Not a FairyTale

Author: Nacchan Sakura

I DO- not own Durarara!. Sadly.

.

.

.

Chap 9: Your Cinderella

.

.

.

Note(s): Requestfic from Mochiyo-san~! Enjoy ;) / AU / based of Cendrillon by Miku Hatsune and Kaito Shion, tapi versi modernnya *?*

.

.

.

Ding Dong

Saat jam berdentang tepat pukul dua belas malam,

Adalah saat dimana aku akan menjadi milikmu seutuhnya.

.

.

.

"Pesta topeng, ya.."

Izaya melempar kertas pemberitahuan yang diberikan oleh sekolahnya beberapa hari yang lalu. Ia hanya melihat kertas itu, membacanya sekilas, menghela nafas, dan melempar kertas itu ke lantai. Hal ini sudah terjadi sekitar, 3 kali dalam satu hari.

Izaya tidak membenci pesta topeng, ataupun keramaian, atau acara yang menyenangkan seperti pesta.

Hanya saja, pesta topeng kali ini sedikit berbeda.

Karena..

-Flashback-

"Jadi kau mengerti, Izaya? Di pesta topeng itu, bunuh Heiwajima Shizuo.."

Izaya hanya bisa tercenggang. Membunuh Shizuo? Lelaki paling populer di sekolahnya?

"Ta-tapi kenapa aku harus membunuhnya, Ibu?"

"Dia itu anak dari saingan perusahaan kita. Ia pasti akan menjadi penerus yang hebat, dan akhirnya, perusahaan kita akan tergeser."

"Tapi, bukankah ada cara lain? Aku akan berusaha menjadi penerus yang baik agar perusahaan kita tetap berdiri!"

"Tidak, Izaya. Ibu ingin kau tak punya saingan besar seperti Heiwajima Shizuo. Kalau ia lenyap, semuanya akan jadi lebih mudah."

Izaya terdiam. Ia menundukkan kepalanya, seraya mengepalkan tangannya. Mulutnya terbuka, namun tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan.

"Percayalah, Izaya. Aku melakukan ini semua untukmu." Wanita yang menjadi Ibu dari Izaya Orihara itu tersenyum, seraya membelai pelan rambut milik anaknya. "Gunakanlah ini untuk membunuhnya. Setelah itu, larilah secepat mungkin. Tapi aku sudah menyewa orang untuk mengawasimu.. agar kau tidak ketahuan oleh siapapun."

Sebuah pisau. Ya, pisau tajam yang masih baru dan bersih. Izaya menatap benda itu dengan ragu, meraih benda itu dengan tangannya yang sama sekali tak mau melakukan semua ini.

"Aku.. mengerti."

Izaya mengambil pisau itu. Pisau yang nanti akan menjadi berwarna merah karena darah.

Darah dari Heiwajima Shizuo.

-End of Flashback (=..=)-

"Aah, aku harap pesta topengnya dibatalkan.." Izaya menatap ke luar jendela, lalu matanya melirik sekilas ke arah jam dinding yang ada di kamarnya. Jam 4, tiga jam lagi pesta itu dimulai.

Izaya kemudian mengambil sebuah kantong kertas berisi baju dan sebuah topeng yang disimpan di atas mejanya. Tentu saja, baju dan topeng itu sudah disiapkan oleh ibunya sejak kemarin.

Izaya bimbang. Bukan karena ia tidak mau membunuh kaum manusia yang ia sangat cintai—apalagi karena Shizuo Heiwajima itu adalah monster di matanya—tapi, karena ia merasa—ia tidak mau membunuh Shizuo.

"Aneh, padahal, aku tidak mengenal baik lelaki bernama Shizuo itu. Kalaupun aku dan dia pernah berbicara.. kami waktu itu hanya bertengkar kecil satu kali. Tapi kenapa aku tidak ingin membunuhnya.."

Izaya tidak menyadari bahwa selama ini ia sebenarnya—selalu menatap dan memperhatikan Shizuo dari kejauhan. Ia sempat menyangka bahwa hatinya telah terpaku pada sosok itu, namun ia selalu mengelak. Ia pikir, Shizuo hanya menarik dan berbeda dari manusia lainnya. Maka dari itu Izaya selalu memperhatikan Shizuo.

