Title: The Lost Soul
Author : Drumstick99
Main Cast : Kim Jongin/Kai, Oh Sehun/Sehun
Support Cast : Wu Yifan/Kris, Xiumin, and the other
Genre : Mystery, Fantasy, School Life, Brothership
Length : Chaptered
Rating : T
Disclaimer : Cerita ini murni dari pikiran saya sendiri. Cast bukan milik saya, melainkan milik Tuhan dan orang tua mereka masing-masing. Saya cuma minjem nama doang.. Mian kalo ffnya kurang memuaskan, gaje, jelek, dll. Pernah di post di wordpress pribadi saya : drumstick99*wordpress*com
Happy Reading~~
.
.
Part 8
Kris memegang kepalanya yang terasa nyeri akibat pukulan dari seseorang yang ada di belakangnya. Ia segera membalikkan tubuhnya dan menatap orang itu dengan tatapan mematikan.
"Kau yang siapa? Kenapa kau bisa masuk ke rumahku?" Kris menatap tajam Sehun, orang yang tadi memukulnya dengan payung.
"Eoh.. Wu Yifan-ssi.." Sehun terbelak saat melihat wajah orang yang ia pukul tadi. Tentu saja ia mengenalnya. Ia sering melihat foto-foto Kai bersama orang yang saat ini ada di depannya. "Maafkan aku.."
"Siapa kau?" Tanya Kris singkat. Namun ia sudah dapat menjawab dengan tepat pertanyaannya sendiri sebelum Sehun sempat menjawabnya. "Oh Sehun?"
"Ne.." Sehun mengangguk cepat, ia menundukkan kepalanya. "Aku benar-benar minta maaf, Wu Yifan-ssi.."
"Sudahlah, tidak apa-apa." Kata Kris, masih memegang bagian kepalanya yang dipukul oleh Sehun. "Tidak perlu seformal itu, panggil saja aku Hyung.. Aku lebih tua 4 tahun darimu."
"Sakitkah? Aku ambilkan air dingin dulu.." Kata Sehun lalu dengan cepat ia langsung pergi ke dapur dan kembali lagi ke ruang tamu dengan membawa baskom kecil berisi air dingin dan handuk. Ia lalu mencelupkan handuk kecil yang ia bawa ke dalam baskom yang berisi air dingin dan memerasnya. "Dimana yang sakit, Hyung?"
"Biar aku sendiri saja.." Kris mengambil handuk kecil itu dari tangan Sehun dan meletakkannya di bagian belakang lehernya. Ia lalu melihat jam dinding yang ada di sana. Sudah jam 6 sore. Dan Kai sama sekali belum kembali. "Sebentar lagi kalian akan ke café Xiumin, kan? Kenapa Kai belum pulang?"
"Ne.." Sehun mengangguk. "Aku tidak tahu sekarang Jongin Hyung ada di mana."
"Apa biasanya dia juga pulang telat seperti ini?" Kris bertanya lagi pada Sehun.
"Ani.. Biasanya, setelah pulang sekolah, ia akan langsung pulang ke rumah bersama ku." Kata Sehun. "
Tak lama setelah ucapan Sehun berakhir, pintu rumah itu terbuka. Menampakkan sosok Kai yang sedang dibicarakan oleh Kris dan Sehun tadi. Kai masuk ke rumahnya dengan membawa sekotak kue. Ia lalu memberikannya ke Kris tanpa ekspresi yang berarti.
"Ya! Kim Jongin! Beginikah caramu menyambut Hyung mu?" Tanya Kris sambil meletakkan kotak kue yang diberikan oleh Kai ke meja yang ada di sana. "Aish.. Orang-orang di rumah ini memang perlu diajarkan bagaimana cara menyambut seseorang dengan baik. Sudahlah, aku mau mandi dulu."
Kris lalu pergi dari sana dan langsung masuk ke kamarnya. Meninggalkan Kai yang menatapnya dengan ekspresi bingung.
"Kenapa dia?" Tanya Kai pada Sehun.
"Tadi aku tidak sengaja memukulnya dengan payung." Kata Sehun sambil sedikit terkekeh.
