You're mineā¢
Main cast : Baekhyun, Chanyeol ChanBaek
Other cast : Kyungsoo, Sehun, Kai, Luhan, Kris dll
Genre : Romance, Marriage, Drama
Rate : T
WARNING! typo(s) GS GENDERSWITCH, yang tidak suka GS mohon tidak membaca. No Bash No Blame
DISCLAIMER: Semua chara milik Tuhan, ibu, bapak, agensi masing masing, aku hanya meminjam nama doank (berharap Baekhyun jadi milik saya #plak)
...
Seperti biasanya Baekhyun akan tetap mau repot-repot meluangkan waktu setengah jamnya di pagi buta untuk sekedar berlari kecil mengelilingi kompleks perumahannya. Keringat yang bercucuran ditubuh rampingnya adalah yang terbaik pagi itu.
Tidak ada aktifitas di pagi hari yang lebih menyenangkan bagi Baekhyun selain pergi jogging. Bagi Baekhyun jogging adalah sarapan paginya yang paling bergizi. Olah raga ringan yang masih banyak segelintir orang malas untuk melakukannya.
Contohnya adalah namja bernama Park. Suaminya yang tampan itu tidak akan pernah mau diajak olahraga. Beribu kali dia memaksa, beribu kali juga Chanyeol menolak. Entahlah Baekhyun tidak tahu jalan pikiran Chanyeol. Walau sebenarnya dia sudah pernah menerima penjelasan singkat yang -sedikit- masuk akal juga dari suaminya. Chanyeol tidak mau melewatkan acara tidur nyenyak di pagi buta karena karena dia membutuhkan istirahat yang cukup. Chanyeol itu orang sibuk. Dan Baekhyun sangat tahu itu.
Membicarakan tentang Chanyeol, pagi ini Baekhyun sedikit kesal pada suaminya. Si jangkung itu sudah meninggalkan rumah pagi sekali, bahkan melebihi -pagi buta- dimana Baekhyun biasanya bangun untuk pergi jogging. Kemarin Chanyeol sempat memberi tahunya jika dia akan pergi keluar kota untuk urusan bisnis. Tapi yang membuat Baekhyun kesal adalah... Dia tidak dibangunkan untuk sekedar mengantarkannya ke depan rumah sampai Chanyeol melajukan mobilnya pergi. Baekhyun itu istri, dan dia tidak suka jika tidak dianggap. Walau terkesan berlebihan tetapi Baekhyun tidak peduli, pokoknya ia ingin mengantar Chanyeol, titik. -_-
Sebenarnya kemarin yeoja itu juga sudah menyetel alarm di ponselnya pada pukul 4 pagi, namun anehnya ponselnya tidak berbunyi sekalipun. Dan setelah ia mengeceknya tadi pagi, ternyata ponsel itu mati. Baekhyun yakin benar itu adalah ulah Chanyeol. Karena bateray ponselnya masih full. Jadi tidak mungkinkan ponselnya nge drop? Dan itu membuatnya semakin heran dengan maksud tiang listrik itu tidak membiarkannya bangun.
Hei, Baekhyun. Chanyeol hanya perhatian padamu!
"Hosshh...Hoshh..." Baekhyun menghentikan langkahnya sejenak untuk mengatur nafasnya yang mulai pendek. Tangan mungilnya mengelap keringat yang bercucuran disekitar tengkuk dan dahinya. Udara pagi ini memang sedikit terik, walau saat ini bukan lagi musim panas. Tapi Baekhyun tak mengganggap itu masalah penting.
Di alihkan matanya pada jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. butuh sekitar lima menit lagi ia bisa sampai rumahnya.
Akhirnya setelah nafasnya mulai stabil, ia mengayunkan kakinya lagi untuk berlari.
Setelah ia hampir sampai depan rumahnya. Baekhyun memiringkan kepalanya heran begitu matanya mendapati seorang yeoja berdiri di hadapan pagar besar rumahnya. Beberapa kali Baekhyun mendapati yeoja itu memencet bel berulang-ulang. Baekhyun penasaran siapa orang yang bertamu pagi-pagi begini. Karena tidak mau berdiam diri diliputi penasaran akhirnya ia putuskan untuk menghampiri yeoja itu.
"Chogi... Nuguseyo?" Tanya Baekhyun membuat yeoja yang sibuk memencet bel itu menolehkan kepala kearahnya.
"Oh Hai sepupuku" Ucap yeoja tersenyum lebar pada Baekhyun. Begitu mereka bertemu pandang.
Setelah tahu siapa yeoja itu, Baekhyun segera berteriak kegirangan. "Tao? Kau Huang Zi Tao?"
"Iya Baekhyun, Apa kabarmu?" Balas Tao sambil merentangkan tangannya berniat menyambut pelukan hangat sepupunya, dan dengan senang hati Baekhyun menghamburkan tubuh langsing itu kearah yeoja bernama Tao tadi.
"Aku sangat baik"
Baekhyun melepaskan pelukannya lebih dulu dan menatap wajah Tao yang lebih tinggi darinya.
"Bagaimana bisa kau berada disini?" tanya Baekhyun penasaran.
"Kau bahkan tidak menanyakan kabarku?" jawab Tao sambil merengut.
