A warning to the prophet
The liar, the honest
This is war
To the leader, the pariah
The victor, the messiah
This is war

[30 Seconds to Mars – This is War]

. . .

Puas?

Warning: M for many reasons. AU. OOC possibility: positive. Non-baku. Banyak dialog lagi. Badass!Marco. Ambigay plus. Semakin menanjak.

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

Cover art by F_Crosser on Twitter

. . .

8. Dewa Perang

. . .

Hari-hari bergulir cukup lancar sebulan ini. Marco menjalaninya seperti biasa; datang ke sekolah, ikut pelajaran dengan tertib, bertemu teman, mengurus OSIS, tak lupa bagi tugas pada anak buahnya untuk 'patroli' sore (selama itu mereka telah menghajar sepuluh pemalak, tiga kelompok pelajar pencari perhatian dan beberapa seniman tembok tak bertanggung jawab di sekitar wilayah mereka sekalian 'mendorong' para seniman tadi untuk mengganti rugi itu semua), pulang, makan malam, mengerjakan PR kemudian santai sebelum mengakhiri hari. Kesannya monoton, tapi sebenarnya ada satu hal baru lagi yang terjadi bersamaan dengan saat santainya.

Seorang Jean Kirschtein yang meneleponnya minimal dua-tiga hari sekali.

Setiap smartphone hitamnya berdering antara pukul delapan hingga sembilan malam di atas meja kecil samping ranjangnya, Marco menyapa si penelepon dengan ramah, merebahkan diri di kasur, kaki menghadap keluar jendela sehingga ia dapat melihat kerlipan bintang di luar sana. Tak banyak yang mereka bicarakan, biasanya hanya sekedar membahas keseharian atau kegiatan geng mereka. Namun sesekali pula mereka kembali mencoba mengenal satu sama lain (meski beberapa hal tentang masing-masing dari mereka sudah tahu duluan dari orang lain, daripada di-cap stalker atau semacamnya mereka lebih baik pura-pura tidak tahu).

Marco mengetahui bahwa Jean di samping sekolah, ia tergabung dalam komunitas parkour lokal dan telah belajar di sana selama dua tahun, memperjelas bagaimana Jean bisa melakukan trik akrobatik ("Parkour beda sama akrobat, hoi!" begitulah kata Jean) seperti waktu itu. Jean juga punya kebiasaan untuk selalu minum kopi tiap pagi, jika tak terpenuhi maka mood-nyaakan menurun drastis sepanjang hari. Ketika ditanyai musik yang disuka, dengan mantap Jean menjawab segala macam musik keras yang ia senangi.

"Punk Rock keren banget. Tapi kalau terlalu keras aku nggak begitu suka—musik metal aja paling enggak Nu Metal. Yang lebih dari itu... nggak nyaman di kuping," ungkap Jean.

"Oh... Kukira kamu level-nya sampai sana juga," balas Marco.

"Ah, enggak... Aku yakin kamu sendiri pasti sukanya yang lembut dan manis begitu, kan?"

"Hahaha! Nggak juga... Aku fleksibel. Musik itu paling enak yang pas dengan suasana... waktu kamu merasa nyaman, pasang musik yang nggak terlalu kencang tapi juga nggak terlalu lembut. Saat kamu lelah atau bingung, pasang musik yang pelan dan rileks... Saat kamu merasa senang atau bersemangat, mainkan yang menghentak-hentak—intinya, biarkan dirimu mengikuti 'arusnya'. Tapi ada kalanya juga sih, kita harus melawan arus itu," Marco menjelaskan.

"Maksudnya?"

"Gini... Nggak semuanya bisa kita nikmati dengan mengikuti arus. Kadang, kita justru merasa lebih baik kalau melawannya. Misalnya, saat kamu merasa sedih atau... depresi? Ya, semoga nggak sampai segitunya—kalau kita justru mengikuti musik yang pas dengan emosi, itu justru memperburuk keadaan. Paham, maksudku? Jadi, mainkan musik yang justru menghentak dan melawan. Bangkitkan semangatmu, 'lawan' perasaan-perasaan tadi dengan itu. Kamu bakal merasa lebih baik. Udah kucoba. Mungkin kamu juga bisa, Jean."