"Mwo? Kau memukulnya?" Kai membulatkan matanya tak percaya. "Bagaimana bisa?"
"Tadi aku kira ada pencuri yang masuk. Jadi aku mengambil payung untuk memukulnya." Kata Sehun.
"Oh, ya sudahlah. Toh dia sudah terbiasa disiksa." Kai terkekeh. Perkataan Kai tampak tak begitu memperhitungkan tindakan Sehun itu. "Punya sepupu seperti ku, tentu dia sudah kebal dengan siksaan."
"Kau ini, Hyung.." Sehun menggelengkan kepalanya. "Kenapa berbicara seperti itu.. Aku jadi tidak enak pada Kris Hyung.."
"Santai saja, Sehun-ah.. Ia tidak akan marah.." Kata Kai. "Meskipun dilihat dari wajahnya, ia seperti orang yang galak, tapi sebenarnya ia tidak mempunyai cukup kekejaman untuk memarahi orang. Apalagi yang lebih muda darinya."
"Begitukah? Kris Hyung tampaknya merupakan sosok Hyung yang pengalah." Kata Sehun. "Pantas saja ia mau menerimamu di rumah ini."
"Ya! Apa maksudmu, Oh Sehun-ssi.." Kai tentunya tau bahwa Sehun sedang menyindirnya. "Kenapa kau tadi tidak mau mengambil kue itu bersama?"
"Aku tidak mau mengambilnya? Yang benar saja, Hyung.. Kau yang meninggalkanku saat pulang sekolah tadi." Sehun tidak terima dengan perkataan Kai.
"Aku meninggalkanmu? Bukankah kau yang tidak mau ikut?" Kata Kai. "Ah.. Aku tahu.. Kau masih marah padaku kan, karena aku menghancurkan gambarmu waktu itu? Jadi sekarang kau berpura-pura tidak tahu tentang apa yang terjadi tadi."
"Kau ini bicara apa, Hyung? Aku tidak marah padamu?" Kata Sehun. Ia bahkan tidak marah sedikitpun pada Kai saat Kai menumpahkan air ke kertas gambarnya beberapa hari yang lalu itu.
"Sudahlah.. Aku mau mandi dulu. Bersiaplah.. Kita harus segera ke café Xiumin Hyung.." Kai yang sedang malas untuk memperpanjang debatnya dengan Sehun langsung mengakhiri obrolan mereka dan masuk ke kamarnya untuk mempersiapkan dirinya nanti.
"Apa jangan-jangan tadi aku kesurupan?" Sehun berbicara pada dirinya sendiri. "Tadi tiba-tiba aku berada di kelas? Kenapa aku tidak menyadari kalau aku sudah kembali ke kelas?
Sehun masih mempertahankan keberadaannya di ruang tamu rumah itu. Ia terus memikirkan bagaimana cara ia bisa sampai ke kelasnya saat istirahat tadi. Ia bahkan tidak mengingat sedikitpun saat ia masuk ke kelasnya. Dan barusan, Kai bilang ia menolak ajakan Kai untuk menemaninya mengambil kue yang sudah mereka pesan untuk menyambut kedatangan Kris.
"Aish.. Lupakan saja.." Sehun lalu pergi dari sana dan masuk ke kamarnya untuk bersiap pergi ke café Xiumin. Untung saja di rumah Kai –lebih tepatnya, rumah milik Kris-, setiap kamar memiliki kamar mandi masing-masing. Sehingga ia tidak perlu mengantri untuk membersihkan dirinya.
.
.
"Dua pancake strawberry dan dua mocchacino." Sehun mengulang pesanan dari pelanggan café Xiumin. Lalu tersenyum sambil membungkukkan badannya sedikit sebelum berlalu meninggalkan pelanggannya itu. "Silahkan menunggu sebentar.."
Keadaan café saat ini sangat ramai. Seluruh pegawai keluar masuk dari dapur café dengan langkah yang cepat. Tidak ingin mengecewakan pelanggan mereka hanya karena pergerakan lambat dari tubuh mereka.