Namun kalau saja Izaya lebih peka sedikit, ia pasti akan tahu jawabannya.

.

.

.

Sebuah sihir yang membuatku dapat bertemu denganmu,

Akan berakhir ketika jam itu berdentang.

Namun walaupun sihir itu telah hilang..

Aku masih tetap bisa mendapatkan akhir yang bahagia, bukan?

.

.

.

Pukul 6. Izaya dengan sangat terpaksa beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk pesta topengnya. Ia memakai baju yang Ibunya berikan, dan merapikan penampilannya. Dan tak lupa, ia juga memakai sebuah topeng berwarna merah darah dengan ukiran perak di pinggirannya.

Sempurna. Penampilan Izaya saat ini bisa dibilang—keren. Tak mungkin tak ada wanita yang tak terpikat dengan penampilannya. Di sekolah juga, Izaya cukup populer. Hanya saja sifat menyebalkannya membuat ia juga tidak disukai banyak orang.

Izaya pun meminta salah satu dari supirnya untuk mengantarkannya ke sekolah. Ia menaiki salah satu mobil mewahnya, dan kini ia semakin dekat dengan tempat dimana acara pesta dimulai.

Dengan tempat dimana Shizuo Heiwajima akan mati tak lama lagi.

.

.

.

Gaun dan Sepatu kaca,

Buah labu yang berubah menjadi kereta kuda,

Dan juga sebuah dansa di malam hari—

Semuanya seperti mimpi yang akan berakhir kapanpun juga.

.

.

.

Izaya kini tengah berdiri di antara kerumunan banyak orang. Ya, ia sudah sampai di lokasi acara -atau tepatnya, gedung khusus di sekolahnya- sedari beberapa menit yang lalu. Ia melihat orang-orang di sekelilingnya, memakai kostum dan juga gaun yang bagus. Mereka semua menutupi wajah masing-masing menggunakan topeng dengan design yang berbeda-beda.

Izaya memperhatikan beberapa orang yang berada di dekatnya.

'Yang pakai topeng hitam itu, pasti Dotachin. Dan dua orang di sebelahnya yang memakai topeng pink dan hijau, pasti Erika dan Walker. Yang di sebelah sana memakai topeng hitam.. itu sudah pasti Shinra.'

Izaya yang tidak memiliki kerjaan alias senggang sampai acara dansa dimulai pun memutuskan untuk pergi keluar. Dia tidak punya teman untuk berbicara, dan ia juga tidak nafsu untuk menyantap hidangan yang ada.

Mungkin udara segar bisa membantu, pikirnya.

Izaya melangkahkan kakinya keluar ruangan, menjauhi kerumunan orang yang tertawa. Ia keluar dari gedung itu dan berjalan menuju taman belakang, dimana sebuah taman bunga yang indah dan juga danau yang disinari oleh rembulan ia temukan.

Izaya tersenyum. Setidaknya, untuk beberapa menit, ia mendapatkan hal yang bagus. Taman bunga dan danau ini betul-betul indah.

Izaya melepas topeng yang menutupi wajahnya. Kini ia sedang berada di luar ruangan pesta, jadi tidak apa-apa melepas topeng ini, bukan? Lagipula, tak mungkin ada orang selain dirinya yang kini berada di luar ruangan pesta.

"...Izaya Orihara?"

Ralat. Mungkin ada juga orang yang memutuskan untuk berdiam diri di luar ruangan pesta.

"A-re? Shizuo Heiwajima-san~" Izaya memalsukan nada bicaranya agar terdengar ceria. Dan jangan lupa juga, senyum palsunya.

"Ah, ternyata benar itu kau. Kau tidak memakai topengmu, tapi susah melihat di malam hari seperti ini."

"Hmm? Kau sendiri tidak memakai topengmu, Heiwajima-san.."

"Panggil saja aku Shizuo.. aku boleh memanggilmu Izaya, bukan?"