Baekhyun terkekeh kecil melihat sepupunya merengut. "Baiklah-baiklah maaf, bagaimana kabarmu panda? kkkk~ Lebih baik kita masuk saja, disini panas. Ayoo!"
.
.
.
.
.
"Waaaah Baek, rumahmu bagus sekali. Jjang!" Oceh Tao kagum begitu dirinya tiba di dalam rumah Baekhyun. Tao mengamati rumah Baekhyun yang tidak terlalu besar tetapi dengan desain yang sangat mewah dan elegant di dalamnya.
Si pemilik Rumah yang baru keluar dari dapur berjalan menghampiri Tao yang masih memandang takjub rumahnya sambil meletakkan dua gelas susu coklat di atas meja. Dan ikut mendudukkan tubuh berpeluhnya di samping Tao.
"Sebenarnya angin apa yang membawamu ke Korea?" Tanya Baekhyun tanpa menanggapi ocehan Tao, sembari mendekatkan gelas berisi susu coklat di hadapan Tao.
Tao yang awalnya masih sibuk mengamati rumah itu akhirnya menoleh.
"Aku mau mengikuti casting menjadi artis" Jawab Tao sambil terkekeh.
"Aihh yang benar saja Tao" Baekhyun menatap tak percaya.
"Sungguh kok! hehe..." jawab Tao lagi, masih terkekeh kecil.
"Tapi niat awalku kemari sebenarnya untuk menemui mantan kekasih ku"
"Mwo? Mantan kekasihmu di Sini?"
Tao menganggukkan kepalanya. "Bukankah dulu aku pernah bercerita padamu? Apa kau lupa?"
"Aku masih ingat. Tapi aku lupa siapa namanya" Jawab Baekhyun sambil menggedikkan bahunya.
"Dia sudah menikah disini!"
"Jeongmal?"Tanya Baekhyun kaget.
"Benar. Kemarin aku bertemu dengannya. Kelihatannya dia sudah benar-benar melupakanku. Dia tidak tertarik lagi padaku," Jawab Tao sedih.
"YA! kau menemuinya? Kau tidak bermaksud merusak merusak rumah tangganya dengan menggoda dia lagi 'kan?"
"Mwo! Bagaimana bisa kau bicara seperti itu padaku? Aku hanya merindukannya! Dan Aku juga tidak bermaksud menggodanya sama sekali" Tao merengut sebal karena dituduh macam-macam.
Baekhyun memutar bola matanya malas melihat tingkah Tao.
"Tapi jika dia kembali padaku aku pasti menerimanya" Celetuk Tao tiba-tiba sambil nyengir.
"Aissshh Jinjja Tao!"
"Tapi aku masih mencintainya. Bahkan masih sangat-sangat mencintainya" Ucapan lirih yang dilontarkan dari Bibir Tao membuat Baekhyun memandangnya horror.
Sadar ditatap tidak nyaman oleh Baekhyun. Tao segera mengangkat kepalanya dan tersenyum idiot kearah Baekhyun. Entahlah kenapa yeoja itu suka sekali tersenyum.
"Kau tidak menanyakan kabar Papa? Kau tidak ingin tahu bagaimana dengan pernikahan barunya?" Tanya Tao kembali antusias.
"Tidak terimaksih, cukup kau jawab jika kabar Ahjussi baik-baik saja itu sudah cukup" balas Baekhyun ikut mengambil gelas minumnya.
Tao mendengus mendengar penuturan cuek Baekhyun."Huh dasar Byun Baekhyun"
"Lalu Tao, Kau tinggal dimana?"
"Aku tinggal di Apartement di daerah Seocho"
"Wow! Ku dengar disana banyak Apartement mewah ya? Ternyata seleramu masih tinggi eoh?" Ucap Baekhyun sambil menatap Tao heboh.
Tao balas menatap Baekhyun. " Tapi Rumahmu berkali-kali lipat lebih Bagus! Sungguh ini sangat keren!" cerocos Tao lagi, kali ini ditambah mengacungkan dua jempol meyakinkan.
"Ah, Aku baru pindah sebulan yang lalu, sebelumnya aku tinggal di sebuah Apartement di daerah Gangnam. Tapi karena rumah ini sangat strategis kami memutuskan untuk membeli rumah ini. Ditambah tempat kerjaku juga dekat dari sini."
"Kami? Oh iya, kau sudah menikah 'kan? Kau ini jahat sekali kenapa tidak mengundangku?"
"Bukankah kata Ahjussi kau sedang berlibur ke Swedia waktu itu karena sedang patah hati"
Balas Baekhyun usil, menyenggol bahu Tao pelan.
Mendengar ucapan Baekhyun, membuat Tao melotot sebentar kearah sepupunya itu. "Setidaknya kau kan bisa mengabariku lebih awal, agar aku bisa pulang dan datang ke Korea!"
Baekhyun menghela nafasnya sebentar. "Pernikahanku sangat mendadak Tao. Kami tidak mengadakan pesta resepsi apapun. Hanya sebuah pemberkatan sederhana di sebuah gereja" tapi dengan paket bulan madu yang sangat fantastis -imbuhnya dalam hati- Baekhyun menjelaskan panjang lebar. Membuat Tao menatapnya bingung.