Sehun lalu melihat Kai yang hanya berdiam diri di belakang meja kasir sambil menatap semua orang dengan tatapan malas. Ia langsung menghampiri Kai di sana dan mengajaknya ke ruang tempat Xiumin biasanya bekerja. Setidaknya, selama mereka mengawasi café itu, Xiumin memberikan mereka kebebasan untuk memasuki ruangannya.
"Hyung.. Apa yang kau lakukan.. Kau tidak lihat semuanya sedang sibuk? Kenapa kau malah diam saja di sana?" Kata Sehun dengan raut kesal.
"Memangnya aku harus bagaimana? Bukankah Xiumin Hyung bilang kita hanya perlu mengawasi mereka?" Kata Kai acuh. "Xiumin Hyung tidak bilang kita juga harus ikut bekerja."
"Setidaknya kau membantu kami mengantarkan pesanan, Hyung.." Kata Sehun lagi. "Sekarang semuanya sedang sibuk. Kau ini malas sekali, Hyung.."
"Baiklah.. Baiklah.. Dasar cerewet.. Aku akan mengantarkan pesanan.." Kata Kai sambil berlalu melewati Sehun dengan wajah malas.
"Jinjja?" Sehun menepuk kedua tangannya dan tersenyum gembira. "Jangan berekspresi seperti itu, Hyung.. Pelanggan akan kabur melihat ekspresimu yang menyeramkan itu.."
"Aishh.." Kai langsung berbalik dan menatap Sehun tajam.
"Tersenyumlah sedikit dan berikan mereka pelayanan terbaik darimu.." Sehun masih tersenyum jahil sambil bergerak menjauhi Kai dan segera keluar dari ruangan itu.
"Apa-apaan anak itu." Kata Kai lagi. Lalu keluar dari ruangan itu dan segera menantarkan pesanan para pelanggan sesuai yang dikatakan oleh Sehun tadi.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Keadaan café sudah lebih sepi jika di bandingkan dengan keadaan beberapa menit yang lalu. Tak lama, seorang anak kecil masuk ke dalam café mereka dan memesan sebotol bubble tea kepada Sehun yang saat itu sedang berada di meja kasir yang memang terhubung dengan dapur mereka.
"Tunggu sebentar ya, adik kecil.." Kata Sehun dengan senyum manis. Sementara anak itu hanya mengangguk kecil.
Setelah pesanannya sampai, Sehun langsung memberikan pesanan anak kecil itu tadi. Setelah membayar, anak itu langsung berlari keluar dari café itu. Tak disangka, ia menyenggol meja yang ada di sana dan terjatuh. Anak itu langsung menangis kencang. Sehun yang melihat kejadian itu langsung menghampirinya dan membersihkan pakaian anak itu yang sedikit basah karena terkena tumpahan air dari bubble teanya.
Untung saja keadaan café itu sudah sepi. Hanya ada beberapa anak muda yang berkumpul di sana. Tampak tidak terlalu peduli dengan kejadian yang ada.
"Aigoo.. Gwaenchana.." Sehun mengelap tumpahan bubble tea yang mengenai baju anak itu. Sementara Kai yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri Sehun dan anak itu.
"Ada apa ini?" Kai bertanya pada Sehun saat melihat tumpahan minuman dan seorang anak kecil yang menangis di dalam café.
"Ia jatuh.. Hyung.. Bawa adik ini ke toilet dan bersihkan baju dan tangannya." Kata Sehun pada Kai.
"Tidak mau." Balas Kai singkat. "Kau saja yang ke sana. Aku akan membersihkan ini."
"Aku akan membuatkannya minuman yang baru.. Hyung, ppali.." Kata Sehun dengan tatapan memohon kepada Kai.
"Aish.. Sini.." Kai mengulurkan tangannya kepada anak itu. Sementara anak kecil yang masih menangis itu menatap Kai dengan takut-takut.
"Nah, sekarang, kau pergi dengan Hyung yang ini dulu ya.." Kata Sehun pada anak itu sambil menunjuk Kai. "Hyung akan mengambilkan minuman yang baru untukmu."
