Chapter Sebelumnya

"Wah kau keren juga" kata Kiba.

"Arigatou, sudah banyak orang yang berbicara seperti itu kepadaku" kata Sakura yakin.

Kiba hanya terkekeh melihat ke narsisan Sakura.

"Kau hebat juga pinky" kini Obito yang berkomentar dan Sakura menatap sebal pada laki Obito.

"Hey jelek nama ku Sakura bukan pinky!"

"Oh jadi nama gadis cantik ini Sakura" kata Kiba dan lagi-lagi Sakura hanya tersenyum lebar mendengar pujian Kiba.

"Sakura-san ini sudah 30 menit dan kenpa kamu belum selesai juga" kata seorang laki-laki berambut merah yang tiba-tiba saja berada di depan Sakura.

"Iya Saso-chan ini juga sudah selesai" kata Sakura riang sambil berjalan dan memeluk lengan Sasori mesra.

"Sasori… kun?" Obito da Kiba terbelalak oleh kedatangan Sasori juga perlakuan Sakura terhadap Sasori, dan lebih terkejut lagi dengan panggilan yang mereka dengar dari Sakura.

Tak ada hal yang diinginkan pemuda Akasuna itu selain menghilang sekarang. Didepannya kini berdiri kedua sahabatnya Obito dan Kiba. Tolong bantu Sasori untuk menggali lubang sekarang, karena ia ingin segera menghilang dari kedua sahabatnya.

.

.

.

Chapter 8

Untuk menghindari bencana kita harus menghindari penyebabnya. Begitupula Sasori, ia memilih berangkat pagi sekali untuk menghindari gadis berisik yang menurutnya selalu mengganggu hari tenangnya. Ia kini sudah duduk tenang didalam kereta menuju sekolahnya. Kereta yang masih sepi memberikan ketenangan tersendiri pada Sasori.

Sasori tidak ingat kapan terakhir ia bisa berangkat sekolah dengan santai. Sejak mengenal Sakura dan mengetahui bahwa gadis tersebut bersekolah tidak jauh dari sekolahnuya, Sakura terus menempel kemanapun ia pergi. Ia benar-benar tak bisa menebak jalan pikiran gadis itu.

Keadaan kelas benar-benar sepi ketika Sasori tiba. Merasa memiliki banyak waktu untuk bersantai, Sasori segera membuka buku nya. Ia mengulang kembali apa yang ia pelajari tadi malam. Mungkin nanti ia bisa bertanya pada sensei bila ia masih tidak mengerti.

Satu persatu bangku-bangku yang sebelumnya kosong mulai terisi. Keadaan kelas yang semula sepi kini berangsur-angsur ramai karena celotehan siswa-siswi yang sedang menunggu bel masuk.

"Ohayou minna" terlihat seorang pemuda berambut brunette memasuki kelas 2-C. Suaranya yang keras membuat Sasori mau tak mau melihat siapa pelaku yang mengganggu konsentrasinya.

"Urusai Kiba" Sasori terkejut, ia tak menyadari bahwa Obito telah duduk di bangkunya yang terletak di depannya.

"Jangan hancurkan pagi yang indah ini dengan suara mu yang jelek itu" mendengar perkataan Obito, Kiba jelas tidak terima. Dengan menggerutu ia berjalan menuju bangkunya di samping Sasori.

"Ohayou Sasori-kun" Kiba kembali menyapa Sasori yang kembali konsentrasi dengan bukunya.

"Hn, ohayou"

"Dingin sekali" Kiba memegang dadanya seolah tempat itu terasa sakit ketika Sasori membalas sapaanya dingin.

"Sudahlah Kiba, bukankah Sasori-kun telah berubah?" Obito kini duduk diatas meja milik Kiba.

"Berubah?" Kiba melihat Obito yang menyeringai lebar "Ah aku tahu yang kemaren kan" kedua alis Kiba naik turun sambil melihat Sasori yang terlihat terganggu.