Di seberang sana, Jean tersenyum, "Dari mana kamu tahu sebanyak ini?"

"Ah... aku memang suka musik sejak kecil, sempat juga waktu SD ibuku ngasih les piano. Sekarang masih lanjut, tapi udah jarang. Biar nggak lupa, aku ikut ekskul musik di sekolah tapi ya sama aja—aku jarang aktif, tahu lah kenapa. Oh, iya. Ngomong-ngomong, aku lagi nyoba beberapa genre musik lain—aku nggak nyangka bakal jatuh cinta sama Death Metal! Ahaha!"

"... Apa?"

Paling tidak itu salah satu dari beragam hal yang mereka bicarakan di setiap kesempatannya. Semakin hari semakin dekat pula keduanya; saling ejek bahkan sesekali saling memberi telepon iseng menjadi hal biasa. Ada kalanya pula mereka lanjut bercakap-cakap hingga satu titik sensitif di mana Marco kembali dilanda dilema sampai entah bagaimana Jean malah menceritakan kisah masa lalunya...

Seperti saat ini.

"Aku masih bener-bener inget, Marco," ungkap Jean pelan. "Waktu itu tengah malam, aku bangun mau ambil minum... Saat aku sampai di pintu dapur... Aku lihat ayahku bicara dengan entah siapa di teleponnya, kata-kata 'sayang', 'cintaku' dan kau-tahu-apa-aja ia katakan di teleponnya... Kupikir ibu ada di kamar, jadi siapa yang ada di telepon ayah? Entah kebetulan atau bagaimana, ibu keluar kamar, ke dapur dan... Bayangin sendiri. Bisa ngapain bocah sepuluh tahun lihat ayah-ibunya teriak-teriak sambil lempar-lemparan piring?"

Dalam diam, Marco mendorong Jean untuk melanjutkan. Telinganya setia mendengarkan. Tanpa sadar, tangan satunya yang bebas mencengkeram kain matrasnya.

"Mereka udah berantem dari lama, sebenarnya. Mau aku nangis sampai segimana juga nggak ngaruh, toh akhirnya mereka juga pisah. Parahnya lagi mereka rebutan hak asuhku dan UDAH—Aku nggak peduli lagi. Aku capek jadi tali tambang. Untung ada adiknya ayahku, Om Nile. Sejak saat itu, aku hidup bareng dia."

"... Kamu masih komunikasi sama kedua orang tuamu?" tanya Marco pelan.

"Udah berapa tahun—aku nggak ingat. Aku nggak tahu mereka di mana. Mereka nggak peduli, ya ngapain aku peduli?"

"T-terus, buat sekolah? Kebutuhan sehari-hari?"

"Dulu mereka ngirim duit, tapi nggak tahu kenapa sekarang enggak lagi. Sempat bikin Om Nile marah besar gara-gara ini—tapi karena dia nggak bisa nyari kakaknya, dia nyerah dan memutuskan buat ngurus aku layaknya anaknya sendiri. Yah... Sisi lain, Tante Mary—istrinya Om Nile—meninggal belum lama setelah mereka nikah."

"Oh—maaf. Aku nggak tahu..."

"Nggak apa-apa..."

"Tapi, Om Nile kan kepala polisi? Kenapa kesulitan?"

"Dia nggak mau aku terlantar kelamaan, katanya. Ya udah, dia lalu take over."

Marco merentangkan lengan satunya, bergerak untuk merengkuh orang di sampingnya—tunggu. Marco hanya sendirian di ruangan ini.

"Jean..." sebut Marco.

"... Ya?"

"Kenapa kamu menceritakan semua ini?"

Sunyi.

"Karena kamu membutuhkannya, Marco."

Marco bingung harus menanggapi apa jika mendadak jantungnya berdegup keras hingga membuat rusuknya nyeri. "M-maksudnya...?"

"... Lupakan. Lagian ini udah malam. Ah, iya. Aku cuma mau ngingetin kamu aja... suatu saat nanti, kita akan bertemu di posisi yang sama lagi. Seperti awal dulu."

