PERFECT MAID
An EXO Fanfiction
Pairing: HunKai, Sehun and Kai, ukeKai
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin/Kai, Luhan, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Jonmyeon, Kim Minseok, Wu Xiaouliu, Byun Baekhyun, Lee Taemin, Do Kyungsoo.
Warning: BL/YAOI, Typo
Rating: T-M
Halo ini chapter sembilan maaf atas segala kesalahan, selamat membaca dan happy reading all…..
Previous
"Terima kasih Jongin!" Chanyeol memekik pelan mencondongkan tubuhnya untuk memeluk Jongin singkat. "Sampai jumpa Jongin." Chanyeol melambaikan tangan kanannya sebelum pergi. Dan saat itu Jongin tak melihat jika Chanyeol membeli sesuatu, mungkinkah Chanyeol datang hanya untuk menemuinya?
"Tidak mungkin, dia itu sangat terkenal Jongin jangan berpikir macam-macam." Nasihat Jongin kepada dirinya sendiri. Iapun bergegas mendorong kereta belanja tidak ingin menghadapi kemarahan Sehun yang mengesalkan jika dia terlambat datang untuk menyiapkan makan siang.
BAB SEMBILAN
Jongin melangkahkan kedua kakinya menuju dapur setelah melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Ia melihat Sehun berdiri di dekat rak berisi pajangan mahal dan foto-foto kenangan, sibuk dengan ponsel di telinga kanannya. Tersenyum, berucap lembut, dan sesekali menggoda. Jongin memutar kedua bola matanya malas ia sudah tahu dengan siapa Sehun berbicara. Jongin meletakkan kantung belanjanya di atas konter dapur, kemudian mengambil bahan makanan yang paling ia butuhkan untuk memasak makan siang.
"Kau bisa memasak?"
"Sudah selesai dengan oborlanmu?" Jongin membalas Sehun dengan pertanyaan lain.
"Ya, kau bisa memotong buah karena itu yang kau lakukan selama ini, bukan menyalakan kompor, memasak, dan membumbui sesuatu. Jadi wajar jika aku meragukanmu."
"Ini hanya masakan sederhana Sehun, dan ya, aku bisa memasak aku tinggal terpisah dari keluargaku mulai SMA."
"Hmmmm." Sehun menggumam dan berjalan mendekati Jongin berdiri di sisi kiri tubuh Jongin. "Bisa kau tunjukkan padaku masakan seperti apa yang sedang kau siapkan?"
"Burger, dengan roti yang terbuat dari gandum utuh." Jongin menunjuk tanda gandum utuh di atas plastik pembungkus roti burger. "Dan di atas rotinya ditaburi dengan biji bunga matahari, lalu akan aka nada selada, tomat, bawang Bombay, dan daging dada ayam tanpa kulit yang dipanggang dengan sedikit minyak wijen."
"Terdengar cukup menarik."
"Tapi itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhanmu, mengingat semua kegiatan yang kau lakukan setiap harinya dan rencana pembentukan otot."
"Kau ingin menambahi?" Jongin mengangguk pelan. "Apa?"
"Pilihlah kentang panggang atau segelas susu?"
"Kau sudah memberi susu kental manis di salad buahku tadi pagi jadi aku memilih kentang panggang."
"Baguslah, sekarang kau bisa duduk dan menunggu kurang dari setengah jam."
"Tidak." Tolak Sehun membuat Jongin bingung. Jongin ingin bertanya namun ia melihat Sehun sudah menduduki konter dapur untuk mengamatinya memasak. "Kenapa kau lama sekali tadi? Aku sampai bosan menunggumu dan memutuskan untuk menghubungi Luhan."
Jongin hanya mendengus ia memilih untuk melanjutkan acara memanggang daging dada ayamnya daripada menjawab Sehun. "Aku yakin kau pasti sedang terpesona dengan semua barang yang dijual di sana dan berandai-andai untuk….,"
"Sehun hentikan." Potong Jongin. "Jangan membuatku kesal, dan jangan membuat hubungan yang sudah terjalin cukup baik di antara kita, kembali memburuk karena mulut kreatifmu yang sangat lancar menghinaku."
