarnya.

"Kau ingin sesuatu?" tanya seseorang dari balik pintu tersebut.

"Tolong buatkan surat yang kuminta semalam." Jawab Naruto sembari masuk ke dalam kamar mandi yang terbilang cukup besar tersebut. Tangannya sempat meraih sebuah handuk kecil yang tersampir di kursi meja belajarnya.

'BLAM'

Pintu itu tertutup dan meinggalkan debaman yang tak begitu nyaring. Gaara yang masih berdiri di balik pintu tersebut hanya mengangkat kedua bahunya dengan bingung. Mata hijaunya menatap pintu di hadapannya dengan sendu. "Secepat inikah kau ingin pergi?" ujarnya lirih sembari pergi meninggalkkan tampat tersebut. Matanya beralih pada sosok yang sedang berdiri menyandar pada diding besar yang ada di seberangnya. "Sampai kapan kau akan berdiri seperti itu?" tanya Gaara pada sosok berambut merah kejinggaan yang sedang memejamkan matanya dengan santai. Dia berjalan perlahan mendekati sosok tersebut dan memegang bahunya dengan pelan. "Aku tunggu di bawah."

Sosok itu tampak membuka matanya dan mengangguk pelan. Matanya kembali tertutup saat Gaara sudah berada jauh darinya. Dia tersenyum tipis sembari mengacak surainya dengan pelan. Matanya terbuka dengan lebar, "Naruto … " lirihnya sembari menatap pintu kamar Naruto dengan sendu. Tangannya bergerak untuk memegang pintu tersebut.

'CKLEK'

Kyuubi segera menarik tangannya dan menaruhnya di belakang kepalanya, "A-ah, Naru. Gaara sudah menunggu di bawah. Hari ini Oto-san akan kembali." Ucapnya dengan nada gugup sembari tersenyum canggung ke arah Naruto yang menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat. Kyuubi tersenyum lebar sembari berbalik dan meninggalakn Naruto dengan cepat. "Cepatlah jika kau tak ingin kehabisan makanan!"

"Tu-tunggu!" teriak Naruto sembari mengikuti kakaknya dari belakang. Dia tersenyum lebar sembari berlari kecil. Matanya menatap sosok yang fisiknya mirip dengannya, "Oto-san! Oto-san ingin pulang hari ini?" tanyanya sembari mendudukkan diri di hadapannya Oto-san-nya. Kyuubi sendiri sudah duduk manis di sebelah Gaara. Matanya menatap Gaara yang sedang memegang sebuah spatula dengan senyuman mengejek.

"Iya, Oto-san akan kembali hari i—"

"Apa?" ucap Gaara dengan nada kesal sembari menunjuk Kyuubi menggunakan spatula yang ada di tangannya. "Jika kau menampakkan gigimu sedikit saja … kau akan ompong selamanya." Katanya dengan nada kesal sembari melepas celemek yang dipakainya. Mata hijaunya menatap Kyuubi dengan marah. Gaara kemudian tersenyum kepada Naruto dan Minato, "Selamat makan." Gaara tersenyum tipis sembari mulai memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.

"Ka-kau! Kenapa denganku menatap seperti itu sedangkan dengan Naruto dan Oto-san kau tersenyum?" tanya Kyuubi sembari menatap Gaara dengan horror. Dengan kesal dia memplototi Gaara yang sepertinya tidak peduli dengan apa yang dibicarakannya. "Haiss! Dasar pan—"

'DUAGH'

"Maaf. Aku harus ke sekolah sekarang juga." Gaara membungkuk sedikit sembari melenggang pergi dari tempat tersebut. Naruto dan Minato hanya mampu menutup mulutnya dengan kedua tangan mereka—menahan suara tawanya agar tidak keluar. Naruto berusaha mati-matian menahan tawanya saat melihat Kyuubi tersungkur di bawah meja makan. Mukanya memerah menahan tawa yang ingin membuncah.

"Ketawalah sepuas kalian!" bentak Kyuubi dengan kesal sembari bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan tersebut.