"H-ha? Kamu bicara apa, Jean?!"

"Haduh... Ya udah, lah. Kita bicara lagi besok... Malam, Marco."

"Hei, Jean! Jelasin dulu—" Sambungan keburu diputus. Marco menatap layar ponsel yang kembali menampilkan desktop dan menghela nafas lesu.

.

=sirupmarjan=

.

Jean berbaring di ranjang, tangan mengenggam ponselnya tinggi di atas wajahnya. Sebuah kalimat terpampang pada layar disusul dengan sensasi memilin yang mengisi rongga dadanya.

[Conversation saved]

Ia lalu tidur miring menghadap tembok. Jempolnya menelusuri daftar rekaman percakapannya dengan Marco yang tersimpan di memori ponselnya sebulan ini, semua berjumlah dua belas buah.

Raut muka Jean menekuk. "Ck," Ia mendecih, memasang headset dan ditekannya tombol 'play'.

.

"Halo, Jean. Ada apa?"

"Nggak... uh, gimana kabarmu?"

"Oh... Ya, seperti biasanya. Kamu sendiri?"

"Sama."

.

"Eh, Marco. Udah milih, belum?"

"Milih apa?"

"Itu, yang kita bahas di rumahmu kemarin."

"... Nggak secepat itu, Jean."

.

"Aku dengar sekolahmu bikin lomba mural."

"Ah, iya. Kenapa emang?"

"Ya... kamu jadi panitia juga, kan?"

"Iya, lah."

"Rasanya gimana ngurus acara begituan?"

"Hmmm, begini..."

.

"Jean, itu udah tradisi."

"Diubah gitu, kek. Jadi pemimpin itu kalau bisa juga bikin sesuatu yang baru."

"Nggak segampang itu. Sisi lain kalau kita yang cari masalah duluan, itu sama aja seperti bocah."

"Heeei... Bukannya kita ini sebenarnya juga masih bocah? Umurmu berapa?"

"... Ya bukan gitu juga maksudnya."

.

"Ayah jadi memberiku bodyguard..."

"... Mereka udah tahu, berarti."

"Tenang... Belum kok, belum. Mereka masih paranoid. Tapi kamu tahu? Aku bersyukur."

"Hah...? Kadang aku nggak ngerti sama jalan pikiranmu, Marco."

"Haha... Dia itu... gimana ya? (berbisik) Kecil-kecil cabe rawit."

"HAHAHAHAHAH! Serius?"

"Ya! Aku yang jadi majikan dia, malah aku yang sering disuruh-suruh dia."

"Gawat, tuh. Kalau aku jadi kamu ya, Marco... Udah aku pecat dia."

"Wah, belum tahu kamu... Dan tahu, dia itu juga siapa?"

"Siapa?"

"Mantan bos geng SMA Shiganshina generasi keempat."

"... Deritamu."

.

"Aku suka Biologi. Tapi ya... nggak gitu juga, lah. Bu Hanji pinter sih, tapi..."

"Heeh~? Bab apa emang? Sistem reproduksi?"

"I-iya, tapi—"

"Disuruh praktek?"

"WHA—JEAN! KITA BAHASNYA REPRODUKSI HEWAN! AKU BELUM SELESAI NGOMONG!"

"BUAHAHAHAHAHAHAH"

.

"Kali ini kenapa lagi, Jean?"

Bahana tawa keponakannya terhenti. Jean menyangga tubuhnya dengan siku, mendorong ke depan untuk duduk. Ia ambil beberapa nafas dalam, mencoba meredakan tawanya. Jean melihat Om Nile berdiri di depan pintu dengan wajah... heran?

Jean menunduk menatap ponselnya sejenak sebelum tersenyum dan berkata pada pamannya, "Nggak, Om. Temanku lucu."

Jean melihat kedua alis pamannya naik bersamaan dengan kelopaknya yang melebar yang sesaat kemudian kembali seperti semula.

"Kenapa, Om?"

Apakah Jean tidak salah lihat? Barusan Om Nile seperti tersenyum sebelum pergi meninggalkan kamar dan menutupnya kembali.