"Baiklah maafkan aku. Aku hanya penasaran saja apa yang membuatmu menghabiskan waktu cukup lama untuk belanja di tempat yang sangat dekat."
"Aku kesulitan mengambil barang yang diletakkan di atas rak paling atas." Jawab Jongin sambil membalik daging ayam di atas wajan datar untuk memanggang.
"Kulihat tubuhmu cukup tinggi."
"Masalahnya barang yang diletakkan di rak paling atas adalah beras merah seberat lima kilo."
"Ahhhh kalau begitu aku mengerti masalahmu."
"Mengerti masalahku?" Jongin menoleh menatap Sehun dengan dahi berkerut.
"Ya, kau tidak cukup kuat untuk mengambil beras itu karena tubuhmu isinya lemak semua."
"Menyebalkan!" Jongin mendengus sebal dan Sehun harus mati-matian menahan tawanya. "Duduklah di belakang meja makan sebentar lagi siap."
"Hmmm." Sehun menggumam namun ia menuruti permintaan Jongin.
Mematikan kompor menyajikan burger sehat ke atas piring dan membawanya ke meja makan. Meletakkan piring berisi burger ke hadapan Sehun. "Mau minum apa Sehun?"
"Lemon dengan air hangat."
Jongin melempar tatapan datar. "Kau mau meluruhkan lemakmu yang tinggal sejumput itu?"
Sehun tersenyum kaku. "Maaf, aku lupa tentang program yang kau rancang untukku itu Jongin. Ada rekomendasi?"
"Smoothies?"
"Aku akan terlalu kenyang nanti."
"Hmmm bagaimana dengan jus buah segar tanpa tambahan gula dan tambahan susu?"
"Ide bagus."
"Stroberi?" Sehun mengangguk antusias.
"Tunggu sepuluh menit lagi kira-kira, untuk sementara dorong makananmu dengan ludah hahahaha." Jongin tertawa datar di akhir kalimat, Sehun hanya mengumpat di dalam hati serta mengeluh betapa menyebalkannya seorang Kim Jongin itu.
Ternyata membuat jus stroberi lebih cepat dari perkiraan Jongin, ia lantas menyodorkan segelas jus stroberi segar kepada Sehun, makan siang Sehun sendiri belum ia habiskan. "Apa tidak enak?" ragu-ragu Jongin bertanya.
"Ini enak."
"Kenapa tidak dihabiskan?"
"Kau tidak makan?"
"Aku bisa makan kapan saja."
"Kenapa tidak makan tepat waktu, makan teratur, makan tidak tepat waktu aku dengar bisa meningkatkan resiko maag dan gangguan lambung serta pencernaan lainnya?" kalimat Sehun terlalu panjang untuk dicerna, baiklah, Jongin mengerti apa yang Sehun ucapkan hanya saja ia tak biasa menerima perhatian Sehun.
"I—itu…," Jongin cukup terbata menjawab pertanyaan bertubi Sehun. "Hmmm itu sudah kebiasaanku Sehun."
"Baiklah!" Sehun memekik girang menatap Jongin yang membalasnya bingung. "Kau juga harus memperbaiki jam makanmu, saat aku makan kau juga harus makan. Aku juga sangat jarang memiliki teman makan satu meja makan denganku, aku pikir akan sangat menyenangkan memiliki teman mengobrol di meja makan."
"Ka—kau menganggapku teman?" Jongin berharap Sehun tak menganggapnya semakin bodoh akibat dirinya yang selalu terbata di hampir setiap membalas kalimat yang Sehun ucapkan.
"Tentu saja aku menganggapmu sebagai temanku." Oh tidak tatapan Sehun terlalu intens hingga membuat Jongin menundukkan kepala, merasa cukup malu diperhatikan seperti itu.
"Terima kasih." Lirih Jongin menjawab.
"Ini."
"Hah?!" Jongin terkejut melihat Sehun menyodorkan segelas jus stroberinya.