"Ha—ah, bukankah menurutmu Kyuubi adalah pria yang tsundere, Naruto?" tanya Minato sembari menopang dagunya dan menatap Naruto dengan lekat. Dia tersenyum tipis saat Naruto tersenyum lebar dan mengangguk.

"Semoga perjalanan pulangmu akan menyenangkan , Oto-san. Naru harus pergi sekarang juga." Naruto membungkuk dan berlari kecil meninggalkan ruang makan tersebut—menyusul Gaara dan Kyuubi.

Minato tersenyum tipis sembari melambaikan tangannya dengan pelan. "Tidak bisakah kau tidak menghapus senyuman itu darinya, Tuhan?"

-Rubrum&Niebieski-

Naruto tersenyum lebar saat bertemu dengan teman-teman sekelasnya. "Minna~" teriaknya dengan riang sembari memeluk seorang temannya yang memilik dua buah tato segitiga terbalik di kedua sisi pipinya. "Aku sangat merindukanmu~ suaramu yang seperti kaleng itu selalu terngiang di telingaku~"

'BLETAK'

"Jangan memelukku seperti itu! Itu semua salahmu yang bolos sekolah selama beberapa hari." Ucap Kiba sembari berusaha melepaskan pelukan Naruto yang sangat erat. Matanya menatap Naruto dengan sangat lekat. "Kau bolos kemana, huh?"

"Aku tidak bolos. Aku hanya mengunjungi kedua orang tuaku. Apa itu salah?" Naruto tersenyum lebar sembari mendudukkan dirinya pada bangkunya. Dia mengeluarkan sebuah surat kecil dan menggenggamnya dengan erat. Kiba hanya menggeleng dan tersenyum sangat lebar. "Aku akan ke ruang kepala sekolah. Aku ingin menyerahkan surat titipan ayahku ini dulu." Ujar Naruto seraya bangkit dari duduknya.

Kiba mengernyitkan alisnya bingung, "Surat? Surat apa?" tanyanya sembari member jalan keluar untuk Naruto dia berdiri sembari menatap Naruto dengan lekat.

"Surat cinta." Jawab Naruto dengan seenaknya sembari pergi dari kelas tersebut.

Hening.

Hening.

Hen—

"JANGAN BERCANDA! KEPALA SEKOLAH KITA ITU PRIA TULEN!"

"Hahahahaha."

Sasuke hanya mendecak ksela sembari bangkit dari duduknya saat mendengar tawa Naruto yang sangat menyebalkan baginya.

.

.

Sasuke menatap Naruto dengan lekat. Mata kelamnya menjelajahi seluruh tubuh Naruto—memastikan jika bocah tersebut sedang baik-baik saja. "Surat apa yang kau serahkan tadi?" tanyanya sembari berjalan menuju taman kecil yang berada tak jauh di depannya. Dia mendudukkan dirinya di salah satu bangku yang ada di sana. Menyandarkan punggungnya pada senderan bangku tersebut.

Naruto tersenyum tipis sembari mendudukkan diri di sebelah Sasuke. Dia meremas celananya sembari tersenyum lebar, "Entahlah, ayah hanya menyuruhku untuk memberikannya." Jawabnya singkat sembari menatap lurus ke depan.

Sasuke mendengus kecil sembari bangkit dari duduknya. "Begitu. Kita kembali ke kelas." Ajak Sasuke sembari berjalan terlebih dahulu. Sasuke mengepalkan tangannya dengan erat. Rahanganya mengeras, 'Kau sangat pandai berbohong. Sangat pandai. Sampai-sampai matamu dapat menyiratkan jika kau sedang berbohong.' Batin Sasuke marah sembari mempercepat jalannya.

"Gomen."

Sasuke terdiam cukup lama dan berbalik menatap ruang lenggang. Tak ada orang. Naruto sudah tak ada di belakangnya. "Kuso!" ucapnya dengan kesal sembari kembali berjalan dengan terburu-buru.

.

.

