Kayaknya sudah terlalu lama saya meninggalkan fanfic saya ini, tepat 1 bulan kayaknya.
Dengan kesibukan yang sangat mengekang membuat fanfic ini harus menunggu waktu yang cukup lama untuk pengupdate-an.
Terima kasih kepada Reader yang telah mau menantikan chapter ke sembilan ini.
Dan sepertinya tak akan lama lagi fanfic ini akan segera berakhir.
CHAPTER 9 START
WARNING : Sedikit adegan #Biiphh..#
MEMPERSEMBAHKAN
Disclamer : Masashi Kishimoto
Pairing : ShikaTema
Genre : Romance and Friendship
Rated : T
Akhirnya Kutemukan
Chapter 9
Senin, 1 Oktober...
"Mana uangmu Choji?" bentak Ino pada teman satu kelasnya.
"Hum..iya..iya"
"Padahal ini kan uang untuk membeli keripik kentang" ucap Choji seraya memberi beberapa lembar uang pada Ino.
"Peduli amat!"
"Makanya makan jangan banyak-banyak"
"Tapi yang mengherankan siapa cewek yang dikejar Shikamaru tadi?" batin Ino mulai berpikir.
"Ayo kita pulang"
"Tapi Shikamaru..?"
" Tenang saja, gak usah khawatir dengannya"
02.53 pm di perempatan jalan
"TEMARI TUNGGU" teriak Shikamaru.
Temari terus berlari sekuat tenaganya meninggalkan sosok yang baru saja dibencinya. Tapi sekuat apapun usaha seorang wanita untuk berlari, tetap saja pria lah yang akan mendahuluinya.
Jarak Shikamaru hanya tinggal beberapa meter saja, Shikamaru terus mendesak Temari untuk berhenti.
Dan akhirnya...
"Tunggu Temari"
Sebuah tangan menggenggam erat lengan Temari, Temari terpaksa berhenti karena ini.
"Tunggu Temari"
"Aku akan menjelaskannya"
PLAAKK! Sebuah tamparan mendarat di pipi sebelah kanan Shikamaru.
"JANGAN DEKATI AKU LAGI" Teriak Temari pada Shikamaru.
Shikamaru hanya melihat wajah Temari dengan air mata yang menetes diantara wajahnya, begitu cepat tanpa sadar pun Temari telah pergi meninggalkannya.
Memang tanpa sadar, setelah tamparan itu didapatnya. Tanpa sadar kalau genggaman tangan pada lengan Temari telah terlepas.
Temari telah hilang disebuah belokan, yang terlihat oleh Shikamaru hanyalah tetesan air mata yang telah jatuh ke tanah. Sebuah tetesan yang jatuh karena ulahnya, begitulah kenyataannya.
"AKU AKAN SELALU MENUNGGUMU DISANA" Teriak Shikamaru.
-SKIP TIME-
Selasa, 2 Oktober...
Jam isthirahat Pertama
"Kenapa Shikamaru dari pagi diam aja ya..?"
"Yang anehnya dia gak tidur seperti biasanya, cuma bengong saja"
"Tampaknya wajahnya murung"
"Apa mungkin karena peristiwa itu?"
"Sebaiknya ku tanyakan pada seseorang"
Dari tadi Ino memang memperhatikan Shikamaru, Ino yang sedari tadi melihat sang ketua kelas merasa heran oleh sikap Shikamaru yang tidak seperti biasanya.
"Hinata apa kau tahu cewek yang rambutnya dikuncir empat?'
"Heh..ka..lau Temari-san"
"Temari?"
"Ya..dia kakaknya Gaara dan Kankuro, memang kenapa?" tanya Hinata.
"Gak pa-pa" ucap Ino emninggalkan Hinata.
"Baiklah sekarang tanyakan pada Gaara"
"Hum..tidak, Gaara terlalu dingin. Kalau begitu Kankuro saja"
"Kankuro pasti di kantin"
Ino merasakan kalau Temari ada hubungannya dengan keadaan Shikamaru saat ini.
"Jika benar dugaanku, aku harus menjelaskannya pada Temari-san" Ucap Ino melewati setiap kelas.
10.08 am
"Kankuro" Panggil Ino seraya menghampiri sebuah tempat duduk di kantin.
"Yap..Ino ada apa?"