Anak itu mengangguk kecil. Isakkannya terhenti seketika. Ia menggenggam tangan Kai dan mengikuti Kai berjalan ke toilet. Sehun langsung pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman yang baru untuk anak itu dan menyuruh seseorang membersihkan lantai yang kotor karena minuman yang tumpah tadi.
.
.
Sehun dan Kai berjalan berdampingan saat keluar dari café milik Xiumin itu. Saat ini sudah jam 11 malam. Kai mengibaskan tangan kanannya ke udara beberapa kali. Sehun yang melihat itu langsung ikut melihat tangan Kai.
"Ada apa dengan tanganmu, Hyung?" Sehun tersenyum geli saat menanyakan hal itu. "Apa karena jarang bekerja seperti tadi, tanganmu jadi sakit?"
"Ani.." Kai menatap Sehun dengan tatapan kesal. "Anak itu memegang tanganku sangat kuat tadi."
"Nugu?" Tanya Sehun lagi. Mereka langsung masuk ke dalam mobil Kai saat sudah berada di depan mobil itu. "Anak kecil tadi? Coba ku lihat."
Kai menghidupkan lampu di dalam mobilnya untuk menerangi mereka. Sehun menatap tangan kanan Kai dengan seksama. Memang jari-jari di telapak tangannya itu tampak sedikit memerah.
"Apa terasa sangat sakit?" Tanya Sehun.
"Ani.. Hanya sedikit perih saja." Kai lalu mematikan lampu mobilnya dan mulai mengendarai mobil itu. Menyapu jalanan yang sudah mulai sepi. Mengingat malam sudah terlalu larut untuk berkeliaran di jalanan.
.
.
Setelah mengganti bajunya, Kai langsung pergi ke kamar Kris. Ia membuka pintu kamar itu dengan hati-hati kemudian menutupnya kembali. Tidak ingin mengeluarkan suara yang mengganggu sekecil apapun. Kai lalu masuk ke dalam kamar itu dan melihat Kris masih duduk bersandar di kepala tempat tidurnya sambil melihat layar laptopnya dengan tatapan serius.
"Masih belum tidur?" Kris membuka suaranya duluan. "Ini sudah larut. Tidurlah.. Besok kau tidak libur, kan?"
"Tidak, Hyung.." Kata Kai.
"Kalau begitu untuk apa kau membuang waktumu di sini." Kata Kris lagi. Masih tetap memandang layar laptopnya. "Tidurlah.."
"Apa Hyung punya obat?" Tanya Kai tiba-tiba.
"Obat? Aku melihat ada kotak obat di dekat dapur." Kata Kris singkat.
"Bukan itu, maksudku, obat yang lebih manjur dari seluruh obat yang ada di sini." Kai duduk di pinggir tempat duduk Kris.
"Memangnya ada apa?" Perhatian Kris langsung berubah, dari layar laptopnya beralih ke Kai. Ia melihat Kai yang sedang memegang tangan kanannya. "Kenapa dengan tanganmu?"
"Lihatlah.." Kai mengulurkan tangannya kepada Kris. "Jari-jariku tiba-tiba jadi seperti ini setelah seorang anak kecil memeganggu."
"Kenapa bisa jadi seperti ini?" Kris langsung menyimpan laptopnya ke tempat tidurnya dan lebih memfokuskan pikirannya pada tangan Kai
"Tidak tahu, Hyung.. Semakin lama, rasanya semakin perih dan panas." Kata Kai.
Kris langsung berjalan ke arah lemari kamarnya dan mengambil sebuah botol berisi cairan berwarna coklat pekat. Ia lalu mengambil kapas yang disimpan di laci lemari itu dan membawanya ke hadapan Kai. Kris langsung meneteskan cairan itu ke dalam kapas dan menekannya ke jari-jari tangan Kai yang memerah.
"Pelan-pelan, Hyung.." Kai langsung protes saat Kris menekan tangannya dengan kuat. "Kau mau membunuhku ya.."
"Kau berlebihan, Kai-ya.." Kata Kris. "Mungkin dia sudah datang.."
"Hm?" Kai menatap Kris dengan ekspresi bingung. "Dia? Siapa?"
.
.
TBC