.

Kyuubi menatap sosok di hadapannya dengan kesal. "Put! Buat apa kau mengajakku ke panti jompo seperti ini?" tanyanya dengan kesal sembari mengacak surai merahnya dengan kasar. Mata darahnya terus menatap malas pada para lansia yang sedang berkumpul.

"Menyenangkan, bukan?"

"Apanya yang menyenangkan menatap orang tua yang sed—"

"Melihat mereka saling memberi afeksi satu sama lain. Seperti melihat kekekalan cinta dengan nyata. Meskipun mereka akan pergi pada akhirnya. Namun, melihat mereka tersenyum satu sama lain sangatlah menyenangkan." Ucap Itachi panjang lebar sembari tersenyum tipis. Matanya berbinar menatap hal yang ada tak jauh darinya. Dia beralih pada Kyuubi yang saat ini sedang tertunduk dalam. "Kyuu? Apa aku menyakitimu?"

"Nah, aku baik-baik saja. Kau tidak ingin pergi ke tempat lain?" Kyuubi bertanya sembari tersenyum tipis. Mata merahnya menatap Itachi dengan sangat lembut.

Hening.

Hening.

Hening.

"Kau menyeramkan, Kyuu!"

'BLETAK'

Kyuubi meninggalkan Itachi yang sibuk memegangi kepalanya yang tampak dalam proses membenjol. Kyuubi mendecak kesal sembari sedikit berlari-lari kecil. 'Dia pikir aku sanggup memasang tampang baik di hadapannya. Itu memalukan! Dasar keriput!' batin Kyuubi dengan kesal. Entah kenapa, meskipun Itachi sedikit menyebalkan … dia sangat menyukai hari ini.

-Rubrum&Niebieski-

Naruto menatap Iruka dengan lekat. Saat ini mereka sedang berdiri di atas atap sekolah Naruto. Iruka tampak menunduk hormat sembari memberikan sebuah surat pada Naruto. "Apa ini?" tanya Naruto sembari mengambil surat tersebut. Dia membukanya secara perlahan dan membaca rentetan kata yang tertulis disana. "Tugas terkahir? Bukankah aku masih memiliki tiga orang korban?" Naruto mengernyitkan alisnya bingung saat membaca surat tersebut. Dia mengantongi surat itu dan menyandarkan punggungnya pada pagar pengaman yang ada disana.

"Ketua yang meminta ini semua. Sisa tugas Tuan muda akan diserahkan pada Muku-sama. Ketua juga menanyakan apa Tuan muda akan sanggup menangani tugas ini? Jika tidak, kami bisa meminta Muku-sama untuk melakukannya." Jawab Iruka sembari menunduk hormat. Dia memperlihatkan sebuah kertas yang berisikian perintah tersebut.

Naruto hanya mengangguk setuju sembari mengambil surat tersebut, "Aku akan menyelesaikannya. Tenang saja. Kau boleh pergi sekarang." Iruka mengangguk dan segera pergi dari tempat tersebut. "Kau belum puas mencuri dengar percakapanku, Teme?"

"Bukankah aku memintamu untuk jangan pernah berbohong denganku."

"Ternyata manusia memang sangat naïf. Tapi … aku minta maaf jika kau merasa kubohongi. Karena, semua yang aku katakan adalah benar. Percayalah padaku."

Sasuke tak menjawab pertanyaan Naruto. Dia hanya berjalan dengan perlahan dan mendekati Naruto.

'GREP'

Naruto tersenyum tipis saat merasakan Sasuke memeluknya dengan sangat erat. Entah kenapa, dia sangat merindukan momen-momen seperi ini. Naruto membalas pelukan tersebut dengan sama eratnya. "Kumohon jangan pernah meninggalkanku." Lirih Sasuke saat memeluk Naruto dengan erat.