"Kayaknya penting sekali"
Terlibat lah Ino dan Kankuro dalam sebuah percakapan yang Kankuro sendiri tidak tahu kenapa Ino sampai membahas padanya.
"Gaara dimana?" tanya Ino basa-basi.
"Dia ke perpustakaan"
"Hum..tumben"
"Oh ya..apa benar cewek yang berkuncir empat itu kakakmu?" tanya Ino.
"Ya..itu kakakku, setahun diatasku dan Gaara, namanya Temari"
"Bagaimana sikapnya semalam?"
"Hum..kelihatannya sangat aneh, biasanya dia yang menyiapkan makan malam. Tapi dari sore kakakku mengurung diri di kamar sampai malam"
"Waktu kegedor pintu kamarnya bersama Gaara, kakak malah mengusir kami berdua"
"Sangat aneh" Tambah Kankuro.
"Hum..bener dugaanku, pasti karena kejadian semalam" ucap Ino dalam hati.
"Oh ya..apa kakakmu sudah punya pacar?" tanya Ino lagi.
"Kayaknya belum, dia sangat anti dengan cowok" jawab Kankuro.
"Kenapa kau menanyakan itu Ino?"
"Oh..tidak apa-apa. Ya..sudah ku pergi dulu.."
"Jaa.."
Ino meninggalkan Kankuro dan memikirkan apa hubungan antara Temari dan Shikamaru. Yang jelas Ino tahu kalau Temari tak punya seorang pacar.
"Apa mereka baru jadiann ya..?"
"Makanya belum ada yang tahu hubungan mereka"
"OH YA...!"
Ino ingat suatu hal dan bergegas kesebuah tempat, ke sebuah tempat yang sebenarnya anti untuk dia datangi. Tapi untuk sebuah kesalahpahaman yang terjadi, dia harus memperbaikinya.
Di ruang Kepala sekolah, selang beberapa menit sebelum Jam ketiga
"Jadi Shikamaru dihukum karena berduaan di bukit belakang sekolah ya..?"
"Ya..begitulah"
"Dengan siapa?"
"Murid kelas 3, Temari"
"Oh..."
"KENAPA KAU MENANYAKAN ITU ANAK BODOH..?" Teriak Tsunade dengan tatapan iblisnya.
Kabur, itulah jalan yang diambil Ino. Tentu saja Dia tak mau dibanting oleh Kepala sekolahnya.
"Dasar nenek sihir berdada besar" umpat Ino di depan kelasnya.
"Baiklah kebenaran sudah terlihat, kalau posisi aku dan Shikamaru di warung Yakiniku membuat kesalahpahaman, Tinggal menjelaskannya saja pada Temari-san. Kalau gitu, setelah isthirahat kedua saja"
-SKIP TIME-
11.49 am
Temari masih termenung di tempat duduknya, sepertinya tak ada lagi gairah hidup untuknya.
"Temari-san" Panggil Ino dan langsung menghampiri tempat duduk Temari.
Temari hanya melirik Ino dan mencoba mengingat, kalau sebelumnya ia pernah bertemu dengan Ino.
"Maaf Temari-san" Ucap Ino menggeser kursi di samping tempat duduk Temari.
"Kamu bukannya pacar Shikamaru ya..?"
"Yang semalem itu?"
"Ada apa datang kesini?" tambah Temari dengan nada yang sedikit tinggi.
"Perkenalkan aku Yamanaka Ino"
"Aku bukannya pacar Shikamaru, aku Cuma temen deketnya aja"
"Soalnya kami sering bersama-sama, sejak SD. Ada aku, Shikamaru dan Choji"
"Tapi bukannya semalem kalian kencan berdua di warung Yakiniku?"
"Bukan..itu Cuma salah paham kok"
"Lagi pula kami bertiga malahan, tapi waktu Temari-san datang Choji ke toilet. Jadi keliatan seperti kencan deh"
"Terus kok kalian dempet-dempetan?"
"Ah..itu salahku, aku saja yang ingin melihat Shikamaru benerin bel sekolah. Gak sadar kalau posisinya terlalu deket ama Shikamaru"
"Beneran..?"
"Yah..kagak percaya nih Nee-chan"
"Lagi pula aku udah punya pacar, namanya Sai. Bukan Shikamaru"
"Ini"
Ino menyodorkan sebuah foto yang baru saja ia keluarkan dari dompetnya, sebuah foto berdua bersama pacarnya Sai.