"Karena burgerku sudah aku gigit tadi rasanya tidak enak membaginya denganmu jadi minum saja jusnya, aku belum menyentuh jusnya." Sehun tersenyum di akhir kalimat. Jongin mengangguk pelan. "Ayo minum." Tuntut Sehun. Dan di bawah tatapan Sehun mana mungkin Jongin mengelak, tangan kanannya perlahan meraih gelas jus, mengangakatnya kemudian meminumnya.
"Mulai besok kita harus makan bersama." Jongin hanya bisa mengangguk seperti robot korslet. "Sebenarnya aku ingin memulainya saat makan siang sekarang, tapi aku sudah menggigit burgernya, aku juga ingin memulainya saat makan malam nanti tapi aku ada janji makan malam dengan Luhan."
"Hmmm." Jongin menggumam pelan. "Kau tidak makan malam di rumah?" Jongin terlambat mencerna kalimat Sehun yang terakhir.
"Iya, aku akan makan malam dengan Luhan nanti malam. Aku janji akan makan dengan sehat dan makan yang cukup." Sehun tersenyum lebar membuat kedua matanya tertarik ke samping membentuk bulat sabit.
"Karena kau tidak makan malam di rumah, bolehkah aku pergi mengunjungi Xiumin hyung, Sehun?"
"Xiumin hyung?"
"Ya, dia kakak yang sudah menjagaku selama ini saat aku di Seoul, di hari pertamaku menginjakkan kaki di Seoul, hari pertamaku memasuki bangku perkuliahan….," Jongin mengangkat kepalanya menatap Sehun.
"Lanjutkan." Ucap Sehun. "Sebagai teman kita seharusnya saling mengenal. Kurasa aku sudah cukup mengatakan banyak hal tentang kehidupanku padamu sekarang giliranmu."
"Tidak ada yang menarik dariku, aku hanya orang biasa dari keluarga sederhana, anak kampung yang berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Seoul itu saja."
"Pendidikan di Seoul? SMA atau perguruan tinggi?"
Jongin menggigit pelan bibir bawahnya. "SMA."
Sehun tersenyum tipis. "Aku tahu kau bohong, aku yakin itu."
"Baiklah, perguruan tinggi."
"Terima kasih sudah berbagi sedikit cerita hidupmu denganku Jongin."
"Baiklah kau bisa pergi menemui Xiumin hyung jangan kembali terlalu larut, ah kurasa kau bisa menginap tapi kembali sebelum waktu sarapanku."
"Aku akan langsung pulang." Jongin tak mau membayangkan pergi ke apartemen Sehun dari flat Xiumin pagi-pagi buta, ia tidak mau mengambil resiko menabrak pohon, menabrak tiang listrik, atau tiang telepon, atau bahkan tiang lampu jalan. Mengingat fokusnya sangat buruk dikala mengantuk.
Sehun berdiri dari kursinya, meraih gelas jus stroberi yang tersisa kurang dari separuh. Meminumnya tanpa ragu. "Semoga pertemuanmu dengan—Xiumin hyungmu menyenangkan."
"Kau juga dengan Luhanmu." Sehun tersenyum tipis, meletakkan gelas jus kosong kembali ke atas meja, memutar tubuhnya kemudian melangkah pasti meninggalkan meja makan.
.
.
.
Sehun berangkat dua puluh menit yang lalu dan sekarang Jongin berdiri di depan gedung apartemen mengenakan hoodie di tengah musim panas. "Jongin." Jongin menoleh cepat sempat terkejut melihat penampilan Chanyeol.Hoodie dan wajahnya tertutup masker. "Terima kasih kau sudah meluangkan waktu untuk pergi denganku."
"Kau menerorku." Balas Jongin tanpa mengetahui seperti apa reaksi Chanyeol di balik maskernya.
"Aku penasaran bagaimana kau bisa pergi sekarang?"
"Sehun sedang ada urusan pribadi."