Jean kembali pada ponselnya setelah beberapa saat terdiam, memainkan ulang rekaman terakhir tadi. Ia tak bisa menahan bibirnya untuk tidak menyunggingkan senyum kecil yang memperlihatkan sebaris gigi-gigi putihnya, terutama ketika membayangkan bagaimana reaksi Marco di seberang sana setelah dirinya menyeletuk seperti itu. Mungkin saat itu Marco sedang tiduran di kasurnya, tangan kanan meletakkan ponsel di telinganya sebelum mendadak rahangnya terbuka kaku, bangkit ke posisi duduk lalu mulai teriak-teriak dengan pipi merah menyala menutupi bintik-bintik gelap wajahnya yang nampak begitu lucu dan indah—

Aliran darah pun naik secepat kilat hingga membuat seluruh kepalanya terasa panas. "Astaga..." keluhnya dan kembali berbaring dengan tangan menutup seluruh wajahnya.

Jean tidak mengerti lagi. Entah sudah keberapa kalinya keadaan macam ini terjadi, yang jelas itu meninggalkan beragam kesan yang tak bisa ia jabarkan satu per satu. Tujuan awalnya pun semakin lama semakin memudar, berganti dengan rasa nyaman yang telah lama ia nantikan dari seorang teman.

Teman...?

Ya. Teman. Jean menghabiskan waktunya mencari orang yang bisa tahan dengan manusia macam dirinya. Di usianya yang beranjak enam belas beberapa bulan lagi, ia baru menemukannya sekarang. Bagaimana dengan teman-teman gengnya? Setelah melihat tingkah mereka pasca-peristiwa itu, Jean tidak butuh orang-orang yang mencari teman berdasarkan kasta. Connie memang dekat, tapi tak sedekat dirinya dengan Marco.

Teman, ya...

Lalu kenapa dirinya tega melakukan ini semua?

Marco di sana memegang dua tahta sekaligus, sebuah pekerjaan yang seharusnya tidak bisa dilakukan oleh anak enam belas tahun biasa. Marco telah mendapatkan hati orang-orang di kedua kerajaannya dan dipeliharanya mereka layaknya seorang raja yang bijaksana. Sementara itu Jean, bak seorang mantan panglima perang tertinggi yang dicabut karena kalah perang menjadi pengembara dari negeri seberang yang bertemu dengan sang raja dalam suatu kesempatan berharga, yang diam-diam menjalin hubungan spesial tanpa si raja sadar bahwa di hadapannya sedang berdiri mata-mata dari negara tetangga.

Marco ada di level yang jauh berbeda. Marco memiliki semua hal yang Jean tidak miliki. Semua itu adalah jurang besar curam yang memisahkan keduanya. Jean ingin sekali berdiri sejajar dengan Marco, dan usaha yang kini ia lakukan sama saja seperti dirinya melempar lasso ke tebing seberang, menangkap si pemuda berbintik, menariknya keras meskipun Marco harus terjatuh ke jurang dan menghantam dinding ngarai terlebih dahulu sebelum ia tarik naik ke sisinya. Entah Marco saat itu dalam keadaan sekarat atau tidak, selama Marco sejajar dengan dirinya tidaklah masalah.

Jean mulai putus asa. Ia tak sabar untuk membawa Marco ke dunianya yang gelap dan menemani dirinya di dalam sana.

Jean tidak bisa memikirkan hal lainnya... Toh Marco telah menunjukkan indikasi ingin sepenuhnya masuk ke sana. Jean pikir itu adalah kesempatan. Siapa tahu meski dalam kondisi lemas dan kehilangan banyak darah, Marco akan tersenyum dalam rengkuhannya dan mengucapkan 'terima kasih'. Iya kan?

Lalu bagaimana selama ini Jean yang (seharusnya) berakting? Segala unsur yang berhubungan dengan 'akting' dalam teleponnya selama ini adalah nol besar. Semuanya begitu... natural. Seluruh kalimat yang ia ucapkan murni dari dirinya sendiri.

.

"Aku boleh tanya, Jean?"

"Apaan?"