"Wae? Seingatku Appamu bukan orang susah?" Tanya Tao polos. "Atau kau menikah tanpa restu?" Imbuh yeoja bermata panda itu sembarang. Yang langsung dihadiahi jitakan manis di dahinya.
"Ya! Appoo~ Kenapa memukulku?" Protes Tao terhadap Baaekhyun, karena seenaknya menjitak dahi yang -menurutnya- sangat berharga.
"Makanya Jaga ucapanmu! Sembarang saja kalau bicara. Siapa yang menikah tanpa restu huh?" Desis Baekhyun dengan wajah menyeramkan sambil menyilangkan tangan didada.
"Makanya jelaskan padaku!" Rajuk Tao sambil mempoutkan bibirnya.
"Ceritanya Panjang!" Baekhyun menolehkan kepalanya kearah jam di dinding rumahnya dan kembali menatap Tao. "Setengah jam lagi aku harus berangkat bekerja. Bisakah kita bicara lain kali?" Tanya Baekhyun hati-hati, memang hari ini jadwalnya pagi. Dan Baekhyun butuh bersiap-siap dahulu sebelum berangkat bekerja.
Tao tersenyum menanggapi perkataan Baekhyun, kemudian beranjak dari duduknya. "Baiklah, aku juga ada sedikit urusan"
Yeoja itu membenarkan pakaiannya sebentar lalu mengeluarkan ponsel dalam tasnya. "Oh Ya...Cepat berikan nomor ponselmu, biar aku bisa mengatur waktu bertemu ulang dengan orang sibuk sepertimu" Tukas Tao sedikit mencibir sepupunya. Namun dihadiahi kekehan kecil dari Baekhyun.
.
.
.
.
.
Baekhyun tidak berhenti bergerak gelisah sedari tadi. Sejak dirinya tiba di Rumah sakit jantungnya dibuat seakan ingin copot. Baekhyun dikejutkan oleh perkataan Suster yang sedang bertugas pagi itu. Suster itu bilang jika keadaan salah satu pasiennya sedang kritis. Bahkan Baekhyun belum sempat mengganti bajunya dengan pakaian Dokter segera berlari secepat kilat menuju kamar inap dimana salah satu pasiennya yang di bicarakan sedang kritis. Dan tanpa buang waktu lama Baekhyun langsung menyuruh suster untuk menelpon pihak operator Rumah Sakit agar segera menyiapakan Ruangan operasi untuk pasiennya.
Hampir setengah jam berlalu Baekhyun masih mondar-mandir di depan ruanagan operasi. Yeoja itu menggigiti kecil kukunya karena terlalu gugup. Baekhyun benar buta oleh sekitar, bahkan ia tak menghiraukan pekerjaannya yang lain, yang jelas-jelas masih menantinya. di kepalanya hanya ada satu. Bayi yang sedang berada di dalam ruang operasi itu. Bayi yang menjadi pasiennya sejak kemarin. Bayi yang hampir kehilangan nyawanya karena kebakaran. Bayi yang sedang kritis di meja operasi. Bayi yang sangat malang. Oh ya Tuhan. Baekhyun benar-benar sudah menangis sekarang.
"Sonsaengnim. Percayalah Bayi itu akan selamat" Ujar salah suster yang sedang bertugas disana. Mungkin suster itu merasa iba melihat tingkah Dokter muda itu.
Baekhyun hanya menolehkan kepalanya sebentar tapi tidak berniat menjawab. Dia masih saja mondar-mandir tidak jelas.
Namun tak selang berapa lama matanya mendapati seorang Dokter keluar dari ruangan operasi. Tanpa menunggu detik bergulir segera ia melesat menghampiri Dokter pria yang juga sedang menatapnya.
Baekhyun menyeka kedua matanya sebentar sebelum membuka suaranya untuk bertanya.
"Sonsaengnim, bagaimana keadaan bayi itu?" Tanya Baekhyun tidak sabaran.
Dokter dihadapannya itu membuka maskernya dan tersenyum kearah Baekhyun.
"Bayi itu selamat. Kurasa Tuhan masih menginginkan dia untuk tumbuh dewasa"
Seketika jawaban yang diberikan Dokter pria itu membuat Baekhyun maneteskan air matanya tanpa sadar. Karena sangking senangnya Baekhyun menjabat Dokter itu sambil tersenyum bahagia.
"Terimakasih Sonsaengnim"
Dokter pria itu pun mengangguk. "Apa anda wali bayi itu?"
"Bukan. Aku adalah Dokter yang menangani bayi itu"
Dokter pria itu tampaknya sedikit kaget dengan jawaban Baekhyun.
"Oh, Aku kira anda adalah Ibunya. Jadi anda juga Dokter disini?"
"Benar" Baekhyun menjawab singkat.
Tak beberapa lama setelah Baekhyun berbicara pada sang Dokter pria itu. Segerombol Tim medis rumah sakit yang baru saja menangani operasi itu keluar dari Ruangan dan mendorong ranjang kecil berisi Bayi tadi.