"Benar, sekarang dia bukan lagi Sasori-kun yang kita kenal" Obito berpura-pura memasang wajah sedih. Mendengar perkataan Obito, Shion yang memang sejak tadi mendengar perbincangan ketiga sahabat itu berteriak heboh.

"Sasori-sama berubah? Berubah seperti apa? Aku tidak melihat ada yang berubah? Ia tetap charming seperti biasa, kalian jangan asal bicara" Obito menutup kedua telinganya bosan.

"Urusai na Shion, kau pasti tak tahu siapa yang bertemu kami kemarin di Konoha Center" Kiba memotong perkataan Shion.

"Kemarin?"

"Ya, kemarin" merasa adanya bahaya, Sasori menoleh kepada kedua sahabatnya yang sedang melihat dirinya dengan senyum jahil mereka.

"Coba kau tebak siapa yang tidak sengaja bertemu kami kemarin" dengan senyum jahil yang masih melekat dibibirnya, Obito kini berjalan ke arah Shion dan meletakkan tangannya melingkar di leher Shion.

"Siapapun itu aku tidak peduli! Karena itu bukan urusanku" Shion menyentak tangan Obito di pundaknya.

"Tentu saja ini ada hubungannya, ayo coba tebak" kini Kiba mulai mengompori Shion.

"Jangan bilang….Sasori-sama?" mendengar jawaban lirih Shion, Kiba mengangguk semangat.

"Dan kau tak tahu siapa yang saat itu bersamanya?" Shion hanya mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti. Tetapi entah mengapa Shion merasakan hatinya tak tenang melihat seringaian Kiba dan Obito yang melebar.

"Seorang gadis manis berambut merah muda, dia bahkan pintar menari. Aku jadi ingin bertemu Sakura-chan kembali. Bolehkan? Sa-so-chan…" mendengar nada Kiba yang jahil membuat Sasori memutar matanya bosan.

"Tunggu! Saso-chan? Siapa Saso-chan? Dan siapa itu Sakura-chan?" Shion benar-benar tak mengerti.

Melihat tak ada niatan Sasori untuk menanggapi, Obito menyeringai semakin lebar dan berjalan pelan lalu merangkul Sasori dan dengan suara yang sengaja dikeraskan "Kau tak ingin menjelaskan siapa itu Sakura-chan kepada Shion, Sa..So...Chan"

"Diamlah Obito, kalau kau tak segera duduk Kakashi-Sensei akan menghukummu" mendengar suara Sasori semua siswa-siswi yang sedang penasaran dengan interaksi ketiga sahabat itu segera menolehkan kepala mereka. Didepan kelas kini berdiri seorang guru yang membawa buku memandang mereka dengan tampang malas. Tetapi mereka tahu bahwa mereka sebentar lagi tidak akan selamat. Kenapa? Karena mereka tak mengindahkan panggilan Kakashi-sensei yang sudah sejak 10 menit meminta mereka untuk duduk.

.

.

.

Istirahat siang ini sepertinya harus dilalui Sasori untuk berdesak-desakan di kantin. Karena ingin menghindar dari Sakura, ia berangkat terlalu pagi dan alhasil ia melupakan bentonya. Menghela napas ia mulai berjalan meninggalkan kelas tidak mengindahkan teriakan Kiba yang sangat keras.

Selama perjalanan ke kantin, banyak pasang mata yang meliriknya. Mulai dari tatapan kagum hingga iri. Tentu saja siapa yang tak ingin menjadi seperti Sasori, wajah tampan, otak pintar, orangtua yang menyayangimu, semua yang kau inginkan seakan langsung terpenuhi, benar-benar tipe manusia sempurna bukan. Tetapi itu yang paling membuat Sasori kesal. Ia tak suka menjadi pusat perhatian.

Tetapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara dua orang yang sedang bercakap-cakap. Tidak, bukan ia adalah orang yang senang menguping. Tetapi yang menjadi bahan pembicaraan mereka seoalah ia mengenalnya.

"Kau lihat tadi?"