Temari melihat jelas-jelas foto tersebut, memastikan kalau yang di ucapkan lawan bicaranya kali ini adalah benar.
Dengan pose foto yang merangkul lengan si cowok, kayaknya Temari percaya 100% kalau Cowok yang bernama Sai ini lah pacarnya, Bukan Shikamaru.
"Jadi bagaimana?"
"Percaya kan? Tambah Ino.
"Ya..aku percaya"
Sesaat setelah itu, timbul rasa penyesalan Temari yang telah mengindahkan Shikamaru dan tak mau mendengar penjelasan darinya.
Ditambah lagi sebuah tamparan yang ia berikan pada cowok yang benar-benar ia sukai untuk pertama kalinya.
Jika saja, tidak ada orang disekitarnya. Mungkin air matanya akan menetes lagi karena mengingat kesalahan yang telah ia buat.
"Kok diem..?"
"Ada apa Nee-chan?"
"Oh..gak pa-pa"
"Jadi Nee-chan pacar Shikamaru ya..?"
"Ahh..gak kok"
"Tapi kok kayaknya semelem marah amat, terus ditambah lagi dengan Shikamaru yang langsung nguber Nee-cahn semalem"
"Kami hanya berteman kok"
"Terus kok kemaren-kemaren berduaan ama Shikamaru di bukit belakang sekolah?" goda Ino.
"Eh..bukan berduaan kok"
"Hayo ngaku aja Nee?"
"Hmm..mang tau dari mana?"
"Dari Tsunade-sama"
"Ah..Nee gak usah nyembunyiin gitu. Nee suka Shikamaru kan?"
"..."
12.01 am
Sebuah tanda masuk kembali terdengar oleh murid-murid di Konoha High School, sebuah tanda yang mewajibkan kepada seluruh siswa untuk kembali ke kelas.
"He..udah masuk"
"Karena semua sudah jelas dan jam isthirahat pun udah habis, Aku kembali ke kelas dulu ya Nee"
"Oh ya.. Nee, Shikamaru murung terus dari pagi. Kayaknya Cuma Nee yang bisa membuatnya kembali seperti dulu lagi"
"Jaaa..." ucap Ino meninggalkan kelas Temari.
Ino sempat berpapasan dengan Siswa-siswa kelas tiga yang memandangnya agak aneh, Ino hanya melewatkan cowok-cowok tersebut. Berlalu menuju kelasnya.
Sedangkan Temari telah membuat niat disaat Asuma-sensei datang di kelasnya. Niat untuk meminta maaf pada Shikamaru dan tentunya ia tahu harus dimana untuk bertemu pria berambutkan nanas ini.
Bosan..itu yang kurasakan
Menunggu waktu
Waktu untuk meminta maaf dan nyatakan rasa yang sama
Setelah tanda yang sama diperdengarkan lagi
Kan ku gegas ini semua
Tunggu aku...
-SKIP TIME-
01.09 pm
Langkah-langkahnya terasa jauh lebih merepotkan dibanding hari-hari sebelumnya. Ini karena peristiwa kemaren, memang sakit jika ingin memberikan penjelasan tapi selalu ditolak.
Melewati gerbang sekolah dengan perasaan suram dan wajah yang menunduk tak seperti biasanya. Biasanya ia berjalan dengan membuat bantalan dari kedua tangannya di kepalanya, dengan menatap langit biru dan awan putih di atas sana.
Teringat kenangan kemaren saat menatap Gerbang sekolah. Saat dimana menunggu hujan reda bersama selama satu jam.
Langkahnya terus membuat jejak-jejak melewati gerbang sekolah, terlihat sebuah bengkel yang mengingatkan kalau ucapanku yang keluar benar-benar diikutinya.
Jalan-jalan ini lah yang juga jadi saksi bisu kalau aku pernah melindunginya dari tetes-tetesan hujan.
3 hari dan terhitung 72 jam
Kenangan indah tercipta bersamanya
Aku ingin memperbanyak kenangan bersamanya
Tapi..
Rasanya tak mungkin
Apakah aku memang harus mengubur kisah ini?
Langkah kaki Shikamaru kini mengarah ke arah Bukit belakang sekolah. Baginya tempat inilah yang bisa membuatnya merasa tenang dan nyaman.
