Halo minna~ *digebukin
Maaf saya datang terlambaaaaatt sekali. Banyak yang me-PM saya untuk segera update Fict yang sudah terlantar setengah tahun lamanya ini. Tapi saya masih sibuk dgn urusan pribadi. Tapi saya akan mulai mengetik lagi. Untuk itu yang jauh merapatlah. Sekalian invite saya ya biar kita bisa saling share.
Pin : 208c977c
Warning : OOC, AU, , Abal-abal, Gaje, OOT, OC, dsbnya
Rating : Sesuai ceritanya saja. Kalua author lagi sedeng, mungkin ntar akan meningkat ratingnya jadi M. Tapi itumah masih *mungkin. Hahay
Untuk sekarang, biar ratingnya T+ dulu deh. XDDD Oya, ini tanpa ada pembacaan ulang/edit2an karena malas. Jadi kalau banyak ditemukan typo, I'am so sorry~
Desclaimer : Aoyama Gosho om author *dilemparin uang. Maksudnya, Gosho Aoyama adalah pemilik syah DETECTIVE CONAN/ CASE CLOSED.
.
.
Kita anak Sekolahan
Chapter 9/?
.
.
"Kakak?" Shiho memanggil seorang gadis berambut panjang yang sedang duduk di depan pagar rumah Professor Agasa. Gadis itu mengangkat kepalanya dan tersenyum ke arah adik yang sudah lama tak dijumpainya itu.
"Shi.." Akemi menahan ucapannya saat ia menyadari siapa yang sedang bersama adiknya itu.
"Akemi," ujar Shuichi yang hendak mendekat.
"Kenapa kau membawanya kesini?!" bentak Akemi kepada Shiho yang hendak menghampirinya, sehingga membuat Shiho terdiam dan menghentikan langkahnya.
"Kakak, ada yang ingin dibicarakannya denganmu,"
"Shiho! Kau mengecewakan kakak." desis Akemi dengan air mata menyemburat di pipi sembari mengangkat kopernya dan siap pergi. Tapi Shiho langsung menahannya.
"Tidak. Kalau sudah disini, kau tidak boleh kemana-mana." ujar Shiho menatap Akemi tajam untuk meyakinkannya. Akemi yang tahu dengan tatapan itu hanya diam dan menekur.
"Kalau begitu suruh dia pergi." Akemi menunjuk Shuichi yang terdiam menatapnya shock.
"Akemi. Aku mencintaimu. Aku tidak akan pergi sebelum kau mendengar penjelasanku."
"Penjelasan apa lagi?!" teriak Akemi kesal.
"Ak.."
"Sudahlah sempai. Kau bisa kembali untuk menjelaskannya saat emosi kakak sudah stabil." potong Shiho membuat Shuichi terdiam.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang. Selamat datang di Jepang, Akemi." ujar Shuichi berbalik ke dalam mobilnya dan pergi.
Akemi hanya menunduk menangis sembari menyentuh dadanya yang terasa sesak.
Ia mengangkat kepalanya lagi dan menatap punggung Shuichi yang kian menjauh seolah tak lagi bisa dijangkaunya.
"Shuichi." batin Akemi menghapus air matanya.
Shiho hanya mengerling Akemi menyesal.
"Kakak, semua ini hanya salah paham." batin Shiho sedih.
.
.
Keesokan harinya di SMA Teitan.
"Huft, sudah kuduga pasti Araide-sempai dan Sonoko yang akan menang."
"Iyalah, kan Sonoko yang punya Pesta. Pasti dia ingin jadi Ratunya dan mengatur semua rencana ini sebelumnya." oceh beberapa murid yang sibuk menggosipkan Pesta Sonoko semalam. Sonoko dan Ran yang kebetulan lewat hanya geleng-geleng dan mencari tempat duduk di paling sudut kantin.
"Hei Ran, mereka menggosipkanku =_=" ujar Sonoko lemas. Ran hanya tersenyum.
"Sudahlah,jgn dipikirkan. Eh ngomong-ngomong semalam Lupin Heart beraksi lagi ya? Katanya ada yang dapat mawar merah lagi darinya dan mereka pun sudah jadian." ujar Ran mengalihkan pembicaraan.
Sonoko mengangguk. "Kau benar Ran, aku benar-benar penasaran siapa Lupin Heart sebenarnya."
"Aku juga XD" kata Ran histeris.
"Hei hei, katanya akan ada anak baru lagi ya?"
"Hah? Benarkah? Siapa? Siapa?" berisik para murid yang baru saja datang ke kantin.
