9. TIBA-TIBA (2)

Aku tak pernah merasa bahwa aku sama dengan mereka...

Meskipun di tubuhku mengalir darah yang sama...

Meskipun aku memiliki wujud yang sama...

Tetapi, ada satu hal...

Ada satu hal yang membuatku berbeda dengan mereka...

Dan itu adalah...

Cintaku padamu...


Xion berjalan mundur hingga akhirnya dia tidak bisa mundur lagi karena terhalang tembok. Astaga, kenapa kejadian ini mirip sekali dengan mimpinya semalam? Tetapi kali ini yang menyerangnya bukan kelelawar. Dan sepertinya juga bukan manusia. Wajahnya memang tidak kelihatan, tetapi ketika Xion mengingat kata-katanya 'matilah kau, manusia' tadi... Xion jadi yakin kalau dia bukan manusia. Apalagi, manusia mana yang memiliki sayap? Tetapi kalau bukan manusia, lalu dia ini apa?

Tanpa memperdulikan Xion yang ketakutan, sosok itu tiba-tiba mengayunkan pedangnya ke arah Xion. Xion awalnya heran dengan apa yang dilakukannya, tetapi matanya langsung melebar ketika melihat ada sesuatu yang keluar dari pedangnya. Air. Gelombang air raksaksa berbentuk naga muncul dan seolah bersiap untuk menerkamnya. Spontan, Xion langsung mengeluarkan keringat dingin. Mulutnya terbuka lebar, namun dia seolah-olah dibuat tidak bisa berteriak.

"Lumayan untuk pembuka."

Dengan sekali lambaian tangan, naga air itu langsung bergerak cepat ke arah Xion sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Melihat itu, Xion langsung membalikkan tubuhnya ke arah kiri. Alhasil, naga air itu membuat tiga buah jendela beserta tembok yang ada di dekatnya langsung hancur berantakan. Beberapa kursi serta meja ikut terlempar ke lapangan depan sehingga membuat murid-murid yang sedang bermain kaget.

Xion melihat semuanya dengan pandangan tak percaya sekaligus ketakutan. Bayangkan saja, meskipun naganya terbuat dari air, tetapi sekali tabrak mampu menghancurkan tembok! Jika mengenainya... mungkin Xion tidak akan berbentuk lagi.

"Cih, ternyata refleksmu bagus juga."

Xion mengembalikan tatapannya ke sosok bertudung yang ada di depannya.

"Kalau begitu, aku akan gunakan jurus yang lain."

Pedang berwarna hitam yang ada di tangannya menghilang. Dan dengan sekali cetikan jari, muncullah senjata dia yang baru—Gitar? Sebuah gitar berdesain unik dan berwarna biru. Xion pikir, buat apa orang ini mengeluarkan gitar?

"Aku ingin tahu, apakah kau bisa menghindari jurus ini?"

Dengan lihai, jari-jari berbungkus sarung tangan hitam itu memainkan gitarnya dengan sangat cekatan. Menghasilkan musik rock yang tidak pernah Xion dengar sebelumnya. Tetapi... bukan musik yang menarik perhatiannya. Melainkan air yang tiba-tiba muncul di sekelilingnya, membentuk sebuah sangkar air.

"Oke, kita mulai dari yang pertama."

Musik yang dimainkan semakin keras dan temponya semakin cepat. Di atas, Xion melihat air di langit-langit berubah bentuk menjadi belasan jarum. Belum sempat Xion bergerak sedikitpun, jarum-jarum itu sudah menyerang dan melukainya. Rasa sakit yang ditimbulkan membuat mulut Xion tidak bisa menutup lagi. Xion berteriak kencang sekali karena kesakitan. Meskipun bentuknya jarum, tetapi rasanya seperti ditusuk pisau.

"Ah..." Xion melihat sekujur lengan dan kakinya yang berdarah.

"Oh, sungguh menggiurkan."

Menggiurkan?

"Kalau begitu, sekali lagi."

Musik yang dimainkan kali ini berbeda lagi. Sekejap, muncullah sebuah kapak raksaksa di atas Xion.