"Urusan pribadi? Kencan?" Jongin memilih untuk tak menjawab dia hanya tidak mau mulutnya membawa masalah. Dan dia juga berjanji tidak akan menjawab seandainya Chanyeol bertanya bagaimana dirinya mendapat izin pergi dari Sehun. "Bagaimana kau bisa diberi izin untuk pergi? Kau itukan pengasuh bayi?" Baru saja Jongin memikirkan hal itu, Chanyeol sudah bertanya.
"Kau ingin segera pergi atau menghabiskan waktu di sini melempariku dengan berbagai pertanyaan tak penting?"
"Baiklah ayo pergi." Suara Chanyeol terdengar ceria tangan kanannya dengan seenak sendiri serta serampangan menggenggam telapak tangan kiri Jongin, menariknya.
"Ah!" Jongin mengeluarkan suara protes namun tak dihiraukan oleh Chanyeol. "Kemana? Kemana?" Jongin bertanya panik namun ia cukup waras untuk tidak memanggil nama Chanyeol di tengah kerumunan manusia yang berdiri di depan gedung apartemen.
"Rahasia." Hanya itu yang Chanyeol ucapkan sebelum menarik tubuh Jongin melewati kerumunan fans yang membawa papan nama para orang terkenal penghuni gedung apartemen, Jongin sempat membaca nama Sehun dan Chanyeol.
Mereka terus berjalan dan terus berjalan menyusuri trotoar dan Chanyeol tak juga melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Jongin. "Chan…," Jongin mencoba protes namun Chanyeol bukannya melepaskan justru menautkan jari-jemarinya secara paksa. "Chan…,"
"Aku hanya bisa memikirkan hal ini dalam otakku." Chanyeol memotong ucapan Jongin. "Pasti tidak kreatif, tapi hanya ini yang aku bisa pikirkan. Makanan dan belanja." Jongin menoleh ke kiri bersamaan dengan Chanyeol yang juga menoleh ke arahnya. "Sebagian besar orang terkenal yang aku kenal memikirkan hal yang sama denganku."
"Kenapa memberitahukannya padaku? Kau pikir aku peduli." Chanyeol tertawa di balik maskernya, Jongin bisa mendengar tawa itu dengan jelas. Rupanya menjadi aktor sangat berat buktinya ucapan ketus bisa diartikan sebagai humor berkualitas oleh otak seorang Park Chanyeol.
"Aku ingin mengajakmu belanja."
"Apa?!" Jongin seketika menghentikan langkah kakinya, ia tidak suka dengan ide belanja apalagi bersama Chanyeol. Bunuh diri, itu bunuh diri.
"Jongin aku benar-benar ingin melakukannya? Tolonglah aku, sangat jarang aku mendapat waktu luang seperti sekarang ini dan kau satu-satunya teman yang aku miliki. Aku mohon."
Tatapan Chanyeol terlihat menyedihkan meski sebagian besar wajahnya tertutup masker, Jongin tidak tega melihat tatapan itu. "Ba—baiklah." Pada akhirnya Jongin menyetujui permintaan Chanyeol yang pasti akan merepotkan nantinya.
"Aku sudah merancang semua ini dengan rapi."
"Apa?!" Jongin bertanya menuntut namun Chanyeol tak menjawab dan justru melingkarkan tangan kanannya pada tubuh Jongin. "Astaga." Jongin benar-benar pening sekarang saat mereka Chanyeol membuatnya duduk di halte bus. "Aku tidak mau mati." Jongin berbisik pelan.
"Tidak, kau tidak akan mati tenanglah percaya padaku."
Memilih untuk mengabaikan rasa cemasnya Jongin melihat papan pemberitahuan tentang jadwal bus. Bus yang akan datang lima menit lagi pukul 14.00 KST adalah bus 201. "Insadong?"
"Ya."
"Terdengar cukup baik, tapi aku tidak bisa kembali terlalu larut malam."
"Kenapa? Apa kau Cinderella?"
"Jangan membuatku kesal." Peringat Jongin.