Waktu bergulir begitu cepatnya, kaki Shikamaru pun kini telah menginjak di rerumputan khas sebuah bukit.
Terlihat dari kejauhan sebuah pohon besar yang pernah ia sandari bersamanya. Dengan nasi kepal Onigiri sebagai santapan makan siang.
Menanjak dan terus menanjak, membuat pohon yang ia lihat lama-lama memperlihatkan sampai kebagian bawahnya.
...
Langkah kakinya berhenti, berhenti karena sebuah benda. Sebuah botol air mineral kosong yang berukuran sedang telah menghentikan langkah kaki pria jenius ini.
Mungkin terbawa angin, begitu pikirnya.
Tentu ia ingat sekali, sebuah botol air mineral bekas ini juga pernah menjadi saksi bisu di hari kedua kenal dengannya.
Botol ini lah yang secara tidak sengaja menyadarkan aku kalau hujan akan turun, botol ini lah yang setidaknya menyelamatkan kami dari hujan.
Kenangan indah ini
Apa kau sanggup melupakannya?
Pikirkan lagi jika kau ingin menguburnya dalam-dalam
Terus menanjak setelah mengambil botol air mineral tersebut dan bagian bawah pohon tersebut sudah terlihat.
Sedikit kaget saat terlihat sebuah tas ransel di samping pohon tersebut. Sebuah tas ransel yang memang belum pernah ia lihat.
Tapi ini memberikan bukti kalau ada seseorang yang ada di balik pohon tersebut.
Dekat ..
Hampir..
Makin dekat...
Dan kali ini benar-benar terlihat sosok di balik pohon tersebut.
Sesosok yang ia yakin, kalau dialah orangnya.
"Temari" Panggilnya.
Sebuah panggilan yang membuatnya jatuh dalam dekapan pelukan. Botol yang Shikamaru pegang pun jatuh ke tanah.
Ya..Temari langsung mendekap erat tubuh Shikamaru. Dengan teriakan-teriakan memanggil-manggil nama pria berambut nanas ini.
"Maafkan aku Shikamaru"
"Aku yang salah..aku tak mau mendengarkan penjelasanmu"
"Aku salah..aku yang salah"
Bagian bahu Kemeja Shikamaru terasa basah oleh air mata Temari.
Sadar akan hal itu, Shikamaru langsung menyentuh kedua pipi Temari dan menghadapkan wajah tepat dihadapannya.
Menggerakkan ibu jarinya menghapus air mata Temari, itulah yang Shikamaru lakukan untuk menenangkan gadis paruh baya ini.
"Sudah..jangan nangis"
"Jangan keluarkan air matamu lagi"
"Aku juga menyadari kalau Aku juga bersalah"
Temari dapat memandang wajah Shikamaru. Kali ini sungguh sangat dekat, sangat dekat. Sungguh indah dapat melihat wajah pria yang dicintai sedekat ini.
"Aku sudah tahu semuanya, aku dengar kebenarannya dari Ino"
"Maaf telah membuatmu sakit, membuatmu murung seharian"
"Ya..gak apa-apa"
Shikamaru menuntun Temari untuk duduk kembali dan bersandar pada pohon. Menenangkan Temari yang tadinya mengeluarkan air mata.
02.09 pm
Semua kembali seperti semula, perasaan tenang dan damai. Tak ada lagi tangisan dan tak ada lagi niat untuk menguburkan kenangan-kenangan itu.
Candaan dan gurauan membuat kenangan baru bersamanya.
"Oh ya..Shikamaru."
"..."
"Aku ingin jadi pacarmu"
"Boleh gak..?"
"Gak boleh!" canda Shikamaru
"Kok gak mau...?"
"Habis kamu udah nampar aku"
"Sakitnya masih terasa sampai sekarang"
Ucapan Shikamaru barusan lah yang membuat Temari mengambil inisiatif ini.
Cupp
Sebuah kecupan dari bibir Temari mengarah ke pipi kiri Shikamaru.
"Bagaimana..?"
"Masih sakit?" tambah Temari.
...
"Yang dapet tamparan itu pipi kanan bukan yang kiri"
"Jadi ya..masih sakit"
"Hufth..."
Temari langsung bangkit dari posisinya dan langsung duduk di tubuh Shikamaru. Mendaratkan kecupan keduanya di pipi kanan Shikamaru.