"Itu lho, gosipnya murid dari luar negri lagi. Kakaknya si Miyano Shiho itu."
"Woah~ Adiknya saja semanis itu bagaimana dengan kakaknya ya? Aku jadi penasaran."
"Gya~ Aku juga~" gosip para murid histeris.
Ran dan Sonoko yang mendengarnya hanya terdiam sesaat.
"Kakaknya Shiho?" ujar keduanya shock.
.
.
Baru saja Bel berbunyi, Shiho sudah bergegas keluar kelas. Shinichi yang melihatnya hendak menyusulnya kalau saja Ran tidak memanggilnya.
"Shinichi. Kemarin kau mengecewakanku." Ujar Ran kesal. Shinichi hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf Ran, tapi aku kemarin mencari Shiho."
DEG
Ran dapat merasakan getaran yang hebat di dadanya saat Shinichi menyebut nama gadis itu.
"Kenapa sih, selalu Shiho?" tanya Ran menekurkan wajahnya.
Shinichi menatap Ran heran.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Ran hanya menekur dalam diam. Ia menarik ujung kaos kemeja Shinichi dan mengangkat kepalanya menatap Shinichi dalam.
"Shinichi, tidak mengertikah kau kalau aku cemburu?" batin Ran seolah ingin berteriak. Tapi Ran menahan emosi di dalam dirinya dan tersenyum dalam kebohongan.
"Tidak kok. Bukan apa-apa." kata Ran tersenyum palsu. Shinichi yang tidak mengerti hanya mengangguk-angguk dan menggandeng tangan Ran pulang.
"Ya sudah, kalau begitu ayo pulang ^^" Mereka pun keluar kelas dengan bergandengan, yang mana membuat murid-murid yang mengidolakan Shinichi cemburu besar.
"Cieeee, makin erat aja sekarang." Goda Sonoko membuat Ran dan Shinichi malu.
"Sudahlah, ayo pulang." Ran menggandeng tangan Sonoko sebelahnya lagi. Dan mereka pun pulang dengan canda ria.
Sementara itu, Shiho berjalan tergesa-gesa menuju rumah Shinichi yang kini merupakan tempat tinggalnya dan kakaknya itu. Baru saja ia masuk ke dalam Taxy, tiba-tiba masuk pula seseorang kedalam Taxy itu dan duduk disamping Shiho yang spontan membuat gadis itu kaget.
"Kau?" ujar Shiho melihat Kaito yang tersenyum disebelahnya.
"Hei, kenapa kemarin kau pergi begitu saja?" tanya Kaito kesal. Shiho hanya berdesah.
"Jangan ganggu aku dan jangan masuk lagi ke kamarku seenaknya."
"Lha? Kenapa?" tanya Kaito heran.
"Karena aku tidak sendirian di kamar itu sekarang."
Kaito terlonjak kaget.
"Apa? Lalu? Apa kau bersama dengan si brengsek Shinichi itu?"
"Hei, jangan menuduhku sembarangan!" kerling tajam Shiho menusuk jantung Kaito.
"Haha, terus?"
"Kau tidak perlu tahu." kata Shiho dingin.
Kaito hanya tersenyum.
"Baiklah, lalu kemana kita sekarang?" tanya Kaito sembari mengotak-atik Handphonenya.
"Aku akan pulang. Kau, berhenti disini."
"Apa?" kaget Kaito tidak terima.
"Pak berhenti!"
Taxy itu pun berhenti. Shiho meraih pintu di dekat Kaito dan membukanya, lalu mendorong Kaito dengan paksa keluar.
"Hei, biarkan aku lebih la.."
"Keluaaarrr!" Shiho terus mendorong pria itu, sehingga mau tidak mau Kaito pun keluar dengan sendiri.
"Baiklah. Tapi ingat, aku akan selalu mengawasimu nona manis." Ujar Kaito mengedipkan matanya ke Shiho. Shiho hanya memutar bola matanya 360 derajat dan menutup pintu.
"Maju pak." Lalu Taxy pun kembali melaju meninggalkan Kaito yang berdiri di pinggir jalan.
"Huft, gadis yang keras kepala." ujar Kaito kesal.
.
.
Setibanya di depan rumah Shinichi, Shiho pun turun dari Taxy dan bergegas masuk ke dalam rumah. Ia segera mencari sosok kakaknya. Tapi ia menghentikan langkahnya saat ia mendengar suara orang yang tengah mengobrol.
"Maafkan aku sudah salah paham selama ini."