Naruto tersenyum tipis sembari mengelus punggung Sasuke dengan pelan, "Meskipun aku akan meninggalkanmu … akau akan kembali lagi kepadamu. Sampai kapanpun … aku selalu bisa menemukanmu kembali … dan kau akan selalu melihatku dengan jelas. Di bawah payungan sebuah tempat … dimana selalu tampak matahari yang bagitu hangat dan besar."

.

.

'DEG'

Kyuubi menatap sungai di hadapannya dengan terkejut. Dia menatap Itachi dengan mata yang membukat sempurna. "Ada apa denganmu, Kyuu?" tanya Itachi sembari memgang pundak Kyuubi dengan pelan. Dia mengguncang-guncang tubuh Kyuubi dengan pelan. "Hei! Jawab aku!"

"Na-naruto … aku kehilangan jejak kehidupan Naruto." Kyuubi menutup kedua matanya dengan gelisah. Tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Mata merahnya perlahan meredup. Tangannya bergerak untuk memegang lengan Itachi dengan sangat kuat. Itachi hanya mampu meringis sakit saat kuku-kuku tajam Kyuubi menembus permukaan kulitnya.

"A-apa maksudmu Kyuu? Khh! Aku tidak mengerti." Ujar Itachi dengan terbata-bata. Itachi tampak menggigit bibir bawahnya dengan keras—menahan rasa sakit pada lengan kanannya. Dia memegang bahu Kyuubi dengan kencang, "Kyuu!" teriaknya dengan nyaring.

"A-ah, maaf." Ucap Kyuubi sembari melepaskan genggaman tangannya. Dia tersenyum miris saat melihat tangan Itachi terluka karenanya. "Sial! Penyembuhan bukan keahlianku. A-aku minta maaf telah melukaimu. Sepertinya kita harus ke rumah sakit untuk mengobatinya." Ucap Kyuubi dengan bingung sembari menarik Itachi untuk bangkit dari duduknya. Dengan cepat dia menarik Itachi dan membawanya keluar dari hutan kecil tersebut. Dia tersenyum tipis saat melihat jalan raya yang ada di hadapannya. "Ayo! Kita harus sege—"

"Kyuu! Aku baik-baik saja. Sebaiknya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri. Coba lihat dirimu! Tubuhmu bergetar dan kau … kau sedang menangis, Kyuu! Ada apa denganmu?" Itachi memegang kedua lengan Kyuubi dengan pelan. Matanya menatap Kyuubi dengan lekat. "Tenangkan dirimu, Kyuu. Kau tidak sedang baik-baik saja. Kau tampak kacau." Itachi membawa Kyuubi ke samping sebuah toko yang sedang tutup. Dia mendudukkan Kyuubi pada salah satu kursi yang ada disana.

"Saat jejak kehidupannya seorang malaikat pencabut nyawa terasa lemah. Dapat dipastikan jika orang itu dalam bahaya. Na-namun, ji-jika kita sama sekali tak dapat merasakan jejak kehidupan orang tersebut, da-dapat dipastikan jika orang tersebut telah lenyap. I-intinya … dia telah mati. Da-dan aku merasakan hal yang sama dengan jejak kehidupan Naruto." Ucap Kyuubi panjang lebar sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya. Terlalu mendadak. Semua ini terlalu mendadak. Baru saja dia merasakan jejak kehidupan Naruto terasa begitu hangat dan damai. Namun, entah kenapa … tiba-tiba saja dia merasakan hal yang sangat tidak ingin dia rasakan saat ini.

Kyuubi berharap jika Naruto akan baik-baik saja saat ini.

'Kyuu-nii …'

Kyuubi menengadahkan kepalanya saat suara Naruto memasuki pikirannya.

'Perasaan buruk yang selalu membuntutiku sudah terbukti.'

"Ma-maksudmu apa, Naru?"

'Aku sudah dapat merasakan orang yang akan bermain denganku untuk terakhir kalinya. Maafkan aku, Nii-san.'

"Na-naru! Si-siapa yang kau maksud?"

'Diriku sendiri.'

To Be Continued

.

.

Ha—ah, terima kasih bagi yang sudah membacanya.

Saa, Mind to Review?