"Selamat tinggal manusia. Aku sudah tak sabar menyantap darahmu," katanya sambil menjilat bibirnya.

Xion menutup matanya karena pasrah. Dan tiba-tiba saja, sangkar air yang mengurung Xion hancur sehingga membuat lantai kelas dan sekujur tubuhnya menjadi basah kuyup. Ada apa lagi ini?

"Hentikan."

Perlahan, muncul sosok seorang laki-laki berambut jabrik hitam dan memiliki sepasang sayap di punggungnya. Ketika Xion dapat melihat sosoknya sepenuhnya, Xion langsung meneteskan air matanya. Tetapi air mata itu bukanlah air mata sedih, sebaliknya, justru dia merasa sangat lega. Semua ini sungguh sama dengan mimpinya. Karena Vanitas benar-benar datang menolongnya di detik-detik terakhir. Dan tentu saja, dengan penampilan yang sama.

"Vanitas," kata pria bertudung tersebut. "Kenapa kau ada di sini?"

"Aku sekolah di sini, lalu kenapa?"

"Kau sekolah di sini? !" setelah berkata begitu, dia langsung memperdengarkan tawa kerasnya. "Astaga, kau memutuskan untuk hidup dengan manusia ? ! Mana harga dirimu? !"

"Bukan urusanmu, Demyx," kata Vanitas. "Dan jangan ganggu dia."

"Jangan ganggu dia? Ya ampun, jangan bilang kalau kau membela manusia juga?"

Vanitas tidak menjawab. Kemudian, dia berjalan mendekati Xion yang berdarah-darah.

"Kau tak apa-apa?"

"Aku... Aku..."

"Jangan khawatir, aku akan melindungimu."

"Vanitas, kau serius mau melindunginya? Dia manusia loh. Kita kan seharusnya memakan dia?" kata Demyx.

Mendengar perkataan Demyx, Vanitas langsung menolehkan kepalanya dan mengerang kencang. Warna matanya berubah menjadi kuning emas seutuhnya dan di mulutnya muncul... taring? Xion jadi agak ngeri melihatnya. Karena di mimpinya, Vanitas tidak memperlihatkan taring.

"Whoa Vanitas. Ampun, ampun," kata Demyx sambil mengangkat kedua tangannya.

"Kau sungguh tak bisa kumaafkan."

Saat Vanitas berjalan mendekati Demyx, wajah Demyx langsung berubah menjadi ketakutan. Dengan cepat, dia langsung mengulurkan tangannya dan kabur melalui cermin ungu yang dia gunakan sebelumnya. Melihat dia pergi, Xion langsung menghembuskan napasnya. Sementara Vanitas, dia langsung menyembunyikan lagi taringnya. Warna matanya juga kembali seperti semula.

"Vani."

Vanitas membalikkan tubuhnya. Kemudian, dia berjalan kembali ke tempat Xion.

"Aku akan membawamu ke rumahku."

"Eh?"

"Aku akan meminta ayahku mengobatimu."

"Tapi..."

Tanpa basa-basi lagi, Vanitas langsung menggendong Xion ala bridal style. Normalnya, Xion ingin sekali berteriak karena malu, apalagi kepalanya menempel pada dada Vanitas. Namun, dia memutuskan untuk menahannya. Situasi sekarang sama sekali tidak mendukung untuk berteriak kegirangan karena malu.

"Aku akan lewat jalan belakang, di sana tidak banyak orang lewat. Dan lagi, lebih cepat sampai ke rumahku."

Xion hanya mengangguk.

"Tapi... kenapa kau tidak kaget sama sekali dengan wujudku?"

"Hm?"

"Kenapa kau tidak kaget melihatku seperti ini?"

Xion menatap wajah Vanitas, dan kemudian dia memejamkan matanya. "Aku akan menceritakannya padamu. Kau juga mau kan menceritakan mengenai wujudmu ini?"

Baru saja Vanitas mau menjawab, tiba-tiba saja Xion sudah tak sadarkan diri. Dengan cepat, Vanitas langsung pergi dari tempat itu dan terbang ke rumahnya. Berusaha untuk tidak menarik perhatian orang lain.