Belum sempat Shikamaru selesai dengan rasa kekagatennya akan Temari yang menindihnya dan kecupan kedua tadi.
Kurang dari 2 detik, Temari telah membuat inisiatif untuk mencium bibir Shikamaru setelah kecupan kedua tadi.
Tak hanya sekedar kecupan seperti 2 kecupan sebelumnya, kini Temari melumat bibir Shikamaru. Seakan tak ingin lepas lagi Shikamaru dari dirinya.
03.12 pm
Kini status mereka telah resmi, mereka kini telah berpacaran. Resmi ditanggal 2 Oktober ini.
Hari ini sungguh menyenangkan, Mereka pulang bersama menuruni bukit.
Dan kini telah hampir separuh perjalanan menuju rumah Shikamaruu.
Di tengah jalan, Shikamaru dan Temari bertemu dengan pasangan lainnya. Sasuke dan Sakura.
"Hei..Shikamaru" Panggil Sakura setelah beberapa meter hampir berpapasan.
"Siapa tuh..?"
"Pacar barunya..?" tanya Sakura.
"Bukan"
"He...?" Temari bertanya dalam hatinya.
"INI TUNANGANKU"
Ucap Shikamaru setelah berpapasan dan meninggalkan Sasuke dan Sakura begitu saja tanpa ucapan lain. Hanya 3 kata, singkat dan padat.
"APA...?" Sakura tersontak kaget dan menatap balik Shikamaru yang telah melewatinya.
"Yang bener lho..?" tanya Sakura.
Shikamaru tak menjawab pertanyaan Sakura lagi. Ia terus berjalan bersama sang kekasihnya, Temari.
Sasuke hanya tetap stay cool dengan gaya khasnya sedangkan Sakura berandai-andai kalau Sasuke juga mau meminangnya sama seperti pacar Shikamaru barusan.
Di lain pihak, Shikamaru dan Temari.
"Ngomong apa barusan? Kok ampe ke hal tunangan segala. Dasar nanas"
"Kali ini hanya sebuah ucapan. Aku juga bisa seagresif kamu"
Ucapan Shikamaru kembali mengunci bibir Temari untuk berucap lagi.
Temari hanya manyun di perjalanan pulangnya bersama Shikamaru.
Di dalam hati Shikamaru tanpa disadari Temari, Shikamaru telah menyambungkan kalimatnya tadi.
"Seperti di bukit tadi"
-THE END-
Akhirnya kutemukan
Aku menemukan tempat untuk bersantai Tanpa gangguan pria-pria penggoda
Dan tanpa kusadari juga
Aku telah menemukan orang yang tepat
Shikamaru
Kau lah cintaku
Akhirnya selesai juga ni fic
Alhamdulillah
Maaf, jika endingnya kurang memuaskan
Akhirnya dari saya
Hanya meminta review
Tentang komentar-komentar aka para Reader mengenai fic saya ini
Bagaimana alur ceritanya
Dari kemaren-kemaren, saya banyak dapetin review berupa permintaan untuk update kilat, sedangkan komentar tentang fic saya ini kurang.
Jadi mohon bantuannya
Semoga fic saya di masa yang akan datang akan lebih baik karena review teman-teman semua
Jaa...
Ucapan banyak terima kasih untuk
Hello Kitty cute
Kagome Sabaku
Min Cha 'ShikaTema
EMmA ShiKaTeMa
Putri Suna
Aika Ray Kuroba
Endah PinkPumpkin
Cahaya Violeta
CharLene Choi
ginli
Re-L'Kairi-chan
o0 Gui-gui 0o
Yue-chan4869
C dan F
Small Note : saya akan menyempatkan untuk membuat sequel untuk fic ini
Sebagai contoh sequel yang menceritakan kisah Shikamaru dan Temari di antara jam 02.09 pm-03.12 pm
Kira-kira apa yang terjadi ya..? di waktu yang lewat 60 menit ini.
Ha..ha..
#setan berukuran mungil bermunculan di keyboard
Yah..sudah nantikan sequel dari saya.
Oh ya..ingat!
Yang sequel diatas Cuma contoh.
Ingat! hanya contoh
Jangan ngebet banget dengan fic sequel tersebut
Tapi doakan saja, kalau suatu hari sequel tersebut bakal dipublish