"Kamu sering kelihatan muram. Apa memang wajahmu seperti itu atau gimana? Haha..."

"... Masa'? Biasa aja, ah."

"Jangan begitu. Semua orang bisa lari melihatmu."

"Heh. Kenapa? Aku kelihatan kuat, kan?"

"Hahaha! Kalau kamu anggap begitu udah membuatmu tampak kuat, kenapa ya, aku sendiri nggak takut padamu? Artinya, orang yang kuat itu nggak sepenuhnya dilihat dari wajahnya."

"Terus kamu nyuruh aku buat senyum setiap saat macam kamu, begitu?"

"Jean, haha... aku nggak sebegitunya juga. Benar, senyumlah—Itu salah satu cara sih. Lagipula..."

"Lagipula...?"

"... Kamu punya senyum yang bagus, Jean."

"..."

"Selain itu... dengan tersenyum, orang takkan pernah tahu persis apa yang sedang kita pikirkan. Strategi bagus buat di medan perang. Iya, kan? Heheheheh..."

"... Heh. Setan."

.

Kedua alis tipis yang tajam itu mengerut. "Brengsek kau, Marco Bodt..."

Kali ini Jean membiarkan wajahnya terbakar. Jean rela jempolnya menekan tombol play berkali-kali hanya untuk memuaskan telinganya yang ingin mendengar suara Marco yang lembut, menenangkan dan mampu memendam dalam-dalam segala kegelisahannya barusan.

Jean tak menyangka jika malam itu ia tak bisa tidur sebelum menyebut-nyebut Marco lirih, ditemani suara pemuda yang diucapkannya itu yang bermain bersama suaranya sendiri dari kedua headset-nya.

"Marco... Hahaha..." ia mendesah, senyumnya mengembang menjadi cengiran penuh nafsu. Besok hari, Jean akan serahkan semua yang dibutuhkan bosnya. Ia akan mendapatkan mahkotanya kembali sebagai reward yang dijanjikan—tapi persetan dengan itu semua, Jean sudah tidak membutuhkan kedudukan lagi. Ia justru akan memanfaatkannya—mempersiapkan segalanya yang akan membuat Marco berdiri di sampingnya.

Selamanya.

.

=sirupmarjan=

.

Sak besar isi pasir yang menggantung di dahan pohon besar itu berguncang menahan rentetan serangan yang menghantam tubuhnya. Entah sampai kapan ia bertahan, orang yang menghajarnya sejak tiga puluh menit lalu tak henti-hentinya melempar tonjokan dan tendangan dalam berbagai tingkat kecepatan dan kekuatan.

Orang itu—seorang lelaki muda—melancarkan right hook yang diikuti gerakan yang sama dengan tangan kirinya dan disusul tendangan memutar yang tinggi. Kedua tangannya yang dibalut perban putih kembali menyerang, peluh yang mengucur deras dari ujung kepalanya hingga membasahi kaos putih polos yang ia kenakan pun tak menjadi penghalang. Setelah beberapa seri pukulan ia lakukan, ia selesaikan dengan teriakan lantang bersamaan dengan kedua kakinya yang digerakkan untuk menghantam bergantian pada sak itu dengan keras.

Suara tepuk tangan muncul dari belakang si pemuda disusul dengan, "Tidak buruk juga, Bodt."

Marco tertawa singkat dan mengucapkan, "Makasih, Levi," lalu menyeka keringat di dahinya. Senyum masih terpampang di wajahnya seperti biasa, kedua manik cokelatnya tak meninggalkan sak pasir yang masih berayun-ayun setelah menerima tendangan pamungkasnya barusan. Marco berbalik, berhadapan dengan pria pendek mengenakan setelan jas hitam lengkap yang kini memandang ke arah langit yang memancarkan kilau keemasan.

"Kurasa hari ini sudah cukup," Levi melempar handuk putih yang sejak tadi dipegangnya pada Marco. "Lap semua keringatmu. Cepat."

"Ahahaha, iya, iya..." Marco pun melakukan apa yang dikatakan Levi sambil melangkah masuk rumah sejenak untuk mengambil segelas air putih dan duduk pada salah satu kursi kayu di teras taman belakang rumahnya ini. Diteguknya air jernih itu perlahan sampai habis sebelum menghela nafas lega.