"Hn, baiklah kalau begitu. Saa, kenapa kau ada di luar ruangan pesta, Shizu-chan~?"

"SHI-ZU-O!" Shizuo menggeram dan menekankan kata-katanya. "Aku... tidak suka pesta. Itu saja."

Tidak suka pesta? Oh, ada yang ganjal, pikir Izaya. Sebuah seringai terukir di wajahnya. Mungkin asyik juga kalau menjahili orang ini sebelum membunuhnya.

"Wah~! Ternyata cowok populer di sekolah kita ini tidak suka pesta!" Izaya tertawa mengejek

"Diam, aku punya... alasan tertentu. Kau sendiri, kenapa ada disini?"

"Kalau aku hanya mencari udara segar. Nanti juga aku akan kembali ke dalam~"

"O-oh, kau akan kembali ke dalam, ya.."

Ekspressi Shizuo yang sesaat berubah—membuat Izaya memudarkan seringainya. Dan seringai itu terganti dengan rona merah tipis yang kini sedang ia coba untuk hapus.

"A-ahaha~ iya, begitulah!" Akhirnya, izaya menutupi rona di wajahnya dengan sebuah tawa tanpa arti. "Alasanmu membenci pesta itu, apa, Shizu-chan?"

"...Bukan urusanmu.."

"Tentu saja ini urusanku! Kau kan sudah memberitahuku bahwa kau benci pesta, kau harus beritahu juga alasannya!"
"Che! Walaupun kau memohon atau apapun, aku tak akan memberitahumu!"

"Kalau begitu, aku tinggal masuk ke dalam pesta dan mengumumkan saja kepada para gadis bahwa lelaki paling populer yang mereka cari ada di luar."

"EGH, TUNGGU! Jangan lakukan itu! Baiklah, baiklah, akan kuberitahu.."

Izaya tersenyum penuh kemenangan. Ternyata, walau ia memandang Shizuo sebagai monster—karena kekuatannya yang inhuman dan karena ia sulit diprediksi—Shizuo juga memiliki sifat yang mirip dengan manusia lainnya.

"Aku tidak bisa berdansa."

. . . . . . . .

"..Ya?" Izaya mengulang, berusaha mencerna kata-kata singkat itu.

"Aku. tidak. bisa. berdansa. Itu alasan kenapa aku benci pesta.."

Karena tidak bisa berdansa?

"Pfft—BUHAHAHAHAHA!" Izaya tertawa lepas sembari memegang perutnya

"DIAM! AAAGH, MAKANYA AKU TAK MAU MEMBERITAHU KAU!" Shizuo kini sangat, sangat malu dan wajahnya seperti kepiting rebus.

"Lelaki paling populer tidak bisa berdansa? Itu—itu sungguh unik!"

"URUSSAI!" Shizuo mencengkeram leher baju milik Izaya—yang masih tertawa.

"..Nee, Shizu-chan." Izaya menghentikan tawanya. "Mau kuajari cara berdansa?"

"A-ah?"

"Tenang saja, gratis kok. Aku hanya senggang dan malas kembali ke dalam, jadi lebih baik aku mengajarimu cara berdansa saja~"

Shizuo melepaskan tangannya dan menatap Izaya sesaat. Sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Heh, boleh saja. Kita lihat apakah kutu sepertimu pandai berdansa atau tidak."

"Setidaknya aku BISA berdansa~"

.

.

.

Tak ada suara,

Tak ada kata.

Kita menjauhi kerumunan orang yang menatapku dengan iri,

Semakin kita berputar dalam dansa, semakin jauh kita dari istana.

Mataku menatap matamu,

Tanganmu merangkul tubuhku.

Di tempat yang sunyi ini, hanya ada kita berdua

Yang terus berdansa tanpa peduli seberapa lama waktu telah berlalu.

.

.

.

Berputar, berputar, dan terus berputar.

Sesekali, sepatumu menginjak kakiku.

Sesekali, kau meminta maaf karenanya.

Dan aku, hanya tertawa dan terus mengajarimu cara untuk berdansa.