"Kim Sonsaengnim, bayi ini akan kami pindahkan ke ruang perawatan intensive sekarang"
Kata seorang suster memberitahu si Dokter tadi. Dan dihadiahi anggukan singkat.
Sadar jika bayi itu akan segera dipindahkan ke ruang perawatan. Baekhyun segera ia pamit untuk mengikuti pasiennya.
.
.
.
.
"Suster Shin dimana Ibu bayi ini. Apa Ahjumma kemarin di rawat di lantai ini juga?" Tanya Baekhyun pada suster yang sedang membenarkan selang infus pada si bayi. Membuat suster itu menghentikan kegiatannya sebentar dan menatap sang Dokter dengan pandangan aneh, membuat Baekhyun mengernyitkan keningnya bingung.
"Wae? Sesuatu terjadi?"
"Ibu bayi ini meninggal kemarin" jawab Suster itu lirih.
Baekhyun membulatkan matanya kaget mendengar jawaban dari Suster di sebelahnya.
"Bagaimana bisa? bukankah dia hanya mengalami luka pada kakinya?" Tanya Baekhyun tidak percaya.
"Tidak ada yang menyangka jika wanita itu mempunyai penyakit jantung Sonsaengnim. Kemarin setelah wanita itu di bawa keruang perawatan, dia terus saja bersikeras untuk menemui bayinya. Karena keadaannya yang belum stabil pasien terjatuh dari ranjang"
"Lalu?"
"Pasien tidak sadarkan diri dan langsung di bawa ke UGD, tak selang beberapa jam wanita itu meninggal"
Baekhyun diam untuk beberapa saat. Dia juga sedikit shock mendengar berita itu. Otaknya yang selalu berfikir keras itu sedang bingung memikirkan nasib bayi di hadapannya. Jika Ibunya meninggal, lantas siapa yang akan merawatnya esok?
"Suster Shin. Apa keluarga bayi ini mencarinya?"
"Tidak ada Sonsaengnim, menurut laporan dari pihak kepolisian yang menangani kebakaran kemarin, Wanita itu hanya tinggal berdua dengan bayi ini."
.
.
.
.
.
Baekhyun masih diam di ruangannya. Yeoja itu mengusap-usap dagunya berulang-ulang. Layar monitor di hadapannya menyala tetapi pikirannya sedang tidak fokus pada pekerjaannya. Yeoja itu masih saja memikirkan si bayi tadi. Jika keluarga wanita itu tidak ada yang mau mengambilnya, maka bagaimana nasib bayi itu?
Baekhyun mendengar penjelasan panjang dari suster Shin. Bahwa wanita yang mengaku memiliki bayi itu bukanlah ibu kandung si bayi. Dan keluarga wanita itu pun tidak mengetahui seluk beluk tentang si bayi. Yang Baekhyun dengar jika wanita yang meninggal kemarin itu baru saja kembali dari Luar Negeri. Wanita itu bekerja di Negara luar sana selama bertahun-tahun. Dan pulang-pulang membawa bayi yang entah milik siapa. Keluarga wanita itu tidak ada satu pun yang mendapatkan penjelasan tentang bayi itu karena wanita yang membawanya keburu meninggal. Dan setelah berfikir matang-matang keluarga wanita yang meninggal itu memutuskan tidak mau merawat bayi yang tidak mereka kenali. Bahkan mereka mengusulkan untuk meletakkan bayi itu di panti asuhan.
Baekhyun membuang nafasnya panjang kemudian mengacak rambut sebentar. Dia pusing harus menjadi seseorang yang terlalu pemikir.
.
.
.
.
Other Side
Seorang pria paruh baya sedang mengetuk pintu kamar putrinya berkali-kali. Ini sudah hampir siang tetapi ia belum melihat putrinya keluar kamar hari ini. Pria tua itu mendapati anak satu-satunya itu pulang larut sekali tadi malam. Mungkin jika putrinya pulang dalam keadaan baik-baik saja dia tidak akan sepanik ini. Karena kenyataan nya tidaklah demikian. Semalam putrinya pulang dalam keadaan berantakan. Walau itu adalah hal wajar yang sudah sering terjadi, namun semalam putrinya lebih kacau dari biasanya. Dan itu membuat emosi nya semakin memuncak. Ia sudah mencoba bersabar selama kurun waktu 6bulan ini. Tapi sepertinya putrinya tidak akan berubah jika ia tidak segera bertindak tegas. Jadi dia putuskan untuk berbicara dengan anaknya hari ini juga.
Sudah hampir Lima belas menit Dia mengetuk pintu kamar itu. Tapi tetap tidak ada tanda-tanda bahwa manusia didalamnya akan membukanya.
Dengan geram Pria itu menggedor pintu kayu tak berdosa tersebut semakin keras. "Buka pintunya atau Appa perlu mengambil kunci cadangan untuk membukanya!" Seru Pria itu memperingati. Ia sudah tak sabar menunggu lebih lama lagi.
Akhirnya setelah menyeruakkan ancaman pintu itu terbuka juga, kemudian menampilkan sesosok yeoja dengan baju kusut yang semalam ia gunakan. Bahkan jika orang yang belum pernah mengenalnya, sudah pasti tidak akan percaya jika dia adalah anak Seorang Direktur.