"Maaf." Chanyeol berucap singkat. "Datang!" Chanyeol sepertinya jarang melihat bus, ia tarik tangan kiri Jongin pintu bus terbuka kebetulan hanya mereka berdua yang menunggu. Chanyeol memasukkan kartu pembayaran membayar untuk dua orang sekaligus. Di dalam bus kursi ternyata penuh membuat keduanya terpaksa berdiri. "Hanya sepuluh menit." Ucap Chanyeol kepada Jongin. "Berharap saja akan ada yang turun di pemberhentian bus depan." Chanyeol berbisik pada telinga kanan Jongin. Jongin hanya mengangguk pelan.
Sampai di tempat tujuan Chanyeol dan Jongin tak mendapatkan tempat duduk, keduanya turun disambut dengan meriahnya pasar Insadong, bangunan menarik serta berbagai pernak-pernik yang dijual, Insadong memadukan bangunan dari masa kini dengan masa lalu tepatnya zaman dinasti Chasun dan Joseon. Kafe-kafe indah berjajar dengan galeri-galeri seni. "Kau lelah?" Chanyeol bertanya dengan penuh perhatian.
"Tidak."
"Bagaimana jika berjalan-jalan, membeli camilan, dan membeli beberapa pernak-pernik? Lalu jika sudah lelah kita mampir ke salah satu kafe untuk makan siang? Apa kau sudah makan siang?" Jongin menggeleng pelan. "Kau yakin tidak ingin makan siang terlebih dahulu?"
"Tidak." Jongin membalas singkat, Chanyeol melirik teman pertamnya dan mungkin teman terakhirnya itu dari ekor matanya. Sekarang tatapan pemuda berkulit kecoklatan itu nampak berbinar.
"Benarkan, jika pergi ke tempat ini adalah ide yang sangat bagus." Chanyeol berucap penuh kebanggaan. Jongin tak membalas ia justru melangkah maju meninggalkan Chanyeol. "Hei Jong!" protes Chanyeol sambil berlari menyusul Jongin.
Jalanan luas di dalam pasar cukup padat namun tak seramai akhir pekan atau hari libur, udara musim panas hangat tak begitu menyengat, langit juga cerah. Semua perpaduan sempurna itu membuat Chanyeol diliputi oleh rasa bahagia yang tak terbendung. Kedunya berjalan pelan menyusuri jalanan Jongin bahkan tak menolak saat Chanyeol menggenggam telapak tangan kirinya. "Lucu."
"Apa?"
"Itu." Chanyeol mengikuti arah telunjuk Jongin. Rupanya Jongin sedang tertarik dengan boneka-boneka kayu berpakaian hanbook, pakaian tradisional Korea.
"Kau menginginkannya?"
"Tidak."
"Kau yakin?" Chanyeol melihat Jongin ragu-ragu. "Kita beli saja." Tanpa menunggu persetujuan Jongin, Chanyeol menarik tangan kiri Jongin untuk pergi menghampiri penjual boneka. Dan pada akhirnya Chanyeol membeli dua pasang boneka kayu.
"Banyak sekali." Komentar Jongin.
"Sepasang untukmu." Chanyeol menyerahkan salah satu kantung kain kepada Jongin.
"Terima kasih." Keduanya kembali berjalan pelan tangan kanan Chanyeol setia menggenggam telapak tangan kiri Jongin. "Itu…," baiklah Jongin terdengar seperti anak tujuh tahun sekarang.
"Dakgangjeong?" Jongin mengangguk antusias masih memperhatikan jajanan berupa potongan ayam goreng dengan saus asam dan manis berwarna merah cerah. Beruntung antrean tak begitu panjang jadi mereka bisa mendapatkan ayam dengan cepat.
"Es krim sepertinya enak…. Manisan terlihat berwarna-warni…. Kuenya lucu….," Chanyeol sama sekali tak merasa keberatan saat Jongin justru yang berakhir menyeretnya menuju stan-stan penjual makanan. Semua orang terlalu sibuk belanja hingga mereka tak menyadari kehadiran Chanyeol.