"Ya…ya aku melihatnya. Gaara senpai dipeluk oleh seorang wanita"

"Apa mungkin dia pacarnya? Aaahhh musnah sudah harapanku"

"Benar, tapi sepertinya dia bukan siswi disini"

"Hmm kau benar, kalau tidak salah…. Itu bukankah seragam dari Suna High School?"

"Suna High School?"

"Kau tidak tahu, itu loh sekolah seni paling terkenal. Mereka bahkan memiliki cabang di Konoha"

"Benarkah, aku tak tau"

"Kau benar-benar ketinggalan jaman… sekolah itu bahkan dekat dengan sekolah kita"

Segera meninggalkan kedua penggosip tersebut, Sasori melesat menuju kelas Gaara yang terletak disebelah kelasnya. Ia benar-benar memiliki perasaan yang buruk tentang ini. Sesampainya didepan kelas Gaara, ia dapat melihat sosok gadis yang terpaku menghadap Gaara. Dengan langkah pelan ia melangkah masuk dan memanggil gadis tersebut tidak yakin.

"Sakura.. san?"

.

.

.

Sakura melangkah riang memasuki halaman rumah keluarga Akasuna. Ia dengan semangat memencet bel rumah dan menunggu dengan sabar untuk segera dibuka. Ketika Hana membuka pintu senyum Sakura makin lebar.

"Konnichiwa obasan"

"Ara konnichiwa Sakura-chan, ada apa? Mau mencari Saso-chan?" Hana menjawab tak kalah riang

"Iya obasan, Saso-chan nya ada? Sakura ingin menyerahkan tiket ini obasan" Sakura memperlihatkan sebuah tiket yang bertuliskan "Dance Battle" yang besar.

"Tiket apa ini Sakura-chan?"

"Ini tiket untuk Saso-chan karena sudah mau membantuku kemarin obasan. Tempatnya paling depan lo obasan" Sakura terlihat senang ketika menjelaskan maksud dari tiket tersebut.

"Sayangnya Saso-chan saat ini masih ada di sekolah"

"Kalau begitu aku akan mengantar tiket ini ke sekolah Saso-chan sekarang, terimakasih obasan" Sakura segera berbalik dan akan berlari pergi sebelum tangan Hana menahannya.

"Obasan titip sesuatu Sakura-chan, tunggu sebentar ya"

Sakura menunggu sedikit lama didepan rumah. Karena bosan ia memilih duduk di kursi yang tersedia di depan rumah. Ia memperhatikan halaman rumah keluarga Akasuna yang hijau. Hal ini membuat Sakura memejamkan mata menikmati suasan yang menyejukkan tersebut. Ketika ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Sakura segera bangun.

"Maaf menunggu lama Sakura-chan, tolong berikan bento ini untuk Saso-chan. Tadi pagi anak itu meninggalkannya begitu saja, tolong ya Sakura-chan"

"Tentu obasan" Sakura segera mengambil bungkusan tersebut dan bersiap-siap pergi "Ittekimasu obasan."

"Iitteirashai" Hana melambai-lambaikan tangannya mengiringi langkah Sakura. Lalu segera mengatupkan tangannya dipipinya dan tersenyum lebar "Sakura-chan memang calon menantu yang paling diidamkan."

"Ah" Hana tiba-tiba teringat sesuatu dan segera berlari menuju pagar "Sakura-chan…."

Mendengar namanya dipanggil, Sakura segera menoleh dan melihat Hana berdiri didepan pagar. "Kelas Saso-chan berada di kelas 2-B" mengangkat ibu jari tangannya Sakura segera berbalik dan pergi menggunakan skateboard-nya yang selalu ia bawa kemana-mana.

.

.

.

"Kalau tidak salah kelas Saso-chan ada dikoridor ini, hmm yang mana ya?"

Ketika melihat sejumput rambut warna merah sedang duduk di bangku paling belakang, Sakura segera masuk tanpa melihat sekelilingnya. Ia dengan bersemangat segera memeluk pemuda tersebut.

"Saso-chan…." Pemuda tersebut sedikit tersentak bahunya.