...

Xion membuka matanya perlahan, dan seketika, matanya langsung dihujani oleh cahaya lampu di langit-langit. Seluruh tubuhnya masih terasa sakit, tetapi terasa lebih baik sekarang. Seluruh tangan dan kakinya diperban. Sementara di wajahnya menempel masing-masing plester di pipi kanan dan kiri, dan di tangan kirinya terpasang selang infus. Sambil menahan rasa pusing yang mengganggunya, Xion berusaha untuk melihat sekelilingnya. Tetapi tak ada siapa-siapa di ruangan ini. Selain pintu, perabotan, rak kecil, kursi, serta kaca raksasa yang menempel di tembok. Benarkah dia ada di rumah Vanitas? Rasanya ingatannya juga jadi samar-samar.

"Kau sudah sadar?"

Sosok Vanitas muncul dari balik pintu sambil membawa semangkuk makanan yang masih hangat. Wujudnya tidak seperti tadi lagi, dia sudah 'kembali' seperti semula dengan mengenakan pakaian yang normal. Setelah menaruh mangkuk di atas rak, Vanitas menggeser kursi dan duduk di samping Xion.

"Iya," jawab Xion.

"Cloud bilang luka-lukamu tidak terlalu parah. Tetapi kau harus menginap di sini selama seminggu. Aku juga sudah memberitahu kakakmu. Meski awalnya dia sangat khawatir, tetapi akhirnya aku berhasil menenangkannya."

Xion menganggukkan kepalanya.

"Lalu, bisa jawab pertanyaanku tadi?"

"Pertanyaan?"

"Iya," kata Vanitas. "Waktu melihat wujudku tadi, kau terlihat begitu tenang. Padahal normalnya, orang akan takut ketika melihat sesuatu yang tak pernah dilihat sebelumnya. Tetapi pandanganmu tadi, sepertinya kau malah terlihat... lega?"

Xion mengerutkan dahinya sambil berusaha untuk mengingat. Oh iya, Vanitas memang sempat menanyakan itu sebelumnya.

"Jadi? Apa jawabanmu?"

"Sebenarnya, semalam aku bermimpi."

"Mimpi?"

"Iya, mimpi. Waktu itu aku bermimpi berada di dalam penjara. Benar-benar seperti penjara yang ada di film, lengkap dengan pintu besi berkaratnya."

Vanitas diam dan mendengarkan cerita Xion.

"Selagi aku berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba ada segerombolan kelelawar raksasa yang berusaha untuk membunuhku dengan menjebolkan pintu. Aku sangat takut dan tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya bersandar di tembok sambil pasrah. Dan saat pintunya nyaris hancur..."

Xion memandang Vanitas.

"Kau datang menyelamatkanku dengan wujud yang sama persis dengan yang tadi. Awalnya aku memang sempat heran dengan mimpi itu dan wujudmu. Tetapi ketika kau muncul menolongku di sekolah... entah kenapa, aku tidak begitu kaget. Mungkin karena aku tahu kalau kau akan datang menolongku. Jadinya aku merasa sangat lega."

Xion menundukkan kepalanya setelah ia selesai bercerita. Astaga, apakah ceritanya terdengar aneh? Xion malah jadi malu sendiri. Mungkinkah Vanitas akan menganggapnya tidak waras? Di luar dugaan Xion, Vanitas malah meraba pipi kiri Xion dengan tangannya. Tangan Vanitas terasa dingin di pipi Xion. Namun, entah kenapa juga terasa begitu nyaman.

"Giliranku menceritakan semuanya padamu," kata Vanitas. "Aku memang bukan manusia. Aku adalah vampir. Sama seperti pria yang menyerangmu tadi."

Xion memegang tangan Vanitas yang masih belum lepas dari pipinya. Matanya menunjukkan ekspresi kaget, namun tidak berlebihan seperti orang lain pada umumnya. Sepertinya mimpinya semalam seolah-olah telah memberitahu semuanya lebih dulu.