"Bagaimana menurutmu?" keduanya kini berada di toko topi, Chanyeol mencoba topi baseball hitam bertuliskan Fine Gold dan menunjukkannya kepada Jongin.
"Kau terlihat cocok."
"Aku akan membeli topi ini. Dan kau…, ini."
Jongin menggeleng cepat. "Itu kekanakan." Protes Jongin.
"Tidak, kau sudah menyeretku ke banyak tempat, membuatku memakan banyak camilan, dan sekarang sebagai gantinya pakai topi ini." Chanyeol menyodorkan topi lucu berbulu dengan bentuk kepala beruang kepada Jongin.
"Baiklah…," setengah hati tangan kiri Jongin terulur untuk mengambil topi beruang dari tangan Chanyeol. Mencobanya.
"Astaga!" Chanyeol memekik dengan suara tinggi seperti perempuan. "Kau imut sekali…..," kali ini pekikan Chanyeol tertahan dan dia tanpa sadar menggerakkan tangan kanannya untuk mencubit pipi kiri Jongin. "Baiklah dua topi." Chanyeol mengambil topi Jongin. "Aku bayar dan kita bisa pergi ke kafe untuk membeli makanan."
"Kita pulang saja, aku sudah lelah dan sudah kenyang."
"Kau yakin?" Jongin mengangguk cepat.
"Tapi kalau kau masih lapar aku bisa menemanimu."
"Tidak, aku juga sudah makan banyak camilan tadi. Kita langsung pulang saja." Jongin tersenyum menanggapi kalimat Chanyeol. Sementara Chanyeol pergi ke kasir perhatian Jongin tertuju pada topi berbentuk kepala binatang lain. Kepala serigala. Jongin tersenyum dan meraih topi itu.
"Kau menginginkan topi itu juga?" Jongin menjauhkan topi kepala serigala ditangannya dari jangkauan Chanyeol.
"Aku akan membayar sendiri untuk yang ini."
"Baiklah." Beruntung Chanyeol tak memaksa untuk membayar sehingga tak menimbulkan keributan yang tidak perlu. Ia hanya tersenyum, menggeser tubuhnya membiarkan Jongin membayar topi kepala serigalanya.
"Kita pulang dengan taksi."
"Hmmm." Jongin menurut membiarkan Chanyeol menggenggam tangan kirinya kembali. Chanyeol menaikkan maskernya, mereka melewati kerumunan.
"Sepertinya ada orang terkenal."
"Siapa?"
"Luhan dan Minho." Jongin mengikuti arah pandang Chanyeol namun ia tak sempat karena kerumunan menutupi pandangannya.
"Luhan memiliki banyak skandal kencan, kurasa cinta telah membutakan Sehun."
"Kau memperhatikan Sehun?"
"Beritanya dimana-mana mustahil untuk tidak tahu, meski kau tak menginginkannya."
"Hmmm." Jongin menggumam pelan. "Kau berkencan?"
Chanyeol tertawa pelan. "Ya, sekarang bersamamu."
"Jangan bercanda."
"Tidak, salah satu paparazzi melihat kita, memotret, dan bang! Skandal kencan, disimpan, berjaga-jaga untuk sesuatu, Konfirm agensi. Aku tak berkutik."
"Aku—tidak mengerti?" Chanyeol menghentikan langkahnya, menatap Jongin serius.
"Jangan terlalu polos itu tak baik untukmu, sama sekali tidak baik. Jangan mudah percaya pada orang lain itu juga tidak baik." Jongin hanya melongo, Chanyeol mengacak rambut Jongin gemas. "Itu taksi kita. Ayo." Chanyeol mempersilakan Jongin untuk melangkah memasuki taksi terlebih dahulu. Pintu taksi mengeluarkan suara yang cukup halus saat ditutup. "Matahari bahkan belum tenggelam, mungkin kita….,"
"Aku harus kembali, aku bekerja dan aku tidak bisa melakukan tindakan sesuka hatiku."