"Saso-chan aku membawakanmu bento, dasar! Kau selalu mengejekku ceroboh tetapi kau sendiripun ceroboh, lihat" Sakura memperlihatkan bento yang ia bawa masih dengan posisi memeluk pemuda tersebut.

Merasa sangat kesal karena dipeluk seenaknya pemuda tersebut akhirnya menoleh "Siapa?". Kaget dengan wajah didepannya Sakura segera melepas pelukan mautnya dan mundur beberapa langkah. Sakura tak menyadari aksinya kini ditonton oleh banyak siswa.

"Saso-chan? Kyaaa sejak kapan Saso-chan tidak punya alis" Sakura berteriak heboh. Pemuda tersebut jelas tersinggung dengan perkataan Sakura.

"Tunggu! Saso-chan, aku tak pernah tau kau suka menggunakan eyeliner? Tapi ini terlalu over Saso-chan, sekarang kau terlihat seperti… panda"

"Tolong…" apapun yang akan dikatakan pemuda tersebut, sampai kapanpun tidak akan terucap karena Sakura akan selalu memotongnya seperti saat ini.

"Dan lagi.. apa ini Saso-chan" Sakura dengan berani menyentuh sebuah tato didahi pemuda tersebut "Ai? Sejak kapan kau men tato dahi mu, dan apa-apaan ai itu Saso-chan" Sakura tertawa lebar tak menyadari beberapa siswa wajahnya berubah memerah.

Suara tawa Sakura segera berhenti ketika satu suara menginstrupsinya. Merasa mengenali suara tersebut, Sakura segera menolehkan kepalanya dan kembali menemukan pemuda berambut merah yang lebih mirip dengan Sasori.

"Sakura-san? Apa yang kau lakukan disini?"

"Hah…. Saso-chan ada dua" Sakura menutup mulutnya dengan kedua tangannya menunjukkan dia terkejut,

"Apa maksudmu? Tentu aku adalah Sasori sedang dia adalah…"

"Tunggu…. Tunggu… aku bisa memecahkan ini… aku akan segera mengetahui siapa Saso-chan yang asli"

"Sasori jika kau mengenal wanita aneh ini, tolong bawa dia pergi menjauh dariku" pemuda berambut merah yang tadi dipeluk Sakura bersuara. Ia terdengar kesal.

"Ternyata kau adalah Saso-chan" ujar Sakura sambil menunjuk Sasori yang berdiri dipintu.

"Tentu saja aku adalah Sasori, dan dia adalah Gaara" ujar Sasori sambil menunjuk Garaa yang terlihat kesal.

"Ah begitu, maaf ya Gaa-chan aku sudah salah mengira kamu adalah Saso-chan" Sakura membungkuk pada Gaara lalu mengelus kepala Gaara lembut. Hal ini membuat Gaara semakin marah, ia merasa dipermalukan. Mengerti suasana hati Gaara yang semakin kesal, dengan cepat Sasori menarik tangan gadis tersebut menjauh.

Sasori tak habis pikir, apa yang dilakukan Sakura di sekolahnya. Bahkan ia membuat keributan dengan Gaara. Sasori benar-benar pusing dengan tingkah laku Sakura yang seenaknya. Tetapi karena Sakura ia seperti melupakan sesuatu yang penting. Apa yang ia lupakan?

TBC

ichigo: ganbatte miki-chan buat ujiannya! :)

miki : telat keleus... ujiannya udah selesai -_-

ichigo; loh? udah selesai ya? hehehehe telat dong ini ceritanya. gak papa dah aku kasih semangat buat uas aja deh.

miki : iya uasnya udah didepan mata :'( kenapa cepat sekali (..") fumio-chan juga semangat utsnya nanti, april kan?

ichigo; hahaha masih lama tauk... udah ah udah malam waktunya mengejar mimpi miki-chan... oyasumi muachhhh :p :D

miki : padahal udah deket sok sok dilamain, ya udahlah. nah buat reader-tachi terimakasih sudah membaca :)