"Apa yang kau lakukan semalam? lihatlah penampilanmu!. Atau kau ingin Appamu ini cepat mati karena serangan jantung?" Omel pria paruh baya itu tampak amat emosi begitu mendapati wajah putrinya keluar kamar. Bagaimana tidak, jika putri satu-satunya yang sangat ia harapkan bisa menjadi penerusnya ,malah bertingkah sangat tidak normal belakangan ini.
"Appa ini masih pagi apa yang kau lakukan dengan berteriak-teriak. Kau mengganggu tidurku" Jawab putrinya santai sambil menguap lebar. Entah kemana sopan santun yang ia miliki dulu.
"Pagi katamu? Demi Tuhan ini sudah pukul 10. Apa itu masih pagi menurutmu?"
Yeoja itu mengernyit sebentar lalu menatap Ayahnya tak minat. "Sebenarnya apa mau Appa? untuk apa mengurusiku? Bukan kah ini waktumu untuk bekerja. Lebih baik kau segera kembali ke kantor. Aku bisa mengurus diriku sendiri" Jawab yeoja itu santai sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar.
Pria yang berstatus sebagai Ayahnya itu hanya dibuat semakin meradang atas jawaban tak sopan Putrinya. Seingatnya dulu anaknya adalah yeoja manis yang akan menuruti apapun kemauannya. Tapi lihatlah sekarang kelakuan putrinya? Seperti yeoja urakan yang tak tahu sopan santun.
Namun jika ia masih berbicara keras maka putrinya akan semakin tidak bisa dikendalikan. Akhirnya Pria tua itu menghela nafasnya panjang. Ia memilih berbicara baik-baik agar putrinya itu mau mendengarnya. Walau ia juga tak yakin.
"Apa begini balasan untuk Appamu yang sudah susah payah membesarkanmu?" tatapnya kalem pada anaknya yang bediri dihadapannya.
"..."
Yeoja itu diam tidak menjawab.
"Berhentilah merusak dirimu. Appa mohon" Ucap pria itu memelas.
Pria paruh baya itu prihatin melihat kelakuan anaknya sekarang. Mendapati kehidupan putrinya hancur.
"Berhenti menjadi seorang yeoja liar. berhenti pergi berkencan dengan banyak pria. Berhenti pergi minum dan merusak dirimu"
Tapi yeoja itu tetap diam. Dan mengalihkan wajahnya asal tak melihat kearah ayahnya. Seolah jika mendengar suara Ayahnya itu menyakiti telinganya. Ia pura-pura menggaruk telinganya gatal.
"Kembalilah menjadi putri Appa yang manis seperti dulu," Bujuk Ayah yeoja itu semakin melunak.
"..."
"Kyungsoo-ya"
Yeoja tadi akhirnya menolehkan kepalanya hingga bertemu pandang dengan ayahnya. Dengan jarak sedekat itu jelas ia mendapati wajah tua Ayahnya yang sudah dipenuhi keriput dimana-mana. Pria yang membesarkanya seorang diri setelah di tinggal pergi oleh Ibunya. Ada sedikit perasaan iba menelusupi hatinya. Namun tubuhnya menolak. Mungkin jika ia tidak ingat bahwa pria paruh baya di hadapannya itulah yang menghancurkan hidupnya, mungkin ia akan menangis dan memeluk Ayahnya saat itu juga.
"Jika Appa benar-benar menyayangiku. Appa tidak akan melakukan ini padaku. Appa tidak akan memaksakan kehendak padaku" Ucap yeoja itu membuka suaranya. Tangannya mengepal kuat disamping tubuhnya. Dan matanya menatap Ayahnya tepat pada mata sipit milik ayahnya.
"Jika Appa menyangagiku, maka Appa akan menyelamatkan Anakku. Membiarkan aku memilih tujuan hidupku. Mengijinkan aku menjalani kehidupan yang aku mau. Tapi Appa tidak melakukan itu. Appa hanya memikirkan ke inginan Appa. Appa menjunjung tinggi Ke Egoisanmu sendiri!" Ujar yeoja itu bergetar. Sepertinya ia juga sudah tidak bisa menampung semua uneg-unegnya lagi. Sudut matanya sudah menggenang cairan bening yang siap mengalirkan sebaris air mata.
"Jadi jangan salahkan aku atau menyesal telah mendapatiku begini. Kau yang sudah menghancurkan HIDUPKU!"
Akhirnya kalimat yang selama hampir enam bulan lamanya ia pendam dalam hatinya ia keluarkan juga. Lebih tepatnya setelah ia melahirkan dan mendapati kabar bahwa anaknya meninggal. Selama enam bulan ini pula ia juga tidak pernah berbicara sebanyak ini. Bahkan kalau Ayahnya memarahi maupun memakinya ia akan lebih memilih diam dan tidak menanggapi. Namun tidak untuk kali ini, yeoja itu merasa jika batas kesabarannya sudah habis. Ia sudah tidak bisa menahan semuanya. Jadi ia memilih mengutarakan semua isi hatinya sekarang juga.
"Kau selalu mengekangku! AKU MEMBENCIMU APPA, AKU MEMBENCIMUUUU !" Teriak gadis itu semakin kacau. Wajahnya sudah memerah karena tangis dan amarah.