Levi duduk di kursi lain yang berseberangan dengan Marco, kedua kaki dan lengannya disilangkan. Sorotan mata biru-keabu-abuan miliknya menatap Marco dingin, menunggunya untuk mengatakan sesuatu.

"Udah seminggu ya... Sampai sekarang aku masih belum habis pikir..." Marco memulai, "Ini kebetulan atau gimana? Ayah memilihkanku seorang bodyguard yang ternyata adalah seniorku beberapa tahun lalu."

"Ayahmu menginginkan yang terbaik dan perusahaan mengakui dan mempercayaiku sebagai yang terbaik. Aku hanya melakukan pekerjaanku," balas Levi.

"Selama ini yang kau lakukan hanya diam, mengawasiku dari jauh dan tidak mencegahku sedikitpun untuk tidak ikut kegiatan geng. Kau membiarkanku main tangan dan keroyokan bareng teman-temanku—"

"Aku selalu memberi laporan pada ayahmu tiap hari."

Marco mengangkat wajahnya, menatap Levi dengan kedua mata melotot. Tubuhnya mendadak dingin.

"Tak perlu kuberi yang detil. Singkatnya, aku bilang pada ayahmu bahwa kau selama ini baik-baik saja, mengikuti kegiatan belajar-mengajar dengan baik dan tak terlibat masalah apapun. Masih ada yang kurang?" ungkap Levi datar.

Marco masih diam, tak yakin dengan kata-kata apa ia harus membalas.

Levi mendengus dan berdiri dari kursinya. Ia melangkah sampai ujung teras menghadap taman, punggung ia hadapkan ke wajah Marco. "Untuk apa aku berbohong padamu?" ujarnya. "Dan ngomong-ngomong, aku mendengar banyak hal tentangmu. Jujur saja, kau ini adalah bos paling bodoh dalam sejarah geng SMA Shiganshina."

"A—apa...? Dari mana kau punya pikiran macam itu?"

Levi berbalik, matanya menyorot tajam. Tiba-tiba ia melangkah tepat ke depan Marco dan menarik bajunya keras. Dalam jarak tak lebih dari sepuluh senti di depan wajah pemuda berbintik itu, Levi mendesis, "Pertama: Kau tak perlu tahu dan aku sudah bersamamu selama seminggu. Kedua: Aku tak peduli dengan anak-anak buahmu yang begitu menyukaimu, mempercayaimu, atau bahkan sampai ada bocah ingusan yang menganggapmu semacam malaikat turun dari langit atau apalah sampah yang mereka katakan itu tentangmu. Tapi melihat bagaimana caramu mengurus dirimu sendiri, sadar atau tidak sadar itu akan membunuhmu perlahan-lahan."

Marco dihempaskan ke kursi, Levi kembali ke posisi berdirinya yang semula di tepi teras. Jika Marco adalah majikan normal, Levi sudah ia pecat atas sikapnya yang lancang ini. Tapi ada sesuatu dari dalam diri Levi yang mengatakan bahwa jika Marco melakukan itu justru dirinya yang akan dibalas dua kali lipat lebih sakit.

"Levi... kenapa? Kenapa kau melindungiku?" tanya Marco pada akhirnya.

"Pertanyaan bodoh macam apa itu. Kuharap kedua mata dan telingamu tidak berfungsi setengah bagian saja."

"Bukan! Maksudku—maksudku... dari orang-orang yang tidak mau melihatku berada di tempat yang mereka benci."

Sepoi angin sore mengisi kesunyian diantara keduanya sebelum Levi menjawab, "Kau berhak mendapatkan kebebasan."

Marco pun mendapati lantai marmer terasnya lebih menarik daripada hamparan taman belakang rumahnya.

"Manusia itu bisa menjadi apapun dalam hidupnya. Semua tergantung pilihan manusia itu sendiri dan bagaimana cara mereka mempertanggungjawabkan apa yang mereka pilih. Itupun jika kau ingin menjadi manusia seutuhnya. Kau tak bisa memutuskan untuk tidak menjadi apa-apa, apalagi menjadi segalanya. Manusia ya manusia. Bukan hewan atau dewa."