Dan saat kau melakukan gerakan yang benar, kau terlihat senang dan tersenyum.

Dan saat kau tersenyum, aku hanya memalingkan wajahku yang merona.

Dan tanpa aku sadari,

Sebentar lagi, waktuku akan habis.

.

.

.

Sudah lama waktu berlalu. Kini, Shizuo dan Izaya—yang sudah 3 jam berlatih dansa, beristirahat dengan duduk di sebuah kursi yang tersedia di pinggir danau.

"Selama ini aku sering mendengar orang-orang membicarakanmu, makanya aku mengetahui namamu."
"Ahaha~ pasti mereka membicarakan hal buruk tentang aku, bukan?" Izaya tertawa. "Aku memang menyebalkan, namun mau bagaimana lagi? Itu sudah sifatku. Jadi kalau mereka menganggapku orang yang buruk, aku terima saja."

Hening.

Shizuo hanya menatap Izaya yang masih tersenyum—koreksi, menyeringai palsu. Izaya berusaha melihat ke arah lain—karena tahu dirinya ditatap oleh Shizuo.

"Kau tidak senang ya, sedari tadi menghabiskan waktu bersamaku?" Tanya Shizuo tiba-tiba

"E-Eh-? Apa maksudmu?"
"Semenjak pertama tadi kita bertemu, kau terus-terusan memasang senyum palsu."

Izaya terdiam. Mulutnya—yang sedari tadi tergulung membentuk senyuman, kini mengatup rapat. Ia tak menatap Shizuo, ia hanya, terdiam.

"Kalau kau memang sebenarnya mau kembali ke dalam, kau tinggal bilang saja. Aku tidak—"

"Bukan." Izaya memotong kata-kata Shizuo. "Aku senang. Aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu daripada di dalam dan berdiri di antara kerumunan orang sendirian. Aku senang bisa mengajarimu cara berdansa.."

"Lalu kenapa?" Shizuo kembali bertanya

Izaya hanya tersenyum. "Shizu-chan, sebelum waktunya habis, mau berdansa bersamaku satu kali lagi?"

Shizuo membuka mulutnya, berniat melontarkan satu pertanyaan lagi—namun ia mengurungkan niat itu. "Baiklah.."

'Apa yang ia maksud dengan waktu yang akan habis?' tanya Shizuo dalam hati.

.

.

.

Izaya tenggelam di dalam pikirannya yang berkecamuk.

Setelah bersama dengan lelaki ini untuk beberapa jam, hatinya semakin bimbang.

Sesekali Izaya menatap paras lelaki ini, dan wajahnya kembali merona. Jantungnya berdegup kencang.

Telinganya sungguh rindu dengan suara tawa yang jarang Shizuo keluarkan. Suara tawa Shizuo membuat Izaya melupakan rasa bimbangnya untuk sesaat.

Dan Shizuo memperlakukan Izaya—sama dengan ia memperlakukan teman-temannya yang lain.

Walau Izaya begitu dibenci banyak orang, kenapa Shizuo masih mau tersenyum dan tertawa untuknya?

Walau ia seharusnya membenci Shizuo,

Kenapa sekarang ia sadar kalau ternyata ia menyukai Shizuo?

.

.

.

Sebuah dansa yang tak diiringi oleh musik.

Namun setiap detak jantung dan juga tatapan mereka menciptakan nada tersendiri.

Sebuah dansa di malam hari, di tengah taman bunga yang indah.

Sebuah dansa yang diterangi cahaya bulan.

"Shizu-chan, kau tahu?" Izaya berkata di tengah dansanya bersama Shizuo, sambil tak berhenti bergerak. "Aku sedari dulu, selalu memperhatikanmu.. secara sadar ataupun tidak."

"Hah?" Shizuo mengangkat satu alisnya. "Kau bukan stalker.. 'kan?"

"Tentu saja bukan!" Izaya tertawa kecil. "Aku mencintai manusia. Aku selalu memperhatikan mereka, mempelajari gerak-gerik mereka, dan aku tahu segalanya tentang mereka."