"Lalu apa yang kau harapkan jika Bayi itu hidup? Apa yang bisa kau lakukan? Apa kau mau dipermalukan orang lain, mempunyai anak diluar nikah? Kau mau orang lain menggunjing dirimu?" ujar Ayahnya dingin menanggapi setiap makian dari putrinya.
"Setidaknya aku masih punya alasan untuk bertemu dengannya lagi hikss..." Yeoja itu mulai terisak, ia menutup wajahnya yang sudah basah dan menangis sesenggukan.
"Aku bisa kembali padanya..."
Ayah dari yeoja itu mengusap wajah nya kasar. Jujur ia sangat menyayangi anak satu-satunya itu. Maka dari itu ia terpaksa memisahkan sang putri dengan bayinya. Ia tidak ingin menaggung aib memalukan dengan memiliki putri yang hamil di luar nikah. Bahkan melahirkan tanpa suami. Ia juga tidak ingin putrinya menanggung malu.
Tapi tak taukah pria tua itu. Jika keputusannya yang lebih mementingkan keinginan pribadinya. Menyakiti hati anaknya.
"Appa tidak mau tahu. Kau harus melupakan lelaki dan bayi yang sudah mati itu. Karena kau akan segera menikah dengan anak dari keluarga Kim" Putus Ayahnya tak berperasaan. Membuat yeoja itu kembali menatap Ayahnya tajam.
"Terserah apa katamu, toh selama ini kau juga tidak pernah peduli perasaanku" ucap yeoja itu singkat kemudian berlalu dan menutup pintu kamarnya keras-keras.
.
.
.
.
.
Baekhyun berjalan sambil menatap ponselnya. Bibirnya terus saja menyunggingkan senyum yang tak pernah luntur bahkan sejak ia keluar dari Rumah sakit tadi. Jari-jarinya sibuk menggeser potret lucu seorang bayi mungil pada layar ponselnya. Ya. Tadi sebelum pulang, Baekhyun mampir ke ruang rawat bayi yang menjalani operasi tadi pagi.
Baekhyun sudah bersiap-siap untuk pulang. Yeoja itu melirik jam di atas nakasnya sebentar. Pukul setengah delapan. Ia tahu jika suaminya hari ini tak akan pulang. Ia mempoutkan bibirnya kesal. Baru satu hari saja ia tidak bertemu Chanyeol. Namun dia sudah rindu sekali pada pemuda tinggi itu.
Menyadari pemikiran konyolnya Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya kasar.
"Astaga! Memalukan sekali. Untuk apa aku merindukannya. Bisa-bisa dia besar kepala nanti" Yeoja itu tampak mengomeli dirinya sendiri.
Kemudian ia memilih melanjutkan kegiatan membereskan meja kerjanya lagi sebelum ditinggal pulang.
Saat merapikan beberapa tumpukan lembar kertas berisi data pasiennya Baekhyun tiba-tiba teringat bayi mungil yang menjalani operasi tadi pagi. Senyum manis segera menguar dari bibirnya. Begitu melihat mejanya sudah rapi, buru-buru ia keluar ruangannya dan menuju ruangan dimana pasiennya sedang dirawat sekedar memeriksa kondisi bayi kecil itu.
Saat tiba di sana Baekhyun berjalan mendekati ranjang si bayi. Tangannya menyentuh kening bayi itu, memastikan apa bayi itu demam atau tidak. Matanya dialihkan mengamati Elektrokardiagraf di sisi ranjang dengan seksama. Semua grafiknya menunjukkan angka dan garis normal, tidak ada masalah. Keadaan bayi itu sangat baik. Mungkin besok bayi itu bisa dipindahkan ke kamar rawat biasa.
Kini ia memilih sibuk menatap si bayi mungil itu. Menyusuri tubuh mungil bayi itu dari atas kebawah. Sungguh bayi laki-laki yang menggemaskan. Kulitnya putih bersih, pipinya gembul dan rambut coklat almond alami mulai menumbuhi kepalanya yang kecil. Baekhyun yakin jika bayi itu asli keturunan orang Korea.
Karena terlalu gemas memandangnya akhirnya Baekhyun mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia ingin memotret bayi yang sedang terlelap tidur itu. Hingga tanpa sadar ulahnya sampai mengusik tidur nyenyak si bayi mungil. Terlihat jika bayi itu mulai menggeliat tak nyaman pada posisinya.
Betapa Baekhyun ingin mencubit pipi gembulnya. Ketika bayi itu menguap lebar. Jinjja neomu kyeopta. Baekhyun tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia segera mengarahkan kembali ponselnya pada si bayi itu saat si mungil membuka matanya... Aigoo! Mata bayi itu sangat bulat. Membuat Baekhyun semakin gemas.
Karena sudah membangunkan bayi itu. Tentu Baekhyun harus bertanggung jawab menidurkan bayi mungil itu kembali, sebelum bayi itu menangis. Baekhyun mengelus sayang pucuk kepala si mungil. Ia kecup dahi sempit si bayi juga.