Marco terhenyak. Apakah yang Levi katakan barusan memiliki konteks yang sama dengan Jean katakan beberapa waktu yang lalu?

"Jadi... aku harus gimana? " gumam Marco lesu.

"Kenapa kau tidak mencoba untuk memilih sekarang?" balas Levi sebelum berbalik menghadap Marco lagi. "Hidup itu penuh pilihan. Tiap pilihan tentu ada resikonya masing-masing. Tapi, hidup itu juga penuh kejutan. Tak ada seorangpun di dunia ini yang tahu pilihan mana yang tepat, entah sesepele apapun pilihan itu. Kita selalu menganggap bahwa apa yang kita putuskan itu adalah yang terbaik, namun seringkali memiliki hasil yang tidak kita harapkan sama sekali. Atau mungkin, begini saja—siapa tahu ini akan lebih bisa dimengerti otak usangmu itu."

Marco mendongak, penasaran dengan lanjutannya.

"Jika kau berada di dalam situasi yang membuatmu harus membunuh atau dibunuh, manakah yang akan kau pilih?"

Sepasang kelopak mata pemuda itu melebar sejenak. "... Tidak keduanya," jawabnya berat.

"Membunuh atau dibunuh. Pilih," ulang Levi lebih tegas.

"A-aku tidak mau mengecewakan siapapun—"

"Pilih, Marco Bodt!"

Berbagai macam pikiran berlarian tak beraturan di dalam benak Marco. Ia sebagai pemilik pun tidak tahu mana yang akan ia ambil. Sebab-akibatnya begitu kontras. Marco pun membenamkan kepalanya yang berat pada kedua tangannya yang disangga siku di pahanya, merenung dan merenung hingga pada akhirnya ia temukan jawabannya.

Marco mengerti di saat Jean mengatakan bahwa ia telah lelah menjadi tali tambang.

Ketika Marco angkat wajahnya, cahaya yang biasanya terpancar cerah dari kedua sorotan matanya kini telah meredup. Meski begitu, di dalamnya terlihat baja yang siap menghantam apapun dengan wujudnya yang begitu keras.

Sekarang atau tidak sama sekali.

"Membunuh."

Kemudian, secercah seringai kecil terbentuk di bibir Levi. "... Jadi begitu."

# # # # # TBC? # # # # #


(A/N)

Alright... Things are getting hot, surely. 8)

Hola, readers! Akhirnya UAS saya selesai woooohoooo 8D
Saya di sini balik lagi buat nyuguhin sirup MarJan ke para pembaca semua, semoga tetep manis dan segar seperti biasa, hohoho
Makasih buat Ai Kazoku, Soran Lahmeer, Frozen Ice Cream, syalala uyee, fugacior dan Verucca lucifer udah sempet nge-review! Oh well... Lagi-lagi saya gak jadi naikin rating fic ini. Tapi paling enggak plot semakin mendekati puncak dan udah lihat ahempreviewnyaahem di chapter ini, kan? Heheheh. /plok
Mama-nya Marco fujo? Kita belum tahu.
Anything can happen in this fic! ;D
Levi juga gak saya munculin di sini aja, nanti di chapter-chapter depan bakal muncul juga. Tetua gitu o/

Mungkin udah ketebak dari mana saya dapet ide buat judul chapter ini? 8)

Yak mungkin itu dulu? Makasih juga buat para silent reader, yang udah +fav, follow, dan sekali lagi buat yang nge-review. Makasih banget masih mengikuti fic-nya sampai sini. Kalau bukan karena kalian, inspirasi bakal macet! 8D

Oh iya. Ada mungkin dari readers yang punya tumblr? Mungkin readers bisa cek tumblr saya di f-X-er. tumblr. com (hilangkan spasi), di sana saya semacem menyediakan stok sirup MarJan banyak banget; daripada kadaluarsa karena disimpen kelamaan saya pingin membaginya dengan temen-temen juga hahaha

Mohon kritik/saran/review-nya. Saya masih belajar. :)