"Baiklah, baiklah, maaf. Terima kasih untuk hari ini semoga kita bisa berjalan-jalan lagi lain waktu." Jongin hanya mengangguk pelan. "Benarkah?!" Chanyeol memekik pelan, Jongin mengangguk untuk kedua kalinya meski ia tak yakin apakah bisa menepati hal itu dan Jongin juga tak berniat untuk keluar berjalan-jalan untuk kedua kalinya bersama Chanyeol. Hari ini berjalan dengan sangat baik merupakan sebuah keajaiban bagi Jongin.
Dan di sinilah di dalam lift yang berhenti dan pintunya terbuka di lantai lima Chanyeol memberikan pelukan yang cukup lama kepada Jongin sebagai ucapan terima kasih. Jongin hanya berdiri canggung beberapa detik setelah pelukan Chanyeol. "Sampai jumpa lagi, Jongin." Tangan kanan Chanyeol terangkat untuk Jongin. Jongin mengangguk bersamaan dengan pintu lift yang kembali tertutup.
.
.
.
Kening Jongin berkerut, televisi dinyalakan bukankah seharusnya Sehun masih pergi? Tiba-tiba jantung Jongin berdetak liar ia takut jika nyonya Oh datang berkunjung tanpa permisi, dan mendapati apartemen dalam keadaan kosong. Saat kepala bagian belakang Sehun dengan rambut hitam tebalnya yang terlihat menyembul dari sofa, Jongin merasa cukup lega. Jongin mencoba untuk melangkah tanpa suara siapa tahu jika Sehun sedang sibuk dengan kekasihnya. "Jongin!"
Sehun bergerak tiba-tiba, setengah tubuhnya menyembul dari balik sofa, senyum lebar tak biasanya membuat Jongin terkejut. "Astaga Sehun!" nyaris terjengkang ke belakang.
"Wajahmu jelek sekali ketika terkejut!" Sehun berseru heboh kemudian tertawa terbahak dengan sangat tidak sopan. Jongin hanya mendengus pelan berniat untuk pergi namun ia urungkan karena ada sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada Sehun.
"Bukankah kau seharusnya masih kencan?"
"Luhan tiba-tiba mendapatkan pekerjaan mendadak."
Berarti apa yang Chanyeol lihat tadi benar-benar Luhan dengan Minho. Batin Jongin.
"Beruang gendut! Hei! Kenapa melamun?!"
"Ah…," Jongin gelagapan. "Ya—aku hanya—tidak menyangka kau sudah berada di rumah, itu saja. Maaf aku pulang lebih lambat darimu."
"Tidak masalah." Sehun tersenyum lebar diakhir kalimat.
"Sehun kau sudah makan malam?"
"Belum."
"Baiklah, aku akan memasak sekarang."
"Aku sudah memesan makanan. Makanan sehat dan seimbang juga bergizi." Sehun menjelaskan setelah mendapat tatapan sangsi dari Jongin. "Hap!" Sehun melompati sofa dan berjalan cepat menghampiri Jongin. "Kita makan bersama." Ucapnya sembari merangkul pundak Jongin menariknya pergi ke meja makan.
Salmon, sebenarnya Jongin lebih memilih ayam dibanding salmon tapi mau bagaimana lagi itu menu makan malam yang Sehun inginkan. Salmon panggang dengan taburan seledri dan bawang, brokoli kukus, kentang panggang tumbuk. "Kenapa membawa tas belanjaan dari—Insadong? Kau tidak mengunjungi hyungmu?"
"Awalnya aku berniat untuk pergi mengunjungi Xiumin hyung tapi aku berubah pikiran dan mengunjungi insadong."
"Hmmmm, Jongin ambil jus semangka."
"Tentu." Jongin berdiri dari kursi membuka lemari pendingin dan melihat dua gelas jus dalam gelas berbahan plastik khusus makanan. "Kau membuatnya sendiri?"
"Ya."
"Kau bisa?" Jongin masih tidak yakin sembari meletakkan dua gelas jus ke atas meja makan.
"Aku cukup bisa mengurus diriku sendiri. Apa Insadong menyenangkan?"