Hampir 5 menit berlalu. Bayi itu sudah mulai mengantuk lagi. Baekhyun tidak pernah menyangka ini, ternyata ia berbakat menina bobokan seorang bayi. Terbukti dari si mungil yang tadi terbangun kini sudah terlelap lagi ke alam mimpinya.
"Aigoo~ Orang tua mana yang tega menyia-nyiakan bayi seimut dirimu!" Ucap Baekhyun lirih.
Cukup lama Baekhyun memandangi photo bayi itu hingga matanya terbeliak kaget. "Astaga aku baru sadar. Bayi ini mirip sekali dengan Chanyeol, kkkk aigoo~ telinganya lebar seperti dobi"
Ponsel yang sedari tadi menampilkan potret bayi lucu kini berubah menampilkan deretan angka dan di atasnya bertuliskan Channie sedang melakukan panggilan. Secepat kilat yeoja itu menggeser tombol hijau pada layarnya.
"Yeoboseyo..."
"Yeoboseyo"
"Apa kau sudah pulang?"
"Aku sedang dalam perjalanan."
"Maaf karena tidak bisa menjemputmu. Apa kau berjalan kaki?"
"Pertanyaan macam apa itu? tentu saja aku jalan kaki. Ini salahmu karena tidak mau mengajariku menyetir. Bahkan aku semakin tua."
"kekeke~ Kau marah? Astaga~ sayangilah keselamatanmu! Dan hilangkan sikap cerobohmu dulu. Baru aku akan mengajarimu menyetir."
"Issshhh. Iya sampai aku menjadi nenek-nenek?" Jawaban kesal yang ia lontarkan semakin membuat Chanyeol tergelak.
"YAAA! berhentilah tertawa. Kau menyakiti kupingku!"
"Ara~Ara"
Walaupun Chanyeol bicara begitu, tapi Baekhyun masih saja mendengar Chanyeol menahan tawanya. Dan ia semakin mempoutkan bibirnya.
"Baekhyun... hati-hatilah di jalan. Aku mungkin sampai Seoul besok pagi. Jadi setelah sampai di rumah lekas tidur. Jangan keluyuran!"
Entah itu kalimat ancaman atau perintah, yang jelas membuat Baekhyun lupa akan rasa kesalnya dan tersenyum seketika saat mendengarnya. Park Chanyeol benar-benar sudah mencuri hati Byun Baekhyun.
"Araseo... Aku bukan anak kecil Tuan Park!... Eumm kau juga hati-hati"
"Hmmm... Baiklah jika sudah tidak ada yang dibicarakan maka akan aku matikan "
Sebelum sambungan itu terputus buru-buru Baekhyun membuka suaranya lagi. Ada gurat ragu-ragu yang tergambar jelas pada wajahnya.
"Eummm, Chanyeol...?" Panggil Baekhyun lirih.
"Ya?"
Baekhyun teringat perkataan Chanyeol tempo hari. Ia hanya ingin memastikan jika dirinya tidaklah salah dengar.
Dengan hati-hati Chanyeol melingkarkan tangannya pada pinggang sempit Baekhyun. Mengira Baekhyun sudah tertidur. Pemuda itu menarik tubuh gadisnya hingga lebih merapat padanya.
"Nado Saranghae Byun Baekhyun"~
Jujur saat itu dirinya tidak yakin kalau benar-benar sudah tertidur. Dan remang-remang telinganya mendengar bahwa Chanyeol bilang juga mencintainya. Dia sangat penasaran.
Akhirnya dengan ragu-ragu bibir tipisnya berucap...
"Saranghae"
Setelahnya Baekhyun menggigit bibirnya kecil. Demi apa? ia sangat gugup sekarang. Bagaimana jika Chanyeol menertawainya dari seberang teleponnya. Bagaimana jika ia benar-benar hanya bermimpi waktu itu. Baekhyun memukul-mukul kepalanya berkali-kali.
"..."
"..."
"..."
"..."
Cukup lama ia menunggu jawaban itu sedikit takut. Namun Chanyeol tak kunjung menjawabnya. Baekhyun kira Chanyeol sudah mematikan ponselnya. Pelan-pelan ia jauhkan ponselnya dari telinganya. Tapi tiba-tiba tubuhnya seakan membeku mendengar suara di balik telepon itu. Dan ia masih mendengar dengan jelas. Bahwa Chanyeol berkata...
"Nado Saranghae"
Baekhyun membulatkan matanya selebar mungking. Apa Baekhyun bermimpi? Apa Baekhyun salah dengar? berkali-kali ia mengerjap untuk memastikan bahwa ini nyata. Salahkan ia yang berani mengatakan cinta saat sedang bertelepon, akhirnya ia sendiri yang menjadi seperti orang idiot! Dasar Byun Baekhyun!
Cukup lama Baekhyun berdiam mematung disana, ia tidak sadar di mana dia berdiri sekarang. Hingga suara teriakan keras menyadarkannya jika ia sedang berada di tengah jalan.
Dan...
Sebuah mobil melaju kencang kearahnya. Baekhyun kaget bukan kepalang, tapi ia hanya menganga tak beranjak, tanpa sengaja ia menjatuhkan ponselnya ke jalan, bahkan sambungan teleponnya belum terputus. Chanyeol jelas bisa mendengarnya, mungkin lelaki itu sudah ikut panik sekarang! Terdengar suara berat itu memanggil-manggil di balik telepon yang Baekhyun jatuhkan.