"Aku mengerti. Kau melakukannya demi sahabatmu. Walaupun kau tidak mau hubungan kita kembali seperti dulu, setidaknya kita masih bisa berteman."
"Iya, aku mengerti." Akemi menundukkan kepalanya dalam. Seolah menahan air matanya yang hendak berlabuh.
"Akai, Lupakan semua masa lalu kita. Aku ingin kita mengulang semuanya dari awal. Malam ini akan menjadi malam penghapusan kenangan menyakitkan itu." ucap Akemi berusaha tegar.
Akai tampak tersenyum.
"Tentu saja. Demi mu aku rela melakukan apapun. Miyano Akemi." Shuichi bangkit dari sofa dan berjalan ke belakang sofa tempat Akemi duduk. Ia meraba bahu Akemi.
"Kau selalu begitu. Berpura-pura menjadi gadis yang tegar. Aku pulang." Shuichi pun berlalu meninggalkan Akemi yang masih terdiam terpatung di sofa. Shiho yang sedari tadi mengintip pertemuan tak terduga itu segera bersembunyi saat Shuichi berlalu.
BLAM
Pintu tertutup. Shiho pun keluar dari tempat persembunyiannya.
Ia menghampiri Akemi yang masih duduk di atas sofa dalam diam.
"Kakak,"
Akemi melirik Shiho dan tersenyum. Membuat Shiho terpana melihatnya.
"Kakak sudah tahu semuanya. Dan kami akan belajar memulai hidup yang baru. Shiho, terimakasih sudah mempertemukan kami."
"Tapi, sejak kapan dia disini?" tanya Shiho heran.
"Tadi pagi dia datang dan terus menunggu di luar. Aku tidak tega dan akhirnya mau mendengar penjelasannya." Akemi tersenyum lega. Shiho hanya terdiam.
KREEKK
Tiba-tiba pintu terbuka. Dari sana masuklah Shinichi dengan pakaiannya yang kotor.
"Lho? Siapa dia?" tanya Shinichi kaget melihat Shiho yang sedang tertegun menatapnya bersama Akemi.
"Oh ya, semalam pulang pesta dan sebelum berangkat sekolah aku tidak sempat mengatakannya padamu. Ini kakakku,"
"Miyano Akemi." ulas Akemi dingin menatap Shinichi ramah.
Shinichi hanya tertegun.
"Ooo, jadi sudah datang. Kapan sampainya kak?" tanya Shinichi penasaran dan duduk di sofa untuk mengobrol.
"Tadi malam. Tapi kau tidak melihatku karena aku hanya mengurung diri di kamar Shiho."
"Oh begitu." Shinichi mengangguk-angguk.
"Hei, kenapa bajumu kotor?" tanya Shiho kepada Shinichi.
"Oh, ini tadi ada jambret. Aku mengejarnya, tapi dia sangat kuat sampai tanganku tergores belatinya." Dengan enteng Shinichi menunjukkan Luka besar yang melintang di telapak tangannya.
Shiho dan Akemi menyipitkan mata mereka.
"Bodoh." Ujar Akemi memangku lengan. Sedangkan Shiho bangkit mengambil kotak P3K dan segera duduk disamping Shinichi. Diraihnya tangan Shinichi dan dibersihkannya dengan kapas, sehingga membuat Shinichi kaget dengan sikap manis Shiho yang membuatnya berdebar-debar karena menggenggam tangannya. Shiho hanay mengomel-ngomel sembari membersihkan luka itu dan memasang perban.
"Kalau luka seperti ini harus dibalut biar tidak infeks.." ucapan Shiho terputus saat ia menyadari Shinichi menatapnya terpana sedari tadi. Wajah mereka sangat dekat, sehingga membuat Shinichi malu dan salah tingkah. Akemi hanya berdehem.
"Sepertinya kebaikan Shiho membuat pria ini salah paham."
"EH?" Shinichi sadar dari lamunannya dan menutup wajahnya yang memerah. Shiho hanya tersenyum sinis dan bangkit kembali menaruh kotak P3K.
"Aku mau masak dulu."
"Aku mau mandi." Keduanya sama-sama bangkit dan pergi ke tempat masing-masing. Akemi yang melihatnya hanya tersenyum.
"Adikku yang manis."
BLAM
Shinichi menutup pintu kamar mandi dengan cepat. Ia bersandar di pintu dan melirik tangannya yang kini diperban.
"Kenapa, Shiho membuatku deg-degan begini?" batinnya sembari menatap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi.
TBC