Jongin hampir tersedak ludah, ayolah, Jongin kadang sering kelepasan dan dia takut mengucapkan sesuatu yang tidak perlu mengenai Luhan. Sementara Sehun orang yang suka mengorek-ngorek keterangan. "Apa Insadong menyenangkan?" ulang Sehun.
"Ya." Jongin menjawab singkat.
"Apa aku bisa melihat semua barang yang kau beli di Insadong?"
"Ah tentu!" Jongin hampir lupa jika dia membelikan Sehun sebuah topi. "Aku membeli sepasang boneka kayu, ah bukan aku yang membeli Chanyeol yang membelinya."
"Kau pergi dengan Chanyeol?!"
Jongin mengangguk pelan. "Chanyeol bilang aku satu-satunya teman yang dia miliki…."
"Kau percaya?" potong Sehun, Jongin hanya mengangguk canggung. "Bisa saja dia berbohong."
"Dia terlihat jujur."
"Hmmmm." Sehun menggumam sambil memeriksa boneka kayu dengan pakaian tradisional yang terletak di atas meja makan. Terlihat tak tertarik. "Apalagi yang kalian lakukan?"
"Membeli camilan dan topi." Pandangan Sehun tertuju pada dua topi berbentuk kepala binatang. "Topi beruang untukku, Chanyeol membeli topi baseball hitam…,"
"Sepertinya kau sangat senang pergi dengan Chanyeol." Sekali lagi Sehun memotong kalimat Jongin. "Kau pasti menantikan saat untuk pergi bersamanya lagi kan?"
"Aku kan harus bekerja, Chanyeol juga sibuk. Ini." Jongin menyodorkan topi kepala serigala berwarna abu-abu ke hadapan Sehun.
"Chanyeol membelikannya untukku?"
"Aku membelikannya untukmu."
"Ah." Sehun terperanjat.
"Apa—kau berharap Chanyeol yang akan membelikannya untukmu? Aku bisa memberitahu Chanyeol lain kali jika kami pergi bersama lagi."
"Tidak." Ucap Sehun kemudian tertawa di akhir kalimat. "Kenapa aku harus berharap Chanyeol membelikanku sesuatu?"
"Tidak apa-apa." Alas Jongin, ia menundukkan kepala merasa ragu-ragu untuk mengucapkan kalimatnya. "Saat di Insadong aku dan Chanyeol…,"
"Kau dan Chanyeol apa?"
"Ah sudahlah aku rasa aku hanya salah lihat."
"Apa? Katakan saja Jongin."
"Aku melihat Luhan di Insadong, ah sebenarnya Chanyeol yang melihat jadi mungkin saja Chanyeol hanya salah lihat, tidak perlu kau pikirkan Sehun."
"Aku yakin Chanyeol salah lihat."
"Hmmm." Jongin menggumam pelan.
"Terima kasih topinya Jongin."
"Kalau tidak suka tidak perlu kau ambil Sehun, itu topi murahan tidak bermerk."
"Aku pasti memakai topi itu." Jongin hanya tersenyum tipis mendengar kalimat Sehun, ia sudah kehilangan kata-kata untuk membalas Sehun.
TBC
Terima kasih untuk seluruh pembaca terima kasih review kalian Hunna94, andiasli99, Nakamichan, NishiMala, putri, Sehuniee28, LangitSenja, VampireDPS, Guest, Sehuniee28, Jeyjong, ulfah cuittybeams, kaila, cute, Oh Kins, Athiyyah417, BabyCevy67, adindanurmas, rofi mvpshawol, kanzujackson jk, chocomilkfaza, jjong86, diannurmayasari15, saya sayya, Lizz Liel Lawliet, Park Rinhyun Uchiha, Kim762, nha shawol, KaiNieris, Kim Jongin Kai, Baegy0408, geash, novisaputri09, vivikim406, wijayanti628, laxyovrds, blackbearvampire, Jongin88, tyneeee, Nathaneila401, Kai886, yoo jay hyeon. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