"Aku dan keluargaku pindah ke kota ini sekitar beberapa tahun lalu, sebabnya adalah karena kami merasa bahwa pemimpin kami sudah berubah drastis."

"Pemimpin?"

"Ya, kami tinggal jauh sekali dari kehidupan manusia. Awalnya kami memiliki pemimpin yang kau bisa bilang... baik. Tetapi semenjak dipengaruhi oleh berbagai pihak, dia langsung mengeluarkan berbagai macam kebijakan-kebijakan aneh dan sungguh menyengsarakan kami. Meskipun keluarga kami awalnya bisa bertahan, tetapi lama-lama Cloud jengkel juga. Sampai akhirnya saat malam lima tahun lalu, di mana cuaca juga mendung, kami berubah wujud dan terbang ke kota ini."

Xion terus mendengarkan. Sambil penasaran dengan wujud anggota keluarga lainnya jika mereka berubah seperti Vanitas tadi.

"Untunglah wujud kami sama seperti manusia, jadi saat kami ke sini, tidak ada yang mencurigai kami. Vampir seperti kami cepat belajar, makanya itu Cloud dapat menjadi dokter yang ahli dan terkenal dalam waktu singkat. Kamu juga pasti pernah mendengar prestasi yang pernah diraih kami sekeluarga kan?"

"Ya. Kalau tidak salah, kau atlet basket kan?"

"Benar, tetapi aku berlatih secara otodidak. Kalau ayahku, dia pindah-pindah ke luar dan dalam negeri. Ditambah lagi, dia membuat akta lahir serta ijazah palsu yang saking hebatnya, tidak ketahuan sampai sekarang."

Xion mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa melepaskan tangan Vanitas yang menempel di pipinya. Entah kenapa, dia ingin sekali begini terus.

"Vani."

"Hm?"

"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku diserang? Memangnya tadi kau masih di sekolah?"

Vanitas awalnya sempat heran dengan pertanyaan Xion. Tetapi Vanitas lupa kalau Xion tidak sejenis dengannya.

"Aku sudah ada di rumah waktu itu."

"Lalu, bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku merasakan aura Demyx dari sekolah."

"Aura?"

Vanitas mengangguk. "Setiap vampir punya aura, manusia juga punya kan? Hanya saja, vampir bisa merasakannya. Kalau manusia kan tidak bisa."

"Berarti anggota keluarga yang lain juga merasakannya?"

"Iya, hanya saja aku sudah pergi duluan ke sekolah meninggalkan mereka. Melawan satu vampir sudah cukup dengan aku seorang."

Wajah Xion menunjukkan ekspresi tanda bahwa ia mengerti, sambil tak menyangka bahwa ternyata dunia ini lebih luas daripada yang dia duga. Sampai-sampai ada vampir yang menyamar sebagai manusia, lalu vampir bertudung yang bisa mengendalikan air, nanti apalagi yang akan dia lihat? Mungkin kelelawar yang ada di mimpinya semalam. Sambil berpikir begitu, Vanitas mendekatkan wajahnya tanpa Xion sadari. Bibirnya dia tempelkan ke kening Xion dan membuatnya langsung sadar dari lamunannya.

"Aku sungguh bersyukur kau selamat."

Apa? Begitulah isi hati Xion ketika mendengar ucapan Vanitas. Wajahnya menunjukkan ekspresi kaget sekaligus tidak percaya.

Vanitas melepaskan bibirnya. "Aku akan kembali lagi, oke? Aku mau menemui keluargaku dulu. Jangan lupa makanannya dihabiskan."

Vanitas beranjak dari kursinya lalu meninggalkan Xion di kamar. Xion memegang keningnya, astaga... apa tadi sungguhan terjadi?

Dia... dia mencium keningnya?


Aku sudah mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu...

Aku tak peduli meskipun kita berbeda...

Percaya atau tidak...

Tetapi memang itulah yang selama ini kurasakan...


Akhirnya saya bisa menyelesaikannya juga. Makasih buat yang udah ikutin fic ini. mohon read and review ya, thanks.