"Baekhyun...!"
"..."
"Baekhyun! Apa yang terjadi?"
"..."
"YA! Byun Baekhyun JAWAB AKU!"
...
Kakinya seolah merekat erat pada aspal. Ia ingin berlari, tapi ia tak bisa. Akhirnya Baekhyun hanya memejamkan matanya...Pasrah...
Dan mobil itu semakin mendekat.
Brukkkkkkkkkk!
.
.
.
.
.
To Be Continued...
.
.
.
.
Annyeong haseyo...
How are you Readers nim...?
Maaf yua, Chap ini pendek banget and no ChanBaek moment. Jujur Otak saya lagi ngeblank banget sama mereka. Gak ada ide yang bisa dituangin disini. Huhuhuhu T_T
Jangan pada ngambek ya!
Beberapa hari ini teracuni MAMACITAnya Oppa-Oppa keren saya /slap/.
Anyway Thanks so much buat Review kemarin. Sumpah demi apa kalian benar-benar memotivator terhebat. Ternyata chapter kemaren mendapat respon yang positif. Dan saya harap moga di chap ini juga. :)
Yuhuuuu, sepertinya pertanyaan tentang siapa cewek yang ketemu Kris udah terjawab tuh /nyengir/
Buat yang kecewa sama NC nya. Silakan hajar ChanBaek /loh?/
Chingu ya... saya sedikit balesin beberapa review unik kalian nih kkkkk #plak
* Eumm ini, kemarin ada yang minta kalau sebutan "Gadis" buat si Baek suruh ganti. hehehe jujur awalnya ketawa aja baca itu tapi setelah saya pikir ada benar nya juga kata kamu. Baek udah nikah jadi sedikt gak nyaman di panggil Gadis ya?! /tos/ Akhirnya saya ganti deh jadi "Yeoja" . Habisnya kalau suruh ganti "Wanita" kok perasaan saya ketuaen ya? /garukpantat/ Jadi sebutan Wanitanya buat ibu-ibu mereka aja ya? Yang lebih tua dikit.
* Buat chingu yang bingung kenapa saya memanggil Dokter disini dengan sebutan "Sonsaengnim" mohon jangan tambah bingung ya, Di Korea, semua orang memanggil Dokter dengan sebutan begitu. Jadi saya cuma ikutan mereka aja. Saya tahu kalau Dokter itu bahasa korea nya "Uisa". Tapi setelah saya menonton Drama korea berkali-kali yang saya temukan disana. Mereka tidak ada yang memanggil Dokter dengan sebutan "Uisa". Tetapi mreka manggilnya "Sonsaengnim".
Jujur hal seperti ini pernah saya alami dulu. Saya pernah kepo-kepoan saya salah satu author yang nyebut Dokter itu Sonsangnim. Saya juga bilang ke author itu kalau Dokter itu "Uisa" kok manggilnya "Sonsaeng?" Sonsaengnim 'kan guru?
Akhirnya author itu menjelaskan pada saya panjang lebar, kurang lebih seperti yang saya katakan di atas. Awalnya masih gak percaya juga, tapi setelah nonton "Doctor Stranger" (waaah Drama favorit ini(masih dalam bahasa asli mereka#korea) saya jadi percaya. Disana tidak ada yang manggil Hoon dengan sebutan "Uisa" Semuanya menggunakan "Sonsaengnim" . Dan dimulai dari sana saya jadi ikutan manggil Dokter dengan "Sonsaengnim".
Baytheway, drama nya udah tamat lama. Kalian wajib nonton. Keren banget masa' /iklan/
* Buat kritik nya . It's Pleasure saya terima dengan lapang dada. Saya yakin chingu yang mengatakan itu karena kalian lebih mengerti dari saya. Jujur saya juga merasa FF ini awal awalnya emang awkwrd banget. Ada niat mau ngrombak sih, tapi masih kehalang waktu. Maklum, itu baru pertama kalinya saya nulis. Jadi saya gak tahu harus gimana nulisnya. Tapi saya juga berterimakasih kalau akhirnya udah nyebut FF ini mulai bisa dinikmati(?) hahaha Jadi usaha saya gak sia-sia. Saya belajar sana sini, dan kamu bilang aku ada perubahan! Jeongmal gomawoyo /throwlove/
* Terakhir buat Readers nim saya yang setia dari awal, yang baru nemu dari tengah dan yang baru aja nongol sekarang. Saya Cinta Kalian Semua...
Thank You So Much :
exoel | Riho Kagura | | Sniaanggrn | GIRLIEXO | im kirin | JungYongie | ChanBaekLUv | Prakbaekyoda | Shin Yo Yong | septacha | younlaycious88 | hunhanrakaisoo | LuXiaoLu | welcumbaek |wolfire88 | KCON | byun92 | saturnusXOXO | kris'sWife | thestarbaek0506 | AphroditeFaust | Rnine21 | sassy Baek | CussonsBaekBy | baeksounds | ruixi | dodyoleu | dan somes Guests :)
...
If you Interesting, so~ keep Read and Review ^_^
Annyeong!~