"Mencintai.. manusia?"

"Tapi." Izaya mengabaikan pertanyaan Shizuo. "Hanya Shizu-chan yang berbeda."

"H-hah?"

"Shizu-chan, kau selalu aku perhatikan lebih, lebih dari aku memperhatikan manusia. Kau tidak dapat diprediksi dengan mudah, kau memiliki kekuatan yang manusia mustahil punya. Kau itu monster, menurut pandanganku."

"Hah. Sudah banyak orang yang berpikir bahwa aku monster."

"Dan... aku.."

Izaya menghentikan langkah kakinya, membuat dansa mereka terhenti. Ia melepaskan tangannya dan memasukkan tangan kirinya ke dalam kantong celananya. Tangan kirinya—meraih sebuah pisau yang sedari awal tersimpan disana.

Pisau yang dipakai untuk mengambil nyawa lelaki di hadapannya.

"Dan aku.. menyukaimu.. lebih daripada aku menyukai manusia."

Shizuo terdiam dan menatap Izaya.

Sementara Izaya, hanya menundukkan kepalanya. Dan tangannya, masih menggenggam erat pisau tajam yang diberikan Ibunya. Ia tak tahu, apakah harus ia membunuh Shizuo dengan pisau ini setelah menyadari perasaannya?

Angin yang cukup kencang berhembus, menerbangkan dedaunan dan juga kelopak bunga yang rontok.

Suara air dari danau yang tenang, juga suara daun yang terjatuh di atasnya.

Semua itu tidak terdengar oleh dua insan ini. Yang kini mereka dengar adalah suara dari degup jantung mereka. Yang kini mereka lihat hanyalah sosok mereka masing-masing.

"...Izaya, kau serius?"

Izaya menyeringai tipis. "Jahat sekali, sekalinya aku serius dan tidak bercanda, kau menganggap aku berbohong."

"Bukan, bukan begitu." Shizuo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku hanya.. terkejut."

Izaya tidak menjawab.

"E-ehm.."

Shizuo semakin salah tingkah.

Shizuo pun berjalan mendekati Izaya. Langkahnya pelan, dan tidak bersuara. Namun yang pasti, dalam beberapa detik, kini ia sudah berada tepat di hadapan Izaya.

"Izaya," Shizuo memegang kedua pundak Izaya. "Kenapa kau malah terdiam—"

'Tes'

Sebuah suara tetesan air yang jatuh ke atas rumput. Tetesan air itu bukanlah air hujan.

"Izaya.." Shizuo mengangkat wajah Izaya yang kini sedang menutup kedua matanya—dan.. "Kenapa kau menangis?"

Izaya hanya menangis, tanpa suara. Tetesan air matanya mengalir semakin deras. Shizuo mencoba untuk menghapus air mata itu dengan jarinya, namun Izaya tetap menangis.

"Aku.." Izaya berkata—sambil terisak. "Mungkin ini pertama kali dan terakhir kalinya aku mengatakan perasaanku kepada seseorang."

"Lalu kenapa? Bukankah itu hal bagus..?" Shizuo menatap Izaya sesaat. "A-aku.. lagipula, aku senang.. mendengarnya."

"Tapi kau tidak bisa menjawab.. dan aku tak akan pernah tahu jawabanmu.."

"Kenapa tidak?" Tanya Shizuo

Tanpa ragu, Izaya mengambil pisau itu. Tangannya yang menggenggam erat pisau itu selama beberapa menit—sedikit terluka.

"Karena setelah ini, kau akan menghilang selamanya."

"...!- IZAYA-" Shizuo terkejut, namun berhasil menghindari ketika Izaya dengan cepat menyerangnya secara tiba-tiba. Ayunan pisau Izaya berhasil menggores perut Shizuo, namun luka itu tidak membuatnya mati.

"Maaf.." gumam Izaya pelan. "Maafkan aku."

Izaya kembali berlari ke arah Shizuo, tangannya mengarahkan ujung pisau yang tajam tepat ke jantung milik sang blonde Heiwajima.

Shizuo hanya terdiam di tempat. Emosi di wajahnya kini tidak dapat terbaca. Walau awalnya ia terkejut, kini wajahnya begitu tenang.

Entah apa yang dipikirkan oleh Shizuo sekarang.

Izaya kini sudah beberapa centi di depan Shizuo. Tangannya dengan cepat bergerak, membuat pisau itu siap menusuk jantung Shizuo.

Namun—

Ding Dong

Suara bel itu terdengar, pukul dua belas malam sudah tiba.

Sihirku sudah lenyap,

Waktuku sudah habis.

Tapi kini, aku milikmu seutuhnya.

Mata Izaya membelalak, melihat telapak tangan Shizuo yang berdarah terkena tusukan pisau perak itu. Tangannya melindungi jantungnya agar tidak dilukai, dan kini tangannya yang menggantikan posisi sang jantung untuk terluka.

Izaya takut.

Ia takut akan dibenci oleh Shizuo. Tubuhnya bergetar, ia telah gagal membunuh Shizuo, semuanya kacau.

Setelah ini, ia pasti akan dibenci Shizuo.

Orang-orang akan semakin membenci dirinya.

Ibunya pasti akan sangat marah, apalagi kalau perbuatannya ini sampai mencoreng nama perusahaan Orihara.

Semuanya diluar rencana.

"A—" Izaya membuka mulutnya, bermaksud mengatakan sesuatu. Namun kata-katanya terhenti saat Shizuo memegang dagunya, membuat mata mereka kini sejajar. Shizuo tersenyum.

Ia tidak marah. Ia tidak mengusir Izaya pergi. Shizuo tidak membencinya.

"Kenapa?" tanya Izaya. "Kenapa kau.. tidak membenciku..?"

"Karena aku tahu.." Shizuo memegang wajah Izaya dengan satu tangannya yang tidak terluka. "Kalau kau tidak pernah serius ingin membunuhku."

'Ding, Dong'

Suara bel dari jam yang menunjukkan pukul dua belas berbunyi.

Bertepatan dengan Shizuo yang menempelkan bibir lembutnya kepada bibir Izaya yang bergetar.

Untuk satu menit dalam hidupnya itu,

Izaya betul-betul merasa bahagia.

Shizuo menjauhkan wajahnya, dan menatap Izaya dalam.

"Aku tahu kenapa kau melakukan ini.. lagipula, kau adalah anak perusahaan Orihara. Kau punya beribu alasan untuk membunuh sainganmu."

"Ternyata, kau tahu.. ya.."

Shizuo menutup kedua matanya. "..Hey."

"..Apa?"

"Mau kabur bersamaku?" Ucap Shizuo

"H-hah?"

"Aku juga lelah, sudah berulang kali orangtuaku meminta agar aku membunuhmu. Namun aku selalu menolak."

"Kenapa kau menolak?"

Shizuo tertawa. "Karena aku.. "

"Sudah menyukaimu semenjak dulu"

Izaya tersenyum. "Kalau begitu, kita lari bersama?"

"Ya. Cinderella dan pangeran memang seharusnya mendapatkan akhir bahagia, bukan?"

Izaya memasang tampang kesal. "Aku bukan Cinderella.."

"Tapi kau adalah Cinderella milikku, bukan?" Shizuo tersenyum jahil

"..Kalau menjadi Cinderella untukmu seorang, aku tidak keberatan."

Ya, kita akan selalu bersama.

Jika tidak, ceritanya tak akan jadi menyenangkan.

Tertawa.

Suara tawa yang begitu lepas dan tanpa beban.

Dan di malam hari itu, mereka memutuskan untuk mengakhiri kisah tragis ini,

Dan memulai kisah yang baru.

.

.

.

Okaa-san,

Maafkan aku, aku tak bisa mengikuti kata-katamu.

Aku sudah..

Menemukan apa yang ingin aku lakukan.

Jangan mencariku dan Shizuo.

Jangan pisahkan Cinderella dan pangerannya.

Selamat tinggal,

Okaa-san.

Tertanda,

Orihara Izaya.